Journal Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies

-
78 articles
Page of 8
Articles per Page
by
La Jamaa
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 8, pp 29-56; doi:10.18326/ijims.v8i1.29-56

Abstract:This article addresses the contributions of the fatwas of the Indonesian Council of Ulama (MUI) to the transformation of contemporary Islamic law and the development of Islamic law in Indonesia, from 1975 to 2011. It aims to respond to the existing papers claiming that the MUI’s fatwas were likely to be compliant with the government’s wishes and dependent. This paper also wants to demonstrate another fact that the MUI has been inconsistently using their own guidelines for the determination of its fatwas. The present study found that over 26 years the MUI’s fatwas contributed positively to the transformation of contemporary Islamic law in Indonesia. During the period, the MUI produced 137 fatwas and 50 decisions, either addressed to Muslims and the Indonesian government. Therefore, the MUI’s fatwas, as among the elements of Islamic law in Indonesia, also contributed to the development of contemporary Islamic law in Indonesia.Artikel ini mengkaji kontribusi fatwa Majelis Ulama Indonesia terhadap transformasi hukum Islam kontemporer, dan perkembangan hukum Islam di Indonesia, dalam kurun waktu 1975 sampai dengan 2011. Tulisan ini bertujuan untuk menanggapi tulisan yang telah ada selama ini, bahwa fatwa MUI cenderung mengikuti keinginan pemerintah, dan tidak mandiri. Tulisan ini juga ingin membuktikan fakta lain, bahwa MUI tidak konsisten menggunakan pedoman penetapan fatwanya. Penelitian ini menemukan, bahwa fatwa MUI selama kurun waktu 26 tahun, telah memberikan kontribusi positif terhadap transformasi hukum Islam kontemporer di Indonesia. Selama kurun waktu tersebut, MUI telah menghasilkan 137 fatwa, dan 50 keputusan baik yang ditujukan kepada umat Islam, maupun pemerintah Indonesia. Sehingga fatwa MUI, sebagai salah satu unsur hukum Islam di Indonesia, telah juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan hukum Islam kontemporer di Indonesia
Haedar Nasir, Mutohharun Jinan, Nashir Haedar, Jinan Mutohharun
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 8, pp 1-28; doi:10.18326/ijims.v8i1.1-28

Abstract:This paper discusses the on-going process of re-Islamisation in Java. In the context of re-Islamisation process, a Muslim is expected to be a pious one, both from the aspect of belief, knowledge, and practice. The process is characterized by the intensification of Islamic ritual practice and the enforcement of Islamic norms in various aspects of life. Additionally, it is accompanied by the deterioration of animism—as represented by amulets, heirlooms and shamanism—which are popular among abangan communities. Amulet is a peculiar feature in the belief and life system of Javanese society, namely the belief in the magical objects used by the owner to gain power, convenience, and magnificence. In Surakarta, the phenomenon of the decline of ‘magical’ amulets is perceived as the conversion process from abangan to santri. Yet it is a dissimilar kind of conversion compared to the previous ones.It reaffirms that in Java, Islamisation is an unending process nuanced by the volatility of socio-political and cultural dynamics. Artikel ini membahas proses reislamisasi di masyarakat Jawa yang saat ini masihterus berlangsung. Reislamisasiadalah proses dimana seorang muslim menjadilebih islami, baik dari aspek keyakinan, pengetahuan, maupun pengamalanajaran agama. Reislamisasi ditandai denganmenguatnya pengamalan ritualIslam dan ditegakkannya norma-norma Islam dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam waktu yang samadiiukutimelemahnya kepercayaan animistik, sepertikepercayaan pada jimat, pusaka dan perdukunan di kalangan masyarakatabangan. Jimat merupakan salah satu ciri penting dalam sistem kepercayaandan kehidupan masyarakat Jawa, yakni kepercayaan kepada benda-bendayang dikeramatkan yang digunakan pemiliknya untuk memperoleh kekuatan,kenyamanan, kemuliaan hidup. Di Surakarta terdapat fenomena komunitasabanganmeninggalkan jimat sebagai bagian dari proses konversi dari abanganmenuju ke santri.Ini merupakan konversi baru yang berbeda dengan konversilama. Hal ini menunjukkan bahwa proses islamisasi di Jawa sebagai prosesyang terus berlangsung mengikuti dinamika sosio-politik dan kultural yangberkembang di Jawa.
Muhammad Sulthoni, Norma Md Saad
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 8, pp 57-86; doi:10.18326/ijims.v8i1.57-86

Abstract:This paper focuses on the theoretical structure of funding for Islamic philanthropy, especially waqf. Waqa>f is projected to play further significant role to tackle present social problems, where financial sustainability has become one of the foremost challenges faced by awqa>f institutions. There is a need to study various models of fundraising that could be applied to reform awqa>f institutions. Employing content analysis approach, this paper analyses traditional and modern structures of fundraising that are applicable for development and management of waqa>f fundraising: istibda>l, h}ukr, ija>ratayn, venture philanthropy of waqf model (VPWM), value-based capital model of waqf (VBCMW), and social enterprise waqf fund model (SEWF).The discussions are expected to be able to contribute towards boosting a better fundraising management of awqa>f institutions in Muslim communities as well as countries.Makalah ini fokus pada struktur teoritis pendanaan untuk filantropi Islam, terutama wakaf. Wakaf diproyeksikan untuk memainkan peran penting lebih lanjut untuk mengatasi masalah sosial saat ini, di mana keberlanjutan keuangantelah menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh lembaga-lembagaawqa>f. Ada kebutuhan untuk mempelajari berbagai model penggalangan danayang dapat diterapkan untuk mereformasi institusi awqa>f. Dengan menggunakanpendekatan analisis isi, makalah ini menganalisis struktur penggalangan danatradisional dan modern yang berlaku untuk pengembangan dan pengelolaanpenggalangan dana wakaf: istibda>l, h}ukr, ija>ratayn, venture philanthropy ofwaqf model (VPWM), value-based capital model of waqf (VBCMW), dan socialenterprise waqf fund model (SEWF). Diskusi diharapkan dapat berkontribusiuntuk meningkatkan manajemen penggalangan dana yang lebih baik darilembaga awqaf di komunitas Muslim serta negara.
Sudarnoto Abdul Hakim
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 8, pp 147-171; doi:10.18326/ijims.v8i1.147-171

Abstract:This paper is an attempt to scrutinize Khumayni’s ideas especially on government as explained in his works Kashf al-Asra>r, and Wila>yat al-Fa>qih. While focusing on Khumayni’s ideas as the main issues of discussion, the paper tries to find the significance of the ideas for the Iranian revolution in 1979.The paper argues that the ideas on government were mainly triggered by the Reza Shah’s dictatorial, and secular government. It is not exaggerated to mention that according to Khumayni a new sytem of government based on Islamic ideology as a revolutionary system of government was needed in a sense that an Islamic government will implement justice. As will be discussed later, the idea of Islamic government as the single alternative was extensively supported by students, intelligentsias, urban peoples, poor peoples, and others.Artikel ini berusaha mendiskusikan pemikiran Imam Khumayni tentang pemerintah sebagaimana yang dijelaskan dalam karyanya Kasyf al-Asrar dan Wilayat Faqih. Sambil memberikan perhatian terhadap isu pokok, artikel ini ingin menggali kaitan kuat pemikiran Khumayni dengan revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979. Penulis berpandangan bahwa gagasan-gagasannya tentang pemerintah merupakan respons atau sikapnya terhadap kecenderungan pemerintahan diktatorial dan sekular Reza Shah. Tidak berlebihan untuk dinyatakan bahwa menurut Imam Khumayni sebuah pemerintahan Revolusioner yang didasarkan kepada Ideologi Islam sangat dibutuhkan karena pemerintahan Islam seperti inilah yang akan mampu menegakkan keadilan.Sebagaimana yang akan didiskusikan nanti ide pembentukan pemerintah inimemperoleh dukungan secara ekstensif antara lain dari mahasiswa, inteligensia,masyarakat kota dan orang-orang miskin.
Elviandari Elviandari, Farkhani Farkhani, Khuzaifah Dimyati, Absori Absori
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 8, pp 117-146; doi:10.18326/ijims.v8i1.117-146

Abstract:This paper examines empirical facts of market failure and government failure toimprove people’s welfare; capitalism and neo-liberalism do not provide a spacefor states to implement policies for social justice. With regard to the failure of thewelfare state to bring the citizen to fair welfare, this paper offers the formulationof a welfare state based on Maqa>s}id Al-Shari>‘ah. This study employs Maqa>s}id Al-Shari>‘ah developed by Imam Al-Juwaini, Izzu al-Din bin ‘Abd al-Salam, AbuIshaq al-Shatibi and Al-Tahir Ibn ‘Ashur as the methodological framework.It formulates welfare state of maqa>s}id al-shari>‘ah, which is built through thefulfillment of the three levels of individual needs (citizens) (al-D}aru>ri>yah, alha>ji>yyah and al-tahsi>ni>yah; primary, secondary and suplementary rights), publicneeds (equal distribution; al-ha>jah al-‘ammah), protection or assurance (alismah),and law enforcement (al-fit}rah (order), equality (al-musa>wah), freedom(al-h}urri>yah), magnanimity (al-samh}ah)). The morality-spirituality-religiosity andtranscendence principles develop the formulation. The maqa>s}id al-shari>‘ahshould be the “soul” of every policies and rules or laws. The development ofthe formulation of welfare state based on Maqa>s}id al-Shari>‘ah will build Islamicman/religious man (citizen), who is prosperous spiritually and materially.Artikel ini mengkaji kenyataan empiris mengenai kegagalan pasar(market failure) dan kegagalan negara (government failure) dalam meningkatkankesejahteraan rakyat, kapitalisme dan neo-liberalisme tidak memberikantempat bagi negara untuk melakukan kebijakan demi keadilansosial. Berdasarkan kegagalan negara kesejahteraan menghantarkanwarga negara menuju kesejahteraan yang berkeadilan maka tulisan inimenawarkan formulasi negara kesejahteraaan berdasarkan Maqa>s}id al-Shari>‘ah. Kajian ini mempergunakan Maqa>s}id al-Shari>‘ah sebagai kerangkametodologis yang dikembang oleh Imam Al-Juwaini, Izzu al-Din bin‘Abd al-Salam, Abu Ishaq al-Shatibi dan Al-Tahir Ibn ‘Ashur. Kajian inimemformulasikan negara kesejahteraan berdasarkan maqa>s}id al-shari>‘ahyang dibangun melalui pemenuhan kebutuhan individu (warga negara)berdasarkan tingkatannya; al-D{aru>ri>yah, al-h}a>ji>yyah dan al-tah}si>ni>yah (hakprimer, sekunder dan suplementer), kebutuhan publik, (al-h}u>jah al-‘as}mmah) terealisasi pendistribusian yang merata, adanya proteksi atau jaminan(al-is}mah) dan tegaknya hukum melalui, al-fi>rah (ketertiban), equality(al-musa>wah) kesetaraan, freedom (al-h}uri>yah) kebebesan, magnanimity (alsamh}ah) toleransi. Formulasi tersebut dibangun dengan landasan moral-spritual - religius dan transendental. Menjadikannya “roh” pada setiapkebutuhan dalam membuat kebijakan, peraturan-peraturan atau perundang-undangan. Dengan terwujdnya formulasi negara kesejahteraaanberdasarkan Maqa>s}id al-Shari>‘ah akan melahirkan islamic man/manusiareligius/karakter (warga negara) yang beriman atau pribadi yang...
Hasnan Bachtiar
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 8; doi:10.18326/ijims.v8i1.87-116

Abstract:Contemporary literatures that had been produced by Muslim and non-Muslim scholars and intellectuals, ranging from Muslim and Western countries. With the progressive perspective of multiple modernities and intercivilisational approach, this paper argues that the concept of Ummah should be interpreted as a modern concept of inclusive cosmopolitan-humanitarian solidarity that emphasise values of liberalism, pluralism, democracy, human rights and sustainable development. This concept has been also strengthened by a sociological representation of the tradition of Islam Nusantara. Its relative historical continuity in the process of the development of the micro sociological dimension of tradition, it explains that this concept of Ummah is not rootless. Consequently, it can be understood that its applicability is relatively possible . Paper ini ingin mengelaborasi wacana pembangunan konsep Ummah yang digali dari pelbagai literatur kontemporer, baik yang berasal dari para sarjana dan intelektual Muslim maupun non-Muslim, baik itu yang berasal dari negara-negara Muslim maupun Barat. Melalui perspektif multiple modernities dan pendekatan lintas-peradaban, paper ini berargumentasi bahwa konsepUmmah sangat perlu kiranya ditafsirkan dan dipahami sebagai konsep modernmengenai solidaritas kemanusiaan yang inklusif dan kosmopolitan. Konsep inimenekankan pentingnya nilai-nilai seperti liberalisme, pluralisme, demokrasi,hak asasi manusia dan pembangunan yang berkelanjutan. Adanya tawaranmengenai konsep ini, didukung oleh representasi sosiologis dari praktik IslamNusantara. Praktik Islam Nusantara tersebut, menunjukkan adanya kontinuitashistoris dalam proses pembangunan tradisi, yang berlaku di dalam dimensisosiologis yang bersifat mikro. Hal ini tentu saja juga menunjukkan bahwakonsep Ummah ini bukanlah hal yang tak berakar dalam realitas kehidupanMuslim. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa, penerapan konsep Ummahini sangatlah memungkinkan.
Khairunnas Rajab, Che' Zarrina
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 7; doi:10.18326/ijims.v7i2.175-200

Abstract:Psychological issues faced by human beings in this modern era must be taken into account by psychologists, psychotherapists, psychiatrists, physicians, and observers of psychological problems. The existence of psychotherapists and institutions that provide treatment to recover people suffering from psychological problem is very important. Data of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia of 2011 show that the number of adult population in Indonesia reached 150 million and approximately 11.6%, or 17.4 million of them suffered from mental disorder, such as anxiety and depression. This fact enables researchers to study and examine implementation of a psychotherapy model at Shifaul Qalbi (House of Shiqal) in recovering mental disorders due to the effect of drug addiction. Shifaul Qalbi applies the IMEJ (Iman, Mental,Emosi and Jasmani) (Faith, Mental, Emotion and Physics) psychotherapy model. Through this model, the recovery process can run optimally. IMEJ is synergetic formulation. These four components are integrated implemented. Faithful patients must have a healthy mental condition, controlled emotion, and strong physics. IMEJ is very essential and in line with the mental stages known as Jujur, Amanah, Tanggungjawab, dan Ikhlas (JATI) (honest, trustworthy, responsible and sincere). House of Shiqal prioritizes awareness and sincerity for itsoperation. The awareness and sincerity of the therapist makes the house succeed in recovering more than 92% of 1,000 patients that have been recovered from drug abuse since 2008.Persoalan psikologis yang menghadang manusia modern di abad ini, perlu diambil perhatian serius pihak-pihak terkait. Eksistensi psikoterapis dan lembaga-lembaga perawatan dan pemulihan adalah keharusan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2011, dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 % atau 17,4 juta mengalami gangguan mental, seperti kecemasan dan depresi. Realitas ini, membuka ruang penelitian dan pengkajian, untuk menilik implementasi model Psikoterapi Shifaul Qalbi dalam membaik-pulih kesehatan mental, efek penagihan narkoba. Psikoterapi Shifaul Qalbi menerapkan model Psikoterapi Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani (IMEJ). Melalui pendekatan IMEJ, proses pemulihan dapatberjalan optimal. Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani adalah formulasi yang bersinergi. Empat komponen tersebut, diimplementasikan terintegrasi. Pasien yang beriman, mestilah memiliki mental yang sehat, emosional yang terkendali, dan jasmani yang kuat. Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani (IMEJ) esensial dengan tahapan-tahapan mental yang disebut sebagai Jujur, Amanah, Tanggungjawab, dan Ikhlas (JATI). Penelitian ini dilakukan sebagai penelitian deskriptif kualitatif untuk mengkaji aspek psikologis pasien narkoba. Penelitian ini tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi diawali dari fakta empiris di Syifa’ul Qalbi. Peneliti secara langsung ke Syifa’ul Qalbi dalam menemukan data yang terjadi secara alami, untuk kemudian mencatat, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Psikoterapi Shifaul Qalbiadalah Rumah Shiqal yang mengutamakan kesadaran dan keikhlasan bagi kelangsungan psikoterapi. Dengan kesadaran dan keikhlasan Rumah Shiqal telah merawat pasien narkoba bersignifikan bebas dari penagihan narkoba.
Ahmad Fuad Fanani
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 7; doi:10.18326/ijims.v7i2.153-174

Abstract:The formalisation of sharia law has been the subject of wide-ranging debate in Indonesia, also internationally. This is because this idea has significant implications, politically and socially, not only for Muslims, but also for women and other followers of other religions who live in Indonesia. It is important to note that there are 78 sharia bylaws which have already been ratified by regional authorities. And more than 52 cities and regencies have applied these regulations at the regional level. Some analysts argue that the implementation of sharia bylaws reflects on the fact that the majority of the Indonesian population needs morality and public order which will be beneficial for improving their lives. However, others rebut this argument by pointing to the fact that the enactment of sharia laws will discriminate and trigger violence against women. This paper will examine the implementation of sharia bylaws and its impacts on Indonesian women. This paper will argue that the implementation of sharia laws have negative impacts on Indonesian women because it has caused negative social outcome for women and women is the most vulnerable from this policy. Formalisasi hukum syariah atau penerapan perda Syariah telah menjadi topik yang menarik debat hangat di Indonesia, juga secara internasional. Hal ini Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies karena kebijakan dan ide ini mempunyai dampak yang sangat serius –secara politik dan sosial—tidak hanya untuk kalangan Muslim, tapi juga untuk perempuan dan pemeluk agama lain di Indonesia. Penerapan perda Syariah hingga saat ini masih terus berjalan dan ada 78 Perda Syariah yang sudah diratifikasi oleh pemerintah lokal. Selain, lebih dari 52 kota dan kabupaten yang telah menerapkan Perda Syariah ini. Sebagian kalangan berargumen bahwa penerapan Perda Syariah adalah hal yang wajar karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim dan mereka membutuhkan aturan publik dan moralitas untuk kehidupan mereka. Namun, sebagian berpendapat bahwa menolak argumen tersebut dengan memberikan fakta bahwa perda Syariah akan mendiskriminasi dan memicu kekerasan terhadap perempuan. Artikel ini akan berargumen bahwa penerapan Perda Syariah memberikan dampak negatif terhadap perempuan karena ini mengakibatkan dampak sosial yang buruk terhadap perempuan dan perempuan menjadi pihak yang paling rentan menderita dari kebijakan ini.
Ibnu Burdah
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 7; doi:10.18326/ijims.v7i2.201-219

Abstract:Dth: 0px; "> The research describes and explains the wave of protest movement in theKingdom of Morocco, one of the Muslim countries in the Western Arab, in the post-2011 constitutional referendum. The constitutional reform was carried out as a response to the large and massive people protest. Unlike the cases in other neighboring states where “Arab Spring” took place, the Moroccan movement receded without neither the fall of the regime nor massive casualties. However, intense protest kept taking place, especially in Muhammad V Street leading to the Parliament Building. Some interesting questions arise, including what the nature of the current protest is and why people still protest after the vast popular agreement toward the constitutional referendum. Based on library research and intense observation for forty days, and interviews, this study found that, to some extent, the Morocco protest has the same nature as that of the Arab Spring. The protest has “hidden agendas” although there are evidences that they dissembled in “smaller and partial issues because of some reasons”. The author holds that Morocco is an important lesson for political reform in the current turbulent Arab world and, to abroader context, in the Muslim world. 0px; "> Penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan gerakan protest di KerajaanMaroko, salah satu negara Muslim di Arab Barat, paska referendum konstitusitahun 2011. Reformasi konstitusional di Maroko telah dilaksanakan sebagai respon terhadap protes rakyat dalam skala luas dan massif. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara “Musim Semi Arab” yang lain, gerakan protes itu surut tanpa disertai jatuhnya rezim dan jatuhnya korban dalam jumlah yang besar. Namun, Maroko masih diwarnai gerakan protes yang cukup intensif hampir setiap hari (kendati skalanya lebih kecil) khususnya di Jalan Muhammad V sampai depan gedung parlemen. Pertanyaannya adalah apa sesungguhnya karakter dari protes-protes yang masih berlangsung bahkan hingga saat ini? Mengapa mereka masih melakukan protes pasca persetujuan secara luas rakyat Maroko terhadap reformasi konstitusi? Penelitian yang dilakukan dengan cara studi kepustakaan yang didukung oleh observasi di lapangan sekitar 40 hari, berkesimpulan bahwa karakter protes itu adalah “Arab Springs” (mengarah pada penjatuhan rezim) kendati itu tak dinyatakan secara terbuka. Mereka memiliki agenda terselubung itu dan tidak mengemukakannya dengan berbagai alasan. Penulis berpendapat, Maroko adalah pelajaran penting bagi reformasi politik di dunia Arab yang sedang bergolak saat ini, bahkan mungkin pula untuk dunia Islam.
Biyanto Biyanto
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 7; doi:10.18326/ijims.v7i2.221-249

Abstract:; "> This article explores the style of sufism from the perspective of Muhammadiyah.It is a literature study on the official fatwa given by Muhammadiyah on sufism as a part of spiritual dimension in Islamic teaching. This study places a number of Muhammadiyah figures as the subject of study. This study concludes that the views of Muhammadiyah and its figures on sufism are very positive. Sufistic life in fact also becomes a trend among the followers of Muhammadiyah. Important styles of Muhammadiyah sufism include: first, Muhammadiyah sufistic teachings are based on pure monotheism. The second, Muhammadiyah sufistic is practiced under the frame of shari‘ah, on the basis of the Qur’an and Hadith. Third, the substance of sufism in the Muhammadiyah perspective is noble character that should be realized in daily life. Fourth, the orientation of Muhammadiyah sufism emphasizes the dimension of righteous deeds, social praxis, and of moving from theory to practice. Fifth, Muhammadiyah sufism presents sufistic teachings adjusted to the spirit of modernity so that it may be called modern sufism. Sixth, Muhammadiyah sufism is expressed in more active and dynamic styles. A sufi is not allowed to do nothing, but is obliged to work actively and to interact with society. Seventh, Muhammadiyah sufism stays away from the philosophical sufism discourse that may potentially cause debates. Muhammadiyah views that to become sufi, one should not become the member of sufi order with the style of “teacher-centered” in practice.Artikel ini membahas corak sufisme dalam perspektif Muhammadiyah. Kajianini merupakan studi literatur terhadap fatwa resmi Muhammadiyah terhadap sufisme sebagai bagian dari dimensi spiritual ajaran Islam. Kajian ini juga menempatkan sejumlah tokoh Muhammadiyah sebagai subjek studi. Kajian ini menyimpulkan bahwa perspektif Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya terhadap sufisme sangat positif. Kehidupan sufistik dalam kenyataannya juga menjadi trend di kalangan pengikut Muhammadiyah. Corak sufisme Muhammadiyah yang penting meliputi: pertama, ajaran sufisme Muhammadiyah berbasis pada tauhid murni. Kedua, sufisme Muhammadiyah dipraktekkan dalam bingkai syariah, berdasar al-Qur’an dan hadits. Ketiga, substansi sufisme dalam perspektif Muhammadiyah adalah akhlak mulia dan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, orientasi sufisme Muhammadiyah menekankan dimensi amal salih, praksis sosial, dan bergerak dari teori ke praktek. Kelima, sufisme Muhammadiyah menampilkan ajaran tasawuf yang disesuaikan dengan spirit modernitas sehingga layak disebut tasawuf modern. Keenam, sufisme Muhammadiyah diekspresikan dalam corak yang lebih aktif dan dinamis. Seorang sufi tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus aktifbekerja dan berinteraksi dengan masyarakat. Ketujuh, sufisme Muhammadiyahmenjauhi wacana tasawuf falsafi yang potensial mengundang perdebatan.Terakhir, Muhammadiyah berpandangan untuk menjadi sufi, seseorang tidakharus menjadi anggota tarekat yang dalam prakteknya bercorak guru sentris.
Page of 8
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search