Jurnal Health Sains

Journal Information
ISSN / EISSN : 2722-7782 / 2722-5356
Current Publisher: Ridwan Institute (10.46799)
Total articles ≅ 82
Filter:

Latest articles in this journal

Paramita Boni Lestari, Dian Ayubi
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 533-540; doi:10.46799/jhs.v2i4.154

Abstract:
Perilaku kader dalam melakukan penimbangan balita selama masa pandemi COVID-19 sangat penting. Perilaku kader dalam menjalankan tugas dapat membantu mendeteksi kelainan pertumbuhan balita dan mencegah penularan COVID-19 pada pengunjung posyandu. Tujuan penelitian ini yaitu ingin mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kader posyandu dalam melakukan penimbangan balita di posyandu pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectinal. Sampel pada penelitian ini adalah kader posyandu balita yang melakukan penimbangan balita di posyandu pada bulan Agustus 2020 yang berjumlah 100 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dalam bentuk google form. Analisis data menggunakan analisis univariat (tabel distribusi frekuensi) dan analisis bivariat (uji chi square). Hasil pada penelitian ini didapatkan bahwa 89% kader posyandu balita memiliki tingkat pengetahuan baik, 69% memiliki sikap yang positif dan 77% berperilaku baik dalam melakukan penimbangan balita pada masa pandemi COVID-19. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku kader posyandu (p-value > 0,05)
Dian Kartika Irnayanti, Krisnawati Bantas
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 459-470; doi:10.46799/jhs.v2i4.149

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menilai risiko merokok terhadap diabetes mellitus berdasarkan indeks massa tubuh pada penduduk ≥ 15 tahun di Indonesia. Desain studi menggunakan cross-sectional dengan data sekunder Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia Tahun 2014 atau the Indonesia Family Life Survey Wave 5 (IFLS5) di 13 provinsi pada tahun 2014-2015, dengan total sampling sebesar 6.302 responden. Variabel yang diteliti adalah diabetes mellitus sebagai variabel dependen dan status merokok sebagai variabel independen. Sementara itu, variabel kovariat terdiri dari umur, jenis kelamin, status pernikahan, status hipertensi, jumlah batang rokok yang dihisap perhari, dan lama merokok. Analisis menggunakan regresi logistik dengan 95% CI. Prevalensi DM dalam penelitian ini adalah sebesar 6,6%. Sementara itu, prevalensi perokok aktif adalah 29,6%. Pada responden kurus dengan IMT < 18,5 kg/m2, risiko DM pada perokok aktif (OR = 2,22; 95% CI 0,45-10,97) berbeda dengan risiko DM pada mantan perokok (OR = 0,50; 95% CI 0,04-6,00) jika dibandingkan dengan bukan perokok, tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Sementara itu, pada responden yang obesitas, risiko DM antara mantan perokok (OR = 2,04; 95% CI 0,95-4,37) dengan perokok aktif (OR = 1,94; 95% CI 1,01-3,72) hampir sama, dimana keduanya menunjukkan hubungan yang positif. Sementara itu, pada responden dengan IMT normal dan IMT kegemukan, risiko DM pada perokok aktif dan mantan perokok tidak berbeda dengan bukan perokok. Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan risiko DM yang signifikan pada perokok aktif maupun mantan perokok jika dikategorikan berdasarkan status IMT.
Syahrizal Syahrizal
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 562-575; doi:10.46799/jhs.v2i4.143

Abstract:
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit endokrin yang umum ditemui dengan beban yang signifikan pada pasien, sistem pelayanan kesehatan dan komunitas. Terdapat beberapa manifestasi kulit yang berhubungan dengan DM dan sedikitnya 30% pasien DM memiliki kelainan kulit selama perjalanan kronis penyakitnya. Bertambahnya pengetahuan tentang manifestasi kulit pada DM diharapkan dapat meningkatkan prognosis penyakit melalui diagnosis dan terapi sedini mungkin
Donny Brezky Manurung, R. Kintoko Rochadi, Namora Lumongga Lubis
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 471-479; doi:10.46799/jhs.v2i4.140

Abstract:
Perilaku pencegahan berperan penting untuk menangkal dan meningkatkan kesadaran seseorang dalam memelihara kesehatannya. Hasil riset yang dilakukan united Nations on drugs and crime (UNODC) tahun 2017 menyatakan bahwa sekitar 271 juta (5,5%) penduduk dunia berusia 15-64 tahun merupakan pengguna narkoba. Siswa usia sekolah adalah kelompok usia yang rentan terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Upaya Program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) adalah program pemerintah dalam mengurangi jumlah penyalahgunaan narkoba. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan sarana dan dukungan guru dalam perilaku mencegah penyalahgunaan bahaya narkoba. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional, Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 3104 siswa, jumlah sampel sebanyak 199 siswa, diperoleh dengan menggunakan Cluster sampling. Sebelum melakukan analisis data dilakukan uji validitas dan reliabilitas, setelah itu dipereloh data yang valid dan reliabel kemudian dilanjutkan dengan Analisis data. Pengumpulan data melalui kuesioner dengan google form. Metode analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa perilaku pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba lebih dominan pada usia 15 tahun (78,4%) dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 120 orang (60,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara ketersediaan sarana dengan nilai p=0,373 (p>0,05) dan faktor penguat guru dengan nilai p=0,038 (p<0,05) dalam perilaku pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba. Tidak Ada hubungan antara faktor ketersediaan sarana dan faktor penguat guru dalam pencegahan penyalahgunaan bahaya narkoba
Nur Indah Kusuma, Krisnawati Bantas
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 508-519; doi:10.46799/jhs.v2i4.155

Abstract:
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional (potong lintang). Analisis yang digunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku hubungan seksual pranikah adalah usia responden 18 – 19 tahun berpeluang 2,787 kali (OR 2,787: 95% CI 1,665 – 4,665) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja dengan usia 15 – 17 tahun, remaja pria berpeluang 0,510 kali (OR 0,510: 95% CI 0,341 – 0,764) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja wanita, remaja dengan pengaruh teman sebaya berpeluang 38,616 kali (OR 38,616: 95% CI 22,516 – 66,228) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang tidak terpengaruh teman sebayanya, remaja dengan riwayat konsumsi alkohol 2,586 kali (OR 2,586: 95% CI 2,586 – 1,359) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki riwayat konsumsi alkohol, sikap negatif remaja terhadap pentingnya menjaga keperawanan berpeluang 7,02 kali (OR 7,020 : 95% CI 4,437 – 11,106) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja yang memiliki sikap positif terhadap pentingnya menjaga keperawanan, usia pubertas < 15 tahun berpeluang 0,721 kali (OR 0,721: 95% CI 0,585 – 0,888) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja dengan usia pubertas > 15 tahun dan remaja dengan perilaku berisiko berpeluang 17,734 kali (OR 17,734 : 95% CI 8,330 – 37,751) untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan remaja yang tidak memiliki perilaku berisiko. Kesimpulan Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja pria dan wanita usia 15 – 19 tahun di Indonesia adalah usia responden, jenis kelamin, pengaruh teman sebaya, konsumsi alkohol, sikap remaja terhadap pentingnya menjaga keperawanan, usia pubertas dan perilaku berisiko. Terdapat interaksi antara riwayat konsumsi alkohol dengan usia responden, konsumsi alkohol dengan jenis kelamin dan pengaruh teman sebaya terhadap usia responden.
Raden Erwin Affandi, Kadhafi Kadhafi
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 551-561; doi:10.46799/jhs.v2i4.152

Abstract:
Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi imun, umumnya dipicu oleh limfosit. Reaksi hipersensitivitas terhadap radiofarmaka secara komparatif jumlahnya sangat sedikit. Sebagian besar menyebutkan insiden 1-6 reaksi per 100.000 pemberian. Penyebab utama bersumber dari farmaka dan bahan kimia yang ada dalam kit, bukan dari sumber radiasi itu sendiri. penyebab rendahnya prevalensi dan kurangnya pelaporan ini dikarenakan fakta bahwa penggunaan bahan dalam jumlah kecil (trace) pada pembuatan radioframaka dan diberikan dalam jumlah yang kecil sebagai mikro-dosis menyebabkan reaksi yang ringan dan sementara, yang membutuhkan sedikit atau tanpa terapi selanjutnya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui reaksi hipersensitivitas pada pemeriksaan kedokteran nuklir. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau literature review. Kesimpulan penelitian yaitu protokol pengobatan untuk penatalakasanan reaksi alergi harus diletakkan ditempat untuk mengurangi morbiditas dan kemungkinan terjadi keadaan yang bersifat mengancam nyawa. Tindakan profilaksis, pada orang alergi, dengan premedikasi dapat diberikan sebelum diberikan kepada pasien. Dokumentasi dan melaporkan kejadian reaksi merugikan ini pada pihak berwenang dan pabrik pembuat penting untuk farmakovigilansi dan kesadaran akan kemungkinan terjadinya reaksi alergi terhadap permberian radioafarmaka tersebut.
Eka Rahmawati, Tri Krianto
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 480-485; doi:10.46799/jhs.v2i4.148

Abstract:
Pandemi COVID-19 ialah tantangan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan serta pembangunan Indonesia. Salah satu akibat dari keadaan tersebut ialah terganggunya penerapan pelayanan kesehatan publik yaitu penutupan ataupun penundaan layanan di posyandu yang ialah sarana pelayanan kesehatan primer serta merupakan kekuatan utama dalam peningkatan derajat kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan kader posyandu terkait pandemi COVID-19 di Jakarta Timur. Penelitian dilakukan secara deskriptif menggunakan kuesioner. Subjek penelitian sebanyak 382 kader posyandu yang terbagi dalam 10 Wilayah Puskesmas Kecamatan di Jakarta Timur. Pengetahuan kader posyandu mengenai pandemi COVID-19 secara umum baik. Namun terdapat beberapa pertanyaan dengan jawaban benar terendah. Sebanyak 53,14% kader posyandu tidak mengetahui bagaimana upaya untuk menjaga diri terhindar dari COVID-19 di rumah, 43,46% tidak mengetahui suhu tubuh yang bisa diindikasikan sedang terjangkit penyakit termasuk COVID-19, dan 39,01% tidak mengetahui etika batuk/bersin yang benar.
Toman Devita Sari Siburian, Ida Yustina, Juanita Juanita
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 576-586; doi:10.46799/jhs.v2i4.144

Abstract:
Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga. Indikatornya adalah anggota keluarga tidak ada yang merokok. Merokok di dalam rumah masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Deli Serdang. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan 30 kepala keluarga yang bekerja sebagai petani sawah di Kabupaten Deli Serdang menunjukkan sebanyak 87 persen masih merokok di dalam rumah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan faktor predisposisi (pengetahuan, sikap) dan faktor pendorong (peran tenaga kesehatan dan dukungan istri) dengan perilaku merokok di dalam rumah pada petani sawah. Jenis penelitian adalah survei dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 106 kepala keluarga yang bekerja sebagai petani sawah dengan pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan, sikap, peran tenaga kesehatan dan dukungan istri dengan perilaku merokok di dalam rumah pada petani sawah. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang membuat kebijakan rumah bebas asap rokok dan membuat pojok merokok di tempat-tempat tertentu. Kepada tenaga kesehatan di puskesmas agar melakukan promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap petani sawah, memberdayakan istri dalam mencegah tindakan merokok di dalam rumah. Kepada istri diharapkan mengingatkan suaminya yang masih merokok di dalam rumah untuk merokok di luar rumah.
IS Susiloningtyas, Siti Suhartinah
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 486-493; doi:10.46799/jhs.v2i4.141

Abstract:
Pendahuluan selama masa kehamilan, berbagai perubahan terjadi baik perubahan fisik maupun psikis yang memungkinkan timbulnya masalah pada kehamilan, terutama kehamilan trimester pertama. Salah satu masalah yang muncul adalah mual dan muntah yang biasa disebut morning sickness yang biasa terjadi. 60-80% wanita hamil pernah mengalami mual muntah (NVP). Salah satu alternatif untuk mengatasi mual dan muntah pada kehamilan non farmakologis adalah dengan menggunakan aromaterapi. Salah satu aromaterapi yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan lemon. Metode literatur mancanegara ditelusuri melalui sarana media elektronik dengan penuntun kata kunci. Artikel terseleksi sejumlah 8, yang masing masing mewakili satu pengaruh lemon terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil dan memberi informasi yang bervariatif. Hasil: Adanya perbedaan mual muntah pada responden sebelum dan sesudah dilakukan pemberian perlakuan dengan aromaterapi lemon. Pembahasan cara mengatasi mual muntah pada saat hamil dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dapat melalui tindakan farmakologis dan non farmakologis. Tindakan non farmakologis biasanya dianjurkan oleh petugas kesehatan seperti mendorong ibu hamil untuk melakukan aromaterapi. Salah satu aromaterapi yang dapat digunakan untuk mengurangi mual muntah saat hamil yaitu aromaterapi lemon karena lemon memiliki bahan yang dapat membunuh bakteri meningokokus (meningococcus), bakteri tifus, memiliki efek antijamur dan efektif untuk menetralkan bau tidak sedap, serta menghasilkan anticemas, antidepresi, anti stres, serta untuk mengangkat dan memfokuskan pikiran. Kesimpulan berdasarkan analisa yang telah dilakukan, penggunaan aromaterapi lemon efektif untuk mengurangi mual muntah pada ibu hamil.
Nurfitriani Nurfitriani, Amelia Rumi, Asriana Sultan
Published: 25 April 2021
Jurnal Health Sains, Volume 2, pp 520-532; doi:10.46799/jhs.v2i4.122

Abstract:
Senyawa sunscreen merupakan suatu bahan yang digunakan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari terutama ultraviolet (UV). Senyawa ini merupakan salah satu bahan kimia dalam lotion cair yang berpenetrasi ke dalam kulit dan akan menyerap radiasi UV sebelum mencapai lapisan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Tadulako tentang penggunaan produk sunscreen dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan produk tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental (observasional) menggunakan pendekatan cross sectional dengan jumlah responden 396 orang. Teknik pengambilan sampel yaitu secara purposive sampling menggunakan kuesioner. Hasil pengolahan data menunjukkan tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Tadulako, berdasarkan rata-rata persentase jawaban benar, dikategorikan baik yaitu 82,2% dan berdasarkan usia, jenis kelamin dan angkatan dikategorikan cukup. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan sunscreen adalah jenis kelamin dengan nilai p-value 0,008 < 0,05 yang berarti ada hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan
Back to Top Top