Indonesian Journal of Theology

Journal Information
EISSN : 2339-0751
Published by: Asosiasi Teolog Indonesia (10.46567)
Total articles ≅ 128
Filter:

Latest articles in this journal

Meiliana Evita Benes
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 247-265; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i2.191

Abstract:
Kehadiran pemimpin rohani yang memiliki kekuasaan mutlak jelas berkaitan langsung dengan pertumbuhan spiritual orang-orang yang dilayani. Abbot (kepala biara) di masa biara adalah contoh pemimpin dengan kualifikasi yang tinggi untuk melakukan tugas instruksional terkait dengan formasi spiritual. Perkembangan sejarah kemudian menunjukkan perubahan dan kompleksitas peran ini. Peranan abbot tidak hanya penting bagi orang dewasa, tetapi juga anak-anak—bahkan anak usia dini. Sebab, pemimpin rohani hadir sebagai representasi Kristus untuk menunjukkan kasih yang benar, otentik, utuh dan seimbang. Kristus adalah otoritas utama dalam proses instruksional ini. Anak usia dini juga membutuhkan kehadiran pihak berotoritas untuk mendukung formasi spiritualitas mereka. Untuk mencapai tujuan ini, maka hal yang penting untuk diperhatikan adalah melihat peranan pemimpin rohani dan kebutuhan spiritual berdasarkan perkembangan anak usia dini.
, Febrianto
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 132-149; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i2.231

Abstract:
Artikel ini merupakan editorial untuk edisi spesial "Mendamba Cinta: Dasar-dasar bagi Spiritualitas."
Timotius Verdino
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 221-246; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i2.194

Abstract:
Tulisan ini hendak menunjukkan bahwa spiritualitas dan seksualitas seseorang tidak dapat dipisahkan karena saling membutuhkan dan berjumpa dalam sebuah titik temu, yakni eros yang digerakkan dan dijiwai oleh Roh Kudus sebagai manifestasi dari eros ilahi atau hasrat Allah. Untuk itu, tulisan ini dimulai dengan membahas berbagai aspek dalam seksualitas manusia dan selayang pandang mengenai bagaimana seksualitas dipahami dalam kekristenan. Setelah itu, dengan merujuk pada pembahasan mengenai eros dalam Kidung Agung oleh Edmée Kingsmill dan eros dalam relasi dengan yang transenden menurut Mayra Rivera, saya akan membahas tentang eros sebagai titik jumpa spiritualitas dan seksualitas. Pada akhirnya, berdasarkan pandangan Paus Benediktus XVI dalam Deus Caritas est, tulisan ini ditutup dengan konstruksi teologis tentang Roh Kudus sebagai Eros Ilahi, yakni hasrat Allah sendiri yang menggerakkan dan menjiwai baik spiritualitas maupun seksualitas manusia.
Agetta Putri Awijaya
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 195-220; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i2.189

Abstract:
Diskriminasi yang dialami oleh teman-teman non-heteronormatif, termasuk di dalam gereja-gereja dan masjid-masjid dalam hal beribadah, sampai hari ini masih terus terjadi. Seiring dengan hal itu, di Indonesia khususnya, gerakan-gerakan yang memperjuangkan kesetaraan mulai memiliki perhatian baru yakni tentang iman dan seksualitas. Kehadiran gelombang yang baru ini menunjukkan adanya kerinduan dalam diri teman-teman non-heteronormatif untuk tetap mempertahankan iman mereka kepada Allah di dalam pergumulan terkait seksualitas dan gender. Penolakan yang mereka terima, yang kerap dilandaskan pada nilai-nilai agama, tidak lantas membuat kerinduan mereka untuk mempertahankan relasi dengan Tuhan memudar. Nyatanya, mereka tetap berjuang merengkuh Allah melalui ruang-ruang spiritual di luar tembok-tembok rumah ibadah, dan menolak percaya ketika ada suara-suara yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang “dilaknat” oleh Allah. Iman mereka bukan hanya menjadi bukti kerinduan mereka untuk beribadah, namun sekaligus juga bukti kerinduan Allah yang senantiasa ingin merangkul ciptaan ke dalam persekutuan dengan-Nya. Di balik perjuangan melintasi batasan-batasan berupa doktrin patriarkal dan penafsiran yang diskriminatif, terdapat spiritualitas yang merasakan kehadiran Allah dan keterlibatan-Nya dalam kehidupan ciptaan. Tulisan ini mencoba memperhatikan gagasan-gagasan yang terdapat dalam spiritualitas kaum non-heteronormatif dan kaum Beguine yang menjadi penggerak emansipasi awal, serta membangun refleksi yang merepresentasi spiritualitas mereka. Dengan tulisan ini, diharapkan perjuangan untuk menghentikan diskriminasi atas dasar agama yang dialami teman-teman non-heteronormatif dapat dilihat sebagai wujud kerinduan untuk selalu berada dalam persekutuan dengan Allah sekaligus juga manifestasi cinta Allah Trinitas yang selalu bergerak untuk merangkul ciptaan.
David Kristanto
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 150-167; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i2.188

Abstract:
Spiritualitas adalah sebuah topik yang kurang berkembang dari kajian terkait Abraham Kuper, mungkin dikarenakan penekanan kuat Kuyper terhadap implikasi-implikasi publik dari iman Kristen. Akan tetapi, tidak semestinya spiritualitas diabaikan karena Kuyper juga memiliki penekanan yang sama kuat terhadap pentingnya dimensi privat dari iman Kristen. Selama lebih dari empat puluh tahun, Kuyper telah menulis berjilid-jilid volume terkait meditasi yang jumlahnya mencapai 2,200. Di dalam tulisan meditasi-meditasi itulah tergambar jelas kepribadian dan spiritualitasnya. Artikel ini berargumentasi bahwa tulisan meditasi-meditasi yang ditulis Kuyper adalah titik berangkat yang cocok untuk mengkonstruksi sebuah spiritualitas Kuyperian bersama-sama dengan tema-tema Kuyperian lain, seperti doktrin tentang palingenesis dan eklesiologi. Istilah “palingenesis” (dari bahasa Yunani palingenesia) merujuk kepada kelahiran baru personal dan kelahiran baru seluruh kosmos. Doktrin ini menjembatani implikasi-implikasi privat dan publik dari iman Kristen, antara spiritualitas dan praktik-praktik kristiani dalam teologi Kuyper. Dan kendati pembedaan Kuyper terkait Gereja sebagai institusi dan organisme sudah dikenal luas, penekanannya terhadap peran institusi Gereja sebagai ibu yang merawat spiritualitas umat beriman masih kurang dikenal. Penelaahan yang lebih mendalam akan menunjukkan bagaimana pandangan Kuyper tentang eklesiologi ternyata memainkan peran sentral dalam spiritualitas.
Monte Lee Rice
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 266-268; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i2.212

Abstract:
Sebuah resensi untuk buku The Spirit of Atonement: Pentecostal Contributions and Challenges to the Christian Traditions
Firdaus Salim
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 168-194; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i2.192

Abstract:
Kalangan Reformed konservatif cenderung bersikap curiga dan bermusuhan terhadap berbagai pengalaman iman yang sifatnya pribadi dan subjektif. Teologi Reformed yang berakar pada karya Calvin telah dianggap mengutamakan akal budi dan rasionalitas semata. Mencermati perkembangan zaman, kalangan Reformed perlu menyadari bahwa dunia sedang berhadapan dengan sebuah era, yakni era pascakebenaran. Era pascakebenaran, yang sering ditempatkan hanya dalam konteks politik, ternyata mempunyai dampak pula terhadap dinamika iman. Era pascakebenaran ini telah membuat rasionalitas dan hal-hal yang sifatnya objektif menjadi kurang lagi menarik. Unsur misteri dan kekaguman dalam iman yang sifatnya subjektif justru perlu mendapatkan tempatnya. Menghadapi era yang demikian, makalah ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa karya Calvin, terutama Institutes dan tafsiran Mazmurnya, tidak bersikap bermusuhan terhadap pengalaman pribadi. Justru karya Calvin tidaklah lepas dari pengaruh tulisan mistik dan bahkan menunjukkan keterbukaan terhadap pengalaman religius. Dengan keterbukaan Calvin yang demikian, doa mistik Karl Rahner dapat menjadi sebuah sarana bagi kalangan Reformed konservatif untuk menghadirkan aspek misteri dan kekaguman dalam iman.
Peter C. Phan
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 8-22; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i1.209

Abstract:
This is a guest editor's introduction to the special issue "Christianities in Southeast Asia"
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 125-128; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i1.220

Abstract:
Sebuah resensi untuk buku Interfaith Engagement in Milwaukee: A Brief History of Christian-Muslim Dialogue
Indonesian Journal of Theology, Volume 9, pp 1-7; https://doi.org/10.46567/ijt.v9i1.221

Abstract:
This is editorial introduction to Special Issue "Christianities in Southeast Asia."
Back to Top Top