Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf

Journal Information
ISSN / EISSN : 2442-5907 / 2797-2585
Total articles ≅ 48
Filter:

Latest articles in this journal

Agung Mandiro
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 139-154; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i2.349

Abstract:
Ulama adalah seorang tokoh yang mengerti tentang ilmu agama Islam. Posisinya yang mulia itu seringkali dijadikan alat bagi setan untuk membelokkan niatan baiknya sebagai tokoh agama. Pada akhirnya, ada sebagian di antara mereka yang terjebak ke dalam perbuatan-perbuatan yang merusak nama baiknya. Artikel ini akan membahas tentang problematika ulama dengan menggunakan metode penelitian kualitatif library-research. Kesimpulan artikel ini ada dua yaitu problematika dari segi internal dan eksternal. Problematika dari sisi internal adalah mereka memiliki penghasilan yang tidak jelas sehingga menyebabkan iri kepada orang lain; memiliki kesombongan ilmu agama sehingga rentan ‘ujub; cita-cita terlalu tinggi namun keadaannya tidak mendukung; kurang ikhlas dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, perselisihan antara d}uriyah dan merasa tidak membutuhkan orang lain. Sedangkan problematika dari segi eksternal adalah mereka yang menggunakan metode dakwah kurang tepat seperti Salafi-Wahabi; Ulama yang mengikuti kehendak fans-nya; Ulama yang taat buta kepada pemerintah sehingga fatwa-fatwanya kurang memperhatikan kebutuhan rakyat dan ulama agama yang berfatwa dalam bidang ilmu di luar keahliannya. Sedangkan ulama su>’ menurut al-Ghaza>li> adalah orang-orang yang mengerti ilmu agama akan tetapi menjadikan dunia sebagai tujuanya; mereka bodoh kepada Allah tetapi merasa pandai; mereka hanya fokus pada amaliyah lahir tanpa mengupayakan amaliyah batin. Sementara yang dimaksud dengan ulama pewaris para nabi adalah mereka yang memiliki ilmu agama, takut kepada Allah, zuhud, membela hak-hak kaum yang lemah dan telah mencapai umur empat puluh tahun.
Ahmad Khoiri, Thoriqul Aziz
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 155-171; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i2.348

Abstract:
Upacara pernikahan adat Jawa memiliki makna filosofis yang unik dan layak untuk dijadikan renungan bagi kedua mempelai saat menikah. Uborampe dan prosesi temu manten di Jawa bukanlah pepaes tanpa makna. Tetapi prosesi itu memiliki makna mendalam dan luhur yang jarang diketahui orang. Artikel ini membahas tentang makna filosofis uborampe dan prosesi pernikahan Jawa. Penelitian ini menggunakan gabungan antara field-research dengan library research. Hasil penelitian ini ada dua, yaitu makna filosofis dari prosesi acara dan makna filosofis dari uborampe yang digunakan pada saat acara tersebut. Pertama, makna filosofis dari prosesi yaitu: Asraqal adalah sambutan bagi calon pemimpin baru atau raja baru. Balangan suruh menandakan orang yang dituju dengan ketulusan niat; menginjak telur memiliki makna ‘memecah keperawanan’ supaya memiliki anak; mencuci kaki suami memiliki makna kesucian lahir batin dan membawa nama harum keluarga; berjabat tangan menyilang sebagai simbol ikatan yang kuat. Diberi minum air kendi memberikan makna supaya selalu ingat kepada yang memberi penghidupan; sembah sungkem memberikan makna minta restu kepada orang tua; dahar kembul memiliki makna dinikmati bersama apapun pahit-manisnya hidup. Kacar-kucur memiliki makna suami harus bisa memenuhi kebutuhan lahir batin istrinya. Sedangkan makna filosofis dari uborampe yang identik dalam upacara temu manten adalah gedang rojo memiliki makna sebagai raja; kembar mayang memiliki makna selaras nan indah dari lika-liku kehidupan; bentuk burung dalam kembar mayang memiliki makna jangkauan luas dan kesetiaan; bentuk keris menandakan bahwa pengantin pria mampu melindungi diri dan keluarganya; bentuk walang sebagai simbol agar tidak terjadi halangan; bentuk uler-uleran sebagai simbol adanya hama dalam kehidupan; bentuk payung sebagai simbol melindungi dan mengayomi; daun pohon beringin sebagai simbol rindang dan sejuk. Buah-buahan di kwade sebagai simbol matang dan siap santap. Cengkir yang berada di depan pintu gerbang rumah menandakan sang pengantin sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga. Bunga melati yang dikenakan pengantin wanita sebagai simbol kesucian dan keperawanan; dan sajen memiliki simbol ‘damai’ dengan siapapun yang akan mengganggu.
Farikhul Anwar
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 120-138; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i2.343

Abstract:
Umat Islam meyakini doa yang terbaik adalah bersumber dari al-Qur’an. Di dalamnya ada banyak contoh doa para nabi yang diabadikan. Artikel ini membahas tentang doa para nabi yang diabadikan al-Qur’an dengan metode tematik serta diurutkan dengan pendekatan naratologi al-Qur’an. Pembatasan dalam penelitian ini hanya menjelaskan doa yang dipanjatkan oleh tujuh nabi yaitu Adam, Nu>h}, Hu>d, S{a>lih}, Ibra>hi>m, Lu>t} dan Isma>‘i>l. Hasil penelitian ini adalah nabi Adam berdoa dalam masalah menyesali kesalahan dan memohon ampunan Allah. Nabu Nu>h} memohon kepada Allah supaya keluarganya diselamatkan dari banjir bandang. Ia juga yang mengajarkan tata cara berdoa saat akan naik perahu atau kendaraan. Nabi Nu>h} juga memohon supaya orang-orang kafir itu dimusnahkan karena mereka akan menyesatkan umat manusia. Nabi Hu>d memohon kepada Allah dalam persoalan berserah diri dan meminta keselamatan dari ancaman kaumnya. Nabi S{a>lih berharap supaya kaumnya meninggalkan sesembahan apapun selain Allah. Nabi Ibra>hi>m memohon kepada Allah supaya negeri Mekah aman sentosa, penduduknya dikarunia banyak rezeki dan buah-buahan, umat manusia condong kepadanya dan istiqamah di dalam menjalankan syariat agama. Nabi Lu>t} memohon kepada Allah supaya diri, keluarga dan pengikutnya ditolong oleh Allah karena mereka akan diusir dari tempat tinggal mereka. Sedangkan nabi Isma>‘i>l berdoa dalam persoalan berserah diri kepada Allah dan bersabar.
Umi Shofi’Atun
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 189-203; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i2.347

Abstract:
Pernikahan merupakan salah satu ibadah dalam agama Islam, yang juga merupakan Sunah Rasulullah SAW. Dalam pelaksanaannya masing-masing suku memiliki adat istiadat tersendiri. Adat Jawa dalam pelaksanaan pernikahan salah satunya yaitu menghitung hari lahir atau yang disebut weton, dimana weton ini menentukan ramalan nasib masadepan keluarganya kelak. Metode Penelitian: Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi kasus. Variabel penelitian yaitu Perhitungan Weton dalam Pernikahan Jawa Menurut Pandangan Islam (Studi Kasus di Desa Kendalrejo Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk). Sumber data primer diperoleh dari lokasi penelitian yaitu Desa Kendalrejo, sekunder diperoleh dari dokumen dan artikel yang terkait dengan penelitian ini. Dengan metode pengumpulan data penulis menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi.Hasil Penelitian: 1. Praktek penghitungan weton di desa kendalrejo menggunakan kalender jawa dengan didasari istilah nama satuan weton, 2. Alasan masyarakat menggunakan tradisi weton adalah melestarikan adat dan budaya yang turun temurun dari nenek moyang, 3. Respon pemuka agama menggunakan weton adalah bentuk hormat melestarikan adat dan tradisi yang turun temurun dari para leluhur.
Nur Rotul Kiptiyah
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 101-119; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i2.300

Abstract:
Sebagai generasi muda, kita tidak hanya meneladani para pahlawan yang telah perjuang dan mendahului kita untuk menghadap Sang Pencipta, akan tetapi juga harus tahu tentang perjalan hidup mereka. Skripsi ini hadir untuk menjawab kegelisahan penulis akan hal tersebut. Terutama tentang sosok pemimpin yang menjadi cikal-bakal Kabupaten Nganjuk. Tidak hanya sekedar menjadi pemimpin, Raden Tumenggung Sosrokusumo I (Kanjeng Jimat) juga dikenal oleh masyarakat sekitar dengan karamah yang dimiliki. Tentu saja hal tersebut menjadi nilai lebih beliau sebagai pemimpin. Metode penelitian di dalam hal ini menggunakan kualitatif field research. Pola Penelitian Deskriptif dan Studi Kasus dengan pendekatan kualitatif. Variabel Penelitian: tunggal yaitu Karamah Raden Tumenggung Sosrokusumo I. Sumber Data: 1. Primer: Keluarga, dan Takmir Masjid; 2. Sekunder: Dokumentasi serta Arsip-arsip. Metode dan Instrumen Pengumpuan Data: Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Hasil Penelitian: 1. Raden Tumenggung Sosrokusumo I (Kanjeng Jimat) masih memiliki garis keturunan dengan Raja Bima, kemudian Raja Bima memiliki 2 orang putra; yaitu kraeng Nobo dan Kareng Galongsong. Kraeng Nobo mengganti namanya menjadi Kyai Ageng Sulaiman. Dari Kyai Ageng Sulaiman lahirlah Kyai Honggoyudo dan berputra Raden Tumenggung Sosronegoro. Dari Raden Tumenggung Sosronegoro inilah kemudian lahir Raden Tumenggung Sosrokusumo I yang menjadi Bupati Nganjuk Pertama. 2. Raden Tumenggung Sosrokusumo I (Kanjeng Jimat) merupakan putra dari bupati Grobogan yang diutus untuk menjadi pemimpin di Daerah Berbek kala itu dan menjadi cikal bakal pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Berkat kegigihanyya juga, agama islam semakin tersebar dan berkembang di Daerah Berbek. 3. Selama bertempat tinggal di Nganjuk, terutama daerah Berbek Raden Tumenggung Sosrokusumo I (Kanjeng jimat) banyak terjadi hal-hal yang tak terduga atau karamah.
Mustakim Mustakim
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 172-188; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i2.342

Abstract:
Javanese people have a lot of cultures that have become extinct or are rarely practiced by them population nowdays, one of which is the slametan metri. This research was conducted from 1998 to 2019 in the Ngelgok, Kranding, Mojo, Kediri. It is long duration of the study because most people did not preserve slametan. The momentum does not always occur each year or month. Thereforethe researcher used the anthropology-insider approach to find the right and complete conclusions from 1998 to 2019. The results of this research are six types of metri. First, metri to people who migrate. Second, metri to people getting disaster. Third, metri to people getting nightmare. Fourth, metri to people buying a new vehicle. Fifth, metri to people getting position and sixth, weton metri.
ZiadA Hilmi
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 14-36; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i1.167

Abstract:
Sudah sepatutnya sebagai umat muslim untuk mengkritisi isi dalam Al-Qur’an. Terlebih dengan zaman yang sudah sangat canggih. Dalam kitab Allah yaitu Al-Qur’an menyimpan pesan-pesan melewati perumpamaan, salah satunya virus. Virus adalah makluk Allah yang sangat ekslusif yang Allah ciptakan sebagai tamthi>l ( perumpamaan) seperti yang ada di dalam Al-Baqarah ayat 26. Penulis mengkaji secara konteksual dan menemukan fakta-fakta unik. Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang menarik untuk di kaji lebih dalam. Terutama ayat tentang virus. Penelitian ini menggunakan metode komparasi, mengkaji penafsiran ulama klasik dan kontemporer yaitu Fakhr al-Ra>ziy dan Buya Hamka. Hasil penelitian ini menunjukan: Pertama, al-Ra>ziy menafsirkan ba‘u>d}atan fama> fawqaha> disebut sebagai nyamuk atau yang lebih kecil dari pada itu. Sedangkan Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar berpendapat bahwa ba‘u>d}atan fama> fawqaha> itu nyamuk atau lebih kecil. Jadi kedua mufasir sepakat bahwa ba‘u>d}atan fama> fawqaha> adalah nyamuk atau bisa disebut juga dengan virus. Kedua, makhluk yang dianggap remeh ternyata dapat menunjukan kekuasaan Allah yang begitu besar. Ketiga, jangan pernah meremahkan hal-hal kecil bisa jadi berdampak yang sangat luar biasa, seperti covid-19. Dengan adanya ini seharusnya manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sri Lestari, Bowo Cahyono
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 37-50; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i1.168

Abstract:
Al-Qur’an adalah kitab pedoman umat Islam. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang memberikan kode untuk ditelusuri lebih lanjut dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah psikologi. Metode penelitian di dalam hal ini adalah kualitatif library research dengan pendekatan psikologi. Kesimpulan artikel ini adalah surah al-A‘ra>f [7]:34 menggambarkan psikologis manusia senantiasa menghindari kematian; Surah Yu>nus [10]:12 menggambarkan bahwa pada saat manusia mengalami kesulitan, mereka akan mendekat kepada Tuhan. Sedangkan pada saat mereka dalam keadaan lapang, mereka lupa saat-saat sulit itu. Surah Yu>suf [12]:63 menggambarkan psikologis manusia bahwa pada saat mereka mengharapkan sesuatu dari orang lain, mereka akan sok akrab kepadanya. Sedangkan kondisi sebaliknya dijelaskan di dalam surah Yu>suf [12]:81, yaitu pada saat orang lain itu terkena musibah, ia sok tidak kenal; Psikologis orang yang cinta dijelaskan di dalam surah T{a>ha> [20]:17-18 yang menggambarkan sosok Mu>sa yang ingin berlama-lama munajat dengan Allah. Surah al-Ah}za>b [33]:10 menggambarkan kondisi psikologis orang yang dikepung musuh yaitu hati mereka menyesak ke tenggorokan. Sedangkan surah ‘Abasa [80]:38-42 menggambarkan psikis orang yang mendapatkan kebahagiaan dan mendapatkan kesedihan.
Firsa Asa, M. Luqman Hakim
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 69-80; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i1.165

Abstract:
Mentaati perintah Allah dan Rasul adalah sebuah kewajiban setiap muslim. Namun dalam ranah sosial, kewajiban ibadah tersebut jangan sampai melanggar hak-hak orang lain karena sesungguhnya perintah agama itu sangat lentur dan tidak mengabaikan aspek-aspek sosial. Dalam Islam, zikir merupakan printah al-Qur’an maupun hadis yang memiliki banyak manfaat, seperti menenangkan jiwa, menyembuhkan penyakit dan mengingat kematian. Zikir hukumnya sunnah, oleh karena itu tidak boleh bertentangan dengan yang wajib. Pemanfaatan sarana umum dalam interaksi sosial saat ini tidak bisa dihindari seperti ibadah di mushala pinggir jalan, SPBU, Mall, tempat rekreasi dan sebagainya. Semua pengunjung memiliki hak yang sama, oleh karena itu, zikir yang hukumnya sunnah tidak boleh mengalahkan antrian pengunjung yang akan shalat. Akibatnya, jika ada orang yang terlalu lama zikir sedangkan tempat shalatnya sempit, maka akan mengakibatkan orang lain kehilangan waktu. Solusi atas persoalan tersebut adalah menggantikan zikir auqa>t ke zikir sirri.
Abu Muslim
Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, Volume 7, pp 1-13; https://doi.org/10.53429/spiritualis.v7i1.164

Abstract:
Secara historis, Nabi melakukan pengajaran membaca al-Qur’an kepada sahabat dengan talaqqi untuk memudahkan dalam mempraktikan al-Qur’an yang di ucapkan oleh Nabi. Namun di era milineal seperti saat ini di SDIT Qurrota A’yun Ponorogo mempraktikan pengajaran al-Qur’an menggunakan metode talaqqi online, melalui video call aplikasi Imo dan Skype. Aplikasi ini bisa mempertemukan seseorang dilayar kaca handphone meski dalam tempat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan kajian living Qur’an, yang berusaha menampilkan pola sosial terhadap al-Qur’an. Fokus kajian dalam penelitian ini ada dua, yaitu: bagaimana motif talaqqi itu tetap terjadi? dan apa yang melatar belakangi pergeseran praktik tallaqi tersebut? Kesimpulan penelitian ini adalah: Pertama, di dasari oleh keyakinan bahwa para penghafal al-Qur’an memiliki derajat istimewa di sisi Allah. Selain itu, mereka juga berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang agung dan harus tetap dijaga. Kedua, pergeseran itu terjadi karena adanya kecanggihan teknologi yang merubah sebagian besar tatanan kehidupan, termasuk pendidikan al-Qur’an. Kendala geografis antara guru dan murid masih bisa ditolong dengan menggunakan aplikasi Imo dan Skype.
Back to Top Top