Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Gorontalo Journal of Forestry Research

-
11 articles
Page of 2
Articles per Page
by
Ningsih Rahman, Iswan Dunggio, Dian Puspaningrum
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 40-47; doi:10.32662/gjfr.v1i2.404

Abstract:Jabon merah (Anthocephalus macrophyllus) merupakan salah satu jenis tumbuhan asli Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman maupun untuk tujuan lainnya. Hama yang menyerang suatu populasi hutan tanaman akan dapat bersifat sangat merusak. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh hama cukup bervariasi bergantung dari jenis spesies maupun faktor abiotiknya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis- jenis hama yang menyerang tanaman jabon merah di lokasi penelitian PT. Gema Nusantara Jaya Wilayah 1 Blok Ilomata,untuk mengetahui gejala serangan hama pada tingkat umur tanaman jabon merah di lokasi penelitian PT. Gema Nusantara Jaya Wilayah 1 Blok Ilomata. Pembuatan plot dientukan dengan ukuta 20 x 50 m dibuat sebanyak 15 plot. 5 plot umur 1 tahun, 5 plot umur 2 tahun, 5 plot umur 3 tahun. Secara umum hasil menunjukan tingkat serangan hama yang menyerang berturut-turut adalah Daphnis hypothous, Valanga nigricornis, Arthroschista hilaralis, Coptotermes sp. Tingkat kerusakan akibat serangan hama tertinggi terjadi pada tanaman umur 3 tahun (83%), umur 2 tahun (63,6%), umur 1 tahun (59,4%).
Christine Wulandari, Susni Herwanti, Indra Gumay Febryano
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 30-39; doi:10.32662/gjfr.v1i2.368

Abstract:Peran kelembagaan lokal penting untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang sedang dikembangkan oleh pemerintah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran kelembagaan lokal Nagari Sirukam di Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai kearifan lokal dalam pemanfaatan lahan atau sumberdaya alam di Nagari Sirukam yang dikenal dengan falsafah Nan Bancah Jadiakan Sawah, Nan Lereang Jadikan Parak” yang artinya lahan yang dialiri air berada di dataran lebih rendah digarap dijadikan sawah, sedangkan lahan miring dijadikan kebun dan ladang”. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum didapatkannya izin pengelolaan hutan desa/hutan nagari, masyarakat nagari Sirukam sudah dapat melakukan pengelolaan lahan miring yang umumnya berupa hutan. Kelembagaan lokal mempunyai peranan yang penting hal itu dilihat dari dampak positif yang didapatkan oleh masyarakat setelah adanya hutan nagari. Dampak positif tersebut diantaranya, bertambahnya keterampilan dan pendapatan masyarakat. Selain itu, adanya pengelolaan yang dilakukan oleh lembaga lokal nagari memberikan penjaminan atas ketersediaan air bagi masyarakat, tidak hanya masyarakat Nagari Sirukam tetapi juga nagari-nagari di sekitarnya.
Hepy Purnama Sari, Agus Setiawan, Gunardi Djoko Winarno, Sugeng Prayitno Harianto
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 1-10; doi:10.32662/gjfr.v1i2.351

Abstract:Persepsi pengunjung dalam pengembangan fasilitas, pelayanan, akomodasi dan infrastruktur penting diketahui sebagai langkah awal dalam pengembangan hutan kota sebagai objek wisata alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi pengunjung terhadap pengembangan hutan kota yang berada di Kota Metro. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data primer didapatkan melalui observasi dan wawancara menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan Skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pengunjung menyatakan perlu adanya pengembangan pada fungsi sosial hutan kota, pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan penataan ruang untuk vegetasi, fasilitas wisata dan lahan parkir. Penataan ruang tersebut diharapkan dapat menjadikan Hutan Kota Metro sebagai tempat interaksi sosial yang juga dapat berfungsi sebagai objek wisata alam.
Gustian Zulkarnain, Guhardi D Winarno, Agus Setiawan, Sugeng D Harianto
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 11-20; doi:10.32662/gjfr.v1i2.362

Abstract:Mamalia memiliki peranan yang sangat penting untuk mendukung ekosistem di kawasan konservasi terutama Tahura WAR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan mamalia di Hutan Pendidikan, Tahura WAR. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 spesies mamalia dari 6 famili. Tanda-tanda keberadaan mamalia ditemukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Mamalia yang ditemukan secara langsung, yaitu: tupai (Tupaia sp), mamalia yang ditemukan secara tidak langsung, yaitu: babi hutan (Sus scrofa), beruang madu (Helarctos malayanus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), dan siamang (Hylobates syndactylus), sedangkan mamalia berdasarkan wawancara dengan masyarakat, yaitu: napu (Tragulus napu) dan beruk (Macaca nemestrina). Perjumpaan secara tidak langsung ditandai dengan ditemukannya jejak kaki, kotoran, dan suara. Jenis mamalia yang banyak ditemukan yaitu babi hutan (Sus scrofa). Penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan menggunakan kamera trap dan penelitian mengenai keberadaan mamalia nokturnal perlu dilakukan untuk mengetahui lebih banyak spesies mamalia selain yang sudah teridentifikasi.
Kurnia Indy Pratama, Melya Riniarti, Afif Bintoro
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 21-29; doi:10.32662/gjfr.v1i2.367

Abstract:Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualisme antara akar tanaman dan fungi. Salah satu jenis tanaman yang diketahui memiliki ketergantungan dengan mikoriza adalah Merbau (Intsia bijuga). Scleroderma spp. merupakan salah satu jenis ektomikoriza yang dapat berasosiasi dengan merbau. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis Scleroderma spp. yang dapat membentuk kolonisasi terbaik pada perakaran semai merbau, serta mengetahui pengaruh inokulasi Scleroderma spp. baik secara tunggal maupun gabungan terhadap semai merbau. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 3 kali ulangan dan 4 unit sampel di setiap ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam (anova) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil dari penelitian ini memperlihatkan inokulasi Scleroderma sp dan Scleroderma dyctiosporum secara gabungan mampu membentuk persen kolonisasi yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan tunggal dan kontrol, pemberian inokulasi secara tunggal dan gabungan mampu meningkatkan pertumbuhan merbau di parameter panjang akar, persen kolonisasi, tinggi tanaman, luas daun dan jumlah daun. Pemberian inokulum Scleroderma sp. dan Scleroderma dyctiosporum secara gabungan mampu membentuk persen kolonisasi lebih baik dibandingkan dengan perlakuan inokulum tunggal.
Daud Sandalayuk
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 1-8; doi:10.32662/gjfr.v1i1.70

Abstract:To know the growth analysis of Gmelina ( Gmelina alborea.Roxb ) and Mahoni (Swietenia magrophylla.King). It is necessary to look at the growth at a certain period in which a certain moment of growth will decrease so that the consideration in the maintenance can be done very evectively and consideration to harvest as needed in the processing of sawn timber or playwood. Mean Growth at age 10, diameter of gmelina 2,4 cm / tree / year, total volume 144,43 m3 / ha, MAI 14,44 m3 / atun, CAI 28,46 m3, Medium point of intersection of MAI and CAI occurred at age 15 years with total volume 251,80 m3 / ha. The growth of Mahogany at the age of 20 years after the measurement in the field with the width of I ha of 510 trees with an increase of diameter 1.38 cm / year, the number of Volume 174.35 m³ / ha and MAI 8.72 and CAI 12.58. At the time when MAI 9.37 and CAI 9.27 were at one point then it was allowed to harvest with age 30 years with a total voLume of 281.03 m3 / ha. This growth analysis can be used to analyze a tree type and help in analyzing an industrial plant where we want is a shorter age for harvesting so that time and cost are not much wasted
Melya Riniarti, Samsul Bahri
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 36-43; doi:10.32662/gjfr.v1i1.75

Abstract:Rubber was one of favorite multipurpose tree species which planted by community forest, since its produced latex with high value. Jaya Lestari community forest was located on Mananga Jaya Village, Way Kanan District, Lampung Province. This research aimed to collect data’s of rubber productivity based on plant age in Jaya Lestari community forest areas. Research conducted by interview 230 household. The result showed that rubber harvested since 6 years old. The productivity rate increased until 25 years old than decreased gradually. The highest productivity was 2,5 tone/ha/years on ten years old rubber. In average farmer had 0,1—2 ha rubber plantation, with plant distance were 4 x 6 m.
Abdul Samad Hiola
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 44-58; doi:10.32662/gjfr.v1i1.76

Abstract:The potential of sugar palm spreading in Boalemo Regency strongly supports the development of paletan bioethanol in this area. However, these efforts face several interrelated and complex problems. This research aims to determine the key factors that influence the success of bioethanol development in Boalemo Regency, Gorontalo Province. This research uses Interpretative Structural Modeling (ISM) approach. The results of the analysis indicate that the key factors of bioethanol development in Boalemo Regency consist of: (i) development objective, which is to increase community's income; (ii) development needs, namely; availability of raw materials and human resources; (iii) the institutions involved, ie UPTD KPHP V Boalemo and KLHK Research, Development and Innovation Center; (iv) obstacles in development, namely regulatory / regulatory constraints; and (v) indicators, namely the level of public income and the amount of bioethanol production
Murni Djabar
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 24-35; doi:10.32662/gjfr.v1i1.73

Abstract:Coastal women, especially housewives generally in Indonesia, including in the district of Buol has a very big role in the activities of earning a living for his family. The participation of coastal women in mangrove forest rehabilitation activities is an effort to empower coastal women to become one of the driving forces of successful mangrove forest rehabilitation. This research aims to examine the participation of Coastal Women in supporting Mangrove forest rehabilitation in Inalatan Village Bunobogu District Buol Regency viewed from the aspect of community understanding about rehabilitation mangrove forest and the form of participation or community participation in mangrove forest rehabilitation activities. The community participation studied in this research is related to individual community participation in mangrove forest rehabilitation activities, the target of the community taken in this research is from 30 female respondents through questionnaire interview technique. This research was conducted in coastal area of Inaktif Village Bunobogu District Buol Regency for 2 months tehitung from January until February 2018. The method of analysis used in this research is using qualitative descriptive analysis method.The results of this study can be seen based on the daily activities of the community in the household for 24 hours, the understanding of the women community on the rehabilitation activities, the participation of women in planning activities, implementation activities and evaluation activities of reforestation of mangrove forests, the fifth form of community participation in this research is including in the category of high forms of community participation because all forms of partipasi exceeds the average percentage above 50%
Abdul Samad Hiola
Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 1, pp 9-14; doi:10.32662/gjfr.v1i1.77

Abstract:Bird Species dependsonlandscape,whichisusedastheir breeding, restingand feeding area. Landscape of Agroforestry Ilengiis mix tree garden like primer forest.Thisstudy is aim togather informationaboutdiversity bird species,including richness, evennessandspeciessimilarity oneachlocationinthestudy.Thisstudy used concentrationmethod. Eightspeciesofbirdsand194 countwerefoundduring3monthsstudy.Thehighestdiversity valuewasfoundin landscape agroforestry ilengi 1,29. Generally bird diversity in all location research include medium level. The richness of species is highest at natural forests with a value 1.70. Evenness of bird species in agroforestry ilengi in the category unstable. The role of local communities for conservation is good enough to understand the habits of birds in agroforestry ilengi, such Local naming each of the birds found 61% of respondents know about the birds in the research sites.
Page of 2
Articles per Page
by