BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2338-4700 / 2722-127X
Total articles ≅ 32
Filter:

Latest articles in this journal

Winda Lestari, Ichsan Rizany, Herry Setiawan
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 46-53; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i1.174

Abstract:
The low quality of service so that the level of patient satisfaction has not met the minimum service criteria, namely 95% which is influenced by several factors so that the degree of satisfaction is still low.Objective: to find out the factors that influence the satisfaction level of swamp patients in hospitalMethods: This study uses a literature review, from two electronic databases; Google Scholar and Garuda in the period 2010-2020 found ten literatures that match keywords.Results: The results of data synthesis in 10 journal articles 5 journal articles stated that the level of patient satisfaction was low due to ineffective communication, 4 journal articles stated that the level of satisfaction was low because of the quality of service, and 1 journal article stated that the level of patient satisfaction was low due to official scheduling.Discussion: Patient satisfaction with the quality of service provided by nursing personnel to clients while receiving hospital care, services, and nursing care received by patients is a form of professional service that can increase inpatient satisfaction and improve the quality of health services. Keywords: Patient, Hospitalization, Satisfaction Level.
Nada Cindya, Riri Novayelinda, Bayhakki Bayhakki
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 10-19; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i1.183

Abstract:
Abstrak Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan ciri kumpulan gejala visual sebagai akibat interaksi dengan media elektronik seperti komputer, tablet, dan gadget. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas dari akupresur mata terhadap gejala Computer Vision Syndrome (CVS). Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain eksperimental. Sampel dari penelitian adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Riau yang berada pada usia remaja akhir sebanyak 83 responden terbagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol melalui serangkaian pretest dan posttest sesuai dengan kriteria inklusi. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode Stratified randomized sampling. Analisis statistik yang digunakan adalah Wilcoxon dan Mann Whitney. Penilaian yang dilakukan menunjukan bahwa skor CVS mengalami penurunan yang signifikan pada kelompok eksperimental setelah dilakukan intervensi akupresur mata dengan p value (0,000) < α (0.05). Hal tersebut menunjukkan bahwa akupresur mata dapat menurunkan gejala CVS. Maka dari itu akupresur mata dapat direkomendasikan sebagai alternatif dalam terapi komplementer untuk penderita gejala CVS. Kata Kunci: akupresur mata, computer vision syndrome, remaja akhir Abstract Eyes Acupressure Therapy of Computer Vision Syndrome (CVS) in Student. Computer Vision Syndrome (CVS) is characterized by visual symptoms which is resulted from interaction with electronic media such as computers, tablets, and gadgets. This study aims to identify the effectiveness of eye acupressure on the symptoms of Computer Vision Syndrome (CVS). The type of this research is quantitative with an experimental design. The sample of this study was students of nursing Faculty University of Riau who were at the age of late adolescent as many as 83 respondents which were divided into a control and experimental group through pretest and posttest based on the inclusion criteria. The sample were selected by using stratified randomized sampling method. The analysis statistic used Wilcoxon and Mann Whitney. The assessment obtained through the CVS score were decrease significantly in the experimental group after eyes acupressure treatment with p-value (0,000) < α (0.05). It can be concluded that eyes acupressure can reduce the symptom of CVS. Therefore eyes acupressure can be recommended as an alternative in complementary therapies for clients with CVS symptoms. Keywords: computer vision syndrome, eyes acupressure, late adolescent
Muhamad Jauhar, Rizka Puji Lestari, Fajar Surachmi
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 29-38; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i1.175

Abstract:
Pendahuluan: Penurunan daya tampung kandung kemih merupakan salah satu perubahan fisiologis pada lansia. Hal ini dikarenakan tidak teraturnya otot sfingter dalam berkontraksi sehingga mengakibatkan kandung kemih menjadi lemah. Sehingga lansia mengalami frekuensi berkemih berlebih. Tekhnik non farmakologis dapat dilakukan untuk memperbaiki kekuatan otot sfingter dengan senam kegel. Tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi artikel-artikel penelitian tentang penerapan senam kegel untuk menurunkan frekuensi berkemih pada lansia. Metode: Desain penelitian kajian literatur melalui database jurnal yang terindeks seperti ProQuest dan Google Scolar dengan kata kunci Kegel exercise, frequency of incontinence, dan elderly sehingga didapatkan 10 artikel. Tekhnik analisis artikel penelitian menggunakan tekhnik analisis kualitatif. Kriteria inklusi artikel yaitu waktu publikasi arikel 5 tahun terakhir, jenis artikel penelitian asli, dapat diakses dalam bentuk teks lengkap. Kriteria eksklusi yaitu terapi kombinasi Hasil : Senam kegel dapat dilakukan 2-4 kali per hari selama 4-12 minggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kelebihannya adalah memiliki gerakan sederhana dan mudah dilakukan. Kekurangannya yaitu harus dimonitoring agar setiap gerakan latihan dilakukan dengan benar. Kesimpulan: Senam kegel merupakan intervensi yang dapat menurunkan frekuensi berkemih dan mengatasi masalah inkontinensia urine pada lansia. Sehingga kualitas hidup pada lansia meningkat.
Khofifah Aryanti, Samantha Cristina, Nurfadiah Nabilah, Siti Fatmawati, Rara Angia Suci
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 20-28; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i1.168

Abstract:
Pendahuluan: Insomnia didefinisikan sebagai suatu persepsi seseorang merasa tidak cukup tidur atau kualitas tidurnya buruk sehingga mengakibatkan perasaan yang tidak bugar sewaktu atau setelah terbangun dari tidur. Insomnia dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan fisik antara lain peningkatan nafsu makan yang dapat mengakibatkan obesitas, diabetes, penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan sistem imun, dan penurunan gairah seksual. Tujuan: Untuk mengetahui keefektifan pengobatan terapi akupunktur terhadap klien dengan insomnia yang disebabkan penyakit penyerta (komorbiditas). Metode: Metode yang digunakan adalah literature review terhadap 5 artikel tentang akupunktur pada klien yang mengalami insomnia. Hasil: Hasil yang didapat adalah dalam beberapa penelitian yang terpilih membuktikan bahwa pemberian terapi akupunktur dapat menurunkan insomnia yang disebabkan oleh komorbiditas bagi penderitanya. Kesimpulan: Pemberian terapi akupunktur dibuktikan dapat menyembuhkan insomnia yang terjadi pada seseorang dan juga mengurangi adanya efek samping yang terjadi pada pengobatan farmakologis. Kata Kunci: akupunktur, insomnia, gangguan kesehatan
Vidya Cynthia Dewi, Nining Sriningsih, Lastri Mei Winarni
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 39-45; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i1.137

Abstract:
Background:Patient safety is a system designed to improve the overall safety of patient care. One of the goals of patient safety is to improve effective communication, to improve communication effectively, SBAR communication techniques are needed. Objective: To determine the relationship between compliance with the application of SBAR communication with patient safety. Method: analytic descriptive with cross sectional approach. Respondents were taken using the Accidental Sampling technique, a sample of 108 nurses from the NICU, ICU, IGD and HCU nurses. Results: Chi-square test results obtained p-value = 0.076> 0.05 which means there is no significant relationship between compliance with the application of SBAR communication with patient safety. Conclusions and recommendations: The results showed no relationship between compliance with the application of SBAR communication with patient safety. It is expected that health services can implement a formal system and training on effective communication.
Verra Widhi Astuti, Tasman Tasman, Lola Felnanda Amri
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 9, pp 1-9; https://doi.org/10.53345/bimiki.v9i1.185

Abstract:
ABSTRAK Pendahuluan: Hipertensi disebut sebagai "silent killer" artinya dapat menyebabkan kematian secara diam-diam. Hanya melalui pengukuranlah deteksi dapat dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hipertensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo, Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada masyarakat usia > 18 tahun di wilayah Kerja Puskemas Nanggalo dengan sampel sebanyak 438 responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi hipertensi di masyarakat Wilayah Kerja Nanggalo tahun 2019 sebesar 13,7 yang terdiri dari 10,7% hipertensi stage 1 dan 3% hipertensi stage 2. Sedangkan 19,2% responden sudah memasuki tahap pra hipertensi. Responden paling banyak pada usia produktif yaitu pada rentang usia 18-50 tahun; responden antara laki-laki dan perempuan jumlahnya hampir sama; sebagian besar memiliki status gizi (IMT) normal (64,2%), sebagian besar responden beraktivitas fisik secara rutin (77,9%); sebagian besar responden tidak merokok (61%); dan konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan rendah lemak jenuh hampir sama. Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara usia, berat badan (IMT) dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi. Serta tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, kebiasaan merokok, dan makan makanan berlemak jenuh dengan kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran responden terhadap faktor-faktor risiko hipertensi. Kata kunci: Faktor risiko, hipertensi, prevalensi. ABSTRACT Introduction: Hypertension is called the "silent killer" which means it can cause death silently. Therefore, detection can only be done through measurement. This study aims to determine the prevalence of hypertension and the risk factors that influence hypertension in the working area of ​​the Nanggalo Community Health Center, Padang. Methods: This study used an analytic survey method with a cross sectional approach. The research was conducted on people aged> 18 years in the working area of ​​Puskemas Nanggalo with 438 respondents as a sample. Result: The results showed that the proportion of hypertension in Nanggalo Work Area was 13.7 consisting of 10.7% stage 1 hypertension and 3% stage 2 hypertension. While 19.2% of respondents had entered the pre hypertension stage. Most respondents are in productive age, namely in the age range 18-50 years; the number of respondents between men and women is almost the same; most of them had normal nutritional status (BMI) (64.2%), most of the respondents had regular physical activity (77.9%); most of the respondents do not smoke (61%); and consumption of foods high in saturated fat and low in saturated fat is about the same. Conclusion: There is a significant relationship between age, body weight (BMI) and physical activity with the incidence of hypertension. And there is no significant relationship between gender, smoking habits, and eating saturated fatty foods with the incidence of hypertension. The results of this study are expected to be able to increase respondents' awareness of risk factors for hypertension. Keywords: Hypertension, prevalence, risk factor
Firman Anugrah Protomo, Imram Radne Rimba Putri, Muhamad Irfanudin
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 8, pp 41-47; https://doi.org/10.53345/bimiki.v8i2.127

Abstract:
Latar Belakang: Skizofrenia merupakan gangguan yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran emosi, persepsi, gerakan dan prilaku yang terganggu ditandai dengan halusinasi. Anggota keluarga yang menderita skizofrenia tidak hanya menyebabkan ketergantungan saja pada keluarga, akan tetapi berdampak pada stres keluarga yang merawat dan mengurus semua kebutuhan pasien skizofrenia, sehingga dukungan sosial dari keluarga sangat dibutuhkan untuk kesembuhan pasien, jika keluarga mengalami stres maka dukungan sosial yang diberikan keluarga terhadap pasien akan kurang efektif.. Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat stres keluarga dalam merawat pasien skizofrenia di Wilayah kerja Puskesmas Gamping 2 Kabupaten Sleman. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan deskriptif analitik menggunakan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan teknik purposive sampling. Populasi penelitian sebanyak 80 pasien yang mengalami skizofrenia yang ada di Wilayah kerja Puskesmas Gamping 2. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 67 responden. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner dukungan sosial dan kuesioner tingkat stres Uji statistik yang digunakan yaitu Kendall Tau. Hasil: Dukungan sosial termasuk kategori sedang mayoritas 33 responden (49,3). Tingkat stres yang dialami keluarga termasuk dalam kategori sedang mayoritas 39 responden (58,2). Hasil analisis dengan uji Kendall Tau menunjukan tidak ada hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres keluarga dalam merawat pasien skizofrenia (0,292 > 0,05). Kesimpulan: Tidak ada hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres keluarga dalam merawat pasien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Gamping 2 Kabupaten Sleman
Sri Puzzy Handayani, Rina Puspita Sari, Wibisono Wibisono
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 8, pp 48-55; https://doi.org/10.53345/bimiki.v8i2.143

Abstract:
Introduction: 52.31% of the number of health complaints in elderly women is higher than the percentage of elderly men is 49, 74%. Changes that occur in the elderly tend to decrease in physical, psychological, psychosocial systems. This requires an action activity that can reach all aspects of the decline that is by doing elderly gymnastics. The purpose of this research to identify the benefits of elderly exercise on the quality of life of the elderly. Research methods by using literature review as a guide to search for research articles obtained from the internet using the Science Direct site, and Google Scholar. The results analysis of 10 selected research articles shows that elderly exercise can have several benefits, namely: physical benefits can improve physical fitness, body balance, breathing, and decreased blood pressure in elderly hypertension. Psychological benefits can improve sleep quality, decrease insomnia levels, decrease depression levels, reduce stress levels, and manage pain. Social and environmental benefits. Elderly exercise 3 times a week with a minimum duration of 30 minutes and a maximum of 40 minutes with a time of> 4 weeks will be more effective in getting many benefits.
Niswatus Sa'Ngadah, Yuni Sufyanti Arief, Ilya Krisnana
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 8, pp 56-62; https://doi.org/10.53345/bimiki.v8i2.132

Abstract:
ABSTRAK Pendahuluan : Pola asuh orangtua dalam perkembangan teknologi dan informasi saat ini sangat diperlukan, agar anak dapat mengikuti perkembangan teknologi dengan positif. Untuk mendapatkan dampak positif dan menghindarkan anak dari dampak negatif, diperlukan upaya pengelolaan yang baik, tergantung pola asuh orang tua. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 160 siswa menggunakan teknik simple random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua sedangkan variabel dependennya yaitu kecanduan gadget. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebar secara langsung kuesioner kepada responden dengan menggunakan kuesioner PSDQ (Parental Style and Dimension Questionnaire) dan SAS (Smartphone Addiction Scale). Hasil: Dari 160 responden, didapatkan bahwa sebagian besar anak mendapatkan pola asuh authoritative dengan persentase 91,2% (146 responden) dengan tingkat adiksii yaitu, adiksi rendah dengan persentase 25,6% (41 responden), adiksi sedang dengan persentase 35,6 % (57 responden), dan adiksi tinggi dengan persentase 30,0 % ( 48 responden). Kesimpulan: Kecanduan gadget yang terjadi pada remaja dipengaruhi oleh jenis pola asuh yang didapatkan. Diharapkan orang tua menerapkan pola asuh yang benar dan sesuai agar anak tidak mengalami kecanduan gadget serta peneliti selanjutnya dapat memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kecanduan gadget. Dapat juga memperluas populasi dan sampel untuk memperluas generelisasi. Kata kunci: pola asuh orang tua, kecanduan gadget ABSTRACT Introduction: Parenting parenting in the development of technology and information is now very necessary, so that children can follow the development of technology positively. To get a positive impact and prevent children from negative impacts, good management efforts are needed, depending on the parenting style. Method: This study used a quantitative design with a cross sectional approach. The population in this study were 160 students using simple random sampling technique. The independent variable in this study is parenting while the dependent variable is gadget addiction. Data collection was done by distributing questionnaires directly to respondents using the PSDQ (Parental Style and Dimension Questionnaire) and SAS (Smartphone Addiction Scale) questionnaires. Result: The results of this study indicate that the majority of children who are addicted to gadgets get authoritative parenting with a percentage of 91.2% (146 respondents), consisting of low addiction with a percentage of 25.6% (41 respondents), moderate addiction , 6% (57 respondents), and 30.0% (48 respondents). Conclusion: Gadgets addiction that occurs in adolescents is influenced by the type of parenting that is obtained. It is expected that parents apply appropriate and appropriate parenting so that children do not experience gadget addiction and researchers can then pay attention to other factors that can affect gadget addiction. Can also expand populations and samples to expand generalization.. Keywords: parenting style, smartphone addiction
Anggilia Kusumawardani, Yuliana Yuliana, Ayu Pratiwi
BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), Volume 8, pp 74-81; https://doi.org/10.53345/bimiki.v8i2.163

Abstract:
ABSTRAK Pendahuluan: Secara harfiah, junk food diartikan sebagai makanan sampah atau makanan tidak bergizi. Kehidupan yang semakin canggih dan modern didukung dengan berkembangnya ilmu dan teknologi serta adanya makanan fast food, maka akan berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui pengaruh pola makan sehat islam terhadap pencegahan obesitas di masyarakat Kp. Gebang RT/RW 004/002. Metode Penelitian: penelitian menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 135 responden dan sampel penelitian menggunakan random sampling sebanyak 101 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pendekatan dan observasi. Metode analisa data yang digunakan yaitu Chi Square. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner dan observasi indeks massa tubuh (IMT). Hasil penelitian: pada variabel pola makan sehat islam dan pencegahan obesitas didapatkan hasil uji Chi Square dengan nilai p value 0,782>0,05. Kesimpulan: berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa tidak ada hubungan pengaruh pola makan sehat islam terhadap pencegahan obesitas. Kata Kunci: Pola Makan Sehat Islam, Pencegahan Obesitas, IMT, Masyarakat.
Back to Top Top