Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy

Journal Information
EISSN : 2776-7434
Published by: Martabat : Jurnal Perempuan dan Anak (10.21274)
Total articles ≅ 11
Filter:

Latest articles in this journal

Muhammad Alhada Fuadilah Habib
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 106-134; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.v1i2.4778

Abstract:
Abstrak: Munculnya konsep pemberdayaan masyarakat (social empowerment) sebagai akibat dari kegagalan konsep pembangunan (development) yang pernah diterapkan sebelumnya di Indonesia (di masa orde baru) dan juga di negara-negara berkembang Asia lainnya. Konsep “pembangunan” yang dibawa oleh paradigma ekonomi neoklasik ini, begitu mendewakan industrialisasi dan mekanisme trickle down effect (efek rambatan) yang terbukti tidak mampu mensejahterakan masyarakat secara merata. Secara konseptual pemberdayaan masyarakat didefinisikan sebagai sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni bersifat people centered (berpusat pada manusia), participatory (partisipatif), empowering (memberdayakan), dan sustainable (berkelanjutan). Ekonomi kreatif menjadi salah satu konsep penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, sebab cukup banyak program pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi kreatif yang terbukti mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Paper ini membahas sacara teoritis konsep pemberdayaan masyarakat, latar belakang munculnya konsep pemberdayaan masyarakat, teori-teori pemberdayaan masyarakat (teori ABCD (asset based community development) dan teori stakeholders), konsep peningkatan ekonomi masyarakat, konsep ekonomi kreatif, tipologi masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat, serta alur pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa). Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat; Ekonomi Kreatif; BUMDesa; Peningkatan Ekonomi; Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat. The emergence of the concept of community empowerment (social empowerment) as a result of the failure of the concept of development (development) that had been applied before in Indonesia (in the New Order era) and was applied in other Asian developing countries. The concept of "development" brought about by this neoclassical economic paradigm, so deified industrialization and the trickle-down effect mechanism, which has proven to be incapable of equitably prospering society. Conceptually, community empowerment is defined as a concept of economic development that encapsulates social values. This concept reflects the new paradigm of development, which is people-centered (human-centered), participatory (participatory), empowering (empowering), and sustainable (sustainable). The creative economy is one of the important concepts in community economic empowerment because quite a lot of community empowerment programs in the creative economy have succeeded in improving the community's economy. This paper discusses theoretically the concept of community empowerment, the background to the emergence of the concept of community empowerment, theories of community empowerment (ABCD theory (asset-based community development) and stakeholders theory), the concept of community economic improvement, the concept of the creative economy, typology of society in community empowerment, and the flow of community empowerment through the establishment of BUM Desa. Keywords: Community Empowerment; Creative Economy; BUMDesa; Economic Improvement; Community Economic Empowerment.
A Zahid A Zahid, Nikmatus Sa’Adah, Taufik Alamin
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 151-166; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.v1i2.4841

Abstract:
Abstrak: Arus globalisasi saat ini tidak dapat dipungkiri terdapat fasilitas-fasilitas bagus dan modern yang sangat diminati oleh khalayak. Sehingga mampu menggeser segala sesuatu yang dianggap ketinggalan jaman dengan lebih memilih dan mengedepankan hal-hal yang dianggap lebih kekinian. Misalnya di daerah-daerah yang saat ini berlomba-lomba membangun pariwisata yang menghadirkan unsur modern dengan segala fasilitas kekinian yang dapat dinikmati oleh para wisatawan. Pembangunan pariwisata sangat menjadi prioritas utama sebagai upaya untuk kemajuan dan peningkatan terhadap potensi yang dimiliki, baik dari masyarakat maupun daerah. Hadirnya destinasi wisata modern yang juga mengusung pasar tradisional papringan dengan memasukkan budaya Jawa sebagai upaya untuk melestarikan serta mengenalkan kepada para pengunjung, menjadi tujuan utama masyarakat yang ada di Desa Jambu. Segala wujud tindakan yang dilakukan oleh masyarakat menurut Parson memiliki tujuan yang ingin dicapai, sehingga dengan memanfaatkan dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki, kini desa tersebut menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar kota. Adanya pasar tradisiona,l juga memberikan kesempatan bagi para wanita yang notabennya adalah ibu rumah tangga untuk bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Pada era modernisasi saat ini dianggap memberikan kemudahan untuk dapat mempromosikan segala keunikan dan keistimewaan yang dimiliki oleh desa wisata tersebut. Kata Kunci: Pasar Tradisional Papringan, Masyarakat Desa Jambu, Fungsioanlisme Current globalization can not be denied that there are good and modern facilities that are very popular with the public. So as to be able to shift everything that is considered outdated by preferring and prioritizing things that are considered more contemporary. For example in areas that are currently competing to build a tourism business that presents a modern element with all the current facilities that can be enjoyed by tourists. Tourism development is a top priority as an effort to progress and increase the potential of the community and region. The presence of modern tourist destinations that carry Papringan traditional markets by incorporating Javanese culture as an effort to preserve and introduce to visitors, became the main destination of activists in Jambu Village. All forms of actions taken by the community according to Parson have goals to be achieved. So that by utilizing and developing all the potential that is owned, the village has now become a tourist destination that is visited by many tourists both from within and outside the city. The existence of traditional markets also provides opportunities for women who incidentally are housewives to be more independent in meeting family needs. In the current era of modernization, it is considered to be easy to be able to promote all the uniqueness and privileges that are owned by the tourist village. Keywords: Papringan Tradisional Market, Jambu Village Community, Fungsionalisme.
Lailatul Nuzzulul Safitri, Siti Muslihatul Mukaromah, Muhammad Alhada Fuadilah Habib
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 167-180; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.v1i2.4814

Abstract:
Abstrak: Kota Denpasar merupakan salah satu kota di Pulau Bali yang memiliki wisata pantai kawasan tropis Asia Tenggara dengan banyak kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. Salah satu objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan asing saat berkunjung ke Kota Denpasar adalah pantai. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis seberapa besar potensi wilayah pantai di Kota Denpasar dapat menerapkan konsep halal beach tourism dengan analisis strategi menggunakan matriks SWOT. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan interview, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan matriks EFAS dan IFAS melalui strategi analisis SWOT. Hasilnya menunjukkan bahwa matriks strategi analisis SWOT dengan koordinat +0,691 (internal) dan +0,559 (eksternal) berupa diagram I yang artinya mendukung pertumbuhan halal beach tourism dengan menggunakan peluang (O) dan kekuatan (S) atau strategi SO. Kata Kunci: Kota Denpasar; Halal Beach Tourism; Obyek Wisata Pantai; SWOT. Denpasar is one of the cities on the island of Bali which has beach tourism in the tropical Southeast Asia region which has many domestic and foreign tourist visits. One of the tourist attractions that are often visited by foreign tourists when visiting Denpasar is the beach. This study aims to analyze how big the potential of coastal areas in Denpasar can be to apply the concept of halal beach tourism with strategy analysis using the SWOT matrix. This study uses a qualitative approach. Data were collected using interviews, questionnaires, and documentation. Data analysis using EFAS and IFAS matrices through a SWOT analysis strategy. The results show that the SWOT analysis strategy matrix with coordinates +0.691 (internal) and +0.559 (external) is in the form of diagram I, which means that it supports the growth of halal beach tourism by using opportunities (O) and strengths (S) or SO strategies. Keywords: Denpasar; Halal Beach Tourism; Tourist Attractions; SWOT.
Titi Wahyuni
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 181-194; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.v1i2.4348

Abstract:
Abstrak: Wisata Syariah sebagai salah satu pilihan dalam koridor pariwisata perlu dikembangkan di masyarakat lokal. Tidak semua daerah memiliki anugerah berupa potensi lokal yang menarik untuk peruntukan pariwisata. Kondisi alam dapat dimanfaatkan untuk memunculkan ide-ide kreatif dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif berbasis pariwisata. DIY dengan wisata budaya kearifan lokal dan Jateng dengan wisata peninggalan sejarah Islam Wali Sanga. Penelitian ini bermaksud untuk melihat destinasi dan produk pariwisata yang ditawarkan di DIY-Jateng yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi pariwisata syariah, bagaimana pengelolaan pariwisata selama pandemi COVID-19, serta rekomendasi pengelolaan potensi wisata syariah yang semestinya dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif (descriptive research). Hasilnya, (1) destinasi dan produk pariwisata yang ditawarkan di DIY dan Jateng yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi pariwisata syariah dibedakan menjadi dua secara terintegrasi dan secara terpisah; (2) pengelolaan pariwisata di tengah pandemi COVID-19 dilakukan secara terbatas, buka-tutup untuk pengunjung lokal; dan (3) saran yang dapat diterapkan dalam pengelolaan pariwisata syariah DIY-Jateng adalah adanya infrastruktur yang nyaman dan aman, promosi yang masif, sistem website yang terintegrasi, ketersediaan informasi yang memadai, serta kerjasama antar pemerintah provinsi dan masyarakat setempat dalam melestarikan destinasi wisata syariah yang ada. Kata Kunci: Wisata Syariah; Ekonomi Kreatif; DIY-Jateng; Pengelolaan Pariwisata. Halal Tourism is the first choice that developed by the local community. Not all regions have an interesting local gift for tourism. Natural conditions give rise to creative ideas in the efforts to develop a tourism-based creative economy. DIY has cultural tourism of local wisdom and Central Java has tourism relics of Islamic history Wali Sanga. This study intends to see tourism destinations and products offered in DIY-Jateng which are potential to result the halal tourism products, how to manage tourism during the COVID-19 pandemic, as well as recommendations for halal tourism proper management. This research used a descriptive research approach. As a result, (1) tourism destinations and products offered in DIY and Central Java that potentially to result Syariah tourism products are divided into two integrated and separated; (2) tourism management during the COVID-19 pandemic is conducted on a limited basis, open-close for local visitors; and (3) recommendations that can be applied in the management of Syariah tourism DIY-Jateng is the existence of a comfortable and safe infrastructure, massive promotion, integrated website system, availability of adequate information, as well as cooperation between provincial governments and local communities in preserving existing Syariah tourism destinations. Keywords: Syariah tourism; creative economy; DIY-Jateng; tourism management.
Marina Ramadhani, Muhammad Alhada Fuadilah Habib, Adelina Fitri
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 195-211; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.v1i2.4823

Abstract:
Abstrak: Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ibadah umrah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini memunculkan kerjasama di berbagai bidang, terutama pada bidang penerbangan. PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang menjadi pilihan utama bagi PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) untuk memberangkatkan jemaah umrah. Namun ternyata PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mengingkari komitmen kerjasama tersebut, dengan membuat mekanisme wholesaler untuk penjualan tiket penerbangan ibadah umrah melalui penujukan langsung yang tidak transparan, hanya kepada kelima wholesaler saja. Hal ini dipandang sebagai praktik diskriminasi terhadap PPIU lainnya dan tentu saja melanggar ketentuan hukum persaingan usaha pada Pasal 19 huruf d, karena melakukan penguasaan pasar dengan cara melakukan praktik diskriminasi. Selain itu mekanisme wholesaler penjualan tiket penerbangan ibadah umrah tersebut berdampak negatif terhadap pihak terkait yaitu, konsumen, biro dan agen perjalanan umrah lain, serta PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. itu sendiri. Kata Kunci: Wholesaler; Tiket Penerbangan; Ibadah Umrah; Praktik Diskriminasi; PT. Garuda Indonesia. The latest data shows that the number of Indonesians who travel for Umrah has increased significantly. This has led to cooperation in various fields, especially in the field of aviation. PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. is the main choice for PPIU (Umrah Worship Travel Organizer) to dispatch Umrah pilgrims. However, it turns out that PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. denying the commitment to cooperation, by establishing a wholesaler mechanism for the sale of flight tickets for Umrah pilgrimages through non-transparent direct appointments, only to the five wholesalers. This is seen as a discriminatory practice against other PPIUs and of course violates the provisions of the business competition law in Article 19 letter d, because it controls the market by practicing discrimination. In addition, the wholesaler mechanism for selling Umrah flight tickets has a negative impact on related parties, namely, consumers, other Umrah travel agents, and agents, as well as PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. itself. Keywords: Wholesaler; Flight ticket; Umrah; Discriminatory Practices; PT. Garuda Indonesia.
Rifda Nabila, Risdiana Himmati, Rendra Erdkhadifa
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 135-150; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.v1i2.4820

Abstract:
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan analisis regresi logistik multinomial dan analisis diskriminan untuk mengelompokkan keputusan kunjungan wisata halal di Jawa Tengah berdasarkan ketepatan pengelompokan. Analisis statistik yang digunakan adalah regresi logistik multinomial dan analisis diskriminan. Kedua analisis tersebut dapat digunakan sebagai metode pengelompokan objek, sehingga keduanya dapat dibandingkan berdasarkan ketepatan pengelompokkannya. Penelitian ini membandingkan analisis regresi logistik multinomial dan analisis diskriminan dalam pengelompokan keputusan kunjungan wisata halal. Data yang digunakan adalah worship facilities, halalness, general Islamic mortality, dan tourism destination image. Hasil analisis menggunakan metode regresi logistik multinomial menunjukkan faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi pengelompokan keputusan kunjungan wisata halal adalah variabel tourism destination image, variabel halalness, dan variabel general Islamic morality. Sedangkan dengan analisis diskriminan menunjukkan bahwa semua variabel prediktor yakni worship facilities, halalness, general Islamic mortality, dan tourism destination image memberikan pengaruh secara signifikan terhadap pengklasifikasian keputusan mengunjungi destinasi wisata halal. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode regresi logistik multinomial lebih baik untuk pengelompokkan keputusan kunjungan wisata halal dibandingan metode analisis diskriminan, dengan presetnase ketepatan pengelompokkan pada metode regresi logit multinomial sebesar 59,5% dan analisis diskriminan sebesar 53,5%. Analisis regresi logistik multinominal lebih mudah digunakan dalam proses pengelompokan keputusan kunjuangan wisata halal karena tidak mempertimbangkan asumsi yang harus dipenuhi. Kata Kunci: Analisis Diskriminan; Regresi Logistik Multinominal; Keputusan Mengunjungi The purpose of this study is to compare multinomial logistic regression analysis and discriminant analysis to classify decisions on halal tourism visits in Central Java based on grouping accuracy. Statistical analysis used is multinomial logistic regression and discriminant analysis. The two analyzes can be used as a method of grouping objects, so that they can be compared based on the accuracy of the grouping. This study compares multinomial logistic regression analysis and discriminant analysis in grouping decisions for halal tourism visits. The data used are worship facilities, halalness, general Islamic mortality, and tourism destination image. The results of the analysis using the multinomial logistic regression method show that the factors that significantly influence the grouping of decisions for halal tourism visits are the tourism destination image variable, the halalness variable, and the general Islamic morality variable. Meanwhile, discriminant analysis shows that all predictor variables namely worship facilities, halalness, general Islamic mortality, and tourism destination image have a significant influence on the classification of decisions to visit halal tourist destinations. This study shows that the multinomial logistic regression method is better for grouping decisions on halal tourist visits than the discriminant analysis method, with a preset percentage of grouping accuracy in the multinomial logit regression method of 59.5% and discriminant analysis of 53.5%. Multinominal logistic regression analysis is easier to use in the process of grouping halal tourism travel decisions because it does not consider the assumptions that must be met. Keywords: Discriminant Analysis; Multinomial Logistic Regression; Visiting decision.
Cut Rizka Al Usrah, Binti Mutafarifa, Moh Farih Fahmi
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 47-62; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.47-62

Abstract:
Pariwisata halal menjadi tren baru dan menjadi perhatian lebih umat muslim di Indonesia. Adanya pariwsata halal ini tertuang dalam roadmap ekonomi syariah Indonesia yang diharapkan mampu menarik wisatawan lebih karena potensi ekonomi yang besar dari aspek demografi indonesia yang mayoritas muslim. Jenis pariwisata halal yang sudah berkembang di Indonesia diantaranya adalah tempat wisata halal, Hotel Syariah, makanan halal dan masih banyak lagi. Salah satu yang kontroversial dalam pengembangan pariwisata halal yaitu karaoke syariah. Ada aspek yang menjadi perdebatan mengenai karaoke syariah, misalnya persepsi masyarakat muslim mengenai etika yang sesuai dengan al qur’an dan hadis pada kegiatanan karaoke. Disisi lain, adanya karaoke ini menjadi bentuk menggeliatnya perekonomian dari sektor pariwisata. Namun, eksistensi karaoke syariah sepertiya kurang diminati oleh masyarakat karena berbagai sebab seperti persepsi dan etika mayoritas umat muslim, kegagalan ini pernah terjadi pada karaoke syariah di lamongan, tetapi untuk karaoke non syariah malah semakin banyak dan ramai. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi. Tujuan menggunakan pendekatan ini adalah untuk memotret persoalan yang terjadi dilapangan nilai bisnis antara karaoke umum dan karaoke syariah di wilayah yang mayoritas muslim. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya dua kelompok konsumen yang mempunyai selera berbeda, ukuran etika yang berbeda dan adanya perspesi yang berbeda. Ada kelompok yang menganggap semua aktivitas di karaoke itu maksiat sehingga meskipun namanya karaoke syariah tetap saja akan merusak citra muslim, dimana hal ini menjadi salah satu penyebab gagalnya karaoke syariah dimlamongan. Bagi kelompok kedua menganggap karaoke umum merupakan tempat yang menyenangkan dan didukung dengan persepsi tidak semua karaoke menyelenggarakan maksiat. Kelompok kedua inilah yang paling banyak di kabupaten lamongan.
Achmad Mabrurin, Nur Aini Latifah
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 63-88; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.63-88

Abstract:
With the title "Analysis of the Development of Sharia Tourism Potential in Improving the Economy of the Community (Study on Religious Tourism in the Tomb of Gus Miek Kediri Regency and Mbah Wasil Kota Kediri)" written by Achmad Mabrurin and guided by Ms. Dr. Hj. Nur Aini Latifah, SE., MM and Dr. Iffatin Nur, M.Ag. The research in this thesis dilator is behind the improvement of the economy of the community, in the Qur'an there are many signs to carry out tourism activities. Tourism is one sector that can bring in individual, community income and income for the State. The focus and research questions in this study are (1) How to Develop the Potential of Religious Tourism in Increasing the Economy of the Community at Gus Miek's Tomb in Kab. Kediri and Mbah Wasil Kota Kediri, (2) How is the Impact of the Development of the Potential of Religious Tourism in Increasing the Economy of the Community in the Tomb of Gus Miek Kab. Kediri and Mbah Wasil Kota Kediri (3) What are the obstacles and solutions to the Development of the Potential of Religious Tourism in Increasing the Economy of the Community in the Tomb of Gus Miek Kab. Kediri and Mbah Wasil Kota Kediri. The method in this study used a qualitative approach using field research. The location of the research was the Tomb of Gus Miek Tambak, Ngadi, Mojo, Kab. Kediri and Mbah Wasil Tomb Setono Gedong, Kec. City of Kediri, City of Kediri. The data source of this study consisted of informants, events and locations. Procedure for collecting data using the method of interview (interview), observation, and documentation. Data analysis using qualitative data analysis. From the results of the study, it can be concluded that: (1) In the development of religious tourism, many parties feel benefited, from managers and caretakers feel supported because all development processes can be done and can be resolved, from residents or local traders who feel benefited because of the development done to make visitors often stop by in stalls, and from visitors feel benefited by the development of this tourism potential because they can feel more comfortable and calm. (2) The impact of the development of tourism potential in improving the economy of the community is fairly positive, all parties are affected by the development of the potential of religious tourism and feel benefited by the development. (3) Constraints and solutions to the development of religious tourism, the number of managers and developers is very minimal, the surrounding community's insight into the potential of religious tourism is very lacking. Solution, Conduct small meetings with the community to discuss the magnitude of the potential of religious tourism in the mbah Wasil tomb if it can be managed optimally.
Mukhammad Fatkhullah
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 35-46; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.35-46

Abstract:
Dalam pariwisata, eksotisme budaya merupakan daya tarik bagi wisatawan. Akan tetapi, tidak semua budaya menghasilkan dampak yang sama. Beberapa justru menjadi penghambat upaya mengembangan masyarakat, terlebih pada upaya eksplorasi sumberdaya alam potensial untuk menunjang tujuan pembangunan. Penelitian ini bermaksud untuk melihat bagaimana budaya masyarakat lokal memberikan kontribusi pada sektor pariwisata, dengan menggunakan metode eksploratis berdasarkan studi literatur. Hasilnya, budaya masyarakat lokal mampu mendukung sektor pariwisata dengan syarat terdapat unsur kearifan didalamnya. Adapun unsur tersebut dapat bersumber dari Agama, bahkan takhayul sekalipun. Akan tetapi, hal tersebut hanya berlaku pada komunitas yang homogen. Takhayul yang ada pada masyarakat yang heterogen hanya akan menimbulkan keacuhan masyarakat, hingga penelantaran lingkungan. Adapun upaya untuk menghapus takhayul dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan aspek keagamaan. Lebih lanjut, studi ini menemukan bahwa pengembangan wisata berbasis budaya tetap dapat diupayakan dengan mempertimbangkan: (1) regulasi yang beroritentasi pada pengembangan masyarakat dan berwawasan lingkungan, (2) pengembangan yang berfokus pada keunikan dan identitas lokal, serta (3) strategi pemasaran yang menekankan pada pengalaman spiritual.
Marina Ramadhani
Journal of Islamic Tourism, Halal Food, Islamic Traveling, and Creative Economy, Volume 1, pp 89-105; https://doi.org/10.21274/ar-rehla.2021.1.1.89-105

Abstract:
Regulasi terkait pariwisata halal di Indonesia belum jelas dan masih lemah, hal ini menjadi dilema karena Indonesia belum mempunyai pedoman khusus untuk pariwisata halal dan masih diatur secara umum di dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Sedangkan Indonesia termasuk dalam salah satu negara yang unggul dalam hal pariwisata halal, jika dibandingkan dengan negara muslim lainnya. Hal ini terbukti dengan penghargaan yang diterima Indonesia dari Global Muslim Travel Index (GMTI) pada tahun 2019. Pariwisata halal Indonesia memberi dampak positif tersendiri bagi perekonomian dan lapangan pekerjaan di Indonesia.
Back to Top Top