Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial

Journal Information
ISSN / EISSN : 2597-3657 / 2581-2424
Published by: Universitas Pendidikan Nasional (10.38043)
Total articles ≅ 70
Filter:

Latest articles in this journal

Fauzi Himma Shufya
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 94-102; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3376

Abstract:
Islam dan budaya Jawa memiliki hubungan keterkaitan. Salah satu bentuk akulturasi budaya Jawa dengan Islam tergambar dalam tradisi megengan. Tradisi megengan merupakan tradisi kirim doa bersama sebagai penyambutan bulan suci Ramadhan. Pelaksanaan tradisi megengan yaitu pada malam awal masuk bulan Ramadhan. Umumya perayaan tradisi megengan diisi dengan acara selamatan oleh masyarakat sekitar. Ciri khas dari acara selamatan adalah pembuatan nasi berkat dan kue apem oleh masyarakat yang tujuannya untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Makna megengan bagi masyarakat adalah sebagai simbol permohonan maaf kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuannya agar manusia kembali suci dalam memasuki bulan Ramadhan. Penelitian ini termasuk jenis kualitatif. Menggunakan konsep teori dari Herbert Mead yaitu Interaksionisme Simbiolik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan menganalisis simbol makna pelaksanaan tradisi megengan di Desa Kepet, Kecamatan Dagangan. Teknik pengumpulan data menggunakan purposive. Sumber data terbagi menjadi data sekunder dan data primer. Data primer berasal dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder berasal dari hasil kajian pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi megengan di Desa Kepet memiliki makna simbolik antara lain, sebagai makna permohonan maaf terhadap sesama, makna saling berbagi bagi sesama masyarakat, dan juga sebagai makna penyebaran melestarikan agama islam di Desa Kepet.
Alma Almira, Mochamad Aviandy
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 49-68; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3397

Abstract:
Film sebagai media komunikasi massa secara sadar dan tidak sadar dapat memengaruhi bagaimana tindakan dan pemikiran masyarakat dalam memandang sesuatu. Ivan Tverdovsky pada tahun 2014, mengangkat film dengan tema isu difabel yang ada di Rusia melalui film ????? ????????? (Klass Korrektsii). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat representasi difabel pada film Rusia. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis oleh Norman Fairclough dan didukung oleh teori representasi milik Stuart Hall. Metode analisis wacana kritis akan digunakan untuk mengungkap makna di balik dialog yang diartikulasikan antar tokoh yang terdapat di dalam film ????? ????????? (Klass Korrektsii), sedangkan teori representasi milik Stuart Hall untuk melihat kondisi di luar teks yang berhubungan dengan masyarakat atau budaya terhadap difabel di Rusia. Hasil dari penelitian ini adalah masih ditemukan diskriminasi pada kelompok difabel di Rusia, meskipun telah tertera undang-undang yang melindunginya.
Intan Mustafa
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 128-135; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3406

Abstract:
Tujuan dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat tentang pengaduan publik dalam Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) di masa pandemic covid – 19. Penelitian terkait BLT-DD dilakukan di Desa Wuring Kecamatan Alok kabupaten Sikka NTT, yang menjadi salah satu daerah penerima BLT – DD dengan mayoritas masyarakatnya sebagai nelayan, petani dan pedagang kecil. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan data dilakukan melalui observasi non partisipan melalui pengamatan pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat serta dept interview yang mengacu kepada persoalan mekanisme pengaduan, pengetahuan serta akses informasi dan juga pada persepsi masyarakat tentang BLT-DD. Sedangkan teknik analisis data menggunakan model miles dan huberman; collection, reduction dan display daya. Hasil penelitian menyatakan bahwa, proses aduan masyarakat mengacu kepada 3 (tiga) hal yakni komunikasi publik, masih bersifat satu arah khususnya pada pendataan masyarakat penerima bantuan informasi terkait ketentuan – ketentuan penerima bantuan masih belum menyentuh aspek pemahaman masyarakat dan berimplikasi multitafsi. Kedua, proses aduan merupakan “barang mewah”. Stigma atau pemikiran ini, akhirnya berimplikasi pada rasa khawatir dan bingung. Ketiga, unit pengaduan yang belum dimaksimal pada tingkatan pemerintah khususnya pada tingkat RT/RW. Kesimpuan yang dapat diambil dari penelitian ini, bahwa BLT DD masih menjadi persoalan, khusus pada sistem pendataan dan juga mekaniisme komunikasi yang dibangun masih belum menyentuh aspek pemahaman masyarakat.
Ratna Dewi Pangestuti, Farid Pribadi
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 37-48; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3253

Abstract:
Mendapatkan pendidikan di sekolah merupakan hak bagi semua anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas. Namun, beberapa survei membuktikan bahwa penyandang disabilitas masih rentan terhadap kesenjangan dalam memperoleh pendidikan di sekolah umum. Oleh karena itu, banyak penyandang disabilitas yang langsung bergegas masuk ke SLB (Sekolah Luar Biasa), meski beberapa di antaranya mampu memenuhi kriteria kurikulum nasional masuk sekolah umum. Melalui uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membongkar konstruksi sosial pendidikan umum bagi penyandang disabilitas yang identik dengan keterbatasan fisik, mental, dan emosionalnya. Penelitian ini dapat dikaji dengan menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan realitas subjektif penyandang disabilitas yang langsung dilarikan ke SLB (Sekolah Luar Biasa), karena sulitnya kesempatan mereka dalam menempuh pendidikan di sekolah umum. Alih-alih kurangnya tenaga pendidik, fasilitas, dan juga tindakan bullying, yang menjadikan eksternalisasi hambatan bagi penyandang disabilitas dalam memasuki pendidikan di sekolah umum. Dengan demikian, penyandang disabilitas menginternalisasi bahwa SLB (Sekolah Luar Biasa) lebih aman, dan jauh dari risiko bullying dan diskriminasi dibandingkan sekolah umum.
Mahardika Mahardika, Eni Maryani, Edwin Rizal
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 86-93; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3381

Abstract:
Gereja sebagai sebuah unit religius di masyarakat sering dipandang sebagai sesuatu yang suci dan terhindar dari konflik. Akan tetapi dalam praktiknya sebagai organisasi keagamaan, gereja juga dapat mengalami konflik dalam interaksi sosial di dalamnya. Untuk memahami konflik yang terjadi di gereja penelitian ini merujuk teori komunikasi organisasi dan teori agama dalam konteks sosial. Kasus di dalam penelitian ini adalah Gereja Bethany Fresh Anointing (BFA) di Bandung yang mengalami konflik di dalam organisasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi manajemen konflik yang dilakukan Gereja dalam menangani konflik yang terjadi di dalam organisasinya sebagai organisasi keagamaan. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui manajemen konflik yang dilakukan pihak gereja maka konflik dijadikan sebagai alat untuk melakukan evaluasi organisasi sehingga gereja mampu mengatasi kendala yang dihadapi, memperbaiki kinerjanya, dan meningkatkan efisiensi dalam pelayanannya. Manajemen konflik yang dilakukan juga memerlukan strategi komunikasi yang sesuai dengan budaya komunikasi dan organisasi di dalam Gereja Bethany Fresh Anointing sebagai organisasi keagamaan.
Leonard Felix Hutabarat, Nuning Indah Pratiwi
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 1-19; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3388

Abstract:
UNESCO Global Geopark adalah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki situs warisan geologi (geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek warisan dan keragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya, serta dikelola untuk keperluan konservasi, pendidikan, dan pembangunan perekonomian masyarakat setempat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif masyarakat dan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi. Geopark Natuna ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada tanggal 30 November 2018 oleh Komite Nasional Geopark Indonesia. Mengapa Geopark Natuna sangat strategis untuk dikembangkan menjadi salah satu dari UNESCO Global Geopark? Bagaimana upaya yang perlu dilakukan sebagai salah satu calon untuk UNESCO Global Geopark? Artikel ini menjelaskan arah pengembangan Geopark Natuna menuju salah satu UNESCO Global Geopark di masa yang akan datang. Metode kualitatif digunakan dengan obervasi lapangan sebagai bagian dari triangulasi data, termasuk penggunaan data primer melalui wawancara dan data sekunder. Warisan geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya merupakan tiga pilar utama pada konsep UNESCO Global Geopark. Geopark Nasional Natuna merupakan salah satu geopark nasional Indonesia yang diusulkan terhadap UNESCO untuk menjadi salah satu UNESCO Global Geopark pada tahun 2022. Penelitian menunjukkan Geopark Natuna sebagai salah satu dari UNESCO Global Geopark akan lebih efektif dalam mengoptimalkan pemanfaatan, pengembangan dan pelestarian kawasan, sarana edukasi, dan pemberdayaan masyarakat setempat guna memperoleh kesejahteraan yang lebih baik.
Herry Fernandes Butar Butar, Imaduddin Hamzah
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 103-115; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3363

Abstract:
Perubahan dalam paradigma kesehatan di dunia berakibat pada transformasi kebijakan dan kepedulian untuk menjamin tingkat kesehatan di Indonesia berada dalam kriteria yang baik. Masalah kesehatan terjadi dalam setiap lini kehidupan masyarakat, dalam hal ini khususnya di dalam Lapas dan Rutan sebagai tempat berhuni narapidana dari berbagai latar belakang dan kasus pidana yang dilakukan. Narkoba sebagai masalah besar di dalam UPT Pemasyarakatan tetap menjadi penyumbang signifikan dalam situasi overcrowding di dalam Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menjelaskan terjadinya korelasi peningkatan narapidana pengguna narkoba dan ketersediaan tenaga medis terhadap peningkatan pengidap HIV/AIDS di dalam Lapas dan Rutan. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan melakukan Analisa korelasional dari data-data yang diperoleh dari Sistem Database Pemasyarakatan. Data-data terkait adalah data pengguna narkoba dan penghidap HIV dalam UPT pada 33 Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM RI. Dapat disimpulkan korelasi hubungan yang terjadi dalam dua variabel tersebut adalah hubungan yang moderat.
Lukman Hakim, Widiyatmo Eko Putro
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 69-85; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3382

Abstract:
Pokdarwis adalah singkatan "kelompok sadar wisata" yang dibentuk dengan struktur kelembagaan terdiri dari orang-orang yang berusaha untuk mendorong iklim pariwisata kondusif di daerahnya. Perkembangan iklim yang kondusif termasuk dalam kategori “sapta marga” yaitu: aman, tertib, bersih, sejuk, asri, ramah dan mengandung unsur kenangan yang berkesan. Humas Pokdarwis berperan penting dalam menggalakkan promosi wisata dengan memberikan informasi dan edukasi secara inovatif, kreatif dan efektif melalui pemanfaatan media baru. Saat ini peran new media begitu penting, karena pergeseran media komunikasi yang kredibel dari konvensional bergerak dari komunitas menjadi publik. Kinerja Humas Pokdarwis dalam mengangkat potensi pariwisata baru melalui pemanfaatan new media layak diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa jauh peran new media dalam membantu Humas Pokdarwis menarik minat pengunjung sehingga layak menjadi destinasi wisata. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model observasi partisipan aktif dan focus group discussion. Peneliti aktif sebagai pengamat serta berbaur dalam kegiatan lapangan dan melakukan wawancara. Studi kasus yang dipilih dengan meneliti Taman wisata alam dan budaya Zor Sengon di Ponorogo, Desa Plunturan. Humas Pokdarwis menjalankan fungsi dan tugasnya tidak hanya dari perspektif konvensional, tetapi juga dari kinerja antaralain: (1) fact finding, (2) planning, (3) communication (4) evaluation dengan memanfaatkan media baru seperti YouTube, Instagram dan media sosial lainnya. Pergeseran peran media di era industri 4.0 ditambah dengan situasi pandemi COVID-19, membuat penetrasi media baru dianggap penting saat ini. Strategi yang terukur merupakan bagian dari kinerja Humas Pokdarwis itu sendiri. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengangkat destinasi wisata adalah dengan membina komunitas-komunitas kecil yang berkembang menjadi Pokdarwis dan menjalankan tugas dan fungsi Humas.
Ignasius Putra Bagus Kurniawan
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 116-127; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3247

Abstract:
Sebagai subyek, setiap orang pasti membangun relasi dalam kehidupan sosialnya. Secara khusus relasi dua subyek yang didasarkan pada hubungan timbal balik yang membentuk persahabatan antara keduanya. Sahabat dalam virtual dan sahabat secara langsung keduanya berbeda. Fokus studi ini ialah menemukan makna sahabat yang dimiliki oleh orang muda dalam masa pandemi, secara khusus mereka yang bertemu melalui virtual. Relasi antar dua subyek pun mengalami perbedaan makna dari sebelum pandemi dengan masa pandemi ini. Studi penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologi. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan studi kepustakaan. Tinjauan penelitian ini menggunakan filsafat relasionalitas Armada Riyanto. Temuan dalam studi ini ialah adanya perbedaan antara makna sahabat secara real yang dialami sebelum masa pandemi dengan persahabatan yang terjadi selama masa pandemi ini. Aku dengan liyan yang memiliki relasi sebagai sahabat tidak bertemu secara langsung, melainkan terbatas di dunia virtual. Makna persahabatan menjadi berbeda saat dua pribadi bertemu secara langsung dan secara virtual.
Ambarwati Ambarwati
Published: 28 February 2022
Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, Volume 6, pp 20-36; https://doi.org/10.38043/jids.v6i1.3360

Abstract:
Tulisan ini menganalisis mengenai sikap ASEAN dalam menghadapi pelanggaran HAM di Myanmar pasca kudeta militer Februari 2021. Dalam beberapa kasus, ASEAN sering diposisikan dalam kondisi dilema dalam mengambil sikap terhadap pelangaran HAM, dilema antara memegang teguh prinsip non-interfere dan melindungi hak asasi manusia (responbility to protect/R2P). Dalam kasus pelanggaran HAM di Myanmar, ASEAN juga dianggap berada di dilema. ASEAN telah memiliki prinsip non-intervensi yang tertuang dalam TAC (Treaty and Amity Cooperation) yang selama ini dipegang sebagai code of conduct dalam interaksi antar negara-negara ASEAN. Dalam menyikapi pelanggaran HAM di Myanmar, prinsip inipun juga menjadi acuan perilaku, sehingga ASEAN dianggap kurang tegas dan lemah. Masalah pelanggaran HAM ditangani tetap dengan upaya dialog dan menghindari penggunaan cara-cara intervensionisme sebagaimana ditunjukkan oleh negara-negara Barat. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah analisis deskriptif kualitatif dengan mengeksplorasi konsep kedaulatan, hak asasi manusia dan R2P (responbility to protect). Aktor yang menjadi fokus tulisan adalah ASEAN sebagai organisasi regional, dan poin yang ingin dibuktikan dalam analisis adalah bahwa prinsip non-intervensi bukan sebagai kelemahan ASEAN, tetapi sebuah sikap konsisten. Organisasi ini selama 54 tahun telah mengelola hubungan diantara mereka dengan saling menghormati kedaulatan satu sama lain.
Back to Top Top