Refine Search

New Search

Advanced search

Journal HISTORIA

-
54 articles
Page of 6
Articles per Page
by
Tantri Raras Ayuningtyas, Anis Syatul Hilmiah, Rina Rohmawati
Published: 3 March 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 139-150; doi:10.24127/hj.v6i1.1080

Abstract:Peninggalan kebudayan megalitikum yang tersebar di Bondowoso ini berupa menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, batu kenong, pelinggih batu, ruang batu atau stonechamber dan arca. Kebudayaan megalitikum ini berlangsung hingga kini dengan memahami makna kepercayaan akan adanya hubungan antara mahluk yang hidup dan sudah mati. Pembelajaran sejarah tingkat SMA, kebudayaan Megalitikum masuk dalam materi Sejarah Indonesia Kelas X dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran tiap minggunya namun pemblajaran dikelas yang ditawarkan kurang menarik dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan implementasi pemanfaatan situs peninggalan sejarah di Kabupaten Bondowoso sebagai pengembangan sumber belajar di SMA Negeri 2 Bondowoso dengan menggunakan kompetensi dasar 3.2 berdasarkan tipologi hasil budaya Pra Aksara Indonesia termasuk yang berada di lingkungan terdekat. Pengembangan sumber belajar yang digunakan menggukan metode lawatan sejarah dan pembuatan buku teks sebagai bahan ajar tingkat SLTA dengan menggunakan model desain ADDIE dan diimplementasikan di sekolah menggunakan penelitian tindakan kelas di kelas X IIS SMA Negeri 2 Bondowoso. Penelitian pengembangan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa di kelas.
Agus Susilo
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 57-68; doi:10.24127/hj.v6i1.1149

Abstract:Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, memberikan semangat para pemimpin dan bangsa Indonesia seluruhnya untuk mulai berjuang keras untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Jenderal Besar Soedirman merupakan pahlawan yang pernah berjuang untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan pejajahan. Jenderal Soediman berjuang memperjuangkan kemerdekaannya Indonesia dengan segala kekurangan keadaan pasukan dan melemahnya kesehatannya, namun rasa cinta terhadap bangsa Indonesia yang merdeka memicu semangatnya untuk tetap berjuang dalam keadaan apapun. Selain sebagai tokoh perjuangan yang handal beliau juga merupakan sosok yang Islami dari Muhammadyah dan juga seorang guru teladan yang baik dan amanah. Dalam lingkungan militer, Jenderal Soedirman merupakan sosok yang mampu menjadi pendingin dan pemberi semangat dalam kegentingan pasukannya dari ancaraman bangsa Barat. Soedirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia dicatat sebagai Panglima dan Jendral RI yang pertama dan termuda.
Gandung Wirawan, Anis Syatul Hilmiah, M. Iqbal Ibrahim H
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 15-28; doi:10.24127/hj.v6i1.1082

Abstract:Eksistensi suatu budaya ditentukan dengan seberapa besar masyarakat mengenali, peduli dan melakukan suatu kegiatan kebudayaan.Semakin tinggi tingkat kepedulian suatu masyarakat terhadap budaya yang dimiliki semakin berkembang dan lestari suatu budaya tersebut. Kurikulum K-13 di Sekolah Dasar memberikan ruang pengenalan terhadap kebudayaan masing-masing daerah di Indonesia yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai daerah untuk menginventarisir potensi kebudayaan lokal untuk diajarkan kepada generasi muda, hal ini tertuang pada tema 1. Indahnya Kebersamaan, subtema keberagaman budaya bangsaku. Kabupaten Jember sebenarnya memiliki kebudayaan musik patrol yang menjadi ciri khas kota Jember, namun tidak diajarkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah sekitar kabupaten Jember. Hal ini pula yang terjadi di SDN Tegal Besar 02 Jember, dimana materi yang diajarkan tidak satupun mengakomodir kebudayaan lokal yang dimiliki Kabupaten Jember. Metode Penelitian yang digunakan adalah Riset and Development (R & D) dengan menggunakan model desain ADDIE dengan tahapan Analisis, Desain, Development, Implementasi dan Evaluasi.Hasil penelitian menujukkan bahwa model pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol layak digunakan berdasarkan penilaian validator dengan kategori tinggi dengan skor 4,42 dan pemahan budaya lokal siswa meningkat dari rerata awal 2,31 yang berada pada kriteria rendah menjadi 3,56 yang berada pada kriteria tinggi. Adapun perhitungan Paired Sample T Test dengan taraf siginifikansi 5% menunjukkan bahwa nilai Sig. (2-tailed) adalah 0.00 dengan demikian H0 ditolak, sehingga ada peningkatan pemahaman budaya lokal siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran berbasis nilai-nilai msuik patrol, dapat disimpulkan bahwa pengembangan model pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol layak untuk digunakan di sekolah dasar kabupaten Jember serta dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap budaya lokal Kabupaten Jember.
Punitha Muniandy, Nagamah Marimuthu, Abdul Rahim Ali, Sivarajan Ponniah, Zahari Zainal, Ravendran Chelliah, Jefriza Jefriza
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 1-14; doi:10.24127/hj.v6i1.760

Abstract:Research was carried upon 40 teachers who teach history at Sekolah Menengah Seberang Prai Tengah, Penang. The purpose of the study is to evaluate the efectiveness of field research in increasing the quality of a History teacher’s pedagogical skills. As many as 40 history teachers of whom 20 were female and the other 20 male from Sekolah Menengah Seberang Prai Tengah were chosen as respondents for the research.The research aspect which was observed is the usage of field research, knowledge or information gained from field research, the feeling of the teacher after carrying out the field research and the effect of the field research programme. The case study at the archeological site of Lembah Bujang and Sungai Batu, Kedah was carried out to observe the significance of the research continuity. A descriptive analysis and a t-test were used. Furthermore, the interview and the observation methods were used upon the research participants to strengthen the research findings. Analysis results indicate the research aspect which is the usage of field research, knowledge or information gained from field research, the feeling of the teacher after carrying out the field research and the effect of the field research programme at the archeological site of Lembah Bujang and Sungai Batu amongst the high school history teachers are not significant, however, the mean score related to the effect of the field research programme at the archeological site of Lembah Bujang and Sungai Batu shows that the male teachers had a much more fun engangement and are more interested in the teaching and learning activities compared to the female teachers.
Novi Triana Habsari
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 89-102; doi:10.24127/hj.v6i1.1033

Abstract:Tulisan ini untuk mengetahui prosesi ritual Keduk Beji di Sendang Tawun Desa Tawun Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi dan apakah sampai sekarang masyarakat masih menganut Monoteisme teoritis dalam ritual keduk Beji. Lokasi penelitian adalah di Desa Tawun Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengambilan data dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan sampel dengan snowball sampling. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Validasi yang dipergunakan untuk menguji kebenaran data yaitu trianggulasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman dengan 3 tahapan, yaitu reduksi data, sajian data dan verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa masyarakat Desa Tawun termasuk ke dalam penganut kepercayaan monoteisme teoritis. Mereka mempercayai bahwa Tuhan itu Esa dalam teori, tetapi prakteknya mereka mempercayai lebih dari satu Tuhan. Pelaksanaan ritual diadakan hari Selasa Kliwon setiap tahun pada bulan suro. Ritual Jawa identik dengan sesajen, sama halnya dengan Keduk Beji. Acara diawali dengan pengedukan atau pembersihan sendang. Kemudian dilanjutkan penyilepan dimana juru kunci melakukan penyelaman ke dalam sendang untuk meletakan kendi di dasar sendang dan mengambil kendi yang pernah ditaruhnya setahun lalu. Diakhiri dengan pertunjukan Tari Kecetan, dan kenduri (selamatan). Makna filosofis Ritual Keduk Beji adalah mengajarkan tentang kebersihan dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Putut Wisnu Kurniawan, Risna Rogamelia
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 45-56; doi:10.24127/hj.v6i1.1083

Abstract:Hancurnya nilai-nilai moral dalam masyarakat yang ditandai dengan merebaknya kekerasan, korupsi mengakibatkan lahirnya pendidikan karakter yang perlu dikembangkan di sekolah ataupun lembaga pendidikan. Lingkungan sekolah harusnya bisa menjadi unsur terpenting bagi pertumbuhan pendidikan karakter. SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung yang merupakan sekolah yang sangat mementingkan pengembangan dan pembiasaan karakter di dalam proses pembelajaran ataupun diluar. Bentuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus ganda terpancang. Pengumpulan data dilaksanakan dengan observasi langsung, wawancara mendalam, dan pencatatan dokumen. Validasi data dilakukan dengan trianggulasi. Analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Pemahaman guru tentang pendidikan karakter yang muncul di SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung lebih menekankan pada konsep karakter Islam. Pemahaman tersebut didasari dengan ideologi yang diterapkan di sekolah masing-masing, yaitu menjadikan sekolah islami, unggul dan terpercaya. Integrasi penerapan pendidikan karakter bangsa di SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung melalui pelajaran sejarah merupakan pelajaran yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai karakter bangsa kepada siswa. Peristiwa sejarah bisa diambil hikmah dan teladannya dalam proses pembelajaran. Mulai dari perencanaan, proses pembelajaran dan evaluasi nilai-nilai karakter bangsa sudah dibuat dan dilaksanakan oleh guru sejarah di SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung. Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah dapat dilihat dari dalam sikap religius, disiplin, kejujuran, kreatif, kerjasama, komunikatif, peduli, toleransi, tanggung jawab, cinta tanah air dan mandiri. Dalam penerapannya nilai-nilai religius sangat dominan dibanding nilai-nilai yang lainnya.
Ismaul Fitroh
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 69-88; doi:10.24127/hj.v6i1.1170

Abstract:Tunjungrejo is one of the unique village located in the region of Lumajang. The uniqueness of the village Tunjungrejo saw in the presence of the religion believed by locals that Protestant religion. The uniqueness of the others is their house of worship, namely East Java Christian Church (GKJW). In its development, Protestant Christianity in Tunjungrejo is the role Brontodiwirjo. Brontodiwirjo as forest loggers Tunjungrejo is also a teacher of the gospel in this region. Along Tunjungrejo forest clearing, many newcomers who are Christians and non-Christians. To maintain the existence of Protestant Christianity, Brontodiwirjo as forest loggers Tunjungrejo apply the rule that people who want to settle in the region Tunjungrejo be Protestant. From this Tunjungrejo society formed by the belief in one religion. As a result of the continued development of the Protestant Christian church, he built a house of worship that is GKJW Tunjungrejo.
Kuswono Kuswono
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 117-128; doi:10.24127/hj.v6i1.1261

Abstract:Penelitian ini menggunakan metode historis dengan langkah pengumlan sumber, kritik sumber, penafsiran dan sintesis (penulisan hasil penelitian). Hasil penelitian ini yakni peran taruna akademi militer begitu vital dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada keadaan kekurangan tentara terdidik dan terlatih, Taruna Akademi Militer yang ketika itu berkedudukan di Yogyakarta tampil sebagai kekuatan baru. Walaupun tidak dapat dipungkiri pengalaman mereka yang masih kurang dalam medan pertempuran menjadi pengalaman baru, pendidikan perang yang langsung dialami menempa jiwa-jiwa muda Taruna Akademi Militer. Setidaknya mereka pernah terlibat pada peristiwa-peristiwa penting seperti Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Pengawal Jenderal Sudirman tahun 1946, Menjadi Panitia Oentoek Pengangkoetan Jepang dan APWI (POPDA), Pertempuran di Subang Tahun 1946.
Johan Setiawan, Aman Aman
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 129-138; doi:10.24127/hj.v6i1.1252

Abstract:This research inteded to find the biography of KH. Ahmad Hanafiah and to examine his fight in haslling the Independent of Indonesia in Karesidenan Lampung. The methode of this research was historic method by using steps, (1) heuristics, (2) resource critics, (3) interpretations, (5) historiography. Derivying the result from the instruments, it can be drawn as follows; (1) KH. Ahmad Hanafiah was a clergy and a religion teacher who served himself as the politician or a teacher in Lampung region. (2) KH. Ahmad Hanafiah was a leader of Sukadana Hisbullah Troops whom sacrifice himself in facing the first Netherland Military Agression and he was died in the battlefield in 1947.Keywords: KH. Ahmad Hanafiah, Patriotist, Lampung Region
Muhammad Iqbal Birsyada, Juang Kurniawan Syahruzah
Published: 28 February 2018
HISTORIA, Volume 6, pp 103-116; doi:10.24127/hj.v6i1.1150

Abstract:Yogyakarta is one of Javanese cultural centers that still exist both nationally and internationally. Historically, social and cultural developments in the pre-Independence era until the Reformation era experienced significant social change. This research wants to analyze and find the process of social change in Yogyakarta. Selo Soemardjan's perspective approach was used in analyzing social change in the pre-Independence era in Yogyakarta. While at the contextual level of social phenomenology analysis used in analyzing the development of social change in Yogyakarta in the post-independence period. The findings in this study are that Yogyakarta experienced a sense of value and culture in the pre-independence and post-independence period. Yogyakarta people who previously put great ethical values of Javanese culture has shifted to the culture of consumptive, business and hedonist. The role of the Sultan and the government is less strong in stemming the various global currents that enter the territory of Yogyakarta. Social control is weak in building and stemming cultural values that are not in accordance with the ethical norms of the old Yogyakarta community. Suggestion of this research is socialization of social and cultural system strengthening from local government to the smallest level of society and family. Second, the need for government to work together with social organizations and religious communities in strengthening cultural identity, ethics and religious norms of society
Page of 6
Articles per Page
by