Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy

Journal Information
EISSN : 2776-7434
Published by: Martabat : Jurnal Perempuan dan Anak (10.21274)
Total articles ≅ 5

Articles in this journal

Achmad Mabrurin, Nur Aini Latifah
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 63-88; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.63-88

Abstract:
With the title "Analysis of the Development of Sharia Tourism Potential in Improving the Economy of the Community (Study on Religious Tourism in the Tomb of Gus Miek Kediri Regency and Mbah Wasil Kota Kediri)" written by Achmad Mabrurin and guided by Ms. Dr. Hj. Nur Aini Latifah, SE., MM and Dr. Iffatin Nur, M.Ag. The research in this thesis dilator is behind the improvement of the economy of the community, in the Qur'an there are many signs to carry out tourism activities. Tourism is one sector that can bring in individual, community income and income for the State. The focus and research questions in this study are (1) How to Develop the Potential of Religious Tourism in Increasing the Economy of the Community at Gus Miek's Tomb in Kab. Kediri and Mbah Wasil Kota Kediri, (2) How is the Impact of the Development of the Potential of Religious Tourism in Increasing the Economy of the Community in the Tomb of Gus Miek Kab. Kediri and Mbah Wasil Kota Kediri (3) What are the obstacles and solutions to the Development of the Potential of Religious Tourism in Increasing the Economy of the Community in the Tomb of Gus Miek Kab. Kediri and Mbah Wasil Kota Kediri. The method in this study used a qualitative approach using field research. The location of the research was the Tomb of Gus Miek Tambak, Ngadi, Mojo, Kab. Kediri and Mbah Wasil Tomb Setono Gedong, Kec. City of Kediri, City of Kediri. The data source of this study consisted of informants, events and locations. Procedure for collecting data using the method of interview (interview), observation, and documentation. Data analysis using qualitative data analysis. From the results of the study, it can be concluded that: (1) In the development of religious tourism, many parties feel benefited, from managers and caretakers feel supported because all development processes can be done and can be resolved, from residents or local traders who feel benefited because of the development done to make visitors often stop by in stalls, and from visitors feel benefited by the development of this tourism potential because they can feel more comfortable and calm. (2) The impact of the development of tourism potential in improving the economy of the community is fairly positive, all parties are affected by the development of the potential of religious tourism and feel benefited by the development. (3) Constraints and solutions to the development of religious tourism, the number of managers and developers is very minimal, the surrounding community's insight into the potential of religious tourism is very lacking. Solution, Conduct small meetings with the community to discuss the magnitude of the potential of religious tourism in the mbah Wasil tomb if it can be managed optimally.
Mukhammad Fatkhullah
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 35-46; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.35-46

Abstract:
Dalam pariwisata, eksotisme budaya merupakan daya tarik bagi wisatawan. Akan tetapi, tidak semua budaya menghasilkan dampak yang sama. Beberapa justru menjadi penghambat upaya mengembangan masyarakat, terlebih pada upaya eksplorasi sumberdaya alam potensial untuk menunjang tujuan pembangunan. Penelitian ini bermaksud untuk melihat bagaimana budaya masyarakat lokal memberikan kontribusi pada sektor pariwisata, dengan menggunakan metode eksploratis berdasarkan studi literatur. Hasilnya, budaya masyarakat lokal mampu mendukung sektor pariwisata dengan syarat terdapat unsur kearifan didalamnya. Adapun unsur tersebut dapat bersumber dari Agama, bahkan takhayul sekalipun. Akan tetapi, hal tersebut hanya berlaku pada komunitas yang homogen. Takhayul yang ada pada masyarakat yang heterogen hanya akan menimbulkan keacuhan masyarakat, hingga penelantaran lingkungan. Adapun upaya untuk menghapus takhayul dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan aspek keagamaan. Lebih lanjut, studi ini menemukan bahwa pengembangan wisata berbasis budaya tetap dapat diupayakan dengan mempertimbangkan: (1) regulasi yang beroritentasi pada pengembangan masyarakat dan berwawasan lingkungan, (2) pengembangan yang berfokus pada keunikan dan identitas lokal, serta (3) strategi pemasaran yang menekankan pada pengalaman spiritual.
Marina Ramadhani
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 89-105; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.89-105

Abstract:
Regulasi terkait pariwisata halal di Indonesia belum jelas dan masih lemah, hal ini menjadi dilema karena Indonesia belum mempunyai pedoman khusus untuk pariwisata halal dan masih diatur secara umum di dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Sedangkan Indonesia termasuk dalam salah satu negara yang unggul dalam hal pariwisata halal, jika dibandingkan dengan negara muslim lainnya. Hal ini terbukti dengan penghargaan yang diterima Indonesia dari Global Muslim Travel Index (GMTI) pada tahun 2019. Pariwisata halal Indonesia memberi dampak positif tersendiri bagi perekonomian dan lapangan pekerjaan di Indonesia.
Muhammad Alhada Fuadilah Habib, Mahyuddin Mahyuddin
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 1-34; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.1-34

Abstract:
Pariwisata, khususnya pariwisata religi, merupakan sektor yang mulai diminati oleh masyarakat akhir-akhir ini. Tingginya minat masyarakat terhadap sektor pariwisata tersebut dapat dipahami karena adanya trend budaya pamer foto/video di media sosial sebagai bentuk aktualisasi diri di dunia maya. Tingginya animo masyarakat terhadap sektor pariwisata ini, selain membawa dampak baik, seperti peningkatan ekonomi masyarakat setempat, ternyata juga membawa berbagai dampak buruk. Salah satu dampak buruk yang timbul adalah permasalahan sampah. Kementerian PUPR melalui Balai Litbang Perkim berupaya mengatasi masalah sampah dengan membangun TPS 3R di beberapa titik lokasi, salah satunya di Desa Wisata Gunungpring, Magelang. Seletah dibangunnya teknologi pengolah sampah seperti ini, tentu saja memerlukan pengelolaan dari lembaga setempat. Dalam hal ini pengelolaan teknologi TPS 3R diserahkan kepada KSM Berkah yang merupakan Bumdes di Desa Guunungpring. Setelah dikelola selama satu tahun, dilakukan upaya evaluasi untuk melihat keseuaian antara tujuan pembangunan dengan hasil di lapangan. Adapun hasil evaluasi menemukan bahwa ternyata masih ada beberapa ketidaksesuaian pengelolaan, mulai dari kualitas dan kuantitas tenaga pengelola, manajemen pengelolaan, manajemen keuangan, serta kebutuhan sarana dan prasarana dalam proses pengelolaan.
Cut Rizka Al Usrah, Binti Mutafarifa, Moh Farih Fahmi
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 47-62; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.47-62

Abstract:
Pariwisata halal menjadi tren baru dan menjadi perhatian lebih umat muslim di Indonesia. Adanya pariwsata halal ini tertuang dalam roadmap ekonomi syariah Indonesia yang diharapkan mampu menarik wisatawan lebih karena potensi ekonomi yang besar dari aspek demografi indonesia yang mayoritas muslim. Jenis pariwisata halal yang sudah berkembang di Indonesia diantaranya adalah tempat wisata halal, Hotel Syariah, makanan halal dan masih banyak lagi. Salah satu yang kontroversial dalam pengembangan pariwisata halal yaitu karaoke syariah. Ada aspek yang menjadi perdebatan mengenai karaoke syariah, misalnya persepsi masyarakat muslim mengenai etika yang sesuai dengan al qur’an dan hadis pada kegiatanan karaoke. Disisi lain, adanya karaoke ini menjadi bentuk menggeliatnya perekonomian dari sektor pariwisata. Namun, eksistensi karaoke syariah sepertiya kurang diminati oleh masyarakat karena berbagai sebab seperti persepsi dan etika mayoritas umat muslim, kegagalan ini pernah terjadi pada karaoke syariah di lamongan, tetapi untuk karaoke non syariah malah semakin banyak dan ramai. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi. Tujuan menggunakan pendekatan ini adalah untuk memotret persoalan yang terjadi dilapangan nilai bisnis antara karaoke umum dan karaoke syariah di wilayah yang mayoritas muslim. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya dua kelompok konsumen yang mempunyai selera berbeda, ukuran etika yang berbeda dan adanya perspesi yang berbeda. Ada kelompok yang menganggap semua aktivitas di karaoke itu maksiat sehingga meskipun namanya karaoke syariah tetap saja akan merusak citra muslim, dimana hal ini menjadi salah satu penyebab gagalnya karaoke syariah dimlamongan. Bagi kelompok kedua menganggap karaoke umum merupakan tempat yang menyenangkan dan didukung dengan persepsi tidak semua karaoke menyelenggarakan maksiat. Kelompok kedua inilah yang paling banyak di kabupaten lamongan.
Back to Top Top