Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan

Journal Information
EISSN : 25495585
Current Publisher: Universitas Hamzanwadi (10.29408)
Total articles ≅ 10
Filter:

Latest articles in this journal

Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan; doi:10.29408/fhs

Abstract:
Fajar Historia (e-issn 2549-5585)
Arif Al Anang, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 98-108; doi:10.29408/fhs.v3i2.2129

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui periodisasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan teknik analisis deskriptif yang didukung dengan analisis kesejarahan. Pendekatan sejarah lebih mengutamakan orientasi pemahaman atau penafsiran terhadap fakta sejarah. Temuan dari penelitian ini adalah bahwasanya pada perkembangan ilmu pengetahuan di masa modern ini, ilmu pengetahuan menjadi lebih saling terhubung satu sama lain. Hal ini disebut sebagai integasi interkoneksi ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana al-Qur’an sebagai pusat integrasinya, dan kemudian Hadits. DOI: 10.29408/fhs.v3i2.2129
I Nyoman Siryayasa, M. Syahrul Yasin
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 88-97; doi:10.29408/fhs.v3i2.2120

Abstract:
Artikel ini memfokuskan pada kegiatan perdagangan dan pelayaran orang-orang Asia Tenggara di Makassar. Makassar adalah salah satu kota pelabuhan yang jadikan sebagai pusat perdagangan maritim di kawasan timur Indonesia yang telah berkembang menjadi zona perdagangan di abad ke-14. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan antar pulau sudah mulai sejak beberapa abad sebelumnya. Artikel ini membahas tentang kegiatan perdagangan dan pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Asia Tenggara dalam tatanan perubahan kondisi sosial-ekonomi dalam masyarakat pelaut orang-orang Asia Tenggara di Makasssar. Penelitian ini merupakan studi sejarah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh melalui studi kepustakaan dengan mencari referensi melalui buku dan ditelaah pustaka lainnya. Data yang didapatkan kemudian di olah sedemikian rupa dengan menggunakan metode sejarah yaitu herustik, kritik, interprestasi dan historiografi. DOI: 10.29408/fhs.v3i2.2120
Johan Setiawan, Universitas Negeri Yogyakarta, Wahyu Ida Permatasari
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 11-22; doi:10.29408/fhs.v3i1.667

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses masuk dan persebaran peninggalan kebudayaan Proto-Deutero Melayu di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan langkah sebagai berikut: (1) heuristik, (2) kritik sumber, (3) interpretasi, (4) historiografi. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: (1) Proto-Melayu berlayar dan menetap di Indonesia sekitar 3000 SM melalui dua jalur yaitu: Jalur barat dari Yunan melalui Selat Malaka kemudian masuk ke Pulau Sumatra dan masuk ke Pulau Jawa. Jalan utara (timur) yaitu dari Yunan berpindah melalui Formosa kemudian masuk ke Filipina dilanjutkan penyeberang ke Pulau Sulawesi dan masuk ke Pulau Papua, sedangkan Deutero-Melayu masuk ke wilayah Indonesia tahun 200 SM melalui jalur Barat yaitu dari Yunan lalu Vietnam, Malaysia, hingga akhirnya tiba di Indonesia, (2) Proses Persebaran Budaya Proto-Melayu di Indonesia dengan bertempat tinggal menetap, bersawah atau menanam padi, berternak, bermasyarakat, berperahu cadik, membuat kain dari kulit kayu, menggembangkan gaya seni tertentu dan membawa kebudayaan batu muda (Neolitikum) berupa gerabah, beliung persegi, kapak lonjong dan tembikar. Sedangkan peninggalan kebudayaan Deutero-Melayu di Indonesia terbuat dari perunggu dan logam, yaitu kapak corong, nekara, perhiasan dan manik-manik. Perhiasan dan manik-manik inilah yang nantinya semakin memperjelas status sosial yang berkembang di masyarakat Nusantara. Kata kunci: Proto-Melayu, Deutero-Melayu, Kebudayaan
Rizki Annisa, Universitas Hamzanwadi, Muhammad Shulhan Hadi, Abdul Hafiz
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 66-72; doi:10.29408/fhs.v3i2.1899

Abstract:
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk (1). Sejarah berkembangnya perekebunan kopi di Desa Jurit Baru Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur (2). Mengetahui perubahan sosial ekonomi masyarakat petani kopi di Desa Jurit Baru Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, metode sejarah yaitu usaha untuk menetapkan fakta dan mencari kesimpulan mengenai hal-hal yang telah dilakukan secara sistimatis dan objektif oleh ahli sejarah dalam mencari, mengevaluasi dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masa lalu tersebut (Kuntowijoyo, 2003:1). Hasil Penelitian, tanaman kopi dibawa dari Provinsi Bali oleh salah seorang Kepala Dusun yang ada di Desa Jurit Baru sekitar tahun 1990-an, yaitu Amaq Sodah, Amaq Sodah pergi ke Provinsi Bali dalam rangka pelatihan, sepulangnya dari Provinsi Bali Amaq Sodah membawa bibit kopi dan memperkenalkannya kepada masyarakat yang ada di Desa Jurit Baru. Dengan adanya perkebunan kopi tentu akan membutuhkan cukup banyak tenaga kerja, ini artinya dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Desa Jurit Baru, sehingga dapat mengurangi pengangguran. Peningkatan penyerapan angkatan kerja akan berdampak pada peningkatan prekonomian masyarakat, sehingga dapat menurunkan angka kemiskinan.
Samudra Eka Cipta, Universitas Pendidikan Indonesia
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 73-87; doi:10.29408/fhs.v3i2.2059

Abstract:
Pada masa Hindia Belanda sudah ada beberapa komunitas Tionghoa-Kristiani yang ditandai dengan adanya Gereja Tionghoa. Masa Demokrasi Liberal perkembangan Umat Tionghoa-Kristiani mengalami perkembangan pesat. Perkembangan tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah terkait masalah identitas keagamaan bagi Masyarakat Keturunan. Pasca kejatuhan Demokrasi Terpimpin dengan lahirnya Orde Baru, perkembangan Umat Tionghoa-Kristiani meningkat tajam. Politik yang dilakukan Masa Orde Baru yakni ‘’politik asimilasi’’ dengan berusaha menghilangkan unsur kebudayaan pada masyarakat tertentu. Hal tersebut ditandai dengan kebijakan Pemerintah Orde Baru yang melarang adanya praktik Ajaran Konfusianisme bagi Masyarakat Keturunan Tionghoa karena dianggap sebagai bentuk propaganda Komunisme Tiongkok. Selama Mas Orde Baru Keturunan Tionghoa melakukan konversi keagamaan secara besar-besaran. Dampak lain yang ditimbulkan bagi Masyarakat Keturunan adalah perubahan nama dengan berunsurkan nama layaknya orang Indonesia pada umumnya. Penelitian ini melahirkan rumusan masalah yakni 1) bagaimana awal perkembangan sosial Masyarakat Keturunan Tionghoa?, 2) bagaimana respon Masyarakat Tionghoa Indonesia terhadap kebijakan Pemerintah Masa Soekarno dan Soeharto?, 3) bagaimana upaya rekonsiliasi dalam upaya melestarikan kembali nilai-nilai budaya dan filosofis bagi masayarakat Keturunan Tionghoa?.
Syahrul Amar, Universitas Hamzanwadi, Andi Sulastri, Lalu Murdi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 109-117; doi:10.29408/fhs.v3i2.2147

Abstract:
Penelitian bertujuan menghasilkan metode Pembelajaran Sejarah berbasis Budaya Maritim untuk siswa SMA. Produk ini diharapkan dapat mengoptimalkan pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Kelautan. Penelilitian ini adalah penelitian pengembangan. Langkah penelitian pengembangan meliputi : 1) studi pendahuluan; 2) pengembangan desain metode dan bahan ajar, 3) Validasi Produk. Penelitian menghasilkan produk bahan Ajar Sejarah berbasis Budaya Maritim. Data yang dihasilkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Rambu-rambu dalam analisis data hingga menghasilkan kesimpulan merujuk metode Huberman yakni kegiatan reduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan siswa SMA Kota Selong mengalami kesulitan menjelaskan materi ajar Sejarah yang berhubungan dengan Sejarah dan budaya maritim. Guru belum mampu menyampaikan materi ajar secara integral antara materi Sejarah dengan dunia kemaritiman Indonesia termasuk dengan budaya maritim Pulau Lombok. Kondisi ini berpengaruh pada rendahnya wawasan siswa terhadap budaya maritim yang berdampak pada rendahnya minat kebaharian siswa pada hal Indonesia dan Pulau Lombok adalah wilayah maritim yang sangat potensial dalam bidang perdagangan, pariwisata dan perikanan.Bahan ajar Sejarah yang berbasis Budaya maritim belum ada di sekolah sehingga Guru dan siswa mengharapkan adanya Metode pembelajaran dan bahan ajar Sejarah berbasis Budaya Maritim. Penelitian ini menghasilkan Metode pembelajaran dan bahan ajar Sejarah berbasis budaya Maritim dan menunjukkan metode pembelajaran dan bahan ajar yang dirancang tergolong sangat baik dan relevan dalam pembelajaran sejarah.
Riska Anggraini, Universitas Sriwijaya, Hudaidah Hudaidah, Alian Sair
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 33-50; doi:10.29408/fhs.v3i1.1374

Abstract:
Penelitian ini mengungkapkan perkembangan agama Islam di Desa Tanjung Sari yang diawali dengan adanya kolonialisasi Belanda yang mentransmigrankan orang-orang dari Jawa ke Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 15 Maret 2019 hingga 20 April 2019 di Desa Tanjung Sari menggunakan metodelogi penelitian sejarah dengan proses pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara dan studi kepustakaan. Penelitian ini mendapatkan hasil tentang dinamika internal hubungan umat Islam di daerah transmigran yang menunjukkan dua pola perkembangan hubungan, yaitu Hubungan antara agama dengan tradisi lokal dan hubungan antara agama dengan pemikiran keagamaan. Sehingga hubungan antara agama dan budaya dapat digunakan sebagai strategi dalam upaya mengembangkan agama internal di Desa Tanjung Sari dan terdapat naskah tauhid yang dijadikan pedoman untuk pengajaran agama Islam sehingga pola fikir keagamaan masyarakat di Desa Tajung Sari mengalami perkembangan. DOI: 10.29408/fhs.v3i1.1374
Angga Prasetiyo, Universitas Sriwijaya, Farida Farida, Aulia Novemy Dhita Sbk
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 51-65; doi:10.29408/fhs.v3i1.1684

Abstract:
Persatuan Guru Republik Indonesia atau disingkat PGRI merupakan wadah organisasi yang menampung semua guru di Indonesia. PGRI memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan, terutama dalam perbaikan kualitas guru di Indonesia. PGRI juga berperan aktif dalam pembangunan pendidikan dengan adanya universitas atau sekolah yang dikelola oleh PGRI. PGRI juga berperan dalam perlawanan guru-guru dalam kemerdekaan Indonesia. Selain itu perjuangan PGRI tidak terlepas dari dinamika setiap masa di Indonesia antara lain; masa orde lama, masa orde baru, masa reformasi sampai sekarang. Dalam sejarah berdirinya PGRI sampai sekarang tidak terlepas dari tantangan dan hambatan yang muncul dari factor internal maupun eksternal. Pada masa orde lama menuju orde baru, muncul konflik didalam organisasi PGRI, yaitu dimana diakibatkan oleh oleh ikut campurnya PKI yang menyebabkan dualisme organisasi dan kepemimpinan. Dimana PKI membentuk sebuah organisasi serupa dengan PGRI, akan tetapi bermuatan paham komunis. Upaya PKI ini merupakan cara agar PGRI runtuh dan digantikan organisasi guru yang berafiliasi dengan PKI. Perseteruan ini muncul dalam kongres-kongres PGRI. Upaya yang dilakukan orang-orang yang berafiliasi dengan PKI adalah mengganggu semua kegiatan yang dilakukan PGRI. Basis-basis kekuatan orang-orang yang berafiliasi dengan PKI terdapat di beberapa daerah di pulau Jawa, sedangkan untuk diluar wilayah jawa dukungan untuk kelompok-kelompok ini sangat kecil, bahkan tidak ada. Setelah munculnya pemberontakan PKI yang gagal pada saat itu, berakhir juga kelompok-kelompok tersebut dalam menggangu kegiatan organisasi PGRI. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana PGRI mengokohkan kekuatan organisasinya dalam mempertahankan ideologi organisasi yang berlandaskan Pancasila dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh PKI dalam upayanya untuk menggangu kesetabilan oraganisasi PGRI. Tujuan penulisan artikel ini yaitu: 1) menjelaskan dinamika perseteruan antara PKI dengan PGRI. Fase ini ditandai dengan bermunculan sekelompo orang yang berafiliasi dengan PKI dan berupaya membuat seluruh kegiatan PGRI terhambat dan 2) menjelaskan bagaimana berakhirnya perseteruan tersebut. Ada dua kesimpulan penting dalam tulisan ini yaitu: 1)Oranisasi PGRI sejak dibentuk memiliki dasar Ideologi Pancasila yang kokoh dan berhasil bertahan dari upay-upaya pembubaran organisasi tersebut; 2)PGRI merupakan wadah untuk para guru dalam memperjuangkan kesejahteraan guru. Metodologi yang digunakan adalah kajian literature dengan mengkaji berbagai referensi terkait gerakan guru di Indonesia dan kongres-kongres PGRI. Hal penting yang harus dilakukan oleh PGRI dalam mengkokohkan organisasi adalah memperkuat ideologi pancasila dan memperjuangkan kesejahteraan guru .Dalam pengambilan data penelitian ini, penulis mengambil dari beberapa sumber-sumber tertulis, dengan metode kualitatif.
Lalu Murdi, Universitas Hamzanwadi, Bambang Eka Saputra
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan, Volume 3, pp 23-32; doi:10.29408/fhs.v3i1.1893

Abstract:
This study aims to analyze the importance of media in the history of learning that not only uses digital in accordance with current developments with era 4.0, but also how a teacher is able to bridge the past by presenting artifacts, relics, images, even miniatures of the past for easier understood. The existence of a laboratory or museum in this case can be a direct bridge to connect what they have learned with their empirical reality in the past. This research uses a qualitative approach with a phenomenological method with several methods of data collection ranging from interviews, observations, document studies and documentation. The results showed that students involved as totor who were assigned to explain each period with some media available at the Hamzanwadi University history education laboratory showed many developments starting from the ability to understand the historical context at a certain period and their ability to explain to the public or students who normally visit the laboratory. One interesting approach that Hamzanwadi University's history education program has tried to develop in recent years is to make students as tutors to explain to students who visit the history education laboratory. Students who are assigned are randomized every semester in turn, so that each of them truly understands each historical object as assigned.
Back to Top Top