Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia

Journal Information
ISSN / EISSN : 2797-717X / 2797-7676
Published by: Pusat Studi Pentakosta Indonesia (10.54403)
Total articles ≅ 21
Filter:

Latest articles in this journal

Sarah Priska Toding, Carolina Etnasari Anjaya
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 1-11; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i3.21

Abstract:
This research is structured in order to provide an understanding to believers that the current virtual world has actually moved away from the quality of life that God wants. Even though God has given the Holy Spirit as a true guide for life. The research method uses a qualitative type, through reading and analyzing various relevant literature and basing the theory of understanding on the biblical text. The results show that life in the virtual era does not involve the Holy Spirit in it. This does not mean that the Holy Spirit does not exist and is unable to intervene in circumstances, but this is related to the free will that God gives to believers. The existence of the Holy Spirit needs to be presented to the life of the virtual world as the only guide. In this regard, there are several concrete steps that believers can take in order to be witnesses and glorify God in today's virtual life.Penelitian ini disusun agar dapat memberikan pemahaman kepada umat percaya bahwa kehidupan dunia virtual saat ini sejatinya telah bergerak menjauh dari kualitas kehidupan yang dikehendaki Tuhan. Padahal Tuhan telah memberikan Roh Kudus sebagai penuntun hidup yang benar. Metode riset dengan mempergunakan jenis kualitatif, melalui pembacaan dan analisa terhadap berbagai literatur yang relevan dan melandaskan teori pemahaman pada teks Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan dalam era virtual tidak melibatkan Roh Kudus di dalamnya. Hal ini bukan berarti Roh Kudus tidak ada dan tidak mampu mengintervensi keadaan, namun ini bertalian dengan kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada orang percaya. Eksistensi Roh Kudus perlu dihadirkan pada kehidupan dunia virtual sebagai satu-satunya penuntun. Bertalian dengan hal tersebut terdapat beberapa langkah konkrit yang dapat dilakukan oleh umat percaya agar dapat menjadi saksi dan memuliakan Tuhan dalam berkehidupan virtual masa kini.
Kosma Manurung
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 12-24; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i3.22

Abstract:
Christmas is a celebration commemorating the birth of the Lord Jesus which in the Bible record is a story whose beginning was in God's plan long before the event itself occurred. By using a descriptive analysis approach and literature review, this research intends to offer a perspective on the Christmas story from the Pentecostal spirituality frame. This article contains several examples of the idea of Christmas in the Bible both in the Old Testament and reviews the first Christmas story in the New Testament and also the meaning of Christmas in the context of Pentecostal spirituality. It is concluded that Christmas is the fulfillment of God's promise, Christmas is about divine reconciliation, Christmas also talks about mission, and Christmas is God's means to restore the effects of sin. Natal adalah sebuah perayaan memperingati kelahiran Tuhan Yesus yang dalam catatan Alkitab merupakan sebuah kisah yang permulaannya sudah ada dalam rencana Allah jauh sebelum peristiwa itu sendiri terjadi. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis dan kajian literatur penelitian ini bermaksud menawarkan sebuah sudut pandang tentang kisah natal dari bingkai spritualitas Pentakosta. Artikel ini berisikan beberapa contoh ide natal dalam Alkitab baik di Perjanjian Lama maupun ulasan kisah natal pertama di Perjanjian Baru dan juga arti natal dalam bingkai spritulitas Pentakosta. Disimpulkan bahwa natal adalah pengenapan janji Allah, natal berintikan tentang rekonisiali ilahi, natal juga berbicara tentang misi, dan natal menjadi sarana Allah untuk memulihkan dampak dosa.
Heppy Yohanes, Yakub Hendrawan Perangin Angin, Tri Astuti Yenirenowati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 101-114; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i3.25

Abstract:
H.L. Senduk merupakan salah seorang tokoh rohani yang dikenal di Indonesia, khususnya bagi kalangan Pentakosta. Sejak pertobatannya dan pengalaman akan baptisan Roh Kudus, ia mengikuti jejak gurunya Pdt. Van Gessel di Gereja Pentakosta, hingga akhirnya ia mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuhnya (GBIS). Seiring berjalannya waktu ia mengalami konflik dan akhirnya keluar dan mendirikan Gereja Bethel Indonesia (GBI). Kehidupan dan pelayanan H.L. Senduk sangatlah berpengaruh bagi kalangan Pentakosta di Indonesia yang terlihat dari sinode GBI merupakan sinode terbesar ketiga di Indonesia pada tahun 2021 dan terus mengalami pertumbuhan baik secara kuantitas ataupun kualitas. Pelayanan H.L. Senduk yang berdampak luar biasa ini pastinya merupakan sesuatu hal yang harus diketahui oleh banyak orang Kristen dan sangat penting untuk dipelajari. Penulisan kisah H.L. Senduk ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Naratif agar mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kehidupan H.L. Senduk dari berbagai sumber, sehingga bisa mengetahui warisan rohani yang sangat penting bagi gereja di Indonesia. Warisan rohani H.L. Senduk pastinya akan terkait dengan pandangan teologisnya, kepemimpinan yang ia lakukan, dan pelayanannya. Pandangan teologis H.L. Senduk yang paling utama bagi gereja-gereja pentakosta adalah terkait dengan pentingnya gereja untuk terbuka dan dinamis terhadap tuntunan dan karya Roh Kudus. Kepemimpinan H.L. Senduk pastinya sangat penting untuk diteladain, karena berdampak dengan membuat sindoe GBI sebesar sekarang. Kepemimpinan yang visioner dengan memberikan teladan dan menampilkan karakter yang baik bagi seluruh kalangan. Pelayanan H.L. Senduk yang menekankan penginjilan mendorong GBI untuk terus melayani secara realistis sosial dengan relevan dan efektif. H.L. Senduk is a well-known spiritual figure in Indonesia, especially among Pentecostals. Since his conversion and experience of the baptism of the Holy Spirit, he has followed in the footsteps of his teacher Rev. Van Gessel at the Pentecostal Church, until finally he founded the Full Gospel Bethel Church (GBIS). Over time he experienced conflicts and eventually left and founded the Indonesian Bethel Church (GBI). The life and ministry of H.L. Senduk is very influential for Pentecostals in Indonesia as seen from the GBI synod, which is the third largest synod in Indonesia in 2021 and continues to experience growth both in quantity and quality. H.L. Service This amazingly impactful spoon is definitely something that many Christians should know and very important to learn. Writing the story of H.L. This Senduk uses a qualitative method with a narrative approach in order to get a clear picture of the life of H.L. Senduk from various sources, so that we can know the spiritual heritage that is very important for the church in Indonesia. The spiritual legacy of H.L. Senduk will certainly have to do with his theological views, his leadership, and his ministry. H.L.'s theological view the main thread for the Pentecostal churches is related to the importance of the church to be open and dynamic to the guidance and work of the Holy Spirit. H.L. Leadership Senduk is certainly very important to follow, because it has an impact by making the GBI sindoe as big as it is now. Visionary leadership by setting an example and displaying good character for all circles. H.L. Service Senduk which emphasizes evangelism encourages GBI to continue to serve with realistically- socially in a relevant and effective manner.
Hery Budi Yosef
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 41-66; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i3.24

Abstract:
This journal examines the historical description of Ulrich Zwingli's thoughts on church reform, especially after Martin Luther. And the results of the research provide new thinking that was left behind towards the reforms at that time. Though doctrinal thought began to move away from the papal hierarchy, but there are still things that were maintained by the reformers, and until now in the modern era it seems to be running (held), namely the practice of infant baptism, and the concept of the relationship between church and state. It's just that the results of this research are not more there, because the focus is solely on searching. There are many other sources that review Zwingli's actions in his involvement in removing other groups of believers (read: Anabaptists) from the church decisions that he fought for after the reformation. Because the concrete evidence has not shown the accuracy of the event, the author only focuses on his thoughts, specifically confronting his thoughts with the previous proclaimer of reform, namely Martin Luther. In this study, the background of the character, Zwingli's movement in Switzerland in an effort to reform the church will also be described successively as an extension of the previous important figures. In another section, Zwingli's thoughts which are the reasons for the reform of the church will be presented, Zwingli is slightly different from his predecessors in post-reform theology from Luther's. This journal uses a descriptive-historical qualitative approach, it is said that because the author examines it by tracing the sources contained in the literature regarding the characters studied, and linking them to the church today. Of course there will be limitations in the study, that's why the author hopes that there will be further research on this church figure, especially in other studies Jurnal ini mengkaji uraian historis terhadap pemikiran Ulrich Zwingli mengenai reformasi gereja khususnya setelah Martin Luther. Banyak sumber yang mengulas tentang sepak terjang Zwingli dalam keterlibatannya menyingkirkan kelompok orang percaya lainnya (baca: Anabaptis) dari ketetapan gereja yang diperjuangkannya pasca reformasi. Oleh sebab bukti-bukti konkrit belum menunjukkan keakuratan terhadap pristiwa tersebut, penulis hanya menyoroti pemikiran-pemikirannya, secara khusus mengkonfrontasikan pemikirannya dengan proklamator reformasi sebelumnya, yakni Martin Luther. Dalam kajian ini juga akan dipaparkan secara berturut-turut tentang latar belakang tokoh, pergerakan Zwingli di Swiss dalam upaya pembaharuan gereja sebagai perluasan dari tokoh-tokoh penting sebelumnya. Di bagian lain pemikiran-pemikiran Zwingli yang menjadi alasan reformasi gereja akan dipaparkan, Zwingli sedikit berbeda dengan pendahulunya dalam berteologi asca reformasi. Jurnal ini menggunakan pendekatan kualitatif deskritif – historis, dikatakan demikian karena penulis mengkaji dengan menelusuri sumber-sumber yang terdapat di literartur mengenai tokoh yang diteliti, dan mengkaitkan kepada gereja di masa kini. Tentunya aka nada keterbatasan dalam pengkajiannya, itu sebabnya penulis berharap aka nada penelitian lanjut terhadap tokoh gereja ini, khususnya dalam kajian yang lain.
Hanny Setiawan
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 67-87; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i3.26

Abstract:
Acts 2:9-11 shows a list of the nations who were present at Pentecost. This article examines the relationship between these nations and the spread of Judaism during intertestamental periods. The study was conducted by looking at history with a focus on the pattern of the spread of Judaism from one era to another, and the pattern of geographical distribution. Based on these patterns, the research results of this article conclude two main things: first, the presence of these nations has become part of God's plan to fulfill the Great Commission (Matthew 28:19-20), and the Pentecostal Commission (Acts 1: 8); second, the Jewish education system after the exile of 586 BC was the key to the successful spread of Judaism in the Intertestamental Period.Kisah Para Rasul 2:9-11 memperlihatkan daftar bangsa-bangsa yang hadir dalam peristiwa Pentakosta. Artikel ini meneliti hubungan antara bangsa-bangsa tersebut dengan penyebaran Yudaisme selama masa intertestamental. Penelitian dilakukan dengan melihat sejarah dengan fokus kepada pola penyebaran Yudaisme dari satu era kepada era lain, dan pola penyebaran secara geografis. Berdasarkan pola-pola tersebut, hasil penelitian artikel ini menyimpulkan dua hal utama : pertama, kehadiran bangsa-bangsa tersebut sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk memenuhi Amanat Agung (Mat 28:19-20), dan Amanat Pentakosta (Kisah Para Rasul 1:8); kedua, sistem pendidikan Yahudi setelah masa pembuangan 586 BC adalah kunci keberhasilan penyebaran Yudaisme di Masa Intertestamental.
Rexi Tambunan, Sarah Andrianti
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 25-40; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i3.23

Abstract:
This study aims to explain the perspective of the Pentecostal church on topical preaching. Preaching is the delivery of God's message to the congregation through people who have been chosen by God. The research method used in this study is qualitative using a descriptive approach and literature review. Various types of preaching models are used by preachers. One of the most popular types of sermons is topical preaching. Because in the perspective of the Pentecostal church, it is known that there is no prohibition regarding the way someone delivers a sermon. The most important thing is to use the Bible as a basis for preaching. Based on the results of the discussion, the Pentecostal church interprets topical sermons as a way of delivering the content of the Bible that is relevant and contextual to the daily life of the congregation. Without reducing the essence and authority of God's word. Because God does not limit the way humans can preach or convey God's words. The preachers of the Pentecostal church believe that the Holy Spirit will guide the preacher to be able to prepare and deliver a sermon so that it is right on target.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perspektif gereja aliran Pentakosta terhadap khotbah topikal. Khotbah merupakan penyampaian pesan Allah kepada jemaat melalui orang-orang yang telah dipilih oleh Allah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan kajian literatur. Berbagai jenis model kotbah dipakai oleh para pengkotbah. Salah satu jenis kotbah yang banyak disukai adalah kotbah topikal. Karena dalam perspektif gereja beraliran pentakosta diketahui tidak ada larangan terkait cara seseorang dalam menyampaikan khotbah. Yang terpenting adalah harus menggunakan Alkitab sebagai landasan dalam berkhotbah. Berdasarkan hasil pembahasan, gereja aliran Pentakosta memaknai kotbah topikal sebagai salah satu cara penyampaian isi Alkitab yang relevan serta kontekstual dengan kehidupan jemaat sehari-hari.Tanpa mengurangi esensidan otoritas firman Allah.Karena Tuhan tidak membatasi cara manusia dalam berkhotbah atau menyampaikan firman Tuhan.Para pengkotbah gereja Pentakosta percaya bahwa Roh Kudus akan menuntun pengkotbah untuk dapat mempersiapkan dan menyampaikan kotbah sehingga tepat pada sasaran.
Yonatan Alex Arifianto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 88-100; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i3.27

Abstract:
In modern times the understanding of the phrase glorifying God has been reduced to only spiritual and church activities or actions. Excavation of the biblical text on the story of Luke 17:11-19 becomes the basis or pattern for compiling its implications for the lives of believers in this modern era. For believers, glorifying God is an attitude of the heart and deepest awareness of the existence of God as the only Supreme Being. The research hopes to provide a correct understanding of the phrase glorifying God according to the story in Luke 17:11-19 so that believers can apply it correctly in their daily lives. The method used is descriptive qualitative research through a literature study approach. The results of the research found that actions and attitudes are the fruit of a state of the soul that glorifies God. Some important points about it are: first, humility is the first step to glorify God. Second, there is an acknowledgment of the authority of the Lord Jesus and giving the highest respect. Third, glorifying God contains a high level of trust and obedience. Fourth, placing God as the only necessity of life. Fifth, glorifying God properly will be marked by the fruits of concrete life that can be felt directly by God and others. Sixth, believers who glorify God will be able to become living models for others. Seventh, being able to let go of the world and all the modern pleasures it offers to focus on living only for God. Pada masa modern ini pemahaman terhadap frasa memuliakan Tuhan mengalami reduksi hanya sebatas pada aktivitas atau tindakan rohani dan bergereja. Penggalian teks Alkitab pada kisah Lukas 17:11-19 menjadi dasar atau pola untuk menyusun implikasinya terhadap kehidupan umat percaya di era modern ini. Bagi umat percaya, memuliakan Tuhan merupakan sikap hati dan kesadaran jiwa terdalam akan keberadaan Tuhan sebagai satu-satunya yang Maha Mulia. Penelitian ini memiliki harapan dapat memberikan pemahaman yang benar terhadap frasa memuliakan Tuhan sesuai kisah dalam Lukas 17:11-19 sehingga umat percaya dapat menerapkannya secara benar dalam keseharian hidup. Metode yang dipergunakan adalah riset kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kepustakaan. Hasil riset menemukan bahwa tindakan dan sikap adalah buah dari keadaan jiwa yang memuliakan Tuhan. Beberapa poin penting tentang hal itu yaitu: pertama, kerendahan hati menjadi langkah awal memuliakan Tuhan. Kedua, adanya pengakuan otoritas Tuhan Yesus dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Ketiga, memuliakan Tuhan memuat sikap percaya tingkat tinggi dan ketaatan. Keempat, menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan hidup. Kelima, memuliakan Tuhan secara benar akan ditandai dengan buah-buah kehidupan konkrit yang dapat dirasakan langsung oleh Tuhan dan sesama. Keenam, umat percaya yang memuliakan Tuhan akan mampu menjadi model yang hidup bagi sesama. Ketujuh, mampu melepaskan dunia beserta semua kenikmatan modern yang ditawarkan di dalamnya untuk fokus hidup hanya bagi Tuhan.
John Henry King
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 117-133; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i2.13

Abstract:
Abstrak Seperti yang dikatakan oleh Pendeta David Platt, Pendeta Utama di Gereja Alkitab McLean di Washington, D.C., dengan tepat menyatakannya, “Injil adalah sumber kehidupan Kekristenan.” Di sinilah letak motif Kristen;” menyatakan Dewan Misionaris 1928, “sederhana. Kita tidak bisa hidup tanpa Kristus dan kita tidak tahan memikirkan manusia yang hidup tanpa Dia.” Bagi Dr. Platt tantangannya adalah “bagaimana menghidupi Injil itu dalam kehidupan kita, keluarga, dan gereja di zaman kebingungan seksual, aborsi legal, materialisme yang merajalela, rasisme yang kejam, meningkatnya krisis pengungsi, berkurangnya kebebasan beragama, dan sejumlah masalah sosial penting lainnya.” Dalam karyanya “From Christendom to Apostolic Mission” Uskup Kagan, Uskup Bismarck, North Dakota, melihat perlunya Gereja sekali lagi mengenakan jubah misionaris karena kita tidak lagi hidup dalam budaya kristen. Stanley Hauerwas, seorang teolog, ahli etika Amerika, dalam karyanya, "The Christian Difference, or Surviving Postmodernism," menyebut karya kita "perjuangan hidup dan mati dengan dunia." …menambahkan: “Saya pikir adalah kesalahan serius untuk tidak menganggap serius postmodernisme.” Hauerwas melihat orang-orang percaya sebagai “komunitas di pengasingan.” (Postmodernisme adalah intelektualisme yang melelahkan dunia yang tidak lagi memandang kehidupan dalam kerangka prinsip-prinsip absolut atau universal. Mereka melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa semua pemikiran sama-sama relevan (bahwa tidak ada batasan, tidak ada aturan, tidak ada hierarki, tidak ada realitas objektif). dan semua fakta hanyalah 'konstruksi sosial.') Seperti yang ditulis Dr. Platt, “Sebagai pengikut Kristus, kita membodohi diri sendiri jika kita tidak menghadapi kenyataan bahwa kepercayaan dan ketaatan kepada Alkitab di zaman anti-Kristen pasti akan membawa risiko dalam keluarga, masa depan, hubungan seseorang. , reputasi, karier, dan kenyamanan di dunia ini.” Dunia menaruh kepercayaan mereka pada kemajuan evolusioner bukan pada Tuhan. Menurut Kejadian 1 Tuhan adalah Pencipta kita yang pertama. Kreasionisme tidak memiliki kesamaan dengan teori evolusi. Teori evolusi menunjukkan bahwa kita sedang menuju dunia utopis di mana "survival of the fittest" adalah proses alami meninggalkan yang terbaik dari yang terbaik, bukan pemeliharaan ilahi yang merencanakan untuk mengakhiri dosa dan korupsi. Pemikiran postmodern dan teori evolusi menentang apa yang dimaksud dengan eskatologi Kristen. Allah sebagai Pencipta kita menciptakan kita, untuk kemuliaan-Nya. Jika ini tidak benar, Roma 3:23 akan menjadi omong kosong, karena kita tidak dapat mengabaikan hubungan yang menurut postmodernisme materialistis tidak ada. Dosa dan penghakiman Tuhan sekarang diejek oleh doktrin bahwa pengetahuan, kebenaran, dan moralitas hanya ada dalam kaitannya dengan budaya. Susunan Kristen telah digantikan dengan realitas materialistis. Kami, dalam kebenaran sederhana, misionaris untuk perubahan budaya. Apologet Kristen J. F. Baldwin mengakui pentingnya kehidupan yang heroik dan dipenuhi Roh, sebagai argumen paling kuat yang memberi isyarat kepada orang-orang yang tidak percaya kepada iman. “Manusia modern lebih bersedia mendengarkan saksi daripada guru,” Paus Paulus Keenam mengamati. Kita sekarang, sebagai Peter, harus menyelesaikan masalah ini di dalam hati kita. Upaya untuk membungkam kita harus gagal. Ketika sampai pada pesan Injil tentang Salib, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29) Abstract As Pastor David Platt, Lead Pastor at McLean Bible Church in Washington, D.C., so aptly states it, “The Gospel is the lifeblood of Christianity.” Herein lies the Christian motive;” states the 1928 Missionary Council, “it is simple. We cannot live without Christ and we cannot bear to think of men living without Him.” To Dr. Platt the challenge is “how to live out that gospel in our lives, families, and churches in an age of sexual confusion, legal abortion, rampant materialism, violent racism, escalating refugee crises, diminishing religious liberties, and a number of other significant social issues.” In his work “From Christendom to Apostolic Mission” Bishop Kagan, the Bishop of Bismarck, North Dakota, sees the necessity for the Church to once again don the mantle of the missionary since we are no longer living in a christian culture. Stanley Hauerwas, an American theologian, ethicist, in his work, “The Christian Difference, or Surviving Postmodernism,” called ours ”a life and death struggle with the world.” …adding: “I think it is a serious mistake not to take postmodernism seriously.” Hauerwas saw believers as “a community-in-exile.” (Postmodernism is a world-weary intellectualism that no longer views life in terms of absolutes or universal principles. They go so far as to say that all thought is equally relevant (that there are no boundaries, no rules, no hierarchies, no objective reality and all facts are just ‘social constructs.’) As Dr. Platt writes, “As followers of Christ, we are fooling ourselves if we don’t face the reality that belief in and obedience to the Bible in an anti-Christian age will inevitably lead to risk in one’s family, future, relationships, reputation, career, and comfort in this world.” The world puts their faith in an evolutionary progress not in God. According to Genesis 1 God is first our Creator. Creationism has nothing in common with evolutionary theory. Evolutionary theory suggests we are heading toward a utopian world where “survival of the fittest” is a natural process leaving the best of the best instead of a divine providence that plans an end to sin and corruption. Postmodern thought and evolutionary theory...
Stefanus Agus Budi Yanto, Paulus Kunto Baskoro
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 37-60; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i2.16

Abstract:
The life of a believer is a process that continues until the end of his life. Because believe in the Lord Jesus, everyone faces a process to live a more beautiful life in Christ. Living like Jesus is the ultimate goal for every believer. But many are faound in the lives of believers, their lives are not optimal in following Jesus. Even though they have been to church for a long time and have even served, many Christians when facing life’s challenges, struggles, problems and suffering, are quicker to grumble and leave the Lord Jesus. This ia a sign of the spiritual immaturity of the believer. Not because believres do not understand, but not serious in following Jesus. In order to obtain accurate and accountable data, in this study the authors used the method of writing is Frist, to provide an understanding to every believer that perseverance is one the characteristics of spiritual maturity; Second, perseverance will make every believer experience a strong spiritual life process; Third, today’s beliavers can be witnesses for everyone who is facing life’s challenges. Kehidupan orang percaya merupakan proses yang terus berjalan sampai akhir hidupnya. Sebab percaya Tuhan Yesus, setiap orang menghadapi proses untuk hidup makin indah dalam Kristus. Hidup menjadi serupa dengan Yesus adalah tujuan utama bagi setiap orang percaya. Namun banyak ditemukan dalam kehidupan orang percaya, hidupnya tidak maksimal dalam mengikuti Yesus. Meskipun sudah lama ke gereja bahkan sudah melayani, namun banyak orang Kristen ketika menghadapi tantangan hidup, pergumulan, persoalan dan menderita, lebih cepat bersunggut-sungut dan meninggalkan Tuhan Yesus. Ini adalah sebuah tanda ketidakdewasaan rohani orang percaya. Bukan karena orang percaya tidak memahami, namun ketidakseriusan dalam mengikut Yesus. Untuk mendapatkan data-data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penulisan deskriptif literatur. Tujuan penulisan ini adalah Pertama, memberikan pemahaman kepada setiap orang percaya bahwa ketekunan adalah salah satu ciri kedewasaan rohanit; Kedua, ketekunan akan membuat setiap orang percaya mengalami proses hidup rohani yang kuat; Ketiga, orang percaya masa kini bisa menjadi saksi bagi setiap orang yang sedang menghadapi tantangan hidup.
Fati Aro Zega
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, Volume 1, pp 88-116; https://doi.org/10.54403/rjtpi.v1i2.18

Abstract:
Abstrak: Gambaran kebejadan dan apostasi manusia itu terlihat dengan jelas di dalam Kitab Hakim-hakim. Kitab ini menjadi catatan sejarah dan metafora tentang tendensi di setiap zaman dan setiap generasi terhadap fenomena apostasi. Apostasi terjadi bukan karena tidak mengakui adanya Tuhan tetapi memercayai sesuatu selain Tuhan. Ternyata satu-satunya yang dipelajari dari sejarah adalah tidak mempelajari sejarah. Mengunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur didapatkan kesimpulan bahwa dosa kemurtadan membuat semua prestasi manusia sia-sia. Semua hasil kerja keras tidak dapat dinikmati. Dosa merampas apa pun yang diperoleh. Bahkan akan mendatangkan bencana kemanusiaan, sampai mereka bertobat. Tetapi, jika mereka sungguh-sungguh bertobat, mencari Tuhan, dan berdoa memohon belas kasihan-Nya, maka sesuai dengan wahyu di Kitab Hakim-hakim, Tuhan akan mendatangkan kelegaan, kesembuhan. Hakim yang definitf, Yesus Krustus, akan turun tangan mengatasi apa pun yang tidak bisa dilakukan manusia. Prinsip penting yang muncul dalam Kitab Hakim-hakim sebagai sebuah kebenaran alkitabiah, “dosa apostasi mengasilkan sengsara, doa dan pertobatan melahirkan kesejahteraan. Allah di tambah ketaatan akan mengasilkan kuasa, kasih karunia Tuhan lebih besar dari segala dosa. The description of human depravity and apostasy can be seen clearly in the Book of Judges. This book is a historical record and a metaphor for the tendency in every age and every generation to the phenomenon of apostasy. Apostasy occurs not because of not acknowledging the existence of God but believing in something other than God. It turns out that the only thing to learn from history is not to study history. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it is concluded that the sin of apostasy makes all human achievements in vain. All the results of hard work cannot be enjoyed. Sin takes whatever is gained. It will even bring disaster to humanity, until they repent. However, if they truly repent, seek God, and pray for His mercy, then according to the revelation in the Book of Judges, God will bring relief, healing. The definitive Judge, Jesus Christ, will intervene in anything that humans cannot do. An important principle that appears in the Book of Judges as a biblical truth, “the sin of apostasy produces suffering, prayer and repentance beget prosperity. God plus obedience will produce power, God's grace is greater than all sin.
Back to Top Top