Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI)

Journal Information
EISSN : 2722-6700
Published by: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (10.22373)
Total articles ≅ 21
Filter:

Latest articles in this journal

Ahmad Sugeng Riady
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 2, pp 13-22; https://doi.org/10.22373/jsai.v2i1.1199

Abstract:
This article starts from the fact that religion and culture are two areas that often trigger pro and contra. On the one hand, there are many figures who clearly define the boundaries between religion and culture, while on the other hand there are also figures who continue to seek formulations of their relationship with the assumption that religion and culture provide mutual support. Clifford Geertz, an anthropologist born in San Francisco, contributed to the idea of religion and culture. This article uses the literature study method. The literature used is books that are supported by journals and previous research that are relevant to the topic the author raises. The result is that Clifford Geertz assesses human culture as a text that needs to be interpreted or thick description. This also applies when studying religious phenomena that occur in the midst of a society which is not only explained but come to the discovery of the meaning of these religious phenomena. Abstrak Artikel ini berangkat dari fakta bahwa agama dan kebudayaan sering kali menjadi dua wilayah yang memicu terjadinya pro dan kontra. Di satu sisi ada banyak tokoh yang secara tegas memberi batas antara agama dan kebudayaan, sedangkan di sisi lain ada juga tokoh yang terus mencari formulasi dari relasi keduanya dengan asumsi bahwa, agama dan kebudayaan saling memberi dukungan. Adalah Clifford Geertz, antropolog kelahiran San Fransisco turut memberi kontribusi gagasan mengenai agama dan kebudayaan. Artikel menggunakan kajian literatur. Literatur yang digunakan ialah buku-buku yang ditunjang dengan jurnal dan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik yang penulis angkat. Adapun hasilnya ialah Clifford Geertz menilai kebudayaan manusia sebagai sebuah teks yang perlu diinterpretasikan (thick description). Hal ini juga berlaku ketika mengkaji fenomena agama yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang tidak hanya dijelaskan, tapi sampai pada penemuan pemaknaan dari fenomena keagamaan tersebut.
Nurul Aeni
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 2, pp 47-59; https://doi.org/10.22373/jsai.v2i1.1260

Abstract:
This article aims to provide an overview of the phenomenon of poverty from a sociological perspective, especially from the perspective of the sociology of religion. This article uses a literature review, which is a literature review that supports a particular problem that is being studied in depth. The data in this article were obtained from books, journals, articles, theses and other relevant literature. The results of this study indicate that sociological poverty is not only a personal phenomenon but also a social phenomenon. In the context of religion, Islam responds to the phenomenon of poverty by encouraging and encouraging people to work hard and share with each other. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang fenomena kemiskinan dari perspektif sosiologi, utamanya dari perspektif sosiologi agama. Artikel ini menggunakan kajian literatur, yaitu suatu kajian pustaka yang mendukung suatu permasalahan tertentu yang sedang di kaji secara mendalam. Data dalam artikel ini di peroleh dari buku, jurnal, artikel, skripsi dan literatur lainnya yang relevan. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa kemiskinan secara sosiologis bukan hanya fenomena personal, namun juga fenomena sosial. Dalam konteks Agama, Islam merespons fenomena kemiskinan dengan anjuran dan dorongan agar manusia giat bekerja dan saling berbagi.
Hardiansyah, Suadi, Abidin
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 2, pp 35-46; https://doi.org/10.22373/jsai.v2i1.1282

Abstract:
This article aims to provide a descriptive description of the conflict in the counting and recapitulation of the 2019 general election in the North Aceh Regency. This study uses qualitative methods, data obtained from observations, interviews, and relevant documents or literature. Research informants consist of elements of election organizers, election contestants, and stakeholders. This study found that the conflict was motivated by unintentional factors related to competence, workload, and weaknesses in supporting facilities for the implementation of elections, as well as factors related to the transparency of election administrators. Furthermore, the conflicting parties seek to find conflict resolution through mediation and adjudication. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran deskriptif tentang konflik penghitungan dan rekapitulasi Pemilu 2019 di Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumen atau literatur yang relevan. Informan penelitian terdiri dari unsur penyelenggara pemilu, peserta pemilu, dan pemangku kepentingan. Penelitian ini menemukan bahwa konflik tersebut dilatarbelakangi oleh faktor ketidaksengajaan yang terkait dengan kompetensi, beban kerja, dan kelemahan sarana penunjang penyelenggaraan pemilu, serta faktor yang berkaitan dengan transparansi penyelenggara pemilu. Selanjutnya, pihak-pihak yang berkonflik berusaha mencari penyelesaian konflik melalui mediasi dan ajudikasi.
Anismar, Rukaiyah, Abdullah Akhyar Nasution
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 2, pp 23-34; https://doi.org/10.22373/jsai.v2i1.1180

Abstract:
This study aims to determine the symbolic meaning of the kenduri blang procession in Gampong Ulee Gle Pidie Jaya. Researchers used qualitative-descriptive research methods. Data collection techniques are observation, interview, and document study. The results showed that the community interpreted kenduri blang as a symbol of gratitude and asked for blessings from Allah so that the next crop was bountiful. Besides that, kenduri blang can also strengthen the relationship between people to stay united and respect each other. Kenduri blang was held in September, precisely before the beginning of descending into the fields. The community participates by donating funds to buy buffalo, spices, and other necessities needed when the event is held. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik dari prosesi kenduri blang di Gampong Ulee Gle Pidie Jaya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memaknai kenduri blang sebagai simbol kesyukuran dan meminta berkat dari Allah agar hasil panen berikutnya melimpah. Selain itu kenduri blang juga dimaknai sebagai pelestarian budaya Aceh, ajang memperkuat silaturrahmi antar masyarakat untuk tetap bersatu dan saling menghargai. Kenduri blang dilaksanakan pada bulan September tepatnya menjelang permulaan turun ke sawah. Masyarakat berpartisipasi dengan menyumbang dana untuk membeli kerbau, bumbu, dan keperluan lainnya yang dibutuhkan saat acara digelar.
Zahlul Pasha Karim
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 1, pp 228-237; https://doi.org/10.22373/jsai.v1i3.789

Abstract:
This article attempts to answer why FPI's relationship with Dayah in Aceh is so close. This condition is seen in contrast to several other areas in Indonesia that are seen to experience frequent collisions. This article shows that the relations between FPI and Dayah groups in Aceh occurred for several reasons: first, the FPI organization in Aceh was led by Dayah people and used the Dayah santri network as a mass base. When FPI entered Aceh, the idea was rejected by some senior Acehnese scholars. After FPI succeeded in approaching young people from the Dayah circles, such as Muslem Attahiry, FPI's progress was seen to be very strong and succeeded in establishing its influence in some Dayah. Second, FPI in Aceh has the right space on the issue they are raising, namely Islamic Syari'at. Politicians who need an image of taking sides with shari'ah need to use FPI, either directly or indirectly. Third, the character of Acehnese people who are fanatical and like religious symbols so they don't care less about FPI's background. The people of Aceh will accept it as long as they (FPI) wrap their actions and agendas with narratives and religious symbols. Abstrak Artikel ini berusaha menjawab pertanyaan tentang mengapa hubungan FPI dengan Dayah di Aceh sangat dekat. Kondisi ini terlihat kontras dengan beberapa daerah lain di Indonesia yang terlihat sering mengalami benturan. Artikel ini menunjukkan bahwa relasi FPI dengan kalangan Dayah di Aceh terjadi karena beberapa sebab: pertama, organisasi FPI di Aceh dipimpin oleh orang Dayah dan menggunakan jaringan santri Dayah sebagai basis massa. Awal FPI masuk ke Aceh, idenya sempat ditolak oleh sejumlah ulama senior Aceh. Setelah FPI berhasil mendekati orang-orang muda dari kalangan Dayah, seperti Muslem Attahiry, kiprah FPI terlihat amat kuat dan berhasil menancapkan pengaruhnya di sejumlah Dayah. Kedua, FPI di Aceh memiliki ruang yang tepat pada isu yang mereka angkat, yaitu syari’at Islam. Politisi yang perlu citra keberpihakan pada syari’at perlu menggunakan FPI, baik secara langsung atau tidak langsung. Ketiga, karakter masyarakat Aceh yang fanatik dan menyukai simbol-simbol keagamaan sehingga kurang peduli dengan latar belakang FPI. Masyarkat Aceh akan menerima sejauh mereka (FPI) membungkus aksi dan agenda mereka dengan narasi-narasi dan simbol-simbol agama.
Fitriani, Ade Ikhsan Kamil
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 1, pp 250-265; https://doi.org/10.22373/jsai.v1i3.805

Abstract:
This article discusses the knowledge of community oil miners in the People's Mining in Alue Dua Village, Rantau Peureulak District, East Aceh Regency. The author collects data using participatory observation, in-depth interviews and corroborates it by studying literature. The results showed that the knowledge of miners in Gampong Alue Dua was formed along with the history of the emergence of mining in Peureulak, especially when the oil companies entered to take samples of land as proof that the Peureulak area has the potential to contain oil, and also because of self-taught learning. For miners, there are 4 special signs in identifying land that has the potential to contain oil: 1) the land selected for drilling that is close to and is still in the same lane as the Dutch heritage lake. 2) The distance between the land which is the drilling position and the Dutch heritage lake is about 100-150 meters. 3) Selection of old wells or Dutch heritage ponds with the category of no longer active. 4) Get back to the miners' technicians at work. Abstrak Artikel ini membahas tentang pengetahuan penambang minyak rakyat yang ada di Pertambangan Rakyat di Gampong Alue Dua, Kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Penulis mengumpulkan data dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam dan menguatkannya dengan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan penambang di Gampong Alue Dua terbentuk seiring sejarah kemunculan pertambangan di Peureulak, terutama saat masuknya perusahaan minyak untuk mengambil sempel tanah sebagai pembuktian bahwa daerah Peureulak berpotensial mengandung minyak, dan juga karena faktor belajar secara otodidak. Bagi para penambang, terdapat 4 tanda khusus dalam mengenali lahan yang berpotensial mengandung minyak: 1) lahan yang dipilih untuk melakukan pengeboran adalah lahan yang dekat dan masih satu jalur dengan telaga peninggalan Belanda. 2) Jarak lahan yang menjadi posisi pengeboran dengan telaga peninggalan Belanda sekitar 100-150 meter. 3) Pemilihan sumur tua atau telaga peninggalan Belanda dengan kategori sudah tidak aktif lagi. 4) Kembali pada teknisi para penambang dalam bekerja.
Siti Ikramatoun, Khairulyadi, Riduan
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 1, pp 238-249; https://doi.org/10.22373/jsai.v1i3.804

Abstract:
This article aims to describe community empowerment through the management of the pine forest owned by PT Tusam Hutan Lestari in Linge District, Central Aceh. How the relationship between the community and PT Tusam Hutan Lestari as the owner of a pine forest management permit in Linge District. The approach used in this article is a qualitative method with a descriptive model. The informant was selected using a purposive technique and data sourced from observations, interviews, and literature studies. The results of this study indicate that community empowerment through pine forest management in Linge District had a positive impact on the community. Utilization of the company's production forest by the community has encouraged the emergence of community economic empowerment because the granting of land management permits and tapping of pine sap by the community is accompanied by mentoring by the company and provision of training and the formation of company partners. It also means that there is an economic exchange relationship between the company and the community, and this relationship is a mutually beneficial relationship between the community and the company. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan hutan pinus milik PT Tusam Hutan Lestari di Kecamatan Linge Aceh Tengah. Selain itu, artikel ini juga berusaha melihat relasi sosial yang terbangun antara masyarakat dengan PT Tusam Hutan Lestari di Aceh Tengah sebagai pemilik izin pengelolaan hutan pinus yang ada di Kecamatan Linge. Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif dengan model deskriptif. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive dan data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan studi literatur. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan hutan pinus di Kecamatan Linge telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Pemanfaatan hutan produksi milik perusahaan oleh masyarakat telah mendorong lahirnya pemberdayaan ekonomi masyarakat, karena pemberian izin pengelolaan lahan dan penyadapan getah pinus oleh masyarakat diiringi oleh pendampingan oleh perusahaan dan pemberian pelatihan serta pembentukan mitra kerja perusahaan. Hal ini berarti pula bahwa terdapat relasi pertukaran ekonomi antara perusahaan dan masyarakat, dan relasi tersebut merupakan relasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak yaitu masyarakat dan perusahaan.
Rika Dewi
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 1, pp 212-216; https://doi.org/10.22373/jsai.v1i3.766

Abstract:
This article aims to find out the various sources of life meaningful life of Class IIA Banda Aceh prisoners studied based on the sources of meaningful life expressed by Bastaman (2007), namely Creative Values ​​(creative values), Experiential values ​​, and Atituditional values. Values ​​(attitude values). The population of class II prisoners as many as 488 samples in this study, so the researcher took a sample of 50 prisoners using purposive random sampling. Data retrieval using questionnaires in the form of a Likert scale. The results showed that the highest value of the source of the meaning of life is the source of creative values ​​with a mean of 46.32 meaning that prisoners will still have the meaning of life when they can work, work, create, and carry out their duties and obligations as well as possible with full responsibility. While the lowest value is Experiential Value with a mean value of 34.40 which means that the prisoner feels happy and will have the meaning of life with the religious values ​​given in the LP, such as still having hope to live and trying to be the best person after leaving the LP. Then they also want to learn to read the Al-Quran, so that on average they can read the Al-Qur'an. In obtaining the sources of a meaningful life, there are different results for each prisoner. This means that the sources of meaningful life can be obtained through the experiences of different individuals. This is also related to age and marital status (such as married or unmarried). Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengetahui berbagai sumber makna hidup bagi narapidana Klas IIA Banda Aceh yang dikaji berdasarkan sumber makna hidup yang diungkapkan oleh Bastaman (2007) yaitu Creative Values (nilai-nilai kreatif), Experiental values (nilai-nilai penghayatan) dan Atituditional Values (nilai-nilai bersikap). Populasi narapidana kelas II sebanyak Sampel dalam penelitian ini sebanyak 488, sehingga peneliti mengambil sampel sebanyak 50 narapidana dengan menggunakan Purposive Random Sampling. Pengambilan data menggunakan kusioner dalam bentuk skala Likert. Hasil penelitian diketahui nilai tertinggi dari sumber kebermaknaan hidup adalah pada sumber creative values dengan mean 46.32 artinya narapidana akan tetap memiliki makna hidup ketika mereka mampu melakukan kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Sedangkan nilai terendah adalah experiental Value dengan nilai mean 34.40 artinya narapidana merasa bahagia dan akan memiliki makna hidup dengan adanya nilai-nilai keagamaan yang diberikan di LP, seperti masih memiliki harapan untuk hidup dan berusaha untuk menjadi orang yang terbaik setlah keluar dari LP. Kemudian mereka juga sudah mau belajar membaca Al-Quran, sehingga mereka rata-rata sudah dapat membaca Al-Qur’an. Dalam memperoleh sumber-sumber kubermakanan hidup, terdapat hasil yang berbeda-beda pada masing-masing narapidana. Artinya sumber-sumber kubermakanan hidup dapat diperoleh melalui pengalaman-pengalaman individu yang tidak sama. Hal ini juga terkait dengan faktor usia dan status perkawinan (seperti sudah menikah atau belum menikah).
Tuti Marjan Fuadi, Irdalisa
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 1, pp 199-211; https://doi.org/10.22373/jsai.v1i3.767

Abstract:
This paper aims to see the phenomenon of increasing mortality rates and birthrates during the Covid 19 pandemic. Pandemic Covid 19 has a lot of life, the number of victims worldwide reached 1.49 million people, and Indonesia as many as 17.199 people. To break the chain of the spread of the coronavirus, the Indonesian government has implemented a Large-Scale Social Restriction (PSBB) policy. The PSBB policy taken by the government at least influenced the increase in pregnancy rates, so a baby boom was predicted in 2021. The data in this paper comes from literature studies and relevant online newspapers. The results of this study are; 1) The cause of the high death rate due to Covid-19 is caused by individual factors and external factors. 2) The death rate has reached 17,081 with the number of cases 543,975 where Male groups are more prone to becoming victims of Covid 19 than women. Covid-19 victims in men are 55% higher than women. The high number of men exposed to Covid 19 is influenced by biological factors and social factors. 3) The birth rate has increased due to several supporting factors i.e the implementation of PSBB by the government resulted in more time with family, which led to an increase in pregnancy rates. Furthermore, access to health services is difficult so that many married couples do not visit health services for contraceptive programs until many women conceding and unplanned pregnancies. Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk melihat fenomena peningkatan angka kematian dan peningkatan angka kelahiran selama masa pandemi Covid-19. Pademi Covid-19 telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit, jumlah korban jiwa seluruh dunia mencapai 1.49 juta jiwa dan di Indonesia sebanyak 17,199 jiwa. Untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan PSBB yang diambil oleh pemerintah setidaknya telah memberikan pengaruh terhadap peningkatan angka kehamilan, sehingga diprediksikan akan terjadi baby boom pada tahun 2021 . Data dalam tulisan ini diperoleh dari studi literatur serta surat kabar online yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah; 1) Penyebab tingginya angka kematian akibat Covid-19 disebabkan oleh faktor individu dan faktor eksternal. 2) Angka kematian telah mencapai 17.081 dengan jumlah kasus 543.975 dimana kelompok laki-laki lebih rentan menjadi korban Covid 19 dibandingkan perempuan. Korban Covid-19 pada pria 55% lebih tinggi dibandingkan wanita. Tingginya angka pria terpapar Covid 19 dipengaruhi oleh faktor biologis dan faktor sosial. 3) Angka kelahiran yang meningkat karena beberapa faktor pendukung yaitu pelaksanaan PSBB oleh pemerintah mengakibatkan lebih banyak waktu bersama keluarga sehingga menyebabkan peningkatan angka kehamilan. Terlebih lagi, akses terhadap layanan kesehatan sulit sehingga banyak pasangan suami istri yang tidak mengunjungi layanan kesehatan untuk program kontrasepsi hingga banyak ibu hamil yang melahirkan dan tidak direncanakan.
Yaspis Edgar N. Funay
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), Volume 1; https://doi.org/10.22373/jsai.v1i2.509

Abstract:
This paper will describe and analyze elaborating local cultural values ​​as a force of social solidarity in Indonesia during the current pandemic. Furthermore, this paper will explore how social solidarity based on local cultural values ​​can not only be a local resistance but can also create a space for negotiation and elaboration to find a way out in the midst of the current pandemic. The temporary conclusion taken by the author is the value of Indonesia's local culture can actually overcome the cracks of social relations in the middle of the current pandemic if given a critical space in its use. Using an interdisciplinary perspective this paper examines the extent to which values, ethics, and cultural morality can play a role in social solidarity in Indonesia. In the end, this paper will explore the elaboration of the concept of local Indonesian traditions with policies adopted by the Government as part of the concept of social solidarity and the nearest way out to maintain the survival of the Indonesian people in the midst of the current pandemic vortex.
Back to Top Top