Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-7333 / 2549-2853
Current Publisher: Institut Pertanian Bogor (10.29244)
Total articles ≅ 131
Filter:

Latest articles in this journal

Momon Sodik Imanudin, Abdul Madjid, Edi Armanto, Miftahul
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 46-55; doi:10.29244/jitl.22.2.46-55

Abstract:
Penelitian bertujuan untuk mengkaji beberapa faktor pembatas lingkungan lahan yang selanjutnya disusun rekomendasi perbaikan, agar tanaman bisa tumbuh sesuai standar produksi. Metode penelitian adalah survai lapangan, monitoring dan pengkajian. Hasil penelitian menunjukan faktor pembatas utama sangat tergantung kepada tingkat kedalaman lapisan firit, dan fluktuasi muka air tanah harian. Selama petani bisa mengendalikan muka air tanah mendekati zona akar maka fakor pembatas lainnya bisa diperbaiki. Beberapa faktor pembatas yang bisa diperbaiki adalah pH tanah masam, hara makro rendah (nitrogen,phospor dan kalium), dan ketersediaan air karena sistem tata air yang buruk. Kajian budidaya tanaman pada kondisi iklim normal ( basah) diama curah hujan dengan bulan kering hanya 2-3 bulan tidak ditemukan pembatas utama yang permanen. Perbaikan tata air dan kesuburan tanah telah mampu menciptakan produksi optimal tanaman jagung 7 ton/ha. Namun pada kondisi iklim kering dimana masa kemarau selama 4-5 bulan maka akan muncuk faktor pembatas utama permanen yang disebabkan oleh oksidasi lapiran firit. Hal ini terjadi karena muka air tanah turun tajam >90 cm. Pada kondisi ini produksi jagung menurun lebih dari 50% area tanam gagal panen karena kekeringan, dan keracunan. Petani yang berhasil adalah yang melakukan penanaman lebih awal yaitu bulan Mei. Sementara yang tanam Juli semua gagal panen. Selain karena curah hujan yang kering juga karena petani tidak melakukan konservasi air. Pintu air tidak dioperasikan untuk menahan air di saluran tersier sehingga kehilangan air lebih cepat. Dampaknya air tanah pada bulan September turun dibawah 90 cm dan terjadilah oksidasi firit. Oleh karea itu operasi pintu sebaiknya dibuka pada saat pasang dan ditutup pada saat surut operasi ini berlansung sampai belum masuk air asin (Agustus). Dan memasuki bulan September dimana telah terjadi intrusi air asin, maka pintu air ditutup permanen. Dari kondisi diatas maka pada kondisi kemarau lebih dari 4 bulan, rekomendasi utama adalah percepatan waktu tanam, pemberian bahan pembenah tanah dan operasi pintu air dengan sistem fullretention.
Khairul Anam, Khursatul Munibah, Untung Sudadi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 56-62; doi:10.29244/jitl.22.2.56-62

Abstract:
Tantangan utama dalam peningkatan ketahanan pangan di Indonesia adalah menyelesaikan masalah terkait penurunan nisbah ketersediaan lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman pangan pokok dengan kebutuhannya. Lahan pertanian eksisting di wilayah daratan Kabupaten Sumenep, Madura, salah satu lumbung pangan Provinsi Jawa Timur, terutama digunakan untuk budidaya jagung dan padi, masing-masing meliputi 55% and 20,67% luas area. Penelitian ini bertujuan (a) menganalisis ketersediaan lahan yang sesuai untuk pengembangan budidaya padi dan jagung, (b) menghitung neraca pangan dan luas baku lahan budidaya kedua komoditas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, serta (c) menyusun prioritas strategi pengembangan lahan untuk budidaya padi dan jagung dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah daratan Kabupaten Sumenep. Dalam penelitian ini diaplikasikan teknik interpretasi visual, overlay, dan pencocokan peta dengan bantuan perangkat lunak Sistem Informasi Geografi serta metode deskriptif. Lahan tersedia yang sesuai untuk budidaya jagung dan padi masing-masing seluas 20.078 dan 10.565 Ha. Neraca pangan untuk jagung dan beras menunjukkan surplus masing-masing 254.334 dan 1.483 ton pada tahun 2033, dan kebutuhan lahan untuk memenuhi proyeksi kebutuhan kedua komoditas masing-masing adalah 10.774 dan 17.673 Ha. Hal ini mengindikasikan peningkatan jumlah penduduk lokal yang berubah kebiasaan konsumsi pangan pokoknya ke campuran jagung-beras dengan komposisi beras lebih tinggi. Tiga strategi prioritas untuk pengembangan lahan dielaborasi dan didiskusikan.
Charly Mutiara, Wilhelmus I. I. Mella, Suwari
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 40-45; doi:10.29244/jitl.22.2.40-45

Abstract:
Air sumur di Kelurahan Tarus diduga telah terkontaminasi nitrit dan kadmium yang berasal dari pemakaian secara berlebihan pupuk SP-36 dan Urea. Oleh karena itu, penelitian ini telah dilaksanakan untuk membandingkan konsentrasi kontaminan nitrit dan kadmium dalam air sumur di daerah persawahan dan pemukiman dengan ambang baku mutu air baku air minum dan memprediksi besarnya risiko dari kontaminan terhadap kesehatan manusia. Penelitian deskriptif eksperimental ini menggunakan maing-masing 10 sampel air sumur dari daerah persawahan dan pemukiman. Kadar nitrit dan kadmium dianalisis dengan metode spektrofotometri dan spektrofotometri serapan atom. Baku mutu air minum dan air baku air minum berdasarkan PP 82 tahun 2001 dan PerMenKes 492 tahun 2010. Prediksi risiko terhadap kesehatan manusia dilakukan berdasarkan metode analisis risiko Public Health Assessment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah persawahan dan permukiman berturut-turut terdapat tiga dan lima sumur yang mengandung nitrit namun kandungan tersebut masih berada di bawah nilai baku mutu air baku air minum. Sedangkan untuk kadmium, terdapat berturut-turut delapan dan tujuh sumur di daerah persawahan dan permukiman kandungannya berada di atas nilai baku mutu air baku air minum. Analisis risiko menunjukkan bahwa nitrit di persawahan dan pemukiman tidak berisiko terhadap kesehatan, sedangkan kadmium persawahan dan pemukiman yang berisiko sebanyak 14 sampel untuk durasi waktu 30 tahun, 12 sampel untuk 20 tahun, 10 sampel untuk 10 tahun dan tiga sampel untuk lima tahun. Karena itu diharapkan adanya pengurangan volume konsumsi air sumur yang berisiko, dan penanganan air tanah yang tercemar serta pengurangan pemakaian pupuk anorganik.
Setyardi Pratika Mulya, Nurkhusnul Inayah Jusman, Andrea Emma Pravitasari
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 63-73; doi:10.29244/jitl.22.2.63-73

Abstract:
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor utama di Kabupaten Bulukumba. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bulukumba tahun 2018-2038 Desa Tanah Lemo merupakan salah satu bagian dari rencana pengembangan destinasi pariwisata. Salah satu destinasi potensi pariwisata yang belum berkembang di Desa Tanah Lemo adalah Pantai Lemo-Lemo. Penelitian ini bertujuan identifikasi penggunaan lahan tahun 2019, menganalisis landrent setiap penggunaan lahan, menentukan prioritas lahan untuk pengembangan kawasan wisata, dan mengidentifikasi strategi pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lemo-Lemo. Data yang digunakan adalah citra google earth, peta pola ruang, peta persil, bidang tanah, lahan kritis, arahan pertanian, kemiringan lereng dan lain sebagainya serta hasil wawancara responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu interpretasi visual dan klasifikasi tutupan lahan (SIG), analisis landrend, penentuan tingkat prioritas lahan untuk pengembangan kawasan wisata, dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 jenis penggunaan lahan di lokasi penelitian yaitu badan air, empang, emplasmen, hutan berkerapatan tinggi, hutan berkerapatan rendah, kebun campuran, lahan terbuka, pemukiman kerapatan padat, pemukiman kerapatan sedang, semak belukar dan tegalan. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan. Nilai landrent terbesar adalah permukiman penduduk padat sebesar Rp. 150.458/m2/tahun. Berdasarkan tingkat prioritas lahan untuk pengembangan kawasan wisata, prioritas I seluas 49 ha (1.7%), sedangkan yang paling luas adalah prioritas III (54%). Strategi pengembangan kawasan wisata Pantai Lemo-Lemo adalah dengan cara menggiatkan promosi wisata, diantaranya dengan menjadi tuan rumah kegiatan festival wisata lokal atau nasional, mengembangkan wisata mata air, taman hutan rakyat, situs budaya dan mengembangkan alternatif wisata buatan, misalnya taman bermain/outbound dan lain sebagainya. Desa Tanah Lemo memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata di masa mendatang.
Mazlan, Boedi Tjahjono, Baba Barus
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 1-9; doi:10.29244/jitl.22.1.1-9

Abstract:
Bencana banjir di Kabupaten Baleendah (Kabupaten Bandung) yang terjadi setiap tahun seringkali menyebabkan ratusan hektar sawah gagal panen. Sementara itu, perubahan penggunaan lahan yang cepat terjadi di daerah dataran di daerah ini telah menyebabkan banyak sawah berubah menjadi pemukiman, sementara di daerah perbukitan banyak lereng telah berubah menjadi lahan terbuka yang disebabkan oleh kegiatan penambangan batu. Kegiatan semacam ini dapat mengurangi stabilitas lereng dan memudahkan terjadinya longsor di masa depan. Mempelajari bahaya alami untuk wilayah ini menjadi penting untuk kebutuhan mitigasi bencana di masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan penggunaan lahan dan menilai bahaya banjir dan tanah longsor di Kabupaten Baleendah. Metode penelitian meliputi interpretasi visual penggunaan lahan dari citra Quickbird, analisis Pairwise Comparison untuk mendapatkan bobot dan skor parameter bahaya banjir dan tanah longsor, dan analisis Multi Criteria Evaluation (MCE) untuk menilai bahaya alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi citra Quickbird menghasilkan 12 jenis penggunaan lahan yang didominasi oleh jenis pemukiman (31,17%) dan sawah (30,90%). Dari analisis Pairwise Comparison, ditemukan bahwa urutan bobot parameter bahaya banjir adalah durasi genangan (0,50), frekuensi genangan (0,33), dan kedalaman genangan (0,17), sedangkan untuk bahaya tanah longsor adalah kemiringan lereng (0,50), penggunaan lahan (0.33), dan bentuk lereng (0.17). Berdasarkan pemetaan rawan banjir partisipatif, ditemukan bahwa wilayah rawan banjir hanya tersebar di satu desa, yaitu Desa Andir, sedangkan untuk daerah rawan longsor tersebar di 5 desa. Hasil analisis Multi Criteria Evaluation (MCE) menunjukkan bahwa bahaya banjir kelas tinggi dan menengah masing-masing meliputi 128,99 ha dan 34,76 ha, sedangkan bahaya longsor kelas menengah, tinggi dan rendah masing-masing mencakup 281,62 ha, 940,84 ha, dan 124,69 ha. Mengontrol perubahan penggunaan lahan adalah pilihan yang baik untuk dilakukan di wilayah ini untuk mengurangi bahaya alami di masa depan.
Syah Deva Ammurabi, Iswandi Anas, Budi Nugroho
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 10-15; doi:10.29244/jitl.22.1.10-15

Abstract:
Penggunaan pupuk kimia dengan takaran tinggi terus-menerus menyebabkan kerusakan tanah dan pencemaran lingkungan. Aplikasi pupuk organik hayati (POH) atau dikenal dengan bio-organic fetilizer, dapat meningkatkan ketersediaan hara, memperbaiki sifat-sifat tanah, memacu pertumbuhan dan produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi sebagian takaran pupuk kimia dengan POH terhadap pertumbuhan, serapan N, P, dan K, serta efisiensi agronomi pupuk jagung. Percobaan pot dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga, Bogor. Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Rancangan Acak Kelompok dengan faktor tunggal digunakan dalam percobaan ini. Perlakuan percobaan terdiri dari Kontrol, POH, POH + 50% (NPK), POH + 100% (NPK), 50% (NPK), dan 100% (NPK). Jagung varietas Bisma digunakan sebagai tanaman indikator. Setelah lima minggu setelah tanam, biomassa dipanen untuk penimbangan bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Jaringan tajuk dianalisis untuk menetapkan serapan N, P, dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik hayati mampu mengurangi 50% kebutuhan pupuk kimia dan meningkatkan serapan N, P, dan K. Kombinasi POH dengan 50% (NPK) menghasilkan efisiensi agronomi tertinggi. POH mampu mensubstitusi 50% kebutuhan NPK jagung.
Amanda Kusuma Dewi, Gunawan Djajakirana, Dwi Andreas Santosa
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 29-34; doi:10.29244/jitl.22.1.29-34

Abstract:
Sampah organik dari industri tahu pada umumnya hanya dibuang ke aliran sungai di sekitarnya dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Limbah cair tahu mengandung banyak protein, sehingga dalam proses dekomposisi menghasilkan amonia yang menyebabkan bau. Kurangnya peneliti yang memahami bahwa limbah tahu juga dapat digunakan sebagai substrat dalam Sel Bahan Bakar Mikro (MFC). MFC adalah sistem atau perangkat yang menggunakan bakteri sebagai katalis untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik. Elektron diproduksi oleh bakteri dari substrat yang ditransfer ke anoda (kutub negatif) dan dialirkan ke katoda (kutub positif), kemudian dihubungkan oleh perangkat konduktivitas termasuk resistor atau dioperasikan di bawah muatan untuk menghasilkan listrik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan limbah tahu sebagai substrat dalam anoda terhadap arus listrik di MFC juga mengetahui pemodelan MFC paling efektif dan menyediakan listrik dengan arus tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan MFC yang dianggap paling efektif dan menghasilkan tegangan tertinggi adalah sistem dual chamber dengan Nafion. Ruang ganda MFC dengan isolat Nafion Staphylococcus saprophyticus mampu menghasilkan nilai tegangan 3,74x105 mV dan nilai kerapatan daya 2,87x104 mW m-2.
Fahrizal Hazra, Rifqi Puja Novtiar
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 35-39; doi:10.29244/jitl.22.1.35-39

Abstract:
Mycorrhizal biofertilizers contain fungi that are capable of entering and symbiotic mutualism into plant roots and increasing the ability of plants to absorb nutrients. Fertilizer effectiveness testing is needed to protect consumers from the adverse effects of using biofertilizers. This study aims to determine the effectiveness of MZ2000 mycorrhizal biofertilizers and to know mycorrhizal root infections in sengon seedlings in nurseries. The combination treatment of 30 g MZ2000 mycorrhizal biofertilizer with 5 g NPK fertilizer gave the best sengon growth results although it was not significantly different in several parameters compared to the combination treatment of MZ2000 fertilizer dosage and other NPK fertilizers, with the value of agronomic relativity (Relative Agronomic Effectiveness / RAE) 580.80% for high growth and 288.72% for growth in stem diameter and incremental benefit cost ratio (IBCR) analysis of farming by 2.48. So that the dosage of the combination treatment of mycorrhizal biofertilizers and NPK fertilizer is most agronomically and economically effective. With the effectiveness of the fertilizer, the MZ2000 mycorrhizal biofertilizer can be declared to have passed the field effectiveness test.
Ginanjar Ika Septiawan, Eni Dwi Wahjunie, Kukuh Murtilaksono, Yiyi Sulaeman
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 16-21; doi:10.29244/jitl.22.1.16-21

Abstract:
Perubahan penggunaan lahan dapat mempengaruhi ekosistem serta hidrologi kawasan. Dapat meningkatkan erosi dan limpasan permukaan tanah, terutama bila tidak sesuai dengan prinnsip konservasi tanah dan air. Curah hujan yang tinggi mempengaruhi proses pencucian karbon dan nutrisi dari lahan pertanian ke badan sungai. Proses pencucian karbon organik dan nutrisi di sungai perlu diteliti, sehingga dapat memprediksi konsentrasi karbon organik dan nutrisi di sungai, serta bisa menjadi indikator terjadinya degradasi lahan. Penelitian ini menggunakan eksperimen lapangan yang menggunakan metode survei dengan deskriptif eksploratif untuk sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi pencucian karbon organik dalam bentuk DOC dan unsur hara nitrat, Al3+, dan Mn2+ adalah titik C. Curah hujan tidak berpengaruh dalam meningkatkan debit sungai. Tidak ditemukan korelasi yang tinggi antara debit sungai dengan konsentrasi ion terlarut di outlet dalam bentuk DOC, NO3-, PO43-, Fe2+, dan Al3+. Konsentrasi DOC di air sungai memiliki hubungan korelasi yang tinggi terhadap Fe2+ (0.94) dan Al3+ (0.96). Model multi regresi stepwise menghasilkan DOC = 2.48 + 0.90 Al3+ + 3.17 Fe2+ dengan nilai R2 Adj. yang cukup tinggi (0.94). Menunjukkan bahwa Al3+ dan Fe2+ memiliki pengaruh terhadap DOC sebesar 94%.
Heru Bagus Pulunggono, Moh. Zulfajrin, Arief Hartono
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 22, pp 22-28; doi:10.29244/jitl.22.1.22-28

Abstract:
Lahan gambut di lokasi penelitian yang digunakan untuk perkebunan sawit berdampingan dengan tanah mineral berbahan induk ultrabasa berkadar Mg tinggi. Tanah berkadar Mg tinggi dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan gangguan serapan hara. Penelitian ini bertujuan mempelajari distribusi beberapa sifat kimia tanah seperti pH; kandungan unsur kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na) dapat ditukar; besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn) total dan terekstrak DTPA dalam gambut dan hubungannya dengan kedalaman lapisan gambut dan jarak terhadap tanah mineral berbahan induk batuan ultrabasa. Contoh gambut sekitar 1,0 kg diambil secara komposit dari setiap kedalaman gambut 0 – 30, 30 – 60 dan 60 – 90 cm pada transek toposekuen dari setiap jarak 100, 200, 300, 400, 500 dan 600 m dari perbatasan tanah mineral ultrabasa. Analisis contoh gambut dilakukan untuk menetapkan (i) kapasitas tukar kation (KTK) dan pH H2O 1:5; (ii) kandungan hara makro K, Ca, Mg dan benefisial Na menggunakan amonium asetat 1 N pH 7; dan (iii) kandungan total unsur mikro Fe, Cu, Zn, Mn serta kandungan unsur-unsur tersebut dengan pengekstrak DTPA. Hasil penelitian menunjukkan nilai pH gambut menurun sangat nyata berdasarkan kedalaman lapisan gambut dan cenderung menurun dengan semakin jauh dari tanah mineral. Nilai KTK berfluktuasi dan cenderung meningkat sesuai peningkatan kedalaman lapisan gambut dan jarak dari tanah mineral. Berdasarkan hasil pengukuran Mg dan Fe, hara yang berasal dari tanah mineral mempengaruhi gambut hingga jarak 600 m dari batas gambut. Tanah gambut mengandung Mg, Na, Fe, Mn, dan Zn tersedia dalam kadar tinggi dan K and Ca tersedia dalam kadar rendah. Hara Cu tersedia tergolong cukup pada semua kedalaman dan jarak kecuali kedalaman 60 – 90 cm dan jarak 600 meter. Kandungan hara benefisial Na menunjukkan korelasi positif dengan kedalaman lapisan gambut yang mengindikasikan pengaruh marin pada tanah mineral bawah gambut. Disparitas yang besar antara Mg dengan kation lain dapat mengganggu penyerapan hara oleh akar tanaman dan memungkinkan pencucian K dan Ca keluar dari solum.
Back to Top Top