Journal Information
ISSN / EISSN : 2723-0635 / 2723-0759
Published by: IAIN Jember (10.35719)
Total articles ≅ 14
Filter:

Latest articles in this journal

Ahmad Abdul Gofur, Novita Nurul Islami, Niken Gayu Risnawati, Meyrza Rachmawati
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 157-170; doi:10.35719/hrtg.v1i2.20

Abstract:
Education is a conscious effort made by individuals with the aim of improving their quality as a form of adaptation of self-thinking to the times (Law No. 20 of 2003 article 1 paragraph 1). There are several levels of formal education in Indonesia, including Pre-School Education, Elementary School Education, Secondary Education, and Higher Education. The aim of education in general is to improve the welfare of individuals who carry out education itself. In addition, it is an investment in human capital which will provide more benefits to the country. Meanwhile, according to the National Education System Law No. 20 of 2003 article 3, the purpose of holding education is to "Educate the life of the nation and develop Indonesian people as a whole, namely people who have faith and devotion to God Almighty and have noble character, have knowledge and skills, physical and spiritual health, a solid personality. and be responsible for the community and nationality ”. This study was compiled using a research method with a descriptive quantitative approach using the help of the SPSS version 25 test application. Where it was carried out for approximately two months in six sub-districts in different Jember districts. The data sample taken was 18 data. The education received by individuals should reflect how their life is which is seen from the income they receive for their work. However, in fact there is no difference in the level of education they receive. This means that indirectly the level of a person's education does not determine how high the level of income they earn. Because, there are other factors outside of education that affect the income of an individual in the family. Abstrak Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh individu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai bentuk adaptasi pemikiran diri terhadap perkembangan jaman (UU no. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1). Terdapat beberapa tingkat pendidikan formal di Indonesia, antara lain Pendidikan Pra Sekolah, Pendidikan Sekolah Dasar, Pendidikan Menengah, dan Perguruan Tinggi. Tujuan pendidikan secara umum yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan dari individu yang melaksanakan pendidikan itu sendiri. Selain itu, sebagai investasi modal manusia yang nantinya akan memberi keuntungan lebih kepada negara. Sedangkan menurut Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3, tujuan diadakannya pendidikan adalah untuk “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Penelitian ini disusun menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif deskriptif menggunakan bantuan aplikasi uji SPSS versi 25. Dimana dilaksanakan kurang lebih selama dua bulan di enam kecamatan di Kab. Jember yang berbeda. Sampel data yang diambil adalah sebanyak 18 data. Pendidikan yang dimiliki oleh individu seharusnya mencerminkan bagaimana kehidupan mereka yang mana dilihat dari pendapatan yang mereka terima atas pekerjaannya. Akan tetapi, nyatanya tidak terdapat perbedaan tingkat pendidikan terhadap pendapatan yang mereka terima. Artinya bahwa secara tidak langsung tinggi rendahnya tingkat pendidikan seseorang tidak menentukan seberapa tinggi tingkat pendapatan yang mereka peroleh. Sebab, terdapat faktor-faktor lain di luar pendidikan yang mempengaruhi pendapatan suatu individu dalam keluarga. Kata kunci: pendapatan, pendapatan keluarga, tingkat pendidikan
Anju Nofarof Hasudungan
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 219-235; doi:10.35719/hrtg.v1i2.10

Abstract:
The post-conflict recovery effort in Ambon, Maluku, which it was the largest civil conflict after the collapse of the New Order, it was not only needed by the survivors of the conflict. But also by the generation that did not experience the bloody conflict. Like students in SMPN 9 Ambon City and SMPN 4 Salahutu Liang Central Maluku who are the next generation of Maluku and of course who will maintain Ambon peace in the future. In addition, the emergence of identity politics and populism that occurred during the General Election of the President and Vice President of the Republic of Indonesia for the 2014-2019 and 2019-2024 periods has become a serious threat to peace in Ambon City. The purpose of this research is to describe how social science education integrated the value of peace education based on local wisdom pela gandong. The research method uses descriptive qualitative case study approach. Data collection was carried out by means of literature study, interviews, participatory observation, and document analysis. The results showed, with the existence of social conflict material in social science education which was then integrated with Ambon conflict material and peace education based on pela gandong. Thus, students have improved both in terms of knowledge, skills and attitudes in understanding conflict and peace education through social science education. At the same time cut off the trauma, mutual suspicion and hatred experienced by students so far. Abstrak Upaya pemulihan pascakonflik di Ambon, Maluku, yang merupakan konflik sipil terbesar pasca runtuhnya Orde Baru, tidak hanya dibutuhkan oleh para penyintas konflik. Tetapi juga oleh generasi yang tidak mengalami konflik berdarah. Seperti siswa-siswi di SMPN 9 Kota Ambon dan SMPN 4 Salahutu Liang Maluku Tengah yang merupakan generasi penerus Maluku dan tentunya yang akan menjaga perdamaian Ambon di masa depan. Selain itu, munculnya politik identitas dan populisme yang terjadi pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 dan 2019-2024 telah menjadi ancaman serius bagi perdamaian di Kota Ambon. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana Ilmu Pengetahuan Sosial mengintegrasikan nilai pendidikan perdamaian berbasis kearifan lokal pela gandong. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, wawancara, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan, dengan adanya materi konflik sosial dalam Ilmu Pengetahuan Sosial yang kemudian diintegrasikan dengan materi konflik Ambon dan pendidikan perdamaian berbasis pela gandong. Hasilnya, siswa mengalami peningkatan baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam memahami konflik dan pendidikan perdamaian melalui Ilmu Pengetahuan Sosial. Sekaligus memutus trauma, saling curiga dan kebencian yang dialami siswa selama ini. Kata kunci: Ilmu Pengetahuan Sosial; Local Wisdom; Pela Gandong; Pendidikan Perdamaian
Herningsih Herningsih
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 149-155; doi:10.35719/hrtg.v1i2.14

Abstract:
This study aims to describe and analyze cultural values in increasing social values in the Sorong Kota district with the focus of the study covering: culture, customs and values on the character of the Biak Tribe in Sorong Kota District. This study uses a qualitative approach with data collection techniques using interviews, observation and documentation and data analysis techniques, namely data reduction, data presenter, data presenter and research conclusions using the results of the study show that the social values that occur are not only a benchmark in ethnic culture/customs. breed but has a major role to tie a sibling association and a customary system, the customary system includes regional languages, regional languages are ancestral cultures that are beginning to be eroded by time, regional language culture is the body of ancestral customs so it must be preserved, because culture (language area) is a systematic one that describes the existence of a person in the ethnicity/origin of a person. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang budaya iyakyaker dalam peningkatan nilai sosial di distrik sorong kota dengan fokus kajian mencakup: budaya, adat dan Nilai terhadap karakter masyarakat Suku Biak di Distrik Sorong Kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Tehnik pengumpulan data mengunakan diantaranya Wawancara, observasi dan dokumentasi dan Teknik Analisis Data yaitu reduksi data, penyaji data, penyaji data dan kesimpulan penelitian mengunakan Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai sosial yang terjadi tidak hanya sebagai patokan dalam budaya/adat suku biak akan tetapi memiliki peran utama untuk mengikat suatu perkumpulau saudara dan sistem adat, sistem adat tersebut diantaranya bahasa daerah, Bahasa daerah merupakan budaya leluhur yang mulai terkikis oleh jaman, Budaya bahasa daerah merupakan raga dari adat leluhur sehingga harus tetap dilestarikan, karena budaya (bahasa daerah) merupakan salah satu sistematis yang mengambarkan tentang keberdaan seseorang dalam suku/asal-usul seseorang itu berasal. Kata Kunci: Budaya, Adat, Nilai Sosial
Irman Syarif, Muhidin Abuamar Ratuloly
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 185-197; doi:10.35719/hrtg.v1i2.13

Abstract:
This study aims to find out the value of local wisdom in students and what factors influence the difference in local wisdom based on multikultular in elementary school. This research method is a qualitative description, data collection techniques are observation, interview and documentation. Data analysis starts from data collection, data reduction, withdrawal of conclusions.The results showed that local wisdom is embedded in elementary school students through formal and nonformal learning, formal learning includes daily teaching activities from 07:30-13:00 while nonformal learning includes extracurricular activities in the form of olaraga practice, dance, music and habituation of living together in the school environment. Fostering local wisdom in elementary school through learning activities teaching the learning process emphasizes on optimizing the role of rationality for students, practice and habituation of dissent. The factors that influence multicultural-based local wisdom differences in elementary schools are the diversity of students who have a wide range of religious differences, social status, gender, ability, age and race, and the collaboration of students in participating in sports and arts events. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai kearifan lokal pada peserta didik dan faktor apa saja mempengaruhi perbedaan kearifan lokal berbasis multikultular di Sekolah Dasar. Metode penelitian ini adalah deskripsi kualitatif, teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang tertanam pada peserta didik Sekolah Dasar melalui pembelajaran formal dan nonformal, pembelajaran formal meliputi kegiatan belajar mengajar setiap hari dari jam 07:30-13:00 sedangkan pembelajaran nonformal meliputi ekstrakurikuler berupa latihan olaraga, tarian, musik dan pembiasaan hidup bersama di lingkungan sekolah. Penumbuhkan kearifan lokal di Sekolah Dasar dilakukan melalui proses pembelajaran yang menekankan pada optimalisasi peran rasionalitas bagi siswa, praktek dan pembiasaan perbedaan pendapat. Fakor-faktor yang mempengaruhi perbedaan kearifan lokal berbasis multikultural di Sekolah Dasar adalah keberagaman siswa karena memiliki berbagai macam perbedaan, yaitu, perbedaan agama, status sosial, dan ras, serta pengelaborasian peserta didik dalam mengikuti lomba olahraga dan seni. Kata kunci: kearifan lokal, pendidikan multikultural
Sitti Zulaihah
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 125-148; doi:10.35719/hrtg.v1i2.19

Abstract:
Madurese is one of the tribe that has high mobility. In its history, the Madurese has migrated to other areas since the days of the kingdom. One of the target area is the city of Yogyakarta, which is a multicultural, tourism and culinary city. This study aims to find out how the Madurese did migration to Yogyakarta, their early history to Yogyakarta and the types of informal work there. This research is an ethnographic study that was conducted for one year, data collection was carried out by in-depth interviews and observations. The results of this study indicate that the history of the migration of the Madurese to Yogyakarta dates back to the 17th century, namely the reign of the Sultan Agung in the Islamic Mataram kingdom. There are three factors of migration of Madurese to Yogyakarta, namely historical and political factors, economics and education. Meanwhile, the work done by Madurese in Yogyakarta is mostly in the informal sector, one of which is selling satay. That work has been passed down from generation to generation since the Dutch era. In addition, the branding of Madura satay as a delicious traditional food and the success stories of other satay sellers are also reasons for their choice to become Madurese satay sellers. Abstrak Orang Madura termasuk salah satu suku yang memiliki mobilitas tinggi. Dalam sejarahnya, suku Madura sudah migrasi ke daerah lain sejak zaman kerajaan dulu. Daerah yang dituju salah satunya adalah kota Yogyakarta yang merupakan kota multikultural, wisata dan kuliner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang migrasi orang Madura ke Yogyakarta, bagaimana sejarah awal mereka ke Yogyarta dan jenis pekerjaan informal yang mereka lakukan disana. Penelitian ini merupakan penelitian etnograsi yang dilakukan selama satu tahun, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sejarah migrasi orang Madura ke Yogyakarta sudah sejak abad 17, yaitu pemerintahan sultan Agung di kerajaan Mataram Islam. Ada tiga factor migrasi orang Madura ke Yogyakarta yaitu factor sejarah dan politik, ekonomi dan Pendidikan. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan oleh orang Madura di Yogyakarta lebih banyak di sector informal, salah satunya berjualan sate. Perkerjaan yang sudah menjadi turun temurun bahkan sudah ada sejak zaman Belanda. Selain itu, branding sate Madura sebagai makanan tradisional yang enak dan cerita kesuksesan penjual sate lainnya juga menjadi alasan pilihan mereka menjadi penjual sate Madura. Kata Kunci: migrasi, orang madura, penjual sate madura
Ina Mahmuda, Anindya Fajarini
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 199-218; doi:10.35719/hrtg.v1i2.16

Abstract:
This research aims to produce a student worksheet social studies guided inquiry-based in class VIII of SMP Negeri 1 Jember. The research method used is research and development (R&D). This research adopted a 4-D development model with three stages namely; define, design, and development. The sample of this research is class VIII-A and class VIII-B. The research subjects consisted of four experts namely; material experts, design experts, linguists, and social studies teachers. Data collection techniques using a questionnaire. Data were analyzed using descriptive analysis techniques. The results of the validation from the expert team are; 1) material experts with a percentage score of 80%; 2) design experts with a percentage score of 82.67%; 3) linguists with a percentage score of 85.3%; 4) Social studies teacher with a percentage score of 82%. Limited test results obtained by students' responses with a percentage of 91%. The results of the field test obtained student responses with a percentage of 83.16%. Based on the validity criteria and student response criteria the effectiveness of the student worksheet social studies guided inquiry-based is valid and suitable to use without revision. The cognitive learning outcomes of 28 students of class VIII-A have completely reached the KKM value, with a percentage of 87.5%. Whereas 4 students of class VIII-A failed to achieve the KKM value, with a percentage of 12.5%. The cognitive learning outcomes of five VIII-B students completely reached the KKM value, with a percentage of 83.3%. While one VIII-B student failed to achieve the KKM value, with a percentage of 16.7%. Based on the classical completeness criteria class VIII A and B have completely reached the KKM value. So, it can be concluded that student worksheet social studies guided inquiry-based is suitable and effectively for used social studies learning at SMP Negeri 1 Jember. Abstrak Penelitian ini betujuan untuk menghasilkan lembar kerja siswa (LKS) ilmu pengetahuan sosial berbasis inkuiri terbimbing pada kelas VIII SMP Negeri 1 Jember. Metode penelitian yang digunakan yaitu Research and Development (R&D). Penelitian ini mengadopsi model pengembangan 4-D dengan tiga tahapan yaitu; define, design, dan development. Sampel dari penelitian ini yaitu kelas VIII A dan kelas VIII B. Subyek penelitian terdiri dari empat ahli, yakni ahli materi, ahli desain, ahli bahasa, dan guru IPS. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil validasi dari tim ahli yaitu; 1) ahli materi dengan prosentase skor 80%; 2) ahli desain dengan prosentase skor 82.67%; 3) ahli bahasa dengan prosentase skor 85,3%; 4) guru IPS dengan prosentase skor 82%. Hasil uji terbatas diperoleh respon siswa dengan prosentase 91%. Hasil uji lapangan diperoleh respon siswa dengan prosentase 83,16%. Berdasarkan kriteria kevalidan dan kriteria respon siswa keefektifan LKS IPS berbasis inkuiri terbimbing dinyatakan valid dan layak digunakan tanpa revisi. Hasil belajar kognitif 28 siswa kelas VIII A tuntas mencapai nilai KKM, dengan prosentase 87,5 %. Sedangkan 4 siswa kelas VIII A gagal mencapai nilai KKM, dengan prosentase 12,5%. Hasil belajar kognitif 5 siswa kelas VIII B tuntas mencapai nilai KKM, dengan prosentase 83,3%. Sedangkan 1 siswa kelas VIII B gagal mencapai nilai KKM, dengan prosentase 16,7%. Berdasarkan kriteria ketuntasan klasikal kelas VIII A dan B telah tuntas mencapai nilai KKM. Jadi, dapat disimpulkan bahwa LKS IPS berbasis inkuiri terbimbing layak dan efektif digunakan untuk pembelajaran IPS SMP Negeri 1 Jember. Kata Kunci: Lembar Kerja Siswa, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Inkuiri Terbimbing
Imam Subqi
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 171-184; doi:10.35719/hrtg.v1i2.21

Abstract:
This research aims to describe the meron tradition in mount kendeng community at Pati Regency and to address the socio-religious values reflected in the meron tradition. The research used qualitative approach, and the data collection techniques were done through interviews, observation and documentation. The data were analysed through interactive models and validated through triangulation technique. The findings of the study show that the tradition of meron in javanese perspective is considered a form of public gratitude to the God Almighty, for the abundance of sustenance that has been given. On the other hand, the tradition of meron is carried out to commemorate the birth of the Prophet Muhammad SAW. Meron become the embodiment of Javanese and Islamic cultural acculturation. In the tradition of meron, there are ritual, prayer and magical activities performed accompanied by gamelan, terbangan and other traditional arts. Social values reflected in the meron tradition are compassion, living together, togetherness/solidarity, and responsibility. Religious values reflected in the meron tradition include the value of worship, love for the Prophet Muhammad, gratitude, the value of trust, and exemplary. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi meron masyarakat gunung Kendeng di Kabupaten Pati dan menyibak nilai-nilai sosial-religius yang tercermin dalam tradisi meron tersebut. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi partisipan dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif dan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi meron dalam perspektif jawa dianggap sebagai wujud syukur masyarakat kepada yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki yang telah diberikan. Disisi lain tradisi meron dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meron menjadi perwujudan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dalam tradisi meron ada kegiatan ritual, doa selametan dan magis yang dilakukan dengan diiringi gamelan, terbangan dan kesenian tradisional lainnya. Nilai sosial yang tercermin dalam tradisi meron yaitu kasih sayang, hidup rukun, kebersamaan/solidaritas, dan tanggung jawab. Nilai religius dalam tradisi meron meliputi nilai ibadah, kecintaaan pada Nabi Muhammad SAW, syukur, nilai amanah, dan keteladanan. Kata Kunci: nilai sosial, nilai religius dan tradisi meron
Inayatul Umami, Musyarofah
heritage, Volume 1, pp 73-88; doi:10.35719/hrtg.v1i1.3

Abstract:
Teachers in social studies (IPS) learning are not only required to provide knowledge to students in mastering concepts related to community and but also the environment. More than that IPS teachers are expected to be able to equip students to have social skills. The development of students' social skills needs to be pursued by a teacher, bearing in mind that social skills are one of the important competencies needed by students to be able to maintain good social relations with others. The purpose of this study is to explore the efforts of social studies teachers in developing students' social skills at MTs Rogojampi Banyuwangi which include communication skills; group building skills; and problem solving skills. This study employs a qualitative approach descriptive research. Determination of informants is done purposively. Data was collected through interviews, observation and documentation. In addition, the data was analysed using the interactive model of Miles Huberman and Saldana, and the validity of the data was done by triangulated the sources and methods. The results of the study show that social studies teachers 'efforts in developing students' communication skills are carried out by the students through resolving existing conflicts in subjects and in real life, students are accustomed to asking questions and expressing opinions, and are trained to be able to speak in public. The effort of social studies teachers in developing students' group building skills is done through group discussions in learning, giving group assignments, and inviting students to do community service outside of the lesson or at empty hours. The efforts of social studies teachers in developing students' skills to solve problems namely through discussion, providing them with problems to be resolved by students, having students position themselves as people who have problems, finding solutions and asking students to solve problems themselves and learning about responsibility. Abstrak Dalam pembelajaran IPS, guru tidak hanya dituntut untuk memberikan pengetahuan kepada siswa dalam menguasai konsep-konsep yang terkait kehidupan masyarakat dan lingkungannya. Lebih dari itu guru IPS diharapkan mampu membekali peserta didik memiliki keterampilan sosial. Pengembangan keterampilan sosial siswa perlu diupayakan oleh seorang guru, mengingat keterampilan sosial merupakan salah satu kompetensi penting yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat menjaga hubungan sosial secara baik dengan orang lain. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan upaya guru IPS dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa di MTs Rogojampi Banyuwangi yang meliputi keterampilan komunikasi; keterampilan membangun kelompok; dan keterampilan menyelesaikan masalah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penentuan informan dilakukan dengan purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles Huberman dan Saldana, serta keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan upaya guru IPS dalam mengembangkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dilakukan dengan siswa diajarkan untuk menyelesaikan konflik yang ada pada mata pelajaran maupun dalam kehidupan nyata, siswa dibiasakan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat, serta dilatih untuk dapat berbicara di depan umum. Upaya guru IPS dalam mengembangkan keterampilan siswa membangun kelompok dilakukan melalui diskusi kelompok dalam pembelajaran, memberikan tugas kelompok, serta mengajak siswa melakukan kerja bakti di luar pelajaran maupun di jam kosong. Upaya guru IPS dalam mengembangkan keterampilan siswa untuk menyelesaikan masalah yakni melalui diskusi, guru memberikan masalah untuk diselesaikan siswa, menyuruh siswa memposisikan diri sebagai orang yang memiliki masalah, mencari solusi dan meminta siswa untuk menyelesaikan masalah sendiri dan belajar tanggung jawab. Kata kunci: Keterampilan Sosial, Upaya Guru, dan Ilmu Pengetahuan Sosial
Depict Pristine Adi
heritage, Volume 1, pp 1-22; doi:10.35719/hrtg.v1i1.4

Abstract:
This research aims to reveal the effectiveness of Problem Solving and Inquiry model. This research was quantitative research with quasi experiment as a method. It used the post test-only control group design modified in accordance with the quasi-experimental research. The research data were obtained through documentation of the number of learners, report book score as the initial score, learning devices, and evaluation. The population studied was two classes selected from SMP Negeri 1 Tanggul namely Class VIII A and VIII C, with 77 students having the proportion of class VIII A with 40 students and class VIII C with 37 students. The data analysis technique was one way ANOVA at the significance level of 0.05. The results show that there is an effectiveness difference in the scientific approach with the model of Problem Solving and Inquiry. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keefektifan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Solving dan model pembelajaran Inkuiri. Penelitian ini menggunakan model penelitian kuantitatif jenis eksperimen semu dengan posttest-only control group design yang sudah dimodifikasi sesuai dengan quasi-experimental research. Pengumpulan data menggunakan cara dokumentasi yaitu berupa jumlah siswa, nilai rapot sebagai nilai awal, dan tes hasil belajar sebagai nilai akhir. Populasi yang diteliti adalah dua kelas yang dipilih dari SMP Negeri 1 Tanggul yakni Kelas VIII A dan VIII C, dengan jumlah 77 peserta didik yang memiliki proporsi kelas VIII A dengan 40 peserta didik dan kelas VIII C dengan 37 peserta didik. Analisis data menggunakan one way anava dengan taraf signifikansi 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Solving dan pembelajaran Inquiry menunjukkan terdapat perbedaan keefektifan. Kata kunci: keefektifan pendekatan saintifik, problem solving, inkuiri
Khoirotul Fitriyah
heritage, Volume 1, pp 111-124; doi:10.35719/hrtg.v1i1.6

Abstract:
Economics is one of high school subjects especially in the social sciences major that requires continuous evaluation and research. The purpose of this study is to describe the profile of students' critical thinking skills through research-based learning models on economics with indicators of critical thinking skills, namely interpretation skills, analytical skills, evaluation skills, and the conclusion making skill. Descriptive qualitative research is employed in this study with the research area of Muhammadiyah 3 Jember High School class XII / IPS 3 with a total of 35 students and three students with high, medium and low levels of ability have been consulted with supporting economics teachers and one of the lecturers who are experts in the field of economics education. The test results of students' critical thinking skills use modules or worksheets that have been validated by economics teachers and economics education experts of the faculty of Teacher Training and Education Faculty at University of Jember. The data taken is the result of data reduction using triangulation methods to obtain valid and accurate data. The study found out that the ability to think critically at a low level was 34.28%, moderate level was 48.58%, and high level was 17.14%. Based on the results of research conducted, it can be concluded that the interpretation skill is the highest achievement and the inference skill is the lowest achievement. Abstrak Mata pelajaran ekonomi merupakan menu utama di SMA khususnya pada jurusan IPS sehingga memerlukan evaluasi dan penelitian secara kontinue. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan profil kemampuan berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran berbasis riset pada mata pelajaran ekonomi dengan indikator kemampuan berpikir kritis yaitu kemampuan interpretasi, kemampuan analisis, kemampuan evaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan. Deskriptif kualitatif merupakanpenelitian yang digunakan pada penelitian ini dengan daerah penelitian SMA Muhammadiyah 3 Jember kelas XII/IPS 3 dengan jumlah 35 siswa dan yang dipilih pada subyek penelitiannya tiga siswa yang mempunyai tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah yang sudah dikonsultasikan dan dimusyarawahkan dengan guru pengampu mata pelajaran dan salah satu dosen yang ahli dibidang pendidikan ekonomi. Hasil uji kemampuan berpikir kritis siswa menggunakan modul atau LKS yang sudah divalidasi oleh guru pengampu mata pelajaran dan ahli pendidikan ekonomi yaitu dosen FKIP Universitas Jember. Data yang diambil merupakan hasil reduksi data dengan melakukan observasi, mengambil tes dan wawancara atau menggunakan triangulasi metode guna mendapatkan data yang valid dan akurat. Hasil dari penelitian tersebut didapat bahwa kemampuan berpikir kritis tingkat rendah 34,28%, sedang 48,58% dan tinggi mencapai 17,14%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa secara khusus kemampuan berpikir kritis siswa di SMA Muhammadiyah 3 jember yaitu kemampuan interpretasi merupakan capaian tertinggi dan kemampuan inferensi adalah capaian terendah. Kata kunci: kemampuan berpikir kritis, pembelajaran berbasis riset
Back to Top Top