Al'Adalah

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-7406 / 2684-8368
Published by: IAIN Jember (10.35719)
Total articles ≅ 35
Filter:

Latest articles in this journal

Moh Aziz Arifin, Sukandar Sukandar
Al'Adalah, Volume 24, pp 11-17; doi:10.35719/aladalah.v24i1.44

Abstract:
Bahasa Arab adalah bahasa yang terpilih sebagai yang digunakan dalam al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, bahasa Arab sering disebut sebagai ilmu alat khususnya dalam memahami agama bagi umat Islam di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya bahasa Arab bagi umat Islam di pedesaan Desa Ngreco Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan beberapa tahapan yang telah ditentukan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Arab bagi umat Islam di pedesaan Desa Ngreco, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri sudah dikenalkan sejak dini kepada anak-anak mereka. Hal ini karena bahasa Arab dipahami sebagai ilmu dasar untuk mempelajari dan memahami kitab-kitab yang semuanya menggunakan bahasa Arab, tidak hanya al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan kitab-kitab tersebut merupakan pedoman yang digunakan oleh umat Islam untuk mempelajari pengetahuan ilmu agama. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa tradisi anak-anak mempelajari bahasa Arab sejak dini di pedesaan Desa Ngreco, Kandat, Kediri sudah dilaksanakan secara turun-temurun karena orang tua mereka juga melakukan hal itu serupa oleh generasi sebelumnya.Arabic is the language chosen as the language used in the Qur'an and Hadith. Therefore, Arabic is often referred to as a science tool, especially in understanding religion for Muslims around the world. This study aims to determine the importance of Arabic for Muslims in rural areas of Ngreco Village, Kandat District, Kediri Regency. The method used in this research is a qualitative research method with several predetermined stages. The results of this study indicate that Arabic for Muslims in rural areas of Ngreco Village, Kandat District, Kediri Regency has been introduced early to their children. This is because Arabic is understood as the basic knowledge for studying and understanding books which all use Arabic, not only the Qur'an and Hadith. While these books are guidelines used by Muslims to study religious knowledge. In addition, this research also reveals that the tradition of children learning Arabic from an early age in the village of Ngreco Village, Kandat District, Kediri Regency has been carried out from generation to generation because their parents have also done the same thing by previous generations.
Andri Sutrisno
Al'Adalah, Volume 24, pp 1-10; doi:10.35719/aladalah.v24i1.64

Abstract:
Ilmu tasawuf merupakan suatu ilmu yang mengutamakan diri manusia agar memiliki kebersihan ruhani dan jiwa. Di Pondok Pesantren al-Amien Prenduan menanamkan nilai-nilai yang ada dalam ilmu tasawuf. Hal ini bertujuan agar para santri selalu taat pada perintah Allah Swt. dan memiliki nilai-nilai persatuan antar-sesama santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan. Adapun metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data tersebut kemudian dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan, pertama, proses internalisasi nilai-nilai tasawuf melalui nilai Ilahi dan nilai insani di Pondok Pesantren al-Amien Prenduan; kedua, bahwa faktor pendukung dalam internalisasi nilai tasawuf melalui upaya pendampingan pendidikan selama 24 jam dan suri tauladan yang baik oleh para kiai dan para guru. Sedangkan faktor penghambat internalisasi tersebut antara lain para santri masih banyak yang melanggar disiplin pondok dan karena latar belakang keberagaman suku yang berbeda-beda baik dari Jawa, luar Jawa atau bahkan dari luar Indonesia.Sufism is a science that prioritizes human beings in order to have the cleanliness of the soul and spirit. The boarding school of al-Amien Prenduan instilled the values that exist in the science of Sufism. The goal is for the students to always obey the command of Allah Almighty and have the values of unity among fellow students. This study uses a descriptive qualitative approach to the type of field research. The data collection method uses observation, interview and documentation. Then the data is analyzed with data reduction, data presentation and conclusion withdrawal. The results of this study show that: 1) the process of internalization of the Sufism values in boarding schools through divine values and human values; 2) supporting factors in internalizing the value of Sufism with the assistance and education for 24 hours and good suri tauladan from the kiai and teachers. While the inhibitory factor is among the students are still many who violate the discipline of the cottage and because of the background of the diversity of different tribes both from Java, outside Java or even outside Indonesia.
Muhammad Faqih
Al'Adalah, Volume 24, pp 19-28; doi:10.35719/aladalah.v24i1.70

Abstract:
Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui konsep ummah dan rakyat perspektif Islam yang sesungguhnya, apa saja kualifikasi-kualifikasi ummah dalam al-Qur’an Hadis, masyarakat madani, dan bagaimana konsep kewarganegaraan dalam perspektif kajian Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan heuristik dan historiografi ala Notosusanto. Hasil penelitian yang diperoleh: ummah adalah suatu kumpulan masyarakat yang berbeda-beda baik suku, ras, agama, dan budaya yang memiliki visi-misi dan tujuan hidup bersama dalam merealisasikan perintah dan larangan Tuhan untuk kehidupan yang berkemajuan, bermartabat dan beradab. Konsep ummah dalam masyarakat madani adalah bermula pada proses hijrah Rasulullah Saw. yang diimplementasikan untuk memulai peradaban baru bersama masyarakat di Madinah. Konkretnya, Rasulullah Saw. meletakkan dasar-dasar masyarakat madani melalui bermusyawarah, dan merumuskan ketentuan dan tujuan hidup bersama yang meliputi kebebasan, keadilan, dan partisipasi. Dalam konsep kewarganegaraan Islam, ada dua penyebutan non-Muslim, yaitu kafir dzimmi dan musta’min. Kafir dzimmi merupakan warga non-Muslim yang memiliki kriteria seperti menetap di satu tempat selamanya, dihormati, dan jiwanya tidak boleh mendapat gangguan apapun. Dikatakan kafir dzimmi, maka individu tersebut mempunyai beberapa hak di antaranya hak kemanusiaan, hak sipil, dan hak politik. Adapun musta’min, mereka tidak memiliki hak-hak politik, karena mereka bagian dari orang asing.This study discusses the concept of the ummah and the people in Islamic perspective, what are the qualifications of the ummah in al-Qur'an and as-Sunnah, civil society, and how the concept of citizenship is in the perspective of Islamic studies. The research method used a heuristic and historiography approach according to Notosusanto. The result of the study showed that ummah is a group of people with different ethnicities, races, religions, and cultures that have a vision and mission and the goal of living together to realize God's commands and prohibitions for a progressive, dignified, and civilized life. The concept of the ummah in civil society originated in the process of the Prophet Muhammad's hijrah which was implemented to start a new civilization together with the people in the Medina. Concretely, Muhammad Saw laid the foundations of civil society through deliberation and formulated the terms and goals of life together which included freedom, justice, and participation. In the concept of Islamic citizenship, there are two terms of non-Muslim, namely kafir dhimmi and musta'min. Kafir dhimmi are non-Muslim citizens who have criteria such as staying in one place forever, being respected, and their souls should not be subject to any disturbance. Kafir dhimmi said that the individual has several rights including human rights, civil rights, and political rights. As for musta'min, they are individuals that do not have political rights, because they are part of foreigners.
Matrapi Matrapi
Al'Adalah, Volume 24, pp 63-74; doi:10.35719/aladalah.v24i1.46

Abstract:
Pendidikan Islam dewasa ini telah banyak ternodai oleh ulah dan tingkah laku murid yang melakukan asusila dan pelanggaran norma-norma agama lainnya. Oleh karena itu, saat ini perlu adanya kebijakan sekolah untuk menghidupkan suasana keberagamaan di lingkungan sekolah dalam rangka menumbuhkan perilaku murid yang sesuai dengan pendidikan Pancasila dan syariat Islam. Sebagai pemimpin sekolah, peranan kepala madrasah sangat menentukan apabila dikaitkan dengan berbagai persoalan di atas. Sebagai seorang pendidik, dia juga harus mampu menanamkan, mengembangkan, dan meningkatkan nilai-nilai religius. Untuk itu, perlu kebijakan yang dapat mendukung terciptanya suasana yang keberagamaan dan kenyamanan dalam proses belajar-mengajar, yakni setiap guru dan murid harus selalu berperilaku terpuji atau akhlaq al-karimah. Islamic education today has been tarnished by many students who commit immorality and violate other religious norms. Thus, currently, madrasah principals really need to make policies to revive the religious atmosphere within the madrasah in order to foster student behaviour in accordance with Pancasila education and Islamic law. Considering that the principal is also an educator, the role of the principal is very heavy and noble when linked to the various sources above. As an educator, he must be able to instil, promote and enhance various religious values. To support the creation of a religious atmosphere and comfort in the teaching and learning process, every teacher and student must always behave well and show noble character (akhlaq al-karimah).
Fiena Saadatul Ummah
Al'Adalah, Volume 24, pp 55-62; doi:10.35719/aladalah.v24i1.65

Abstract:
Dalam pendekatan antropologi, Islam bukan hanya dipandang sebagai suatu ideologi politik, praktik sosial, dan ekonomi, tetapi juga sebagai sistem budaya yang diinterpretasi dan dipahami, untuk kemudian diyakini dan dipraktikkan dalam bentuk tindakan keagamaan oleh para pemeluknya. Etnisitas merupakan identitas dari suatu suku bangsa, di mana sesuatu yang membedakan antara satu suku dengan suku yang lainnya yang ditandai dengan atribut-atribut dari kebudayaan dan mempunyai pengertian dari berbagai perspektif. Banyaknya etnis di Indonesia di satu sisi menjadi kekayaan budaya masyarakat, tetapi di sisi lain menyimpan potensi timbulnya konflik. Salah satu contoh konflik etnis di Indonesia yaitu konflik etnis di Kalimantan antara suku Dayak dan suku Madura. Dalam konteks ini, Islam sebenarnya sudah mengantisipasi konflik etnis tersebut dengan memberikan berbagai solusi. Salah satunya melalui firman Allah Swt. dalam QS. al-Hujurat [49]: 13 yang memberi gambaran bahwa perbedaan bukanlah penyebab perpecahan, justru perbedaan itulah yang mendorong manusia untuk saling bersatu. In an anthropological approach, Islam is not only seen as a political ideology, social and economic practice but also a cultural system that is interpreted and understood, to be believed and carried out in the form of religious acts by the perpetrators. Ethnicity is the identity of an ethnic group, where something distinguishes one tribe from another, which is marked by the attributes of culture and has meanings from various perspectives. In Indonesia, there are also various ethnic groups, which have the potential for conflict. One example of ethnic conflict in Indonesia is the ethnic conflict in Kalimantan between the Dayak and Madurese tribes. Therefore, Islam responds to these ethnic conflicts by providing various solutions in Surah al-Hujurat [49]: 13 which illustrates to all of us that differences are not the cause of division, they are precisely the differences that encourage people to unite with each other.
Lathifatul Izzah, Peni Catur Renaningtyas
Al'Adalah, Volume 24, pp 45-53; doi:10.35719/aladalah.v24i1.54

Abstract:
Hak asasi manusia (HAM) merupakan anugrah Tuhan yang bersifat kodrati. Ke-sadaran tentang HAM masih belum dipahami secara utuh dan merata di kalangan masyarakat. Padahal sebagai pengetahuan, HAM penting untuk ditransfer ke dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, masyarakat dapat mempraktikkan hak yang seharusnya mereka miliki dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Artikel ini mengkaji tentang Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) di dunia Barat dan Deklarasi Kairo di dunia Islam sebagai dasar filosofi penegakan hukum atas pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia dalam dunia pendidikan Islam dan Barat. Dalam analisisnya digunakan pendekatan klasik, kultural, dan kritis atau disebut mixed approach. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa deklarasi HAM yang dilakukan oleh dunia internasional (PBB) dalam DUHAM dan Deklarasi Kairo oleh OKI, telah memberikan pengetahuan riil tentang pentingnya HAM dalam kehidupan sehingga manusia dapat mengetahui batasan-batasan dan kaidah-kaidah di dalamnya.Human rights is a natural gift from God. This awareness of human rights has not been understood well and comprehensively by all people. Whereas knowledge, human rights are important to be transformed into the realm of education. Thus, they can exercise the rights they should have in the life of society, nation and state. This article examines the Universal Declaration of Human Rights (UDHR) in the Western world and the Cairo Declaration in the Muslim world as a philosophical basis for upholding the law for human rights violations in the world of Islamic and Western education. The analysis uses classical, cultural, and critical approaches or what is called the mixed approach. The results of this study conclude that the human rights declaration carried out by the international community (UN) in the UDHR and the Cairo Declaration by the OIC has provided real knowledge of human rights in life so that humans can know the limitations and rules in it.
Abdul Haq Syawqi
Al'Adalah, Volume 24, pp 29-43; doi:10.35719/aladalah.v24i1.69

Abstract:
Sejarah bangsa Indonesia baik secara de facto maupun de jure tidak bisa di-lepaskan dari Belanda sehingga berdampak tidak hanya dalam hukum positif, tetapi juga dalam hukum Islam. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih dipakainya HIR dan Rbg sebagai salah satu rujukan para hakim Pengadilan Agama dan pakar hukum Islam negeri ini dalam menentukan persoalan terkait hukum Islam, seperti perkawinan, pewarisan, dan sebagainya. Ada apa sebenarnya dengan hukum Islam di negeri ini. Ia pasti dan akan selalu berkait erat dengan hukum kolonial. Ternyata fakta sejarah menunjukkan bahwa hukum Islam memang berkaitan dengan hukum adat (hukum bentukan Belanda waktu itu). Tentunya pernyataan ini sarat dengan muatan politis karena bagaimana mungkin suatu adat atau kebiasaan dikaitkan dengan hukum Islam dan menjadi rujukan dari dulu hingga saat ini. Oleh karena itu, fakta sejarah sekaligus intrik politik yang melatarbelakangi perkembangan hukum Islam harus dikaji secara mendalam.The history of Indonesia cannot be separated from the Netherlands both de facto and de jure, so it has an impact not only on positive law but also on Islamic law. It’s can be evidenced by still wore HIR and Rbg as one of the references of the religious court judges and expert in this country to determine all matters that relating to Islamic law such as marriage, inheritance etc. What’s wrong with Islamic law in Indonesia? It must be closely linked with colonial law. The historical facts show that Islamic law is associated with customary law (law of the Netherlands at that time). This statement is absolutely loaded with political content because how could a custom or habit has been associating with Islamic law. Therefore the historical facts and political intrigue behind the development of Islamic law must be studied in depth.
Dwika Mayasari, Sarah Wijayanti Putri
Published: 1 October 2020
Al'Adalah, Volume 23, pp 123-141; doi:10.35719/aladalah.v23i2.31

Abstract:
Ekonomi Islam merupakan sarana dalam mewujudkan ekonomi masyarakat madani. Kegagalan sistem konvensional membuat terjadi penyimpangan dari nilai sosial dan nilai normatif moral masyarakat sehingga sistem itu dianggap gagal dalam membentuk sarana ekonomi masyarakat. Untuk itu instrumen ekonomi syari’ah merupakan salah satu alternatif dalam pembentukan ekonomi masyarakat madani melalaui instrumen baitul maal, lembaga zakat, lembaga wakaf, sedekah dan sebagainya. Economic of Islam is supporting facilities for in realizing public chartered investment counsel madani. Fails of conventional system makes happened variation from value social and normative value of public morale so that the system is assumed to fails in forming faciliti public chartered investment counsel. For the purpose intstrument chartered investment counsel syari’ah is one of alternative in forming of public chartered investment counsel madani with instrument treasure house, religious obligatory institute, communal ownership institute, alms and all that.
Najahah Najahah, Ulin Ni'Mah Rodliya Ulfah
Published: 1 October 2020
Al'Adalah, Volume 23, pp 163-177; doi:10.35719/aladalah.v23i2.34

Abstract:
Teknologi dan bahasa asing adalah dua hal yang saling berkesinambungan. Penguasaan dua materi tersebut menjadi sebuah keniscayaan bagi sivitas akademika baik pendidik maupun siswa. Hal ini karena, mayoritas kegiatan pembelajaran berhubungan dengan alat-alat digital dan bahasa asing dalam penyampaiannya. Tekhnologi diciptakan untuk mempermudah usaha manusia, selain itu ia juga dapat meningkatkan pencapaian tujuan. Dalam pengajaran bahasa asing, siswa cenderung lebih mudah memahami materi jika disampaikan dalam bentuk gambar, film, video ataupun animasi. Pengajaran Bahasa bahasa Asing saat ini masih dianggap kurang memuaskan dikarenakan materi yang disampaikan terlalu monoton dan kurang bersentuhan dengan tekhnologi sehingga kurang menarik untuk disampaikan. Kedua, materi ajar lebih banyak diasosiasikan dengan buku teks pelajaran. Padahal sebenarnya, materi ajar dapat berupa kamus, kaset, video, lembar kerja, dan sebagainya. Berdasarkan hal-hal di atas, maka peneliti mengembangkan materi pelajaran Bahasa Asing pada Madrasah Tsanawiyah berbasis Whiteboard Animation. Technology and foreign language are two related things. Mastery in the above two is a must for academic people, either for the teachers or the students. It is because, majority, the learning activity are done with the help of digital technology and foreign language. Technology is created in order to help human activity and also to improve the goals’ achievement. While in the teaching and learning process, students tend to understand the material more if it is delivered in the form of picture, movie, video or animation. The foreign learning, nowaday, is considered unsatisfied since the material delivered is monotone and less in touch with the technology, so it is not really attractive. Second, the learning materials are assosiated more with textbook. While actually, the learning materials can be in the form of dictionary, cassette, video, worksheet and so on. Based on the above fact, the researcher improvr the foreign (English and Arabic) learning materials for Islamic Junior High School based on whiteboard animation.
Naufaldi Alif, Laily Mafthukhatul, Majidatun Ahmala
Published: 1 October 2020
Al'Adalah, Volume 23, pp 143-162; doi:10.35719/aladalah.v23i2.32

Abstract:
Kondisi kehidupan masyarakat di Nusantara khususnya yang berada di daerah Jawa sangat erat kaitannya dengan akulturasi budaya lokal mereka terhadap ajaran agama Islam. Keduanya itu seolah telah melebur menjadi satu kebudayaan tersendiri yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Akulturasi budaya tersebut tidak terlepas dari adanya peran dakwah para Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan budaya lokal, Sunan Kalijaga mampu mengemas dakwah Islam sehingga tidak bersifat memaksa masyarakat. Masyarakat setempat pun menyambut baik dakwah tersebut sehingga Islam semakin tersebar di pulau Jawa. Sunan Kalijaga berkeyakinan bahwa jika masyarakat sudah memahami Islam, maka dengan sendirinya ‎kebiasaan lama secara bertahap akan memudar dan digantikan dengan yang lebih baik. Oleh karena itu, tak heran jika ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam ‎mengenalkan Islam, yaitu dengan memadukan antara tradisi budaya Jawa dan ajaran agama Islam sehingga terdapat kesesuaian di antara keduanya. Pada akhirnya syiar Islam pun menjadi mudah diterima oleh masyarakat karena tetap memperhatikan unsur nilai-nilai lokal yang digunakan dalam masyarakat. The living conditions of people in the Nusantara, especially in the Java area are related to the acculturation of their local culture to the Islam. Both of them seem to have merged into a separate culture that has its own characteristics. The acculturation of this culture is inseparable from the role of the Walisongo da’wah, especially Sunan Kalijaga in spreading Islam in Java. By utilizing local culture,he was able to package Islamic da’wah so that it did not force the community. The local community also welcomed the preaching so that Islam was increasingly spreading in the Java Island.Sunan Kalijaga believes that if peapole already understand Islam, then automatically these old habits will gradually fade and be replaced with better ones.therefore, it is not surprising that Sunan Kaliaga’s teaching seem syncretic in introducing Islam by combining Javanese cultural traditions and Islamic teachings so that there is compatibility between both of them. In the end, the syiar of Islam became easily accepted by the community because it still paid attention to the elements of local values that were used in society.
Back to Top Top