KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora

Journal Information
EISSN : 2722-1741
Total articles ≅ 13
Filter:

Latest articles in this journal

Ni Putu Adelia Kesumaningsari
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 109-121; doi:10.24123/soshum.v1i2.3100

Abstract:
—The present study examined Empathizing-Systemizing Theory (E-S Theory) in Indonesian Children. E-S Theory has known as a theory that is attempted to explain the cluster of both the social and non-social features in autism spectrum conditions. Children’s version of the Empathy Quotient (EQ-C) and the Systemizing Quotient (SQ-C) were administered to 372 Indonesia parents who had typically developed children aged 4-11 years old (boys = 182, girls = 190). The results showed that the girls scored higher that boys on EQ-C . In the case of SQ-C, there were no differences between boys and girls. However, the proportion of cognitive style shows clear individual differences between boys and girls. The proportion of participants with empathizing dominant cognitive sytle was shown higher by girls than boys, which distributed to E and Extreme E brain types, while the proportion of systemizing dominant cognitive styles is higher in boys whom brain types spread across the Type S and Extreme S categories. This study explaining inherited biological factors of autism and underscore the vulnerability among boys to develop autism spectrum condition if compared to girls. Keywords: Empathizing Quotient (EQ), extreme male brain of autism, sex, Systemizing Quotient (SQ) Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk menguji teori Empathizing-Systemizing (E-S Theory) pada konteks anak Indonesia. E-S Theory dikenal sebagai sebuah teori yang digunakan untuk melihat gugus fitur sosial dan non-sosial kondisi spektrum autisme. Subjek penelitian ini adalah 372 orang tua Indonesia dengan anak berusia 4-11 tahun (anak laki-laki = 182, perempuan = 190), M usia = 7 Tahun, SD= 2.423 yang diminta untuk mengisi skala Empathizing Quotient (EQ) dan Systemizing Quotient (SQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa tingkat empati anak perempuan lebih tinggi daripada tingkat empati anak laki-laki. Dalam hal mensistemasi tidak ditemukan adanya perbedaan kemampuan antara anak laki-laki dan perempuan. Namun, proporsi gaya kognitif menunjukkan adanya perbedaan individual yang signifikan antara anak laki-laki dan perempuan. Gaya kognitif dominan berempati lebih tinggi pada anak perempuan, yang tersebar pada kategori tipe otak E dan Ekstrim E, sedangkan proporsi gaya kognitif mensistemasi lebih tinggi pada anak laki-laki dengan tipe otak yang tersebar pada kategori Tipe S dan Ekstrim S. Hasil penelitian ini memberikan bukti adanya faktor biologis bawaan dari autism ditinjau dari jenis kelamin dan menunjukkan kerentanan bawaan anak laki-laki terhadap kondisi autism jika dibandingkan dengan anak perempuan. Kata kunci: Empathizing Quotient (EQ), extreme male brain of autism, jenis kelamin, Systemizing Quotient (SQ)
Samuel Kharis Harianto, Suyanto Suyanto, Sugeng Hariadi
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 85-92; doi:10.24123/soshum.v1i2.3337

Abstract:
—This study aims to analyze Foreign Investment which gives spillover impact on productivity growth of Indonesian manufacturing industry companies in 2007-2013. This study applies the application of quantitative analysis, using the data of the Annual Survey of Large and Medium Enterprises of the Central Statistics Agency of Indonesia (BPS). The data was processed by applying the method of panel data analysis and OLS regression. This research shows that PMA holistically gives a positive impact and gives different impacts to manufacturing industry sub-sector. With different findings, in each sector, different regulations related to PMA in Indonesian manufacturing industry are needed. Keywords: foreign investment, spillover, productivity, manufacturing industry. Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Penanaman Modal Asing (PMA) yang memberikan dampak spillover pada pertumbuhan produktivitas perusahaan- perusahaan industri manufaktur Indonesia periode 2007-2013. Dalam penelitian ini diterapkan pengaplikasian analisis kuantitatif dengan menggunakan data Survey Tahunan Perusahaan Besar dan Menengah Badan Pusat Statistika Indonesia (BPS). Data diolah dengan menerapkan metode analisis panel data dan regresi OLS. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis data panel menunjukkan bahwa PMA memberikan dampak positif secara menyeluruh dan memberikan dampak yang berbeda-beda terhadap subsektor industri manufaktur. Dengan hasil temuan yang berbeda di setiap sektornya, maka diperlukan adanya kebijakan yang berbeda pula terkait peraturan PMA di industri manufaktur Indonesia. Kata kunci: penanaman modal asing, spillover, produktivitas, industri manufaktur
Kristanti Liviani, Wisnu Aryo Dewanto, Suhariwanto Suhariwanto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 60-67; doi:10.24123/soshum.v1i2.3134

Abstract:
—This study discusses the strength of binding orders from the International Court of Justice for countries in dispute. Orders from the International Court of Justice are often violated, because they are considered to have no binding power and no harsh sanctions. The international court has issued an order to stop the execution of the death penalty for Karl LaGrand, a German citizen living in the United States. However, the United States still carried out the execution to Karl LaGrand. This study uses a juridical-normative method which is studied through a statute approach and a conceptual approach to achieve results. The results of the study show that orders from the International Court of Justice have binding power because the order is a decision of the International Court of Justice that must be implemented and obeyed by the disputing country. Keywords: order, bindingforce, internationalcourt of justice Abstrak—Penelitian ini membahas tentang kekuatan mengikat order dari Mahkamah Internasional bagi negara yang bersengketa. Order dari Mahkamah Internasional sering kali di langgar, karena dianggap tidak memiliki kekuatan mengikat dan tidak ada sanksi yang keras. Mahkamah internasioal telah mengeluarkan order untuk menghentikan eksekusi pidana mati bagi Karl LaGrand yang merupakan seorang warga negara Jerman yang tinggal di Amerika Serikat. Namun eksekusi mati tetap dilaksanakan oleh Amerika Serikat kepada Karl LaGrand. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif yang dikaji melalui statute approach dan conceptual approach untuk mencapai hasil. Hasil kajian menunjukan bahwa order dari Mahkamah Internasional memiliki kekuatan mengikat karena order merupakan putusan Mahkamah Internasional yang harus dilaksanakan dan dipatuhi oleh negara yang bersengketa. Kata kunci: order, kekuatan mengikat, mahkamah internasional
Irsyad Prabowo Gunawarman, Wisnu Aryo Dewanto, Suhariwanto Suhariwanto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 54-59; doi:10.24123/soshum.v1i2.3333

Abstract:
—Diplomatic immunity and privilege which is arranged in the Vienna Convention 1961 is very important in ensuring the enactment of diplomatic functions in doing the mission. The abuse of immunity and privilege owned by the diplomatic representative often happens. Diplomatic representative abuse their rights in the form of mild violation to heavy crime. There have been cases on the abuse of diplomatic immunity in commercial transaction related to the civil jurisdiction immunity of the country the diplomat assigned in. The landlord in the country who rent their property to the diplomatic representative have become the victim in the abuse of diplomatic immunity. There was a diplomatic representative who refused to pay the rent because of diplomatic immunity reason and eventually managed to escape from the obligation to pay for the commercial transaction due to the protection of the immunity and privilege Keywords: abuse, diplomatic immunity, commercial transaction Abstrak—Kekebalan dan keistimewaan diplomatik yang diatur di dalam Konvensi Wina 1961 merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin pelaksanaan fungsi diplomat dalam menjalankan misinya. Penyalahgunaan kekebalan dan keistimewaan yang dimiliki perwakilan diplomatik masih sering terjadi. Perwakilan diplomatik menyalahgunakannya dalam bentuk pelanggaran ringan hingga kejahatan yang berat. Dalam perkembangannya, telah terjadi kasus penyalahgunaan kekebalan diplomatik dalam transaksi komersial yang berkaitan dengan kekebalan yurisdiksi sipil negara penerima. Para tuan tanah dari negara penerima yang menyewakan propertinya kepada perwakilan diplomatik menjadi korban dalam penyalahgunaan kekebalan diplomatik. Ada perwakilan diplomatik yang menolak membayar biaya sewa dengan alasan kekebalan diplomatik yang pada akhirnya lolos dari kewajibannya untuk membayar transaksi komersial karena berlindung pada kekebalan dan keistimewaan yang dimilikinya Kata kunci: penyalahgunaan, kekebalan diplomatik, transaksi komersial
Putri Purnamasari, Ananta Yudiarso, Marselius Sampe Tondok
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 103-107; doi:10.24123/soshum.v1i2.3106

Abstract:
- The phenomenon of street beggars to be one of the problems in Surabaya city. Life in the city, will bring psychological burden such as dissatisfaction, loss of life spirit, inner problems and problems to others, etc. Consequences received as street beggars can also elicit other psychological problems. This study is a descriptive study that aims to know the picture of well- being and happiness on street beggars in Surabaya. Sampling was done by snowball sampling and obtained the number of samples of 80 subjects. Data were taken using a questionnaire from the adaptation scale of Ryff's Scale of Psychological Well-Being (PWB) and the adaptation scale of Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). The results showed that the well-being of street beggars tends to be high as much as 34%, 60% tends to be moderate and 6% tends to be low.. Street beggars have a high well-being because most of them are able to realize the purpose of life according to their standard of living. The joy of street beggars is known amongst them; quite happy (31%), feeling happier or happier (34%), and feeling unhappy (35%). Keywords: well-being, happiness, street beggars. Abstrak - Fenomena pengemis jalanan menjadi salah satu permasalahan di kota Surabaya. Kehidupan di kota memunculkan beban psikologis seperti ketidakpuasan, kehilangan semangat hidup, masalah batin dan masalah terhadap orang lain. Konsekuensi yang diterima sebagai pengemis jalanan juga dapat memunculkan permasalahan psikologis lainnya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran well-being dan happiness pada pengemis jalanan yang ada di Kota Surabaya. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan snowball sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 80 subjek. Data diambil menggunakan kuesioner dari skala adaptasi dari Ryff’s Scale of Psychological Well-Being (PWB) dan skala adaptasi dari Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Hasil penelitian diketahui well-being yang dimiliki pengemis jalanan cenderung tinggi sebanyak 34%, cenderung sedang 60% dan cenderung rendah 6%. Pengemis jalanan memiliki well-being yang tinggi dikarenakan kebanyakan dari mereka mampu merealisasikan tujuan hidup sesuai dengan standar hidup mereka masing- masing. Kebahagiaan pengemis jalanan diketahui diantaranya; cukup bahagia (31%), merasa lebih bahagia atau bahagia (34%), serta merasa tidak bahagia (35%). Kata kunci: kesejahteraan, kebahagiaan, pengemis jalanan
Wibisono Hardjopranoto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 68-84; doi:10.24123/soshum.v1i2.2866

Abstract:
Abstrak--Konstruksi portofolio optimal menjadi fokus perhatian dan semakin menantang bagi manajemen investasi karena pada umumnya investor bermotif untuk memaksimalkan economic value-nya dengan memainkan peran dua variabel utamanya, imbal hasil (return) dan risiko (risk). Single Index Model(SIM) William Sharpe (1963) merupakan model yang sederhana terutama jika dibandingkan dengan model Markowitz (1952), terutama karena pertimbangan jumlah variabel masukannya. Model Markowitz dikatakan memiliki keterbatasan praktis serius; model Sharpe menyederhanakannya (http://www.economicsdiscussion.net/portfolio-management/theories-portfolio-management/sharpe-theory-of-portfolio-management-financial-economics/29763 [r. 07/05/20]).Penelitian ini bermaksud menggambarkan portofolio optimal seperti apa yang dapat dibentuk dari saham-saham LQ45 tahun 2019 menggunakan SIM tersebut. Hasilnya memperlihatkan 27 saham LQ45 terpilih dari 45 saham yang pantas menjadi anggota portofolio optimal dalam pembobotan mulai dari bobot yang tertinggi ke bobot terendah. Dengan tetap menyadari sepenuhnya bahwa SIM hanya menggunakan indeks (pasar) sebagai satu-satunya faktor pembentuk risiko berinvestasi,penerapan model ini memberikan pembelajaran yang amat berharga justru karena kesederhanannya sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas dan dengan demikian tetap perlu dipelajari sebagai pengetahuan dasar dalam Mengelola Portofolio/ Investasi. Kata kunci: Sharpe’s Single Index Model, Portfolio Analysis, Optimal Portfolio Con-struction, Risk Characteristic Line. Abstract--Optimal portfolio construction is the focus of attention and is increasingly challenging for investment management because in general investors are motivated to maximize their economic value by playing the role of two main variable, return and risk. William Sharpe’s (1963) Single Index Model (SIM) is a simple model especially when compared to the Markowitz model (1952), mainly because of the consideration of the number of input variables. The Markowitz model is said to have serious practical limitations; the Sharpe model simplifies it (http://www.economicsdiscussion.net/portfolio-management/ theories-portfolio-management/sharpe-theory-of-portfolio-management-financial-econo-mics/29763 [r. 07/05/20]). This study intends to describe what optimal portfolio can be formed from LQ45 shares in 2019 using the SIM. The results show 27 selected LQ45 shares from 45 shares that deserve to be members of the optimal portfolio in weighting starting form the highest weight to the lowest weight. By being fully aware that SIM uses only the index (market) as the sole factor for investment risk, the application of this model provides valuable learning precisely because of its simplicity so as to provides a clear picture and thus need to be learned as basic knowledge in Managing Portfolio/ Investments. Keywords: Sharpe’s Single Index Model, Portfolio Analysis, Optimal Portfolio Con-struction, Risk Characteristic Line.
Reny Firsty Oktasari
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 94-101; doi:10.24123/soshum.v1i2.2965

Abstract:
Persepsi terhadap perkawinan siri merupakan pemaknaan terhadap suatu bentuk perkawinan rahasia yang tidak tercatat dengan melibatkan aspek kognitif dan afektif. Faktor yang memengaruhi persepsi terhadap perkawinan siri selain perasaan yang dialami, motivasi, pengalaman masa lalu, gaya berpikir individu, juga dipengaruhi oleh believe individu tentang perkawinan siri itu sendiri. Janda pada masa dewasa awal masih dalam tugas perkembangan yang menuntut mereka untuk memilih pasangan dan memiliki keluarga. Sehingga tugas perkembangan tersebut menjadi social expectations. Status janda secara otomatis membawa konsekwensi terputusnya pemenuhan kebutuhan biologis, seksual dan psikologis yang dapat membuat individu baik cerai hidup maupun cerai mati dapat merasakan kecemasan dan kesepian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara kecemasan dan kesepian dengan persepsi terhadap perkawinan siri pada janda. Jumlah subjek sebanyak 30 orang janda dalam rentang usia 20 hingga 40 tahun, baik cerai hidup maupun cerai mati yang bekerja di Surabaya dan Sidoarjo serta memiliki keinginan untuk melakukan perkawinan kembali pasca perceraian. Tehnik sampling yang digunakan adalah snowball sampling. Hasil uji korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antara Kecemasan Persepsi terhadap Perkawinan Siri (r = 0.569 ; p = 0.108); tidak ada hubungan antara Kesepian dengan Persepsi terhadap Perkawinan Siri (r = 0.279; p = 0.204).
Helen Diana Subekti , Endah Triwijati, Teguh Wijaya Mulya
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 30-40; doi:10.24123/soshum.v1i1.2847

Abstract:
— In these past few years, issues regarding homosexuality are growingrapidly. These issues, of course, cannot be taken lightly nor be ignored anymore asthey are slowly but surely surrounding us all. Looking through religion’s shoes—as religion cannot be taken away from Indonesian’s lifestyle that ideally upholdingthe values ofPancasila, many condemning homosexuality, and Christian is one ofmany religions that also refuse and condemn the act of it. In popular Christiandoctrine, it is said that homosexuality is a form of sin and brings sorrow to the heart of Christ. However, is it really the only doctrine about homosexuality in Christian?The answer is no. There is another doctrine which is more accepting and welcominghomosexuals as a part of them, and people barely have their feet submerged in thisone. This doctrine is never really discussed. Therefore, this research exists. Thereare two participants of this research. Both of them are priests and come from twodifferent doctrines and perspectives; accepting and condemning homosexual. Thisresearch is using priest as the participant because of their knowledge are assumedas suffice to gain the title and they are the biggest agent to spread the gospel whichpeople usually listen and look up to. Keywords: homosexuality, christianity, condemning homosexual, accepting homosexual, christian theology Abstrak—Dalam beberapa tahun belakangan ini, isu homoseksual berkembangsangat pesat. Isu ini tentu tidak dapat dihindari lagi. Tidak mungkin untuk masyarakat terus-terusan menutup mata. Melihat dari sisi agama yang tidak dapat lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia yang idealnya menjunjung tinggi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, banyak ajaran agama yang menolak homoseksual secara tegas—ajaran agama Kristen salah satunya. Dalam ajaran Kristen yang dominan diyakini umat, perilaku homoseksual adalah sebuah dosa dan benar-benar mendukakan hati Tuhan. Namun, apakah ajaran tersebut adalah satu- satunya ajaran mengenai homoseksual yang ada di dalam Kristen? Tidak. Ada ajaran lain yang mendukung kaum homoseksual dan tidak banyak yang tahu mengenai ajaran tersebut. Maka dari itu, penelitian ini ada untuk mengisi kekosongan ilmu tersebut. Ada dua pendeta yang akan diwawancarai. Dua pendeta tersebut berasal dari dua kubu yang berbeda, yaitu kubu yang menerima dan yang menolak homoseksual. Penelitian ini menggunakan pendeta sebagai narasumber karena dalam suatu praktik keagamaan, pendeta adalah agen terbesar dalam menyebarkan ajaran agama atau teologi. Mereka dijunjung tinggi sebagai seseorang yang memiliki dampak terbesar kepada umat-umat pemeluk agama Kristen. Hal- hal yang dikatakan oleh pemimpin agama sering kali langsung diamini oleh umat. Kata kunci: homoseksual, pendeta, penerimaan homoseksual, penolakan homoseksual, teologi kekristenan
Julian Ferry Hermanto, Putu Anom Mahadwartha
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 11-20; doi:10.24123/soshum.v1i1.2704

Abstract:
Penelitian ini menginvestigasi anomaly intraday effect di saham winner dan loser yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. Menggunakan frekuensi transaksi harian dan cumulative actual return untuk memilih saham dalam kategori winner dan loser, penelitian ini menemukan bahwa saham yang merupakan saham winner di masa lalu cenderung menjadi saham loser di masa kini. Sebaliknya, saham yang merupakan saham loser di masa lalu cenderung menjadi saham winner di masa kini. Penelitian ini juga menemukan bahwa saham dalam kelompok winner dan loser cenderung menghasilkan abnormal return tertinggi pada 15 menit sebelum penutupan sesi pertama perdagangan sampai penutupan perdagangan sesi pertama dan saham dalam kelompok winner dan loser cenderung menghasilkan abnormal return terendah pada saat 15 menit sebelum penutupan perdagangan sampai penutupan perdagangan.
Mochamad Ardhi Ma’Arif, Wisnu Aryo Dewanto, Muhammad Insan Tarigan
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 46-53; doi:10.24123/soshum.v1i1.2851

Abstract:
—This Study discussed the problem whether the secession of Catalonia from Spain is in accordance with the self-determination principle in the International Law. This study used a legal, concept and case approach and concluded as follows: Catalonia was able to separate them selves from the parent nation according to the self-determination principle by making a referendum. This act of making a referendum was a way for the Catalonia society to state their opinion. This condition was in accordance with the self-determination principle in the international law because the right for secession may occur in a certain condition other than the context of decolonization. When a country is retricted by the reigning government in savoring internal self-determination (in obtaining political, economic, social and cultural status), then the country may perform a secession from the parent nation. The requierements of self-determination in the Catalonia and Spain case were political, economic, social and cultural aspects. Afterwards, Catalonia needed full fill the requirements stated in Article 1 of the 1933 Montevideo Convention on the Rights and Duties of States, and they need to get a recognition from another country. Keywords : secession, referendum, self-determination principle, recognation Abstrak—Penelitian berjudul rencana pemisahan Catalonia dari Spanyol di tinjau dari prinsip self-determination, dengan membahas permasalahan apakah pemisahan diri Catalonia dari Spanyol sesuai dengan prinsip self-determination dalam hukum internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan undang-undang, konsep dan kasus, sehingga diperoleh suatu kesimpulan bahwa Catalonia bisa memisahkan diri dari Spanyol sesuai dengan prinsip self-determination dengan melakukan referendum. Referendum adalah suatu cara masyarakat Catalonia untuk menyampaikan pendapat. Hal ini sesuai dengan prinsip self-determination dalam hukum internasional, karena hak untuk memisahkan diri bisa muncul dalam keadaan khusus, selain dalam konteks dekolonisasi. Ketika suatu bangsa dihalangi haknya oleh pemerintah yang berkuasa dalam menikmati internal self-determination (untuk mendapatkan status politik, ekonomi, sosial dan budaya), maka sebagai jalan terakhir yang diperbolehkan dalam hukum internasional adalah upaya melepaskan diri dari negara tersebut. Syarat-syarat self-determination dalam kasus Catalonia dengan Spanyol yang ingin memisahkan diri adalah aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya. Setelah itu Catalonia harus sesuai dengan Konvensi Montevideo Tentang Hak dan Tugas Negara Tahun 1933 Pada Pasal 1 yaitu syarat terbentuknya suatu negara, dan terakhir Catalonia harus mendapatkan pengakuan dari sebuah negara. Kata kunci : pemisahan diri, referendum, prinsip self-determination, pengakuan
Back to Top Top