ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies

Journal Information
ISSN / EISSN : 2085-4102 / 2338-7343
Total articles ≅ 114
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Marlik Marlik
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 14, pp 57-68; https://doi.org/10.22435/asp.v14i1.5892

Abstract:
. Dengue Hemorrhagic Fever is a health problem in Indonesia. Papar is included in the area with the highest number of dengue casesThe purpose of the study was to find out the prediction of dengue hemorrhagic fever incidence in papar subdistrict, Kediri regency based on dengue fever cases. This type of research is quantitative with retrospective.Data analysis using ARIMA time series model. The best ARIMA model is ARIMA (1,0,0) with the equation Yt = 0.9974 Y t- 1 + α t. The MSE value on the prediction is 28,41. The predicted results in January will be an increase in cases then can do PE and fogging. In July with the lowest number of cases can take PSN and 3M plus action. Abstrak. Demam Berdarah Dengue merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri termasuk dalam daerah dengan jumlah kasus DBD tertinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui prediksi kejadian DBD di wilayah Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode retrospektif. Analisis data menggunakan time series model ARIMA. Model ARIMA terbaik yaitu ARIMA (1, 0, 0) dengan persamaan Yt = 0.9974 Yt - 1 + α t . Nilai MSE pada prediksi adalah 28,41. Hasil prediksi pada bulan Januari akan terjadi kenaikan kasus maka dapat melakukan PE dan fogging. Pada bulan Juli dengan jumlah kasus terendah dapat melakukan tindakan PSN dan 3M Plus.
Yuliani Yuliani
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 14, pp 67-78; https://doi.org/10.22435/asp.v14i1.5668

Abstract:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Tingginya angka kejadian DBD dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan fisik. Faktor lingkungan fisik cukup berperan penting dalam perkembangan penyebaran vektor Dengue. Lingkungan fisik berpengaruh langsung terhadap komposisi spesies vektor, habitat perkembangbiakan nyamuk, populasi, longivitas dan penularannya. Kota Tasikmalaya pada tahun 2019 merupakan wilayah kota/kabupaten yang memiliki Incidence Rate (IR) tertinggi di wilayah Priangan Timur yaitu sebesar 99,2 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2020 mengalami peningkatan kasus dari dua tahun sebelumnya menjadi 1.409 kasus. Penelitian ini dilakukan di Kota Tasikmalaya pada bulan September 2021 menggunakan rancangan kasus kontrol. Sampel pada penelitian ini yaitu 114 sampel yang terdiri dari 38 sampel kasus dan 76 sampel kontrol. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Hasil uji statistik dengan uji chi-square (α) = 0,05 menunjukkan variabel yang berhubungan adalah suhu dalam rumah (p=0,004 dan OR=4,343), ventilasi berkasa (p=0,009 dan OR=4,684), keberadaan jentik (p=0,036 dan OR=3,046). Variabel yang tidak berhubungan adalah kelembapan dalam rumah (p=1,0). Saran bagi dinas kesehatan dan puskesmas, melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang DBD dan mengedukasi masyarakat untuk melakukan upaya meningkatkan sirkulasi udara rumah dengan menambahkan ventilasi mekanik atau alamiah serta membuka semua pintu dan jendela rumah setiap pagi dan menjelang siang; dianjurkan untuk memasang kawat kasa pada semua ventilasi rumah; dan diharapkan dapat memelihara ikan pemakan jentik pada bak mandi/wc atau menguras dan menyikat bak mandi/wc seminggu sekali serta melakukan kegiatan PSN 3M plus lainnya.
Novyan Lusiyana
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 14, pp 19-28; https://doi.org/10.22435/asp.v14i1.5380

Abstract:
Abstrak. Kulit jeruk purut (Citrus hystrix) mengandung minyak atsiri yang bersifat insektisida. Minyak atsiri jeruk purut dalam sediaan aromaterapi diffuser memiliki potensi sebagai insektisida terhadap nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi minyak atsiri kulit jeruk purut sebagai adultisida terhadap nyamuk Ae. aegypti. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan posttest-only control group design. Uji aromaterapi diffuser terdiri dari 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok variasi konsentrasi uji (0,1%; 0,05%; 0,025%; dan 0,0125%) dengan pengulangan sebanyak 5 kali dan setiap kelompok terdiri dari 30 nyamuk. Aedes aegypti dimasukkan dalam kandang uji berukuran 70 cm3 lalu dipaparkan dengan minyak atsiri dalam sediaan aromaterapi diffuser. Kematian nyamuk diamati setiap jam selama 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas tertinggi terdapat pada kelompok uji 0,1% yaitu sebesar 87,3%, dan yang terendah yaitu pada konsentrasi 0,0125% dengan kematian sebesar 24,67%. Uji probit menunjukkan nilai LC50 dan LC90 yaitu 0,036% dan 0,114%. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa minyak atsiri jeruk purut dalam diffuser berpotensi sebagai adultisida pada nyamuk Aedes aegypti.
Zuni Wulandari, Bayu Purnama Atmaja, Farhandika Putra, Harninda Kusumaningtyas, Nita Rahayu
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 14, pp 11-18; https://doi.org/10.22435/asp.v14i1.4347

Abstract:
Abstrak. Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh infusa serai dapur (Cymbopogon citratus) dan menganalisis pada konsentrasi mana paling berpengaruh terhadap kematian larva Ae. aegypti. Penelitian dilakukan dengan desain eksperimen sejati. Sampel penelitian adalah 500 ekor larva instar III Ae. aegypti dengan satu wadah berisi 20 ekor larva dan dilakukan 5 kali pengulangan. Variabel yang diamati adalah rata-rata kematian larva Ae. aegypti setiap 4, 8, 12, 16, 20, dan 24 jam pada kelompok kontrol (aquades) dan pada kelompok intervensi dengan berbagai konsentrasi yaitu 25 ml, 50 ml, 75 ml, dan 100 ml infusa serai dapur. Data dianalisis menggunakan uji two-way Anova dengan hasil menunjukkan nilai signifikan 0,000 (p<0,05), berarti ada perbedaan antara kelompok intervensi. Pengamatan menunjukkan bahwa semua (100%) larva Ae. aegypti bergerak aktif sebelum diberikan infusa serai dapur. Setelah 24 jam pemberian infusa serai dapur pada konsentrasi 25, 50, 75, dan 100 ml didapatkan jumlah kematian berturut-turut 15% (3 ekor), 35 % (7 ekor), 75% (15 ekor) dan 90% (18 ekor). Hal ini memperlihatkan potensi serai dapur sebagai larvasida nabati.
Zefanya M.A.M.P Ogotan, Winarko Winarko, Irwan Sulistio, Rusmiati Rusmiati
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 14, pp 29-44; https://doi.org/10.22435/asp.v14i1.5287

Abstract:
Abstrak. Satu upaya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah dengan mencegah kontak manusia dan vektornya, yaitu Aedes aegypti. Penelitian repelen nyamuk menggunakan bahan aktif dari alam telah banyak dilakukan, contohnya minyak ekstrak biji ketumbar (Coriandrum sativum L.). Akan tetapi, ekstrak murni biji ketumbar mudah menguap dan kurang efektif apabila digunakan secara langsung sebagai repelan Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi gelling agent hidroksipropil metilselulosa (HPMS) terhadap lama waktu perlindungan dan daya proteksi gel minyak biji ketumbar sebagai repelen terhadap Aedes aegypti. Metode penelitian ini adalah eksperimen murni dengan desain posttest-only control group design. Kelompok perlakuan diberi gel minyak biji ketumbar menggunakan konsentrasi HPMS 7,5%; 10%; dan 12,5% dengan 6 kali replikasi. Kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif yaitu ekstrak biji ketumbar murni konsentrasi 60% dalam etanol 96% dan kontrol negatif yaitu lengan tanpaolesan apapun. Analisa data menggunakan uji Mann–Whitney dan Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa HPMS 7,5% memiliki jumlah nyamuk hinggap paling sedikit selama 6 jam pengamatan dengan rerata hinggap 3,2%. Suhu dan kelembaban ruang penelitian homogen. Penambahan HPMS terbukti memberikan peningkatan daya proteksi dan lama perlindungan yang sebelumnya belum maksimal terhadap nyamuk Aedes aegypti. Konsentrasi HPMS 7,5% sesuai standart Komisi Pestisida (1995) dengan rerata daya proteksinya adalah 97% selama 6 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gelling agent seperti HPMS dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan daya proteksi selama 6 jam perlindungan.
Tri Wahono, Dionisius Widjayanto, Soenarwan Hery Poerwanto
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 14, pp 45-56; https://doi.org/10.22435/asp.v14i1.5038

Abstract:
Abstrak. Nyamuk berperan langsung dalam penyebaran berbagai penyakit tular vektor di negara tropis. Tiga genus nyamuk utama penyebaran penyakit di Indonesia adalah Aedes, Culex, dan Anopheles. Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali merupakan daerah endemis untuk DBD, malaria maupun filariasis. Kabupaten Jembrana masih melaporkan kasus DBD dan malaria serta dalam tahap pemberian obat pencegahan massal filariasis pada tahun 2020. Pengendalian vektor nyamuk dipengaruhi berbagai hal seperti karakteristik habitat larvanya dan kepadatan nyamuk dewasa. Penelitian menggunakan data Rikhus Vektora 2017 di Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali dengan melihat karakteristik habitat larva, pengukuran parameter air, dan kepadatan nyamuk dengan perhitungan Man Hour Density, serta pengukuran parameter lingkungan pada semua tipe ekosistem. Habitat larva Aedes sp. berupa genangan air tawar yang tidak bersentuhan dengan tanah; Culex sp. berupa genangan air tawar bersentuhan dengan tanah; dan Anopheles sp. genangan air tawar-payau yang bersentuhan dengan tanah dengan parameter air yang berbeda, namun masih dalam rentang yang tidak jauh. Kepadatan nyamuk didominasi oleh Culex sp. di semua ekosistem kecuali pada ekosistem pantai dekat dengan pemukiman didominasi oleh Aedes sp. Semua nyamuk dewasa (Aedes sp., Culex sp., dan Anopheles sp.) di Kabupaten Jembrana lebih bersifat bersifat zoofilik. Perilaku semua nyamuk dewasa berbeda di setiap ekosistem, dapat bersifat endofagik maupun eksofagik. Parameter lingkungan di Kabupaten Jembrana memiliki potensi untuk mendukung perkembangbiakan nyamuk.
Trisnowati Budi Ambarningrum, Endang Srimurni Kusmintarsih, Trisno Haryanto, Edi Basuki, Dwi Sarwani Sri Rejeki
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 14, pp 1-10; https://doi.org/10.22435/asp.v14i1.4495

Abstract:
Lipas jerman telah resisten terhadap berbagai macam insektisida, dibuktikan dengan adanya kasus resistensi lipas jerman yang dilaporkan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Meskipun demikian, di wilayah Kota Purwokerto sampai saat ini belum ada laporan mengenai kasus resistensi tersebut. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengetahui status resistensi lipas jerman dari tiga pasar tradisional yang ada di Kota Purwokerto terhadap fipronil. Metode yang digunakan adalah metode kontak dan umpan dengan menggunakan sepuluh ekor lipas jantan dan diulang lima kali untuk masing-masing strain. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis probit untuk menghitung waktu kematian (Lethal Time), untuk kemudian dihitung tingkat resistensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu kematian (LT50) lipas lapangan menggunakan metode kontak pada tingkat resistensi tertinggi adalah dari strain Pasar-1 dengan nilai LT50 sebesar 3,05 jam, sedangkan terendah adalah strain Pasar-3 dengan nilai LT50 sebesar 1,83 jam. Hasil pengujian dengan metode umpan menggunakan gel bait mengandung fipronil 0.03% diperoleh nilai LT50 lipas asal Pasar-1 sebesar 14,16 jam, sedangkan lipas dari Pasar-3 mempunyai nilai LT50 sebesar 8,02 jam. Hasil penghitungan nilai rasio resistensi (RR50) menunjukkan bahwa semua lipas asal tiga pasar tradisional di Kota Purwokerto tidak menunjukkan resistensi terhadap fipronil yang diujikan dengan nilai rasio resistensi semua strain lapangan di bawah 1. Simpulan hasil penelitian ini adalah lipas strain pasar tradisional di Kota Purwokerto masih rentan terhadap insektisida berbahan aktif fipronil. Bahan aktif fipronil dalam formulasi umpan dimungkinkan untuk digunakan dalam monitoring dan pengendalian lipas jerman.
Risda Hartati, Tri Baskoro T. Satoto, Elsa Herdiana Murhandarwati, Mutiara Widawati
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 13, pp 127-136; https://doi.org/10.22435/asp.v13i2.4441

Abstract:
The incidence rate (IR) of Dengue Hemorrhagic Fever in Papua Province in 2017 was8.04 per 100,000 population, with a case fatality rate (CFR) of 1.12%. In 2016, the Health Offi ce ofJayapura City declared six urban villages as high endemic areas, four urban villages as high sporadicareas, and ten villages as DHF-free areas from a total of 39 urban villages in Jayapura. This studyaims to analyze larval by House index [HI], Container index [CI], Breateu index (BI), and Maya index[MI] as well as the distribution of vector Ae. aegypti in endemic, sporadic and DHF-free areas inJayapura City. The design of this study was a cross-sectional study. This research was conducted fromJanuary to March 2019. Subjects (375 houses) were surveyed according to WHO guidelines basedon its endemicity stratifi cation. Observations of mosquitos’ larvae were done using visual and singlelarvae methods. The result of this research showed that endemic areas had their HI, CI and BI as muchas 43.3%, 16.5%, and 90.0%, respectively, with density fi gure is six. Sporadic areas had their HI,CI and BI as much as 35.4%, 10.9%, and 57.5%, respectively, with density fi gure is fi ve. DHF-freeareas had their HI, CI, and BI as much as 14.8%, 5.7%, and 35.2%, respectively, with density fi gureis fi ve. The Maya index for endemic and sporadic areas was categorized as moderate, while DHF-freeareas were low.
Miftakhul Janah, Dwi Sarwani Sri Rejeki, Sri Nurlaela
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 13, pp 89-100; https://doi.org/10.22435/asp.v13i2.4837

Abstract:
Leptospirosis is still becoming a public health problem in Indonesia. Banyumas was oneof the highest cases in Central Java by 2019 so it could be potentially endemic. GIS (GeographicInformation System) is used to determine spatial patt erns related to the environment. This researchaimed to know the distribution and spatial grouping of leptospirosis in Banyumas 2019. The type ofthis research is an observational study with a cross-sectional spatial analysis design to observe thespreading and grouping patt ern. The subjects of this study were 140 leptospirosis cases in Banyumas2019. House coordinate was collected by using GPS (Global Positioning System). The data collectionis done for a month. Data Analyzes was performed through ArcGIS 10.2, and SaTScan 9.7. Thedistribution of leptospirosis in Banyumas was spread over 14 districts, 45% cases in Cilongok, 25,71%cases were >56 years old, 62,1% cases were male, 40% cases were farmers. The results of the spatialanalysis showed 77.14% cases in residential land use areas, 70% cases with moderate populationdensity (5.00-1.249 people/km²), 62.85% cases in 0-199 altitude, 63.57% cases with low rainfall 500meters, and signifi cant grouping patt ern with p-value = 0.009 primary which is located in Cilongokand Ajibarang. Leptospirosis spread over in residential land use areas, moderate population density,low altitude, low rainfall, no history of fl ooding, a radius of river 500 meters, and occurs clusteringin Cilongok and Ajibarang. The location intervention of leptospirosis prevention and control can beprioritized in these areas.
Zata Ismah, Tri Bayu Purnama, Dyah Retno Wulandari, Ema Rizka Sazkiah, Yulia Khairina Ashar
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 13, pp 147-158; https://doi.org/10.22435/asp.v13i2.4629

Abstract:
Tropical countries are the largest contributor to the incidence of Dengue HemorrhagicFever (DHF), but research on risk factors is still independent in various countries, it cannot beconcluded holistically. Through the research design, a systematic review is able to summarize andanswer the causes of DHF in this tropical country. This research method is a systematic review withguidelines following the 2009 PRISMA Checklist. In the initial search, 1,680 articles were foundusing the keyword “risk factors for Dengue Hemorrhagic Fever”, reduced to 274 article titles afteradding the keyword “tropical country”. Furthermore, the relevant abstracts were fi ltered and found37 selected article items. Through critical appraisal of the full text of the article, it was found that 17articles met the selection criteria for further review in this study. The results showed that there were5 major groups of risk factors that were widely studied, namely sociodemography, climatology, placeof dwelling, environment, and behavior. The sociodemographic factor associated with the incidenceof DHF in tropical countries is age. In terms of climatology, temperature and rainfall are importantfactors in the vector breeding process. Rural areas (rural areas) are the place of dwelling with the mostcases of DHF found. The environmental aspect that has been widely studied is mosquito breeding. Themost signifi cant risk behavior factor in transmission was the behavior of hanging clothes. Of the 17articles, it was found that 77.8% of the articles examined environmental variables.
Back to Top Top