Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi

Journal Information
ISSN / EISSN : 2621-2684 / 2723-6617
Total articles ≅ 59
Filter:

Latest articles in this journal

Hasahatan Hutahaean, Thomas Pandawa Efrata Tarigan, Januaster Siringoringo, Mariani Barus
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 113-131; https://doi.org/10.47457/phr.v4i2.178

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kontribusi yang berarti baik secara parsial maupun secara bersama-sama dari kemampuan komunikasi interpersonal guru PAK dan bimbingan orang tua terhadap motivasi belajar PAK siswa. Tempat penelitian dilakukan di sekolah SMP GKPI Padang Bulan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi Kristen kelas VII yang berjumlah 61 orang. Hasil penelitian menyimpulkan terdapat kontribusi yang berarti dari variabel X1 (kemampuan komunikasi interpersonal guru PAK) terhadap variabel Y (motivasi belajar PAK siswa). Terdapat kontribusi yang berarti dari variabel X2 (bimbingan orang tua) terhadap variabel Y (motivasi belajar PAK siswa). Nilai rhitung (0,553) > nilai rtabel (0,361). Nilai determinasi R2 dari perhitungan korelasi tersebut adalah 30,58%, dan dinyatakan berarti, dimana thitung> ttabel (3,51 > 1,701). Terdapat kontribusi secara bersama-sama dari variabel X1 (kemampuan komunikasi interpersonal guru PAK) dan variabel X2 (bimbingan orang tua) terhadap variabel Y (motivasi belajar PAK siswa). Dalam praktek sehari-hari penting bagi guru agama Kristen untuk memacu kemampuan komunikasi bagi kepada murid maupun sesama Guru dalam berbagai bentuk pelatihan formal maupun non formal. Demikian juga bagi orang tua untuk tetap memperhatikan bingkai kasih dalam membimbing anak-anak yang diberikan Allah kepadanya.
Widya Wahyuni, Yosep Iswanto Padabang
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 155-166; https://doi.org/10.47457/phr.v4i2.201

Abstract:
Mencari kebahagiaan dalam hidup ini adalah sesuatu yang selalu didambakan oleh semua orang namun dalam mencari dan menemukannya seseorang perlu dibimbing dan didorong oleh suatu motivasi yang benar, sehingga kebahagiaan yang diperoleh dapat dinikmati dengan baik, bukan untuk memuaskan keinginan daging semata yang pada akhirnya membuat manusia tersebut binasa dengan dunia ini. Sebagaimana yang diajarkan dalam Alkitab bahwa manusia sebaiknya selalu hidup mencari dan menyenangkan hati Tuhan, namun pada kenyataannya yang terlihat saat ini adalah, ada begitu banyak orang yang hidup mencari kebahagiaan untuk memuaskan keinginannya bukan keinginan Tuhan. Lalu bagaimana dengan kehidupan orang Kristen saat ini? Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, sedangkan terkait dengan kajian teologi dalam kaitannya dengan gaya hidup hedonisme, penulis mengaitkan penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif dalam konteks fenomenologi dengan metode kualitatif yang bersifat library research. Yang mana untuk menganalisis kandungan makna yang terdapat dalam sebuah narasi atau teks, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, penulis menggunakan analisis naratif. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa orang percaya sebaiknya selalu hidup menurut keinginan Tuhan, yaitu melakukan hal-hal yang memperlihatkan kasih kepada Allah. dan menjauhkan diri dari Perbuatan yang bersumber dari keinginan daging. serta selalu mengejar kebahagiaan yang abadi bukan kebahagiaan sementara yang diajarkan dalam paham hedonisme.
Suleni Suleni, David Kristanto, Eliantri Putralin, Malik Malik
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 144-154; https://doi.org/10.47457/phr.v4i2.194

Abstract:
Konsep Mesias merupakan konsep yang kompleks dan seringkali problematik untuk dipahami baik di kalangan Kristen maupun oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen seringkali menerima konsep tersebut secara terlalu simplistik sampai-sampai kehilangan pandangan atas kontinuitas dari konsep tersebut dengan nubuat-nubuat Mesianis di dalam Perjanjian Lama. Berbeda dengan orang-orang Kristen, orang-orang Yahudi menolak konsep tersebut utamanya sebab konsep Mesianis mereka sangat berkaitan dengan kemuliaan dan kuasa namun mereka tidak memahami bahwa Mesias harus mati bahkan sampai disalib untuk menebus dosa umat-Nya. Menggunakan pendekatan teologi biblika, artikel ini berargumen bahwa konsep Mesias di dalam Alkitab harus dipahami secara utuh dalam kaitannya dengan kemuliaan dan penderitaan Sang Mesias dalam menanggung dosa. untuk memahami penderitaan dan kemuliaan dalam sebutan konsep Anak Manusia dan konsep Hamba Yang Menderita. Di dalam diri Yesus Kristus, kemuliaan dan kekuasaan sang Anak Manusia dan peran sang Hamba Yang Menderita digenapi secara bersamaan melalui perendahan diri-Nya di kayu salib dan peninggian-Nya melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Untuk tujuan tersebut artikel ini pertama-tama membahas mengenai pengharapan Mesianik di dalam Perjanjian Lama; kedua, Mesias dan Anak Manusia; ketiga, Anak Manusia dan Hamba Yang Menderita; dan kemudian ditutup dengan sebuah kesimpulan.
Meriana Zega, Yayan Indrawan
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 132-143; https://doi.org/10.47457/phr.v4i2.191

Abstract:
Many believers think that mercy is only for those in need or all believers. For this reason, this study aims to provide an explanation of the mercy needed by every believer to free someone from judgment according to James 2:13. The method used is a text analysis approach, which focuses on the text itself and is compared with other book texts. The results of the study stated that based on James 2:13, mercy is the key to victory over judgment from God, channeling mercy is something that is continuously done without stopping. As a person who has received God's forgiveness and mercy, he should be able to forgive others without limits. Because this is not the law of burden but the law of love that every believer must respect and implement because the proof of mercy is to do God's law, which is to love God and love your neighbor as yourself, because at the time of judgment that person will be loved by God and free from judgment.
Adi Putra, Filmon Berek
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 182-193; https://doi.org/10.47457/phr.v4i2.206

Abstract:
Penelitian ini tentang kajian teologis terhadap pandangan Gereja Katolik Roma tentang konsep Kerajaan Allah yang disamakan dengan Gereja. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, khususnya kajian literatur, maka ditemukan beberapa kekeliruan terhadap konsep ini. Pertama, sebuah kekeliruan apabila menyamakan Gereja dengan Kerajaan Allah seperti yang dipahami oleh kelompok Katolik Roma. Kedua, sangat setuju apabila mengatakan bahwa Gereja adalah pemerintahan Kristus. Namun perlu dicatat bahwa dalam konteks kerajaan Allah (perhatikan konsep PL dan PB yang sebelumnya telah dibahas) pemerintahan Allah mencakup seluruh ciptaan dan alam semesta. Sehingga kelompok KR telah mempersempit cakupan dari pemerintahan Allah dalam Kerajaan Allah apabila hanya berpendapat bahwa cakupan pemerintahan Allah hanya dalam lingkup gereja saja. Ketiga, menyangkut tentang hirarki keselamatan dan Paus selaku wakil Kristus, di mana dalam konteks kerajaan Allah di bumi, maka Paus adalah wakil tertinggi. Sekali lagi pandangan ini pun terlalu berlebihan dan dipaksakan. Dengan demikian, dapat disimpulkan adalah kekeliruan besar untuk menyamakan Kerajaan Allah dengan Gereja.
Cornelis J. Haak
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 194-210; https://doi.org/10.47457/phr.v4i2.207

Abstract:
Artikel ini menjelaskan perlunya mengembangkan teologi reformed supaya dapat menarik perhatian orang yang berbudaya berbeda dengan budaya bersalah (guilt culture). Ternyata Injil berlaku untuk segala budaya, akan tetapi teologi reformed menimbulkan pertanyaan Luther yang mencari jawab tentang dasar keselamatan. Sekalipun sangat setuju bahwa Alkitab mengajar bahwa diselamatkan oleh pembenaran melalui iman, namun pengakuan ‘Sola Fide’ itu tidak mengandung keseluruhan Injil. Sebab itu arti dan dampak Injil seharusnya dipresentasikan ke budaya malu (shame culture) dan budaya takut (fear culture) secara yang lebih sesuai kepada pertanyaan dan kekhawatiran yang berlaku di dalam budaya itu. Kalau ciri khas setiap budaya dipahami dengan lebih teratur, maka juga dapat membaca Alkitab dan ajaran Injil dengan ‘kacamata’ atau ‘lensa’ yang lebih sesuai dengan kebutuhan budaya itu. Dengan cara ini berita keselamatan Injil Kristus akan bertambah kuat untuk meyakinkan para pendengar pekabaran Injil itu.
Jonidius Illu, Dyulius Thomas Bilo, Yublina Kasse
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 167-181; https://doi.org/10.47457/phr.v4i2.204

Abstract:
Perkembangan kognitif dipengaruhi oleh lingkungan termasuk di dalamnya adalah gadget sehingga jika anak penggunaan gadget yang berlebihan bisa memengaruhi perkembangan kognitif. Itu sebabnya penggunaan gadget selama pembelajaran daring jika digunakan dengan benar dan efektif maka gadget berguna dalam meningkatkan kognitif anak juga sebaliknya, jika gadget digunakan selama pembelajaran daring dengan tujuan yang bukan pada porsi pembelajaran daring maka akan mengganggu perkembangan kognitif yang dapat berdampak pada kehidupan anak. Salah satu problem yang berdampak pada kognitif anak adalah faktor pembelajaran daring. Oleh karena banyak anak yang tidak menggunakan waktu yang efektif selama pembelajaran daring. Perkembangan kognitif telah dipengaruhi oleh gadged. Problem ini disebabkan oleh games online yang muncul saat pembelajaran daring, penyajian materi yang tidak menarik dari seorang guru, kejenuhan anak selama pembelajaran daring dan banyaknya waktu yang tidak efektif selama pembelajaran daring akibatnya banyak waktu yang dipakai anak untuk bermain gadget. Hampir selama dua tahun ini (2019-2021), ada orang tua yang mengalami kesulitan mengontrol gadget yang digunakan anak, sehingga melalui tulisan ini diharapkan dapat mengetahui apakah pengaruh gadget pada pembelajaran daring terhadap perkembangan kognitif anak usia 7-11 tahun, baik dampak positif atau dampak negatif. Metode dalam penulisan ini adalah kualitatif artinya dengan menggunakan penelitian kepustakaan yaitu mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk mendapatkan informasi guna menemukan informasi yang sesuai untuk dipergunakan. Tujuan dari tulisan ini, diharapkan agar dapat memperoleh informasi terkait pengaruh gadget pada pembelajaran daring terhadap perkebangan kognitif anak usia 7-11 tahun. Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian ini perlu karena penggunaan gadget yang salah selama pembelajaran daring. Di sinilah peran orang tua dalam melakukan pendampingan sehingga anak menggunakan gadget yang baik agar tidak berdampak buruk pada perkembangan kognitif anak.
Matheus Mangentang, Tony Salurante
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 1-13; https://doi.org/10.47457/phr.v4i1.142

Abstract:
Penelitian berusaha membukti nilai-nilai ajaran tentang kasih dalam teologi Yohanes khususnya dalam kitab Injil dengan menggunakan pendekatan misional sebagai sebuah hermeneutik. Dengan pendekatan ini menunjukkan bahwa sumber kasih ada di tengah dunia karena misi Allah dalam menyelematkan manusia. Kasih menjadi esensi yang menyatukan hubungan manusia dan Allah. Selain itu Allah bisa dikenal di dunia karena kasih yang didemonstrasikan oleh Kristus. Gereja sebagai komunitas orang percaya merupakan sumber-sumber kasih karena ia hidup didalam kasih sejati dan berbuah. Kasih sebagai salah satu pesan utama dalam Injil Yohanes menjadi sebuah tema yang spesial dalam memahami misi Allah dari awal sampai akhir. Utamanya dalam konteks keberagamaan dan komitmen dalam relasi antara sesama di sekitar gereja.
Benget Parningotan Siregar
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 100-113; https://doi.org/10.47457/phr.v4i1.131

Abstract:
An ideal minister of God should be prepared to take up the cross and deny everything, just as Paul suffered so much in his ministry. However, nowadays many servants are afraid to experience suffering, the problem is they do not want to suffer, are afraid, worry, that is what causes Christ's servants or God's servants not to preach the gospel. So with that, the author is motivated to examine 2 Corinthians 6: 4-10, which describes Paul's suffering to answer the problem of God's servant that is happening in the field. In this study, the authors used a qualitative and descriptive-Bibliological approach. To get data related to the problem of servants of God who are afraid to experience suffering in their ministry. The author also uses literature study to obtain information about the evangelism carried out by the apostle Paul, but the researcher first examines 2 Corinthians 6: 4-10. The results of the interpretation of 2 Corinthians 6: 4-10 are: a servant who is able to show himself as a servant who is ready to suffer, as a good servant must have perseverance in facing suffering, as a servant who is able to endure and continue to serve in the midst of the suffering that occurs in his life.
Marthen Luther Mau
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi, Volume 4, pp 73-87; https://doi.org/10.47457/phr.v4i1.127

Abstract:
Di dalam artikel ini, penulis menarasikan tentang Yesus mengimplementasikan misi di Galilea yakni mengajar pengajaran yang benar, mengkhotbahkan Kabar Baik Kerajaan Allah, menyembuhkan orang-orang sakit, dan melayani orang-orang yang mengalami kelemahan fisik. Misi Yesus di seluruh daerah yang terletak di Galilea bertujuan agar umat manusia yang telah lama terhilang dapat mendengarkan pengajaran benar yang diajarkan dan Kabar Baik yang diproklamirkan, sehingga bagi mereka yang percaya dan menerima Yesus dapat disembuhkan setiap penyakit dan kelemahan fisik yang telah lama mereka derita. Untuk mengetahui misi Yesus menurut teks Matius 4:23, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan kajian eksegesis. Proses analisis yang dilakukan penulis adalah mengeksegesis teks Alkitab dan menganalisis sumber-sumber sekunder yang terpercaya untuk menghasilkan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil dari kajian ini menemukan bahwa para pelayan Yesus Kristus harus mengajarkan pengajaran yang benar, memberitakan Kabar Baik Kerajaan Allah/Surga, menyembuhkan orang-orang sakit, dan melayani orang-orang yang menderita kelemahan fisik dalam kehendak-Nya. Jadi melalui kajian eksegesis untuk memperoleh maksud penulis dari teks bahasa aslinya, sehingga teks tersebut dapat dimengerti pembaca masa kini supaya dapat diimplementasikan oleh para pelayan Yesus Kristus secara terus-menerus pada semua tempat pelayanan, baik di gereja, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.
Back to Top Top