Jurnal Agercolere

Journal Information
ISSN / EISSN : 2655-5611 / 2656-5145
Published by: Universitas Ichsan Gorontalo (10.37195)
Total articles ≅ 30
Filter:

Latest articles in this journal

Sumarni Marni B
Published: 1 October 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 53-58; https://doi.org/10.37195/jac.v3i2.130

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar share petani, rasio, serta efisiensi dalam memasarkan bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2021 di Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan. Dengan sampel sebanyak 30 orang, dimana jumlah petani sebanyak 15 orang, pedagang besar 3 orang, pedagang pengecer 12 orang. Penentuan sampel petani ditentukan secara sengaja (purposive sampling), sedangkan penentuan sampel pedagang menggunakan teknik snowball sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriftif kualitatif, analisis Farmer’s share, analisis rasio dan analisis efisiensi pemasaran. Farmer’s share paling besar yang diterima oleh petani dalam memasarkan bawang merah dengan menggunakan tiga saluran pemasaran adalah farmer”s share saluran pemasaran I dengan share sebesar 100%, kemudian share tertinggi kedua adalah pada saluran pemasaran II dengan share sebesar 73,33% dan yang paling rendah adalah share pada saluran pemasaran III dengan share sebesar 37,82%. Dilihat dari segi rasio, keuntungan yang diberikan bagi para pedagang pada saluran pemasaran II adalah sebesar 10,42 dan pada saluran III sebesar 8,86. Sedangkan untuk tingkat efisisensi pemasaran, maka semua saluran pemasaran bawang merah efisien karena masih berada pada kisaran 0 – 33%. Namun jika ketiga saluran pemasaran tersebut dibandingkan, maka dapat disimpulkan bahwa saluran pemasaran pertama merupakan saluran pemasaran yang paling efisien.
Sumantri Sumantri, Sri Hastuty S
Published: 1 October 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 46-52; https://doi.org/10.37195/jac.v3i2.138

Abstract:
This study aims to determine the level of motivation of farmers in applying cocoa production technology and the level of application of cocoa production technology in Bakka Village, Sabbang District, North Luwu Regency. Determination of the location was done intentionally (purposive sampling) and the time of the study was carried out for two months. The sample in this study was 46 farmers. The types of data collected are primary data and secondary data, while the data collection methods are through observation, interviews, and documentation. The data analysis method used is a descriptive analysis using a Likert scale. Based on the results of the study, it shows that the level of motivation of farmers in applying cocoa production technology is categorized as very high with an average score of 3.42, while the level of application of cocoa production technology by farmers is categorized as high with an average score of 2.79 but the application of cocoa production technology must be more intensive.
Andi Maryam, Dian Sari
Published: 1 October 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 57-62; https://doi.org/10.37195/jac.v3i2.132

Abstract:
Penelitian ini fokus pada pengolahan jeruk siam grade C atau di bawahnya (shongpi) menjadi permen jelly agar meningkatkan nilai jual buah jeruk siam baik grade C maupun “shongpi”. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu variasi konsentrasi serbuk jelly 2 gram, 6 gram, dan 10 gram, tiga kali pengulangan. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kadar vitamin C, kadar sukrosa, dan cemaran mikrobia. Kadar vitamin C untuk permen jelly dengan perlakuan serbuk jelly 10 gram, 6 gram, dan 2 gram berturut-turutadalah 0,16%, 0,18%, dan 0,19%. Kadar sukrosapermen jelly jeruk dengan perlakuan serbuk jelly 10 gram, 6 gram, dan 2 gram berturut-turut adalah 47%, 44,9%, dan 49,1%. Karakteristik biologi pada permen jelly jeruk adalah angka paling mungkin untuk cemaran bakteri Escherechia coli yaitu < 3. Angka ini menunjukkan bahwa permen jelly yang dihasilkan pada penelitian ini tidak tercemar oleh E. coli.
, Muh. Jabal Nur, Febriyanto Nayo
Published: 30 September 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 38-45; https://doi.org/10.37195/jac.v3i2.129

Abstract:
Penelitian ini bertujuan unutuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk organik cair (POC) daun lamtoro dan menentukan dosis yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian ini telah dilakukan pada Februari hingga bulan April 2021 di kebun Desa Bulango Raya, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dan terdapat empat perlakuan konsentrasi POC yang diulang sebanyak tiga kali yaitu L0: Tanpa Perlakuan (0%); L1: Konsentrasi 10% POC; L2: Konsentrasi 20% POC dan L3: Konsentrasi 30% POC. Variabel pengamatan dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang tongkol, bobot tongkol, dan diameter tongkol. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pupuk organik cair daun lamtoro dengan konsentrasi 30% (L3) menghasilkan panjang, diameter dan bobot tongkol tertinggi.
Samanhudi Samanhudi, Ahmad Yunus, Amalia Tetrani Sakya, Novianda Nugroho
Published: 28 February 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 21-30; https://doi.org/10.37195/jac.v3i1.124

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggap pertumbuhan beberapa varietas Sorgum manis terhadap cekaman kekeringan. Penelitian meliputi dua tahap, yaitu di laboratorium dan di rumah kaca. Percobaan di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Sedangkan percobaan di rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial juga dengan dua faktor dan tiga ulangan. Hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam pada taraf 5%, dilanjutkan dengan uji Duncan taraf 5%. Pada penelitian di laboratorium, semua variabel pengamatan tidak terpengaruh oleh perlakuan polyethylene glycol (PEG-6000). Sedangkan pada penelitian di lapangan, cekaman air dapat menunda saat kemunculan bunga, menghambat penambahan tinggi tanaman, jumlah daun, berat brangkasan kering, dan berat biji per malai. Masing-masing varietas memberikan tanggap pertumbuhan yang berbeda terhadap cekaman kekeringan. Varietas Sweet dan Kawali menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi daripada varietas Numbu, serta adanya korelasi antara panjang akar kecambah dan panjang akar varietas Sweet.
Adi Sutakwa, Lana Santika Nadia, Suharman Suharman
Published: 28 February 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 31-37; https://doi.org/10.37195/jac.v3i1.123

Abstract:
Blue pea flower (Clitoria ternatea L.) is known as the source of anthocyanin and has potential as a natural blue dye. The present study aimed to determine the effect of additional blue pea flower (BPFE) to yogurt from various types of milk. The study used dried blue pea flowers, extracted with water in 3:1 (g.L-1) ratio, at the extraction condition of 60 ˚C and 45 minutes. The fermentation was processed by adding BPFE to (A) liquid skim milk, (B) ultra-high temperature (UHT) milk, (C) pasteurized milk, (D) UHT milk with skim powder, and (E) pasteurized milk with skim powder. Then, the yogurt starter was added to all milk samples, evenly mixed and incubated for 24 hours at 37 ˚C. The fermentation of all five different milk to make plain yogurt also processed with same method without addition of BPFE. The antioxidant activity and color intensity of yogurt are evaluated to investigate the effect of BPFE in yogurt. The result showed that the plain yogurt without the addition of BPFE has antioxidant activity and increases with the addition of BPFE. Skim milk BPFE yogurt has the highest antioxidant activity (437.04 ppm) with the values of L*, a*, b* was 37.35; 2.02; -1.32, respectively. Antioxidant activity of the other BPFE yogurt, which was added with skim milk, also increased. The BPFE yogurt made from skim milk or added skim milk had higher antioxidant activity than the other types of milk.
Elazmanawati Lembong, Gemilang Lara Utama
Published: 28 February 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 7-13; https://doi.org/10.37195/jac.v3i1.122

Abstract:
Pada abad ke-21 ini, pewarna alami mulai menjadi hal yang diperhitungkan di negara-negara maju. Hal ini disebabkan pewarna sintetik yang biasanya digunakan mulai ditinggalkan, dalam jangka waktu yang panjang akan mengakumulasi residu dalam tubuh sehingga memberikan efek negatif bagi kesehatan. Pewarna alami ini mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pewarna dan sumber komponen bioaktif. Salah satu sumber pewarna alami ini adalah betalain dari umbi bit merah yang juga memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan warna dan aktivitas antioksidan umbi bit merah dari beberapa pelarut yang digunakan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelarut etanol dengan tambahan asam sitrat (2%), asam askorbat (0,05 M) dan asam tartrat (3%). Tingkat kecerahan dari ekstrak umbi bit merah dari berbagai pelarut rendah karena nilai L* yang diukur menggunakan Chromameter berkisar antara 5,70–6,01. Warna ekstrak umbi bit merah ini cenderung merah dan ada warna kekuningan ditandai dengan nilai a* positif dan b* positif yaitu 4,36–9,02 dan 0,20–2,33. Aktivitas antioksidan yang paling tinggi adalah ekstrak umbi bit merah menggunakan etanol + asam sitrat 2% yang mampu menghambat radikal bebas sebesar 96,65% pada konsentrasi 2000 ppm.
Atika Nur Syarifah, Dewi Amrih
Published: 28 February 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 14-20; https://doi.org/10.37195/jac.v3i1.125

Abstract:
Keripik tortila merupakan salah satu jenis camilan yang terbuat dari jagung yang tinggi kalori dan disukai oleh banyak orang. Namun, keripik tortila ini kurang dalam aspek serat pangan sehingga adanya tambahan bahan lain diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk tortila yang dihasilkan. Pembuatan tortila ini menggunakan bahan jagung dan variasi sayuran. Variasi sayuran yang digunakan adalah bayam merah dan buah bit yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas keripik tortila yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL). Hasil penelitian yang diperoleh yaitu produk tortila tepung jagung dengan variasi sayuran tepung bayam merah dan buah bit memounyai nilai Aw 0,35–0,40, kadar air 1,89–6,98%, kadar abu 4,15–12,44%, kadar protein 9,67–39,32%, kadar lemak 4,25–9,00%, kadar karbohidrat 38,91–79,29% dan kadar serat pangan 5,01–19,14%.
Ivan Permana Putra
Published: 25 February 2021
Jurnal Agercolere, Volume 3, pp 1-6; https://doi.org/10.37195/jac.v3i1.120

Abstract:
Jamur liar merupakan salah satu komoditas pertanian yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Indonesia. Namun risiko keracunan bisa terjadi karena morfologi yang seringkali terlihat mirip antara jamur yang dapat dimakan dan yang beracun. Satu keluarga mengkonsumsi jamur liar yang ditemukan di sekitar pemukiman rumahnya di Surabaya. Jamur tersebut tumbuh pada rerumputan dengan beberapa pohon sengon di sekitarnya. Beberapa jam kemudian semuanya mengalami gejala muntah dan diare. Seluruh anggota keluarga tersebut kemudian dievakuasi ke rumah sakit terdekat dan mendapatkan pengobatan. Hasil cek darah dan computed tomography (ct) scan abdomen menunjukkan tidak ada efek yang serius pada semua korban. Jamur yang menyebabkan keracunan didokumentasikan dengan lengkap. Hasil identifikasi dengan menggunakan karakter makroskopik mengkonfirmasi jamur tersebut sebagai Chlorophyllum cf. molybdites. Jamur ini termasuk dalam kategori jamur beracun tipe V yang menyebabkan iritasi saluran pencernaan. Laporan ini mengindikasikan perlunya pemahaman yang baik terkait pengenalan jamur liar untuk dikonsumsi. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya keracunan jamur liar di Indonesia.
Angry Pratama Solihin
Published: 1 September 2020
Jurnal Agercolere, Volume 2, pp 53-58; https://doi.org/10.37195/jac.v2i2.109

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lalat buah dan pengaruh konsentrasi ekstrak serai dan warna perangkap yang paling efektif dalam menarik lalat buah Bactrocera spp. Penelitian dilakukan di Desa Helumo, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango dari bulan Juli sampai September 2019. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dua faktor dengan enam perlakuan yang diulangi sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 18 petak unit percobaan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (annova) dan selanjutnya diuji lanjut dengan menggunakan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat dua spesies lalat buah yang terperangkap yaitu Bactrocera dorsalis dan Bactrocera umbrosa. Selanjutnya, perlakuan D2W1 (ekstrak serai 10 ml + perangkap warna kuning) merupakan perlakuan terbaik dalam memerangkap lalat buah dengan jumlah tangkapan tertinggi adalah 23,33 ekor/perangkap/hari. Disisi lain, seluruh kombinasi perlakuan tidak berpengaruh pada intensitas serangan lalat buah pada tanaman cabai.
Back to Top Top