Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Jurnal Pendidikan Sejarah

-
69 articles
Page of 7
Articles per Page
by
Boni Marian
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 8, pp 35-49; doi:10.21009/jps.081.04

Abstract:This study aims to describe teacher preparation before conducting history learning at State Senior High School in the Frontier, Outermost, and Disadvantaged Region (3T) of Tanimbar Islands, and the history learning process at State Senior High School in the Frontier, Outermost, and Disadvantaged Region of Tanimbar Islands. This study uses descriptive qualitative methods, using data collection techniques through observation, interviews and documentation. Informants in this study are Principals, Teachers and Students at State Senior High School of Tanimbar Islands. The results of this study indicate that starting from preparation to the process of history learning in the State Senior High School in Tanimbar Islands has not run optimally. Facility problems negligence of school leaders, unprofessional teachers at work and lazy students are the main factors in the process of history learning in the Frontier, Outermost, and Disadvantaged Region (3T). Key word: Region 3T, Learning Process, History Learning
Ulfah Nury Batubara, Aman Aman
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 8, pp 14-34; doi:10.21009/jps.081.02

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Andrian Jati, Murni Winarsih, Sarkadi Sarkadi
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 8, pp 35-52; doi:10.21009/jps.081.03

Abstract:The aim of this research is to the effect of learning models and social attitudes towards the learning outcomes of history in Tangerang District 24 High School. The type of research used is quantitative research by using 2x2 level treatment design experiment methods. The population consists of all students of class XI IIS. The sample consisted of two classes namely class XI IIS 1 and XI IIS 4. With a total of 60 people. The instruments used for learning outcomes are multiple choice tests and those used for social attitudes are questionnaires. The results of this study indicate that: (1) historical learning outcomes of students studying with the Two Stay-Two Stray (TSTS) learning model are higher than students who study with conventional learning models (2) there is an influence of interactions between learning models and students' social attitudes ( 3) historical learning outcomes of students who study with the Two Stay-Two Stray learning model (TSTS) and have a higher social attitude higher than students who study with conventional learning models and have high social attitudes (4) historical learning outcomes of students learning with models learning of Two Stay-Two Stray (TSTS) and having a low social attitude is lower than students who study with conventional learning models and have low social attitudes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran dan sikap sosial terhadap hasil belajar sejarah di SMA Negeri 24 Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen desain treatmen by level 2x2. Populasi terdiri dari seluruh siswa kelas XI IIS. Sampel terdiri dari dua kelas yaitu kelas XI IIS 1 dan XI IIS 4. Dengan jumlah 60 orang. Instrumen yang digunakan untuk hasil belajar adalah tes pilihan ganda dan yang digunakan untuk sikap sosial adalah kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar sejarah siswa yang belajar dengan model pembelajaran TSTS lebih tinggi dari siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional (2) terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan sikap sosial siswa (3) hasil belajar sejarah siswa yang belajar dengan model pembelajaran TSTS dan memiliki sikap sosial tinggi lebih tinggi dari siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional dan memiliki sikap sosial tinggi (4) hasil belajar sejarah siswa yang belajar dengan model pembelajaran TSTS dan memiliki sikap sosial rendah lebih rendah dari siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional dan memiliki sikap sosial rendah.
Brigida Intan Printina
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 8, pp 1-13; doi:10.21009/jps.081.01

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Khusnul Khotimah
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 7, pp 85-103; doi:10.21009/jps.072.05

Abstract:This study aims to find out how the use of historical novels as a source of learning in 15 State Senior High School of DKI Jakarta. The research method is descriptive method on survey technique, survey using Proportional Random Sampling technique.The results show that history teachers have a lot to know about the history novel. Nevertheless, the historical novel has not been widely used by history teachers. there are factors that have been used or not used the historical novel as a source of learning. The internal factors used by history novels by teachers are personally teachers depart from the hobby of reading fiction books especially historical novels and external factors the use of historical novels is that teachers feel the curriculum and school environment support the use of free and creative learning resources. Meanwhile, internal factor is not used by history novel by teacher is teacher do not know about the history novel external factor is, teacher feel student tend not interested to read. Both those who have used and have not used argue that the library in school is not sufficient enough for the availability of story books and novels about history. The benefits of using novel history according to the teacher is as one of the media development of literacy and can explain the imaginative nature and teachers are interested in using historical novels to support the affective side of students. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan novel sejarah sebagai sumber belajar di 15 SMA Negeri DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survey, surve menggunakan teknik Proportional Random Sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa guru sejarah sudah banyak mengetahui tentang novel sejarah. Meskipun begitu, novel sejarah belum cukup banyak digunakan oleh guru sejarah. Terdapat faktor atas sudah digunakan atau belum digunakannya novel sejarah sebagai sumber belajar. Faktor internal digunakannya novel sejarah oleh guru adalah secara pribadi guru berangkat dari hobi membaca buku fiksi terutama novel sejarah dan faktor eksternal digunakannya novel sejarah adalah guru merasa kurikulum dan lingkungan sekolah mendukung penggunaan sumber belajar yang bebas dan kreatif. Sementara, faktor internal tidak digunakannya novel sejarah oleh guru adalah guru tidak mengetahui tentang novel sejarah faktor eksternalnya adalah guru merasa anak didik cenderung tidak tertarik untuk membaca. Baik yang sudah menggunakan maupun belum menggunakan berpendapat bahwa perpustakaan di sekolah tidak cukup memadai untuk ketersediaan buku-buku cerita dan novel tentang sejarah. Adapun manfaat menggunakan novel sejarah adalah sebagai salah satu media pengembangan literasi dan dapat menjelaskan yang sifatnya imajinatif dan guru berminat menggunakan novel sejarah guna menunjang sisi afektif siswa.
Sugeng Prakoso
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 7, pp 31-66; doi:10.21009/jps.072.03

Abstract:This article examines the changes in themes and perspectives in the writing of Southeast Asian history in the period 1955 to 2010. The historiography of the 1950s tended to political history and the dominant view of the external influences of India, China, Islam, and the West on Southeast Asian history. In the 1960s the thematic focus shifted to economic and social aspects along with the emergence of the trend of social sciences approaches in historical studies which was influenced by the Annales School. In the 1980s, with the onset of the linguistic and cultural turns in the social sciences, historians in the region turned to diachronic studies of the formation of identity, mentality, representation and discourse of local knowledge. The shift in perspective also occurred with the emergence of the (Southeast) Asian-centric perspective which saw changes in Southeast Asian society as a result of the dynamic interaction between the region's internal and external forces. Since the end of the 1990s, there has been a tendency for the ‘interstices’, that is linking the history of the Southeast Asian region with its global historical context, and on the connectivity of historical disciplines with other social-humanities disciplines to build bridges of trans-disciplinary studies.Artikel ini mengkaji perubahan tema dan perspektif dalam penulisan sejarah Asia Tenggara pada periode 1955 sampai 2010. Historiografi dasawarsa 1950-an cenderung pada sejarah politik dan dominannya pandangan ihwal pengaruh eksternal India, Cina, Islam, dan Barat atas sejarah Asia Tenggara. Pada dasawarsa 1960-an fokus tematis bergeser ke aspek ekonomi dan sosial seiring dengan munculnya tren pendekatan ilmu-ilmu sosial yang dipengaruhi oleh Mazhab Annales. Pada dasawarsa 1980-an, dengan menguatnya kajian linguistik dan budaya, sejarawan di kawasan ini beralih ke studi diakronis tentang pembentukan identitas, mentalitas, representasi, dan wacana pengetahuan lokal. Pergeseran perspektif juga terjadi dengan menguatnya perspektif Asia (Tenggara)-sentris yang melihat perubahan-perubahan di dalam masyarakat Asia Tenggara sebagai hasil interaksi dinamis antara kekuatan internal dan eksternal kawasan itu. Sejak akhir dasawarsa 1990-an, muncul kecenderungan pada ‘interstisi’, yaitu menghubungkan sejarah kawasan lokal Asia Tenggara dengan konteks historis globalnya, dan pada konektivitas disiplin sejarah dengan berbagai disiplin ilmu sosial-humaniora lainnya untuk membangun jembatan kajian transdisipliner.
Moh. Namiraz Prananda, Sarkadi Sarkadi, Nurzengky Ibrahim
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 7, pp 67-84; doi:10.21009/jps.072.04

Abstract:Abstrac: This study aims to describe the effectiveness of learning resources in history learning by using documentary films to foster interest in learning history and nationalism of students. This study uses descriptive qualitative methods. The time for this study began from March to July 2018. At SMAN 61 Jakarta and SMAN 103 Jakarta. Data collection techniques by observation, interviewing informants were students who took history learning with the documentary film media and key informants, subject teachers who used the Opinion expert documentary. This study describes some of the findings and discussion of the research, namely what the teacher's goal is to use the documentary, how students' interest in learning after watching the film and the film can foster student nationalism. The goal of the teacher to use documentary films as a medium is to help students make it easier to absorb the lessons that teachers convey. In terms of interest, students are more interested in learning history and learning independently. The film effectively fosters student nationalism. students better understand the meaning of Indonesian nationalism after doing the learning. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas sumber belajar pembelajaran sejarah dengan menggunakan film dokumenter untuk memupuk minat belajar sejarah dan nasionalisme siswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitati. Waktu penelitian ini dimulai dari maret sampai juli 2018. Di SMAN 61 Jakarta dan SMAN 103 Jakarta. Tehnik pengumpulan data dengan observasi, wawancara informan yaitu siswa yang mengikuti pembelajaran sejarah dengan media film dokumenter tersebut dan key informan, guru mata pelajaran yang menggunakan film dokumenter expert Opinion. Penelitian ini menjabarkan beberapa temuan dan pembahasan penelitian yaitu apa tujuan guru menggunakan film dokumenter tersebut, bagaimana minat belajar siswa setelah menonton film tersebut serta filmtersebut dapat memupuk nasionalisme siswa. tujuan guru menggunakan film dokumenter sebagai media adalah untuk membantu siswa agar lebih mudah untuk menyerap pelajaran yang guru sampaikan. Untuk segi minat, siswa lebih terterik belajar sejarah danbelajar secara mandiri. Film tersebut efektif memupuk nasionalisme siswa. siswa lebih mengerti makna dari nasionalisme Indonesia setelah melakukan pembelajaran tersebut.
Gesia Mira Urlialy, Kurniawati Kurniawati, Nurzengky Ibrahim
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 7, pp 15-30; doi:10.21009/jps.072.02

Abstract:This study aims to evaluate historical learning programs that are integrated in social science to provide information on the extent of achievement of historical material integrated in social studies using the evaluative approach of the CIPP model (Context, Input, Process, and Product). This research was conducted at Ambon City Junior High School VII grade. The findings in this study on the context component indicate that the level of actualization in four aspects is moderate; in the input component the actualization level in three low aspects and two aspects shows the level of moderate actualization. In the input component the level of actualization in supporting the implementation of social studies learning in two low aspects and three moderate asepek. In the process component, the level of actualization in the implementation of social studies, especially historical material; and on the product component the actualization level of student learning outcomes is very high. Based on this research, it can be concluded that history learning integrated in social studies at Ambon City Junior High School in class VII is not optimal. Improvements need to be made - reforms by the principal, teachers and the government to support historical learning programs integrated in social studies. Keywords: Learning Social Sciences, History, CIPP Model, Program Evaluation. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program pembelajaran sejarah yang terintegrasi dalam ilmu pengetahuan sosial untuk memberikan informasi sejauh mana ketercapaian dari materi sejarah yang terintegrasi dalam IPS dengan menggunakan pendekatan evaluatif model CIPP (Context, Input, Process, and Product). Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Kota Ambon kelas VII. Temuan dalam penelitian ini pada komponen konteks menunjukkan bahwa tingkat aktualisasi pada empat aspek sedang; pada komponen input tingkat aktualisasi pada tiga aspek rendah dan dua aspek menunjukkan tingkat aktualisasi sedang. Pada komponen input tingkat aktualisasi dalam menunjang pelaksanaan pembelajaran IPS sejarah pada dua aspek rendah dan tiga asepek sedang. Pada komponen proses tingkat aktualisasi dalam pelaksanaan pembelajaran IPS khusunya materi sejarah sedang; dan pada komponen produk tingkat aktualisasi terhadap hasil belajar siswa sangat tinggi. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah yang terintegrasi dalam IPS di Sekolah Menengah Pertama Kota Ambon kelas VII belum optimal. Perlu dilakukan pembenahan – pembenahan oleh pihak kepala sekolah, guru dan pemerintah untuk mendukung program pembelajaran sejarah yang terintegrasi dalam IPS. Kata Kunci: Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Sejarah, Model CIPP, Evaluasi Program.
Ratni Ratni, Suriani Suriani
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 7, pp 1-14; doi:10.21009/jps.072.01

Abstract:In the greatness time of Islamic Civilazation, Islamic Education chose oral exam for evaluation technic. The result of evaluation on education is for evaluate life with face all the trials, but its a life its self. How about now, what kind of evaluation are use by lecturer and why they choose for the evaluation? The aim of the research is to describing technic evalution for learning Islamic Civilazation History at IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten in 3 Faculty. The method is Kualitatif Research in case study wich deskriptif analitif Method. The kualitatif was conducted through observation, interview, and documens. The result are two factors influencing lecturer to choose and use evaluation technic (1) the learning purpose and (2) lecturer education background. Keywords: Evaluation Teknic, Islamic Civilazation History, Lecturer Abstrak: Di masa kejayaan Peradaban Islam memilih teknik ujian lisan. Hasil dari evaluasi dalam dunia pendidikan merupakan upaya mengevaluasi hidup dalam menghadapi setiap cobaan. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran pelaksanaan teknik evaluasi pembelajaran Sejarah Peradaban Islam dengan metode deskriptif analitik. Focus penelitian ini adalah untuk melihat dan memaparkan mengapa dosen pengampu pembelajaran Sejarah peradaban Islam menggunakan teknik evaluasi tertentu. Tiga aspek yang dikaji adalah bagaimana perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran dan teknik evaluasi dalam ranah kognitif serta afektif. Temuan penelitian ini mendapatkan hasil bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dosen pengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam memilih dan menggunakan teknik evaluasi ada dua, yaitu: tujuan pembelajaran dan latar belakang pendidikan dosen. Gabungan dari dua faktor temuan itu menghasilkan pola pemilihan dan pelaksanaan teknik evaluasi pembelajaran Sejarah Peradaban Islam. Kata kunci: Dosen, Sejarah Peradaban Islam, Teknik Evaluasi.
Ali Guntur
Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 7, pp 85-98; doi:10.21009/jps.071.06

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Page of 7
Articles per Page
by