JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2599-0179 / 2599-0160
Published by: Universitas Medan Area (10.31289)
Total articles ≅ 31
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Ade Prayetno, Gun Faisal, Mira Dharma S
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 42-50; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.4889

Abstract:
ABSTRAK. Kabupaten Bengkalis diperkirakan memiliki 40.916 Ha hutan magrove dan setiap tahun selalu mengalami penurunan dan kerusakan. Akibat dari rendahnya kesadaran masyarakat khususnya didaerah pesisir dan eksploitasi hutan Mangrove secara berlebihan serta keadaan sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Bengkalis yang tersebar dipesisir pantai mengandalkan sumber daya alam kelautan dan pesisir pantai sebagai mata pencaharian masyarakat setempat. Masyarakat melakukan intrusi terhadap ekosistem hutan magrove dengan mengalih fungsikan lahan (magrove) menjadi tambak, pemukiman nelayan, industri dan penebangan untuk berbagai keperluan seperti bahan industri panglung kayu arang, dan sebagai cerocok bangunan. Akibatnya wilayah kabupaten Bengkalis mengalami kerusakan yang cukup parah tepatnya daerah yang berahadapan langsung dengan Selat Malaka yang memiliki gelombang laut yang cukup kuat. Untuk itu agar menyadarkan masyarakat akan pentingnya Mangrove diperlukan Pusat Rehabilitasi konservasi Mangrove yang mana Pusat Rehabilitasi ini berfungsi sebagai pusat pengembangan, penelitian, serta edukasi masyarakat didalamnya terdapat pusat riset, development, laboratorium indoor dan outdoor serta cultivation area. Mangrove Rehabilitation Center ini menggunakan pendekatan simbiosis Kisho Kurokawa yang pada dasarnya memiliki prinsip simbiosis antara alam dan manusia yang dapat memperbaiki pola pikir dan interaksi dalam rancangan yang mengacu pada fungsi pengembangan, penelitian, edukasi, serta rekreasi.
Nada Rizqi Amalia, Pedia Aldy, Muhd Arief Al Husaini
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 68-77; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.4932

Abstract:
Fenomena kekerasan pada anak merupakan hal yang sangat memprihatinkan, terlihat dari kasus kekerasan pada anak yang meningkat setiap tahun di Indonesia, kekerasan yang terjadi meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual dan ekonomi yang berdampak pada kesehatan jiwa. Perlu adanya perlakuan khusus untuk melihat banyaknya korban kasus kekerasan pada anak di berbagai daerah. Di Provinsi Riau tingkat kasus kekerasan dari tahun 2012 - 2020 berjumlah 1225 kasus dan Kota Pekanbaru merupakan daerah penyumbang kasus kekerasan dengan total 713 kasus. Kasus kekerasan yang terjadi didominasi oleh kekerasan seksual, hal ini membuktikan masih rendahnya kesadaran masyarakat dan perlunya penanganan terutama bagi korban kekerasan yaitu anak, karena anak. Kesehatan mental sangat berpengaruh dalam optimalisasi perkembangannya terutama anak-anak korban kekerasan fisik dan psikis yang membutuhkan fasilitas dan pengobatan yang tepat. Hal inilah yang mendasari terciptanya Puskesmas Mental Anak sebagai wadah yang dapat menampung dan melayani kebutuhan kesehatan jiwa yang didalamnya terdapat fasilitas penyuluhan, sharing, relaksasi dan fasilitas pendukung lainnya. Perancangan ini menggunakan Healing Environment Approach yang mengedepankan prinsip penyembuhan sebagai penerapan desain, tidak hanya aspek fisik non fisik juga saling mempengaruhi dengan menciptakan suasana penyesuaian elemen desain yang memberikan rangsangan positif bagi panca indera sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan. Hal inilah yang mendasari terciptanya Puskesmas Mental Anak sebagai wadah yang dapat menampung dan melayani kebutuhan kesehatan jiwa yang didalamnya terdapat fasilitas penyuluhan, sharing, relaksasi dan fasilitas pendukung lainnya. Perancangan ini menggunakan Healing Environment Approach yang mengedepankan prinsip penyembuhan sebagai penerapan desain, tidak hanya aspek fisik non fisik juga saling mempengaruhi dengan menciptakan suasana penyesuaian elemen desain yang memberikan rangsangan positif bagi panca indera sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan. Hal inilah yang mendasari terciptanya Puskesmas Mental Anak sebagai wadah yang dapat menampung dan melayani kebutuhan kesehatan jiwa yang didalamnya terdapat fasilitas penyuluhan, sharing, relaksasi dan fasilitas pendukung lainnya. Perancangan ini menggunakan Healing Environment Approach yang mengedepankan prinsip penyembuhan sebagai penerapan desain, tidak hanya aspek fisik non fisik juga saling mempengaruhi dengan menciptakan suasana penyesuaian elemen desain yang memberikan rangsangan positif bagi panca indera sehingga dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan.
Rifa Novriani, Muhd Arief Al Husaini, Wahyu Hidayat
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 31-41; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.4898

Abstract:
Hasil pertanian yang paling terkenal dan menjadi buah segar ungulan di Kualu Nenas yaitu Nanas. Hasil produksi usahatani nanas yang cukup melimpah di daerah Kualu Nenas ini dapat meningkatkan pendapatan petani dengan memasarkan hasil produk nanas kepada konsumen ataupun pedagang secara langsung. Kebanyakan petani nanas di daerah Kampar memasarkan nanas dalam bentuk buah segar di tepi jalan lintas Pekanbaru-Bangkinang. Pedagang yang berjualan di tepi jalan tersebut kuranglah menarik minat konsumen sehingga sedikit penjualan yang dihasilkan. Untuk memanfaatkan hasil produksi nanas yang melimpah dan menunjang hasil penjualan nanas, maka diperlukanlah Pineapple Center yang mampu menarik minat konsumen sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pineapple Center menjadi bangunan sebagai fasilitas komersial yang mewadahi berbagai kegiatan seperti pengolahan nanas menjadi kuliner maupun kerajinan, sebagai tempat edukasi seperti penelitian dan pelatihan pengembangan nanas, dan juga area rekreasi bagi wisatawan dan masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam perancangan ini yaitu metode primer berupa survei, serta berbagai sumber literatur sebagai metode sekunder. Pada perancangan arsitektur Pineapple Center ini menggunakan tema Arsitektur Biofilik dimana tema ini membuat keselarasan antara objek arsitektur dan lingkungan alam sekitarnya.
Mutiara Noviza, Mira Dharma, Pedia Aldy
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 17-24; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.5170

Abstract:
Pekanbaru merupakan ibukota Provinsi Riau yang mempunyai beragam aktivitas yang padat, perlu adanya asupan yang sehat dan seimbang. Tempat kuliner vegetarian di Pekanbaru masih jarang terlihat untuk saat ini. Vegetarian merupakan sebutan bagi orang yang mengkonsumsi makanan unsur nabati dan menghilangkan unsur hewani, pola makanan ini dianggap lebih menyehatkan. Maka diperlukannya wadah yang menghadirkan menu makanan sehat yang berbahan dasar tumbuhan untuk masyarakat di zaman modern ini. Vegetarian Center dengan Pendekatan Arsitektur Organik di Pekanbaru merupakan wadah untuk memfasilitasi kuliner yang sehat dan bernutrisi dengan pola makanan yang seimbang. Hal ini bertujuan untuk mengajarkan masyarakat agar lebih peduli dengan kesehatan tubuh, sehingga mempunyai pengaruh yang baik dalam gaya hidup sehari-hari. Arsitektur organik merupakan sebuah filosofi arsitektur yang menjunjung harmoni antara lingkungan hidup manusia dan dunia alam melalui pendekatan desain. Suasana alami dengan unsur alam dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi penggunannya.Konsep yang digunakan pada perancangan ini adalah “together with nature” yang terinspirasi dari bagaimana fungsi dapat selaras bersama alam, dengan memanfaatkan alam sebagai bagian penting dalam perancangan.
Salsabila Rivani, Muhammad Rijal, Muhd Arief Al Husaini
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 51-58; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.4901

Abstract:
Kota Rengat merupakan ibukota Kabupaten Indragiri Hulu. Kota ini terkenal akan sejarahnya sehingga dijuluki “Rengat Kota Bersejarah”. Salah satu alasan Kota Rengat dijuluki demikian adalah karena kota ini memiliki banyak sejarah terutama di bidang seni dan budaya. Hal ini dibuktikan dengan adanya Kerajaan Melayu yang bernama Kerajaan Indragiri yang berada di tepi Sungai Indragiri. Akan tetapi, walaupun dijuluki sebagai kota bersejarah, pengembangan dalam bidang seni dan budaya di Kabupaten Indragiri Hulu belumlah terkoordinasi dengan baik. Untuk menampung segala bentuk seni dan budaya Melayu Indragiri, diperlukanlah wadah yang memadai.Perancangan Pusat Seni dan Budaya Melayu Indragiri ini berfungsi sebagai wadah untuk menampung segala seni dan budaya dari Melayu Indragiri itu sendiri, seperti seni tari, seni sastra, seni teater, dan sebagainya. Perancangan Pusat Seni dan Budaya Melayu Indragiri ini menerapkan prinsip-prinsip dari Arsitektur Regionalisme. Arsitektur Regionalisme merupakan gaya arsitektur yang mengambil karakteristik dari kebudayaan setempat. Arsitektur regionalisme sendiri merupakan penggabungan dari arsitektur tradisional dan arsitektur modern. Sehingga dalam perancangan ini akan mengambil karakteristik dari kebudayaan Melayu Indragiri sebagai acuan desain sekaligus menerapkan prinsip-prinsip arsitektur modern. Penggunaan arsitektur regionalisme sebagai prinsip dasar perancangan, diharapkan dapat menjadikan pusat seni dan budaya Melayu Indragiri menjadi salah satu ikon wisata budaya di Kabupaten Indragiri Hulu.Kata Kunci: Pusat Seni dan Budaya, Melayu Indragiri, Arsitektur Regionalisme
William Hutagalung, Pedia Aldy, Muhdi Arief Al Husaini
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 25-30; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.4883

Abstract:
Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia setiap tahun terus mengalami peningkatan. Narkoba adalah zat/obat yang memberikan efek halusinasi serta menyebabkan kecanduan berat. Dampak buruk dari penyalahgunaanya dapat merusak kesehatan fisik maupun mental. Program rehabilitasi merupakan solusi terbaik untuk upaya penyembuhan bagi para pecandu narkoba, sehingga dibutuhkan sebuah wadah yang dapat menaungi semua kegiatannya. Kota Pekanbaru saat ini masih sangat kekurangan fasilitas rehabilitasi narkoba, baik dari jumlah maupun yang telah memenuhi standar kesehatan. Permasalahan ini diharapkan dapat diselesaikan dengan perancangan bangunan rehabilitasi narkoba di Pekanbaru dengan penerapan prinsip healing environment. Pengolahan elemen-elemen arsitektural pada rehabilitasi narkoba diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan pasien. Healing environment diterapkan pada perancangan karena terdapat prinsip penting terhadap proses kesembuhan pesien pecandu narkoba, yaitu prinsip psikologi, prinsip panca indra manusia dan prinsip lingkungan.
Weldri Berto Ocmafiyon, Wahyut Hidayat, Gun Faisal
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 78-86; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.4956

Abstract:
KS Tiga Naga merupakan salah satu klub sepak bola profesional yang berdiri pada tahun 2015 di Kota Pekanbaru. Pada tahun 2019 KS Tiga Naga menempati posisi runner-up Grup Barat Liga 3 dan berhak mendapatkan tiket promosi ke Liga 2 2020. Untuk berlaga di kompetisi profesional Liga 2 setiap klub sepak bola diharuskan memiliki stadion yang sesuai regulasi dari PT. Liga Indonesia Baru selaku penyelenggara. Home base KS Tiga Naga yang saat ini hanya memiliki kapasitas penonton 1000 orang dengan fasilitas stadion yang belum memenuhi regulasi untuk melaksanakan kompetisi Liga 2. Oleh karena itu, diperlukan stadion sebagai home base KS Tiga Naga di Kota Pekanbaru untuk mewadahi klub daerah sendiri dan mengakomodasi supporter KS Tiga Naga untuk mendukung klub kesayangan mereka. Untuk mendukung stadion yang dirancang nantinya menggunakan pendekatan arsitektur futuristik. Arsitektur futuristik merupakan gaya arsitektur seolah-olah menggambarkan masa depan yang tentunya mengikuti perkembangan arsitektur teknologi tinggi dan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Muhammar Khamdevi
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 11-16; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.5324

Abstract:
The Pesisir Barat, Solok, and Solok Selatan areas are the rantau (vassal) of the Pagaruyung Kingdom after the withdrawal of the Malayupura Kingdom and the Malacca Sultanate, namely the Inderapura Kingdom in the 15th century and the Sungai Pagu Kingdom in the 16th century. At a glance, the Rumah Gadang in the Pesisir Barat area are similar to the Rumah Gedang in Batanghari Hulu and the Rumah Godang in Batang Kuantan. Meanwhile, the Rumah Gadang in Solok and Solok Selatan seem to have all the Rumah Gadang collections in the Luhak Nan Tigo area (Tanah Datar, Agam, and Limapuluh Koto). Therefore, this study tries to explore the relationship between the characteristics of traditional houses in these areas. This research method is qualitative, by conducting literature reviews, field studies, and analyzing the architecture and comparing it with traditional houses in these areas to get a more comprehensive conclusion. The results of this study indicate that there is a general relationship between the characteristics of the Rumah Gadang in the West Coast, Solok, and South Solok with the Rumah Gadang in the Luhak Nan Tigo area.
Stivani Ayuning Suwarlan, Carissa Dinar Aguspriyanti, Indah Yunita, Devin Tan, Billy Shevriyanto
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 1-10; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.5185

Abstract:
Pasar tradisional merupakan salah satu ruang publik yang menjadi identitas sebuah kota dimana memiliki beragam nilai sosial dan budaya sehingga keberadaannya perlu mendapat perhatian khusus untuk meningkatkan citra kota (image of the city). Salah satu bentuk pasar tradisional yang banyak dijumpai di Kota Batam, Indonesia adalah pasar kaget yang bersifat seketika dimana menjadi peluang usaha bagi para pedagang kecil dan memberikan kemudahan bagi warga sekitar untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari. Pada umumnya, pasar kaget muncul pada lahan yang memiliki karakter sebagai pusat keramaian di suatu permukiman dan ruas jalan yang dilalui banyak pengendara. Pasar Kaget Tiban Kampung, merupakan salah satu pasar kaget di Kota Batam yang memiliki lokasi cukup unik yakni di lahan parkir yang berada tepat di sebelah TPS (Tempat Pembuangan Sementara). Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi dan memperkuat identitas Pasar Kaget Tiban Kampung melalui usulan konsep desain penataan ulang. Konsep tersebut disusun berdasarkan hasil analisis SWOT dan noema noesis pasar tersebut. Teknik pengumpulan data yang dilakukan antara lain observasi dan wawancara semi-terstruktur.Kata Kunci: Pasar Kaget, Noema, Noesis, Identitas AbstractThe traditional market is one of the public spaces that become identity of a city which has various social and cultural values so that its existence needs special attention to improve the image of the city. One form of traditional markets that are often found in Batam City, Indonesia is street market called Pasar Kaget which is a business opportunity for small traders and makes it easy for local residents to get their daily needs. In general, Pasar Kaget appears on land that has the character of being the center of a crowd in a settlement and roads. Tiban Kampung Market is one of the Pasar Kaget in Batam City which has a quite unique location in the parking lot right next to the Temporary Disposal Site. This qualitative descriptive study aims to maximize the potential and strengthen the identity of the Tiban Kampung street market by proposing the rearrangement design concept. The concept is compiled based on the results of SWOT and noema-noesis analysis of the street market. Data collection techniques include observation and semi-structured interviews.Keywords: Street Market, Noema, Noesis, Identity
Wahyu Suciono, Muhammad Rijal, Gun Faisal
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH), Volume 5, pp 59-67; https://doi.org/10.31289/jaur.v5i1.4907

Abstract:
ABSTRAK. Perkembangan tekonologi dan kemajuan zaman menjadikan berbagai budaya dan kesenian bangsa asing masuk secara terus menerus menggerus budaya dan seni tradisional bangsa Indonesia. Masuknya budaya asing menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat masyarakat terhadap warisan budaya dan seni dari nenek moyangnya sendiri, terutama generasi muda yang lebih senang dengan budaya dan seni modern yang menjamur saat ini sehingga lupa dengan identitas mereka sebagai orang jawa. Budaya asing membuat masyarakat mudah menerima kebudayaan tersebut tanpa dicerna terlebih dahulu. Tanpa disadari, kebudayaan dan kesenian daerah kini sudah mulai terlupakan, ditinggalkan dan ditelan oleh kebudayaan asing. Oleh karena itu, keberadaan Pusat Pertunjukkan Kesenian Jawa berfungsi untuk memperkenalkan keaneragaman kesenian Jawa dengan memberikan pertunjukkan seni, pelatihan, pengembangan akan kesenian-kesenian Jawa kepada masyarakat Jawa Riau, juga sebagai sarana pelestarian kesenian daerah dan sarana rekreasi. Dalam perancangan Pusat Pertunjukkan Kesenian Jawa tidak hanya mengutamakan dalam hal penampilan sebuah arsitektur, kemegahan bangunannya saja, melainkan kandungan nilai-nilai dari arsitektur tersebut dalam menanggapi sebuah permasalahan dan memikirkan kesesuaian dengan lingkungan sekitar. Bangunan–bangunan tersebut mengikuti perkembangan arsitektur-arsitektur luar yang semakin canggih, namun melupakan arsitektur daerahnya. Melalui penerapan Tema Arsitektur Jawa diharapkan dapat mengangkat kembali nilai-nilai arsitektur Jawa yang sudah mulai punah.Kata Kunci: Pusat Pertunjukkan, Kesenian Jawa, Arsitektur Jawa
Back to Top Top