Journal Information
ISSN / EISSN : 2685-5321 / 2685-5321
Published by: Universitas Wahid Hasyim Semarang (10.31942)
Total articles ≅ 41
Filter:

Latest articles in this journal

Inayah Rahmawati Putri Utami, Sri Wahyuningsih, Shofia Nur Awami, Renan Subantoro
Published: 29 April 2021
Abstract:
Welfare is the final goal of the process of agricultural development in an area. The consumption pattern and the amount of consumption of farmer's household is an indication of the achievement of welfare in a farmer's household. This study aims to determine the consumption patterns of shallots farmers in the Pasir Village, determine the level of energy and protein adequacy of the household of the shallots farmers in the Sand Village and determine the level of food security of the shallots farmers in the Pasir Village (Johnsson and Toole model). Methods of data analysis were carried out using percentages of food expenditure, levels of energy and protein consumption, and cross indicators of food security levels. Sampling was done by purposive sampling method by dividing the two strata, strata I were 71 farmers and strata II were 33 farmers. The results of this study indicate that the percentage of food expenditure (PF) for strata I farmers is higher at 53.53% than strata II farmers at 40.15%. Shallot farmers in Pasir Village have been able to meet the energy and protein needs for household members, but have not yet reached the recommended AKE rate for WNPG XI in 2018 which is 2100 kcal / person / day. The food security status of strata I and II onion farmers in Pasir Village, Mijen District, Demak Regency is classified in the category of food security, namely the proportion of food expenditure ( 80%). Keywords: Consumption Pattern, Shallot, Energy, Protein.
Lestari Maulana, Elia Azizah, Winda Rianti, Sugiarto Sugiarto
Published: 29 April 2021
Abstract:
The aim of this study was to obtain the best temperature on several genotypes so as to increase the best viability and vigour of cauliflower seeds in the lowlands. The research was conducted at the Laboratory Agronomy, OPT and Soil Biotechnology Faculty of Agriculture, Singaperbangsa Karawang University. The research method used was an experimental method with a two-factor completely randomized design (CRD). The first factor is temperature which consists of room temperature without air conditioning (P0), air-conditioned room temperature (P1) and refrigerator temperature (P2). The second factor is genotypes consisting of Viola (B1), Tegar 45 (B2), Snow Waltz (B3), Jayanti (B4), Giga (B5), Snow White (B6), Diamond (B7), Orient (B8). , Roo So 45 (B9), Forum (B10), Bima (B11), F1 Hybrid (B12) and Arjuna (B13). Each treatment was repeated 2 times so that 78 experiments were obtained and 2 times planting (before and after storage). The results of the pre-storage experiment showed that there was no interaction between temperature treatment and several genotypes, but in the post-storage experiment, there were an interaction with the parameters of germination, concurrency of growth, vigor index and maximum growth potential, while for parameters of moisture content, normal germinated dry weight and length of sprouts. indicates there is no interaction. The best treatment was room temperature without AC genotype Roo So 45 (P0B9). Keywords: Cabbage flower, genotype, temperature, , viability, vigour.
Kiagus Muhammad Zain Basriwijaya, Fiddini Alham, Faoeza Hafiz Saragih
Published: 29 April 2021
Abstract:
Jumlah penduduk miskin Indonesia masih dikategorikan tinggi, BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada maret 2019 mencapai 25,14 juta penduduk dari total 267 juta penduduk. Hal ini yang menjadi dorongan hidup untuk setiap anggota keluarga bekerja terutama wanita ikut berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Pada keluarga yang tingkat perekonomiannya rendah peran wanita tidak hanya menjadi sebagai ibu rumah tangga saja tetapi wanita turut ikut bekerja mencari nafkah dalam meningkatkan pendapatan keluarga khususnya pada suami yang kurang dalam mencukupi kebutuhan keluarga, salah satunya dengan cara beternak itik. Para ibu rumah tangga ini berperan dalam membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai Peternak Itik. Ibu rumah tangga ini harus membagi waktunya untuk anak dan juga keluarga. Mereka dituntut untuk tetap mengurus rumah tangga, memperhatikan pendidikan anak, dan juga membantu perekonomian keluarga. Dengan melakukan pekerjaan ini mereka percaya bahwa dapat meringankan beban ekonomi keluarga melalui berdagang tanpa meninggalkan kewajiban mengurus rumah tangga. Hal ini mereka lakukan unuk mencapai keluarga makmur sejahtera sehingga mereka dapat meningkatkan ekonomi keluarga.
Erlin Wahyu Nur Khasanah, Eny Fuskhah, Sutarno Sutarno
Published: 29 April 2021
Abstract:
Cabai merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia. Cabai banyak dibudidayakan karena memiliki harga jual dan permintaan pasar yang tinggi. Perlu adanya stabilisasi untuk meningkatkan produksi cabai sehingga kebutuhan cabai dapat terpenuhi. Beberapa usaha untuk meningkatkan produksi cabai yaitu pemenuhan unsur hara berdasarkan kebutuhan tanaman cabai. Pemberian pupuk kandang mampu membantu menyediakan hara yang dibutuhkan tanaman cabai tanpa merusak tanah jika digunakan dalam waktu panjang. Peningkatan efektifitas pupuk kandang dapat dilakukan dengan penambahan biofertilizer seperti PGPR. Kombinasi pupuk kandang dan PGPR dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah, pertumbuhan, produksi tanaman cabai tanpa menyebabkan kerusakan lahan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2020 di Green House dan Laboratorium Ekologi dan Produksi Tanaman, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial 3x5 dengan 3 ulangan. Faktor pertama (P) yaitu pupuk kandang ayam (P1), pupuk kandang sapi (P2), pupuk kandang kambing (P3). Faktor kedua (B) terdiri dari kontrol/0 ml/liter (B0), PGPR komersial 5 ml/liter (B1), PGPR 5 ml/liter (B2), PGPR 12,5 ml/liter (B3) dan PGPR 20 ml/liter (B4). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Uji lanjut yang digunakan yaitu uji jarak berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kandang ayam memberikan pertumbuhan dan produksi terbaik pada variabel tinggi tanaman tetapi pupuk kandang ayam tidak berbeda nyata dengan pupuk kandang sapi pada bobot buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, dan berat segar tanaman. Perlakuan konsentrasi PGPR serta interaksi antara jenis pupuk kandang dan konsentrasi tidak berpengaruh pada semua variabel pengamatan.
Dwi Suci Lestariana, Shalahuddin Mukti Prabowo
Published: 29 April 2021
Abstract:
Melon dan cabai adalah komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan sangat diminati oleh masyarakt Indonesia. Kabupaten Klaten khususnya di Kecamatan Wedi termasuk pemasok melon di Pasar Jawa Tengah karena mempunyai luasan panen yang besar dengan rata-rata produksi 72,86 KwHa-1 dengan luasan panen 7 Ha akan tetapi hal ini tidak diimbangi dengan produksi cabai yang tinggi (hanya 3,2 KwHa-1 dengan luasan panen 5 Ha). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan produk hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi yaitu melon dan cabai yang dibudidayakan secara tumpang sari . Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Klaten. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial. Faktor pertama yaitu varietas cabai terdiri dari B1(cabai rawit merah ) dan B2 (cabai merah keriting) dan faktor kedua yaitu varietas melon yang terdiri M1 (melon putih) M2 (melon merah). Tiap perlakuan diulang 3 kali ditambah 4 perlakuan monokultur masing-masing untuk melon dan cabai sebagai kontrol, Data yang didapatkan kemudian dilakukan analisis secara deskriptif. Berdasarkan data pertumbuhan 2 varietas melon dan 2 varietas cabai pada sistem tumpangsari maupun monokultur dapat disimpulkan bahwa melon merah mempunyai kecenderungan respon pertumbuhan yang baik pada sistem tumpangsari dilihat dari indikator tinggi tanaman (97,53 cm), luas daun (1772,67 cm2) serta bobot biomass (68,86 g), untuk tanaman cabai yang memberikan kecenderungan hasil pertumbuhan yang terbaik adalah cabai keriting dengan indikator luas daun (523,97 cm2) serta bobot biomass (10,87 g). Untuk potensi hasil melon terbaik pada sistem tumpangsari cenderung didapatkan pada pola tumpangsari melon merah dan cabai rawit dengan potensi hasil 31,33 kg/petak tanam, sedangkan potensi hasil cabai terbaik didapatkan pada sistem tumpangsari melon putih dan cabai rawit dengan potensi hasil 4,60/petak tanam. Evaluasi tumpangsari dilakukan dengan mengukur nilai LER, AI, CR, dan ESP dengan kesimpulan bahwa sistem tumpangsari melon putih dan cabai rawit merah mempunyai potensi hasil paling baik dibandingkan dengan 3 perlakuan tumpangsari lainnya, yang diindikasikan dari nilai LER sebesar 1,21, Nilai AI cabai rawit sebesar 0,26 (positif) dan nilai ESP sistem pertanaman melon merah dan cabai rawit sebesar 0,62.
Galuh Banowati, Annisa Risqiana Nurhidayati
Published: 29 April 2021
Abstract:
Abstrak VCO mengandung berbagai jenis asam lemak yang juga merupakan bagian terbesar dari komposisi kandungan kimia pada semua jenis lemak dan minyak. Selain asam lemak yang merupakan komponen mayor, juga mengandung komponen minor berupa senyawa senyawa fenolik. Guna mendapatkan komposisi minor yang optimal, diduga dapat dipengaruhi salah satunya oleh umur panen kelapa yang digunakan. Untuk itu telah dilakukan penelitian pengaruh umur buah kelapa terhadap rendemen minyak VCO, dimana umur buah ditentukan melalui pendekatan tampilan visual kelapa tua, yaitu belum membentuk haustorium (T) dan sudah membentuk haustorium (ST). Penelitian ditujukan untuk mengetahui perbedaan rendemen minyak yang dihasilkan melalui proses pemancingan, adapun penelitian menggunakan metode eksperimental dengan 1 perlakuan, yaitu umur buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik endosperm (T) cenderung lebih tebal 2,7% dibandingkan endosperm (ST), akan tetapi persentase kanil cenderung lebih sedikit 3% pada satuan bobot yang sama. Hasil pemancingan minyak VCO menunjukan rendemen minyak yang dihasilkan dari kelapa T (haustorium belum terbentuk) 3,33% lebih tinggi dibandingkan dari kelapa ST (haustorium sudah terbentuk). Untuk itu untuk mendapatkan minyak VCO metode pemancingan, sebaiknya menggunakan bahan baku kelapa tua yang belum membentuk haustorium yang secara fisik ditandai dengan buah yang telah mengering dan belum tumbuh tunas. Kata kunci : rendemen VCO; umur buah Abstract VCO contains various types of fatty acids which are also the largest part of the chemical composition of all types of fats and oils. Beside fatty acids which are major components, they also contain minor components in form of phenolic. In order to get the optimal minor components, can be influenced by the age of the coconut is used. For this reason, research has been carried out on the effect of coconut fruit age on VCO oil yield, where age of the fruit is determined through the visual appearance approach of old coconut, which has not yet formed a haustorium (T) and has formed a haustorium (ST). Research was aimed to know the difference in yield of oil produced through fishing process, and it used experimental methods with 1 (one) treatment, the age of fruit. The results showed that physically endosperm (T) 2.7% thicker than endosperm (ST), but the percentage of coconut cream less than 3% from same weight endosperm. The results of VCO oil fishing show that the yield of oil produced from T coconut (haustorium has not been formed) is 3.33% higher than from ST coconut (haustorium has not been formed). For this reason, to get VCO oil with fishing method, should use old coconut raw materials that have not formed a haustorium which is physically marked by dried fruit and no buds have grown. Key notes : VCO yield; fruit age
Rifah Nur Hasanah, Sutaryo Sutaryo, Endang Purbowati, Retno Adiwinarti
Published: 29 April 2021
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam ransum terhadap produksi non karkas kelinci New Zealand White jantan. Perlakuan yang diberikan yaitu R1 = ransum tanpa tepung daun kelor dan R2 = ransum dengan kandungan tepung daun kelor 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi non karkas tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan pakan. Rata-rata bobot dan persentase non karkas 1.072,91 g dan 42,87%, bobot dan persentase kepala 238,81 g dan 22,27%, bobot dan persentase darah 66,59 g dan 6,21%, bobot dan persentase ekor 13,46 g dan 1,26%, bobot dan persentase kulit 250,30 g dan 23,22%, bobot dan persentase kaki 62,50 g dan 5,83% serta bobot dan persentase visera netto 234,23 g dan 21,80%. Simpulan penelitian ini adalah bahwa pemberian tepung daun kelor dan tanpa daun kelor memberikan hasil yang relatif sama terhadap produksi non karkas kelinci New Zealand White jantan.
Zulham Sirajuddin
Published: 29 April 2021
Abstract:
Briket arang tempurung kelapa merupakan salah satu solusi dalam menghadapi krisis BBM. Indonesia banyak menghasilkan limbah tempurung kelapa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan briket arang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tentang mutu terbaik briket arang tempurung kelapa ditinjau dari segi densitas bahan. Informasi ini dapat berguna bagi masyarakat yang tertarik untuk membuat briket. Dalam penelitian ini, 3 variasi kerapatan (densitas) yang digunakan adalah 0,78 g/cm3 (D1), 0,92 g/cm3 (D2), dan 1,05 g/cm3 (D3). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat densitas bahan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar zat menguap, kadar karbon, dan nilai kalor bahan. Tetapi tingkat densitas bahan berpengaruh nyata terhadap kuat tekan dan daya bakar bahan. Kuat tekan tertinggi pada D3 (1555,98x104 Pa), lalu D2 (1229,09x104 Pa), dan terendah pada D1 (565,51x104 Pa). Daya bakar tertinggi pada D1 (0,42 g/menit), lalu D2 (0,33 g/menit), dan terendah pada D1 (0,28 g/menit). Dengan hasil tersebut penulis berkesimpulan bahwa hasil terbaik diperoleh pada perlakuan D3 yaitu pada tingkat densitas 1,05 g/cm3.
, C Budiarti, S M Sayuthi
Published: 4 March 2020
Abstract:
This study aims to determine the effect of the addition of baking soda as a supplement of dairy cattle feed on blood sugar, lactose, and milk production. This study used the dairy cow FH lactation of the 2nd lactation period of 5th month lactation and 6th lactation of 12 with 2-3 years old. Dairy cow FH lactation has a weight of 389.17 ± 27 kg. The treatment used was the addition of baking soda with the level of 0.8% and 1.0%. This study used a ration consisting of soybean meal, corn, brand, meat bone meal, lactoplus and forage grass uganda feed. This study used a complete randomized design consisting of 3 replication and 4 treatments. The data obtained were analyzed using variance analysis and F test at 5% level. The results showed that the addition of baking soda as supplement had no significant effect on blood sugar, lactose, and milk (P> 0,05), but it can increase milk production without supplementation (T0). The conclusion of this research is that the addition of baking soda at the level of 0.8 and 1.0% has no significant effect on blood sugar, lactose, and cow milk production. Keywords: Baking soda,blood sugar,lactose and production of diary milk
Sinaga R P, E Suprijatna, S Kismiati
Published: 4 March 2020
Abstract:
The research aims to determine the influence of using Salvinia molesta with multienzyme additive in rations of tegal duck performans. This research uses 72 Tegal female ducks 22 weeks old. Feed ingredients used in the reasearch consisted of corn, soybean meal, oil, bran, fish meal, premix, methionine, lysine, Salvinia molesta and multienzyme additives. The reasearch was conducted with Completely Randomized Design with 6 treatments and 4 replications of the study. Each experimental unit consists of 3 ducks. Ransum namely: T0: feed without Salvinia molesta and enzyme; T1: feed without Salvinia molesta + multienzim; T2: feed with Salvinia molesta. 5% + without multienzymes; T3: feed with Salvinia molesta. 5% + multienzim; T4: feed with Salvinia molesta. 7,5% + multienzim; T5: feed with Salvinia molesta. 10% + multienzim. The result showed no significant treatment (P> 0,05) to consumtion of ration, feed conversion and Tegal duck eeg weightbut have an effect on hen day production (P
Back to Top Top