mezurashii

Journal Information
EISSN : 2722-0567
Published by: Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (10.30996)
Total articles ≅ 32
Filter:

Latest articles in this journal

Prananda Aris Jatmiko, Novi Andari
Published: 8 February 2021
Abstract:
Bahasa adalah alat komunikasi sosial yang berupa sistem simbol bunyi yang dihasilkan dari alat ucap manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berinteraksi dengan manusia lainnya di masyarakat. Media berkomunikasi sebagai alat perantara menyampaikan informasi memiliki peranan penting. Koran dan majalah adalah salah satu media komunikasi tertulis. Membaca koran Jepang bagi orang asing, pembelajar bahasa Jepang memiliki hambatan dalam memahami isi berita yang tertulis di surat kabar. Salah satu contoh hambatan adalah proses pemendekan kata dalam bahasa Jepang yang disebut dengan shouryakugo. Hasil dari proses pemendekan kata disebut dengan ryakugo, seringkali ryakugo yang terdapat pada koran tidak bisa ditemukan artinya di kamus. Tujuan penelitian ini untuk mengklasifikasi gairaigo no shouryaku dan mengetahui proses pemendekan kata. Metode yang digunakan adalah desriptif kualitatif. Penelitian ini membahas mengenai proses pembentukan ryakugo pada kolom berita Kokusai dan Culture edisi Maret-April 2018 Asahi Shinbun. Penelitian ini menghasilkan temuan ryakugo pada kolom berita kokusai terdiri dari 4 jenis yaitu : 1) Joryaku, 2) Churyaku, 3) Geryaku , dan 4) Pemendekan kompleks dengan bagian yang dilesapkan berasal dari kata. Dan pada berita Culture ditemukan 2 jenis ryakugo, yaitu jouryaku dan geryaku.Kata Kunci : Morfologi, Gairaigo no Shouryaku, Surat Kabar
Erman Ardhi Yunanta, Cuk Yuana
Published: 8 February 2021
Abstract:
Abstrak: Manga adalah cerita yang menekankan pada gerak dan tindakan yang ditampilkan lewat urutan gambar yang dibuat secara khas dengan paduan kata-kata. Manga Kuroko no Basket Extra Game adalah sekuel dari Kuroko No Basket, yang bercerita tentang pertandingan basket jalanan antara team Vorpal Swords yang terdiri dari para Miracle Generation ditambah Kuroko Tetsuya, Kagami Taiga, dan beberapa pemain lainnya dalam melawan tim street ball asal Amerika Serikat, Jabberwock. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dengan metode dan teknik yang mengacu pada dokumen. Berdasarkan analisis dari 16 data dapat dikemukakan bahwa ada 3 makna kalimat imperatif yaitu fungsi perintah, fungsi permohonan, dan fungsi larangan. Oleh karena itu, dari 16 data tersebut, dikategorikan dalam 8 data memiliki fungsi perintah, 6 data memiliki fungsi permintaan, dan 5 data memiliki fungsi larangan. Makna suatu kalimat imperatif dapat dimengerti dari konteks dan penanda lingual yang digunakan. Pada situasi tertentu dan berdasarkan pada karakter yang dimiliki oleh penutur dapat mempengaruhi penggunaan penanda lingual dalam suatu kalimat.Kata kunci: Manga, Kalimat Imperatif, Makna Manga is a story that emphasizes motion and action that is displayed through a sequence of images that are made distinctively with a combination of words. Kuroko no Basket Extra Game manga is a sequel to Kuroko No Basket, which tells the story of a street basketball match between the Vorpal Swords team consisting of the Miracle Generation plus Kuroko Tetsuya, Kagami Taiga, and several other players against the street ball team from the United States, Jabberwock. This study uses a descriptive method with a qualitative approach. Data obtained by methods and techniques that refer to documents. Based on the analysis of 16 data it can be argued that there are 3 meanings of imperative sentences, namely the command function, the request function, and the prohibition function. Therefore, of the 16 data, 8 data has a command function, 6 data has a request function, and 5 data has a prohibition function. The meaning of an imperative sentence can be understood from the context and lingual markers used. In certain situations and based on the character possessed by the speaker, it can affect the use of lingual markers in a sentence.Keywords: Manga, Imperative Sentences, Meaning
Lailatul Munaadiyah, Eva Amalijah
Published: 8 February 2021
Abstract:
Abstrak: Penelitian ini meneliti tentang ungkapan emosi cinta serta faktor cinta pada tokoh utama pada komik AnoHana volume 1 dan 2 karya Mari Okada. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikolinguistik. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang diambil ungkapan emosi cinta serta faktor penyebab cinta pada tokoh utama komik AnoHana volume 1 dan 2 karya Mari Okada. Penelitian ini menghasilkan temuan seperti berikut : pertama ungkapan emosi cinta dalam manga AnoHana volume 1 dan 2 terdiri dari beberapa jenis, yaitu : 1) penerimaan, terdapat 3 data; 2) persahabatan, terdapat 7 data; 3) kepercayaan, terdapat 4 data; 4) kebaikan hati, terdapat 5 data; 5) rasa dekat, terdapat 1 data; 6) kasih, terdapat 4 data. Kedua ungkapan emosi cinta tidak hanya diungkapkan karena tindakan tokoh utama sendiri, tetapi juga karena ucapan dan tindakan dari tokoh lain yang dapat membuat ungkapan emosi cinta muncul. Ketiga Faktor penyebab cinta dalam manga AnoHana volume 1 dan 2 terdiri dari beberapa faktor, yaitu : 1) kedekatan, terdapat 9 data; 2) karakter, terdapat 9 data; 3) saling suka, terdapat 6 data; 4) momen, terdapat 12 data.Kata Kunci : Psikolinguistik, Ungkapan Emosi Cinta, Faktor Penyebab Cinta. This research will be discussing about the expression of love emotions and the love factor of the main character in the comics AnoHana volumes 1 and 2 by Mari Okada. The approach used in this research is the psycholinguistic approach. While the method used is descriptive qualitative method. The data source is taken from the expression of emotion of love and the factors that cause love in the main character AnoHana comics volume 1 and 2 by Mari Okada. This research produces findings such as the following: first the expression of emotion of love in the AnoHana manga volumes 1 and 2 consists of several types, namely: 1) acceptance, there are 3 data; 2) friendship, there are 7 data; 3) trust, there are 4 data; 4) kindness, there are 5 data; 5) feeling close, there is 1 data; 6) love, there are 4 data. Both expressions of the emotions of love are not only expressed because of the actions of the main character himself, but also because of the words and actions of other characters who can make the expression of emotion of love emerge. The three factors causing love in AnoHana manga volumes 1 and 2 consist of several factors, namely: 1) closeness, there are 9 data; 2) characters, there are 9 data; 3) like each other, there are 6 data; 4) moments, there are 12 data.Keywords: Psycholinguistics, Expressions of Love Emotions, Factors Causing Love.
Dedi Irawan, Masilva Raynox Mael
Published: 8 February 2021
Abstract:
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan penggunaan partikel akhir (shuujoshi) dalam ragam bahasa pria (danseigo) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang terdapat ragam bahasa yang kelompok penuturnya hanya digunakan oleh pria yang disebut danseigo. Penggunaan danseigo sangat terlihat pada penggunaan partikel akhir atau shuujoshi yang dalam penelitian ini akan menjadi objek utama. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data yang diambil dari tiga serial kartun Jepang berjudul Bleach, Nisekoi Season 2 dan Shokugeki no Souma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan total 24 data tentang penggunaan shuujoshi danseigo. 2 shuujoshi kana (??), 13 shuujoshi na (?), 1 shuujoshi sa (?), 1 shuujoshi i (?), 4 shuujoshi ze (?), 2 shuujoshi zo (?), dan 1 shuujoshi monoka /monka.Kata kunci: shuujoshi, danseigo, ragam bahasa jepang This study aims to describe the use of final particles (shuujoshi) in different languages of men (danseigo) in Japanese. In Japanese there is a variety of language groups of speakers are only used by the man who called danseigo. Use danseigo very visible on the use of final particles or shuujoshi which in this study will be the main object. The method in this research is descriptive qualitative with data source taken from three Japanese cartoon series titled Bleach, Nisekoi Season 2 and Shokugeki no Souma. The results of this study showed that the found a total of 24 data about the use of shuujoshi danseigo. 2 shuujoshi kana (??), 13 shuujoshi na (?), 1 shuujoshi sa (?), 1 shuujoshi i (?), 4 shuujoshi ze (?), 2 shuujoshi zo (?), and 1 shuujoshi monoka /monka.Keywords: shuujoshi, danseigo, variety of Japanese language
Theresia Arianti
Published: 8 February 2021
Abstract:
Abstrak: Studi ini didasarkan pada serial TV Oshin yang disiarkan perdana pada 1983. Oshin, tokoh utama, lahir di Jepang pada tahun 1900 pada periode Meiji dan menghabiskan masa remajanya pada periode Taisho. Kebanyakan penelitian mengenai Jepang sebelumnya belum memasukan Oshin dan Face-Threatenig Acts sebagai landasan studi. Disinilah kekurangan yang akan diisi oleh studi ini dimana studi ini akan menunjukan sisi gelap Jepang pada periode Meiji dan Taisho melalui Face-Threatening Acts yang terdapat dalam dorama Oshin. Hasil studi menunjukan bahwa Jepang mengalami masalah kemiskinan pada zaman Meiji serta permasalahan politk pada zaman Taisho. Studi ini menunjukan bahwa Face-Threatening Acts dapat merepresentasikan latar belakang tempat dan waktu dari sebuah cerita.Kata kunci: Oshin, Face-Threatening Acts, periode Meiji, periode Taisho This study is based on a Japanese TV series titled Oshin which was firstly aired in 1983. Oshin, the main character, was born in Japan in 1900 during Meiji period and spent her teenagehood in Taisho period. Previous studies examining Japan mostly do not include Oshin and Face Threatening Acts in the methods/materials used. These are the gaps the current study is fulfilling since this study aims to investigate Oshin’s portrayal of Japan, by using Face Threatening Acts theory, which can reveal Japan’s dark history to people outside Japan. Findings show that face threatening acts in the conversations amongst the characters reflect Japan’s poverty in Meiji period. The face threatening acts also reveal the “underground” political movement emerged in Taisho period as well as laborers’ bad working condition. This study shows how face threatening acts in a conversation can reflect the condition of the place and time when the conversation occurs. This study will also open the society’s eyes on what happened in Japan during Meiji and Taisho periods so that more people can learn from the history.Keywords: Oshin, Face-Threatening Acts, Meiji period, Taisho period
Mochamad Alqhollibi Hamzah, Eva Amalijah
Abstract:
Abstrak: Manga merupakan salah satu karya sastra yang barasal dari Jepang. Manga Gochuumon wa Usagi Desu ka? adalah Manga karya Koi. Manga ini menceritakan tentang kehidupan sehari-hari tokoh utama bernama Cocoa Hoto. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti ungkapan bahagia dan faktor penyebab bahagia dalam Manga Gochuumon wa Usagi Desu ka? volume 1. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikolinguistik. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan sebagai berikut. Pertama, ungkapan bahagia tidak hanya diungkapkan karena tindakan tokoh utama sendiri, tetapi juga karena ucapan dan tindakan dari tokoh lain. Berikutnya, Ungkapan bahagia masing-masing tokoh berbeda sesuai kondisi bahagia dan faktor penyebabnya. Selanjutnya, Faktor penyebab bahagia dalam Manga Gochuumon wa Usagi Desu ka? volume 1 terdiri dari: 1) kenikmatan ada 7; 2) pekerjaan ada 1; 3) masa depan ada 2; 4) persahabatan dan dukungan sosial 9; 5) hubungan sosial ada 2; 6) gratifikasi ada 5; 7) kesehatan ada 2; 8) masa lalu ada 1. Dan faktor penyebab bahagia yang paling banyak adalah persahabatan dan dukungan sosial.Kata kunci: Psikolinguistik, Ungkapan Bahagia, Faktor Bahagia, Manga Manga is one of the literary works that originated from Japan. Manga Gochuumon wa Usagi Desu ka? is a work manga by koi. This manga tells about the daily life of the main character named Cocoa Hoto. This research aims to researching the expression of happiness and the factors that cause happiness in the Manga Gochuumon wa Usagi Desu ka? volume 1. This research uses a qualitative descriptive method and the approach uses a psycholinguistic approach. The data in this research are happy expressions taken from the words of the characters. This research produces the following findings: First, the expression of happiness is not only expressed by the actions of the main character himself, but also because of the words and actions of other characters. Next, the happy expressions of each character differ according to happy conditions and their causal factors. Hereinafter, Factors causing happiness in the Manga Gochuumon wa Usagi Desu ka? volume 1 consists of: 1) pleasure there are 7; 2) work there are 1; 3) future there are 2; 4) friendship and social support there are 9; 5) social relations there are 2; 6) gratification there are 5; 7) health there are 2; 8) past there are 1. And the most contributing factors to happiness are friendship and social support. Keywords: Psycholinguistics, Happy Expressions, Factor of Happy, Manga
Nurul Hikmah Mudjiati, Cuk Yuana
Abstract:
Abstrak: Lagu adalah salah satu media hiburan yang diminati oleh masyarakat di manapun berada, lebih dari itu lagu juga digunakan sebagai identitas, media penyampaian pesan kepada masyarakat. Lirik lagu Itsuwa Mayumi yang ada dalam album “Mayumi The Best Kokoro No Tomo” ditulis sesuai dengan gaya bahasa yang dikuasainya. Penelitian ini mengangkat tema gaya bahasa lirik lagu Itsuwa Mayumi dengan tujuan untuk mengetahui gaya bahasa yang dipakai Itsuwa Mayumi dalam lirik lagu yang diciptakannya. Data yang digunakan adalah lirik lagu Itsuwa Mayumi yang ada dalam album “Mayumi The Best Kokoro No Tomo”. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan stilistika. Hasil analisis dari gaya bahasa lirik lagu yang diciptakan Itsuwa Mayumi antara lain: gaya bahasa metafora, personifikasi, simile, hiperbola, litotes, paradoks, pertanyaan retoris, dan repetisi. Diantara gaya bahasa tersebut yang paling sering digunakan adalah gaya bahasa metafora, personifikasi, dan simile. Sehingga bisa dikatakan ciri khas lirik lagu yang diciptakan Itsuwa Mayumi lebih banyak menggunakan gaya bahasa metafora, personifikasi, dan simile.Kata kunci: stilistika, gaya bahasa, lirik lagu The song is one of the entertainment media that is in demand by people everywhere, more than that the song is also used as an identity, a medium for delivering messages to the public. The lyrics of Itsuwa Mayumi's song in the album "Mayumi The Best Kokoro No Tomo" were written in accordance with the style of language under their control. This study raises the theme of the language style of song lyrics of Itsuwa Mayumi with the aim to find out the style of language used by Itsuwa Mayumi in the lyrics of the songs she created. The data used are the lyrics of the song Itsuwa Mayumi in the album "Mayumi The Best Kokoro No Tomo". The method used is descriptive qualitative method. While the approach used is a statistical approach. The results of the analysis of the style of song lyrics created by Itsuwa Mayumi include: metaphorical style, personification, simile, hyperbole, litotes, paradox, rhetorical questions, and repetition. Among the language styles most frequently used are metaphorical, personification, and simile styles. So that it can be said that the song lyrics created by Itsuwa Mayumi use more metaphorical, personified, and simile language styles. Keywords: stylistics, language style, song lyrics
Ervina Dwi Cahya Aprilia Nilamsari, Rahadiyan Duwi Nugroho
Abstract:
Abstrak: Orang Jepang dalam berkomunikasi memerhatikan siapa lawan bicara mereka. Orang Jepang cenderung memosisikan diri mereka dalam kelompok. Kelompok tersebut dikenal dengan istilah uchi soto. Orang Jepang dalam berbicara dengan orang lain dikenal pula dengan kebiasaan bicara yang jarang berterus terang yang disebut dengan istilah honne tatemae. Honne tatemae sebagai suatu bentuk interaksi masyarakat Jepang dituangkan melalui karya sastra, salah satunya drama 1 Rittoru no Namida. Permasalahan dalam penelitian ini mengenai honne tatemae yang terdapat pada drama 1 Rittoru no Namida. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan honne tatemae dalam drama ini. Hasil penelitian menyatakan bahwa Honne Tatemae yang terdapat dalam drama ini merupakan cerminan masyarakat Jepang dalam berkomunikasi. Honne biasa diungkapkan kepada kelompok uchi yaitu keluarga, sedangkan tatemae diungkapkan dengan melihat situasi dan kondisi lawan bicara. Tatemae dilakukan untuk berbagai tujuan tetapi tetap pada tujuan yang berkaitan dengan menjaga kedamaian antarmanusia.Kata kunci: drama, 1 Rittoru no Namida, honne-tatemae, sosiologi sastra; uchi-soto Japanese people, in conducting communication, pay attention to whom their interlocutor is. Japanese people tend to put themselve in a group. The group is known as uchi soto. Japanese people speaking habit to put on an act while having conversation with others is called honne tatemae. Honne tatemae as a form of Japanese society interaction is reflected in literary work and one of them is a play in 1 Rittoru no Namida. The research problem was related to honne tatemae reflected in 1 Rittoru no Namida. The objective of this research was to explain honne tatemae reflected in the play under investigation. Based on the findings of conducted analysis, the researcher concluded that honne tatemae in the intended play is the reflection of Japanese society in communicating. Honne is usually expressed in uchi groups namely family, but tatemae is usually expressed by considering the situation and condition of the interluctor. Tatemae is conducted for various purposes but those are still related to the purpose of preserving peace among humans. Keywords: drama,1 Rittoru no Namida, honne-tatemae, sociology of literature, tatemae, uchi-soto
Yogi Andriant Inzaghi, Novi Andari
Abstract:
Abstrak: Kanji adalah salah satu huruf yang dipakai oleh masyarkat jepang dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu unsur yang mempengaruhi bentuk kanji adalah bushu. Bushu memiliki peranan penting terhadap makna kanji karena masyarakat Jepang juga menggolongkan kanji berdasarkan bushu yang dimiliki kanji tersebut. Semua huruf kanji memiliki bushu yang berfungsi untuk mempermudah dalam memahami kanji. Salah satu bushu yang menarik adalah nikudzuki (?), karena bushu tersebut memiliki bentuk yang mirip dengan kanji tsuki (?) yang berarti “Bulan”, akan tetapi bushu nikudzuki malah tidak berhubungan dengan “Bulan” melainkan berhubugnan dengan “Daging”. Dalam penelitian ini akan mencari tahu makna kanji yang memiliki bushu nikudzuki yang terdapat pada kamus kanji Tadashiku Kakeru Tadashiku Tsukaeru Chuugakukanji 1130. Tujuan penelitian ini untuk memahami makna kanji yang memiliki bushu nikuduzuki. Peneitian ini menggunakan naritachi untuk mengetahui asal-usul pembentukan kanji. Dan menggunakan metode deskriptif sebagai desain penelitan dan kualitatif sebagai pendekatan. Dari semua data yang ditelaah menggunakan analisis semiotik 27 diantaranya memiliki arti yang berkaitan erat dengan bushu nikudzuki (?) atau daging. Sementara 2 data lainnyayaitu? (datsu) dan? (shou) tidak memiliki hubungan erat dengan nikudzuki (?).Kata kunci: Makna, Kanji, Bushu, Nikudzuki Kanji is one of the letters used by Japanese people in everyday life. One element that affect the form of kanji is bushu. Bushu has an important part on the meaning of the kanji because Japanese people also classify the kanji based on the kanji’s bushu. All kanji have bushu which functions to make it easier to understand kanji. One interesting bushu is nikudzuki (?), because it has a shape similar to kanji tsuki (?) which means "Moon", but nikudzuki bushu is actually not related to "Moon" but relates to "Flesh". In this research will find out the meaning of the kanji that has the nikudzuki bushu contained in the Kanji dictionary Tadashiku Kakeru Tadashiku Tsukaeru Chuugakukanji 1130. The purpose of this study is to understand the meaning of the kanji that has nikuduzuki bushu. This research uses naritachi to find out the origin of the formation of kanji. And using descriptive methods as a research design and qualitative as an approach. Of all the data analyzed using semiotic analysis, 27 of them have a meaning that is closely related to nikudzuki (?). While 2 other data, ? (datsu) and ? (shou) do not have a close relation with nikudzuki (?). Keywords: Meaning, Kanji, Bushu, Nikudzuki
Zida Wahyuddin
Abstract:
Abstrak: Tulisan ini merefleksikan eksistensi kehadiran manusia pada konteks modern dan postmodern. Pada konteks ini, manusia sebagai individu dikaruniai akal dan pikiran untuk menuntunnya pada suatu kebaikan dan kebenaran. Metode yang akan digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan filsafat. Analisa akan berpusat pada konteks sebagian isu-isu terkini yang terjadi di Indonesia. Hasil analisis akan dibaca dengan konsep-konsep filsafat, khususnya tentang fenomena manusia sebagai individu pada konteks modern dan postmodern di Indonesia. Hasilnya adalah kontribusi pengetahuan terkait refleksi eksistensi manusia baik sebagai individu dan subjek pada konteks tertentu dipahami sebagai ruang yang dinamis dalam memperoleh suatu pengetahuan kemudian mendialogkannya kembali untuk mengagumi keberbedaan. Selain itu, tulisan ini memberikan sumbangan tentang bagaimana prilaku manusia sebagai individu memiliki strategi dalam menyikapi isu-isu disekitarnya.Kata kunci: Eksistensi kehadiran, refleksi filsafat, modern, postmodern This paper reflects the existence of human presence in modern and postmodern contexts. In this context, humans as individuals are endowed with reason and thoughts to guide them to goodness and truth. The method to be used is a qualitative descriptive method with a philosophical approach. The analysis will focus on the context of some of the current issues occurring in Indonesia. The results of the analysis will be read with philosophical concepts, especially regarding the phenomenon of humans as individuals in modern and postmodern contexts in Indonesia. The result is the contribution of knowledge related to the reflection of human existence, both as an individual and as a subject in a certain context, which is understood as a dynamic space in obtaining knowledge and then dialogue again to admire differences. In addition, this paper contributes to how human behavior as an individual has a strategy in addressing surrounding issues. Keywords: Existence, presence, reflection on philosophy, modern, postmodern
Back to Top Top