SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya

Journal Information
ISSN / EISSN : 2686-2689 / 2714-7932
Total articles ≅ 42
Filter:

Latest articles in this journal

Teguh Fatchur Rozi, Ageng Gumelar Wicaksono
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 131-139; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.2.131-139

Abstract:
Serat Babad Thuban merupakan sebuah karya sastra yang digubah oleh seorang pujangga yang tidak berkenan memublikasikan identitasnya. Serat tersebut menjadi rujukan utama sejarawan untuk mencari nama-nama Adipati Tuban yang pernah berkuasa beserta pusat pemerintahannya. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan lokasi-lokasi pusat pemerintahan Kadipaten Tuban sebagaimana yang telah tercatat dalam Serat Babad Thuban versi cetakan ketiga oleh Boekhandel Tan Khoen Swi. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan atau studi literatur, kajian yang berkenaan dengan pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelola bahan penelitian dalam rujukan kajian, yakni Serat Babad Thuban versi cetak. Hasil dari kajian ini yaitu: Kadipaten Tuban telah mengalami tujuh kali pemindahan pusat kadipaten. Yang pertama kali berada di Papringan, sebelah barat Gua Gabar, kemudian ke Kampung Sidamukti, Kampung Dagan, Kampung Kahibon, Dusun Prunggahan, dan Kampung Gowah.
Desi Illa Mufliha, Aisah Nur Khasanah, Hasbi Ash Siddiqy, Achmad Lutfi, Dwi Susanto
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 161-170; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.2.161-170

Abstract:
Sumenep merupakan salah satu kabupaten penghasil garam berkualitas di Indonesia. Pada masa pra kolonial garam telah menjadi komoditi penting dalam perdagangan Nusantara. Oleh sebab itu, kolonial Belanda kemudian milirik Madura dan menerapkan sistem monopoli dalam perdagangan garam Nusantara. Sistem monopoli garam dalam perdagangan garam menimbulkan dampak bagi petani garam di Madura. Petani garam Madura lantas melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda, meskipun resistensi mereka dapat dipadamkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan memahami motif perlawanan petani garam Madura terhadap kolonial Belanda di Sumenep. Kajian ini merupakan telaah pustaka dengan metode kualitatif-deskriptif. Penelitian ini meliputi, (1) sejarah masuknya kolonial Belanda ke Sumenep; (2) proses perlawanan petani garam Madura atas monopoli kolonial Belanda; (3) dampak sistem monopoli garam oleh kolonial Belanda terhadap petani garam di Madura. Secara umum, petani melakukan perlawanan karena dilatarbelakangi penerapan sistem monopoli kolonial yang merugikan pihak petani garam, baik sebagai pemilik lahan maupun sebagai pekerja di lahan garam.
Achmad Fawaid
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 140-149; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.2.140-149

Abstract:
The recent studies commonly pointed out that literary works of contemporary Indonesian women writers have coined feminist ideology. However, the study on reading these writers in ‘masculine’ perspective is rarely given. This study amins to analyze the works of two important Indonesian women writers, Ayu Utami and Djenar Maesa Ayu to demonstrate the inadequate definition of labels 'masculine' and 'feminine’ as binary opposition between male and female for explaining a much more fundamental problem: desire. This study concluded that first, the short stories of Ayu Utami and Djenar Maesa Utami demonstrate—in Connell's terminology—the master signifier or—in Lacan's terminology—phallic desire towards male, meaning that, instead of being regarded as "feminist champions," they are possible to be considered as "masculine without an object." Second, concept of "masculine without an object" is plural and splitted. Although neither Djenar nor Utami can avoid the fact that they are female, both of them were born into a multifaceted environment, an environment that strove to break down an essentialist barrier between male and female.
Laila Wargiati, Indah Nur Fadilah, Biancha Viska Putri Dwi Setyawati, Taqiyuddin Jamilus Shiyam, Muhammad Khodafi
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 150-160; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.2.150-160

Abstract:
Kedatangan Jepang menjadi sebuah mimpi buruk bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Pendudukan Jepang disertai bukti kekejaman seperti dalam peristiwa jugun ianfu yang menorehkan bekas luka bagi korbannya. Dari persoalan tersebut terdapat tiga rumusan masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini, bagaimana perkembangan jugun ianfu di Indonesia? Bagaimana pengaruh praktik jugun ianfu di Indonesia? Bagaimana nilai-nilai sejarah dalam peristiwa jugun ianfu? Kajian ini menempatkan Jugun Ianfu Jangan Panggil Aku Miyako sebagai objek kajian dan bertujuan memaparkan sejarah jugun ianfu sebagai simbol hegemoni Jepang atas perempuan. Metode kajian ini menggunakan deskriptif-kualitatif dengan mengumpulkan data literatur dan dokumentasi. Hasil kajian menunjukkan tiga hal, yaitu: perkembangan jugun ianfu di Indonesia berlangsung tragis, praktik jugun ianfu sangat mempengaruhi kondisi fisik dan psikis korbannya, dan tragedi jugun ianfu mengandung nilai-nilai sejarah yang dapat dijadikan ibrah.
Sumaiyah Menjamin, Andareena Chema
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 99-104; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.2.99-104

Abstract:
This study aims to describe the comparison of the Satun dialect and the Patani dialect of the Malayu language. Satun is a province located to the west of Peninsular Malaysia, while Patani is located in the eastern part of Malaysia, namely in Kelantan. This research is a descriptive field research about BMDS and BMDP dialect forms. The data collected are forms of dialect used by people who use BMDS and BMDP. The Data was collected via interview, the matching method, and by analyzing the basic vocabulary comparison method based on 200 Swadesh words. Data obtained from 2 sources, BMDS-informant and DMDP-informant. The results of this study are a form of comparison between the Satun dialect and the Patani dialect of the Malayu langauge. (1) There are 48 vocabularies with the same form and (2) 152 vocabularies with different forms. Both dialeks are based in the same language, Austronesian Malay. Based on the location of different provinces, the location gets influence from the loghat of the area bordering Kedah and Kelatan. Therefore, these two languages have a regional language or dialect that is together and different in the form of words and sounds.
Muhammad Nur Ichsan Azis, Salmin Djakaria
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 105-121; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.2.105-121

Abstract:
Pemikiran Islam di kawasan Sulawesi Tengah tumbuh sejak abad XVII. Dato Karama meletakkan dasar perwajahan Islam di Sulawesi tengah. Sedangkan Sayyid Idrus bin Salim Aljufrie melanjutkan estafet perkembangan Islam di Sulawesi Tengah dengan mengembangkan pendidikan Islam modern pada abad XX. Keduanya memiliki ciri khas tersendiri dalam menentukan perkembangan Islam melalui metode Islamisasi adaptif dan modernis. Akhirnya Islam menjadi pranata yang integral di tengah masyarakat Sulawesi Tengah. Kedua figur tersebut juga dikenal sebagai penganut tarekat Syattariyah dan Alawiyyah. Tulisan ini memanfaatkan metode sejarah sebagaimana dijabarakan Kuntowijoyo (2006), bahwa peristiwa sejarah tidak hanya menujukkan sisi periodik satu peristiwa, namun arah dan gerak peristiwa yang dapat mengubah sebuah fenomena atau peristiwa dari satu objek. Sebuah persitiwa historis membutuhkan ilmu bantu untuk membedah setiap sisi dari persitiwa yang telah terjadi di masa lalu. Oleh karena itu, Sartono (1982) berkesimpulan jika narasi sejarah idealnya ditulis dengan memperhatikan penjelasan kausalitas dan determiner dalam satu persitiwa. Akhirnya tulisan ini berkesimpulan suksesnya poros Islamisasi di Sulawesi tidak sekadar kronik sejarah, lebih jauh ia berimplikasi pada historiografi yang optimis dimana pemikiran dan dinamika gerakan Islam di Sulawesi Tengah pada sampai pada abad XX memperkuat posisi serta warisan pemikiran sejarah Islam di Sulawesi Tengah.
Indra Tjahyadi, Dheny Jatmiko
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 122-130; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.2.122-130

Abstract:
Artikel ini memfokuskan kajiannya pada keberadaan makna perempuan muslim yang direpresentasikan dalam Hati Suhita karya Khilma Anis. Dalam kajian ini, novel tidak hanya dipahami sebagai sebuah karya sastra yang mimiliki nilai estetika saja, lebih jauh novel sebagai dokumen budaya yang merepresentasikan wacana kebudayaan sebuah masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan makna perempuan muslim yang direpresentasi dalam wacana berjenis novel. Teori yang digunakan dalam kajian ini teori analisis wacana model Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif desktiptif. Berdasarkan analisis yang dilakukan ditemukan bahwa perempuan muslim direpresentasikan sebagai sosok yang cerdas, berkepribadian yang kuat, serta memiliki keberanian untuk mengaktualisasikan dirinya di tengah masyarakat.
Icha Fadhilasari, Mohamad Nizar Rahmanto
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 34-45; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.1.34-45

Abstract:
Legenda merupakan bagian dari folklor lisan yang tidak hanya menggambarkan kisah-kisah kolektif suatu kelompok masyarakat tetapi juga mengandung anasir sejarah. Legenda dapat mencerminkan kebudayaan sebuah komunitas kultural. Legenda Raden Ayu Oncattondo Wurung merupakan salah satu folklor lisan yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat di sekitar Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi, nilai budaya dan sistem kepercayaan pada sosok Raden Ayu Oncattondo Wurung terkait masyarakat di Terung Wetan, Krian, Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Dalam pengumpulan data dilakukan pengamatan dan wawancara kepada beberapa tokoh masyarakat dan warga setempat. Hasilnya diketahui asal-usul Raden Ayu Oncattondo Wurung. Selanjutnya, dapat dipahami fungsi, nilai budaya dan sistem kepercayaan terkait legenda tersebut sehubungan dengan masyarakat setempat. Legenda tersebut memiliki dua fungsi yang mengatur perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat. Nilai budaya pada legenda tersebut menjadi acuan tingkah laku masyarakat setempat. Nilai budaya dalam penelitian ini difokuskan pada nilai rohani, yakni: 1) kebenaran, 2) keindahan, 3) kebaikan, dan 4) nilai religius.
Moh Atikurrahman, Awla Akbar Ilma, Laga Adhi Dharma, Audita Rissa Affanda, Istanti Ajizah, Risyatul Firdaus
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 1-22; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.1.1-22

Abstract:
Meskipun Politik Etis menjanjikan modernitas Eropa yang mencerahkan namun ongkos dari kebijakan tersebut akhirnya juga dibebankan kepada pribumi yang notabene jarang merasakan dampak kolonialisme. Penerapan pajak perorangan (belasting) kemudian direspon masyarakat Hindia dengan pemberontakan. Dalam hal ini Perang Kamang (1908) dapat dipahami sebagai kesumat atas kebijakan simbolik pemerintah kolonial. Peristiwa pemberontakan berlatar Melayu pada peralihan abad XX tersebut tersaji dalam Sitti Nurbaya, sebuah roman yang bercorak melodrama sentimentil. Dengan memanfaatkan teori sosiologi sastra Swingewood diketahui roman modern pertama berbahasa Melayu Hindia tersebut menyajikan ketegangan antara manusia modern Samsulbahri dan manusia tradisional Datuk Meringgih. Duel mereka menandai goncangan yang tak terelakkan dalam dunia Melayu yang tengah menyongsong modernitas bikinan kolonial. Senjakala kebudayaan Melayu yang segera digantikan pranata Eropa digambarkan melalui ketegangan antargolongan dalam menempatkan adat Melayu konteks sosial-historis.
Laksmi Eko Safitri
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Volume 3, pp 23-33; https://doi.org/10.15642/suluk.2021.3.1.23-33

Abstract:
Dalam tulisan ini Situs Gosari-Gresik dikategorikan sebagai salah satu artefak arkeologis Nusantara yang memberikan informasi terkait masa silam. Situs tersebut dipahami sebagai representasi dari perspektif Prosesual dan Pasca-Prosesual. Ruang lingkup tulisan ini menyajikan lanskap Situs Gosari sebagai representasi dari paradigma prosesual dan pasca-prosesual. Kontradiksi kedua paradigma di atas disinergikan untuk mengetahui lanskap Situs Gosari yang terdiri dari bekas tungku pembakaran gerabah, sendang, dan prasasti. Dalam hal itu paradigma pertama menjelaskan tarikh atau usia situs, jenis atau model gerabah yang dihasilkan; korelasi antarunsur arkeologi; dan peranan atau industri gerabah pada masa Majapahit. Sedangkan paradigma kedua digunakan untuk melengkapi analisis yang tidak dapat dijangkau paradigma sebelumnya, terutama terkait interpretasi terhadap sendang dalam pandangan masyarakat setempat berdasarkan tradisi lisan/folklor yang diyakini. Dari kedua paradigma tersebut dihasilkan kesimpulan bahwa kedudukan sendang memiliki peranan penting, baik dalam industri gerabah maupun kehidupan masyarakat sekitar. Selain itu, diketahui bahwa tinggalan budaya tak bendawi masa klasik tersebut masih dipelihara.
Back to Top Top