Jurnal Rekonstruksi dan Estetik

Journal Information
ISSN / EISSN : 2301-7937 / 2774-6062
Published by: Universitas Airlangga (10.20473)
Total articles ≅ 41
Filter:

Latest articles in this journal

Jilvientasia Godive Lilihata, Iswinarno Doso Saputro, Lynda Hariani
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 6, pp 72-76; https://doi.org/10.20473/jre.v6i2.31836

Abstract:
Latar Belakang: Laryngotracheal stenosis (LTS) terjadi pada 24-53% pasien pasca trauma inhalasi1. Insiden komplikasi pasca pembedahan LTS adalah 33- 34% dan mortalitas pasca pembedahan adalah 1,5-2%2. SGS sering terjadi pada cedera inhalasi pasca intubasi1. Laporan Kasus: Pasien dengan luka bakar pada area wajah dan keempat ekstremitas, akibat ledakan tabung gas pada ruangan tertutup. Sembilan jam pasca trauma, pasien mengeluhkan kesulitan bernapas. Pasien diintubasi selama 2 hari pasca trauma dan 5 kali intubasi lainnya dengan ETT cuff 6,5 mm untuk tindakan operasi. Tidak ada data tekanan cuff pasien. Hari ke-38 perawatan di rumah sakit, pasien mengeluh suaranya serak dan terkadang merasa sulit bernapas. Hasil fiber optic laryngoscopy (FOL) pasien menunjukan 30% penyempitan pada subglotis. Pasien didiagnosis dengan SGS stadium 1. Pasien tidak membutuhkan tindakan pembedahan dan hanya diobservasi. Diskusi: Evaluasi FOL perlu dilakukan sejak awal cedera inhalasi3. Evaluasi FOL pada pasien kami baru dilakukan setelah muncul gejala SGS. Risiko LTS meningkat sesuai dengan keparahan cedera inhalasi, keparahan reaksi inflamasi, durasi intubasi (lebih dari 10 hari), ukuran ETT yang besar, dan intubasi berulang. Tekanan cuff pada ETT dapat mengakibatkan pembentukan skar dan stenosis pada subglotis1. Tekanan cuff yang direkomendasikan adalah 20-30 cmH2O. Tekanan cuff perlu diukur dan disesuaikan tiap 4-12 jam4. Pasien kami diintubasi sebanyak 6 kali, tanpa pengukuran tekanan cuff. Stadium SGS yang sering digunakan adalah Cotton Meyer staging. Stadium 1 SGS tidak membutuhkan tindakan pembedahan5. Kesimpulan: Sekuel cedera inhalasi pada subglotis dapat dicegah dengan melakukan intubasi sesuai indikasi dan menggunakan ETT ukuran kecil dengan tekanan cuff yang tidak terlalu tinggi.
Ardea Perdanakusuma, Ariani Primawati, Budiman
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 6, pp 43-50; https://doi.org/10.20473/jre.v6i2.31832

Abstract:
Latar Belakang: Teknik Microautologous Fat Transplantation (MAFT) merupakan sebuah metode yang relatif baru untuk memindahkan lemak dari lokasi tubuh tertentu ke lokasi tubuh yang diinginkan dengan suatu alat khusus. Teknik transfer lemak sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1893 namun terkendala dengan masih banyaknya lemak yang diresorpsi sehingga memerlukan beberapa kali tindakan ulangan. Teknik Microatutologus Fat Transplantation menggunakan MAFT Gun pertama kali dilakukan oleh Lin et al. pada tahun 2006. Teknik ini telah menunjukkan hasil yang baik dalam bidang estetik maupun rekonstruksi menggantikan teknik dermofat graft yang bersifat lebih invasive. Deformitas pada wajah akibat dari hilangnya sejumlah volume lemak dapat diatasi dengan MAFT Gun yang bersifat minimal invasif. Pada tulisan ini dilaporkan satu kasus penanganan deformitas maksilofasial pasca reposisi dan fiksasi fraktur tulang wajah dengan Microautologous Fat Transplantation sebagai salah satu modalitas. Pasien dan Metode: Jaringan lemak diambil dengan spuit 60 cc tekanan negatif kemudian dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit untuk memisahkan komponen lemak dan plasma. Lapisan lemak murni selanjutnya ditransplantasikan pada area wajah menggunakan MAFT Gun di bawah mata 3.5 ml, pipi 20.5 ml, dagu 3 ml, dan pelipis 1 ml. Hasil: Lama tindakan 2 jam 30 menit, prosedur anestesi sedasi sedang dan blok nervus infraorbitalis, nervus mentalis, dan nervus supraorbitalis, dan nervus supratrochealis ipsilateral. Deformitas dapat teratasi, longterm follow up 3 bulan pasca operasi tidak banyak jaringan lemak yang diresorpsi, sehingga penampilan masih baik. Kesimpulan: Teknik MAFT Gun merupakan prosedur yang efektif untuk memperbaiki kontur wajah, peremajaan wajah, memperbaiki area yang cekung, dan mengembalikan volume termasuk mengoreksi deformitas wajah akibat fraktur maksilofasial pasca reposisi fraktur maksilofasial yang kurang sempurna. Prosedur yang dilakukan relatif tidak invasif. Jaringan lemak dapat diambil dari berbagai area tubuh yang memiliki jaringan lemak berlebih. Menggunakan MAFT Gun yang telah tersertifikasi, proses transfer lemak dapat dilakukan secara akurat dan konsisten. Hasil MAFT cukup memuaskan bagi pasien, sehingga memungkinkan prosedur MAFT menjadi alternatif solusi untuk mengoreksi deformitas maksilofasial pasca reposisi dan fiksasi yang mungkin hanya memerlukan tindakan touch up satu sampai dua kali saja
Iswinarno Doso Saputro
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 6, pp 51-55; https://doi.org/10.20473/jre.v6i2.31833

Abstract:
Macrostomia adalah kelainan kongenital yang jarang terjadi, biasanya disertai kelainan lain. Kelainan ini diperkirakan terjadi pada 1 dari 80.000 kelahiran. Beberapa literatur telah menjelaskan tehnik operasi rekontruksi macrostomia, meski emikian belum ada satu standart operasi yang rekomendasikan, setiap tehnik memiliki kelebihan dan kekurangan. Penulis melaporkan satu kasus operasi rekontruksi macrostomia dengan menggunakan tehnik Kaplan untuk comisuroplaty, otot dijahitkan secara overlapping serta menggunakan Zplasty untuk penutupan kulit
Fonny Josh, Asrul Mappiwali, Tommy Hermawan Sukamto
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 6, pp 56-64; https://doi.org/10.20473/jre.v6i2.31834

Abstract:
Latar belakang : Karsinoma Sel Basal atau Basal Cell Carcinoma (BCC) merupakan keganasan kulit yang paling sering pada manusia. Keganasan ini menyumbang sekitar 75% dari semua kanker kulit non melanoma (NMSCs). Terdapat sekitar satu juta kasus baru terdiagnosis setiap tahun dengan lebih dari 10.000 kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasis kasus karsinoma sel basal di Makassar. Methode : Penelitian bersifat deskriptif retrospektif dengan mengevaluasi kasus karsinoma sel basal dari Januari 2017 sampai Desember 2019. Data diperoleh dari rekam medis pasien di RS Wahidin sudirohusodo, Universitas Hasanuddin dan Ibnu Sina, Makassar. Digunakan metode total sampling. Data kemudian dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Hasil : Dari 49 kasus karsinoma sel basal (BCC) mayoritas terjadi pada perempuan (67,3%). Rata-rata usia pasien adalah 60 tahun. Insiden terbanyak pada kelompok usia 41 - 60 tahun (51%). Predileksi tersering di daerah nasal (30,6%) dan tipe histopatologi terbanyak adalah tipe nodular (53,1%) dan yang paling sedikit adalah tipe morpheaform (2,4%). Mayoritas pasien menjalani bedah eksisi (85,7%). Kasus metastasis jarang terjadi, hanya diamati pada lima kasus. Dua kasus (4,1%) bermetastasis ke paru dan satu kasus (2%) bermetastasi ke hepar. Kebanyakan kasus karsinoma sel basal tidak rekuren (81,6%). Kesimpulan : Predileksi karsinoma sel basal tersering adalah di daerah nasal dengan tipe histopatologi terbanyak adalah tipe nodular. Mayoritas pasien menjalani bedah eksisi. Kasus metastasis jarang terjadi dan kebanyakan kasus karsinoma sel basal tidak rekuren.
Naufal Agus Isamahendra, Lynda Hariani, Dwi Murtiastutik
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 6, pp 65-71; https://doi.org/10.20473/jre.v6i2.31835

Abstract:
Latar Belakang: Luka bakar adalah cedera pada kulit atau jaringan organik lainnya yang disebabkan oleh panas, radiasi, zat radioaktif, listrik, gesekan atau kontak dengan bahan kimia. Cedera pada saluran pernapasan akibat inhalasi asap, juga dianggap sebagai luka bakar (WHO, 2018). Bagian tubuh yang mengalami luka bakar akan vasodilatasi akibat adanya stimulus mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel endotel, platelet dan leukosit yang rusak, mengakibatkan peningkatan tekanan hidrostatik kapiler yang menyebabkan meningkatnya permeabilitas membran kapiler. Keadaan ini membuat cairan dan elektrolit di intravaskuler keluar ke ekstravaskuler. Albumin juga ikut keluar ke ekstraseluler pada proses ini, sehingga terjadi hipoalbuminemia. Hipoalbuminemia adalah kondisi dimana kadar albumin dalam darah berada dibawah 3,5 g/dl, sedangkan kadar normal albumin normal dalam darah adalah 3,8-5,0 g/dl. Berdasarkan Formularium Nasional sesuai Kepmenkes 2017 perihal pembatasan pemberian albumin infus yang didukung oleh JKN-KIS, ditetapkan bahwa pasien luka bakar diberikan transfusi human albumin bila kadar albumin kurang 2,5 g/dl. Diperlukan adanya solusi untuk peningkatan kadar albumin selain melalui transfusi, dengan syarat alternatif transfusi albumin ini diharapkan lebih hemat dan efisien dibandingkan dengan albumin transfusi yang terkenal mahal. Ekstrak Channa striata merupakan sebuah produk baru yang diharapkan dapat menjadi alternatif albumin transfusi ini. Tujuan: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah pemberian kapsul ekstrak Channa striata dapat meningkatkan kadar albumin dalam darah pada kasus luka bakar. Metode: Metode penelitian ini menggunakan metode systematical review dengan mengambil jurnal melalui Google Scholer, PubMed dan ScienceDirect. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah kapsul ekstrak Channa striata dapat meningkatkan kadar albumin dalam tubuh serta mempercepat penyembuhan luka pasien luka bakar. Kapsul ekstrak Channa striata biasanya diberikan sebagai suplementasi bersama bahan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien. Penelitian yang saya temukan selain membuktikan efek kapsul ekstrak Channa striata terhadap kadar albumin juga memberikan hasil lain mengenai pemberian ekstrak Channa striata pada luka bakar yaitu penurunan kadar MDA serum dan meningkatkan balans nitrogen ke arah positif.
Marelno Zakanito, Iswinarno Saputro
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 4, pp 52-57; https://doi.org/10.20473/jre.v4i2.28220

Abstract:
Introduction: Klebsiella pneumoniae necrotizing fasciitis is an uncommon soft tissue infection characterized by rapidly progressing necrosis involving the skin, subcutaneous tissue, and fascia. This condition may result in gross morbidity and mortality if not treated in its early stages. In fact, the mortality rate of this condition is high, ranging from 25 to 35%. We present a case of 7-month-old male with K. pneumoniae necrotizing fasciitis of the lower extremity. Materials and Methods: A 7-month-old male presented with large areas over both left and right inferior side of the lower limbs to the emergency department of Dr. Soetomo Academic Medical Center Hospital, Surabaya, Indonesia. Physical examination revealed elevated heart rate of 136 times per minute and increased body temperature of 38oC. The large areas on both lower limbs were darkened, sloughed off, and very tender to palpation. A small area over the right hand was erythematous and sloughed off. Laboratory evaluation demonstrated decreased hemoglobin of 6.2 g/dL and elevated leukocyte of 28,850 g/dL. Blood cultures demonstrated that K. pneumoniae was present. Discussion: NF is usually hard to diagnose during the initial period. The findings of NF can overlap with other soft tissue infections including cellulitis, abscess or even compartment syndrome. However, pain out of proportion to the degree of skin involvement and signs of systemic shock should alert the clinical to the possibility of NF. The clinical manifestations of NF start around a week after the initiating event, with induration and edema, followed by 24 to 48 hours later by erythema or purple discoloration and increasing local fever In the next 48 to 72 hours, the skin turns smooth, bright, and serous, or hemorrhagic blisters develop. If unproperly treated, necrosis develops, and by the fifth or sixth day, the lesion turns black with a necrotic crust. Conclusions: K. pneumoniae necrotizing fasciitis is a rare but lifethreatening disease. A high index of suspicion is required for early diagnosis and treatment of this condition
Ciptomurti Lupitasari, Lobredia Zarasade, Magda Hutagalung
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 4, pp 71-77; https://doi.org/10.20473/jre.v4i2.28222

Abstract:
Background : Constricted head or cloverleaf deformity in Crouzon syndrome is a severe form of the syndrome involving trilobed coronal and lambdoid synostosis. Crouzon syndrome with acanthosis nigricans is distinct from the classic Crouzon syndrome, characterized by thick and dark skin in body folds. The major problems resulting from constricted head are related to craniostenosis, orbitostenosis developing from abnormalities of the skull base associated with progressive rise in intracranial and intraorbital pressures which could progress to hydrocephalus and cerebellar herniation. Case: Two cases with severe Crouzon syndrome were reported. The first was a five month old girl associated with acanthosis nigricans and the other was a sixteen month old boy, both whose phenotypic expressions were at the extreme severe end of the disease spectrum. On examination there was serious corneal exposure, visual loss, severely narrow head, midface hypoplasia, and beaked nose. CT scan showed typical cloverleaf skull, expanded middle cranial fossa, foreshortened anterior and posterior fossae and honeycomb appearance in the occiput involving pansutural synostosis and extensive copper beaten deformity from the high intracranial pressure . Both were complicated with hydrocephalus requiring ventriculoperitoneal shunt. This required an arduous effort in releasing the brain from the multiply punctured calvaria, avoiding excessive dural tear and bleeding and ultimately preserving the brain. Excessive bleeding was also caused by the raised ICP. Both patients are planned to undergo occipital expansion three months later. Conclusion: Severely constricted head in Crouzon syndrome is an extreme manifestation and late stage of the syndrome which not only will result in irreversible complication but will require meticulous surgical technique.
Muhammad Taufik, Muhammad Jailani
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 4, pp 78-88; https://doi.org/10.20473/jre.v4i2.28223

Abstract:
Introduction: Cleft Lip and Palate (CLP) is a congenital abnormality in the form of gaps in the lips, gums and palate. This disorder occurs due to a disruption in the first trimester of pregnancy that causes disruption of the process of fetal growth and development. Surgical techniques for reconstructive surgery vary greatly, but labioplasty using a modified millard technique with premaxillary shortening is a technique that we used in this study with the aim of premaxilla shortening to reduce the tension of the suture wound and will reduce the scar formed in Bilateral labioplasty after surgery. Method: This research is a cohort with a retrospective approach conducted on labioplasty patients at Malahayati Hospital in Banda Aceh, which was handled in the period of 2016 - 2019. The sample amounted to 23 respondents who will be analyzed using the frequency distribution table. Results: From the results of the study found male sex as much as 60.9%, the age of patients in the age group 2 years and over as much as 69.6%, 6-9 months evaluation time as much as 87.0%, the diagnosis of complete bilateral labioplasty as much as 65.2% and good outcome in bil ateral labioplasty using modified millard technique with premaxilla shortening as much as 73.9% Conclusion: From the overall it can be concluded that the majority of male sex is the most, the highest in the age group 2 years and above, the most evaluation time is 6-9 months, the most common diagnosis is complete bilateral labiolasty and the most results on bilateral labioplasty using modified millard techniques with premaxillary shortening is good outcome.
Muhammad Ikhsan, Agus Budi, Ira Handriani
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 6, pp 25-33; https://doi.org/10.20473/jre.v6i1.28229

Abstract:
Latar belakang: Hemangioma infantil merupakan tumor yang banyak ditemukan pada anak-anak. Di Indonesia sendiri, data mengenai faktor risiko hemangioma infantil ini masih belum terdokumentasikan dengan baik. Namun dengan adanya data demografis, faktor-faktor prenatal dan perinatal pada pasien hemangioma infantil dapat membantu klinisi untuk mendalami patogenesis kelainan ini dengan lebih baik. Diharapkan dalam penelitian ini, adanya data demografis ini dapat membantu peneliti lainnya untuk melakukan analisis lebih lanjut mengenai patogenesis, diagnosis, tatalaksana, maupun luaran pasien dengan hemangioma infantil.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi case control. Sebanyak 67 subyek hemangioma infantil dan 134 subyek hemangioma non infantil diambil dari data rekam medis. Kemudian data diolah dan disajikan untuk melihat angka kejadian dan presentase antar faktor resiko terhadap kejadian hemangioma infantil. Data yang diambil yaitu jenis kelamin pasien, berat badan, usia ibu saat hamil, usia kehamilan saat melahirkan, riwayat multipel gestasi, riwayat penggunaan obat-obatan saat kehamilan dan riwayat keluarga dengan hemangioma infantil. Kemudian dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan program spreadsheet Microsoft Excel SPSS 21.Hasil: Faktor resiko ibu yang berusia antara 22-30 tahun untuk melahirkan anak dengan hemangioma infantil 4,257 kali lebih besar dibandingkan dengan usia ibu kurang dari 22 tahun. Faktor resiko ibu yang berusia lebih dari 30 tahun untuk melahirkan anak dengan hemangioma infantil 9,960 kali lebih besar dibandingkan dengan usia ibu kurang dari 22 tahun. Faktor resiko pasien dengan adanya riwayat keluarga dengan hemangioma memiliki resiko 14,175 kali lebih besar dari pada yang tidak memiliki riwayat hemangioma infantil atau kelainan vaskular di keluarga. Faktor resiko penggunaan obat prekonsepsi selama kehamilan memiliki resiko 4,914 kali lipat daripada yang tidak menggunakan obat prekonsepsi selama kehamilan. Kesimpulan. Hemangioma infantil lebih sering terjadi pada perempuan dengan rata-rata berat badan lahir cukup. Paling banyak terjadi pada ras Melayu dibandingkan dengan ras Cina. Tidak adanya hubungan antara riwayat multipel gestasi dengan kejadian hemangioma infantil. Resiko ibu yang berusia 22-30 tahun untuk melahirkan anak dengan hemangioma infantil lebih besar dibandingkan dengan usia ibu kurang dari 22 tahun, dan usia ibu lebih dari 30 tahun memiliki faktor resiko lebih tinggi dibandingkan dengan usia ibu kurang dari 22 tahun. Adanya riwayat keluarga dengan hemangioma infantil memiliki resiko lebih besar daripada yang tidak. Penggunaan obat-obatan selama kehamilan memiliki resiko terjadinya hemangioma infantil daripada yang tidak.
Lobredia Zarasade, Magda Hutagalung, Iswinarno Saputro, Nadia Putri
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Volume 6, pp 14-19; https://doi.org/10.20473/jre.v6i1.28227

Abstract:
Pendahuluan. Kehilangan kulit yang terlalu luas perlu jaringan penutup untuk mengatasinya, salah satu pilihan untuk menutup luka tersebut dengan melakukan tindakan skin grafting. Berdasarkan data IRJ Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik RSUD Dr. Soetomo dalam 1 tahun (2017-2018) didapatkan pada 26 dari 50 kasus donor skin graft mengalami penyembuhan yang lebih dari waktu penyembuhan normal. Metode penyembuhan luka telah mengalami perkembangan beberapa tahun terakhir, salah satunya mulai dikenal peran platelet-rich fibrin (PRF).Metode. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain meta-analisis yang bersifat kuantitatif. Sumber data dari penelitian ini melalui penelusuran literatur di pencarian elektronik dengan menggunakan keyword pencarian literature. Database yang digunakan adalah Medline dan Pubmed antara tahun 2005-2020.Hasil. Seleksi literatur didapatkan 5 studi, dengan 3 studi subjek menggunakan donor split thickness skin graft dan 2 studi menggunakan donor free gingival graft. Dalam 3 studi menyebutkan pemberian platelet-rich fibrin (PRF) dapat mempercepat waktu penyembuhan dan epitelisasi. Hasil meta analisis menunjukkan tidak ada perbedaan antara kelompok pemberian platelet-rich fibrin (PRF) dan kelompok kontrol dalam proses epitelisasi pada donor skin graft (summary effect 1.30, 95% CI -0.42 – 3.02). Kesimpulan. Bukti - bukti preklinik berdasarkan studi meta-analisis ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan terhadap pemberian platelet-rich fibrin (PRF) pada donor skin graft dalam kecepatan epitelisasi
Back to Top Top