Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya

-
140 articles
Page of 15
Articles per Page
by
Fitria Rahmi
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 17; doi:10.25077/jantro.v17.n2.p175-185.2015

Abstract:Sari Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk berstruktur aging, dimana dari tahun ke tahun terjadi peningkatan jumlah lansia. Meningkatnya jumlah lansia diikuti dengan meningkatnya permasalahan kesehatan dan permasalahan psikologis. Salah satu permasalahan psikologis yang muncul yaitu perasaan kesepian. Rasa kesepian akan semakin dirasakan lansia yang sebelumnya aktif bekerja. Kesepian akan memicu tingkat stress, depresi dan bunuh diri pada lansia. Religiusitas yang rendah diyakini menyebabkan perasaan kesepian pada lansia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dan kesepian pada lansia Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), cabang Koperindag Sumatera Barat. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah 40 orang lansia. Data yang dianalisa dengan menggunakan korelasi Product Moment menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara religiusitas dan kesepian pada lansia PWRI, terlihat dari nilai r = -0,709 (dengan p < 0,01.). Ini berarti semakin tinggi religiusitas semakin rendah kesepian yang dialami lansia.
Nursyirwan - Effendi
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 18; doi:10.25077/jantro.v18.n2.p105-120.2016

Abstract:Sari Makalah ini tentang kajian budaya pasar tradisional dalam konteks masyarakat pedesaan yang sedang mengalami perubahan gaya hidup. Perubahan gaya hidup masyarakat modern sudah terbiasa diakibatkan salah satunya oleh perkembangan konsumerisme yang disediakan oleh pasar-pasar modern. Namun, perubahan gaya hidup ternyata juga berlangsung di masyarakat pedesaan yang juga melalui pasar. Pasar tradisional yang semula berlangsung karena mekanisme sosial dan budaya dan menjadi tempat transaksi produk ekonomi lokal dan kebutuhan masyarakat desa, telah bergeser sebagai tempat bagi produk modern dan gaya hidup modern. Bagaimana perubahan gaya hidup masyarakat yang disebabkan oleh pasar tradisional? Apa bentuk budaya pasar tradisional setelah berlangsungnya perubahan gaya hidup masyarakat ke bentuk yang modern? Makalah ini berdasarkan riset tentang suatu analisis budaya pasar yang memfokuskan kepada rekonstruksi pranata pasar tradisional yang berlangsung di masyarakat pedesaan di Sumatera Barat. Unit analisis adalah pasa nagari. Asumsi antropologi tentang pasar tradisional adalah suatu pranata yang integral dari sistem sosial budaya dari masyarakat dimana pasar tersebut berada dan berlangsung. Metode riset kualitatif dimanfaatkan untuk menganalisis eksistensi budaya pasar tradisional. Lokasi riset adalah sejumlah pasar nagari dan masyarakat nagari di wilayah kabupaten Tanah datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Hasil yang riset menyangkut (1) telaah komprehensif tentang eksistensi pasar tradisional yang semakin melemah, ditengah kuatnya penetrasi gaya hidup pasar modern, dengan mengambil kasus masyarakat nagari di Sumatera Barat; (2) faktor-faktor budaya yang utama dari masyarakat lokal yang telah memperlemah atau memperkuat keberadaan budaya pasar tradisional.Produk ini diharapkan dapat dipakai sebagai rujukan utama (blue print) untuk berbagai upaya membangun, membina dan mempertahankan budaya pasar tradisional di Indonesia.
Alfi Arifian
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 18; doi:10.25077/jantro.v18.n1.p13-19.2016

Amanda Haruminori, Nathania Angelia, Andrea Purwaningtyas
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 19, pp 125-128; doi:10.25077/jaisb.v19.n2.p125-128.2017

Abstract:Traditional food is considered as one of the identities that makes a nation, and it is caused by the varieties of cultures. Tempoyak (asam durian) is one of the examples of traditional foods, specifically for the Malayan ethnic, and it is widely known in Palembang. The majority of Palembang citizens are known to be nomads, and since durians are abundant in Sumatra, food processing is done to increase shelf life. Tempoyak is the result of fermenting durian for 3-7 days by adding salt into the fruit. Fermentation is one of the many ways of food processing. The fermentation of durian gives tempoyak a unique flavour that combines sourness from the fermentation process and sweetness from the fruit itself. Fermentation is one of the most well-known food processing in Indonesia, and has been known for years. To the Malayan ethnics, tempoyak has a unique taste that can increase ones appetite, and it is usually used as a complementary food for rice, and also spices. One of the foods that use a tempoyak spices is brengkes.
Imam Setyobudi
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 19, pp 129-138; doi:10.25077/jaisb.v19.n2.p129-138.2017

Abstract:The core of Wayang stories (Mahabharata, Bharatayuda, Ramayana) is the reflection of human that is always continuously in crisis and emergency situations and conditions. Tragic. Wayang stories raise humanity problems so that the existences of human conception experience the perpetuity of dehumanization, existential instability and ambiguous. The killing of the essence of the human existence purpose on earth. It is an issue fundamentally of anti-human.Shadow play perspective does not rest on human understanding or Knight (Pandawa, Kurawa, Rama, Giant), the heaven God (Bathara Guru), and/or Prabu Khresna, incarnation of Wisnhu God. Wayang stories evoke Togog and Semar angle. Liyan. Grassroots. The general public. Amorphous: No Man is not a knight instead of a brahmana is not god instead of giant.Arises a question that is closely related to the presence of Togog and Semar. Why do shadow play stories present the figure of the them, while the authentic story of the Mahabharata and Ramayana India version does not exist at all? Are Togog and Semar truly actualization of post-human aesthetic and post-human anthropology ideas?The substance of this writing ask us to discuss regarding the idea of Togog and Semar in shadow play into the realm of post-human discourse as a result of dehumanization signs in the frame of shadow play stories. The main focus of the discussion focused on the position of Togog and Semar as the figure as linuwih or great beyond human (knight) and god. Study restriction on the context of Purwa Java Gagrak Jogja and Solo wayang; similarly in East Java, Sunda and Bali, there are also those two figures.
Yayuk Yusdiawati
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 19, pp 89-99; doi:10.25077/jaisb.v19.n2.p89-99.2017

Abstract:This paper aims to investige about congenital diseases are an absolute risk in all types of cousin marriages. Methods: this review is a review of literature on cousin marriages and congenital diseases in cousin marriages, as well as qualitative research conducted on the Mandailing community in the village of Tanjung Baringin, North Sumatra, which practices many cross-breed cousins. Results show the risk of the illness impacted by cousin marriage, is not an absolute negative impact on all cousin pairs. A parallel cousin has a great chance to experience it. This can be proved by some researchers who investige health risks in populations that practices parallel cousin marriage. In cross-cousin pairs did not find any health risks. Therefore, cousin marriage still exixtsnce until now, especially in cross cousin marriage.
Intan Permata Sari
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 19, pp 139-147; doi:10.25077/jaisb.v19.n2.p139-147.2017

Abstract:Ethnic and religious conflicts are still a hot conversation in early 2017. Discourses on non-Muslim Muslims as well as indigenous non-indigenous peoples are the main topics in various news in Indonesia. Peace that has been maintained, post-conflict that occurred in Sampit and Ambon, suddenly disturbed. People in Indonesia are again divided into religious groups (Muslim or non-Muslim) or ethnic groups (indigenous or non-indigenous). However, Indonesia has the hope to make peace in the differences and make it harmony in society. We can learn from Enggano society. The people of Enggano are the people who live in one of the outer islands in Indonesia. The island is located in the west of Sumatra Island. The Enggano people are able to live in diversity even though their lives are far from prosperous, poor access and facilities, and far from the government's attention. Almost no conflict occurred on this island. This is because Enggano local wisdom is so strong that it can bridge the differences.
Novi Triana Habsari
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 19, pp 155-165; doi:10.25077/jaisb.v19.n2.p155-165.2017

Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Samin di Dusun Belikwatu Desa Sumberbening Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi pada tahun 1969-1999. Penelitian ini dilakukan selama lima bulan. Sumber data yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengambilan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis datanya menggunakan analisis kualitatif model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religi dalam masyarakat merupakan sumber sikap altruistik yang mempunyai dampak mengendalikan egoisme, yang mendorong manusia untuk berkorban dan tidak pamrih. Orang yang harus mengetahui bahwa para umat manusia, religinya merupakan sesuatu yang nyata dan benar. Kehidupan keagamaan masyarakat Samin mempunyai sikap dan perilaku yang baik terhadap masyarakat Samin maupun masyarakat yang bukan Samin. Masyarakat Samin menyatakan bahwa dirinya itu tidak memiliki agama, namun agama dari masyarakat Samin adalah agama Adam. Agama adam memang bukan sebuah agama namun sebagai kepercayaan. Inti ajaran dari agama Adam yaitu Manunggaling Kawolu Gusti. Masyarakat Samin menyebut Yang Maha Esa dengan Hyang Wenang Pramesti Agung. Selanjutnya dalam hal puasa agama Samin yang dijalaninya setiap hari yang menurut mereka lebih dari puasa-puasa pada umumnya yang terdapat dalam ajaran keagamaan bukan Samin dan dapat dipertanggung jawabkan dikemudian hari.
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, Volume 19, pp 101-107; doi:10.25077/jaisb.v19.n2.p101-107.2017

Abstract:Di kawasan hutan tropis dataran rendah terbesar di Pulau Sumatra Taman Nasional Tesso Nilo telah berlangsung proses pengalihan fungsi hutan yang semula sebagai sumber kekayaan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati, habitat satwa khas, penghasil oksigen, mengatur iklim mikro maupun makro, menyerap gas-gas perusak lapisan ozon penyebab efek rumah kaca yang menaikan suhu bumi, melindungi tanah serta air tanah, penghasil produk hutan seperti getah, madu, buah-buahan, obat-obatan, protein hewani, rotan, damar dan kayu serta sumber mata pencaharian penduduk perdesaan sekitar kini mengalami berbagai benturan kepentingan. Rantai panjang proses benturan kepentingan tersebut meliputi fakta penebangan hutan secara besar-besaran untuk industri kayu, pengalihan fungsi hutan primer yang heterogen menjadi hutan tanaman homogen dan pembukaan perkebunan besar sangat tidak hanya mengancam pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga telah menimbulkan dampak negatif bagi eksistensi masyarakat lokal.Penelitian ini merupakan studi kasus dan menggunakan pendekatan kualitatif, maka pengambilan informan dilakukan berdasarkan tujuan tertentu, yaitu untuk memperoleh gambaran seluas-luasnya tentang konflik antar pemangku kepentingan di seputar Taman Nasional Tesso Nilo. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh terkait dengan masyarakat, otoritas pemerintah pengelola kawasan, perusahaan dan pemerintahan daerah.Situasi sosial ekonomi desa-desa sekitar TNTN masih ditandai dengan terdapatnya kesenjangan sosial ekonomi antara desa asli/tempatan yang umumnya lebih miskin dibandingkan dengan desa-desa transmigrasi. Keberadaan perusahaan-perusahaan besar sekitar desa-desa sekitar TNTN ternyata belum memberikan kontribusi berarti bagi perbaikan ekonomi masyarakat desa. Terdapat hubungan yang berkonflik antara penduduk desa-desa sekitar TNTN dengan perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkenaan dengan konversi kebun plasma kelapa sawit. Di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Tesso Nilo, serangan gajah cukup intensif yang menimbulkan kerugian terhadap perekonomian penduduk. Sosialisasi program konservasi TNTN, khususnya sosialisasi program konservasi gajah ternyata masih minim dan belum merata diterima masyarakat sehingga pandangan pro kontra tentang program-program konservasi ini berpotensi meluas dan cenderung kontra produktif bagi upaya menggalang partisipasi masyarakat perdesaan dalam rangka pembangunan TNTN itu sendiri.
Page of 15
Articles per Page
by