Journal Information
ISSN / EISSN : 2723-0635 / 2723-0759
Published by: EDUCARE: Journal of Primary Education (10.35719)
Total articles ≅ 14
Current Coverage
ESCI
Filter:

Latest articles in this journal

Ahmad Abdul Gofur, Novita Nurul Islami, Niken Gayu Risnawati, Meyrza Rachmawati
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 157-170; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i2.20

Abstract:
Education is a conscious effort made by individuals with the aim of improving their quality as a form of adaptation of self-thinking to the times (Law No. 20 of 2003 article 1 paragraph 1). There are several levels of formal education in Indonesia, including Pre-School Education, Elementary School Education, Secondary Education, and Higher Education. The aim of education in general is to improve the welfare of individuals who carry out education itself. In addition, it is an investment in human capital which will provide more benefits to the country. Meanwhile, according to the National Education System Law No. 20 of 2003 article 3, the purpose of holding education is to "Educate the life of the nation and develop Indonesian people as a whole, namely people who have faith and devotion to God Almighty and have noble character, have knowledge and skills, physical and spiritual health, a solid personality. and be responsible for the community and nationality ”. This study was compiled using a research method with a descriptive quantitative approach using the help of the SPSS version 25 test application. Where it was carried out for approximately two months in six sub-districts in different Jember districts. The data sample taken was 18 data. The education received by individuals should reflect how their life is which is seen from the income they receive for their work. However, in fact there is no difference in the level of education they receive. This means that indirectly the level of a person's education does not determine how high the level of income they earn. Because, there are other factors outside of education that affect the income of an individual in the family. Abstrak Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh individu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai bentuk adaptasi pemikiran diri terhadap perkembangan jaman (UU no. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1). Terdapat beberapa tingkat pendidikan formal di Indonesia, antara lain Pendidikan Pra Sekolah, Pendidikan Sekolah Dasar, Pendidikan Menengah, dan Perguruan Tinggi. Tujuan pendidikan secara umum yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan dari individu yang melaksanakan pendidikan itu sendiri. Selain itu, sebagai investasi modal manusia yang nantinya akan memberi keuntungan lebih kepada negara. Sedangkan menurut Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3, tujuan diadakannya pendidikan adalah untuk “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Penelitian ini disusun menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif deskriptif menggunakan bantuan aplikasi uji SPSS versi 25. Dimana dilaksanakan kurang lebih selama dua bulan di enam kecamatan di Kab. Jember yang berbeda. Sampel data yang diambil adalah sebanyak 18 data. Pendidikan yang dimiliki oleh individu seharusnya mencerminkan bagaimana kehidupan mereka yang mana dilihat dari pendapatan yang mereka terima atas pekerjaannya. Akan tetapi, nyatanya tidak terdapat perbedaan tingkat pendidikan terhadap pendapatan yang mereka terima. Artinya bahwa secara tidak langsung tinggi rendahnya tingkat pendidikan seseorang tidak menentukan seberapa tinggi tingkat pendapatan yang mereka peroleh. Sebab, terdapat faktor-faktor lain di luar pendidikan yang mempengaruhi pendapatan suatu individu dalam keluarga. Kata kunci: pendapatan, pendapatan keluarga, tingkat pendidikan
Anju Nofarof Hasudungan
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 219-235; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i2.10

Abstract:
The post-conflict recovery effort in Ambon, Maluku, which it was the largest civil conflict after the collapse of the New Order, it was not only needed by the survivors of the conflict. But also by the generation that did not experience the bloody conflict. Like students in SMPN 9 Ambon City and SMPN 4 Salahutu Liang Central Maluku who are the next generation of Maluku and of course who will maintain Ambon peace in the future. In addition, the emergence of identity politics and populism that occurred during the General Election of the President and Vice President of the Republic of Indonesia for the 2014-2019 and 2019-2024 periods has become a serious threat to peace in Ambon City. The purpose of this research is to describe how social science education integrated the value of peace education based on local wisdom pela gandong. The research method uses descriptive qualitative case study approach. Data collection was carried out by means of literature study, interviews, participatory observation, and document analysis. The results showed, with the existence of social conflict material in social science education which was then integrated with Ambon conflict material and peace education based on pela gandong. Thus, students have improved both in terms of knowledge, skills and attitudes in understanding conflict and peace education through social science education. At the same time cut off the trauma, mutual suspicion and hatred experienced by students so far. Abstrak Upaya pemulihan pascakonflik di Ambon, Maluku, yang merupakan konflik sipil terbesar pasca runtuhnya Orde Baru, tidak hanya dibutuhkan oleh para penyintas konflik. Tetapi juga oleh generasi yang tidak mengalami konflik berdarah. Seperti siswa-siswi di SMPN 9 Kota Ambon dan SMPN 4 Salahutu Liang Maluku Tengah yang merupakan generasi penerus Maluku dan tentunya yang akan menjaga perdamaian Ambon di masa depan. Selain itu, munculnya politik identitas dan populisme yang terjadi pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 dan 2019-2024 telah menjadi ancaman serius bagi perdamaian di Kota Ambon. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana Ilmu Pengetahuan Sosial mengintegrasikan nilai pendidikan perdamaian berbasis kearifan lokal pela gandong. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, wawancara, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan, dengan adanya materi konflik sosial dalam Ilmu Pengetahuan Sosial yang kemudian diintegrasikan dengan materi konflik Ambon dan pendidikan perdamaian berbasis pela gandong. Hasilnya, siswa mengalami peningkatan baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam memahami konflik dan pendidikan perdamaian melalui Ilmu Pengetahuan Sosial. Sekaligus memutus trauma, saling curiga dan kebencian yang dialami siswa selama ini. Kata kunci: Ilmu Pengetahuan Sosial; Local Wisdom; Pela Gandong; Pendidikan Perdamaian
Herningsih Herningsih
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 149-155; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i2.14

Abstract:
This study aims to describe and analyze cultural values in increasing social values in the Sorong Kota district with the focus of the study covering: culture, customs and values on the character of the Biak Tribe in Sorong Kota District. This study uses a qualitative approach with data collection techniques using interviews, observation and documentation and data analysis techniques, namely data reduction, data presenter, data presenter and research conclusions using the results of the study show that the social values that occur are not only a benchmark in ethnic culture/customs. breed but has a major role to tie a sibling association and a customary system, the customary system includes regional languages, regional languages are ancestral cultures that are beginning to be eroded by time, regional language culture is the body of ancestral customs so it must be preserved, because culture (language area) is a systematic one that describes the existence of a person in the ethnicity/origin of a person. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang budaya iyakyaker dalam peningkatan nilai sosial di distrik sorong kota dengan fokus kajian mencakup: budaya, adat dan Nilai terhadap karakter masyarakat Suku Biak di Distrik Sorong Kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Tehnik pengumpulan data mengunakan diantaranya Wawancara, observasi dan dokumentasi dan Teknik Analisis Data yaitu reduksi data, penyaji data, penyaji data dan kesimpulan penelitian mengunakan Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai sosial yang terjadi tidak hanya sebagai patokan dalam budaya/adat suku biak akan tetapi memiliki peran utama untuk mengikat suatu perkumpulau saudara dan sistem adat, sistem adat tersebut diantaranya bahasa daerah, Bahasa daerah merupakan budaya leluhur yang mulai terkikis oleh jaman, Budaya bahasa daerah merupakan raga dari adat leluhur sehingga harus tetap dilestarikan, karena budaya (bahasa daerah) merupakan salah satu sistematis yang mengambarkan tentang keberdaan seseorang dalam suku/asal-usul seseorang itu berasal. Kata Kunci: Budaya, Adat, Nilai Sosial
Irman Syarif, Muhidin Abuamar Ratuloly
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 185-197; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i2.13

Abstract:
This study aims to find out the value of local wisdom in students and what factors influence the difference in local wisdom based on multikultular in elementary school. This research method is a qualitative description, data collection techniques are observation, interview and documentation. Data analysis starts from data collection, data reduction, withdrawal of conclusions.The results showed that local wisdom is embedded in elementary school students through formal and nonformal learning, formal learning includes daily teaching activities from 07:30-13:00 while nonformal learning includes extracurricular activities in the form of olaraga practice, dance, music and habituation of living together in the school environment. Fostering local wisdom in elementary school through learning activities teaching the learning process emphasizes on optimizing the role of rationality for students, practice and habituation of dissent. The factors that influence multicultural-based local wisdom differences in elementary schools are the diversity of students who have a wide range of religious differences, social status, gender, ability, age and race, and the collaboration of students in participating in sports and arts events. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai kearifan lokal pada peserta didik dan faktor apa saja mempengaruhi perbedaan kearifan lokal berbasis multikultular di Sekolah Dasar. Metode penelitian ini adalah deskripsi kualitatif, teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal yang tertanam pada peserta didik Sekolah Dasar melalui pembelajaran formal dan nonformal, pembelajaran formal meliputi kegiatan belajar mengajar setiap hari dari jam 07:30-13:00 sedangkan pembelajaran nonformal meliputi ekstrakurikuler berupa latihan olaraga, tarian, musik dan pembiasaan hidup bersama di lingkungan sekolah. Penumbuhkan kearifan lokal di Sekolah Dasar dilakukan melalui proses pembelajaran yang menekankan pada optimalisasi peran rasionalitas bagi siswa, praktek dan pembiasaan perbedaan pendapat. Fakor-faktor yang mempengaruhi perbedaan kearifan lokal berbasis multikultural di Sekolah Dasar adalah keberagaman siswa karena memiliki berbagai macam perbedaan, yaitu, perbedaan agama, status sosial, dan ras, serta pengelaborasian peserta didik dalam mengikuti lomba olahraga dan seni. Kata kunci: kearifan lokal, pendidikan multikultural
Sitti Zulaihah
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 125-148; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i2.19

Abstract:
Madurese is one of the tribe that has high mobility. In its history, the Madurese has migrated to other areas since the days of the kingdom. One of the target area is the city of Yogyakarta, which is a multicultural, tourism and culinary city. This study aims to find out how the Madurese did migration to Yogyakarta, their early history to Yogyakarta and the types of informal work there. This research is an ethnographic study that was conducted for one year, data collection was carried out by in-depth interviews and observations. The results of this study indicate that the history of the migration of the Madurese to Yogyakarta dates back to the 17th century, namely the reign of the Sultan Agung in the Islamic Mataram kingdom. There are three factors of migration of Madurese to Yogyakarta, namely historical and political factors, economics and education. Meanwhile, the work done by Madurese in Yogyakarta is mostly in the informal sector, one of which is selling satay. That work has been passed down from generation to generation since the Dutch era. In addition, the branding of Madura satay as a delicious traditional food and the success stories of other satay sellers are also reasons for their choice to become Madurese satay sellers. Abstrak Orang Madura termasuk salah satu suku yang memiliki mobilitas tinggi. Dalam sejarahnya, suku Madura sudah migrasi ke daerah lain sejak zaman kerajaan dulu. Daerah yang dituju salah satunya adalah kota Yogyakarta yang merupakan kota multikultural, wisata dan kuliner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang migrasi orang Madura ke Yogyakarta, bagaimana sejarah awal mereka ke Yogyarta dan jenis pekerjaan informal yang mereka lakukan disana. Penelitian ini merupakan penelitian etnograsi yang dilakukan selama satu tahun, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sejarah migrasi orang Madura ke Yogyakarta sudah sejak abad 17, yaitu pemerintahan sultan Agung di kerajaan Mataram Islam. Ada tiga factor migrasi orang Madura ke Yogyakarta yaitu factor sejarah dan politik, ekonomi dan Pendidikan. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan oleh orang Madura di Yogyakarta lebih banyak di sector informal, salah satunya berjualan sate. Perkerjaan yang sudah menjadi turun temurun bahkan sudah ada sejak zaman Belanda. Selain itu, branding sate Madura sebagai makanan tradisional yang enak dan cerita kesuksesan penjual sate lainnya juga menjadi alasan pilihan mereka menjadi penjual sate Madura. Kata Kunci: migrasi, orang madura, penjual sate madura
Ina Mahmuda, Anindya Fajarini
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 199-218; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i2.16

Abstract:
This research aims to produce a student worksheet social studies guided inquiry-based in class VIII of SMP Negeri 1 Jember. The research method used is research and development (R&D). This research adopted a 4-D development model with three stages namely; define, design, and development. The sample of this research is class VIII-A and class VIII-B. The research subjects consisted of four experts namely; material experts, design experts, linguists, and social studies teachers. Data collection techniques using a questionnaire. Data were analyzed using descriptive analysis techniques. The results of the validation from the expert team are; 1) material experts with a percentage score of 80%; 2) design experts with a percentage score of 82.67%; 3) linguists with a percentage score of 85.3%; 4) Social studies teacher with a percentage score of 82%. Limited test results obtained by students' responses with a percentage of 91%. The results of the field test obtained student responses with a percentage of 83.16%. Based on the validity criteria and student response criteria the effectiveness of the student worksheet social studies guided inquiry-based is valid and suitable to use without revision. The cognitive learning outcomes of 28 students of class VIII-A have completely reached the KKM value, with a percentage of 87.5%. Whereas 4 students of class VIII-A failed to achieve the KKM value, with a percentage of 12.5%. The cognitive learning outcomes of five VIII-B students completely reached the KKM value, with a percentage of 83.3%. While one VIII-B student failed to achieve the KKM value, with a percentage of 16.7%. Based on the classical completeness criteria class VIII A and B have completely reached the KKM value. So, it can be concluded that student worksheet social studies guided inquiry-based is suitable and effectively for used social studies learning at SMP Negeri 1 Jember. Abstrak Penelitian ini betujuan untuk menghasilkan lembar kerja siswa (LKS) ilmu pengetahuan sosial berbasis inkuiri terbimbing pada kelas VIII SMP Negeri 1 Jember. Metode penelitian yang digunakan yaitu Research and Development (R&D). Penelitian ini mengadopsi model pengembangan 4-D dengan tiga tahapan yaitu; define, design, dan development. Sampel dari penelitian ini yaitu kelas VIII A dan kelas VIII B. Subyek penelitian terdiri dari empat ahli, yakni ahli materi, ahli desain, ahli bahasa, dan guru IPS. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil validasi dari tim ahli yaitu; 1) ahli materi dengan prosentase skor 80%; 2) ahli desain dengan prosentase skor 82.67%; 3) ahli bahasa dengan prosentase skor 85,3%; 4) guru IPS dengan prosentase skor 82%. Hasil uji terbatas diperoleh respon siswa dengan prosentase 91%. Hasil uji lapangan diperoleh respon siswa dengan prosentase 83,16%. Berdasarkan kriteria kevalidan dan kriteria respon siswa keefektifan LKS IPS berbasis inkuiri terbimbing dinyatakan valid dan layak digunakan tanpa revisi. Hasil belajar kognitif 28 siswa kelas VIII A tuntas mencapai nilai KKM, dengan prosentase 87,5 %. Sedangkan 4 siswa kelas VIII A gagal mencapai nilai KKM, dengan prosentase 12,5%. Hasil belajar kognitif 5 siswa kelas VIII B tuntas mencapai nilai KKM, dengan prosentase 83,3%. Sedangkan 1 siswa kelas VIII B gagal mencapai nilai KKM, dengan prosentase 16,7%. Berdasarkan kriteria ketuntasan klasikal kelas VIII A dan B telah tuntas mencapai nilai KKM. Jadi, dapat disimpulkan bahwa LKS IPS berbasis inkuiri terbimbing layak dan efektif digunakan untuk pembelajaran IPS SMP Negeri 1 Jember. Kata Kunci: Lembar Kerja Siswa, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Inkuiri Terbimbing
Imam Subqi
Published: 29 December 2020
heritage, Volume 1, pp 171-184; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i2.21

Abstract:
This research aims to describe the meron tradition in mount kendeng community at Pati Regency and to address the socio-religious values reflected in the meron tradition. The research used qualitative approach, and the data collection techniques were done through interviews, observation and documentation. The data were analysed through interactive models and validated through triangulation technique. The findings of the study show that the tradition of meron in javanese perspective is considered a form of public gratitude to the God Almighty, for the abundance of sustenance that has been given. On the other hand, the tradition of meron is carried out to commemorate the birth of the Prophet Muhammad SAW. Meron become the embodiment of Javanese and Islamic cultural acculturation. In the tradition of meron, there are ritual, prayer and magical activities performed accompanied by gamelan, terbangan and other traditional arts. Social values reflected in the meron tradition are compassion, living together, togetherness/solidarity, and responsibility. Religious values reflected in the meron tradition include the value of worship, love for the Prophet Muhammad, gratitude, the value of trust, and exemplary. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi meron masyarakat gunung Kendeng di Kabupaten Pati dan menyibak nilai-nilai sosial-religius yang tercermin dalam tradisi meron tersebut. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi partisipan dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif dan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi meron dalam perspektif jawa dianggap sebagai wujud syukur masyarakat kepada yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki yang telah diberikan. Disisi lain tradisi meron dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meron menjadi perwujudan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dalam tradisi meron ada kegiatan ritual, doa selametan dan magis yang dilakukan dengan diiringi gamelan, terbangan dan kesenian tradisional lainnya. Nilai sosial yang tercermin dalam tradisi meron yaitu kasih sayang, hidup rukun, kebersamaan/solidaritas, dan tanggung jawab. Nilai religius dalam tradisi meron meliputi nilai ibadah, kecintaaan pada Nabi Muhammad SAW, syukur, nilai amanah, dan keteladanan. Kata Kunci: nilai sosial, nilai religius dan tradisi meron
Shasliani
heritage, Volume 1, pp 23-42; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i1.2

Abstract:
The purposes of this study were to determine the factors that influence students 'learning difficulties in social studies learning and to determine teachers' efforts to overcome student learning difficulties in social studies subjects at SMP Negeri 24 Makassar. The present research is descriptive qualitative research. In the process of collecting data, the researcher used the method of observation, interviews, documentation and questionnaires (list of questions). The results of the study showed that the factors that influence students' learning difficulties in studying social studies at SMP Negeri 24 Makassar were dominated by intelligence, attention, interest, family economic conditions, teaching methods and social studies material as well as social partners. And the teacher's efforts to overcome learning difficulties are to re-explain the material that is not yet understood by the students, use methods that make students active, give assignments (homework), provide motivation to learn and add hours outside school Abstrak Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam belajar IPS di SMP Negeri 24 Makassar dan untuk mengetahui upaya guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 24 Makassar. Jenis Penelitian ini adalah termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan angket (daftar pertanyaan). Validasi data menggunakan Triangulasi. Teknik analisa data dengan cara deskriptif (non statistik) yaitu penelitian dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan tiap kategori untuk memperoleh kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam belajar IPS di SMP Negeri 24 Makassar didominasi oleh faktor intelegensi, perhatian, minat, keadaan ekonomi keluarga, metode mengajar dan materi IPS serta teman bergaul. Upaya guru untuk mengatasi kesulitan belajar adalah menjelaskan kembali materi yang belum dipahami siswa, menggunakan metode yang membuat siswa aktif, memberi tugas (PR), memberikan motivasi belajar dan menambah jam di luar jam pelajaran sekolah Kata kunci: kesulitan belajar, mata pelajaran IPS
Ana Nurin
heritage, Volume 1, pp 43-59; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i1.7

Abstract:
The purpose of this study was to describe parenting patterns in developing children's social care. Parenting is a pattern of interaction between parents and children during care that has an important role in shaping the child's personality. Social care is a caring attitude towards the surrounding community. The research method uses descriptive qualitative research. The research location is Glengseran Hamlet, Suci Village, Panti District, Jember District. The method of selecting informants is purposive. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. Data analysis used Miles and Huberman's theories namely condensation, presentation, verification and conclusion. Data validity uses source triangulation. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola asuh orang tua dalam mengembangkan kepedulian sosial anak. Pola asuh orang tua merupakan pola interaksi antara orang tua dan anaknya selama pengasuhan yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak. Kepedulian sosial merupakan sikap perduli terhadap masyarakat sekitar. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian yakni Dusun Glengseran Desa Suci Kecamatan Panti Kabupatrn Jember. Metode pemilihan informan dengan purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan Teori Miles dan Huberman yakni kondensasi, penyajian, verifikasi dan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Kata Kunci: pola asuh, orang tua, kepedulian sosial
Hanif Risa Mustafa
heritage, Volume 1, pp 61-72; https://doi.org/10.35719/hrtg.v1i1.5

Abstract:
Writing agrarian history often places the forced cultivation system in the colonial period as the main focus, while the issues of agrarian problems during the transition from the old order to the new order are slightly touched on. In Banyuwangi, the implementation of UUPA became a dispute between PKI and NU sympathizers. Disputes escalated after the September 30 Movement. This paper questions again what factors triggered the agitation in Banyuwangi, and whether the violence between groups in Banyuwangi that occurred was related to the agrarian Agitation of 1965-1966. The aim is to review the roots of agrarian problems that occur in Banyuwangi society. This paper uses the historical method. PKI with the combined strength of BTI and Pemuda Rakyat in Banyuwangi took unilateral action. This unilateral action caused criticism from the injured parties. As a result of the unilateral action there was a reverse flow from the group that defended its land. In politics in Banyuwangi the backflow was shown by the inauguration of the district head's inauguration. The backflow increasingly developed damage to several facilities belonging to PKI sympathizers. The peak of tension was marked by the incidents of Cemetuk and Karangasem. The unilateral action in Banyuwangi was rooted in a group of PKI sympathizers who were anxious that they had not immediately obtained the promised land from the UUPA, while the reverse flow was a form of resistance to unilateral action. Polarized societies against groups clashed with problems of agrarian conflict have triggered conflict. Abstrak Penulisan sejarah agraria kerap menempatkan sistem tanam paksa masa kolonial sebagai fokus utama, sedangkan isu-isu permasalahan agraria masa peralihan orde lama ke orde baru sedikit disinggung. Di Banyuwangi, implementasi Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) menjadi perselisihan antar simpatisan PKI dan NU. Perselisihan makin meningkat setelah peristiwa Gerakan 30 September. Tulisan ini mempertanyakan kembali faktor apa yang menyulut pergolakan di Banyuwangi, dan apakah kekerasan antar kelompok di Banyuwangi yang terjadi berkaitan dengan pergolakan agraria tahun 1965-1966. Tujuannya untuk meninjau kembali akar permasalahan agraria yang berlangsung pada masyarakat Banyuwangi. Tulisan ini menggunakan metode sejarah namun mengingat penelitian ini bersifat kontemporer, maka sumber yang digunakan sumber tertulis serta tinjauan dari kajian yang sudah ada sebelumnya berupa literatur dan kajian akademis. PKI dengan kekuatan gabungan BTI (Barisan tani Indonesia) dan Pemuda Rakyat di Banyuwangi melakukan aksi sepihak. Aksi ini dianggap sebagai perjuangan hak atas tanah. Aksi sepihak ini menimbulkan kecaman dari pihak-pihak yang dirugikan. Akibat adanya aksi sepihak tersebut terjadilah arus balik dari kelompok yang mempertahankan tanahnya. Pada perpolitikan di Banyuwangi arus balik ditunjukkan dengan penggagalan pelantikan bupati, lantaran calon dianggap melindungi aksi sepihak. Arus balik semakin berkembang pengerusakan beberapa fasilitas milik simpatisan PKI. Puncak ketegangan ditandai dengan insiden Cemetuk dan Karangasem. Aksi sepihak di Banyuwangi berakar pada kelompok simpatisan PKI yang resah belum segera mendapatkan tanah yang dijanjikan dari program UUPA, sementara arus balik bentuk perlawanan terhadap aksi sepihak. Masyarakat yang terpolarisasi atas golongan dibenturkan dengan permasalahan konflik agraria telah memicu konflik. Kata kunci: agraria, aksi sepihak, arus balik, pergolakan 1965-1966
Back to Top Top