BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2338-4700 / 2722-127X
Total articles ≅ 44
Filter:

Latest articles in this journal

Made Rismawan, Ni Made Gita Ayu Sanjiwani, Nadya Treesna Wulansari
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 10, pp 11-17; https://doi.org/10.53345/bimiki.v10i1.197

Abstract:
Pendahuluan:  Pernikahan dibawah umur saat ini masih sering terjadi dan dapat memberikan dampak pada keadaan ekonomi, kesehatan, sosial, dan psikologi dari remaja itu sendiri. Salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya pemahaman dan sikap Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). PUP bisa didapat oleh remaja melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara partisipasi siswa dalam PIK-R dengan sikap PUP Siswa SMA khususnya di Kota Denpasar. Metode:  Penelitian korelasi cross sectional ini dilaksanakan di dua SMA Negeri di Kota Denpasar pada bulan Maret 2021. Lima puluh lima siswa yang mengikuti kegiatan PIK-R menjadi sampel penelitian yang dipilih menggunakan metode total sampling. Penelitian ini menggunakan dua instrumen yang dikembangkan oleh peneliti, yaitu kuesioner partisipasi dalam PIK-R dan sikap PUP. Kuesioner disebarkan secara daring melalui Google Form dan dianalisis menggunakan uji statistik Spearman rho. Hasil:  Partisipasi dalam kegiatan PIK-R terbanyak berada pada kategori sedang yaitu 36 responden (65,5%). Kategori sikap PUP terbanyak adalah baik sejumlah 52 responden (94,5%). Ada hubungan bermakna antara partisipasi siswa dalam PIK-R dengan sikap PUP (p-value < 0,05, r = 0,34). Kesimpulan:  Terdapat hubungan signifikan antara partisipasi siswa dalam PIK-R dengan sikap PUP pada siswa SMA Negeri khususnya di Kota Denpasar.
Choirun Nisa Meinanda
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 10, pp 27-36; https://doi.org/10.53345/bimiki.v10i1.244

Abstract:
Pendahuluan: Memburuknya gizi pada bayi bisa terjadi karena ketidaktahuan Ibu mengenai tata cara pemberian ASI kepada anaknya, pemberian MP-ASI yang belum sesuai usianya dan juga dilihat dari ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya. Pemberian makanan tambahan sangat diperlukan terutama untuk bayi di atas umur enam bulan yang sudah memerlukan makanan tambahan bergizi. enelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku Ibu dalam pemberian makanan tambahan ASI pada bayi usia 6-12 bulan. Metode : Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif dimana jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner perilaku dengan tiga domain yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakaang telah diuji valid dan reliabel. Hasil: Penelitian menemukan responden memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 50,0 %, sikap Ibu negatif 64,0%, dan tindakan yang baik 51,0% dalam pemberian makananendamping ASI. Kesimpulan: Gambaran perilaku Ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI memiliki tingkat pengetahuan cukup, sikap negatif sedangkan pada tindakan Ibu baik.
Indriana Noor Istiqomah, Nur Yuliyani
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 10, pp 1-10; https://doi.org/10.53345/bimiki.v10i1.196

Abstract:
Pendahuluan: Pasien Diabetes Melitus (DM) seringkali mengalami masalah Ketidakstabilan kadar gula darah. Untuk itu diperlukan upaya pengendalian melalui pengelolaan penyakit DM. Terdapat 4 (empat) pilar pengelolaan DM, salah satunya adalah dengan melakukan aktivitas fisik. Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu kajian Pustaka. Penyeleksian studi menggunakan protokol dan evaluasi PRISMA Checklist yang disesuaikan dengan tujuan disusunnya literature review ini dengan database elektronik yang digunakan yaitu Pubmed, Springer Link, dan Google Scholar.Hasil: Hasil uji statistik pada 10 (sepuluh) literatur menunjukkan latihan aktivitas fisik berpengaruh pada penurunan kadar gula darah atau nilai HbA1c pasien DM tipe 2, dengan distribusi penurunan sebesar 25.36-76 mg/dl, 0.3-0.4 mmol/L dan 0.02-0.9%. Jenis latihan fisik yang dilakukan meliputi latihan aerobik (40%), senam diabetes (20%), jalan di Treadmill (20%), dan jalan cepat (20%). Latihan dilakukan 3-6 sesi per minggu, selama 30-60 menit per sesi pada 7 (tujuh) literatur, dan pada 2 literatur dilakukan 7 sesi per minggu selama 15-45 menit. Kesimpulan:Latihan aktivitas fisik berpengaruh dalam menurunkan kadar glukosa darah atau nilai HbA1c pada pasien DM tipe 2.
Annisa Rahmi Galleryzki, Lintang Puspita Prabarini, Janes Jainurakhma, Qori Fanani
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 10, pp 18-26; https://doi.org/10.53345/bimiki.v10i1.233

Abstract:
Pendahuluan: Rata-rata skor implementasi enam Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) di Indonesia adalah 64,81%. Peningkatan kebutuhan keselamatan pasien meningkat selama pandemi COVID-19. Penelitian sebelumnya menjelaskan gambaran implementasi SKP sebelum terjadi pandemi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran persepsi perawat tentang pengimplementasian 6 SKP pasien di RS selama pandemi. Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 133 perawat dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Pengambilan sampel menggunakan google form. Kuesioner implementasi SKP yang digunakan adalah Kuesioner Implementasi 6 SKP yang sudah diisesuaikan dengan standar SNARS. Hasil: Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa rata-rata usia perawat adalah 36 tahun, masa kerja perawat adalah 12 tahun, dengan jenjang karir terbanyak adalah pada PK 2. 59,4% perawat bertugas di unit rawat inap, dan hanya 67,7% perawat yang pernah mendapatkan pelatihan keselamatan pasien. 85,4% perawat telah mengimplementasikan SKP. Nilai persentase SKP tertinggi adalah SKP 1 yaitu identifikasi pasien sebesar 90,1%, sedangkan nilai SKP 4 pada posisi implementasi terendah dengan persentase 68,8%. Kesimpulan: Kepatuhan dan ketelitian perawat terhadap prosedur yang diterapkan di rumah sakit, ketatnya tim pengawas terhadap penggunaan APD, dan kinerja perawat saat di ruangan, menjadi kunci penting keberhasilan implementasi SKP di masa pandemi COVID-19. Capaian SKP pada penelitian ini berada pada kondisi baik. Namun, belum sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), yaitu 100%. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan lebih lanjut dengan menilai faktor-faktor pelaksanaan SKP.
Arisa Salasi, Hellena Deli, Yufitriana Amir
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 82-90; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i2.217

Abstract:
Pendahuluan: Health seeking behavior merupakan perilaku yang dilakukan oleh orang yang menderita suatu penyakit untuk memperoleh kesembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran health seeking behavior penderita hipertensi di masa pandemi COVID-19. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 70 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17-27 Juli 2021 di Puskesmas Rejosari. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif. Hasil: Perilaku pencarian pengobatan penderita hipertensi di masa pandemi COVID-19 berdasarkan usia lebih banyak memilih melakukan pengobatan ke public medicine. Responden dengan pendidikan SMA memilih public medicine (60,9%), responden dengan penghasilan < Rp 2.998.000 memilih public medicine (48,9%), dan responden yang telah menderita hipertensi selama ≤ 5 tahun memilih public medicine (45,2%). Kesimpulan: Perilaku pencarian pengobatan penderita hipertensi di masa pandemi COVID-19 dari segala kategori mayoritas responden memilih melakukan pengobatan ke public medicine. Kata Kunci : COVID-19; Health Seeking Behavior; Hipertensi Introduction: Health seeking behavior is behavior carried out by people who suffer from a disease to obtain healing. This study aims to describe the health seeking behavior of hypertension sufferers during the COVID-19 pandemic. Methods : This study used a research design descriptive with a sample of 70 respondents with hypertension who met the inclusion criteria. The measuring instrument used is a questionnaire. This research was conducted on 17-27 July 2021 at the Puskesmas Rejosari. This study uses descriptive statistical analysis. Results:The behavior of seeking treatment for hypertension sufferers during the COVID-19 pandemic based on age is more likely to choose treatment public medicine for. Respondents with high school education chose public medicine (60.9%), respondents with income public medicine (48.9%), and respondents who had suffered from hypertension for 5 years chose public medicine (45.2% ). Conclusion: The behavior of seeking treatment for hypertension sufferers during the COVID-19 pandemic from all categories, the majority of respondents chose to go to treatment public medicine for.  Keywords : COVID-19; Health Seeking Behavior; Hypertension    
Mia Amalia, Ria Setia Sari
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 91-98; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i2.176

Abstract:
Pendahuluan: Kejang Demam (KD) merupakan gangguan kejang yang paling umum di masa kanak-kanak. Anak dengan KD sebelumnya berisiko tinggi mengalami KD berulang. Di Tangerang, belum ditemukannya penelitian tentang faktor yang memengaruhi KD berulang pada anak. Tujuan dari penelitan ini untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi KD berulang pada anak. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross isectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Sampel penelitian dalam penelitian ini adalah 112 anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Assyifa Tangerang. Instrument penelitian berupa lembar observasi. Hasil: Hasil ipenelitian ididapatkan ibahwa iterdapat ipengaruh iantara ifaktor isuhu tubuh saat idemam i(p-Value i0,00), ifaktor iusia ipertama mengalami KD (p-Value i0,00), faktor riwayat ikejang ikeluarga i(p-Value i0,00), idan ifaktor ijenis ikelamin i(p-Value 0,00) dengan ikejadian ikejang idemam iberulang ipada ianak idi iRSIA iAssyifa iKota Tangerang. Kesimpulan: Terdapat 5 faktor yang berpengaruh terhadap kejadian KD berulang pada anak diantaranya adalah suhu tubuh saat demam, usia pertama KD, riwayat KD keluarga, serta jenis kelamin.  Kata Kunci: Anak; Faktor-Faktor; Kejang Demam Berulang Introduction i: Febrile seizures (FS) are the most common seizure disorder in childhood. Children with previous febrile seizures are at high risk of recurrent febrile seizures. In Tangerang, there has been no research on the factors that affect recurrent FS in children. The purpose of this study is to find out the factors that affect recurrent KD in children..Method:Quantitative research with a Crossectional approach. Sampling techniques used random sampling. The study sample in this study was 112 children aged 6 months to 5 years in RSIA Assyifa Tangerang. Result: iThe imajority iof itoddlers iaged i30 imonths iare i68 itoddlers i(60.7%), ithe imajority iof ithe igender iof itoddlers iis imale iwhich iis i70 itoddlers i(65.4%), ithe imajority iof itoddlers ihave ia imoderate ifever i(38.3-39.5ºC) iwhich iis i68 itoddlers i(63.6%), ithe imajority iof itoddlers ihave ithe ifirst ifever iat ithe iage iof i12 i(<a12 imonths) iwhich iis i57 itoddlers i(53.3%), ithe imajority iof itoddlers ihave ia ifamily iwith ia ihistory iof iseizures iof i72 itoddlers i(67.3%) iand ithe imajority iof itoddlers ihad irecurrent ifever iseizures ias imany ias i69 irespondents i(63.4%). iConclusion: iThere are 5 factors that affect the occurrence of recurrent FS in children including body temperature during fever, first age of FS, family history of FS,, and gender. Keywords:Children; Factors ; Repeated Fever Seizures
   
Siti Maesaroh, Ida Faridah, Yati Afiyanti
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 109-116; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i2.213

Abstract:
Pendahuluan: Mahasiswa seringkali dituntut untuk mengambil sebuah keputusan, baik itu keputusan ringan maupun keputusan berat yang memerlukan banyak pertimbangan. Percaya diri adalah sebuah perasaan dan keyakinan akan kemampuan yang dimiliki individu dalam meraih keberhasilan berdasarkan upayanya sendiri. Semakin individu kehilangan kepercayaan diri, maka semakin sulit pula individu tersebut untuk mengambil keputusan terbaik tentang apa yang harus dilakukan kepada dirinya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi berbasis management problem solving terhadap kepercayaan diri mahasiswa tingkat akhir dalam pengambilan keputusan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Praeksperimen dengan rancangan One Group Pretest Posttest. Teknik sampling dalam penelitian menggunakan total sampling dengan jumlah responden 386 mahasiswa keperawatan tingkat akhir di Banten. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan aplikasi berbasis management problem solving.Data dianalisis secara kuantitatif menggunakan uji Paired Sample T Test. Hasil: Sebelum diberikan aplikasi, responden yang memiliki kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan dengan kategori sedang berjumlah 210 responden (54,4%) dan kategori rendah berjumlah 176 responden (45,6%). Setelah diberikan aplikasi, responden yang memiliki kepercayaan diri berkategori tinggi berjumlah 125 responden (32,4%) dan kategori sedang berjumlah 261 responden (67,6%). Kesimpulan: Ada pengaruh aplikasi berbasis management problem solving terhadap kepercayaan diri mahasiswa tingkat akhir dalam pengabilan keputusan. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan. Kata Kunci: Kepercayaan Diri; Management problem solving; Pengambilan Keputusan ABSTRACTIntroduction: Students are often required to make a decision, be it a light decision or a tough one that requires a lot of consideration. Self-confidence is a feeling and belief in the ability of a person to be able to achieve success based on his efforts. The more the individual loses confidence, the harder it will be to make the best decisions about what to do with  them.The purpose of this study is to determine the effect of management problem solving based applications on the confidence of final year students in decision making. Methods: The study used a pre- experimental design with a One Group Pretest Posttest design. The sampling technique used in the study was total sampling with the number of respondents 368 final year nursing students in Banten. The instruments used were questionnaires and management problem solving based applications.Result: Before being given the application, respondents who had confidence in decision-making with moderate categories amounted to 210 respondents (54.4%) and low categories amounted to 176 respondents (45.6%). After being given the application, respondents who had high-category confidence numbered 125 respondents (32.4%) and the moderate category amounted to 261 respondents (67.6%).Conclusion: There is an effect of application-based problem-solving management on the confidence of final-level students in the assessment of decisions. This research is expected to be used to increase confidence in decision-making. Keywords: Self-confidence; Management Problem Solving;Decision Making
Susanti Niman, Yosef Syukurman Ziliwu, Yuanita Ani Susilowati
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 64-73; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i2.192

Abstract:
Pendahuluan: Congestive Heart Failure merupakan sindrom klinis berbahaya dari gangguan jantung fungsional atau struktural, mengganggu pengisian ventrikel dan sirkulasi sistemik tubuh. Kondisi tersebut menuntut kemampuan perawatan diri dari pasien Congestive Health Failure untuk mempertahankan kesehatannya.Tujuan dari literature review untuk menganalisis dampak edukasi perawat terhadap self care pasien Congestive Heart Failure. Metode: Literature review dengan pencarian artikel menggunakan kata kunci “Congestive Heart Failure”, “edukasi perawat”, dan “perawatan mandiri” dalam basis data PubMed, Google Scholar, dan ResearchGate. Hasil: Hasil dari pencarian artikel didapatkan 12 artikel. Analisis artikel didapatkan bahwa edukasi perawat berdampak terhadap kemampuan self care pasien CHF yang membuktikan bahwa adanya perubahan perawatan diri pada pasien sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan oleh perawat. Kesimpulan: Edukasi perawat dapat meningkatkan kemandirian pasien. Kata kunci: Congestive Heart Failure (CHF); edukasi perawat; self care.
Annisa Sri Sakinah, Wasisto Utomo, Agrina Agrina
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 99-108; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i2.210

Abstract:
Pendahuluan: Hipertensi merupakan keadaan peningkatan tekanan darah dengan nilai normal diatas 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg. Lansia hipertensi membutuhkan pengobatan jangka panjang dan keberhasilannya dipengaruhi oleh kepatuhan kontrol. Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini menyebabkan terbatasnya lansia untuk kontrol ke pelayanan kesehatan sehingga dukungan keluarga dan peran tenaga menjadi hal penting agar lansia patuh dalam menjalani pengobannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan terhadap kepatuhan kontrol ke pelayanan kesehatan pada lansia penderita hipertensi selama pandemi Covid-19. Metode: Desain penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel yang digunakan adalah 67 responden dengan kriteria inklusi yaitu usia lebih dari 60 tahun, menderita hipertensi lebih dari 6 bulan tanpa komplikasi dan tinggal bersama keluarga di wilayah kerja puskesmas Rejosari. Penelitian ini menggunakan teknik pusposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner kepatuhan kontrol, dukungan keluarga, dan peran tenaga kesehatan yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis yang digunakan yaitu analisis bivariat menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian antara dukungan keluarga dengan kepatuhan kontrol diperoleh nilai P (0,002) atau <α (0,05) dan peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan kontrol diperoleh nilai P (0,002) atau <α (0,05) bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan kontrol pada lansia penderita hipertensi selama pandemi Covid-19. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan kontrol ke pelayanan kesehatan pada lansia penderita hipertensi selama pandemi Covid-19. Kata kunci: Pandemi Covid-19, hipertensi, lansia, peran tenaga kesehatan, dukungan keluarga, kepatuhan kontrol
Nur Hidayat
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 74-81; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i2.209

Abstract:
Pendahuluan: Indonesia mendapat peringkat dua negara dengan penderita diabetes melitus (DM) terbanyak di wilayah Pasifik Barat. Prevalensi DM di Indonesia naik secara signifikan dari 0,7% menjadi 2% dalam satu dekade. Salah satu komplikasi DM yang paling sering muncul dan berbahaya adalah ulkus kaki diabetik (UKD). Penyembuhan UKD mengalami keterlambatan dan penggunaan teknik konvensional tidak lagi efektif. Terapi ozon diklaim dapat menyembuhkan luka. Namun, penelitian terdahulu belum bisa memberikan kesimpulan mengenai peran ozon dalam penyembuhan UKD. Untuk mengetahui efek penggunaan ozon dalam perawatan UKD, studi literatur ini dilaksanakan. Metode: Artikel ini merupakan literature review melalui Google Scholar. Literatur ditelusuri berdasarkan kata kunci dalam rentang waktu 5 tahun terakhir yaitu tahun 2016-2021. Data disintesis menggunakan syntesis matrix dan diintepretasikan dengan teknik kualitatif deskriptif. Hasil: Proses eliminasi mendapatkan 5 artikel final dari total 747 artikel. Penelitian ini tidak menemukan adanya hasil yang negatif dari penggunaan ozon dalam perawatan UKD dan tidak melakukan observasi lebih dalam mengenai hal tersebut. Ozon berperan dalam menstimulasi growth factor dan ekspresi antioksidan tubuh sehingga proses penyembuhan UKD bisa dipercepat. Ozon juga berperan sebagai anti-bakteri yang mengontrol jumlah koloni bakteri secara signifikan. Penambahan ozon dalam terapi juga memberikan sensasi yang menyenangkan dan mengurangi nyeri perawatan. Kesimpulan: Ozon memberikan efek yang positif dalam proses penyembuhan UKD. Kata Kunci: Kaki Diabetes; Ozon; Penyembuhan Luka
Back to Top Top