Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak

Journal Information
ISSN : 2745-6641
Published by: IAIN Syekh Nurjati Cirebon (10.24235)
Total articles ≅ 30
Filter:

Latest articles in this journal

Yunita Dwi Jayanti
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 227-238; doi:10.24235/equalita.v2i2.7433

Abstract:
Komunikasi yang disampaikan dalam sebuah tarian adalah pengalaman berharga yang bermula dari imajinasi kreatif, kemudian disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari untuk menstimulasi kecerdasan pada anak. Sekolah merupakan media utama dan tempat untuk mengembangkan kecerdasan yang dimiliki setiap individu. Pada pendidikan Sekolah Dasar (SD) salah satu bidang studi yang disampaikan kepada siswa adalah pembelajaran seni tari. Implementasi pembelajaran tari kreatif bertujuan untuk menggali kecerdasan kinestetik, intrapersonal, dan interpersonal siswa. Karakteristik siswa di lingkungan sekolah perkotaan dalam berinteraksi, toleransi, bekerjasama antar teman sebaya kurang terjalin dengan baik, disebabkan dari sikap siswa yang individual serta latar belakang suku dan budaya masing-masing siswa yang berbeda menunjukan acuh tak acuh, kurangnya guru menggali kecerdasan interpersonal siswa pada saat di sekolah. Tujuan penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan pembelajaran tari kreatif dalam meningkatkan kecerdasan Interpersonal siswa kelas II SD Cendekia Leadership School Bandung. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan interdisiplin. Pada hasil pretest diperoleh predikat Cukup dalam indikator kecerdasan interpersonal, sedangkan pada hasil posttest mengalami peningkatan di lihat dari berbagai aspek kepemimpinan, bekerjasama. sosialisasi, dan empati dengan memperoleh predikat Baik. Hasil dari penelitian ini terdapat pengaruh dalam pembelajaran tari kreatif terhadap peningkatkan kecerdasan interpersonal siswa kelas II SD di Cendekia Leadership School Bandung.Kata kunci: tari kreatif, siswa, kecerdasan interpersonal
Burhan Sanusi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 202-226; doi:10.24235/equalita.v2i2.7451

Abstract:
Penelitian ini membahas tentang perubahan tradisi perawatan di masa kehamilan yang meliputi ritual masa kehamilan dari perawatan sampai persalinan (ngajuru) di desa Japura Kidul Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon. Tradisi perawatan di masa kehamilan yang ada di Desa Japura Kidul ini mengalami perubahan, salah satunya ialah pada ritual ngajuru (persalinan) dan perawatan kehamilan. Penelitian ini menjadi menarik karena memiliki keunikan dalam ritual-ritual yang berubah mengenai tradisi perawatan di masa kehamilan.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini melakukan observasi di lapangan dan wawancara mendalam. Data berasal dari hasil wawancara dari para informan, sedangkan data tambahan berbentuk dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara menelaah dan mengamati data yang ada. Perubahan tradisi masa kehamilan dapat terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, di antaranya yaitu kebijakan pemerintah yang mengakibatkan konflik, dan ketegangan terhadap kelompok-kelompok yang ada di masyarakat Japura Kidul. Sehingga perubahan yang terjadi dalam tradisi perawatan di masa kehamilan ini merupakan keteraturan yang dipaksa oleh kelompok dominan dengan menggunakan posisi dan wewenangnya untuk mengajak masyarakat beralih dari layanan paraji menuju layanan medis modern. Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, kebersihan, dan keselamatan yang semakin meninggi. Sehingga kesadaran masyarakat muncul dan mengalami perubahan.Kata kunci: Perubahan, Tradisi, Perawatan, KehamilanAbstractThis study discusses in the change for the tradition of care pregnancy, including rituals pregnancy from nursing to give birth (ngajuru) in Japura Kidul Village, Astanajapura District, Cirebon Regency. The tradition of care pregnancy is in Japura Kidul has changed, one of the ritual is ngajuru (giving birth) and pregnancy. This research becomes interested because it has unique in rituals which is changed as long as the tradition of care pregnancy.This study used qualitative descriptive, it conducts an observations and in-depth interviews. The data takes from informant interview result, while the additional data are documents. Data analysis performed by analyzing and peering-data. The change in the pregnancy tradition can occur because several factors that influence it, including government policies that cause conflict, and against groups in the community of Japura Kidul. So that the change that occurs in the tradition of care pregnancy is orderliness that forced by the dominant group to use its means and authority to invite people to switch from paraji to modern medical services. Increasing public knowledge about health, cleanliness and safety. So that public awareness appears and experiences changes.Keywords: The change. Tradition, Nursing, Pregnancy
Abu Bakar
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 142-151; doi:10.24235/equalita.v2i2.7450

Abstract:
Salah satu yang cukup berperan besar yaitu lingkungan. Lingkungan akan memberi warna terhadap proses pendidikan anak. Dan lingkungan yang sangat utama adalah lingkungan keluarga dimana terjadi di dalamnya pendidikan keluarga. Keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat merupakan wadah yang sangat penting karena menjadi tempat penanaman dasar-dasar tata kehidupan bagi seorang manusia. Keluarga merupakan wadah pendidkan karakter seseorang yang pertama dan utama. Yang menjadi permasalahan banyak terjadi peran orang tua dalam proses pendidikan dalam keluarga tidak menunjukkan pada pola pendidikan sebenarnya. Orang tua menyadarai bahwa pendidikan keluarga sangat penting tetapi pada prakteknya para orang tua tidak maksimal dalam menerapkannya. Bentuk pendidikan anak dalam keluarga diantara yaitu dengan cara; menanamkan ketauhidan,ketauladanan, saling menghormati sesama anggota keluarga, keharmonisan keluarga, kepercayaan kepada anak, perhatian orang tua terhadap anak, komunikasi yang demokratis serta mengapresiasi anak. Hal-hal tersebut merupakan proses pembentukan lingkungan keluarga yang mendukung dalam proses pendidikan anak, sehingga proses pendidikan anak akan lebih maksimal.Kata kunci: lingkungan, pendidikan, keluarga, anakAbstractOne that plays a big role is the environment. The environment will give color to the child's education process. And the very main environment is the family environment where family education occurs. The family as the smallest group in society is a very important container because it becomes a place for planting the basics of life for a human being. Family is the first and foremost place for educating one's character. The problem is that the role of parents in the educational process in the family does not show the actual pattern of education. Parents realize that family education is very important but in practice parents are not maximal in implementing it. The form of children's education in the family is by way of; instilling monotheism, exemplary, mutual respect for fellow family members, family harmony, trust in children, parental attention to children, democratic communication and appreciation of children. These things are the process of forming a family environment that supports the process of children's education, so that the children's education process will be maximized.Keywords: environment, education, family, children
Naila Farah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 182-201; doi:10.24235/equalita.v2i2.7457

Abstract:
Gender masih menjadi pembahasan strategis baik di rana sosial maupun akademik. Isu gender menjadi legitimasi untuk meruntuhkan pemahaman superioritas berdasarkan jenis kelamin. Di Indonesia, isu gender juga melahirkan paradigma baru. Keterbukaan informasi publik didukung makin lenturnya regulasi yang semula membatasi peran-peran strategis perempuan membuat persolan seksualitas tidak lagi menjadi halangan untuk melebarkan peran gender. Pemahaman ini juga telah menjalar ke berbagai pelosok. Misalnya di Indramayu. masyarakat justru mempraktikan langsung peran-peran gender yang tidak lagi bergantung pada identitas seksualitasnya seperti, pergeseran peran gender antara perempuan dan laki-laki. Khususnya bagi keluarga TKW. Perempuan yang bekerja sebagai TKW, punya multiperan menjadi ibu rumah tangga (IRT), TKW Indramayu juga menjadi andalan dalam mendulang rupiah untuk pemenuhan kebutuhan keluarga besar. Dari sini, pembahasaan mengenai pergeseran peran gender dipandang menarik. Kajian gender bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat di Desa Purwajaya, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu yang banyak bekerja sebagai TKW. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan etnografi. Metode etnografi ialah suatu metode atau ilmu mengenai (gambaran) etnik, suku, bangsa atau masyarakat. Metode ini menggambarkan keadaan masyarakat yang diteliti dalam hal ini perempuan yang bekerja sebagai TKW di Desa Purwajaya, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Dari hasil penelitian, penulis menemukan terjadinya pergeseran peran gender TKW di desa tersebut, yang kemudian jika dilebarkan lagi, TKW di desa tersebut menjalankan multiperan gender. Bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, melainkan menjadi penopang ekonomi utama keluarga.
Cucum Cucum
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 152-163; doi:10.24235/equalita.v2i2.7449

Abstract:
Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional serta sabda Rasul di atas berbanding lurus bahwa keduanya mempunyai tujuan yang sama dalam membentuk karakter atau akhlak manusia yang mulia. Jadi bisa disimpulkan bahwa karakter itu erat kaitannya dengan personality. Seseorang bisa dikatakan berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Lembaga pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya untuk membentuk karakter. Sehingga dalam paper ini dimaksudkan untuk menjabarkan terkait implementasi pendidikan karakter pada anak usia dini.Kata kunci: Impelentasi, Pendidikan, Karakter, Anak Usia DiniEducation has a very strategic role in improving the quality of human resources, and efforts to realize the aspirations of the Indonesian people in realizing general welfare and educating the nation's life. The objectives of national education and the words of the Prophet above are directly proportional to the fact that both have the same goal in shaping noble human character or morals. So it can be concluded that character is closely related to personality. A person can be said to have character if their behavior is in accordance with moral principles. Educational institutions have a very important role in the effort to shape character. So that this paper is intended to describe the implementation of character education in early childhood.Keywords: Implementation, Education, Character, Early Childhood
Vevi Alfi Maghfiroh
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 257-273; doi:10.24235/equalita.v2i2.7426

Abstract:
Radha’ah dan Hadhanah merupakan hak anak sekaligus kewajiban kedua orang tua dalam menjalankan amanah titipan Tuhan. Keharusan ini sudah diatur dengan jelas dalam ayat Al-Qur’an dan teks hadist. Dalam literatur fikih klasik umumnya pembahasan radha’ah hanya membahas tentang tekhnis penyusuan yang menyebabkan terjadinya mahram dan upah penyusuan yang dilakukan oleh perempuan selain ibu kandung. Begitupun dengan hadhanah, umumnya hanya menempatkan orang tua sebagai subjek pengasuh, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemaslahatan anak. Pembahasan Radha’ah dan Hadhanah berperspektif gender ini memperhatikan dengan seksama perbedaan dan fungsi sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat tentang gender untuk kesetaraan dan kesalingan menggapai maslahah bagi setiap subjeknya. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif pada penelitian pustaka, dengan tekhnik analisis berupa metode deskriptif analitik dan metode deduktif untuk mengurai secara menyeluruh objek yang diteliti. Adapun hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa perspektif gender dalam rada’ah tidak hanya melihat peran biologis perempuan dalam memenuhi kewajibannya sebagai ibu yang menyusui, tetapi juga memperhatikan peran bapak sebagai pelindung yang harus menjamin kebutuhan keduanya baik secara materil maupun non-materil. Begitupun hadhanah berperspektif gender harus menjadikan maslahah sebagai ketentuan hukum hak asuh agar berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan bagi anak dan kedua orang tuanya.Kata Kunci: Radha’ah, Hadhanah, Gender
Laili Widayanti, Rustono Rustono, Atika Zahra Furi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 239-256; doi:10.24235/equalita.v2i2.7456

Abstract:
Perkembangan kognitif anak-anak dalam konsep ruang kanan kiri di RA Al Muhtadin sangat rendah, hal ini disebabkan oleh 1) pembelajaran guru yang monoton dan kurang variatif; 2) minat anak yang tergolong rendah pada pembelajaran konsep ruang; 3) karakteristik anak yang selalu meniru apa yang dilihatnya dan tidak berpikir secara nalar; dan 4) alat peraga atau media pembelajaran yang kurang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam konsep ruang kanan-kiri dan untuk mengetahui penerapan metode permainan pijak kaki pada anak kelompok A di RA Al Muhtadin Langenharjo Kendal. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan 2 siklus, setiap siklus terdiri satu kali pertemuan dengan empat tahapan. Dimulai dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pada observasi awal pra siklus anak yang memperoleh nilai 16,67%, pada siklus I kemampuan anak meningkat menjadi 75%, dan pada siklus II kemampuan anak meningkat menjadi 91,67%. Berdasarkan penelitian tersebut disarankan pada semua guru dapat merancang kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif serta menggunakan media dan metode yang menarik, menyenangkan dan bervariasi.
Bani Syarif Maula
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 164-181; doi:10.24235/equalita.v2i2.7287

Abstract:
Studi hukum Islam yang menjadi wilayah kajian PTKI, terutama Fakultas Syariah, memerlukan penyegaran dan pembaharuan dalam hal pengkajiannya, terutama dalam hal pendekatan yang digunakannya, bukan hanya bersifat normatif tetapi juga sosiologis. Hal ini merupakan suatu keharusan karena studi hukum Islam tidak dapat lepas dari kontak dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kajian ini merupakan hasil dari penelitian eksploratif dengan pendekatan normatif yang mencoba mengungkap materi perkuliahan dan bahan ajar matakuliah di Fakultas Syariah, khususnya tentang hukum keluarga (perkawinan dan kewarisan) dikaitan dengan wacana kesetaraan gender. Kurikulum Fakultas Syariah di PTKI terdiri dari matakuliah yang sarat dengan isu-isu kesetaraan dan keadilan gender (KKG). Namun demikian, berdasarkan ulasan dan analisis terhadap kurikulum Fakultas Syariah, terutama matakuliah hukum perkawinan dan hukum waris dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dalam perkuliahan di PTKI seringkali tidak menggambarkan sebuah overt curriculum yang responsif gender. Hal ini terlihat dari indikator kompetensi (target hasil belajar) yang tidak ditemukan adanya indikator/target yang mengarahkan mahasiswa agar memperoleh pengetahuan di bidang hukum perkawinan dan waris dengan menggunakan pemahaman kesetaraan dan keadilan gender.
Ayu Vinlandari Wahyudi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 130-141; doi:10.24235/equalita.v2i2.7136

Abstract:
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan bagaimana peranan tari dalam perspektif gender dan budaya. Tulisan ini berangkat dari sebuah permasalahan yakni masih adanya pandangan stereotype gender tentang tari dalam pandangan masyarakat sosial. Pemahaman mengenai tari dalam sudut pandang masyarakat sosial masih menimbulkan pro dan kontra. Hal tersebut dikarenakan masih kurangnya rasa ingin tahu serta pemahaman terhadap tari itu sendiri, sehingga masih banyak yang menganggap bahwa tari hanya dapat ditarikan oleh wanita saja. Tari merupakan sebuah gejolak ekspresi manusia yang dituangkan ke dalam gerak ritmis yang indah, yang dapat ditarikan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam sebuah tarian memiliki tujuan dan fungsinya masing-masing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi literatur. Analisis data menggunakan metode deskriptif analisis dengan tujuan untuk mendapatkan sebuah analisis dari permasalahan yang diusung. Penelitian ini menghasilkan sebuah analisis yakni tarian adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tidak memandang gender.Kata Kunci : Tari, Gender, Budaya
Yeni Sulistiani, Lutfatulatifah Lutfatulatifah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 118-129; doi:10.24235/equalita.v2i2.7036

Abstract:
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan konsep pendidikan bagi perempuan menurut Dewi Sartika. Metode penelitian yang digunakan adalah library research. Pendidikan menurut Dewi Sartika adalah ilmu atau alat untuk menata, mengubah, dan memajukan segala perkara ke arah yang lebih baik, termasuk anak didik. Hasil guna dari tulisan ini dapat dijadikan batu-batu landasan untuk memahami bagaimana konsep pendidikan dalam pemikiran Dewi Sartika, serta pemikiran untuk mengembangkan penelitan lebih lanjut, baik mengenai Dewi Sartika, maupun tentang konsep pendidikan tokoh lainnya yang akan memperkaya khazanah keilmuan, terutama bagi praksis pendidikan.
Back to Top Top