Refine Search

New Search

Advanced search

Journal HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah

-
72 articles
Page of 8
Articles per Page
by
Agus Susilo, Isbandiyah Isbandiyah
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 403-416; doi:10.24127/hj.v6i2.1531

Abstract:Politik etis berakar pada masalah kemanusiaan dan sekaligus pada keuntungan ekonomi. Pada akhir abad XIX, para pegawai kolonial baru yang datang dari negeri Belanda menuju Indonesia sudah memiliki suatu pemikiran tentang pemerintah kolonial ini. Politik etis secara resmi ditetapkan pada bulan September 1901, ketika Ratu Wilhelmina menyampaikan pidato tahunan. Politik etis di pusatkan membangun irigasi, menyelenggarakan emigrasi, dan memberikan sebuah pendidikan bagi bangsa Indonesia. Politik etis menuntut bangsa Indonesia kearah kemajuan, namun tetap bernaung di bawah penjajahan Belanda. Awal mula dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, bahwa Belanda memperhatikan pribumi dan membantu Indonesia dalam masa kesulitan. Meskipun pada kenyataannya kebijakan politik etis tidak serta merta mensejahterakan rakyat Indonesia, namun mampu merubah tatanan kehidupan bangsa, dimana sistem irigasi ada dimana-mana, masyarakat mengenal sistem pertanian dan perkebunan modern. Emigrasi atau trasmigrasi, dimana masyarakat dikirim keluar pulau Jawa, masyarakat Indonesia menjadi kenal satu sama lain dan membangun hubungan yang baik. Dampak politik etis yang sangat menonjol adalah program edukasi atau pendidikan. Adanya pendidikan bagi bangsa Indonesia, akhirnya dapat merubah pemikiran bangsa Indonesia untuk berfikir lebih maju dan bagaimana memperjuangkan suatu kemerdekaan tanpa jalan perang seperti di masa silam. Keuntungan dibidang pendidikan, yaitu banyak melahirkan tokoh cendikian lokal yang cerdas dan memiliki pemikiran yang setara dengan bangsa barat lainnya. Tokoh Cendikian atau golongan terpelajar bangsa Indonesia inilah yang akhirnya memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia dengan semangat nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia yang dilakukan melalui diplomasi dan perang kemerdekaan Indonesia
Gusti Garnis Sasmita, Hermanu Joebagio, Sariyatun Sariyatun
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 391-402; doi:10.24127/hj.v6i2.1447

Abstract:Rendahnya minat sejarawan terhadap serat Jangka Jayabaya dipengaruhi oleh faktor konten mitologi dalam serat ini. Disisi lain popularitas Jangka Jayabaya justru tinggi dikalangan masyarakat awam. Hal yang menarik dalam fokus penelitian ini yaitu mengkaji Serat Jangka Jayabaya berdasarkan ontologis, epistemologis dan aksiologis serta sumbang silihnya terhadap resistensi terhadap kolonialisme. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif historis dengan tehnik pengumpulan data studi literatur, observasi, wawancara dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa popularitas Serat Jangka Jayabaya melalui proses panjang dalam sejarah Indonesia merupakan awal benih nasionalisme. Sastra yang ditinjau berdasarkan intertektual kepengarangan nyatanya dapat digunakan sumber sejarah primer terkait mentalitas mayarakat sezaman.
Muhammad Iqbal Birsyada, Darsono Darsono, Siswanta Siswanta, Sudartoyo Sudartoyo, Juang Kurniawan Syahruzah
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 321-332; doi:10.24127/hj.v6i2.1526

Abstract:Historically historical literature has cultural roots especially in the development of the character of the values of local wisdom. In addition to the development of literary history culture can be one of the references in the process of writing historiography. This study aims to find the values of local wisdom in the work of historical literature. This research uses historical method. The conclusion in this study finds that the historical literature that developed in Java expressed the literary writer's poetry. Culturally, the contents of historical literature reflect the strategy of enculturation of the values of theroyal family's wisdom to the Javanese community. The suggestion in this study is to develop a further study of other forms of enculturation in historical literature in the development of local wisdom values of the Javanese community.
Yohanes Yakobus Werang Kean, Yosef Dentis, Damianus Rikardo Sumbiwasa
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 251-262; doi:10.24127/hj.v6i2.1527

Abstract:Melemahnya rasa memiliki sejarah, belajar dari sejarah, dan kurangnya perhatian terhadap pengetahuan keberadaan objek-objek sejarah adalah rangkaian permasalahan kesejarahan dikalangan generasi muda. Lawatan Sejarah Daerah merupakan momentum yang sangat baik untuk merajut simpul-simpul kesejarahan. Merajut ingatan kolektif bangsa melalui penanaman nilai-nilai sejarah kepada generasi muda lewat belajar langsung dari sumber-sumber sejarah yang ada di daerahnya. Inspirasi atas prestasi dan sumbangsih dari melawat ke situs-situs bersejarah adalah merawat memori generasi muda, membela dan memperjuangkan harapan-harapan yang baik bagi genarasi muda, dan terus memperjuangkannya pembelajaran sejarah yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan. Suatu visi dari pembelajaran sejarah yang diusahakan secara sadar bukan hanya impian semata. Ende menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini, sebuah kota bersejarah bagi sang Proklamator, Ir. Soekarno. Tempat dimana beliau merenungkan Pancasila, bergaul dan mengambil nilai-nilai dari kearifan lokal masyarakat Ende itu sendiri. Melalui Lawatan Sejarah daerah ini, bermuara pada belajar dari sejarah dalam konteks penanaman nilai-nilai sejarah itu sendiri.
Hasti Sulaiman, Fransiskus Xaverius Rema, Anita Anita
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 237-250; doi:10.24127/hj.v6i2.1528

Abstract:Penelitian ini menelusuri sejarah awal kedatangan dan peninggalan Portugis di Kampung Numba, Kabupaten Ende Provinsi Nusa. Kajian ini menggunakan pendekatan historis dalam melihat persoalan. Untuk mendapatkan paparan data dan kesimpulan penelitian ini penulis memanfaatkan beberapa kesempatan dengan mengunjungi dan melihat langsung lokasi fokus penelitian. Data dikumpulkan dengan tehnik penelusuran sejarah Ende dari berbagai sumber kepustakaan, termasuk dari sumber internet mengenai gambaran NTT Secara umum. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedatangan bangsa Portugis di kampung Numba tidak lepas dari persaingan dengan Islam di Pulau Ende. Sebelum Potugis berpindah dari pulau Ende ke pesisir selatan pulau Flores pada tahun 1620-1630 terjadi penyerbuan kepada orang Portugis yang saat itu berada di dalam benteng. Dari beberapa sumber informasi terpercaya melalui ingatan dan cerita lokal yang masih berkembang dapat dibuktikan bahwa kedatangan Portugis di kampung Numba meninggalkan jejak sejarah dalam bentuk fakta-fakta sejarah secara fisik. Bukti-bukti peninggalan Portugis diantaranya: perigi, meriam, dan gereja, makam dari seorang uskup serta patung bunda Maria. Walaupun bukti fisik beberapa peninggalan sejarah ini sudah tidak terawat lagi, namun menjadi bagian penting dalam dinamika sejarah yang oleh warga setempat masih terus dikisahkan karena merupakan bagian dari sejarah masyarakat setempat akan masa lampaunya.
Syirwana Mayasari Hb, Nahdatul Hazmi
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 161-178; doi:10.24127/hj.v6i2.1530

Abstract:SMPN 4 Payakumbuh melaksanakan pendidikan inklusi mulai tahun 2003. Sekolah ini menerima dan mendidik siswa difabel sebagaimana layaknya siswa-siswi yang lain. Model pembelajaran inklusi yang digunakan di SMPN 4 Payakumbuh antara lain: a) bentuk kelas reguler (inklusi penuh) yaitu menyatukan peserta didik normal dengan peserta didik berkebutuhan khusus (inklusi penuh) dibawah pengawasan guru kelas atau guru mata pelajaran dan guru pendamping khusus dengan memakai Kurikulum Sekolah yaitu Kurikulum 2013, dimana RPP dan Silabus tidak ada pemodifikasian bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK), b) kelas regular dengan pull out yaitu anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak normal lainnya dikelas reguler, namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang lain untuk belajar dengan guru pendamping khusus(GPK). Hambatan yang ditemui antara lain: guru pembimbing khusus (GPK) yang tidak memadai dengan jumlah peserta didik ABK di SMP Negeri 4 Payakumbuh dan kurangnya pemahaman guru umum mengenai pendidikan inklusi. Dan untuk nilai hasil belajar siswa berkebutuhan khusus cukup baik, namun masih terdapat sebagian anak ABK yang dibawah rata-rata KKM. Untuk itu baik guru kelas maupun guru mata pelajaran memberikan remedial ataupun tugas sebagai perbaikan nilai siswa ABK tersebut.
Wilhelmus Kuara Jangga Uma, Dwi Handayani, Yoga Satriya Nurgiri
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 347-364; doi:10.24127/hj.v6i2.1430

Abstract:Tradisi nyale adalah salah satu kearifan lokal di Kabupaten Sumba Barat yang memiliki nilai budaya yang masih terpelihara dalam upacara adat Pasola. Namun demikian, terdapat masalah dari tradisi Nyale dalam Upacara Pasola adalah semakin hilangnya makna dalam pelaksanaan ritual tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna tradisi Nyale dalam prosesi Upacara Pasola di Sumba Barat Nusa Tenggara Timur. Metode peneltian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Teknik analisis data melalui tahap reduksi data, analisis data, verifikasi data. Hasil penelitian adalah Pertama, makna upacara ini digunakan untuk penghormatan peninggalan leluhur dan eksistensinya masih bertahan. Prosesi upacara tidak lepas dari nilai religi dan kepercayaan asli orang Sumba yaitu marapu. Kedua, Syair adat dan upacara penyajian kepada roh halus berfungsi sebagai naluri manusia dalam kepercayaan dan ungkapan syukur kepada Tuhan YME. Perwujudannya dalam bentuk tradisi ritual Nyale yaitu mencari cacing laut dan Pasola sebagai permainan perang di atas kuda menggunakan lembing atau tombak. Peranan ritual Nyale dan adat Pasola di Sumba Barat dimaknai sebagai alat pemersatu masyarakat berupa persaudaraan dan ungkapan kegembiraan sejati menyambut hasil panen. Meskipun upacara Pasola dipenuhi ketakutan karena melukai lawan, tetapi upacara ini terus dilestarikan. Nyale dan Pasola berkaitan erat dengan nilai luhur dalam pelaksanaan prosesi dan kepercayaan masyarakat Sumba. Ketiga, tahapan upacara Nyale dan Pasola adalah a). penentuan waktu pencarian cacing laut mulai dari perkumpulan para rato, b). persiapan kelengkapan Pasola yaitu kayu lembing, kuda, kain adat, dan c). prosesi pelaksanaan Pasola.
Fikrul Hanif Sufyan
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 207-230; doi:10.24127/hj.v6i2.1257

Abstract:Sidi Mhd. Iljas merupakan sosok lokal pengembang Muhammadiyah yang belum pernah muncul dalam historiografi Pariaman, terutama pada episode modernisasi Islam di awal abad ke-20. Ilyas cs memberanikan diri untuk meluaskan pengaruh Muhammadiyah di tengah basis masyarakat penganut Tarekat Syattariyah. Penelitian ini bertujuan untuk membingkai strategi Ilyas dalam menyebarluaskan Muhammadiyah, termasuk ketika berhadapan dengan pemerintah jajahan. Metode historis yang diterapkan dalam penelitian ini terdiri atas pengumpulan sumber (heuristik). Setelah heuristik, dilakukan kritik terhadap sumber temuan, interpretasi, dan historiografi.Tradisi keagamaan Syattariyah sejak abad ke-17 di pesisir Barat Pariaman, memang tidak terbantahkan. Sampai gelombang modernisasi Islam dibawa Adnan ke Nagari Kurai Taji melalui Surau Paninjauan, telah merusak rust en orde kalangan ulama Syattariyah. Adalah Ilyas yang kemudian melanjutkan gerakan modernisasi Islam melalui Muhammadiyah Groep Kurai Taji. Beragam strategi diterapkannya, baik ketika berhadapan dengan pengikut Syattariyah, maupun berhadapan dengan pemerintah Kolonial Belanda. Setelah Ilyas memutuskan hijrah ke Kisaran, namun perhatiannya terhadap gerak Muhammadiyah Pariaman tetap tidak berubah. Konkritnya, Ilyas telah meletakkan fondasi kuat, yang kemudian dilanjutkan pemimpin persyarikatan berikutnya.
Kabib Sholeh, Dina Sri Nindiati
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 273-294; doi:10.24127/hj.v6i2.1523

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi masyarakat Ulu dan Ilir pra dibangunnya jembatan Ampera, untuk menganalisis sejarah pembangunan jembatan Ampera dan pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Ulu tahun 1962-2010 di Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah (historis), dengan berbagai pendekatan keilmuan seperti pendekatan antropologis, sosiologis, ekonomologis dan geografis. Adapun tahapan pertama, heuristik, pengumpulan sumber atau data dengan observasi, dokumentasi, wawancara dan studi pustaka. Kedua, verifikasi, adalah memilih dan memilah sumber yang terkumpul dengan melakukan kritik intern dan ekstern, ketiga, interpretasi adalah analisis data yang dibantu dengan pendekatan antropologi, sosiologi, ekonomi dan geografis. Keempat, historiografi, tahap terakhir yaitu pemaparan atau penulisan sejarah. Hasil penelitian ini adalah, kondisi pra pembangunan jembatan Ampera tahun 1962, kondisi Ilir dan Ulu mengalami ketidak seimbangan pembangunan dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial dan budaya. Pasca dibangunnya jembatan Ampera tahun 1962 maka besar harapan masyarakat untuk perkembangan masyarakat Ulu yang lebih maju lagi tetapi perkembangan tersebut sampai tahun 2000-an masih berjalan ditempat. Pasca tahun 2000 maka pemerintah dengan akses jembatan Ampera yang mudah untuk menyeberangi ke wilayah Ulu, pemerintah melakukan reklamasi besar-besaran terhadap wilayah Ulu. Dengan demikian masyarakat Ulu mulai merasakan perkembangan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. Kondisi demikian secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap proses menyeimbangkan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat Ulu dengan Ilir yang berjalan dengan pasti.
Ayu Reza Ningrum, Sudjarwo Sudjarwo, Pargito Pargito
HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Volume 6, pp 295-308; doi:10.24127/hj.v6i2.1297

Abstract:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki interaksi sosial antara dua kelompok etnis Jawa dan Bali di Bawang Tirto Mulyo dan Kahuripan Dalam, khususnya dalam bentuk kerjasama, asimilasi, akulturasi, dan akomodasi dalam dua level, yaitu interaksi antara individu dan interaksi antar kelompok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang diperoleh dari sumber utama yaitu orang-orang yang tinggal di Bawang Tirto Mulyo dan Kahuripan Dalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) interaksi antara individu Jawa dan Bali berjalan harmonis ditandai dengan toleransi dan saling menghormati dan tidak ada diskriminasi etnis ditemukan dalam bergaul, (2) interaksi antara kelompok berjalan dalam bentuk kerjasama, asimilasi, akulturasi, dan akomodasi. Kedua kelompok etnis memahami bahasa masing-masing meskipun orang Jawa memahami bahasa Bali secara pasif sementara mayoritas orang Bali dapat secara aktif berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa toleransi dan saling menghormati antara dua kelompok etnis menyebabkan interaksi sosial yang asosiatif
Page of 8
Articles per Page
by