Komunitas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat

Journal Information
ISSN / EISSN : 2798-0855 / 2798-0766
Total articles ≅ 6
Filter:

Articles in this journal

Shanty Kartika Dewi, Ika Arinia Indriyany
Komunitas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Volume 1; https://doi.org/10.31506/komunitas:jpkm.v1i1.11675

Abstract:
AbstrakPengabdian Masyarakat ini dilakukan terhadap perundungan di Kota Serang. Sebagai Kota Layak Anak, tahun 2018, Kota Serang didukung dengan kebijakan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2015 tentang Kota Serang Layak Anak dan Peraturan Walikota Serang Nomor 47 Tahun 2017 tentang RAD Kota Layak Anak. Kegiatan pengabdian ini dilakukan di Kota Serang dengan bermitra dengan SDN Sumber Agung, Serang. Penting untuk memberikan penyadaran sejak dini agar anak – anak dapat menghindari perilaku perundungan. Dalam pengabdian ini, anak dijadikan sebagai subjek utama sehingga dia bisa berpartisipasi secara aktif dalam pencegahan pelaku maupun korban perundungan anak di sekolah. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah dengan metode dongeng untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran termasuk mendorong keterlibatan aktif selama proses diskusi. Selain itu dilakukan juga pendampingan dan konseling individu dalam rangka identifikasi masalah dan penyelesaian secara personal. Katakunci : dongeng, pencegahan, perundungan AbstractThis Community Service is carried out against bullying in Serang City. As a Child Friendly City, in 2018, Serang City was supported by the policy of Regional Regulation Number 6 of 2015 concerning Child Friendly City of Serang; and Serang Mayor's Regulation Number 47 of 2017 concerning Child Friendly City. This service activity was carried out in Serang City in partnership with SDN Sumber Agung, Serang. It is important to provide awareness from an early age so that children can avoid bullying behavior. In this service, children are used as the main subject so that they can participate actively in preventing perpetrators and victims of child bullying at school. The method used in this service is the fairy tale method to attract students' interest in learning including encouraging active involvement during the discussion process. In addition, individual assistance and counseling is also carried out in the context of problem identification and personal resolution. Keywords : bullying, fairy tales, prevention
Moh. Rizky Godjali, Wahyu Kartiko Utami, Gilang Ramadhan
Komunitas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Volume 1; https://doi.org/10.31506/komunitas:jpkm.v1i1.11665

Abstract:
AbstrakUndang-Undang nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik telah mengamanatkan kewajiban bagi penyelenggara untuk memenuhi komponen-komponen standar layanan. Kepatuhan terhadap standar pelayanan publik akan memberikan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan layanan. Standar pelayanan memberikan ketentuan tentang hak dan kewajiban bagi penerima dan pemberi/petugas layanan. Hasil identifikasi pada observasi awal dan diskusi tematik bersama perangkat pemerintah desa pada Desa Sindangsari dan Desa Pasir Karag, ditemukan sejumlah persoalan penting berkaitan dengan pelayanan publik di kantor desa. Pertama, ruang layanan yang belum ideal dan belum terbentuk terdiri dari ruang muka layanan (front office) dan ruang bagian dalam kantor (back office). Kedua, tidak tersedia komponen standar pelayanan publik pada ruang-ruang layanan di kantor kedua desa mitra. Ketiga, pemahaman dan kesadaran rendah bagi aparatur pemerintah desa mengenai standar pelayanan. Keempat, tingkat partisipasi warga yang rendah dalam perbaikan kualitas layanan di kantor desa. Wujud konkret dari program pengabdian pada masyarakat ini ialah membangun Model Kepatuhan Terhadap Standar Pelayanan Publik Berbasis Transparansi dan Partisipasi Warga pada kantor desa-desa mitra. Program nyata akan tertuang pada dua metode pendekatan. Pertama berupa program pembinaan bagi aparatur desa berbasis pelatihan dan praktek langsung. Kedua berupa pendampingan dalam penataan ruang layanan dan pemenuhan komponen standar pelayanan di kantor kedua desa mitra.Katakunci: Standar Pelayanan Publik, Good Governance, Pemerintahan Desa. AbstractThe rules number 25 of 2009 concerning Public Services has mandated the obligation for providers to fulfill the components of service standards. Compliance with public service standards will provide legal certainty for parties involved in service delivery. Service standards provide provisions regarding rights and obligations for recipients and service providers/officers. The identification results from initial observations and thematic discussions with village government officials in Sindangsari Village and Pasir Karag Village, found a number of important issues related to public services at the village office. First, the service room that is not yet ideal and has not yet been formed consists of the front office and the back office. Second, there is no standard component of public services in service rooms in the offices of the two partner villages. Third, low understanding and awareness of village government officials regarding service standards. Fourth, the low level of citizen participation in improving the quality of services at the village office. The concrete manifestation of this community service program is to build a Compliance Model with Public Service Standards Based on Transparency and Citizen Participation at the partner village offices. The real program will be contained in two approach methods. The first is in the form of a coaching program for village officials based on direct training and practice. The second is in the form of assistance in the arrangement of service spaces and the fulfillment of service standard components in the offices of the two partner villages.Keywords: Public Service Standard, Good Governance, Local Governance.
Bayu Nurrohman, Yeby Ma’Asan Mayrudin, M Dian Hikmawan
Komunitas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Volume 1; https://doi.org/10.31506/komunitas:jpkm.v1i1.11661

Abstract:
AbstrakPandemi Coronovirus Disease 2019 (Covid-19) belum menunjukkan angka penurunan yang signifikan, bahkan angka kematian terus meningkat baik secara global, nasional maupun lokal. Hal ini menjadi sangat krusial dan problematik di tengah penyebaran wabah Covid-19 yang massif diperlukan upaya kreatif dari para pemangku kepentingan khususnya pimpinan daerah dan pemerintahan lokal di desa. Sayangnya peran aktor formal dilihat belum optimal dikarenakan tersandung hambatan struktural dan keterbatasan sumberdaya. Meski demikian, aktivisme peran aktor non-pemeritahan baik secara individu maupun komunitas terlihat menunjukkan empati dan solidaritasnya terhadap warga yang terdampak wabah ini. Oleh sebab itu diperlukan suatu rancangan kolaborasi yang efektif untuk mendorong kerja sama antara aktor pemerintahan desa dengan warganya. Program pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk menggalang sinergi aparatur desa, pemangku kepentingan (unsur TNI dan Polri), aktor swasta, tokoh agama, tokoh adat dan utamanya pelibatan warga secara massif dalam pengelolaan mitigasi atas pandemi Covid-19. Program ini secara praktik akan pelaksanaan forum kolaborasi antar segenap elemen yang ada di level desa untuk mengajukan program taktis pencegahan dan pemetaan wabah Covid-19. Adapun kegiatannya di antaranya adalah pengadaan tenda untuk check point bagi warga yang hendak masuk dan keluar dari/ke Desa Pasir Karag dan Desa Sindangsari. Di samping itu, tim juga akan memfasilitasi pengadaan perangkat pendukung yang standar bagi operasi check point ini seperti masker, disinfektan, hand sanitizer, dan termometer pengecek suhu badan. Kata kunci : Kolaborasi, sinergi, covid-19 AbstractThe Coronovirus Disease 2019 (Covid-19) pandemic has not shown a significant decrease, in fact, the mortality rate continues to increase both globally, nationally and locally. This has become very crucial and problematic in the midst of the spread of the Covid-19 outbreak which is needed by the masses, which requires creative efforts from regional leadership and local government stakeholders in the village. Formal actors are seen as not optimal because they stumble upon structural obstacles and limited resources. However, the activism of the role of non-government actors, both individually and in the community, shows their empathy and solidarity with the residents affected by this epidemic. Therefore, an effective collaborative design is needed to encourage cooperation between village government actors and their citizens. This community service program aims to build synergy among village officials, TNI and Polri stakeholders, private actors, traditional leaders and the main involvement of massive citizens in mitigating management of the Covid-19 pandemic. In practice, this program will implement a collaborative forum between all elements at the village level to propose a tactical program for prevention and mapping of the Covid-19 outbreak. Activities include the provision of tents to check points for residents who enter and leave Pasir Karag and Sindangsari Villages. In addition, the team will also provide standard support equipment for check point operations such as masks, disinfectants, hand sanitizers, and thermometers for checking body temperature. Keywords : Collaborative, synergy, covid-19
Yearry Panji Setianto, Husnan Nurjuman, Uliviana Restu Handaningtias
Komunitas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Volume 1; https://doi.org/10.31506/komunitas:jpkm.v1i1.11676

Abstract:
AbstrakPenetrasi media online yang semakin masif, dapat dilihat secara positif jika diasumsikan bahwa medium ini dapat memberikan keleluasaan bagi masyarakat terutama remaja untuk memperoleh berbagai informasi terkait dengan kebutuhan mempelajari sesuatu yang baru atau belum diketahui, dalam hal ini kebutuhan informasi agama (religious need). Misalnya, untuk belajar membaca Al-Qur’an atau mengetahui hadis tertentu, Cukup dengan mengakses berbagai situs Islam maka pengguna media dapat belajar secara detail tentang ayat-ayat Al-Quran, Hadist, dan semacamnya. Selain itu, banyak juga dari warga masyarakat yang menggunakan media online dan media sosial sebagai sarana mereka untuk berdakwah, menyampaikan nilai-nilai Islam kepada publik secara luas. Akan tetapi, media tidak selamanya memberikan dampak yang positif bagi masyarakat, terutama bagi para generasi muda. Sejumlah riset klasik tentang efek media juga menegaskan bahwa terpaan media seringkali menjadi faktor yang mendorong perilaku negatif para remaja. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa remaja belum memiliki pemahaman yang memadai untuk menafsirkan informasi yang diperolehnya atau untuk mengkritisi informasi yang dicirikan sebagai “hate speech” serta menerimanya secara mentah kemudian menyebarluaskannya kepada remaja lainnya melalui media sosial. Perilaku berantai ini mendorong penyebaran pemahaman radikal. Hal inilah yang kemudian mendorong kegiatan pengabdian ini dilaksanakan, yaitu untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang memadai bagi remaja dalam membaca informasi yang diperolehnya melalui media sosial serta membantu remaja untuk memiliki kemampuan teknis dalam menganalisis ciri-ciri hate speech yang mungkin mereka temui. Katakunci : Literasi digital, Remaja, Konten keagamaan, Media sosial, Berita daring AbstractNew media has become more and more massive in terms of the users. Society has becoming more dependent on new media to interact, to inform, and to communicate about just anything. Youth is also a part of the society which grows dependent on new media to search information, in this context: religious content. For instance, if you want to know how to read the Qur'an or to know a certain Hadist, then you can type the keywords and all the information you need will just appear on your smartphone. A lot of people are also using social media to spread their belief. But, on the other hand social media has also provided an innate threat for teenagers and numerous researches has been conducted to show how new media effect on people, especially young people. One of the main reasons for this action is because young people tend to act impulsively without proper knowledge of the context and lead them to spread hate speech to others just based on misleading information. Therefore, this activity was aimed to help youth to have a proper knowledge on how to analyze text based on its context and how to identify misleading information before spreading it to other people. We also discussed with help in order to better understand their social media life and help them analyze their own behavior on using social media and identify hate speech they might encounter.Keywords : Digital literacy, Youth, Religious Content, Social Media, Online News
Puspita Asri Praceka
Komunitas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Volume 1; https://doi.org/10.31506/komunitas:jpkm.v1i1.11678

Abstract:
AbstrakPengabdian pada masyarakat ini dilakukan di satuan Pendidikan Anak Usia Dini. Guru PAUD menjadi salahsatu kelompok yang terdampak merebaknya Covid-19 di Indonesia pada Maret 2020. Guru harus menyiapkan pembelajaran baik secara synchronous maupun asynchronous kepada anak didik dengan tetap memperhatikan unsur menarik dalam materinya. Kurangnya pengetahuan guru terhadap cara pembuatan bahan ajar dalam format audio visual menjadi dasar pemikiran mengapa pengabdian masyarakat ini dilakuan. Subjek dari program ini adalah guru-guru di TK Tunas Insan Kamil. Metode yang digunakan dalam program ini adalah pendampingan menyelurh dari mulai konsep komunikasi efektif, format gambar, pengambilan video sampai editing dengan software sederhana.Kata Kunci : Bahan Ajar, PAUD, video AbstractThis community service is carried out in the Early Childhood Education unit. PAUD teachers are one of the groups affected by the outbreak of Covid-19 in Indonesia in March 2020. Teachers must prepare both synchronous and asynchronous learning for students while still paying attention to interesting elements in the material. The teacher's lack of knowledge on how to make teaching materials in audio-visual format is the rationale for why this community service is carried out. The subjects of this program are teachers at Tunas Insan Kamil Kindergarten. The method used in this program is comprehensive assistance from the concept of effective communication, image formats, video capture to editing with simple software.Keywords: Teaching Materials, PAUD, video
Darwis Sagita, Burhanudin Mujtaba, Rahmi Winangsih
Komunitas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Volume 1; https://doi.org/10.31506/komunitas:jpkm.v1i1.11674

Abstract:
Abstrak Peran Komunikasi orang tua dalam berinteraksi dengan keluarga menjadi sangat penting, karena pada dasarnya komunikasi merupakan hal sangat penting bagi pembentukan dan pengembangan pribadi seorang individu dalam melakukan kontak sosial. Pendekatan komunikasi menjadi hal penting dalam menjaga interaksi dengan anak. Proses belajar melalui adaptasi dan interaksi dapat membentuk konsep diri seseorang dipengaruhi lingkungannya. Komunikasi Ibu muslimah pada anak, dalam prosesnya sedang dihadapkan pada sebuah tantangan besar. Ketika masyarakat dunia sedang berusaha bertahan melawan wabah penyakit berupa virus bernama Corona (belakangan disebut COVID-19). Salah satu dampaknya pada dunia pendidikan harus mengambil kebijakan belajar di rumah. Konsep belajar di rumah pada umumnya dilakukan sekolah dengan cara belajar melalui fasilitas daring. Dengan kondisi seperti ini tentu peran orang tua sangat berarti dalam pendidikan anak di masa belajar di rumah. Berdasarkan permasalahan tersebut, tim Pengabdian Pada Masyarakat UNTIRTA ikut aktif memberikan solusi terkait peran komunikasi ibu sebagai Ibu muslimah dalam kegiatan Belajar di Rumah selama masa pandemi COVID-19. Dengan membuat target kegiatan (1) Membantu menciptakan ketentraman, dan kenyamanan dengan memberi pemahaman tentang urgensinya peran Ibu Muslimah pada kegiatan Belajar di Rumah. (2) Meningkatkan keterampilan berpikir, membaca dan menulis atau keterampilan lain dibutuhkan Ibu Muslimah pada kegiatan Belajar di Rumah. Metode penyampaian melalui teknik penyampaian materi tentang model komunikasi efektif dengan pesan keagamaan dan Focus Group Discussion (FGD). Selain peran tim pengusul sebagai pemateri ahli dari aspek komunikasi efektif, kedua sesi ini juga akan melibatkan pakar keagamaan Islam yaitu seorang Ustadz, demi memberi rujukan dalil-dalil keagamaan.Kata kunci : Ibu Muslimah, Komunikasi orang tua, pandemi Covid-19, belajar daring Abstract The role of parental communication in interacting with the family is very important, because basically communication is very important for the formation and personal development of an individual in making social contacts. The communication approach is important in maintaining interaction with children. The learning process through adaptation and interaction can form a person's self-concept influenced by his environment. The communication of Muslim mothers to their children is in the process of being faced with a big challenge. When the world community is trying to defend against an outbreak of a disease in the form of a virus called Corona (later called COVID-19). One of the impacts on the world of education must take a policy of studying at home. The concept of learning at home is generally carried out by schools by learning through online facilities. With conditions like this, of course, the role of parents is very meaningful in the education of children while studying at home. Based on these problems, the UNTIRTA Community Service team actively participated in providing solutions regarding the role of mother communication as Muslim mothers in Studying at Home activities during the COVID-19 pandemic. By setting activity targets (1) Help create peace and comfort by providing an understanding of the urgency of the role of Muslim women in Home Study activities. (2) Improving thinking skills, reading and writing or other skills needed by Muslim women in Home Study activities. The method of delivery is through the technique of delivering material on effective communication models with religious messages and Focus Group Discussions (FGD). In addition to the role of the proposing team as expert speakers from the aspect of effective communication, these two sessions will also involve an Islamic religious expert, namely a Ustadz, in order to provide references to religious arguments. Keywords: Muslim women, parental communication, Covid-19 pandemic, online learning
Back to Top Top