Journal JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study

-
29 articles
Page of 3
Articles per Page
by
Daryanto Setiawan
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 4, pp 62-72; doi:10.31289/simbollika.v4i1.1474

Abstract:Teknologi Komunikasi dan Informasi adalah aplikasi pengetahuan dan keterampilan yang digunakan manusia dalam mengalirkan informasi atau pesan dengan tujuan untuk membantu menyelesaikan permasalahan manusia agar tercapai tujuan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi berawal dari kemajuan dibidang komputerisasi. Pengguanaan komputer pada masa awal untuk sekedar menulis, membuat grafik dan gambar serta alat menyimpan data yang luar biasa telah berubah menjadi alat komunikasi dengan jaringan yang lunak dan bisa mencakup seluruh dunia. Dengan kemajuan teknologi maka proses interaksi antar manusia mampu menjangkau lapisan masyarakat dibelahan dunia manapun menjadi semakin terbuka. Internet sebagai salah satu dampak dari perkembangan teknologi baru pada dasarnya tidak hanya bisa menjadi pintu untuk mengetahui bagaimana budaya yang ada pada masyarakat di daerah tertentu, melainkan menjadi perangkat dalam ekspresi budaya itu sendiri. Karena begitu cepatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi mangakibatkan dampak dan pengaruh terhadap budaya pada masyarakat, baik berupa dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu aspek kehidupan yang paling terpengaruh dengan perkembangan ini adalah aspek kebudayaan masyarakat yang sedikit demi sedikit mengalami pergeseran.
Junaidi Junaidi
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 4, pp 42-51; doi:10.31289/simbollika.v4i1.1461

Abstract:Teori kultivasi memusatkan perhatian pada dampak menonton tayangan televisi pada perilaku penonton televisi dalam jangka waktu yang panjang. Teori ini beranggapan bahwa manusia yang selalu menonton tayangan tertentu dengan waktu yang lama maka akan memiliki sebuah pemahaman bahwa dunia di sekelilingnya seperti yang ditayangkan di televisi. Misalnya saja seseorang yang selalu menonton acara-acara yang mengandung tayangan kekerasan (baik film maupun berita) dengan durasi lama dan frekuensi yang sering, maka akan memiliki pola pikir bahwa perilaku kekerasan seperti yang ditunjukkan di televisi mencerminkan kejadian di sekitarnya. Kekerasan yang dipresentasikan di televisi dianggap sebagai kekerasan yang terjadi di dunia.
Nurhalima Tambunan
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 4, pp 24-31; doi:10.31289/simbollika.v4i1.1475

Abstract:Perkembangan tekhnologi telah mempengaruhi pola kehidupan manusia baik secara negative maupun positif. Dengan beraneka ragamnya jenis tekhnologi komunikasi massa pada manusiasaat ini telah mampu mempengaruhi khalayak dan individu. Pengaruh media massa terhadap individu dapat melaui jalur satu tahap (one step folow) dan jalur dua tahap. Pengaruh komunikasi melalui satu tahap (one step follow) dimana komunikasi massa dapat mempengaruhi individu secara langsung tampa melaui pemuka pendapat atau opinion leader. Sedangkan komunikasi melalui dua tahap (Two step Flow) adalah dimana media massa mempengaruhi individu melalui open leader atau pemuka pendapat. Model aliran dua tahap sebagai suatu studi tentang bagaimana memilih berorientasi pada efek. Model aliran dua tahap berpendapat, efektivitas komunikasi massa terjadi setelah tahap pertama yang melalui opinion leader. Tanpa opinion leader, komunikasi massa terbatas sekali efektivitasnya terhadap masa audience. Tahap-tahap terjadinya model komunikasi aliran dua tahap adalah sebagai Seseorang yang memperoleh suatu ide atau gagasan baru dari media massa akan terjalin dalam suatu interaksi dengan orang lain. Adanya peranan aktif dari pemuka–pemuka pendapat dengan cara berkomunikasi. Tatap muka khusunya bagi masyarakat desa ataupun masyarakat yang sedang membangun maupun masyarakat pasif.
Nurul Hasanah, Ramdeswati Pohan
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 4, pp 15-23; doi:10.31289/simbollika.v4i1.1463

Abstract:Tujuan dari penelitian ini, yang pertama adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi dan komunikasi yang terbentuk antara kontributor televisi dan Citizen Journalism. Kedua adalah untuk mengetahui bagaimana faktor dan dampak yang ditimbulkan dari keberadaan Citizen Journalism, dan bagaimana etika Citizen Journalism di lapangan peliputan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif desktiftif dengan pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dokumentasi, serta studi kepustakaan. Penelitian ini menggunakan teori Behaviorisme dari Gage dan Berliner, dimana teori Behaviorisme ini mendasarkan perubahan tingkah laku pada pengalaman, perilaku, dan respon. Pada dasarnya inti pemikiran Behaviorisme adalah bagaimana memahami perilaku yang dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Selain itu peneliti juga menggunakan teori Persepsi, yang mengkaji bagaimana komunikasi terjalin berdasarkan penginderaan, atensi dan interpretasi. Teori ini berasumsi bahwa persepsi menentukan seseorang bagaimana sikapnya berkomunikasi, semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antar individu maka semakin mudah dan sering mereka berkomunikasi yang kemudian memiliki pengaruh yang instrumental terhadap hasil-hasil kesimpulan. Hasil penelitian yang didapat adalah faktor-faktor yang terjadi dengan keberadaan Citizen Journalism yang di peroleh dari informasi berupa pengalaman dan pengetahuan melalui kesadaran mereka dan bagaimana mereka memaknai pengalaman tersebut dalam berinteraksi.
Rini Syafrida Ginting, Ramdeswati Pohan
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 4, pp 1-14; doi:10.31289/simbollika.v4i1.1459

Abstract:Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan persepsi serta faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakatdi Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, terhadap kekerasan verbal dan nonverbal program acara Pesbukers di ANTV. Ruang lingkup penelitian ini adalah seluruh kata-kata atau kalimat yang termasuk dalam kategori persepsi masyarakat terhadap kekerasan verbal dan nonverbal.Metode penelitian kualitatif deskriptif dan teori Uses and Gratification serta teori kultivasi yangdigunakan untuk dijadikan landasan penelitian.Hasil wawancara dari keempat informan mengungkapkan bahwakekerasan verbal dan nonverbalterjadi, dan hanya informan kedua yang memperhatikan hiburannya saja. Keempat informan sepakat bahwa hal itu tidak patut dijadikan bahan hiburan, sedangkan informan ketiga setuju apabila hal tersebut tidak menyakiti orang lain dan sudah ada kesepakatan sebelumnya.Kelima informan menyatakan bahwa program acara Pesbukerslebih banyak memiliki dampak negatif daripada positifnya dan tidak baik untuk ditonton anak-anak. Persepsi kelima informan menyatakan acara tersebut bagus tetapi ada beberapa hal yang harus diperbaiki seperti, cara berpakaian danpenyampaikan komedi disesuaikan dengan norma masyarakat.Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan jawaban informan adalah usia, pendidikan, motif, pengetahuan, suka atau tidak sukanya pada program tersebut dan lingkungan. Hasil wawancara menyatakan tiga dari lima informan merasa tidak terhibur dengan penyajian lelucon yang diberikan oleh para pemain Pesbukers.
Elfi Yanti Ritonga
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 4, pp 32-41; doi:10.31289/simbollika.v4i1.1460

Abstract:Komunikasi massa merupakan sumber kajian potensial yang memiliki bidang bahasan yang cukup luas dan mendalam, dan juga didukung oleh teori yang lumayan banyak jumlahnya. Hal ini bisa dipahami sebab ilmu komunikasi yang kita kenal sekarang ini, merupakan proses evaluasi panjang dari ilmu komunikasi massa, yang awalnya hanya dikenal sebagai ilmu media massa atau ilmu pers yang juga merupakan hasil elaborasi dari ilmu publisistik (ilmu persurat-kabaran) yang berpusat di Jerman dan ilmu Jurnalistik yang berbasis di AS. Baru dinamakan ilmu komunikasi pasca Perang Dunia II oleh para ilmuan Barat, tujuan utamanya adalah untuk mencover semua bidang kajian dalam komunikasi yang semakin luas dan berkembang. Komunikasi massa sendiri kerap didefinisikan sebagai komunikasi melalui media massa (modern) pada awalnya hanya mencakup media cetak (surat kabar, majalah atau tabloid) dan media elektronik (TV dan radio), baru belakangan termasuk kajian multimedia yang juga sering disebut media dot com (internet). Pada era ini, kajian komunikasi massa berkembang menjadi semakin luas, selain mencakup tiga jenis media (media cetak, media elektronik, dan multimedia), peran dan proses komunikasi massa, juga efek media bagi masyarakat dan budaya, sehingga semakin banyak dijadikan sebagai objek studi. Dalam tinjauan komunikasi massa, paling tidak teori-teori yang muncul dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang, yaitu teori-teori awal komunikasi massa, pengaruh komunikasi massa terhadap individu, pengaruh komunikasi massa terhadap masyarakat dan budaya, dan audiens pengaruhnya terhadap komunikasi massa. Teori Agenda Setting misalnya, masih saja sangat relevan hingga saat ini sekalipun dengan catatan-catatan tertentu harus dibubuhkan di sana, seperti pada masyarakat dan budaya seperti apa, atau pada kondisi kapan, dan seterusnya. Komunikasi massa merupakan sumber kajian potensial yang memiliki bidang bahasan yang cukup luas dan mendalam, dan juga didukung oleh teori yang lumayan banyak jumlahnya. Hal ini bisa dipahami sebab ilmu komunikasi yang kita kenal sekarang ini, merupakan proses evaluasi panjang dari ilmu komunikasi massa, yang awalnya hanya dikenal sebagai ilmu media massa atau ilmu pers yang juga merupakan hasil elaborasi dari ilmu publisistik (ilmu persurat-kabaran) yang berpusat di Jerman dan ilmu Jurnalistik yang berbasis di AS. Baru dinamakan ilmu komunikasi pasca Perang Dunia II oleh para ilmuan Barat, tujuan utamanya adalah untuk mencover semua bidang kajian dalam komunikasi yang semakin luas dan berkembang. Komunikasi massa sendiri kerap didefinisikan sebagai komunikasi melalui media massa (modern) pada awalnya hanya mencakup media cetak (surat kabar, majalah atau tabloid) dan media elektronik (TV dan radio), baru belakangan termasuk kajian multimedia yang juga sering disebut media dot com (internet). Pada era ini, kajian komunikasi massa berkembang menjadi semakin luas, selain mencakup tiga jenis media (media cetak, media elektronik, dan multimedia),...
Desy Irafadillah Effendi, Maya Safhida, Joko Hariadi
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 4, pp 52-61; doi:10.31289/simbollika.v4i1.1465

Abstract:Tuturan dosen FKIP Universitas Samudra yang mengandung deiksis sering salah ditafsirkan oleh mahasiswa. Kesalahtafsiran tersebut berkaitan dengan pemahaman makna tuturan/ujaran dengan acuannya. Salah satu faktor penyebab kesalahtafsiran itu adalah latar belakang budaya yang berbeda sehingga mempengaruhi bentuk-bentuk bahasa yang digunakan. Hal ini mengakibatkan komunikasi tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hal tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimanakah deiksis waktu pada tuturan dosen FKIP yang berlatar belakang budaya berbeda di Universitas Samudra. Sumber data dalam penelitian ini adalah dosen FKIP yang memiliki latar belakang budaya berbeda dan data yang mengandung diambil pada saat proses perkuliahan berlangsung dan didokumentasikan dalam bentuk rekaman. Adapun tuturan dosen yang dimaksud adalah tuturan dosen yang berlatar budaya Minangkabau, Tapanuli Selatan, dan Jawa Tengah. Selanjutnya, data tersebut diklasifikasi berdasarkan deiksis waktu, kemudian dianalisis dan disimpulkan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bentuk deiksis waktu dosen Minangkabau adalah kemarin itu, nanti siang, munggu lalu, minggu yang lalu, tadi, nanti, kemarin, dan sekarang. Dosen yang berlatar belakang budaya Tapanuli Selatan adalah sekarang, nanti, hari ini, bulan depan, minggu depan, dan kemarin sore. Dosen yang berlatar belakang budaya Jawa adalah hari ini, kemarin, nanti, sekarang, minggu depan, dan dari tadi.
Effiati Juliana Hasibuan, Indra Muda
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 3, pp 106-113; doi:10.31289/simbollika.v3i2.1456

Abstract:Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi atau kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para pesertanya. Adanya perbedaan latar belakang budaya seringkali mengakibatkan terjadinya perbedaan dalam memaknai suatu peristiwa maupun dalam menanggapi isi pesan. Namun perbedaan itu tidak berarti ketika etnis Jawa menunjukkan sikap yang menghargai dan menghormati etnis Gayo demikianpun sebaliknya. Mereka mampu hidup berdampingan secara harmonis serta saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karakter etnis Jawa sebagai etnis pendatang yang cenderung rendah hati, nrimo ,sopan santun dalam pergaulan, gemar bergotong royong dalam kehidupan bermasyarakat menjadi daya tarik yang menimbulkan rasa aman dan penerimaan dari etnis Gayo sebagai penduduk setempat. Meskipun dalam beberapa hal kedua etnis tetap mempertahankan adat budayanya masing masing, namun hal tersebut tidak sampai menimbulkan perasaan etnosentrime yang menganggap budaya dan etnis lain lebih rendah dari budayanya. Sesungguhnya perbedaan antar etnis di Indonesia justru menjadi kekayaan budaya yang senantiasa perlu ditelaah dan dikelola kunci pemersatunya agar keharmonisan antar etnis senantiasa terjaga dan terpelihara.
Nurleli Nurleli
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 3, pp 78-86; doi:10.31289/simbollika.v3i2.1453

Abstract:Manajemen pemberitaan kriminal di televisi sangat menentukan kualitas dari pemberitaan.Mengacu kepada prinsip manajemen yang terdiri dari Planning, Organizing, Actuating dan controling dalam pemberitaan kriminal, sumber daya manusia yang ada melaksanakan tugas secara sistematis pada setiap tahapan manajemen pemberitaan kriminal.Melalui manajemen yang baik, berita kriminal yang dihasilkan relatif dapat memenuhi kepuasan pemirsa berdasarkan motif-motif yang mendorong mereka menggunakan media dan mengkonsumsi berita kriminal yang ditayangkan di iNews TV.
Subhan Ab
JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study, Volume 3, pp 97-105; doi:10.31289/simbollika.v3i2.1455

Abstract:Dewasa ini televisi, sebagai bagian dari komunikasi massa di asumsikan memegang posisi penting dalam masyarakat. Peranan penting televise telah menjadikan media ini berkembang pesat dalam 20 tahun ini. Televisi hadir sebagai alat sosial, politik, budaya, bahkan sebagai sebuah industri informasi dari sebuah perusahaan. Sebagai industri, televisi menjanjikan keuntungan cukup besar bagi pemiliknya, bersaing secara kompetitif.Kini televisi tidak lagi menjadi media yang berorientasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal informasi dan hiburan yang sehat, melainkan lebih dominan pada keuntungan ekonomi kapitalis, kekuatan pasar secara kompetitif. Dampaknya masyarakat ‘kering’ informasi yang ditampilkan secara both of side dan aktual. Pemberitaan media televisi dikemas sedemikian rupa dengan metode agenda setting. Hal ini menjadi dilematis tersendiri bagi para penggiat jurnalistik: antara publik atau kepentingan pemilik? Berita-berita yang disajikan dan ditayangkan oleh media televisi lebih berorientasi kepada pentingan pemilik, bukan kepentingan publik. Sementara itu, kapitalisasi dalam industri media televisi terus menggurita. Ada pemilik tunggal untuk beberapa stasiun televisi yang menyalahi regulasi dari penyiaran di Indonesia. Kendati sudah diatur sedemikian baiknya, namun konglomerasi dalam industri pertelevisian di Indonesia belum dibenahi. Politik dan ekonomi menjadi alasan utama sehingga regulasi penyiaran di Indonesia belum mampu diterapkan seperti di Eropa dan Amerika Serikat.
Page of 3
Articles per Page
by

Refine Search

Authors

New Search

Advanced search