JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2460-7800 / 2580-3263
Total articles ≅ 95
Filter:

Latest articles in this journal

Dewi Nur Aini,
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 7, pp 24-32; https://doi.org/10.29100/jp2m.v7i1.1869

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan kognitif mahasiswa dalam menyusun pembuktian matematis berdasarkan Toulmin’s Argumentation Pattern (TAP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah 15 mahasiswa pendidikan matematika di Malang. Instrumen penelitian meliputi peneliti sebagai instrumen utama, soal tes pembuktian dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan mengunakan TAP untuk mengetahui hambatan kognitif mahasiswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih banyak yang mengalami hambatan kognitif dalam proses pembuktian matematis seperti kurangnya pemahaman materi prasyarat, ketidakmampuan untuk mengomunikasikan pembuktian secara matematis, kurang tepat dalam membuat claim, kurang bisa memberikan rebuttal, kurang bisa memberikan warrant deduktif, dan belum dapat membedakan data yang diketahui dan yang akan dibuktikan.
Sutarto Sutarto, Ahyansyah Ahyansyah, Sukma Mawaddah, Intan Dwi Hastuti
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 7, pp 33-42; https://doi.org/10.29100/jp2m.v7i1.2097

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi unsur budaya suku mbojo yang terdiri atas rumah tradisional uma (rumah) lengge, tembe (sarung) nggoli, alat musik tradisional genda, uma (rumah) jompa, dan kegiatan jual beli masyarakat suku mbojo di pasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksplorasi dengan pendekatan etnografi. Pada pendekatan etnografi, peneliti perlu menggali suatu konsep atau masalah dengan menelaah suatu kejadian atau peristiwa. Penelitian kualitatif mendeskripsikan dan memahami suatu fenomena sosial yang berada di sekitar lingkungan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh data berupa wawancara, eksplorasi, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) pada tembe (sarung) nggoli terdapat konsep matematika yaitu geometri transformasi, segitiga samasisi, segiempat “belah ketupat”; (2) pada uma jompa terdapat konsep matematika yaitu bangun ruang gabungan kubus dan prisma segiempat, persegi panjang pada beberapa bagian penyusun uma jompa; (3) pada kegiatan jual beli masyarakat suku mbojo terdapat konsep matematika yaitu konsep pengukuran
Elina Agustin, Atik Wintarti
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 7, pp 10-23; https://doi.org/10.29100/jp2m.v7i1.1860

Abstract:
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini semakin pesat, salah satunya smartphone berbasis Android dimana telah banyak digunakan siswa dalam pembelajaran. Untuk memaksimalkan penggunaan smartphone berbasis Android dalam pembelajaran, dapat memanfaatkannya menjadi media pembelajaran. Salah satu inovasi pembelajaran yang memanfaatkan smartphone yaitu pengembangan media pembelajaran mobile learning berbasis Android pada materi Pola Bilangan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan proses pengembangan media pembelajaran mobile learning berbasis Android pada materi Pola Bilangan dengan model ADDIE untuk menghasilkan media pembelajaran yang berkualitas baik berdasarkan kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Subjek uji coba penelitian ini berjumlah 9 siswa kelas VII MTsN 2 Tulungagung dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian ini menggunakan instrumen pengumpulan data meliputi lembar validasi media pembelajaran, angket respon pengguna, dan tes hasil belajar. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa media pembelajaran yang telah dikembangkan berkualitas baik. Media pembelajaran memenuhi kriteria valid diperoleh dari rata-rata nilai validasi oleh validator pakar materi dan validator pakar media berturut-turut adalah 3,47 dan 3,60 dari nilai maksimal 4. Media pembelajaran memenuhi kriteria praktis berdasarkan hasil respon pengguna dalam menggunakan mobile learning menunjukkan kategori sangat baik dengan persentase sebesar 92,75%. Media pembelajaran memenuhi kriteria efektif berdasarkan tes hasil belajar menunjukkan sebanyak 88,89% subjek ujicoba mendapat nilai 75 (KKM).Kata Kunci: media pembelajaran, mobile learning, pengembangan, pola bilangan.
Tomi Listiawan, Antoni Antoni
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 7, pp 43-52; https://doi.org/10.29100/jp2m.v7i1.2099

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran matematika berbasis Augmented Reality pada materi Transformasi Geometri untuk Siswa SMK Kelas XI dan mengetahui kelayakan Media Pembelajaran berdasarkan penilaian ahli media, ahli materi dan pendapat siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau Research and Development yang diadaptasi dari model pengembangan ADDIE. Validasi dilakukan oleh ahli media dan ahli materi dari unsur Dosen Universitas Bhinneka PGRI dan Guru SMKN 2 Boyolangu. Media yang dikembangkan di uji cobakan kepada 34 siswa kelas XI Perbankan 2 SMKN 2 Boyolangu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelayakan media pembelajaran matematika berbasis Augmented Reality pada materi Transformasi Geometri berdasarkan penilaian: 1) Ahli media diperoleh total skor 57 dan jika dipersentasekan mendapat nilai 71,25%, sehingga termasuk kategori “Layak”, 2) Ahli materi diperoleh total skor 50 dan dipersentasekan mendapat nilai 62,5%, sehingga termasuk kategori “Layak”, dan 3) Ahli materi yang kedua memberikan skor 73 jika dipersentasekan mendapat nilai 73,75%, sehingga termasuk kategori “Layak”. Keseluruhan angket siswa mendapat respon dengan prosentase 85,46% dengan kategori “Sangat Layak”. Dan dari segi individu respon siswa memiliki prosentase ?71,15% dengan kategori “Layak”.
Miftahul Hilmi Hasanah, Andhika Ayu Wulandari, Nur Rusidah
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 7, pp 1-9; https://doi.org/10.29100/jp2m.v7i1.1828

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika dengan metode daring menggunakan google meet pada peserta didik kelas XII IPS 3 SMAN 1 Tawangsari, yang berjumlah 33 siswa. Metode penelitian adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang terdiri dari empat tahapan pada masing-masing siklus. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner pelaksanaan kelas daring yang diberikan kepada siswa melalui google form. Berdasarkan pengamatan data setelah dilaksanakannya pembelajaran daring melalui google meet ini pada siklus I diperoleh skor rata-rata 88,58 yang termasuk kategori tinggi. Sedangkan pada siklus II diperoleh skor rata-rata 88,76 yang termasuk kategori tinggi. Jadi hasil pengamatan respon siswa pada siklus I dan siklus II diperoleh hasil bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 0,18. Jadi diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pembelajaraan matematika dengan menggunakan google meet dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Kesimpulan ini didasarkan pada 75% siswa sudah mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dan rata-rata skor motivasi belajar siswa sudah mengalami peningkatan yaitu sebesar 88,76 atau dalam kategori tinggi. Karena kriteria sudah tercapai maka pada siklus II penelitian dihentikan.
Tety Dwi Jayanti, Ratih Puspasari
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 6, pp 53-66; https://doi.org/10.29100/jp2m.v6i2.1748

Abstract:
Etnomatematika merupakan hubungan yang menjembatani antara matematika dengan budaya, etnomatematika mangakui adanya cara-cara yang berbeda dalam menerapkan matematika dalam kehidupan atau aktivitas msyarakat. Candi Sanggrahan yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan ikon Tulungagung lainnya tanpa disadari terdapat etnomatematika yang sangat jarang diketahui orang. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengetahui etnomatematika pada Candi Sanggrahan Tulungagung. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan cara eksplorasi dan pendekatan etnografi, dikarenakan penelitian ini dilakuan pada kondisi yang alami. Pengambilan data, peneliti menggunakan observasi, dokumentasi di lingkungan Candi Sanggrahan Tulungagung, studi literatur, dan juga wawancara kepada subjek yang mengelola Candi Sanggrhan Tulungagung. Hasil yang diperoleh adalah terdapat kaitan antara Candi Sanggrahan Tulungagung dan matematika hanya pada bentuk fisik candi. Konsep matematika yang ada di bentuk fisik Candi Sanggrahan Tulungagung adalah geometri bangun datar, bangun ruang, garis dan sudut, kesebangunan dan kekongruenan, dan juga transformasi geometri.
Putri Nur Aini, Sri Hariyani, Vivi Suwanti
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 6, pp 44-52; https://doi.org/10.29100/jp2m.v6i2.1746

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep matematika di SMK Unggulan An Nur Bululawang ditinjau dari gaya belajar siswa menurut Honey Mumford pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV). Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini terdapat 22 subjek penelitian kemudian dipilih 2 siswa dari masing-masing gaya belajar. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket gaya belajar honey mumford, tes tertulis, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Siswa bergaya belajar aktivis memiliki karakteristik belajar dengan mempraktekkan secara langsung. Sehingga pada kemampuan pemahaman konsep, siswa tersbut melakukan kesalahan ketika menggunakan & memanfaatkan prosedur serta mengaplikasikan konsep SPLTV. 2) Kelompok gaya belajar pragmatis cenderung menyukai cara-cara praktis dalam belajar, sehingga cenderung melakukan kesalahan pada ketiga indikator pemahaman konsep. 3) Kelompok gaya belajar reflektor cenderung melakukan pengamatan terlebih dahulu dalam belajar, sehingga kesalahan yang dilakukan hanya pada penulisan konstanta dalam kalimat matematika. 4) Kelompok gaya belajar teoris memiliki kemampuan pemahaman konsep matematika yang baik tetapi juga dapat dikatakan memiliki pemahaman konsep matematika yang rendah. Dapat disimpulkan bahwa setiap siswa dengan gaya belajar berbeda memiliki pemahaman konsep matematika yang berbeda-beda
Kuni Arifah, Nonik Indrawatiningsih, Ani Afifah
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 6, pp 67-76; https://doi.org/10.29100/jp2m.v6i2.1749

Abstract:
Dalam memecahkan masalah setiap siswa mampu menggunakan beragam representasi (multiple representasi). Penggunaan multiple representasi salah satunya dapat diterapkan pada materi peluang subbab kaidah pencacahan terdapat aturan perkalian dimana pada bentuk aturan pengisian tempat yang tersedia (filling slot) mampu memunculkan kemampuan multiple representasi siswa namun pada kenyataannya siswa hanya menggunakan satu jenis representasi pada penyelesaiannya berdasarkan cara yang mereka pahami saja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan multiple representasi siswa dalam memecahkan masalah peluang. Subjek dalam penelitian ini ialah siswa kelas XI TPM (Teknik Pemesinan) berjumlah 3 siswa dengan karakteristik siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Pengumpulan data menggunakan tes tulis, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek berkemampuan matematika tinggi mampu memunculkan kemampuan multiple representasi visual dan non-visual tanpa mengalami kesulitan pada dua dari tiga soal yang dikerjakan. Subjek berkemampuan matematika sedang juga mampu memunculkan kemampuan multiple representasi visual dan non-visual pada dua dari tiga soal yang diberikan namun pada representasi non-visual subjek ini masih mengalami kesulitan pada proses pehitungannya. Sedangkan subjek berkemampuan matematika rendah belum mampu memunculkan kemampuan multiple representasi visual dan non-visual pada soal yang diberikan. Subjek dengan kemampuan hanya menggunakan representasi non-visual bentuk simbol (angka), namun pada proses perhitungannya masih terdapat kesalahan.
Maryono Maryono
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 1, pp 58-71; https://doi.org/10.29100/jp2m.v1i2.200

Abstract:
Pedagogical Content Knowledge (PCK), dikenalkan pertama kali oleh Lee Shulman pada tahun 1986. PCK terdiri dari 2 bagian besar yaitu Pedagogical Knowledge (Pengetahuan Pedagogis/kompetensi pedagogis) dan Content Knowledge (Pengetahua Konten/kompetensi profesional). Penelitian sebelumnya lebih banyak mengkaji tentang pengetahuan guru saja dan masih sedikit yang mengkaitkannya dengan praktik pembelajaran guru di kelas. Oleh karena itu penelitian ini akan menganalisis PCK yang dikaitkan dengan praktik pembelajaran di kelas yang disebut dengan Pedagogical Content Practice (PCP). Secara sederhana PCP didefinisikan dengan praktik mengajar guru yang disesuaikan dengan PCK-nya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara PCK dengan PCP guru. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Partisipan penelitian ini adalah 3 guru (dengan variasi lama mengajar yang berbeda). Hasil dari penelitian ini secara umum adalah: (1) guru pertama menunjukkan PCK dan PCP yang cukup; (2) guru kedua menunjukkan PCK dan PCP yang baik; (3) sedangkan guru ketiga juga menunjukkan PCK dan PCP yang baik.
Dwi Erna Novianti
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika), Volume 1, pp 24-30; https://doi.org/10.29100/jp2m.v1i2.191

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan sampel sebanyak 15 dari 40 mahasiswa Tingkat IA Prodi Pendidikan Matematika. Teknik pengumpulan data yaitu observasi dan wawancara. Hasil penelitian diperoleh: (1) Jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan soal materi logika matematika beserta penyebabnya adalah kesalahan terjemahan (84%) dengan penyebab mahasiswa kekurangan waktu, kurang teliti, lupa, bingung dengan simbol matematika; kesalahan konsep (68%) dengan penyebab mahasiswa belum memahami betul konsep yang terkandung dalam materi logika matematika; dan kesalahan tanda (48%) dengan penyebab mahasiswa lupa dan tidak teliti. (2) Cara mengatasi terjadinya kesalahan mahasiswa adalah: (a) Penggunaan media pembelajaran yang tepat pada proses perkuliahan, (b) Menekankan konsep-konsep dasar yang harus dikuasai mahasiswa, (c) Ketelitian dalam mengkoreksi jawaban mahasiswa, (d) Menekankan pentingnya banyak latihan soal dan memperhatikan penggunaan simbol dengan benar, (e) Memberikan latihan soal secara berulang, dengan tipe soal yang hampir sama, (f) Mahasiswa diharapkan memahami konsep-konsep dan konsisten dalam penggunaan simbol matematika.
Back to Top Top