Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian

Journal Information
ISSN / EISSN : 2715-5943 / 2715-5277
Total articles ≅ 14
Filter:

Latest articles in this journal

Anis Febri Nilansari, Nanang Munif Yasin, Diah Ayu Puspandari
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 73-79; doi:10.31764/lf.v1i2.2577

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ilham Maulana, Ajeng Kurniati Roddu, Suriani Suriani
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 80-84; doi:10.31764/lf.v1i2.2559

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Anna Pradiningsih, Baiq Leny Nopitasari, Nur Furqani, Esi Wahyuningsih
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 61-65; doi:10.31764/lf.v1i2.2515

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Dyera Forestryana, Muhammad Surur Fahmi, Aristha Novyra Putri
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 45-51; doi:10.31764/lf.v1i2.2303

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Baiq Leny Nopitasari, Baiq Nurbaety, Hafni Zuhroh
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 66-72; doi:10.31764/lf.v1i2.2542

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Baiq Leny Nopitasari, Abdul Rahman Wahid, Baharudin Baharudin
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 41-44; doi:10.31764/lf.v1i1.1662

Abstract:
ABSTRAKPada tahun 2017 jumlah kasus HIV/AIDS yang ditemukan di NTB mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016. Jumlah kasus yang ditemukan tahun 2016 adalah 62 kasus HIV dan 87 kasus AIDS, sedangkan tahun 2017 ditemukan 98 kasus HIV, dan 111 kasus AIDS. Jumlah kematian karena AIDS di Provinsi NTB tahun 2016 sebanyak 9 kasus, mengalami peningkatan menjadi 22 kasus tahun 2017. Kota/Kabupaten yang terinfeksi HIV/AIDS paling tinggi yaitu Kota Mataram (39 kasus). Berdasarkan kelompok umur jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi yaitu kasus HIV antara 20 – 29 tahun (40,91 %) dan AIDS antara umur 30 – 39 tahun (31,82 %). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Muhamadiyah Mataram tentang PMS. Metode penelitian ini adalah observasional deskriptif, dengan pendekatan cross sectional. jumlah sampel dihitung mengunakan rumus slovin, Sampel yang diambil sebanyak 99 sampel yang tersebar di 7 fakultas. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Muhamadiyah Mataram terhadap PMS berada di kategori cukup sebanyak 63 orang (64%) kategori baik sebanyak 27 orang (27%), dan kategori kurang sebanyak 9 orang (9%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pegetahuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram terhadap PMS berada di kategori cukup. Kata kunci : HIV/AIDS; Pengetahuan Mahasiswa; PMS; ABSTRACTIn 2017 the number of cases of HIV / AIDS found in NTB increased compared to 2016. The number of cases found in 2016 was 62 cases of HIV and 87 cases of AIDS, while in 2017 there were 98 cases of HIV, and 111 cases of AIDS. The number of deaths due to AIDS in NTB Province in 2016 was 9 cases, increasing to 22 cases in 2017. The city / regency infected with HIV / AIDS was the highest, Mataram (39 cases). Based on age group, the highest number of HIV / AIDS cases were HIV cases between 20 – 29 years (40.91%) and AIDS between 30 – 39 years (31.82%). This study aims to determine the level of knowledge of students of the University of Muhamadiyah Mataram about STD. This research method is descriptive observational, with cross sectional approach. The number of samples is calculated using the Slovin formula. Samples taken as many as 99 samples spread across 7 faculties. The results showed that the level of knowledge of students of the Muhamadiyah University of Mataram on STD was in the quite category as many as 63 people (64%) in the good category as many as 27 people (27%), and in the less category as many as 9 people (9%). The conclusion of this study is the level of knowledge of students of the University of Muhammadiyah Mataram against STD is in the sufficient category Keywords : HIV/AIDS; Students Knowledge; STD.
Abdul Rahman Wahid, Safwan Safwan
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 24-27; doi:10.31764/lf.v1i1.1208

Abstract:
ABSTRAKTanaman patah tulang termasuk dalam famili Euphorbiaceae, merupakan jenis tanaman kebun yang tumbuh tegak hingga setinggi 2-6m. Kandungan senyawa metabolit sekunder tanaman Euphorbia tirucalli L yaitu flavonid, fenol, saponin, dan tanin Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan daun ranting tanaman patah tulang. Senyawa metabolit sekunder diperoleh dari proses ekstraksi dengan pelarut etanol menggunakan metode maserasi dan partisi. Metode penelitian skrining fitokimia dilakukan dengan uji warna menggunakan berbagai pereaksi. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian pada skrining fitokimia diperoleh positif mengandung flavonoid yang ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi kuning, tanin dan steroid sedangkan alkaloid, saponin dan triterpenoid negatif. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tanaman patah tulang mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, tanin dan steroid. Kata kunci : Pengetahuan; Kepatuhan; Tuberkulosis. ABSTRACTBroken bones plants belong to the family Euphorbiaceae, a type of garden plant that grows up to 2-6m tall. The content of secondary metabolites of Euphorbia tirucalli L plants namely flavonids, phenols, saponins, and tannins This study was conducted to determine the content of secondary metabolite compounds and the antioxidant activity of twig leaves of fractured plants. Secondary metabolites are obtained from the extraction process with ethanol solvent using maceration and partitioning methods. Phytochemical screening research methods are carried out by color testing using various reagents. The data analysis technique was carried out qualitatively. The results of the study on phytochemical screening showed that they positively contained flavonoids which were marked by changes in color to yellow, tannins and steroids while the alkaloids, saponins and triterpenoids were negative. This study can be concluded that fracture plants contain secondary metabolite compounds namely flavonoids, tannins and steroids. Keywords : Knowledge; Compliance; Tuberculosis.
Baiq Nurbaety, Abdul Rahman Wahid, Ekarani Suryaningsih
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 8-13; doi:10.31764/lf.v1i1.1205

Abstract:
ABSTRAKSemakin baik pengetahuan seseorang tentang pengobatan dan penyembuhan tuberkulosis maka kepatuhan dalam menjalani pengobatan juga akan baik sehingga keberhasilan pengobatan akan tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien terhadap keberhasilan terapi tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan observasional deskriptif dengan pendekatan cross secsional . Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien tuberkulosis dengan kategori pasien pindahan, kambuh, putus berobat, dan gagal yang sedang menjalani pengobatan di instalasi rawat inap dan rawat jalan Rumah Sakit Umum Provinsi NTB, dengan jumlah sampel sebanyak 31 responden. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini berupa kuisioner. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien adalah 32,25% berpengetahuan baik, 29,03% berpengetahuan cukup, dan 38,70% berpengetahuan kurang. Tingkat kepatuhan pasien adalah 38,70% tinggi, 29,03% sedang, dan 32,25% rendah. Gambaran tingakat pengetahuan pasien tuberkulosis di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB sebagian besar berpengetahuan kurang (38,70%), dan gambaran tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis sebagian besar dengan kepatuhan tinggi (38,70%). Kata kunci : Pengetahuan; Kepatuhan; Tuberkulosis. ABSTRACTThe better one’s knowledge of treatment will also be good so that the succes of treatment will be achieved. The purpose of this study was to determine the level of knowledge and compliance of patients with the success of tuberculosis therapy. This study uses an observational descriptive cross sectional approach. The population in this study were all tuberculosis patients in the category of patients moving, relapsing, dropping out of treatment, and falling who were undergoing treatment in the inpatient and outpatient care of the NTB provincial public hospital, with a total sample of 31 respondents. The measuring instrument used in this study was a questionnaire. The analysis used is univariate analysis. This result of this studyindicate that the level of knowledge of patients is 32,25% good knowledge, 29,03% have enough knowledge, 38,70% have less knowledge. The level of patient compliance was 38,70% high, 29,03% moderate, and 32,25% low. Description the level of knowledge of tuberculosis patients in NTB provincial general hospital most of the knowledge is lacking (38,70%), and description the level of compliance of tuberculosis patients mostly with high adherence (38,70%). Keywords : Knowledge; Compliance; Tuberculosis.
Nurul Qiyaam, Nur Furqani, Dara Junia Hartanti
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, Volume 1, pp 1-7; doi:10.31764/lf.v1i1.1197

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Back to Top Top