Halal Research Journal

Journal Information
EISSN : 2775-9970
Total articles ≅ 15
Filter:

Latest articles in this journal

Claudia Perdani, Ruli Retno Mawarni, Liayati Mahmudah, Setiyo Gunawan
Halal Research Journal, Volume 2, pp 96-111; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i2.419

Abstract:
Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam sekitar 87%, sehingga permintaan produk halal di Indonesia juga cukup besar. Makanan halal merupakan makanan bergizi yang tidak mengandung bahan maupun unsur yang dilarang atau haram untuk dikonsumsi baik bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong, termasuk didalamnya adalah penyedap rasa. Perkembangan industri penyedap rasa makanan di Indonesia terlihat semakin banyak diminati oleh masyarakat. Tujuan dari review ini adalah untuk meringkas prinsip-prinsip dasar memproduksi penyedap rasa serta memahami titik kendali dalam produksi penyedap rasa agar dapat meningkatkan jangkauan produk makanan halal. Dengan adanya informasi ini diharapkan dapat menjadi panduan dalam menentukan penyedap rasa yang sesuai dengan kebutuhan produk dan dapat memenuhi persyaratan kehalalan yang berlaku di Indonesia. Penyedap rasa dapat dibuat melalui berbagai proses baik enzimatis, kimiawi maupun sintesis mikroorganisme, dimana dalam review ini disajikan daftar titik kritis halal penyedap rasa dari setiap proses. Konsumen muslim sebaiknya memperhatikan apakah penyedap rasa tersebut berbasis hewani atau nabati, jika berbasis hewani maka harus memperhatikan sumber hewannya apakah berasal dari hewan yang halal dan proses penyembelihannya sesuai kaidah islam. Sedangkan untuk bahan nabati relatif lebih minim untuk titik kritisnya. Untuk penyedap rasa berbasis proses enzimatis dan hasil sintesis mikroorganisme sebaiknya dipilih yang telah memiliki sertifikat halal, komponen tersebut harus berasal dari sumber yang halal.
Aisyah Alifatul Zahidah Rohmah, Alifah Nur Aini Fajrin, Setiyo Gunawan
Halal Research Journal, Volume 2, pp 120-136; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i2.420

Abstract:
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama islam, pasar pangan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan hukum halal haram. Salah satu pangan yang kerap dikonsumsi adalah buah-buahan, namun dengan karakternya yang mudah rusak dan membusuk, diperlukan suatu pelapis yang berperan sebagai pengawet untuk memperpanjang usia simpan buah-buahan tersebut termasuk dengan melapisi menggunakan lilin pelapis. Lilin pelapis dapat membahayakan tubuh jika dikonsumsi terus menerus sehingga tidak memenuhi syarat thayyib. Kitosan dari kulit udang dapat menjadi alternatif pengganti lilin pelapis karena dibuat dari bahan halal dan aman bagi tubuh. Kitosan dapat diproduksi secara enzimatis dan kimiawi. Proses pengkajian halal telah dilakukan baik dengan metode produksi secara enzimatik maupun kimiawi dimana keduanya memiliki beberapa titik kritis pada bahan yang digunakan yaitu pada komposisi bahan media untuk fermentasi untuk proses enzimatik dan pada penggunaan ionic liquids beserta etanol untuk proses kimiawi.
Evania Herindar
Halal Research Journal, Volume 2, pp 77-95; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i2.236

Abstract:
This study aims to see the effect of halal awareness and halal certification on purchasing decisions of halal food products with purchase intention as an intervening variable. In addition, this study also explains maqashid sharia on halal food products in terms of the five basic principles of maqshid sharia and their level of need. The method used in this research is path analysis by taking 151 respondents (generation Z) as the research sample drawn based on purposive sampling with a significant level of 5%. The results showed that halal awareness and halal certification positively and significantly affected buying interest. Furthermore, only halal certification and purchase intention completely and significantly affect purchasing decisions. In this study, buying interest is an intervening variable. Maqosid sharia halal food products is a shari'a goal that is ordered to consume halal food based on five main elements; hifdzud din (maintaining religion), hifdzun-nafs (guarding the soul), hifdzul-'aql (guarding reason), hifdzun nasl (keeping offspring), and hifdzul mal (maintaining the property), and considering the level of human needs, dharuriyyat (immediate needs), hajiyat (secondary needs), and tahsiniyat (tertiary needs). The implications of this research, especially for producers to carry out halal certification on their products because Z Muslim generation also aware of the importance of the halal logo when they want to buy a food product. In addition, this research is also helpful for further researchers who are interested in researching halal products by adding other variables.
Gading Bagus Mahardika, Anisa Ridha Nahara, Setiyo Gunawan
Halal Research Journal, Volume 2, pp 112-119; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i2.424

Abstract:
Produk alam tersedia di alam bebas dengan jumlah dan manfaat yang beragam. Industri pangan menjadi industri dengan kebutuhan terbesar yang dibutuhkan oleh masyarakat. Beberapa bahan tambahan pangan yang diambil dari produk alam sering ditambahkan dalam proses pengolahan untuk membentuk cita rasa nikmat dan menarik konsumen. Titik kritis halal sangat penting diperhatikan dalam mengolah makanan dengan meninjau tujuan penambahan bahan pangan, sumber bahan tambahan pangan tersebut, dan cara pengolahan bahan tambahan pangan. Pada artikel ini mengulas dan mempelajari kandungan dari natural product yang meliputi antioksidan, oleoresin, pewarna, dan seasoning; memilah dan memilih potensi kandungan bahan haram yang ada dalam bahan-bahan tersebut; hingga mampu mempertimbangkan solusi substitusi bahan haram. Halal menjadi sebuah keharusan dalam produk makanan di Indonesia dan diatur dalam peraturan perundang-undangan untuk melindungi umat muslim yang wajib makan makanan halal. Bahan-bahan makanan pun juga harus dijamin kehalalannya supaya produk akhir dapat diberi label halal. Penelitian lebih lanjut diperlukan apabila muncul potensi penggunaan barang non-halal untuk produk-produk bahan alam tersebut. Olahan produk alami meliputi antioksidan, oleoresin, pewarna, dan seasoning memiliki titik kritis masing-masing. Titik kritis kehalalan bahan tambahan pangan dapat ditinjau berdasarkan tujuan pemakaiannya, sumber bahan bakunya, dan cara pengolahannya.
Amelia Safitri, Mohammad Zakki Fahmi, Setiyo Gunawan
Halal Research Journal, Volume 2, pp 64-76; https://doi.org/10.12962/j22759970.vi.194

Abstract:
Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama islam. Islam telah mengajarkan bahwa dalam keseharian diwajibkan mengkonsumsi makanan halal. Halal dapat ditentukan melalui beberapa metode, salah satunya dengan metode pendekatan telusur halal atau traceability. Traceability bertujuan untuk melihat asal bahan baku, proses pengolahan hingga produk yang dihasilkan sebagai kriteria mendapatkan sertifikasi halal. Sertifikasi Halal adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal yang berguna sebagai informasi dan kenyamanan demi terjaganya produk-produk yang halal utuk dikonsumsi oleh masyarakat sebagai konsumen terutama konsumen yang beragama Islam sesuai dengan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal. Kornet daging merupakan bahan makanan yang mudah diolah dan sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kornet daging sapi terdiri atas beberapa merk dengan komposisi yang berbeda-beda dari bahan baku, bahan tambahan hingga bahan penolongnya. Hasil penelusuran diperoleh adanya bahan yang termasuk titik kritis dan non titik kritis baik untuk produk dalam negri maupun luar negri yang telah diakui dan belum diakui oleh Majelis Ulama Indonesia.
Lailiyah Majidah, Claudia Gadizza, Setiyo Gunawan
Halal Research Journal, Volume 2, pp 36-51; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i1.198

Abstract:
Kombucha berasal dari Asia Timur dan tersebar ke Jerman melalui Rusia sekitar pergantian abad 20. Kombucha merupakan suatu ramuan berbentuk minuman yang merupakan hasil simbiosis bakteri dan ragi. Teh kombucha telah menjadi minuman tren dan diminati konsumen karena memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Namun hasil fermentasi kombucha juga menghasilkan etanol atau alkohol. Status halal sudah menjadi suatu isu global, tak terkecuali untuk produk teh kombucha. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji manfaat untuk kesehatan, kadar alkohol dan sertifikasi halal dari teh kombucha. Pendekatan metode yang digunakan yaitu metode studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa teh kombucha merupakan minuman fermentasi yang memiliki efek bagi kesehatan tubuh manusia dengan memiliki akivitas biologis seperti antioksidan, antimikroba, antidiabetes, antikanker, hepaprotektif dan antiinflamasi. Kombucha baik dikonsumsi jika pembuatan kombucha memenuhi proses-proses tertentu yang telah standar dan baku. Bahan pembuat kombucha termasuk bahan yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia, namun untuk 6 produk kombucha yang dikaji saat ini belum mendapat Sertifikasi Halal.
Kurnia Rheza Randy Adinegoro
Halal Research Journal, Volume 2, pp 1-7; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i1.214

Abstract:
Pada era ini, teknologi khususnya sistem komunikasi berkembang dengan pesat. Perkembangan tersebut banyak memberi dampak bagi kehidupan di masyarakat. Salah satunya adalah penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan media sosial ini juga dimanfaatkan dalam usaha untuk menyebarkan ajaran agama, salah satunya dakwah agama Islam. Dengan adanya dakwah agama Islam yang dekat dan mudah diakses oleh umat Islam, hal ini akan memberi pengetahuan agama yang bermanfaat. Dari berbagai pengetahuan atau hal yang didakwahkan, salah satunya adalah pengetahuan tentang halal. Dakwah mengenai kehalalan suatu produk tersebut banyak mengubah pandangan umat muslim untuk lebih memperhatikan gaya hidup terkhusus gaya hidup halal. Gaya hidup halal adalah sebuah ciri khas yang dimiliki oleh konsumen beragama Islam. Kosumen yang beragama Islam akan menjaga barang yang dikonsumsi. Mereka akan memilih produk halal baik secara zat maupun secara mekanisme perolehannya. Oleh karena itu, pasar harus tanggap dalam merespon apa yang diminta oleh masyarakat. Pasar harus menjawab permintaan gaya hidup halal dari masyarakat, baik di sektor konsumsi maupun non konsumsi. Apa yang dimaksud halal tidak hanya dinilai dari segi syariat saja, tetapi juga harus dilihat dari perspektif nilai yang lebih umum, seperti kesehatan, keselamatan, dan kebersihan.
Rahmah Yulisa Kalbarini
Halal Research Journal, Volume 2, pp 26-35; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i1.226

Abstract:
Penelitian ini memiliki tujuan yaitu: 1) Mengetahui pendapatan di toko Maha Bakery sebelum dan sesudah adanya label halal. 2) Untuk mengetahui apakah label halal berdampak pada harga produk di toko Maha Bakery. Metode penelitian dalam ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Kesimpulan dari penelitian ini ialah: 1) Pendapatan Maha Bakery sebelum adanya label halal ialah stabil. Kemudian setelah Maha Bakery mendapatkan label halal pendapatannya mengalami peningkatan. Adanya label halal pada produk Maha Bakery dapat meningkatkan kepercayaan konsumen pada produknya, sehingga berdampak pada tingkat penjualan dan pendapatannya. 2) Harga produk yang ditawarkan Maha Bakery kepada konsumen cukup terjangkau sehingga menarik minat konsumen. Setelah adanya label halal beberapa produk roti di Maha Bakery juga mengalami perubahan harga, namun kenaikan harga tersebut bukan disebabkan oleh adanya label halal MUI melainkan dikarenakan adanya bahan baku yang mengalami kenaikan harga.
Dara Puspita Hapsari, Endah Budi, Setiyo Gunawan
Halal Research Journal, Volume 2, pp 8-25; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i1.193

Abstract:
Pasar global yang kini semakin meluas membuat konsumen harus lebih berhati-hati terutama ketika membeli produk makanan. Konsumsi makanan halal merupakan kewajiban bagi umat muslim. Salah satu produk makanan yang sedang banyak digemari beberapa tahun belakangan adalah yoghurt. Yoghurt diklaim memiliki banyak manfaat baik bagi kesehatan tubuh khususnya pencernaan karena mengandung bakteri baik atau probiotik. Yoghurt dibuat dengan melakukan fermentasi pada susu, dengan bantuan bakteri asam laktat. Sebagai produk hasil fermentasi yoghurt memiliki titik kritis kehalalan. Untuk menjaga tekstur yoghurt umumnya ditambahkan penstabil nabati maupun hewani. Pada artikel ini akan dibahas lebih dalam mengenai sejarah, proses pembuatan, komposisi serta titik kritis yoghurt berdasarkan studi literatur. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah membantu pembaca untuk lebih memahami hal-hal yang perlu diperhatikan saat akan membeli produk olahan fermentasi yoghurt. Sebagai informasi tambahan terdapat 10 produk yoghurt yang banyak beredar di Indonesia yang akan dibandingkan komposisi serta status halal pada produk tersebut. Berdasarkan hasil perbandingan yang dilakukan, 80% produk yang banyak beredar di Indonesia sudah memiliki sertifikasi halal yang diakui MUI.
Risa Qoni'Ah
Halal Research Journal, Volume 2; https://doi.org/10.12962/j22759970.v2i1.246

Abstract:
Meskipun Indonesia memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia, hal ini belum menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar produk halal. Padahal potensi pertumbuhan industri halal semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk muslim dunia. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan ekspor produk halal Indonesia adalah (i) kurang fokus dalam pengembangan produk halal, karena masih mengutamakan ekspor komoditas pertambangan dan perkebunan, (ii) adanya pesaing dari negara non-muslim yang mengembangkan industri halal, dan (iii) Kurangnya pemahaman pelaku UMKM tentang pentingnya sertifikasi halal. Oleh karena itu, strategi yang perlu dilakukan antara lain (i) peningkatan daya saing produk halal indonesia, (ii) memaksimalkan akses pasar ekspor produk halal dengan mengoptimalkan peran dari perwakilan pemerintah di luar negeri, mengikutsertakan UMKM pada pameran di luar negeri dan memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional, (iii) mendukung UMKM ekspor dalam rantai pasok global, dan (iv) optimalisasi penggunaan e-commerce dengan memberikan pelatihan, dan pendampingan kepada pelaku UMKM agar dapat mengakses pasar digital.
Back to Top Top