PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen

Journal Information
ISSN / EISSN : 2338-0489 / 2622-1144
Current Publisher: Jurnal PASCA (10.46494)
Total articles ≅ 22
Filter:

Latest articles in this journal

Christar Arstilo Rumbay
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 15-23; doi:10.46494/psc.v16i1.70

Abstract:
Theology, specifically speaking, Christology, owns exclusive position and tends react sentimentally toward secular disciplines out of its circle. Therefore, linking Christology and digital era falls to practical matter on how modern devices could be employed for religion advantages. This essay tries to evaluate reconciliation between them and see possibilities on how Christology could contribute to the sustainable smart society. However, divinity and technology are contrast square that offers less of space for dialogue, furthermore, it receives pessimistic tone concerning their health relationship. The expectation is, a socio-systematic sensitive approach of Christology may ground new perspective and results unexpected knowledge for the sustainable of smart society.
Nelly
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 75-77; doi:10.46494/psc.v16i1.85

Abstract:
Istilah teologi multikultural memang sudah terlanjur digunakan dalam pengertian teologi yang didisain atau diramu (dikominasi) dari semua unsur nilai yang ada dalam setiap agama dan budaya. Karena itu teologi ini juga terlanjur dimengerti sebagai teologi yang pluralis, karena perpaduannya dari semua unsur nilai. Selain itu, juga sudah terlanjur bercorak kontekstual, karena didisain hanya untuk memenuhi kebutuhan konteks tertentu saja berdasarkan nilai-nilai konteksnya. Dalam buku ini, penulis menggarisbawahi bahwa teologi multikultural adalah: (1) bukan sebagai teologi pluralis; (2) bukan sebagai teologi kontekstual; (3) bukan sebagai teologi yang inklusif; (4) bukan sebagai teologi yang eksklusif.
Otieli Harefa
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 1-14; doi:10.46494/psc.v16i1.78

Abstract:
Tulisan ini merupakan analisis teologis terhadap baptisan air dan hubungan keterkaitanya dengan keselamatan. Sebagaimana kita saksikan bahwa semua pendeta atau hamba Tuhan mengajarkan dan mengharuskan setiap warga jemaat atau orang yang masuk dalam iman Kristen untuk mereka menyerahkan dirinya dalam baptisan air, dimana keharusan ini sering tidak disertai dengan penjelasan yang sesuai mengapa harus dilaksanakan jika tidak ada hubunganya dengan keselamatan, sehingga tidak sedikit mereka yang dibaptis tanpa memahami apa hubungan baptisan airnya dengan keselamatan yang ia peroleh. Adapun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana data data yang diperoleh dalam bentuk penjelasan konsep atau teks dan bukan angka. Lewat analisa berbagai teks Perjanjian Baru yang berkaitan tentang baptisan air, maka akhirnya penulis menyimpulkan bahwa baptisan air tidak mengakibatkan keselamatan secarang langsung, tetapi secara teologis dan makna spiritualnya baptisan air memiliki implikasi teologis terhadap keselamatan sebab baptisan air menuntun seseorang pada penerimaan janji Allah, kesatuan dengan Kristus dan perpalingan yang sungguh-sungguh kepada Kristus, dimana pada hakekatnya aspek ini merupakan kenyataan keselamatan seorang yang percaya atau beriman.
Bakhoh Jatmiko
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 40-49; doi:10.46494/psc.v16i1.81

Abstract:
Alkitab memuat ribuan nama diri di dalamnya. Setiap nama yang dipresentasikan di dalam Alkitab hampir selalu melekat dengan pesan dan makna yang ada di baliknya. Kajian onomastika biblikal adalah penelitian linguistik dengan obyek nama-nama di dalam Alkitab. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan linguistik historis komparatif terhadap nama-nama di dalam teks Perjanjian Baru. Kajian di dalam artikel ini menemukan berbagai pendekatan yang dilakukan penulis asli Perjanjian Baru dalam meredaksi nama-nama pribadi yang di dalamnya, yaitu : transliterasi, translasi, absorpsi – helenisasi, pemberian julukan atau kognomen, ekuivalensi dan penggunaan nama panggilan atau hipokoristik. Temuan di dalam artikel ini berguna sebagai referensi di dalam berbagai diskursus yang berkaitan dengan nama diri di dalam Alkitab khususnya bagi kelompok Sacred Name Movement dan berbagai variannya.
Mariani Harmadi, Agung Jatmiko
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 62-74; doi:10.46494/psc.v16i1.72

Abstract:
Potret pendidikan di Indonesia pada era revolusi industry 4.0 menuntut reformasi demi mengantar generasi milenial yang merupakan bonus demografi memasuki Indonesia Emas pada 2045 sehingga mereka menjadi anak bangsa yang siap bersaing di era globalisasi sekaligus sebagai manusia merdeka yang siap berkolaborasi untuk kebaikan bersama. Peserta didik sebagai generasi milenial tumbuh di lingkungan dengan tingkat kecanggihan sistem teknologi informasi yang massive sehingga menjadi tantangan bagi pendidik yang sebagian besar masih migrant-digital, sehingga pendidik perlu mengembangkan kompetensi dan profesionalitasnya dengan meningkatkan kemampuan dalam bidang teknologi komputerisasi demi efektivitas pembelajaran bagi peserta didik yang merupakan native-digital. Kajian model teologi praktis terhadap Pendidikan Agama Kristen penting mendasari pertimbangan dalam pemilihan strategi pembelajaran yang efektif dan relevan bagi peserta didik yang merupakan objek sekaligus subjek pendidikan baik di lingkungan lembaga pendidikan formal (sekolah), informal (keluarga) maupun nonformal (lembaga agama) sebagai pembekalan spiritualitas dan iman.
Yonatan Arifianto
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 33-39; doi:10.46494/psc.v16i1.73

Abstract:
The Jews and Samaria involved in claiming one another's descendants of Abraham so that the dispute from the background of multicultural interests had an impact on the harmony of the two nations. During the intertestamental situation the upheaval still occurred. Historical studies of the feud that occurred during the intertestamental period also brought the message of harmony to trigger all the descendants of Jews and Samaritans to continue to be in hatred. That is what happened in Indonesia, there were many tribal, religious and customs sentiments which were contested so that the harmony of the plural society was tarnished. But learning from Jesus that brought change changed paradigms and teachings to love one another and live in harmony.
Rubyantara Jalu Permana, Sonny Eli Zaluchu
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 24-32; doi:10.46494/psc.v16i1.71

Abstract:
The literal differences found in the text of Exodus 34 verses 1 and 28 can trigger accusations of Bible inconsistency. In fact, in the Christian view, the Bible is a book that cannot be wrong or inner. Evangelical Christian beliefs assert that the Bible contains God's word and God's word itself. If there are differences and inconsistencies in the Bible, is that an indicator to deduce the low credibility of truth in the Christian scriptures? This study aims to answer that question through a hermeneutic and theological analysis of the differences in texts in Exodus 34 or 1 and verse 28, about who actually wrote the two new tablets. God as referred to verse 1 or Moses as read in verse 28. In addition to conducting text analysis, the author also uses the source approach and theological concepts. As a result, verse 28 actually legitimizes verse 1 that God himself wrote the law. This perspective also confirms that the search for the meaning of texts in context does not merely involve a grammatical approach.
Febriaman Lalaziduhu Harefa
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 50-61; doi:10.46494/psc.v16i1.75

Abstract:
The Indonesian nation is a nation that has differences in religion, ethnicity and race, which is exposed from Sabang to Merauke. Indonesia is also known as a maritime country because most of its territory is ocean and has thousands of islands, with various geographical conditions in it. It is this superiority that makes the Indonesian nation a great and authoritative nation and respected by the international community. This fact also makes the Indonesian nation known as a muticultural nation. Therefore the aim of this study is to find an appropriate evangelistic model to be applied in the context of a multicultural Indonesian nation. So that the Gospel of the Kingdom of God can be preached efficiently without causing conflicts between Evangelists and UPG (Unreached People Groups). So in this study used a qualitative method with a descriptive-theological approach. The results found three models of evangelism in the context of the Indonesian nation, namely the model of building family relationships with UPG (Unreached People Groups), the service model fighting for the values ??of equality-justice and freedom, and the service model of gospel dialogue-proclamation
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen; doi:10.46494/ath

Debora Nugrahenny Christimoty
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 1-7; doi:10.46494/psc.v15i1.62

Abstract:
Orang-orang Kristen percaya bahwa ibadah kepada Allah adalah penting dan perlu bagi kehidupan bergereja. Namun Dalam kenyataannya ibadah seringkali dilaksanakan secara kurang serius, baik secara sadar ataupun tidak. Nilai dari ibadah Kristen yang telah diakui sangat penting, pada saat ini telah mengalami penurunan. Hal tersebut terlihat dari ketidakseriusan dalam perencanaan penyelenggaraan ibadah, misalnya tidak ada latihan sebelumnya, pelayan ibadah tidak serius mempersiapkan diri, tata ibadah tidak disiapkan sesuai tema. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena jemaat atau pemimpin gereja tidak memahami tentang teologi ibadah dan kualitas penyelenggaraan ibadah. Teologi ibadah Kristen adalah refleksi sistematis dari ajaran Alkitab mengenai ibadah, tentang berbagai macam bentuk ibadah, motivasi dan tujuan beribadah. Sedangkan kualitas penyelenggaraan ibadah dapat dinilai dari perencanaan ibadah, persiapan ibadah, relevansi ibadah, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan ibadah. Setiap pemimpin ibadah Kristen perlu memahami apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang ibadah sehingga dapat menyelenggarakan ibadah yang berkualitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi gambaran tentang teologi ibadah dan kualitas penyelenggaraan ibadah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan metode penelitian kepustakaan.
Back to Top Top