Missio Ecclesiae

Journal Information
ISSN / EISSN : 2086-5368 / 2721-8198
Published by: Institut Injil Indonesia (10.52157)
Total articles ≅ 5
Filter:

Articles in this journal

Fanny Yapi Markus Kaseke
Published: 29 April 2021
Missio Ecclesiae, Volume 10, pp 68-82; doi:10.52157/me.v10i1.133

Abstract:
Subordinasionisme Allah Tritunggal Dalam Pengajaran Pluralisme. Artikel ini mengulas tentang salah satu ajaran dari sekian ajaran yang beragam tentang Allah Tritunggal, yakni subordinasionisme. Kemudian hari, ajaran subordinasionisme digunakan kalangan pluralis untuk menyokong pendapat mereka. Tujuan artikel ini adalah menganalisa ajaran tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian theologia filosofika dengan pendekatan apologetika. Pendekatan apologetika yang digunakan adalah dengan apologetika presuposisional. Subordinasionisme dalam Allah Tritunggal sebenarnya tidak ada. Perbedaan yang terlihat dalam Allah Tritunggal sebenarnya hanya menyangkut fungsi tiga pribadi Allah yang berbeda-beda dalam hubungan dengan ciptaan (opera ad extra). Konsep subordinasi yang dikemukakan kaum pluralis sebenarnya hanyalah upaya untuk “menganulir” ajaran Kristen bahwa Allah Tritunggal yang esa itu terdiri dari tiga pribadi (hypostasis), yakni Allah Bapa, Allah Anak (yaitu Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus. Karena apabila Yesus Kristus dapat dibuktikan bukan Allah, maka itu berarti ajaran pluralisme mengenai adanya kebenaran dalam semua agama adalah benar, dan sebaliknya ajaran Kristen (ortodoksi) keliru. Pluralisme bukan sekedar konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan “doktrin” theologis yang didasarkan pada relativisme yang bersumber pada pandangan dunia atomis, maupun pandangan oseanis, sedangkan keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.
Judith Wangania, Jammes Juneidy Takaliuang
Published: 29 April 2021
Missio Ecclesiae, Volume 10, pp 19-36; doi:10.52157/me.v10i1.127

Abstract:
Pertumbuhanan dan perkembangan karakter anak tidak terlepas dari tanggunjgawab orang tua dalam menerapkan pola asuh dalam keluarga dan juga pengajaran yang diberikan disekolah, termasuk sekolah minggu. Orang tua sebagai penanggungjawab utama dari pertumbuhan dan karakter anak, maupun guru-guru sekolah minggu, sama berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah tidak adanya harmoni (Dishamorni) antara orang tua dan guru sekolah minggu. Tidak adanya harmoni ini terlihat dari sikap acuhnya orang tua terhadap pengajaran sekolah minggu yang diterima oleh anak-anak mereka. Disisi lain, kurangnya komunikasi guru-guru sekolah minggu dengan orang tua juga menjadi salah satu satu penyebab disharmoni. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola asuh orang tua dengan pengajaran sekolah minggu, menentukan karakter anak usia dini berdasarkan nilai-nilai spiritual, menghasilkan model harmonisasi pola asuh orang tua dengan pembelajaran sekolah minggu pada pembentukan karakter anak usia dini berdasarkan nilai-nilai spiritual yang ada di GKPB Jemaat Galang Ning Sabda Cica Bali. Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang Model Harmonisasi Pola Asuh Orang Tua dan Pengajaran Sekolah Minggu Terhadap Pembentukan Karakter Anak Usia Dini Berdasarkan Nilai Spiritual di GKPB Galang Ning Jemaat Sabda Cica Bali. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa Model Harmonisasi antara Pola Asuh Orang Tua di rumah dengan Pengajaran sekolah minggu yang dapat diterapkan adalah model komunikasi, model kerja sama, model sharing of life dan model pertemuan rutin.
Rully M. Simorangki, Erastus Sabdono, Sugeng Santoso, Benaditus Siowardjaja
Published: 29 April 2021
Missio Ecclesiae, Volume 10, pp 37-48; doi:10.52157/me.v10i1.131

Abstract:
Pengajaran Yudaisme sering dipandang sebelah mata, seolah-olah sebagai suatu pengajaran yang tidak memiliki nilai-nilai yang baik sama sekali. Sedangkan pengajaran Yesus yang hari ini dikenal sebagai kekristenan menganggap dirinya sebagai pengajaran yang jauh lebih mulia daripada pengajaran Yudaisme. Sikap yang seperti itu adalah sikap intoleran, bahkan sombong. Sikap seperti itu membutakan mata banyak orang Kristen sehingga mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya Yudaisme mewariskan banyak kebenaran yang menjadi fondasi yang kuat bagi kekristenan. Bahkan sesungguhnya yang diajarkan oleh Yesus adalah Yudaisme. Kitab-kitab Yudaismelah yang memberikan pengharapan kepada orang Kristen hari ini tentang akan datangnya hari kemenangan Allah. Di mana nantinya setelah kemenangan itu, orang Kristen akan tinggal bersama dengan Allah. Kitab-kitab mereka pula yang pada akhirnya akan memperkenalkan kepada orang Kristen bahwa Yesus adalah Mesias, Yang Diurapi, yang penuh dengan Roh dan kerajaanNya akan berlangsung selamanya. Kajian ini menjawab pertanyaan : “Apakah memang benar bahwa pengajaran Yudaisme pasti berbeda dengan pengajaran Yesus? Apa saja kitab-kitab Yudaisme dan ajaran apa yang diwariskan?”
Tri Hananto, Erni M.C. Efruan
Published: 29 April 2021
Missio Ecclesiae, Volume 10, pp 1-18; doi:10.52157/me.v10i1.124

Abstract:
Penginjilan merupakan tindakan pelaksanaan Amanat Agung. Penginjilan selalu berkaitan erat dengan kemartiran. Setiap anak-anak Tuhan yang terlibat dalam penginjilan harus selalu siap dengan dampak yang diterima baik itu kesulitan, tantangan, penderitaan ataupun kematian. Martir identik dengan saksi. Martir Kristus berkaitan dengan tindakan dalam menjadi saksi Kristus baik dalam pewartaan maupun dalam sikap sehari-hari. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kemartiran yang dialami oleh Rasul Paulus. Paulus bukan hanya berbicara tentang berita Injil kasih karunia, tetapi juga mengalami dampak dari pemberitaan Injil itu sendiri, masuk penjara, dianiaya bahkan sampai mati. Jadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemartiran penginjilan Rasul Paulus.
Chresty T. Tupamahu
Published: 31 October 2016
Missio Ecclesiae, Volume 5, pp 153-168; doi:10.52157/me.v5i2.63

Abstract:
Mengabarkan Injil ialah upaya orang percaya dalam menyampaikan kabar kasih karunia Allah kepada seseorang, sehingga ia berpaling dari dosa-dosanya dan percaya kepada Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus dengan kuasa Roh Kudus. Melihat kondisi di Maluku, dan secara khusus di Desa Morela, maka berita Injil pun haruslah sampai dan mengubah hidup mereka. Saat ini hampir sebagian besar orang Maluku masih belum mendengar tentang Tuhan Yesus dan karya keselamatan-Nya. Karena tradisi Pukul Sapu telah menjadi salah satu tradisi yang sangat populer dan hampir sebagian besar orang Maluku mengetahui tradisi ini, maka upaya menyampaikan Injil melalui tradisi ini dapat dimanfaatkan, dengan harapan ada banyak orang yang mendengar dan menerima kabar keselamatan, secara khusus masyarakat di desa Morella. Keberhasilan pelayanan lintas budaya atau pelayanan khusus melalui suatu tradisi tidak hanya ditentukan pada pemahaman tentang tradisi tersebut, melainkan juga dibutuhkan pemahaman yang luas akan ilmu kontekstualisasi itu sendiri, sehingga antara tradisi dan strategi atau metode yang akan dipakai dapat rancang atau disiapkan dengan baik agar peluang untuk bisa masuk atau menceritakan Injil melalui tradisi tersebut dapat diterima dan juga dapat dipahami dengan baik.
Back to Top Top