JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA

Journal Information
ISSN / EISSN : 2541-6901 / 2722-6212
Published by: Forestry Faculty, University of Papua (10.46703)
Total articles ≅ 92
Filter:

Latest articles in this journal

Muliyana Arifudin, Wahyudi
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 141-148; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.207

Abstract:
This research highlights diversity of macro-features and density of major timber species from Papua. Thirty-one species of air-dried timber with sample size of 13 cm × 6 cm × 4 cm gathered across Papua were used for density measurement and macro-features observation, cover of colors, grain orientation, and wood texture. The results showed that whitish and straw to yellow brown are dominant color of timber mostly harvested from Papua tropical forest. Their grain orientations are mostly straight, while their textures are medium. With regard to their density, Xantostemum spp is the heaviest timber having density of 1,25 g/cm3 while Alstonia scholaris is the lightest species of timber with density of 0.29 g/cm3. Therefore, majority Papua`s timber species studied are classified into light class species or low density timbers. Pulp and paper, veneer, plywood, flooring, meubels, indoor urnitures and handles or woody utensils are the potential uses of these timber species.
Irma Fince Pariri, Wolfram Y. Mofu, Ana Tampang
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 172-183; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.210

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat memberi informasi tentang cadangan biomassa tumbuhan bawah dan serasah pada beberapa petak tegakan di Hutan Pendidikan Anggori. Hasil penelitian menunjukan bahwa petak Manilkara fasciculate memiliki jumlah jenis tumbuhan bawah sebanyak rata-rata 4-11 jenis tumbuhan dengan jumlah individu 11-26 individu per plot pengamatan. Biomassa tumbuhan bawah tertinggi diperoleh pada petak tegakan Manilkara fasciculate yaitu sebesar 161,333 gr/m2 sedangkan karbon stocknya 0,807 ton C/Ha. Biomassa serasah paling banyak terdapat pada petak Pometia coreacea yaitu 324,667 gram/m2 dan karbon stocknya 1,62 ton C/Ha.
Maryance I. Ihalauw, Aditya Rahmadaniarti, Novita Panambe
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 133-140; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.206

Abstract:
Sistem agroforestri merupakan pengelolaan lahan dan system pemanfaatan yang mengkobinasikan tanaman kehutan dan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan komposisi pemanfaatan tanaman herbal dan tanaman hutan dengan tujuan memperoleh dan meningkatkan pendapatan ekonomi. Penelitian ini dilaksanakan di distrik Mnokwari Utara dengan focus pada tiga kampung antara lain Bremi, Nyoom I, and Lebau dengan menggunakan metode studi kasus melalaui teknik pengamatan. Hasil penelitian memperihatkan bahwa tercatat ada 6 (enam) spesies tanaman herbal yang didominasi oleh serai (Cymbopongon nardusi) dan kunyit (Curcuma longa), sedangkan tanaman non herbal tercatat sebanyak 12 (duabelas) spesies yang didominasi oleh pisang (Musa sp) dan cabe (Capsicum annum). Berdasarkan komponen penyusun agroforestry lahan kebun yang dikembangkan oleh masyarakat tergolong Agrisilviculture dengan pola tanam acakcampur (random mixture) dan trees along border pada system perladangan berpindah (shifting cultivation). Penerimaan tunai yang diperoleh masyarakat lokal pada agroforestry berkisar antara Rp. 10.597 – Rp. 36.684 dengan rata-rata Rp. 13.043 (kk/Thn), sedangkan non herbal berkisar antara Rp. 1.465.937 – Rp. 1.549.677(kk/ Thn) dengan rata-rata Rp. 1.489.173 (kk/ Thn). Tanaman herbal memberikan kontribusi terhadap penerimaan tunai masyarakat yaitu berkisar antara -0,71-2,37% dengan rata-rata 0,85%.
Welhelmus Baransano, Rina N. Jowei
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 197-205; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.215

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi tumbuhan berkayu dari family Euphorbiaceae di Kawasan Hutal Alam Pendidikan Anggori Manokwari dengan menggunakan pendekatan analisis vegetasi melalui pembuatan plot dan jalur pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 1636 individu dari keseluruhan tingkatan pertumbuhan dengan 146 jenis, 106 genus dan 45 famili. Secara struktur pada tingkatan semai, jenis yang dominan ialah Pimelodendron amboinicum dengan INP 2,810%, untuk tingkat pancang jenis yang dominan yaitu Pimelodendron amboinicum dengan INP 10,918%, untuk tingkat tiang yakni Pimelodendron amboinicum dengan INP 11,939%, selanjutnya untuk tingkat pohon didominasi oleh Pimelodendron amboinicum dengan INP 17,85%.
Fernando K. Yembise, Reinardus L Cabuy, Alfredo O. Wanma
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 206-216; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.216

Abstract:
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi terkini terkait perubahan kawasan hutan alam pada hutan Pendidikan Anggori Maokwari. Dalam kajian ini, pengumpulan informasi terkait bentuk kerusakan hutan dilakukan melalui kegiatan tracking dan mengidentifikasi bentuk-bentuk kerusakan yang diakibatkan menjadi penting untuk diketahui. Selain itu diskusi dan wawancara semi structural juga dilakukan guna memperoleh persepsi dan pandangan sosial masyarakat terkait interaksinya dengan hutan alam. Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa telah terjadi perubahan kepada kawasan hutan alam dengan beberapa penyebab aktivitas antara lain: 1) aktivitas berkebun, 2) aktivitas pembukaan rencana lokasi wisata, 3) aktivitas penebangan untuk memperoleh kayu konstruksi dan kayu bakar, serta 4) aktivitas pembukaan jalan guna akses penduduk. Hasil analisis intensitas kerusakan diperoleh bahwa kerusakan yang terjadi masih cukup kecil dengan intensitas sebesar 9,685% atau sekitar 7,942 Ha dari total luasan yang ada.
Sandona H.L. Kuwei, Jonni Marwa, Alexander Rumatora
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 184-196; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.214

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem hutan di kawasan Tuwanwowi guna mendukung jasa ekosistem sebagai penyedia air dan sumber pangan bagi kehidupan masyarakat disekitarnya. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif dan teknik wawancara guna menghimpun informasi. Analisis ketersediaan air dilakukan dengan menggunakan metode koefisien limpasan, sementara identifikasi status daya dukung lahan dilakukan dengan membandingkan SL dan DL dari hasil perhitungan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ketersediaan lahan (SL) sebesar 1.568,8 ha sedangkan nilai kebutuhan lahan (DL) adalah 35,442 ha yang berarti nilai SL < DL dan daya dukung lahan dinyatakan surplus atau melimpah. ketersediaan air (SA) yang tersimpan mencapai 48.621.821,78 m3/tahun dan kebutuhan air (DA) sebesar 7.241,8 jiwa m3/tahun yang mana mengindikasikan bahwa kebutuhan akan lahan di kampung Somi dan Wasai lebih kecil dari ketersediaan lahan.
Hendrikus R. Burwos, Charlie D. Heatubun, Meliza S. Worabai
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 122-132; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.205

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman dan komposisi spesies reptil pada berbagai tipe habitat di sekitar Sungai Asei. Membandingkan keanekaragaman dan kesamaan jenis reptil pada beberapa tipe habitat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik Visual Encounter Survey (VES) atau teknik survei perjumpaan visual. Hasil penelitian yang dilakukan berhasil didata sebanyak 25 jenis reptil yang terdiri dari 12 jenis kadal, 2 jenis biawak, 10 jenis ular, dan 1 jenis penyu. Hasil perhitungan Indeks keanekaragaman jenis (H’) dan kemerataan jenis (E’) tertinggi pada tipe habitat hutan pantai H’ (1.43) dan diikuti oleh hutan sekunder H’ (1.39) memiliki tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi. Perhitungan indeks Sorensen reptil antara tipe habitat, menunjukkan kisaran indeks antara 50 - 77 atau 50 - 77%, hasil tersebut dapat dilihat bahwa nilai kesamaan jenis semuanya mendekati 1, yang berarti data ini menunjukkan bahwa jenis reptil yang tersebar pada berbagai tipe habitat di sekitar Sungai Asei yaitu pada hábitat hutan primer, hutan sekunder, dan hutan pantai.
Soetjipto Moeljono, Agustinus Murdjoko, Moh. Sholeh Mardoyono, Betty Ligarti Silitonga, Laura Lasamahu, Terenius Kiwo
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 113-121; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.203

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untu memperoleh informasi terkait struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan pada tingkat semai, pancang, tiang dan pohon dengan pendekatan parameter indeks nilai penting di hutan Samaris kampung Sepse. Pengamatan dilakukan di distrik Biak Timur dengan menggunakan metode kuadran pada empat plot pengamatan. Hasil penelitian memperlihatkan komposisi jenis sebanyak 29 jenis dengan komposisi struktur vegetasi yang beragam pada setiap tingkatan pertumbuhannya. Dari nilai INP diketahui jenis Pala hutan (Myristica fatua) dengan INP 54,21%, selanjutnya diikuti dengan jenis Mansai (Buchanania arborence) dan Mangganipro (Horsfieldia sp).
Darius Waren, Hermanus Warmetan, Sepus M. Fatem
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 155-171; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.209

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis burung diurnal di hutan mangrove Oransbari Kabupaten Manokwari Selatan. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi dengan teknik survei dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 30 jenis burung dari 19 famili. Pakan yang dikonsumsi oleh jenis burung antara lain bunga Sizygium, buah masak Premna corimbosa, buah muda Ficus Sp, buah masak Decarpermum parviflorum, buah masak Morinda citrifolia, bunga Lantana camara L dan beberapa jenis serangga, belalang, rayap dan kepompong. Berdasarkan pengamatan di lapangan terdapat 15 jenis burung yang beraktifitas pada pagi hari (06.00-10.00 WIT) dan terdapat 15 jenis burung yang beraktifitas pada sore hari (15.00-18.30 WIT). Masyarakat di kampung Oransbari pada umumnya berburu mengunakan alat tradisional yakni katapel dan alat moderen seperti senapan cis guna pemenuhan kebutuhan harian mereka.
Penias Itlay, Nunang Lamek May, Mariana H. Peday
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, Volume 6, pp 149-154; https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.vol6.iss2.208

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan tumbuh tanaman Jati (Tectona grandis Linn. f.) yang berasal dari Muna dan Cepu di areal Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung Biak Numfor. Berdasarkan hasi penelitian di temukan bahwah pertumbuhan tanaman Jati asal Muna memiliki persentase lebih besar (77,33%) dari dari Jati Cepu (64,53%). Rata-rata pertumbuhan diameter dan tinggi Jati asal Cepu dan Muna diketahui Jati Cepu memiliki rata-rata diameter lebih besar (5.11 cm) dari Jati Cepu (4.89 cm). Rata-rata tinggi jati Muna memiliki rata-rata tinggi lebih besar (5,35cm) dari Jati Cepu (4,88 cm).
Back to Top Top