KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora

Journal Information
EISSN : 2722-1741
Published by: Universitas Surabaya (10.24123)
Total articles ≅ 19
Filter:

Latest articles in this journal

Rizky Novian Hartono, Sriwati, Wafia Silvi Dhesinta Rini
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 23-33; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.4392

Abstract:
— State-Owned Enterprises that act as an agent of development and business entity for the country are the concrete forms to reach the welfare state goal. Persero, as the example of state-owned enterprises will surely experience advantages and disadvantages due to the dynamic condition of the business world. With the various regulations that regulate state-owned enterprises itself, created a disharmony form of liability to the directors about the business loss. This research aims to identify do the loss of the state-owned enterprises would classified as state financial losses in the perspective of doctrine business judgment rule. This research using statute approach and conceptual approach shows that there is a dualism view about the position of separated-state wealth in the scope of state finances resulting in different interpretations of the meaning of state financial losses by the law enforcers. This dualism view caused a disharmony form of liability that asked to the Directors of Persero when that occur losses because according to the Section 2 and Section 3 Law Number 20 of 2001 jo Law Number 31 of 1999 concerning Eradication of Corruption, the directors would probably asked the liability for the alleged of corruption because causing state financial losses, on the other side according to the Section 97 verse 5 Law number 40 of 2007 concerning Company there is an exception to the directors so they would not be able to be charges. Furthermore, losses that happened in the state-owned enterprises can not only occur as a result of abuse of power but are result of business risks so the directors can be protected by the doctrine of business judgment rule from criminal charge. Keywords: persero state-owned enterprises, state financial losses, business risks, business judgment rule Abstrak—BUMN sebagai pelaku perekonomian nasional yang memiliki peran ganda yakni sebagai agent of development sekaligus sebagai business entity, merupakan salah satu bentuk konkret perpanjangan tangan negara dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan negara yakni memajukan kesejahteraan umum. Layaknya sebuah perusahaan, BUMN Persero sebagai salah satu bentuk BUMN pasti akan mengalami keuntungan maupun kerugian akibat dinamisnya dunia bisnis. Menjadi sebuah problematika ketika kerugian yang dialami oleh BUMN Persero tersebut dihadapkan dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi BUMN, baik dalam ranah hukum publik maupun dalam ranah hukum privat. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah apakah kerugian yang dialami oleh BUMN dapat diklasifikasikan sebagai kerugian keuangan negara dalam perspektif doktrin business judgment rule. Melalui penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode statute approach dan conceptual approach ditemukan bahwa adanya dualisme pandangan kedudukan kekayaan negara yang dipisahkan dalam lingkup keuangan negara sehingga menimbulkan perbedaan penafsiran makna kerugian keuangan negara oleh aparat penegak hukum. Dualisme pandangan ini berdampak pada ketidakharmonisan bentuk pertanggungjawaban yang dimintakan kepada Direksi BUMN Persero ketika terjadi kerugian pada tubuh BUMN sebab berdasarkan ketentuan Pasal 2 dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Direksi BUMN Persero dapat dimintakan pertanggungjawaban secara pidana atas dugaan tindak pidana korupsi karena menyebabkan kerugian keuangan negara namun berdasarkan Pasal 97 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas terdapat pengecualian agar Direksi BUMN tidak dimintakan pertanggungjawaban secara pribadi. Lebih jauh, kerugian pada BUMN tidak hanya dapat terjadi akibat dari adanya penyalahgunaan wewenang melainkan akibat dari adanya risiko bisnis sehingga doktrin business judgment rule dapat diterapkan untuk memberikan perlindungan bagi direksi dari tuntutan pidana.. Kata kunci : badan usaha milik negara, kerugian keuangan negara, risiko bisnis, business judgment rule
Niken Titi Pratitis, Suroso Suroso, Reni Oktaviana Cahyanti, Farra Lailatus Sa’Idah Sa’Idah
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 1-7; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3953

Abstract:
— Student academic procastination is a tendency to procrastinate in completing assignments so that it results in not completing assignments and even hindering his studies in Higher Education One of the causes of internal factors is the lack of strategy and self-regulation or self-regulation, while external factors that are also predicted to cause procastination are social support. This quantitative study was aimed at examining the relationship between self-regulated learning and social support and academic procrastination during the pandemic. Research respondents were 266 students of all majors from various public and private universities whose data were obtained through the google form scale, which was distributed through social media applications. The data analysis technique used is the non-parametric Spearman Brown technique and the parametric Pearson correlation technique. The results of data analysis showed that there was a significant correlation between self-regulated learning and academic procastination (sig.0.029) but there was no significant correlation between social support and academic procastination (sig. 0.903). Keywords: self regulated learning, social support, academic procastination Abstrak— Prokastinasi akademik mahasiswa merupakan kecenderungan perilaku menunda-nunda menyelesaikan tugas hingga berakibat tidak terselesaikannya tugas bahkan terhambat studinya di Perguruan Tinggi. Salah satu faktor internal penyebabnya adalah kurangnya strategi dan pengaturan diri atau regulasi diri (self regulated) sementara faktor eksternal yang juga diprediksi dapat menyebabkan prokastinasi adalah, dukungan sosial. Penelitian kuatitatif iniditujukan untuk menguji hubungan antara self regulated learning dan dukungan sosial dengan prokrastinasi akademik dimasa pandemi. Responden penelitian adalah 266 orang mahasiswa semua jurusan dari berbagai universitas negeri maupun swasta yang datanya diperoleh melalui skala google form, yang disebarkan melalui aplikasi media sosial. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik non parametric spearman brown dan teknik parametric pearson correlation. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara self regulated learning dengan prokastinasi akademik (p= 0,029) tetapi tidak ada korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dengan prokastinasi akademik (p= 0,903). Kata kunci : self regulated learning, dukungan sosial, prokastinasi akademik
Nurwidya Kusma Wardhani
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 34-38; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3990

Abstract:
– This paper aims to examine how the implementation of public policies in the form of Large-Scale Social Restrictions in Indonesia due to the corona virus pandemic which has become an epidemic worldwide. The implementation of the PSBB is carried out to prevent the spread of the red zone to other areas as well as restrictions such as learning, work, religion, socio-culture and so on. Social restrictions, of course, must not conflict with legal and human rights provisions that have been adhered to in the community so that there will not be conflicts in the future. The writing method is carried out by means of literacy studies. Based on the results of this study, it can be seen that the determination of the PSBB is the most appropriate policy for the time being if there is a synchronization with law and human rights. Keywords: corona virus, law, human rights Abstrak – Tulisan ini memiliki tujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan kebijakan publik berupa Pembatasan Sosial Berskala Besar di Indonesia dikarenakan pandemic virus corona yang menjadi wabah diseluruh dunia. Penerapan PSBB dilakukan untuk mencegah penyebaran dari zona merah terhadap wilayah lainnya serta pembatasan-pembatasan seperti pembelajaran, pekerjaan, keagamaan, sosial budaya dan lain sebagainya. Pembatasan sosial tentunya tidak boleh bertentangan dengan ketentuan hukum dan HAM yang dianut selama ini dimasyarakat sehingga tidak akan memunculkan konflik di kemudian hari. Metode penulisan yang dilakukan dengan cara studi literasi. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat diketahui bahwa penetapan PSBB merupakan kebijakan yang paling tepat sementara ini apabila terdapat singkronisasi dengan hukum dan HAM. Kata Kunci : virus corona, hukum, hak asasi manusia
Herdiana Candrika Maharani, Andrian Pramadi
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 15-22; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3960

Abstract:
— Economic problems are certainly inseparable from various problems in life. The experience of a community in Surabaya, named RUMAH SINGGAH is a real example of the link between economic problems and health problems. The economic problems faced by members of the RUMAH SINGGAH community are recognized by mothers as a matter of daily thought and anxiety. Thoughts and anxieties related to economic problems experienced by samaritans caused most of them to have difficulty sleeping, poor sleep, and irregular diet. This has a negative impact on health for each individual. Relatedly, the counseling given to members of the RUMAH SINGGAH community is stress management through increased knowledge about stress protective factors, namely social support and the addition of muscle relaxation skills. The results showed that all participants experienced increased levels of relaxation after relaxing the muscles. However, there is no pattern of change in stress levels experienced by RUMAH SINGGAH members from before and after muscle relaxation. Keywords: anxiety, stress, stress management, relaxation, community Abstrak— Permasalahan terkait ekonomi tentu tidak dapat dipisahkan dari berbagai persoalan di kehidupan. Pengalaman sebuah komunitas di Surabaya, bernama Rumah Singgah merupakan contoh nyata tentang adanya kaitan antara masalah ekonomi dan masalah kesehatan. Masalah ekonomi yang dihadapi oleh ibu-ibu dalam komunitas Rumah Singgah diakui oleh para ibu sebagai hal yang selalu menjadi pikiran dan kecemasan setiap harinya. Pikiran dan kecemasan terkait masalah ekonomi yang dialami oleh para ibu Rumah Singgah menyebabkan kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan tidur, tidur tidak nyenyak, dan pola makan yang tidak teratur. Hal ini memberi dampak negatif pada kesehatan bagi masing-masing individu. Terkait itu, maka penyuluhan yang diberikan pada para ibu komunitas Rumah Singgah adalah manajemen stres melalui peningkatan pengetahuan tentang faktor protektif stres, yaitu dukungan sosial dan penambahan keterampilan melakukan relaksasi otot. Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa seluruh peserta mengalami peningkatan tingkat rileks setelah melakukan relaksasi otot. Meski demikian, tidak terdapat pola perubahan dari tingkat stres yang dialami oleh para ibu Rumah Singgah dari sebelum dan sesudah melakukan relaksasi otot. Kata kunci: kecemasan, stres, manajemen stres, relaksasi, komunitas
Astrid Pratidina Susilo
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 39-43; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3971

Abstract:
— Medical communication and professionalism are central issues in clinical practice. Both are highly influenced by context such as cultural and social aspects. In medical education, a lot of studies about communication and professionalism have been conducted in Western setting and may not be fully applicable for other cultural or social context. This article aims to introduce several evidence from non-Western context in the area of medical communication and professionalism and discuss their applicability. We will use the study from Hofstede et al. about cultural domains as a theoretical basis. We will also present different studies on communication and professionalism conducted in Asia, such as from Indonesia and Japan, highlight some differences, and discuss how they may influence the medical communication and professionalism. We will provide practical examples on how to use these body of evidence in communication skills training and other area of medical education. Finally, we will discuss some ideas to strengthen future research initiatives from our context. Keyword: Asia, communication, culture, education, professionalism Abstrak— Komunikasi medis dan profesionalisme adalah masalah sentral dalam praktik klinis. Keduanya sangat dipengaruhi oleh konteks seperti aspek budaya dan sosial. Dalam pendidikan kedokteran, banyak penelitian tentang komunikasi dan profesionalisme telah dilakukan di lingkungan Barat dan mungkin tidak sepenuhnya dapat diterapkan untuk konteks budaya atau sosial lainnya. Artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan beberapa bukti dari konteks non-Barat di bidang komunikasi medis dan profesionalisme serta membahas penerapannya. Kami akan menggunakan karya Hofstede et al tentang ranah budaya sebagai dasar teoritis. Kami juga akan menyajikan berbagai studi tentang komunikasi dan profesionalisme yang dilakukan di Asia, seperti dari Indonesia dan Jepang, menyoroti beberapa perbedaan, dan membahas bagaimana pengaruhnya atas komunikasi medis dan profesionalisme. Kami akan memberikan contoh praktis tentang bagaimana menggunakan bukti-bukti ini dalam pelatihan keterampilan komunikasi dan bidang pendidikan kedokteran lainnya. Terakhir, kami akan membahas beberapa ide untuk memperkuat inisiatif penelitian di masa depan dari konteks Indonesia. Kata kunci: Asia, komunikasi, budaya, pendidikan, profesionalisme
Rafinita Aditia
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 8-14; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.4034

Abstract:
—This study aims to find out about the phubbing phenomenon as a degradation of social relations as a result of social media. The term phubbing is an abbreviation of the words phone and snubbing, which are used to show the attitude of hurting the other person by using an excessive smartphone. This type of research used a qualitative approach with descriptive methods. The data needed in this study are qualitative data as primary data in the form of images, words and not numbers in a discourse regarding the phubbing phenomenon as a degradation of social relations as a result of social media. Based on the results of the research, it is found that phubbing behavior can threaten the disruption of ongoing communication relationships, causing social degradation. The social degradation that occurs is due to the impact of phubbing perpetrators' indifference to their environment because they are too busy using smartphones, especially in the use of social media. Therefore it is necessary to limit and control the use of social media properly so that the phubbing phenomenon can be resolved immediately and the degradation of social relations does not occur. Keywords: phubbing, degradation, social relation, social media Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang tentang fenomena phubbing sebagai suatu degradasi relasi sosial sebagai dampak dari media sosial. Jenis penelitian yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini merupakan data kualitatif sebagai data primer berupa gambar, kata-kata dan bukan angka-angka dalam sebuah wacana mengenai fenomena phubbing sebagai suatu degradasi relasi sosial sebagai dampak dari media sosial. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa perilaku phubbing mampu mengancam terganggunya hubungan komunikasi yang sedang berlangsung, sehingga menyebabkan degradasi sosial. Degradasi sosial yang terjadi ialah karena dampak dari keacuhan pelaku phubbing terhadap lingkungannya karena terlalu sibuk menggunakan smartphone, terlebih dalam penggunaan media sosial. Oleh karena itu penggunaan media sosial perlu dibatasi dan dikontrol dengan baik agar fenomena phubbing dapat segera teratasi dan degradasi relasi sosial tidak terjadi. Kata kunci : phubbing, degradasi, hubungan sosial, sosial media
Reny Firsty Oktasari, Elly Yuliandari
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 93-101; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.2965

Abstract:
— Perceptions of the siri marriage is purpose to a form of marriage that is secretly and undocumented, which is involving cognitive and affective aspects. The factors that affect the perception of the siri marriage is the experienced, motivation, individual thinking style also individuals believe about siri marriage itself. Widow in early adulthood is still in the developmental tasks that require them to choose a partner and have a family. So the task of these developments become social expectations. Widow automatically has consequences for the dissolution of biological, sexual and psychological needs which can make individuals may feel anxiety and loneliness. The purpose of this study was to determine the relationship between anxiety and loneliness to the perception of siri marriage to the widow. The number of subjects were 30 widows in the age range 20 to 40 years, both divorced and the spouse died, who working in Surabaya and Sidoarjo, and also have the desire to remarriage. The sampling technique used was snowball sampling. Correlation test results showed no association between anxiety and perception of marriage siri (r = 0569; p = 0108); there is no connection between loneliness and perception of marriage siri (r = 0.279; p = 0.204).Keywords: anxiety, loneliness, perception, siri marriage Abstrak— Persepsi terhadap perkawinan siri merupakan pemaknaan terhadap suatu bentuk perkawinan rahasia yang tidak tercatat dengan melibatkan aspek kognitif dan afektif. Faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap perkawinan siri selain perasaan yang dialami, motivasi, pengalaman masa lalu, gaya berpikir individu, juga dipengaruhi oleh believe individu tentang perkawinan siri itu sendiri. Janda pada masa dewasa awal masih dalam tugas perkembangan yang menuntut mereka untuk memilih pasangan dan memiliki keluarga. Sehingga tugas perkembangan tersebut menjadi social expectations. Status janda secara otomatis membawa konsekwensi terputusnya pemenuhan kebutuhan biologis, seksual dan psikologis yang dapat membuat individu baik cerai hidup maupun cerai mati dapat merasakan kecemasan dan kesepian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara kecemasan dan kesepian dengan persepsi terhadap perkawinan siri pada janda. Jumlah subjek sebanyak 30 orang janda dalam rentang usia 20 hingga 40 tahun, baik cerai hidup maupun cerai mati yang bekerja di Surabaya dan Sidoarjo serta memiliki keinginan untuk melakukan perkawinan kembali pasca perceraian. Tehnik sampling yang digunakan adalah snowball sampling. Hasil uji korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antara kecemasan dan persepsi terhadap perkawinan siri (r = 0.569 ; p = 0.108); tidak ada hubungan antara kesepian dan persepsi terhadap perkawinan siri (r = 0.279; p = 0.204).Kata kunci: kecemasan, kesepian, persepsi, perkawinan siri
, Wisnu Aryo Dewanto, Suhariwanto Suhariwanto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 54-59; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.3333

Abstract:
—Diplomatic immunity and privilege which is arranged in the Vienna Convention 1961 is very important in ensuring the enactment of diplomatic functions in doing the mission. The abuse of immunity and privilege owned by the diplomatic representative often happens. Diplomatic representative abuse their rights in the form of mild violation to heavy crime. There have been cases on the abuse of diplomatic immunity in commercial transaction related to the civil jurisdiction immunity of the country the diplomat assigned in. The landlord in the country who rent their property to the diplomatic representative have become the victim in the abuse of diplomatic immunity. There was a diplomatic representative who refused to pay the rent because of diplomatic immunity reason and eventually managed to escape from the obligation to pay for the commercial transaction due to the protection of the immunity and privilege Keywords: abuse, diplomatic immunity, commercial transaction Abstrak—Kekebalan dan keistimewaan diplomatik yang diatur di dalam Konvensi Wina 1961 merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin pelaksanaan fungsi diplomat dalam menjalankan misinya. Penyalahgunaan kekebalan dan keistimewaan yang dimiliki perwakilan diplomatik masih sering terjadi. Perwakilan diplomatik menyalahgunakannya dalam bentuk pelanggaran ringan hingga kejahatan yang berat. Dalam perkembangannya, telah terjadi kasus penyalahgunaan kekebalan diplomatik dalam transaksi komersial yang berkaitan dengan kekebalan yurisdiksi sipil negara penerima. Para tuan tanah dari negara penerima yang menyewakan propertinya kepada perwakilan diplomatik menjadi korban dalam penyalahgunaan kekebalan diplomatik. Ada perwakilan diplomatik yang menolak membayar biaya sewa dengan alasan kekebalan diplomatik yang pada akhirnya lolos dari kewajibannya untuk membayar transaksi komersial karena berlindung pada kekebalan dan keistimewaan yang dimilikinya Kata kunci: penyalahgunaan, kekebalan diplomatik, transaksi komersial
Putri Purnamasari, Ananta Yudiarso, Marselius Sampe Tondok
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 102-107; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.3106

Abstract:
- The phenomenon of street beggars to be one of the problems in Surabaya city. Life in the city, will bring psychological burden such as dissatisfaction, loss of life spirit, inner problems and problems to others, etc. Consequences received as street beggars can also elicit other psychological problems. This study is a descriptive study that aims to know the picture of well- being and happiness on street beggars in Surabaya. Sampling was done by snowball sampling and obtained the number of samples of 80 subjects. Data were taken using a questionnaire from the adaptation scale of Ryff's Scale of Psychological Well-Being (PWB) and the adaptation scale of Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). The results showed that the well-being of street beggars tends to be high as much as 34%, 60% tends to be moderate and 6% tends to be low.. Street beggars have a high well-being because most of them are able to realize the purpose of life according to their standard of living. The joy of street beggars is known amongst them; quite happy (31%), feeling happier or happier (34%), and feeling unhappy (35%).Keywords: well-being, happiness, street beggars. Abstrak - Fenomena pengemis jalanan menjadi salah satu permasalahan di kota Surabaya. Kehidupan di kota memunculkan beban psikologis seperti ketidakpuasan, kehilangan semangat hidup, masalah batin dan masalah terhadap orang lain. Konsekuensi yang diterima sebagai pengemis jalanan juga dapat memunculkan permasalahan psikologis lainnya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran well-being dan happiness pada pengemis jalanan yang ada di Kota Surabaya. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan snowball sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 80 subjek. Data diambil menggunakan kuesioner dari skala adaptasi dari Ryff’s Scale of Psychological Well-Being (PWB) dan skala adaptasi dari Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Hasil penelitian diketahui well-being yang dimiliki pengemis jalanan cenderung tinggi sebanyak 34%, cenderung sedang 60% dan cenderung rendah 6%. Pengemis jalanan memiliki well-being yang tinggi dikarenakan kebanyakan dari mereka mampu merealisasikan tujuan hidup sesuai dengan standar hidup mereka masing- masing. Kebahagiaan pengemis jalanan diketahui diantaranya; cukup bahagia (31%), merasa lebih bahagia atau bahagia (34%), serta merasa tidak bahagia (35%).Kata kunci: kesejahteraan, kebahagiaan, pengemis jalanan
Wibisono Hardjopranoto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 68-84; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.2866

Abstract:
—The ideal investment objective is to build an optimal investment portfolio. An investment portfolio that is able to provide maximum return at a certain level of risk. William Sharpe's (1963) Single Index Model (SIM) is a model with simple application, especially when compared to the Markowitz model (1952), mainly because of the consideration of the number of input variables. A simple SIM explains the relationship between market returns (rm) as an independent variable and returns on securities, ri with variations in the risk as the slope characteristic line, βi. The main limitation of MIS is that the risk in investing is represented only by changes in the index that are representative of the market. Using SIM, this study will describe the optimal portfolio construction by selecting LQ45 stocks on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2019. The implementation of the SIM resulted in 19 LQ45 stocks selected from 45 stocks as optimal portfolio "members", along with the composition the weighting of the investment value starts from the highest weight to the lowest weight. Because using a single index in measuring risk, the application of SIM is aware of its various weaknesses and must be wise in choosing the index as the market. However, the application of SIM can provide valuable lessons for investment management.Keywords: Portfolio Analysis, Optimal Portfolio, Risk Characteristic Line, Single Index Model Abstrak—Tujuan investasi yang ideal adalah membangun portofolio investasi yang optimal. Portofolio investasi yang mampu memberikan imbal hasil (return) maksimal pada tingkat risiko tertentu. Single Index Model (SIM) William Sharpe (1963) merupakan model yang aplikasinya sederhana, terutama jika dibandingkan dengan model Markowitz (1952), terutama karena pertimbangan jumlah variabel masukannya. SIM secara sederhana menjelaskan hubungan antara imbal hasil pasar (market return, rm) sebagai variable bebas dengan imbal hasil sekuritas, ri dengan variasi perubahan risiko berupa slope characteristic line, Keterbatasan utama SIM adalah karena risiko berinvestasi hanya diwakili satu-satunya oleh perubahan-perubahan indeks tertentu mewakili pasar. Dengan menggunakan SIM, penelitian ini hendak menggambarkan bangunan portofolio optimal dengan memilih saham-saham LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2019. Penerapan SIM dimaksud menghasilkan 19 saham LQ45 yang terpilih dari 45 saham sebagai “anggota” portofolio optimal, berikut komposisi pembobotan nilai investasinya mulai dari bobot yang tertinggi ke bobot terendah. Karena menggunakan indeks tunggal dalam mengukur risiko, penerapan SIM selain harus menyadari berbagai kelemahannya juga harus benar-benar bijak dalam memilih indeks sebagai pasarnya. Bagaimanapun, penerapan SIM mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi manajemen investasi.Kata kunci: Portfolio Analysis, Optimal Portfolio, Risk Characteristic Line, Single Index Model
Back to Top Top