Eduprof : Islamic Education Journal

Journal Information
ISSN / EISSN : 2656-5625 / 2723-2034
Total articles ≅ 27
Filter:

Latest articles in this journal

Iffan Ahmad Gufron, Nani Rosini, Taufiqurrahman Taufiqurrahman
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 149-161; doi:10.47453/eduprof.v2i2.25

Abstract:
Schools always innovate in carrying out programs that are carried out through daily religious activities at school so that students do not feel bored and bored in the learning process or activities in the school. These religious activities are packaged in Islamic Religious Education (PAI) lessons. however it is still ignored by students. The purpose of this paper is to describe the strategy of delivering religion in Islamic Education subjects, developing the potential of students, and the importance of holistic education. This research uses a qualitative approach with a case study design. Data were collected by in-depth interviews, observation and documentation. Data analysis used interactive analysis through data reduction, data display, verification and conclusion stages. Furthermore, the results of the research show that holistic religious-based education in Islamic Education which is applied at SMP IT BINA UMMAH SUMBER includes 1) Implementation of religious-based holistic education in Islamic Education lessons; and 2) to determine the factors inhibiting and encouraging religious-based holistic education in Islamic Education lessons. It can be concluded that holistic religion-based education is education that develops all the potential that exists in students. The results of this study are expected to develop all the potential to be realized as character building in students. Abstrak Sekolah selalu berinovasi dalam melakukan program-program yang dijalankan melaui kegiatan keagamaan pada keseharian di sekolah sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan jenuh dalam proses belajar maupun kegiatan yang ada di sekolah kegiatan keagamaan tersebut dikemas pada pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) akan tetapi masih diabaikan pada peserta didik. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan strategi penyampaian keagamaan pada mata pelajaran PAI, pengembangan potensi peserta didik, dan Urgensi pendidikan holistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis interaktif melalui tahap reduksi data, display data, verifikasi dan kesimpulan. Selanjutnya, hasil dari penelitian menujukkan bahwa pendidikan holistik berbasis keagamaan pada pelajaran PAI yang diterapkan di SMP IT BINA UMMAH SUMBER meliputi 1) Implementasi pendidikan holistik berbasis keagamaan pada pelajaran PAI; dan 2) untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dan pendorong pendidikan holistik berbasis keagamaan pada pelajaran PAI. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan holistik berbasis keagamaan adalah pendidikan yang mengembangkan seluruh potensi yang ada pada peserta didik. Hasil penelitian ini diharapkan dalam mengembangkan seluruh potensi diwujudkan sebagai pembentukan karakter pada peserta didik.
Umar Samsudin
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 261-277; doi:10.47453/eduprof.v2i2.37

Abstract:
Education as a major factor in the development of people's culture is often used by various thoughts and ideologies to spread their understanding and thinking patterns. It is not strange if a thought dominates a certain educational institution or system. Among the ideas that influence and even determine the goals and learning methods of an educational system are ideology and religion. The relationship between education and ideology is rooted in the history of education. The domination of an ideology is not only obtained through revolution or violence carried out by state institutions, but also through other institutions, such as religious institutions, education, mass media and the family. And it becomes clear that the nature of education is very dependent on the perspective of the ideology it adopts. Abstrak Pendidikan sebagai faktor utama perkembangan budaya masyarakat, seringkali dimanfaatkan oleh berbagai pemikiran dan ideologi untuk menyebarkan pemahaman dan pola pikirnya. Sudah tidak asing lagi jika suatu pemikiran mendominasi lembaga atau sistem pendidikan tertentu. Di antara pemikiran-pemikiran yang banyak memberikan pengaruh dan bahkan menentukan tujuan dan metode pembelajaran suatu sistem pendidikan adalah ideologi dan agama. Hubungan antara pendidikan dan ideologi sudah mengakar dalam perjalanan sejarah dunia pendidikan. Dominasi suatu ideologi tidak hanya didapatkan melalui revolusi atau kekerasan yang dilakukan oleh institusi-institusi negara, tetapi juga dapat melalui institusi-institusi lain, seperti institusi agama, pendidikan, media massa dan keluarga. Dan menjadi jelaslah bahwa hakikat pendidikan sangat tergantung dari kacamata ideologi yang dianutnya.
Oon Sukron
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 202-225; doi:10.47453/eduprof.v2i2.27

Abstract:
This research was conducted with the background that the Al-Qur'an is the main source of Islamic teachings and a way of life for every Muslim. The ability to read the Koran for children is the basis for themselves or to be conveyed to others. Based on the background of the problem above, the authors conducted research with the aim of implementing the reading and writing guidance of the Qur'an (BTQ) through the Ummi method and the Iqro method in the main cendikia junior high school, Langseb village, Lebakwangi district, Kuninga district. performance). Based on the data, data analysis, and discussion, the results of the study concluded that there was a very significant difference in the reading and writing activities of the Qur'an between using the Iqro Method and the Ummi Method at SMK Cendikia Utama, Lebakwangi Kuningan District. The use of the Ummi Method is more effective in learning to read and write the Qur'an than the Iqro Method. This is evident from the average value achieved using the Ummi Method (86.3) while using the Iqro Method (77.5). The comparative test results show that the average of the Ummi Method is 86.25 and the average of the Iqro Method is 77.50. In absolute terms it is clear that the average student uses the Ummi method is different from those using the Iqro method. From the SPSS output it is known that the t value on Equal variances not assumed is 2.669 with a significant probability of 0.011 (2-tail). So it can be concluded that on average students who use the Ummi Method have different grades against students who use the Iqro method. Or it can be said that the final score of students using the Ummi method is significantly higher than students who use the Iqro method. Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan latar belakang Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim, kemampuan membaca al-Qur’an bagi anak-anak merupakan dasar bagi dirinya sendiri atau untuk disampaikan kepada orang lain,. Berdasarkan latarbelakang masalah diatas penulis melakukan penelitian dengan tujuan pelaksanaan bimbingan baca tulis al qur’an( btq ) melalui metode ummi dan metode iqro di smk cendikia utama desa langseb kecamatan lebakwangi kebupaten kuninga Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis studi komparatif dengan instrumen berupa tes perbuatan (unjuk kerja). Berdasarkan data, analisis data, dan pembahasan, hasil penelitian disimpulkan Terdapat perbedaan yang sangat signifikan kegiatan Baca Tulis Al Qur’an antara menggunakan Metode Iqro dengan Metode Ummi di SMK Cendikia Utama Kecamatan Lebakwangi Kuningan. Penggunaan Metode Ummi lebih epektif digunakan dalam pembelajaran baca tulis Al Qur’an daripada Metode Iqro. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata yang dicapai, menggunakan Metode Ummi (86,3) sedangkan menggunakan Metode Iqro (77,5). Hasil Uji Komparasi bahwa rata-rata Metode Ummi sebesar 86,25 dan rata-rata Metode Iqro sebesar 77,50. Secara absolut jelas terlihat bahwa rata-rata siswa menggunakan metode Ummi berbeda dengan yang menggunakan metode Iqro. Dari output SPSS diketahui bahwa nilai t hitung pada Equal variances not assumed adalah 2,669 dengan probabilitas signifikan sebesar 0,011 (2-tail). Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata siswa yang menggunakan Metode Ummi memiliki nilai yang berbeda terhadap siswa yang menggunakan metode Iqro. Atau dapat dikatakan bahwa nilai akhir siswa yang menggunakan metode Ummi lebih tinggi secara signifikan dari pada siswa yang menggunakan metode Iqro.
Yogi Permana, Nuruddin Araniri, Nurhidayat Nurhidayat
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 242-260; doi:10.47453/eduprof.v2i2.36

Abstract:
Based on the preliminary research, students there still lack motivation and awareness of the importance of knowledge in the learning process, this is what encourages researchers to raise the formulation of research problems. The formulation of the problem in this study is how to apply the peer teaching method to increase student learning motivation in Islamic Education subjects and what are the supporting and inhibiting factors in how to increase student learning motivation by applying the Peer Teaching method to Islamic Education subjects at SMAN 2 Majalengka. This research uses a descriptive qualitative approach. Data collection techniques used in this study are observation, interviews, and documentation. With research subjects, students and educators at SMAN 2 Majalengka. The results of this study indicate that one of the supporting factors of student learning motivation is the role of the teacher which reflects its nature as a professional educator and one of the inhibiting factors is the role of the teacher that does not reflect his personality as an educator, ignoring the complaints experienced by students in the process. learning, while the results of the application of the peer teaching method of trained students are able to build solidarity with fellow students, instill a caring attitude towards fellow students, create an attitude of mutual acquaintance with fellow students, provide exemplary outside of class hours, respect the ability of students to catch them. other, building an anti-discrimination attitude towards the differences in the abilities of other students, creating an active learning atmosphere and teaching staff is not bored. Absrak Berdasarkan penelitian pendahuluan peserta didik di sana masih kurang memiliki motivasi dan kesadaran akan pentingnya ilmu dalam proses pembelajaran hal inilah yang mendorong peneliti untuk mengangkat rumusan masalah penelitian. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Bagaimana cara menerapkan metode peer teaching dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI dan apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dalam cara meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menerapkan metode Peer Teaching pada mata pelajaran PAI di SMAN 2 Majalengka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan subjek penelitian peserta didik dan tenaga pendidik SMAN 2 Majalengka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu faktor pendukung motivasi belajar siswa adalah peran guru yang mencerminkan sifatnya sebagai tenaga pendidik yang profesional dan faktor penghambatnya salah satunya adalah peran guru yang tidak mencerminkan pribadinya sebagai seorang tenaga pendidik, mengabaikan keluh kesah yang di alami peserta didik dalam proses pembelajaran, Sedangkan hasil penerapan dari metode peer teaching peserta didik terlatih untuk dapat membangun solidaritas terhadap sesama peserta didik, menanamkan sikap peduli terhadap sesama peserta didik, mewujudkan sikap saling mengenal antar sesama peserta didik, memberikan keteladanan diluar jam pelajaran, menghargai daya tangkap peserta didik yang lainnya, membangun sikap anti diskriminasi terhadap perbedaan kemampuan peserta didik lainnya, mewujudkan suasana belajar yang aktif dan tenaga pendidik pun tidak jenuh
Gilang Maulana Jamaludin, Lili Yulianti, Mas’Ud Mas’Ud
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 187-201; doi:10.47453/eduprof.v2i2.26

Abstract:
This study discusses the effect of punishments on student learning discipline in Islamic religious education subjects. With the existence of Islamic religious education in which there are religious values ​​which are used as an effort to guide and practice Islamic teachings. Because punishment is an educational tool to support the smoothness of the educational process. One of the educational tools that can be used to improve discipline in learning is by giving punishment. This type of research method used is a type of experimental research. The research design used was Pre Experimental Design. The instruments used in this study were questionnaires, observation and tests. The sample in this study were fourth grade students of SDN Cisetu III Rajagaluh. Analysis of the data used is the prerequisite test (normality and homogeneity ) and hypothesis testing. The results of this study indicate that the punishment for the discipline of student learning in the fourth grade Islamic religious education subject at SDN Cisetu III has an effect with t count 41.04 greater than t table 2.063 with a level significant 5%. Abstrak Kajian ini membahas tentang Pengaruh Pemberian Punishment terhadap Kedisiplinan Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dengan adanya pendidikan agama Islam yang didalamnya terdapat nilai-nilai keagamaan yang dijadikan sebagai upaya untuk membimbing dan mengamalkan ajaran Islam. Karena punishment merupakan alat pendidikan guna mendukung kelancaran proses pendidikan. Salah satu alat pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kedisiplinan belajar yaitu dengan pemberian punishment. Jenis metode penelitian yang digunakan ini adalah jenis penelitian eksperimen. Desain penelitian yang digunakan Pre Exsperimental Design. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket, observasi dan tes. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Cisetu III Rajagaluh. Analisis data yang digunakan yaitu uji prasyarat (normalitas dan homogenitas) dan uji hipotesis. hasil penelitian ini menunjukan bahwa punishment terhadap kedisiplinan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam kelas IV di SDN Cisetu III terdapat pengaruh dengan t hitung 41,04 lebih besar dari t tabel 2,063 dengan taraf sigmifikan 5%.
Mohamad Samsudin
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 162-186; doi:10.47453/eduprof.v2i2.38

Abstract:
Understanding the complexity of the factors that influence student learning is necessary for educator/teacher so that learning goals can be realized. In addition, the teacher can take appropriate action so that the learning process can be accomplished effectively and efficiently, understanding these factors can also help students succeed in learning. The factors that influence learning include internal, external, and learning approach. Internal factors are factors found in student which include factors: innate, intelligence, physical and psychological condition, emotional, age, and gender. External factors are factors that exist outside of student which include factors: family environment, classroom environment, and community environment. While the learning approach factors include factors: goal, learning method, media, time, motivation, exercises and tests, learning material, and learning resources. Abstrak Memahami kompleksitas faktor-faktor yang memengaruhi belajar siswa merupakan hal yang niscaya bagi pendidik/guru agar tujuan pembelajaran dapat terwujud. Di samping guru dapat mengambil tindakan yang tepat agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien, memahami faktor-faktor tersebut juga dapat membantu keberhasilan siswa dalam belajar. Hal-hal yang berpengaruh terhadap belajar meliputi faktor internal, eksternal, dan pendekatan belajar. Faktor internal adalah faktor yang terdapat pada diri siswa yang meliputi faktor: bawaan sejak lahir, inteligensi, kondisi fisik dan psikis, emosional, usia, dan jenis kelamin. Faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar diri siswa yang meliputi faktor: lingkungan keluarga, lingkungan kelas, dan lingkungan masyarakat. Sedangkan faktor pendekatan belajar meliputi faktor: tujuan, metode belajar, media, waktu, motivasi, latihan dan ulangan, bahan pelajaran, dan sumber belajar.
Lela Siti Nurlaela, Herdianto Wahyu Pratomo, Nuruddin Araniri
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 226-241; doi:10.47453/eduprof.v2i2.35

Abstract:
The family environment has a very close relationship in shaping the character of a child. Therefore, parents should be more careful in educating a child, so that children have good character. This research was carried out with the aim to intention of scientifically analyze the effect of parenting on children’s character formation in class III students MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon, Kasokandel District, Majalengka Regency, 2019/2020 school year. Based on the results of observations made by researchers at MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda, it shows that there are deviant behaviors carried out by children at school. Among them are 1) Lack of religious attitudes instilled in children such as speaking harshly; 2) Mocking each other among friends, even to the fight. The research method used is descriptive verfication method, namely research conducted to determine the value of the independent variable, either one or more (independent) variables without making comparisons, or linking with other variables. The population in this study were students of class III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon, Kasokandel District, Majalengka Regency, amounting to 22 students. The instruments used in this study were tests and questionnaires. From this population the research sample was taken using the total sampling method. Thus the number of samples in this study were 22 students. The results showed that the parenting style had a positive and significant effect on the character building of children. As evidenced by the acquisition of a correlation coefficient of 0,389 and a significant level of 0,073. This means that the value of t is greater than t table. Thus Hₒ is rejected and H¹ is accepted, that is, there is a positive and significant influence between the parenting style of parents on the formation of children’s character. Abstrak Lingkungan keluarga memiliki kaitan yang sangat erat dalam membentuk karakter seorang anak. Oleh karena itu, hendaknya orang tua lebih berhati-hati lagi dalam mendidik seorang anak, agar anak memiliki karakter yang baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk menganalisis secara ilmiah mengenai Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Karakter Anak pada Siswa Kelas III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka Tahun Pelajaran 2019/2020. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka menunjukkan bahwa adanya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah diantaranya: 1) Kurangnya sikap-sikap religius yang ditanamkan dalam diri anak-anak seperti berbicara kasar; 2) Saling mengejek antar sesama teman, bahkan sampai kepada perkelahian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif verifikatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain. Populasi dalam penelitian ini siswa kelas III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka yang berjumlah 22 siswa. Dari populasi tersebut diambil sampel penelitian dengan menggunakan metode total sampling. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 22 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan karakter anak. Yang dibuktikan dengan perolehan koefisien korelasi sebesar 0,389 dan tingkat signifikan sebesar 0,073. Hal ini berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima yaitu terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak.
Amirudin Amirudin, Masayu Mashita Maisarah
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 18-38; doi:10.47453/eduprof.v2i1.29

Abstract:
Islam is understood in multi-meaning, as a religious teaching and as a scientific field. This matter is still being debated by several groups, especially regarding the issue surrounding studying Islam in the West. The purpose of this paper is to examine the development of Islamic studies from time to time. The issue of using a normative and historical approach in Islamic studies has been widely discussed by experts, both from the West and the East. However, in its development, Islamic studies form a separate 'stronghold' with their respective identities in an effort to understand Islamic teachings, both as an 'observer' and as an 'actor' who has an element of partiality. By using a historical approach, this paper will prove the flexibility of Islamic studies, where each "camp" will have its own method and style in understanding Islamic teachings, both in its development in the East and West. The study of Islam will always be up to date because it attracts attention. This is of course not only among Muslims (insiders), but also among non-Muslims (outsiders) who study Islam from various perspectives. Abstrak Islam dipahami dengan multi-makna, sebagai ajaran keagamaan dan sebagai bidang keilmuan. Hal tersebut hingga kini masih diperdebatkan oleh beberapa kalangan, terutama menyangkut isu seputar mengkaji Islam di Barat. Tujuan tulisan ini ingin mengkaji perkembangan studi Islam dari masa ke masa. Isu penggunaan pendekatan normatif maupun historis dalam kajian Islam telah ramai diperbincangkan oleh para ahli, baik dari Barat maupun Timur. Namun dalam perkembangannya, studi Islam membentuk ‘kubu’ tersendiri dengan identitas masing-masing dalam upaya memahami ajaran Islam, baik sebagai ‘pengamat’ maupun sebagai ‘aktor’ yang memiliki unsur keberpihakan. Dengan menggunakan pendekatan historis, tulisan ini akan membuktikan fleksibilitas kajian Islam, di mana masing-masing ‘kubu’ akan memiliki metode dan corak tersendiri dalam memahami ajaran Islam, baik perkembangannya di Timur dan Barat. Kajian tentang ke-Islaman akan selalu aktual untuk diperbincangkan karena sangat menarik perhatian. Hal ini tentunya tidak hanya dikalangan muslim sendiri (insider), tetapi juga kalangan non-muslim (outsider) yang mempelajari agama Islam dari berbagai sudut pandang.
Kaelani Kaelani
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 101-127; doi:10.47453/eduprof.v2i1.33

Abstract:
Islamic Education Development Strategy Based on Interdisciplinary Approaches: Philosophical, Paedagogical, Psychological and Sociological. Indonesian Muslims, now is the time to think about how to anticipate and accommodate the development of science and technology in this post-modern era which is increasingly sticking out, which sometimes confuse humans themselves. This clearly has an impact on the perspective of the paradigm of human thinking in life, both at the upper middle and lower levels, especially for groups of people whose educational level is still relatively low, including the educated or the younger generation. To anticipate this, the community still believes that the path of education is considered very dominant or is obliged to form a moral human (integrating faith and science and technology in students), maturing students or call it: humanizing humans according to the human nature given by Allah SWT. Seeing the urgency of such a substantive existence of education for society now and in the future, for this reason the author is touched to conduct research based on an interdisciplinary approach: opinions of experts in education, science and technology and the environment. In this study, the authors used an analysis-descriptive-argumentative approach. Therefore, the writer contemplatively-ijtihadi will try to make a kind of strategic effort in developing alternative Islamic schools, meaning an effort to find or make a strategy from institutional, curriculum, process and Islamic evaluation while still paying attention to science and technology and the environment. So that it is truly a strategy to develop Islamic schools that are taqorrub-accommodative to quality education (Islamic schools) which are kaffah-feasable and acceptable. Abstrak Strategi Pengembangan Pendidikan Islam Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner: Filosofis, Paedagogis, Psikologis dan Sosiologis. Umat Islam Indonesia, sekarang sudah saatnya untuk memikirkan bagaimana upaya untuk mengantisipasi dan mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era pasca-modern ini yang semakin hari semakin mencuat, yang terkadang manusia sendiri confuse dibuatnya. Hal ini jelas berdampak kepada perspektif paradigma berpikir manusia dalam kehidupannya, baik pada level menengah ke atas maupun ke bawah, lebih-lebih kepada kelompok manusia yang tingkat pendidikannya masih relatif rendah, termasuk juga kalangan terpelajar atau generasi mudanya. Untuk mengantisipasi hal tersebut masyarakat masih mempercayakan bahwa jalur pendidikan dianggap sangat dominan atau berkewajiban untuk membentuk manusia yang bermoral (mengintegrasikan imtaq dan iptek pada diri siswa), mendewasakan siswa atau sebut saja : memanusiakan manusia sesuai dengan fitrah insaniah yang diberikan Allah SWT. Melihat urgensi yang demikian substantif dari eksistensi pendidikan bagi masyarakat sekarang dan masa depan, untuk itu penulis terketuk hatinya mengadakan penelitian Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner:Filosofis, Paedagogis, Psikologis dan Sosiologis] yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang diintegrasikan dengan pendapat para ahli pendidikan, iptek dan evironment. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan metode analisis-deksriptif-argumentatif. Maka dari itu penulis secara kontemplatif-ijtihadi akan mencoba untuk membuat semacam upaya strategis dalam mengembangkan sekolah-sekolah Islam-alternatif, artinya suatu upaya mencari atau membuat strategi dari mulai kelembagaan, kurikulum, proses dan evaluasi yang Islami dengan tetap memperhatikan sisi iptek dan environment. Sehingga betul-betul merupakan suatu strategi pengembangan sekolah-sekolah Islam yang taqorrub-akomodatif kepada pendidikan (sekolah Islami) yang bermutu secara kaffah-feasable dan acceptable
Lutfi Faishol
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 39-53; doi:10.47453/eduprof.v2i1.30

Abstract:
As a Muslim who has guidelines in the life, namely the Qur’an and Hadis , the Qur'an and Hadis should be used as an example in living this life. Included in the issue of leadership, So each leader shoud rest on the concept that is relevant to Islamic teachings. This thing that should be an example in leading is the leadership of the Prophet (prophetic). The success of leadership that has been proven by the Prophet Muhammad is as a leader, he is the most successful and influential person of all time. In Islam, leadership is believed to have a value that is typical of mere subordinate participation and achievement of organizational goals. There are transcendental values that are struggeled in prophetic leadership in any organization. The concept of leadership in Islam is not only horizontal-formal towards fellow humans, but also is vertical-moral that we have responsibility to the God on the last day. These values become the basis for conducting leadership activities. Where prophetic leadership is a leadership that bases the personality of the Prophet in carrying out his leadership. Because prophetic leadership in the Qur'an has been mentioned and has been exemplified by the Prophet. As a leader in carrying out prophetic leadership, they need to know and emulate the characteristics of the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) that can lead themselves, giving an example, able to communicate well, close to the people that they lead, always consulting, and giving motivation and praise. Prophetic leadership is manifested as a position of leader who take the responsibility for achieving the goals and expectations of the agency / organization through its leadership activities. Abstrak Sebagai seorang muslim yang memiliki pedoman dalam hidupnya yakni al Quran dan Hadits, maka sepantasnya al Quran dan Hadits dijadikan sebagai teladan dalam menjalani hidup ini. Termasuk dalam masalah kepemimpinan, setiap pemimpin berpijak pada konsep kepemimpinan yang relevan dengan ajaran Islam. Hal ini yang sebaiknya menjadi teladan dalam memimpin adalah kepemimpinan Nabi (propetic). Keberhasilan kepemimpinan yang telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad saw adalah selaku seorang pemimpin, Beliau adalah orang yang paling berhasil dan berpengaruh sepanjang masa. Dalam Islam, kepemimpinan diyakini mempunyai nilai yang khas dari sekedar kepengikutan bawahan dan pencapaian tujuan organisasi. Ada nilai-nilai transendental yang diperjuangkan dalam kepemimpinan profetik dalam organisasi apapun. Konsep kepemimpinan dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal-formal terhadap sesama manusia, akan tetapi bersifat vertical-moral yakni adanya sebuah tanggungjawab dihadapan Allah di hari ahir kelak. Nilai-nilai tersebut menjadi pijakan dalam melakukan aktifitas kepemimpinan. Dimana kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan yang melandaskan kepribadian dari Rasulullah saw dalam menjalankan kepemimpinannya. Karena kepemimpinan profetik dalam al quran telah disinggunng serta sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sebagai seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinan profetik, mereka perlu mengetahui dan meneladani sifat-sifat Rasulullah saw yakni dapat memimpin diri sendiri, memberikan teladan, dapat berkomunikasi dengan baik, dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya, selalu bermusyawarah, serta memberikan motivasi dan pujian. Kepemimpinan profetik diwujudkan sebagai posisi/jabatan leader yang memikul tanggung jawab untuk mencapai tujuan dan harapan dari instansi/organisasi melalui aktivitas-aktivitas kepemimpinannya.
Back to Top Top