Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam

Journal Information
ISSN / EISSN : 2460-9870 / 2807-1883
Total articles ≅ 9
Filter:

Articles in this journal

Balo Siregar, Syahruddin Siregar
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 11, pp 1-10; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v11i1.521

Abstract:
Penelitian ini mengkaji tentang hadist Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan reward dan punishment sebagai dasar-dasar pendidikan dalam hadist. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis hadist-hadist yang berkaitan dengan reward dan punishment. Hadist-hadist nabi menjadi data primer dan buku yang berkaitan dengan judul menjadi data skunder.Hasil yang didapat adalah Rasulullah saw. sering memberikan hadiah dan menjanjikan ujrah bagi sahabat yang melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar. Sebaliknya beliau juga sering menyampaikan hukuman bagi sahabat yang melanggar syariat Nabi Allah swt. Namun hukuman yang diberikan kepada anak-anak tidak boleh sampai menyakiti.
Trimono Trimono, Syukri Syukri, Eva Yuliza Eva Yuliza
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 11, pp 11-21; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v11i1.522

Abstract:
Jurnal ini bertujuan untuk mengetahui pola pembelajaran pendidikan agama islam era new normal di SMP Al-Ikhlas Pekanbaru, secara teori ada berbagai macam pola yang dapat diterapkan di sekolah terutama pada era new normal diantaranya pola pembelajaran daring, balanded learning,door to door, luring, Shift, distance learning dan lainnya, yang semuanya itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penelitian ini termasuk kedalam peenelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif kualitatif yakni mendeskripsikan fakta dan data secara benar dengan mengikuti kaidah penelitian yang sesuai. Dari hasil penelitian yang telah disajikan terkait pola pembelajaran pendidikan agama islam era new normal di SMP Al-Ikhlas Pekanbaru menerapka tiga pola. Pertama menerpakan pola daring yakni dengan memakai platform Google Meet, Classroom dan WA Grup. Kedua dengan pola luring yakni pola pembelajaran tugas dengan teknik siswa atau orang tua yang mewakili menjemput LKS ke sekolah untuk diselesaikan selama satu minggu begitu seterusnya dan yang Ketiga Home Visit pola ini guru mendatangi siswa atau sebaliknya untuk memberikan pengajaran dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Semua pola yang diterakan memiliki faktor pendukung dan penghambat yang semua itu bisa diatasi oleh sekolah sehingga pembelajaran tetap berjalan dengan lancar.
Nurliana Nurliana, Miftah Ulya, Sukiyat Sukiyat, Nurhasanah Nurhasanah
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 11, pp 22-35; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v11i1.403

Abstract:
Keluarga berperan penting terhadap pendidikan anak, membimbing dengan kasih sayang, menjalin keharmonisan keluarga. Keluarga berperan penting dalam prosesing pendidikan, suatu keharusan yang tidak bisa dihindarkan, keluarga berperan penting sebagai lingkungan awal. Sebagai upaya menunjukkan eksistensi keluarga yang peduli terhadap tujuan pendidikan. Fakta dan realitas menunjukkan peran keluarga belum menampilkan usaha maksimal sebagai lembaga pendidikan utama. Tulisan ini bertujuan guna memperoleh esensi dasar tentang peran keluarga terhadap pendidikan anak, dengan harapan bisa memberikan perspektif baru dalam mempresepsikan peran keluarga pada pendidikan anak perspektif hukum Islam. Metode penelitian yang dipakai yaitu penelitian deskrifif kwalitatif dengan tekhnik trianggulasi melalui display data, pensajian data, dan penarikan kesimpulan dan dianalisis melalui konten analisis (conten alayisis). Sebagai conclusi, bahwa peran keluarga dalam pendidikan anak perspektif hukum Islam yaiu keluarga berperan aktif dalam menanamkan pendidikan aqidah terhadap anaknya, mendidik anak-anak agar berbakti kepada kedua orang tua, mengajarkan anak agar muncul kesadaran terhadap adanya pengawasan dari Allah swt. terhadap proses kehidupan umat manusia, dan mendidik anak-anak agar menjaga diri dan keluarganya sehingga terhindar dari azab dunia dan azab akhirat, mengajarkan anak melaksanakan sholat dan berbuat kebaikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran, serta melatih anak agar tidak berlaku sombong dalam proses kehidupan.
Arif Muzayin Shofwan Shofwan, Dessy Farantika Dessy Farantika
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 11, pp 47-60; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v11i1.533

Abstract:
Pesantren merupakan lembaga yang dinilai mampu membawa peserta didik menjadi insan yang berkarakter multikultural berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist. Penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan ini akan mengulas hal tersebut. Analisis datanya adalah content analisis dengan memilah-milah data yang sesuai. Pertama, pendidikan multikultural dalam konteks pesantren dapat diartikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian yang multikultural menurut ukuran-ukuran Islam, yaitu Al-Quran dan Al-Hadist. Kedua, pendidikan multikultural dalam konteks pesantren berupa nilai mengembangkan kemampuan saling mengenal, menerima, menghargai, dan merayakan keragaman kultural, signifikan dengan Al-Quran berikut: QS. Al-Baqarah: 256, QS. Al-Kafirun: 6, QS. Yunus: 99, QS. Al-Syura: 15, dan lainnya. Ketiga, pendidikan multikultural dalam konteks pesantren berupa nilai pengajaran & pembelajaran yang diarahkan pada nilai demokratis, signifikan dengan Al-Quran berikut: QS. Ali Imran: 159, QS. Al-Syura: 38, dan lainnya. Keempat, pendidikan multikultural dalam konteks pesantren berupa nilai pembelajaran yang bebas dari rasisme, seksisme, bentuk dominasi sosial, bentuk intoleran lainnya; pendidikan yang melibatkan lebih satu budaya yang meliputi bahasa, etnis, dan ras; serta pendidikan yang diaplikasikan pada semua mata pelajaran dengan menggunakan perbedaan kultur, meliputi perbedaan agama, etnis, bahasa, gender, kelas sosial, kemampuan, dan usia, signifikan dengan Al-Quran berikut: QS. Al-Hujurat: 13, QS. Al-Rum: 22, QS. Al-Kafirun: 6, dan lainnya.
Kusdani Kusdani
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 10, pp 97-110; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v10i2.404

Abstract:
Pendidikan persoalan urgen bagi semua aspek kehidupan serta sebagai tumpuan harapan dalam pengembangan diri setiap manusia dalam masyarakat. Pendidikan sebagai sarana dalam memajukan peradaban, dan kehidupan masyarakat. Bangsa yang terganggu stabilitas, terhambatnya kemajuan, terkebelakng dalam berfikir dan bertindak menandakan bangsa tersebut sedang mengalami kemunduran pada bidang pendidikan. Peran orang tua di rumah tidak kalah pentingnya dengan peran guru sebagai pendidik di sekolah, sebab pendidikan pertama yang diperoleh anak ialah pendidikan dari rumah, tentu saja orang tua memiliki pera utama untuk mendampingi dan mendidik anak-anaknya. Dimulai dari usia 0 hingga usia 7 tahun atau usia sekolah, anak selalu dalam bimbingan orang tua. Selama dalam pengasuhan orang tua karakter anak mulai terbentuk melalui pola dan peran yang mainkan orang tua. Latar belakang permasalahan di atas menuntut peneliti untuk mengangkat kajian penelitian dengan judul “Pendidikan Karakter Anak Melalui Keteladanan Orang Tua”. Metode penelitian melalui penelitian deskriptif dan dianalisis melalui conten analisis. Data dikumpulkan kemudian diseleksi dan pengkajian kemudian dianalisis dan dilakukan penarikan kesimpulan. Disimpulkan bahwa pembentukan karakter anak melalui keteledanan orang tua yaitu bahwa, karakter anak dipengaruhi oleh karakter orang tua, dikarenakan pendidikan pertama yang dirasakan anak ialah pendidikan dari orang tuanya, dan lingkungan keluarganya dengan banyaknya waktu yang dilalui bersama orang tua ataupun keluarga melalui ucapan, perbuatan dan tingkah laku. Tiga hal ini perlu dijaga dengan baik oleh orang tua dengan harapan keteladanan orang tua suatu hal yang perlu dicontoh sebagai figur bagi anak-anaknya. Sehingga anak tidak kehilangan figur dan tidak mencari orang lain untuk dijadikan figurnya tauladannya.
Trimono Trimono
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 10, pp 126-137; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v10i2.420

Abstract:
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui problem atau permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pembelajaran pendidikan agama islam pada masa pandemi covid 19 yang mengacu kepada kebiajakan pemerintah yaitu pembatasan berskala besar atau social distencing. sehingga seluruh proses pembelajaran dilakukan dirumah. Diterapkannya pembelajaran online menimbulkan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran pendidikan agama islam. Untuk mengetahui permasalahan tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti permaslahan tersebut. Adapun jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini dilaksanakan dengan mengumpulkan data dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini didapatkan kesimpulan Pertama, mengenai perancanaan pembelajaran guru pendidikan agama islam belum mengubah sepenuhnya tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari yang sebelumnya ke daring, yang dirubah hanya sebatas alokasi waktu dan media yang digunakan saja mengenai tujuan, isi materi, metode masih sama dengan yang sebelumnya. Kedua, mengenai Problematika Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Masa Pandemi Covid 19 Di MA Darul Ulum Pulau Kijang ditemukan : 1).tingkat pemahaman siswa yang berbeda bagi siswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi tidak menajdi permasalahan namun bagi siswa yang tingkat pemahamannya rendah menemui kesulitan dengan waktu yang lebih pendek dibanding sebelumnya, 2). Siswa yang belum memilii smartfphone sendiri atau masih bergantian dengan orang tuanya ketika sama-sama membutuhkan harus ada yang berkorban, 3) masalah metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, 4)keterbatasan guru dalam mengontrol aktivitas siswa, 5) Kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran
Bainar Bainar
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 10, pp 86-96; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v10i2.398

Abstract:
Profesi sebagai guru merupakan suatu bentuk profesi yang amat mulia, akan tetapi kemuliannya itu harus dibarengi dengan kearifan dalam menghadapi anak didiknya. Karena anak didik itu adalah manusia yang terdiri dari jasmani dan rohani, masing-masing memiliki keunikan sendiri-sendiri sebagai ciri khas perbedaan antara satu dengan yang lainnya, diantara keunikan dan perbedaan itu adalah kecerdasan sebagai anugra dari Allah swt. yang tak ternilai harganya. Seorang guru yang profesional harus mampu memahami kecerdasan yang dimiliki anak didiknya dan mendapatkan perlakuan yang ideal terhadap perbedaan tersebut dalam proses pembelajaran untuk tercapainya tujuan yang efektif dan efesien. Penelitian ini merupakan penelitian library riseach merupakan suatu cara pengumpulan data dengan membaca buku, jurnal dan literatur lainya dari sumber primer serta melalui sumber sekunder dari buku – buku lainya yang mendukung. Suatu keharusan bagi seseorang yang berprofesi sebagai guru untuk memahinya, agar guru tidak salah dalam menghadapi anak didiknya karena dapat mempengaruhi hasil yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran.
Yusnimar Yusri, Marzuenda Marzuenda
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 10, pp 111-125; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v10i2.421

Abstract:
Pada masa sekarang, model pembelajaran yang diterapkan hampir di semua lembaga pendidikan Islam menggunakan model pembelajaran daring atau yang lebih dikenal dengan istilah virtual learning. Model pembelajaran virtual learning mengarah kepada proses pembelajaran yang terjadi di kelas maya yang berada dalam cyberspace melalui jaringan internet. Penerapan virtual learning bertujuan mengatasi problema terpisahnya jarak antara ruang dan waktu antara pendidik dan peserta didik melalui media Teknologi Informasi dan Komunikasi. Melalui model pembelajaran ini diharapkan kepada seluruh peserta didik mampu melaksanakan proses belajar mengajar secara maksimal. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran virtual learning pada lembaga pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini yaitu deskriptif analisis. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa peran lembaga pendidikan Islam secara khusus, menjadikan guru dan siswa lebih aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran. Proses pembelajaran dengan menggunakan jaringan internet yaitu dengan menggunakan model pembelajaran virtual learning. Dengan dilaksanakannya model pembelajaran virtual learning dapat membantu siswa belajar jarak jauh, sebagai penggabungan belajar tatap muka di sekolah. Model pembelajaran virtual learning ini juga dapat membantu pemerintah memutus penyebaran covid-19, sehingga proses pembelajaran tatap muka yang biasanya tetap terlaksana seperti yang diinginkan.
Arif Muzayin Shofwan Shofwan
Kreatifitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, Volume 10, pp 138-147; https://doi.org/10.46781/kreatifitas.v10i2.345

Abstract:
Sebenarnya pembaharuan Islam telah ada sejak kemunculan Islam itu sendiri yakni sejak jaman Nabi Muhammad SAW hingga sekarang. Penelitian dengan studi kepustakaan ini ingin mengungkan pola pembaharuan era modern klasik di Mesir, Turki, dan India. Tulisan ini menghasilkan beberapa temuan berikut. Pertama, pada dasarnya pembaharuan Islam yang dilakukan era modern klasik (1800-1990 M) di Mesir, Turki, dan India dilakukan karena dua tujuan, yaitu mengejar ketinggalan dalam bidang sains dan teknologi serta menambahkan ilmu rasional ke dalam ilmu-ilmu Islam. Kedua, pembaharuan Islam modern klasik di Mesir, Turki, dan India jika dilihat dari polanya dapat dikategorikan menjadi empat macam, yaitu: (1) pembaharuan berorientasi pada Barat, tokohnya Syaikh Ahmad Khan India, Sultan Mahmud II, Tanzimat, Muhammad Ali Pasya, dan Mustafa Kemal; (2) pembaharuan berorientasi pada sumber Islam murni, tokohnya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha; (3) pembaharuan berorientasi pada nasionalisme, tokohnya At-Tahtawi; (4) pembaharuan di luar ketiga pola di atas, tokohnya Sayyid Amir Ali, Muhammad Iqbal, Muhammad Ali Jinnah, Ustmani Muda, dan Turki Muda.
Back to Top Top