Journal Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian

-
14 articles
Page of 2
Articles per Page
by
Rahmi Fibriana, Yohanes Sellen Ginting, Erva Ferdiansyah, Syahrun Mubarak
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 130-137; doi:10.31289/agr.v2i2.1626

Abstract:Artikel ini di picu oleh penelitian yang dilakukan oleh Usman, mengenai analisis kepekaan beberapa metode pendugaan evapotranspirasi potensial terhadap perubahan iklim. Dalam penelitian tersebut menggunakan analisis diperoleh dari 5 stasiun klimatologi yang ada di Provinsi Jawa Barat, yaitu stasiun Ciledug, Cimanggu, Citeko dan Margahayu. Namun evapotranspirasi yang dikaji dalam artikel ini adalah mengenai evapotranspirasi potensial dengan metode Penman-Monteith menggunakan data klimatologi stasiun Dramaga. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui proses terjadinya, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap evapotranspirasi, serta mngetahui pendekatan dari model-model penghitungan evapotranspirasi yang ada.
Welky Jansen, Abdul Rahman, Suswati Suswati
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 91-106; doi:10.31289/agr.v2i2.1628

Abstract:Penelitian mengenai Efektivitas Beberapa Jenis Media Tanam dan Frekuensi Penyiraman Pupuk Cair Urine Sapi Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactuca sativa L). Penelitian dilakukan di Jalan Air Bersih Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi. Penelitian ini menggunakan RAL Faktorial dengan dua faktor yaitu (1) Perlakuan media tanam (M) terdiri dari M0 = 100 % tanah (kontrol negatif), M1 = 100 % pasir, M2 = 100 % arang sekam, M3 = 100 % sabut kelapa, M4 = pasir : arang sekam = 50 % : 50 %, M5 = pasir : sabut kelapa = 50 % : 50 % , M6 = arang sekam : sabut kelapa = 50 % : 50 %, dan M7 = arang sekam : sabut kelapa : pasir = 33,3 % : 33,3 % : 33,3 %. Faktor kedua frekuensi penyiraman pupuk cair urine sapi (B) yaitu B0 = satu kali aplikasi, B1 = dua kali aplikasi dan B2 = tiga kali aplikasi. Kombinasi perlakuan diulang 3 kali, dalam satu ulangan terdiri dari 24 polibag. Parameter yang diamati terdiri atas persentase hidup, jumlah daun, luas daun, bobot basah panen, bobot basah shoot, bobot kering shoot, bobot basah root, bobot kering root dan efktivitas dari tiap-tiap parameter. Hasil penelitian diperoleh bahwa perlakuan media tanam menunjukkan dan interaksinya pengaruh tidak berbeda nyata untuk semua parameter, sementara frekuensi penyiraman pupuk cair urine sapi menunjukkan pengaruh sangat nyata untuk semua parameter.
Welly Herman
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 152-158; doi:10.31289/agr.v2i2.1438

Abstract:Penelitian ini bertujuan mengetahui formula yang tepat dengan pemanfaatan biochar tempurung kelapa dan kompos titonia terhadap ketersediaan hara pada tanah ordo Ultisol. Adapun perlakuan yang digunakan yaitu 100 % Biochar tempurung kelapa + 0 % Kompos titonia, 75 % Biochar tempurung kelapa + 25 % Kompos titonia, 50 % Biochar tempurung kelapa + 50 % Kompos titonia dan 25 % Biochar tempurung kelapa + 75 % Kompos titonia. Parameter yang diamati meliputi analisis tanah awal dan analisis setelah inkubasi selama enam minggu. Analisis meliputi, pH, Al-dd, N-total, C-organik, C/N, P-tersedia, K-dd, Mg-dd, dan Ca-dd. Hasil penelitian menunjukkan formulasi biochar dengan kompos titonia dengan perlakuan 75 % Biochar tempurung kelapa + 25 % Kompos titonia, 50 % Biochar tempurung kelapa + 50 % Kompos titonia dapat meningkatkan ketersediaan hara terhadap tanah Ultisol.
Khafiz Khafiz, Suswati Suswati, Asmah Indrawati
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 81-90; doi:10.31289/agr.v2i2.1627

Abstract:Tanaman pisang Barangan adalah komoditi penting yang sangat berperanan mendukung diversifikasi sumber pangan, ekonomi dan aktifitas budaya di Sumatera Utara dalam pengusahaannya penyakit Darah Bakteri yang disebabkan oleh Blood Disease Bacterium (BDB) Phylotipe IV dan Fusarium oxysporum f.sp.cubense (Foc) menjadi penyebab utama turunnya produksi pisang Barangan ini dan menyebabkan terkontaminasinya lahan tanam oleh propagul patogen.Untuk itu telah dilakukan penelitian tentang peningkatan pertumbuhan bibit pisang Barangan dengan Fungi Mikoriza Arbuskular. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali informasi tentang kemampuan FMA dalam meningkatkan pertumbuhan bibit pisang Barangan yang diperbanyak secara in-vitro. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu 1= Kontrol ( tanpa FMA ), 2 = Glomus tipe-1, 3= Acauluspora tipe-4, 4= Multispora. Parameter pengamatan: Persentese kolonisasi akar, Efektifitas simbiosis, Kepadatan Spora FMA, tinggi tanaman, jumlah daun.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa semua dosis FMA yang digunakan sangat baik untuk membantu pertumbuhan dan tinggi tanaman pisang, Pengaplikasian FMA Glomus tipe-1, Acauluspora tipe-4, Multispora sangat berpengaruh nyata untuk parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan berat basah tanaman pisang dan berpengaruh nyata untuk parameter berat shoot tanaman dan tidak berpengaruh nyata untuk berat basah root
Kamelia Munthe, Erwin Pane, Ellen L. Panggabean
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 138-151; doi:10.31289/agr.v2i2.1632

Abstract:Penelitian Budidaya Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.) Pada Media Tanam Yang Berbeda Secara Vertikultur. Tujuan penelitian untuk mengetahui teknik budidaya tanaman Sawi yang lebih efisien dengan menggunakan media tanam yang berbeda secara vertikultu. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat 25 m dari permukaan laut, topografi datar dan jenis tanah alluvial. Penelitian ini dilaksanakan Mei 2014 / Juli 2014, penelitian mengunakan rancangan acak kelompok faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan, yaitu Faktor pertama Pola Budidaya (P) yang terdiri dari 3 taraf, P1 = Konvensional P2 = Vertikultur bambu P3 = Vertikultur botol plastik bekas. Faktor kedua Media tanam (M) yang terdiri dari 2 taraf : M1 = tanah + pupuk kandang sapi dan M2 = tanah + pupuk kompos sayuran. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk kandang sapi dan kompos sayur tidak menunjukan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman sawi, tetapi pola tanam menunjukan pengaruh yata pada pertumbuhan tanaman sawi hijau (P1) konvesional dan disusul dengan pelakuan perikultur yang tidak jauh berbeda yaitu P2 (verikultur dengan Bambu). Secara umum penelitian tidak menunjukan hasil yang berbeda nyata tetapi pengunaan pola tanam verikultur dengan bambu dapat digunakan karea hasil tidak jauh berbeda dengan konvensional.
Mashan Hasanatien, Ahmad Rafiqi Tantawi, Gusmeizal Gusmeizal
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 107-120; doi:10.31289/agr.v2i2.1629

Abstract:Percobaan ini dilakukan untuk mencari perlakuan larutan peraga (holding) yang mampu mempertahankan kesegaran bunga sedap malam selama peragaan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian, Universitas Medan Area. Bahan yang digunakan adalah bunga sedap malam yang memiliki bunga mekar 1 – 2 kuntum, ekstrak lidah buaya, ekstrak daun sirih, Concentrated Mineral Drops (CMD), serta setiap perlakuan diberi gula sebagai cadangan energi untuk bunga sedap malam selama peragaan dan asam sitrat yang berfungsi menurunkan keasaman (pH) larutan peraga (holding). Alat yang digunaka dalam penelitian ini adalah pisau, blender, ember, botol plastik, timbangan, penggaris panjang, gelas ukur, dan spatula. Rancangan yang digunakan yaitu RAL non faktorial dengan 9 taraf perlakuan larutan peraga. setiap perlakuan diulang sebanyak 3 ulangan. Hasil percobaan dianalisis dengan analisis ragam dan uji kontras ortogonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan peraga yang mendapat perlakuan dari ekstrak lidah buaya, ekstrak daun sirih, CMD, gula, asam sitrat mampu mempertahankan kesegaran bunga sedap malam selama 5 hari. Larutan perlakuan dengan menggunakan ekstrak sirih lebih ekonomis dibandingkan dengan perlakuan lainnya karena pada hari ke-6 peragaan kondisi fisik bunga masih dalam kondisi cukup baik.
Bernat Simatupang, Ahmad Rafiqi Tantawi, Syahbudin Hasibuan
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 121-129; doi:10.31289/agr.v2i2.1630

Abstract:Rendahnya produktivitas kopi Indonesia di akibatkan oleh kebun pertanaman yang telah tua serta belum dimanfaatkannya bahan tanam unggul, untuk itu perlu dilakukan kajian tentang penggunaan bibit unggul yang yang relatif mudah dan praktis yaitu dengan cara stek daun.Penelitian tentang Studi Sumber Stek yang berbeda dan pemberian Rootone F Terhadap Tingkat keberhasilan Stek Daun Kopi (Coffea Canephora Pierreex Froehner) telah dilaksanakan di kebun percobaan Universitas Medan Area yang dimulai dari bulan Februari sampai dengan april 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sumber stek daun yang berbeda dan Konsentrasi zat pengatur tumbuh terbaik untuk pertumbuhan setek daun kopi. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 12 taraf perlakuan dengan 3 ulangan. Data hasil percobaan ini dianalisis secara statistika dengan uji F pada taraf nyata 5% dan F perlakuan yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji lanjutan jarak Duntcunt ada taraf nyata 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan sumbertek yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata untuk parameter persentase tumbuh dan persentase hidup, sumber stek bagian ujung lebih baik di banding dengan sumber stek bagian tengah dan bagian pangkal untuk parameter pertentase stek hidup, sedangkan untuk parameter persentase tumbuh menunjukan sumber stek bagian pangkal lebih baik dibanding dengan sumber stek bagian ujung dan bagian tengah.
Muhajir Babara Dalimunthe, Ellen L. Panggabean, Azwana Azwana
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 16-28; doi:10.31289/agr.v2i1.1101

Abstract:Tujuan penelitian ini adalah mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) di berbagai media tanam dan pemberian pupuk organik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah pemberian pupuk Tiens Golden Harvest (notasi H) terdiri dari 4 taraf, yaitu: Ho = pupuk dasar, H1 = 0,5 l/ha, H2 = 1 l/ha dan H3 = 1,5 l/ha. Faktor kedua adalah pemberian sekam padi dan arang (notasi P) terdiri dari 3 taraf, yaitu: Po = 100 % tanah (sebagai kontrol), P1 = Tanah : Sekam Padi = 3 : 2 dan P2 = Tanah : Arang = 3 : 2. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah: tinggi tanaman, jumlah cabang, umur panen dan berat produksi per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk Tiens Golden Harvest dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang, berat produksi per plot, dan mempercepat umur panen. Perlakuan media tanam dengan penambahan sekam padi dapat lebih meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang dan berat produksi per plot, tetapi tidak dapat mempercepat umur panen, dibandingkan dengan yang menggunakan penambahan arang. Interaksi antara dosis pupuk Tiens Golden Harvest dan media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yang diamati.
Sri Yunita, Sumihar Hutapea, Abdul Rahman
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 65-80; doi:10.31289/agr.v2i1.1110

Abstract:Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman sawi manis terhadap pemberian kompos sekam padidan pupuk organik cair dibandingkan dengan pemupukan organik. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2014 sampai dengan bulan Juni 2014, mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, Faktor pertama yang diuji adalah kompos sekam padi yaitu K0 = tanpa perlakuan (mengunakan pupuk urea 100 kg/ha), K1 = kompos sekam padi 7 ton/ha, K2 = kompos sekam padi 14 ton/ha, dan K3 = kompos sekam padi 21 ton/ha. Faktor kedua yang diuji adalah pupuk organik cair yaitu C0 = Tanpa pupuk organik cair, C1 = pupuk organik cair 0,5L/ha, C2 = pupuk organik cair 1 L/ha, C3 = pupuk organik cair 1,5 L/ha. Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi pupuk organik cair (C3= 1,5 Liter/ha) lebih berpengaruh terhadap semua parameter dibandingka dengan kompos sekam padi dengan kombinasi terbaik K3C3. K3C3 tidak berbeda nyata dengan perlakuan K3C2, K2C3 dan K2C2. Secara umum penelitian ini menunjukan penambahan Kompos sekam padi dan pupuk organic cair ke dalam media tanam sawi manis (Brassica Juncea L.) dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sawi manis (Brassica Juncea L.).
Saut Marodjahan Sianipar, Erwin Pane, Maimunah Maimunah
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Volume 2, pp 46-55; doi:10.31289/agr.v2i1.1107

Abstract:Peluang kebutuhan akan sayuran berkualitaas sangat terbuka dengan makin banyaknya masyarakat yang berbelanja ke pasar swalayan. Diversifikasi jenis sayuran perlu dilaksanakan untuk memenuhi berbagai permintaan pasar. Hingga saat ini jenis sayuran yang banyak dibudidayakan secara aeroponik antara lain berbagai kultivar selada (lettuce keriting hijau, cos/romaine, butterhead, batavia, lollo rossa, iceberg, head lettuce), pakchoy hijau dan putih, caysim, dan kailan serta horenzo yang baru mulai dikembangan. Kangkung dan bayam juga dapat diusahakan secara aeroponik. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat bagaimana pengaruh pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sayur-sayuran dengan sistem aeroponik. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, yaitu: 3 x 4 dengan 3 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 3 konsentrasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat di simpulkan bahwa pemberian pupuk cair Herbafarm tidak memberikan pengaruh yang nyata untuk semua jenis tanaman yang ditanam (sawi, kangkung, bayam).
Page of 2
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search