Cermin Dunia Kedokteran

Journal Information
ISSN / EISSN : 0125-913X / 2503-2720
Published by: PT Kalbe Farma Tbk. (10.55175)
Total articles ≅ 77
Filter:

Latest articles in this journal

Kemal Akbar Suryoadji, Muhammad Faruqi, Vincentius Juan Aryaputra
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 338-340; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1884

Abstract:
Purpose: The research was conducted to determine the risk of mortality in underweight Alzheimer's disease patients and to consider nutritional maintenance as an important management approach in Alzheimer’s patients. Methods: This review used publications found in Pubmed, Scopus, Cochrane, and ScienceDirect. The keywords were “((Alzheimer's Diseased) AND (Underweight) AND (Mortality))”. Meta-analysis review with Revman 5 software calculated the average relative risk from all selected cohort studies. Result: The process identify 230 articles, only three studies with 1423 patients were included. The meta-analysis result showed that based on their BMI status, underweight patients have a higher risk of mortality than normal weight patients. (RR: 1.65, 95% CI: 1.32-2.06). Conclusion: Underweight nutritional status in Alzheimer's patients increases the risk of mortality compared to the individuals with normal nutritional status.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menentukan risiko kematian pasien penyakit Alzheimer yang memiliki berat badan kurang dan mempertimbangkan pemeliharaan nutrisi sebagai bagian dari pendekatan tata laksana pasien Alzheimer. Metode: Tinjauan dalam publikasi ini diambil dari Pubmed, Scopus, Cochrane, dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan ialah “((Alzheimer Diseased) AND (Underweight) AND (Mortality))”. Tinjauan meta-analisis menggunakan perangkat lunak Revman 5 menghitung rata-rata risiko relatif dari semua studi kohort yang dipilih. Hasil: Dari 230 artikel yang berhasil diidentifikasi, 3 studi dengan 1423 pasien dimasukkan dalam studi. Hasil meta-analisis menunjukkan berdasarkan status Indeks Massa Tubuh, bahwa pasien dengan berat badan kurang memiliki risiko mortalitas lebih tinggi daripada pasien dengan berat badan normal (RR: 1.65, 95% CI: 1.32-2.06). Simpulan: Kondisi nutrisi dengan berat badan kurang pada pasien Alzheimer meningkatkan risiko mortalitas dibandingkan dengan individu yang memiliki berat badan normal.
Natasha Vinita Wardoyo, Elina
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 310-313; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1878

Abstract:
Spinal muscular atrophy (SMA) adalah kelainan autosomal resesif langka akibat mutasi atau hilangnya gen survival motor neuron 1 (SMN1) pada kromosom 5q13. Insidensi global SMA diperkirakan 1:11.000 kelahiran hidup. Manifestasi klinis berupa kelemahan otot progresif dan penurunan tonus otot yang berhubungan dengan destruksi unit motorik alfa lower motor neuron. Gejala klinis dan prognosis lebih berat jika usia onset gejala makin dini. Sampai saat ini, sebagian besar terapi bersifat suportif. Spektrum fenotipik yang kompleks pada SMA dapat menyebabkan gangguan fungsional serta disabilitas yang membutuhkan penanganan multidisiplin.Spinal muscular atrophy (SMA) is an inherited autosomal recessive disease caused by mutation or deletion of the survival motor neuron 1 gene (SMN1) on chromosome 5q13. The global incidence of SMA was estimated at 1:11.000 live births. SMA manifests clinically as progressive muscle weakness and decreasing muscle tone due to the destruction of alpha motor units on the lower motor neurons. Clinical symptoms and prognosis were worse for patients with earlier age of onset. To date, definitive treatments were limited, with most treatments are supportive. A complex phenotypic spectrum on SMA could lead to functional impairment and disability requiring multidisciplinary care.
Jusli Aras, Andi Utari Dwi Rahayu, Husein Albar
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 332-334; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1882

Abstract:
An 8-year and 2 month-old girl presented with generalized oedema for 2 days with mild cough and shortness of breath. She was diagnosed as relapsing nephrotic syndrome (NS) and Community Acquired Pneumonia due to COVID-19 infection. The patient was discharged with complete remission NS and repeated negative PCR for SARS-CoV-2 from nasopharyngeal swabs. It is important to consider COVID-19 infection as a likely trigger to relapsing NS in children.Seorang anak perempuan umur 8 tahun 2 bulan masuk rumah sakit karena edema anasarca selama 2 hari disertai batuk ringan dan sulit bernapas. Diagnosis adalah sindrom nefrotik relaps, pneumonia COVID-19, dan malnutrisi. Pasien dipulangkan setelah sindrom nefrotik remisi dan hasil PCR SARS-CoV-2 negatif. Infeksi COVID-19 penting dipertimbangkan sebagai pencetus relaps sindrom nefrotik.
Martinova Sari Panggabean
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 320-326; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1880

Abstract:
Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih, ditandai dengan kelainan struktur maupun fungsi ginjal, baik disertai maupun tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate/GFR). Anak dengan CKD berisiko mengalami gangguan nutrisi. Prevalensi malnutrisi pada anak dengan CKD dilaporkan sekitar 20%-45%. Malnutrisi pada anak dengan CKD telah terbukti meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Selain berdampak gangguan pertumbuhan, malnutrisi pada anak dengan CKD dapat meningkatkan risiko infeksi, kelemahan, depresi, penyakit kardiovaskuler, hospitalisasi dan kematian. Oleh karena itu, pemberian nutrisi yang adekuat sangat penting pada anak dengan CKD. Intervensi pemberian nutrisi dini diperlukan untuk mendukung tumbuh kejar dan merupakan komponen kunci dalam mempertahankan pertumbuhan anak dengan CKD.Chronic kidney disease (CKD) is defined as kidney damage lasting for at least 3 months, characterized by structural and functional abnormalities of the kidneys, either with or without a decrease in the glomerular filtration rate (GFR). Children with CKD are at risk for nutritional derangements. The prevalence of malnutrition among children with CKD was 20%-45%. Malnutrition in children with CKD are associated with significant morbidity and mortality. Besides risk of growth development, malnutrition in children with CKD can increase the risk of infection, frailty, depression, cardiovascular disease, hospitalization and death. Adequate nutrition is pivotal in children with CKD. Early nutritional intervention is important to promote catch-up growth and is key components in the preservation of growth in children with CKD.
Nadia Puspa Dewi
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 327-331; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1881

Abstract:
Dermatitis seboroik adalah inflamasi kulit kronis berulang yang ditandai dengan patch dan plak eritematosa disertai skuama berminyak. Lesi terutama di area tubuh yang kaya kelenjar sebasea. Prevalensinya terutama pada usia bayi dan remaja atau dewasa muda. Patogenesis dermatitis seboroik multifaktorial, dipengaruhi oleh aktivitas kelenjar sebasea, kolonisasi Malassezia, komposisi lipid permukaan kulit, sistem imun, barrier kulit, dan faktor genetik. Tatalaksana bertujuan untuk mengurangi keluhan dan lesi penyakit, menggunakan agen topikal dan sistemik sesuai keparahan penyakit.Seborrheic dermatitis is an chronic recurrent inflammatory skin disorder characterized by erythematous patches and plaques with oily scales. The lesions manifest in sebaceous gland-rich areas. Its prevalence is mostly in infants and adolescents or young adults. The pathogenesis of seborrheic dermatitis is multifactorial, influenced by sebaceous glands activity, Malassezia colonization, skin surface lipid composition, immune system, skin barrier, and genetic factors. Management aims to reduce symptoms and lesions, with topical and systemic agents.
Maria Cecilia Gritce Widjaja
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 314-319; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1879

Abstract:
Terapi HIV/AIDS terus mengalami perkembangan. Rejimen ARV terbaru saat ini menggunakan Dolutegravir dalam rejimen KDT-ARV berupa KDT-TLD, yang berisi 2NRTI + INSTI. Rejimen baru ini diteliti mampu menekan jumlah virus lebih cepat, mengurangi efek neuropsikiatri dan mengurangi resistensi pada rejimen sebelumnya yang menggunakan efavirenz. Inisiasi ARV juga disarankan sedini mungkin (jika belum ada infeksi oportunistik) supaya dapat meningkatkan harapan hidup, menurunkan insiden infeksi oportunistik, dan mencegah transmisi virus HIV.HIV/AIDS therapy continues to develop over time. The current ARV regiment uses dolutegravir in ARV-FDC regiment in the form of a TLD-FDC containing 2NRTI + INSTI. This new regiment was intended to suppress viral load more rapidly, reduce neuropsychiatric effects and reduce resistance to previous regiments using efavirenz. ARV initiation is also recommended as early as possible (if there is no opportunistic infection) to increase life expectancy, reduce the incidence of opportunistic infections, and prevent transmission of HIV.
Gabriele Mustika Kresnia, Arli Aditya Parikesit
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 341-344; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1886

Abstract:
Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurologic development disorder; it is listed in the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-V). Early diagnosis is critical in improving the life quality of individuals affected by ASD. Several studies show that Artificial Intelligence can be used in the diagnosis of ASD through biological means such as observing patient EEG data and surveying their genome. Articles were searched in the PUBMED database, ScienceDirect and Springer Link between 2019 - 2020. Four papers were selected for review. The papers were able to devise models that can accurately predict ASD in affected individuals, though some are based on old data and/or require testing on larger datasets to determine accuracy. As ASD diagnosis usually cannot be achieved before the individual shows symptoms, AI has the potential to improve ASD diagnosis in affected individuals. Further study to confirm the models and test on larger, more recent datasets would be required to develop more accurate models and achieve even better results.Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan salah satu gangguan perkembangan saraf yang tercantum pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-V). Diagnosis dini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup individu ASD. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Kecerdasan Buatan dapat digunakan untuk diagnosis ASD melalui metode berbasis biologis seperti mengamati data EEG pasien dan mensurvei genomnya. Review ini berbasis pencarian data antara 2019 – 2020 di database PUBMED, ScienceDirect dan Springer Link. Empat makalah kunci dipilih untuk ditinjau. Makalah-makalah tersebut mampu merancang model yang dapat memprediksi ASD secara akurat, meskipun beberapa aspek implementasinya didasarkan pada data usang dan/atau memerlukan pengujian pada kumpulan data yang lebih besar untuk menentukan akurasi. Mengingat diagnosis ASD biasanya tidak dapat dilakukan sebelum individu menunjukkan gejala sekunder, kecerdasan buatan berpotensi meningkatkan keandalan diagnosis ASD. Masih diperlukan studi lanjutan untuk mengkonfirmasi model dan pengujian pada kumpulan data yang lebih besar dan lebih baru untuk mengembangkan model yang memiliki presisi lebih baik dan hasil lebih akurat.
Sarah Anjani Putri, Yugos Juli Fitra, Kurniadi
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 348-350; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1887

Abstract:
Background: Basal cell carcinoma (BCC) is the most common malignancy worldwide.1 It is usually found in older populations, particularly those exposed to ultraviolet radiation. It is almost always curable when detected and treated early. Surgery remains the cornerstone of BCC treatment; but standard excision results in defects requiring reconstruction. For smaller defects, the V-Y flap is a popular option due to its advantages. Case : A 33 year-old male with a blackened lesion on the left vermillion border of the upper lip with a diameter of 2 cm since 3 months, suspected as basal cell carcinoma. The patient underwent wide excision and the defect was reconstructed using a V-Y flap. Conclusion : Wide local excision is a treatment of choice for BCC to ensure clear margins, preventing further local recurrence and distant metastasis. V-Y advancement flap is preferable for the reconstruction of small to medium size facial defects with less scarring and better aesthetic results.Latar belakang: Karsinoma sel basal (KSB) adalah keganasan yang paling sering ditemukan di seluruh dunia; biasanya pada populasi usia lanjut, khususnya yang terpapar radiasi sinar ultraviolet. KSB hampir selalu dapat disembuhkan apabila terdeteksi dan diberi tatalaksana dini. Pembedahan tetap merupakan landasan tatalaksana KSB, akan tetapi eksisi standar akan meninggalkan defek yang membutuhkan rekonstruksi. Untuk defek yang lebih kecil, flap V-Y merupakan pilihan populer. Kasus: Seorang laki-laki usia 33 tahun dengan lesi berwarna hitam di batas vermilion kiri di atas bibir dengan diameter 2 cm sejak 3 bulan, diduga karsinoma sel basal. Pasien menjalani operasi eksisi luas dan defeknya direkonstruksi menggunakan flap V-Y. Simpulan: Eksisi lokal luas adalah tatalaksana pilihan KBS untuk memastikan margin yang jelas, mencegah rekurensi lokal, dan metastatis jauh. Flap V-Y lebih dipilih untuk defek wajah dengan ukuran kecil hingga sedang karena bekas luka yang lebih kecil dan secara estetika lebih baik.
Anak Agung Putri Satwika, I Gusti Ayu Made Juliari
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 335-337; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1883

Abstract:
Granuloma piogenik konjungtiva merupakan tumor vaskular jinak pasca episode peradangan seperti pasca bedah eksisi pterigium. Kondisi ini diduga akibat penyembuhan luka yang tidak sempurna. Kasus : Laki-laki, 44 tahun mengeluh rasa mengganjal pada mata kiri disertai merah sejak 1 minggu. Pasien memiliki riwayat eksisi pterigium 1 bulan sebelumnya. Pada segmen anterior ditemukan massa granuloma pada konjungtiva bulbi dekat limbus bagian temporal. Terapi awal kortikosteroid topikal dan bedah eksisi sebagai pilihan terapi lanjut.Conjunctival pyogenic granuloma is a benign vascular tumor after inflammation, such as post pterygium excision. This condition is thought due to incomplete wound healing. Case: Male, 44 year-old feels a lump in his left eye accompanied by redness since 1 week. He had a history of pterygium excision 1 month before. A granulomatous mass was found on the conjunctiva bulbi near the temporal limbus. Therapy consist of topical corticosteroids as initial therapy and surgical excision as further treatment option.
Hesti Ratna Pratiwi, Ery Hermawati, Umi Kalsum
Cermin Dunia Kedokteran, Volume 49, pp 305-309; https://doi.org/10.55175/cdk.v49i6.1877

Abstract:
Latar Belakang. Memori jangka pendek sebagai salah satu proses awal penerimaan informasi dianggap berperan penting dalam fungsi kognitif seseorang. Tujuan. Mengetahui pengaruh kualitas tidur terhadap memori jangka pendek mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tanjungpura. Metodologi. Penelitian dengan desain analitik menggunakan pendekatan potong lintang. Jumlah sampel 73 orang. Variabel bebas adalah kualitas tidur diukur dengan PSQI dan variabel terikat adalah memori jangka pendek diukur dengan Digit Span. Analisis statistik menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan Mann-Whitney U Test Hasil. Sebanyak 74% subjek penelitian memiliki kualitas tidur buruk dan rata-rata skor memori jangka pendek adalah 8,96. Subjek penelitian yang memiliki kualitas tidur buruk memiliki rata-rata skor memori jangka pendek lebih tinggi (9,33) dibandingkan dengan subjek penelitian dengan kualitas tidur baik (7,89). Hasil uji komparatif Mann-Whitney U Test mendapatkan nilai signifikan p=0,015 (p<0,05). Simpulan. Skor memori jangka pendek lebih tinggi pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Tanjungpura yang memiliki kualitas tidur buruk dibandingkan mahasiswa yang memiliki kualitas tidur baikBackground. Short-term memory as one of the initial stage of information storage is considered to have an important role in cognitive performance. Objective. To determine the impact of sleep quality on short-term memory among medical students at Tanjungpura University. Methods. An analytic study with cross-sectional design on 73 subjects. Sleep quality as an independent variable was measured by PSQI and short-term memory as a dependent variable was measured by Digit Span. Analytical statistics used Kolmogorov-Smirnov and Mann-Whitney U Test. Results. Poor sleep quality was found in 74% subjects with mean score of short-term memory of 8,96. Subjects with poor sleep quality had a higher mean score of short-term memory (9,33) than subjects with good quality of sleep (7,89). The Mann-Whitney U Test result was p= 0.015 (p <0.05). Conclusion. Medical students in Tanjungpura University with poor sleep quality have significantly higher score of short-term memory test compared to students who had good sleep quality.
Back to Top Top