Indonesian Journal of Theology

Journal Information
EISSN : 2339-0751
Published by: Asosiasi Teolog Indonesia (10.46567)
Total articles ≅ 113
Filter:

Latest articles in this journal

Jonathan Cristian Wijaya
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 235-237; doi:10.46567/ijt.v8i2.181

Abstract:
Sebuah resensi untuk buku Delighting the Trinity.
Fiktor Banoet
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 171-197; doi:10.46567/ijt.v8i2.160

Abstract:
Apakah ada peluang bagi diskursus tentang dialog kemanusiaan antara kekristenan dan ateisme dalam tatanan diskursif, praktis dan lebih menukik pada relasi antarspiritualitas? Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengupayakan peluang tersebut secara imajinatif. Saya berpendapat bahwa usaha menjembatani dialog kemanusiaan antara kekristenan dan ateisme dapat dilangsung dengan menerima posisi keduanya sebagai zona “spiritual” yang dapat diperbandingkan (commensurability) sekaligus tidak dapat diperbandingkan (incommensurability). Tesis tulisan ini dilahirkan dari usaha saya memantau perkembangan relasi keduanya, dengan menengok usaha André Comte-Sponville, yang memang sedang mengembangkan diskursus “spiritualitas tanpa Tuhan.” Dengan pendekatan kritis, spiritualitas tanpa Tuhan akan dibingkai sebagai diskursus bersama dengan spiritualitas trinitaris kosmis dalam rangka mengonstruksi perspektif dialog kemanusiaan. Arah dan manfaat konstruksi ini adalah untuk mengalami spiritualitas trinitaris setelah mempertimbangkan pesan kritis (dialog) dari spiritualitas ateisme sebagai usaha berteologi di tengah krisis kemanusiaan (dan juga ekologi), sebagai perkara historis masa kini dalam konteks Indonesia yang cukup diwarnai kekerasan dan disfungsi sosial agama.
Jeniffer F. P. Wowor
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 157-171; doi:10.46567/ijt.v8i2.201

Abstract:
The reality of diversity is an integral part of Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (The Protestant Church in Western Indonesia, abbreviated as GPIB). This contextual plurality is the church’s wealth, which should make an essential contribution to its ministry. However, a singular challenge that arises in light of that diversity relates to the strong emphasis on “church unity”—which should be a supportive element—thus contributing to problems with the church’s ministry and pedagogy. How is this so? Given that centralized efforts to promote unity correlate closely with the imposition of rules that dominate and determine Christian religious education in the church, this article asserts the necessity of communal identity for an ongoingly diverse reality; communal identity, in other words, must not be destroyed in the name of promoting unity. The argument unfolds in three stages, entailing (1) a summary of the current context of the GPIB and problems it faces, (2) an academic study of the objectives of Christian religious education, to be considered in the context of the GPIB, and (3) a rationale for setting these objectives. Through these three stages, the communal vision is expected to contribute to the church’s ministry and education in the midst of the congregation and the whole Indonesian society with its multicultural context.
Nurcahyo Prasetyo
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 231-234; doi:10.46567/ijt.v8i2.184

Abstract:
Sebuah resensi untuk buku Dari Kabar Baik menjadi Kitab-kitab Injil.
Rasid Rachman
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 131-156; doi:10.46567/ijt.v8i2.179

Abstract:
Pada awalnya, ibadah Kristen muncul dari percakapan sosial sekitar perjamuan. Percakapan di ruang makan tersebut membentuk narasi-narasi sekitar wafat Kristus. Dalam artikel ini, saya menelusuri narasi sekitar wafat Kristus yang melahirkan pengharapan mesianisme dalam komunitas-komunitas Kristen sangat awal. Inti kajian saya adalah bahwa ekspresi pengharapan mesianisme tersebut melahirkan narasi kebangkitan dan kedatangan Kristus kedua kali. Para Penulis Injil, yang mengembangkan narasi-narasi tersebut, mengumpulkan kisah-kisah dari berbagai sumber sehingga menampilkan narasi-narasi baru─renarasi─tentang hidup, karya, wafat, dan bangkit Yesus Sang Mesias. Saya akan memaparkan bahwa narasi-narasi sekitar Yesus kelak mewujud dalam bentuk ibadah ritual yang menjadi karakter pertemuan jemaat awal. Bentuk ritus dan praktik ibadah ritual tersebut adalah ibadah hari pertama (Minggu), doa-doa harian, ibadah Paska, dan baptisan. Bersamaan dengan itu, ibadah ritual pada dirinya merenarasikan kisah Kristus─semuanya saling berkelindan dan bergulir dalam perjalanan sejarah. Ibadah ritual gereja masa kini merupakan warisan yang berawal dari cerita-cerita di ruang makan kekristenan sangat awal.
Hansel Augustan
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 108-130; doi:10.46567/ijt.v8i2.153

Abstract:
Imajinasi merupakan keniscayaan di dalam tatanan kemanusiaan yang memiliki kekuatan untuk menyingkapkan makna, menjangkau realitas, memberi rasa, dan menggerakkan manusia. Sayangnya, imajinasi kerap dipandang sebelah mata dan tidak menemukan tempatnya di dalam kehidupan religius manusia. Hal ini dapat disaksikan, contohnya, di dalam ritual ibadah gereja Protestan. Logosentrisme dan berbagai momentum sejarah telah membawa gereja dalam tradisi yang luas ini kepada sebuah krisis imajinasi. Sungguh merupakan sebuah ironi, sebagaimana ibadah merupakan ritual menubuh yang secara sakramental mengungkapkan realitas sesungguhnya dari semesta. Oleh sebab itu, tulisan ini mencoba untuk merevitalisasi dan menyingkapkan kembali signifikansi imajinasi, khususnya bagi orang-orang percaya di dalam konteks ibadah Kristen. Melalui teori ontologi Trinitarian Supernaturalism yang diusulkan John Jefferson Davis, artikel ini akan memaparkan bagaimana imajinasi dapat menjadi kendaraan yang membawa jemaat untuk memaknai ibadah di dalam realitas ontologi yang “utuh.” Implikasi secara khusus akan didaratkan pada praktik bernyanyi kongregasional sebagai aktivitas performatif yang mendominasi ritual ibadah. Dengan elaborasi tersebut, diharapkan jemaat dapat mengalami pemaknaan yang utuh dan otentik di dalam ibadah.
Adrianus Yosia
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 198-230; doi:10.46567/ijt.v8i2.202

Abstract:
Artikel ini akan mendedah penggunaan teologi interseksionalitas pada konteks pluralitas identitas sosial dari Tionghoa-Injili di Indonesia. Klaim saya adalah pluralitas identitas sosial dari kaum Tionghoa-Injili Indonesia di dalam konteks kerusuhan Mei 1998 dapat menjadi sumber berteologi yang mewujud di dalam empat lintasan heuristik yang dilandaskan kepada karakteristik dari kaum Injili sendiri via pembacaan lensa interseksionalitas. Untuk mencapai tujuan ini, pertama-tama eksplorasi mengenai pluralitas identitas kaum Tionghoa-Injili secara umum akan dijabarkan. Pada bagian berikutnya, artikel ini akan membahas teologi interseksionalitas dan juga karakteristik kaum Injili. Dari sana, saya akan menjelaskan salah satu konteks sosial, yaitu kerusuhan Mei 1998, sebagai konteks sosial dari kaum Tionghoa-Injili. Pada bagian akhir, saya akan mengonstruksi wujud lintasan-lintasan heuristik teologis lewat pembacaan teologi interseksionalitas dari kaum Tionghoa-Injili akan dibingkai via Quadrilateral David W. Bebbington: konversionisme, aktivisme, biblisisme, dan penekanan terhadap karya salib.
Linna Gunawan
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 95-98; doi:10.46567/ijt.v8i1.164

Abstract:
Abstrak Diskusi buku Menolak Diam.
Baiju Markose
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 77-90; doi:10.46567/ijt.v8i1.120

Abstract:
An attempt to develop the postcolonial practice of interfaith with-ness as a means of radical protest and resistance against the religious fundamentalism and crony capitalism in India has enormous significance today. The postcolonial practice of interfaith with-ness is not only a theoretical postulation but also a radical with-ness (being with) shared with the religious others. The idea proposes a radical politics of recognition, politics of difference, and politics of creative dialogue, rather than an apolitical “practice of tolerance” on which the traditional idea of interreligious dialogue is grounded. As a humble attempt, several Christian expropriations of the idea are being voiced in this essay with a spirit of religious confidentiality. And, the study uses empire criticism and intersectionality as the primary analytical tools.
Danang Kurniawan
Indonesian Journal of Theology, Volume 8, pp 91-94; doi:10.46567/ijt.v8i1.161

Abstract:
Diskusi atas buku Menolak Diam.
Back to Top Top