Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy

Journal Information
ISSN : 2656-8748
Total articles ≅ 10
Filter:

Latest articles in this journal

Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 1-22; doi:10.24042/ijitp.v1i2.5029

Abstract:
In the last few decades, one of the ethical problems that has taken a lot of public attention is the hoax problem on social media. Social media, which was originally created as a medium to facilitate the delivery of messages and information, is actually being misused to spread false news which eventually breeds hatred and animosity. One philosopher who is famous for his thoughts on ethical concepts, namely Epicurean. This article will discuss how the Epikuros ethical concept and its relevance to social media problems. This paper is classified in library research and uses the hermeneutical descriptive method. The typology of Epicurean thought belongs to the ethical theory of hedonism, Epicurean in its ethical thought establishes pleasure or pleasure (hedone) as the highest ideal in human life. The intended enjoyment is not only from the material aspect, but the most important thing is the enjoyment of the soul which is referred to as ataraxia. To achieve ataraxia that is by trying to avoid suffering and anxiety. According to Epicureans, in order to avoid suffering and anxiety, humans must have the attitude of phronesis or prudence, which is interpreted as an attitude of vigilance. When connected with social media problems, this attitude of vigilance is very relevant and important to be owned by every individual as a user of social media, so as not to become part of the chain of hoax distribution.
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 45-62; doi:10.24042/ijitp.v1i2.5028

Abstract:
Dalam lintasan sejarah, umat muslim pernah mengalami masa kejayaannya, dimana dalam banyak bidang ilmu pengetahuan dikuasai oleh kaum muslim, hingga menjadi kiblat dunia. Kenyataan tersebut seharusnya menjadi motivasi bagi umat muslim untuk bangkit dari keterpurukan seperti kondisi saat ini. Mirisnya umat muslim mengagap kejayaan tersebut tidak lebih hanya sebatas sesuatu yang dibangga-banggakan, lebih jauh lagi umat muslim merasa bahwa teks yang dihasilkan sudah final dan tidak perlu mengadakan usaha kajian kritis pada telaah pustaka dan realitas yang melingkupi kehidupan mereka. Akan tetapi paradigma tersebut tidak berlaku bagi Al- Afgani dan Abduh, pasalnya kedua tokoh ini gencar menyuarakan pentingnya nalar-rasional dalam pengkajian agama dan pentingnya meneladani perilaku pendahulunya, keduanya sadar bahwa era kebangkitan penting dilakukan oleh umat muslim. Dalam artikel ini akan membahas bagaimana pemikiran agama dengan nalar modernitas perspektif al-Afghani dan Abduh? Penelitian ini menggunakan metode diskrptif analisis. Menurut al-Afgani dan Abduh, dalam bidang sosial-politik perlu adanya persatuan, keterbukaan dan kerjasama yang dibangun guna untuk mendapatkan nilai luhur dan menjadi bagian dari kemajuan.
Yeni Setianingsih
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 63-84; doi:10.24042/ijitp.v1i2.4930

Abstract:
Based on observations made by the senses on events that occur around humans, in the treasury of philosophy there are two ways to draw a conclusion, namely deductive and inductive. Francis Bacon is a philosopher who is known by the principle of thinking that is Induktivism-Empiricism. This method can also be applied in the study of religious knowledge that is related to the establishment of law or known as figh. This article will explore how Bacon's Inductivism-Empiricalism thought and its relevance to the science of religion. This article uses a descriptive analysis method. Bacon's thinking is that conclusions are drawn from something specific and then drawn to the general. With an objective assessment, this method is able to solve religious problems that are now popping up a lot.
Sugianto Sugianto
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 85-100; doi:10.24042/ijitp.v1i2.5076

Abstract:
Agama adalah panduan hidup bagi pemeluknya agar tercipta kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, namun akhir-akhir ini muncul sifat beragama yang eksklusif dan radikal, sehingga melahirkan fenomena ekstrim dan intoleran dalam beragama. Salah satu Intelektual muslim yakni Ibnu Arabi mempunyai konsep yang dapat dijadikan solusi bagi permasalahan diatas, konsep itu dikenal dengan konsep kesatuan wujud tunggal (wahdat al-wujud). Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep kesatuan wujud tunggal dalam membentuk toleransi beragama. Penelitian ini tergolong dalam penelitian kepustakaan dan menggunakan metode diskriptif analisis. Di dalam konsep wahdat al-wujud Ibnu Arabi, terkandung sifat Inklusif dan permisif dalam beragama, karakter inilah sebagai landasan dalam mewujudkan peradaban yang damai dan harmonis. Segala sesuatu yang ada merupakan manefestasi dari wujud hakiki, yaitu wujud yang wajib ada (wajib al-wujud). Wujud tersebut tercermin dalam tiga level, yaitu: ahadiyah, wahiddiyah dan tajalli syuhudi. Sehingga agama dari khasanah spiritual atau esoteris bisa saling menyapa dan terhindar dari sikap intoleran dalam beragama.
Akbar Tanjung
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 23-44; doi:10.24042/ijitp.v1i2.3728

Abstract:
Advances in science and technology have made many human activities easier. Such as convenience in transportation, communication, industry, and security. However, it cannot be denied that many negative impacts are also caused by science and technology, including the environment. The problem that originally wanted to be solved by science and technology turned out to be even more complicated. This study will examine how the characteristics and implications of modern Western science on the environment in a Theological review. This research uses the method of abstraction, holistica, and hermeneutical circles. characteristics of modern Western science are based on rationalists, empiricists, and anthropocentric. So that it has bad implications for the environment, the pattern of human interaction with the environment becomes destructive and exploitative of nature.
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 19-44; doi:10.24042/ijitp.v1i1.3902

Abstract:
Umat Islam semestinya menjadi sarana perwujudan rahmat dan kasih sayang Tuhan bagi sesama makhluk. Sayangnya, pesan yang mengandung nilai-nilai humanis, toleran, dan demokrasi dibalik teks-teks suci tersebut telah dirampas oleh kelompok yang mengatasnamakan “wakil Tuhan”dibumi. Akibatnya, tindakan kesewenang-wenangan di balik nama agama masih menjadi persoalan. Abou El Fadl memetakan dua aliran besar di dalam Islam yaitu Puritanisme dan moderatisme. Penelitian ini akan mengetengahkan bagaimana pemikiran Hermeneutika Khaled M. Abou El Fadl terhadap aliran puritanisme dan moderatisme dalam Islam? Penelitian ini tergolong dalam penelitian pustaka, jalannya penelitian ini peneliti menggunakan metode deskriptif analisis. Hermeneutika Abou El-Fadl dapat disebut ‘hermeneutika negosiatif’. Menurutnya, makna harus merupakan hasil interaksi antara pengarang, teks, dan pembaca, di mana harus ada keseimbangan (balancing) dan proses negosiasi antara ketiga pihak, serta salah satu pihak tidak boleh mendominasi dalam proses penetapan makna. Selain itu, Abou El Fadl secara implisit mengandung semangat Gadamerian yang membaca teks secara subjektif, implikasinya seluruh interpretasi tidaklah bersifat final namun relatif.
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 63-78; doi:10.24042/ijitp.v1i1.4097

Abstract:
Konsep negara demokrasi menjadi sebuah konsep yang di dengungkan oleh banyak negara selama beberapa abad terakhir ini, konsep negara demokrasi seakan-akan menjadi sebuah konsep negara yang sangat ideal bagi banyak negara yang menerapkannya, Sedang pada kenyataannya, banyak problematika yang terdapat dalam sistem demokrasi itu sendiri, sistem demokrasi yang menentukan suara terbanyak dalam penentuan seorang pemimpin tanpa melihat kualitas calon pemimpin menjadi salah satu titik kelemahan dalam sistem demokrasi. Penelitian ini akan membahas bagaimana konsep Negara ideal dalam pemikiran al-Farabi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif analisis dan bersifat kualitatif. Al-Farabi mengemukakan teori al-Madīnah al-Fāḍilah untuk mengharmonikan antara agama dan filsafat. Konsep kenegaraan yang terdapat dalam teori al-Farabi ini banyak mencontoh bentuk dan hakikat kepimpinan Rasullullah Saw sebagai seorang Rasul dan khalifah. Disamping itu juga, Konsep negara ideal dalam gagasanya dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan juga Aristoteles, khususnya gagasan tentang manusia sebagai makhluk sosial, selain itu juga al-Farabi juga dipengaruhi banyaknya peristiwa sosial politik pada masa khalifah Abbasyiah. Pertentangan politik, pemberontakan, stabilitas politik dan keamanan yang tidak terjamin menjadi faktor utama gagasan tersebut muncul.
Siti Amallia
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 1-18; doi:10.24042/ijitp.v1i1.3903

Abstract:
Religion in life aside from functioning as a guide to life individually, religion also functions as an instrument in dealing with all differences. But now, religion in empirical reality begins to lose its social function. religious guidance that teaches to live peacefully and love one another, turns into a disaster that hates and destroys each other. Therefore, the discussion that will be examined in this article is: How does perennial philosophy explain the nature of religion? This problem will be examined by researchers with a descriptive approach, hermeneutics, and historical continuity. The nature of religion in the perspective of perennial philosophy can be seen from two sides, namely exoteric and esoteric. The exoteric side sees the nature of religion in terms of forms related to historicity, culture, customs, and ethnicity in certain societies. While the esoteric side sees the nature of religion by finding common ground to trace the historical chain of the growth of religion. The meeting point is located at the level of substance that has a transcendent unity. So, from an esoteric point of view the nature of religion is one not divided, but from this one radiates various truths. When the nature of religion is seen in different forms, then it is of relative value, because each adherent of the religion has an exclusive claim about the religion that is adhered to. But when religion is seen in transcendent unity, that is called absolute truth.
Ridho Putra
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 45-62; doi:10.24042/ijitp.v1i1.4096

Abstract:
Negara yang ideal pada hakikatnya adalah suatu keluarga, sehingga dalam suatu negara semua bersaudara. Karenanya setiap warga negara haruslah bersikap kekeluargaan yang mencerminkan adanya kerukukunan dan keharmonisan, baik di kalangan elite pemerintahan maupun rakyatnya. Mirisnya, Negara telah dijadikan alat untuk memuaskan keinginan bagi para penguasa. Yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana bentuk negara ideal menurut Ali Abdul Raziq? Dan apa relevansi negara ideal Ali Abdul Raziq terhadap pancasila di Indonesia?Tulisan ini adalah hasil studi pustaka. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitis dan penalaran deduktif. Negara ideal menurut Ali Abdul Raziq ialah negara yang berasaskan humanisme universal yang memperjuang-kan rakyatnya, demokrasi dan keadilan sosial, yaitu negara sekuler bagi kaum muslimin dan non muslim yang hidup di negara itu. Sementara relevansi pemikiran negara ideal Ali Abdul Raziq dengan Pancasila adalah jika nilai-nilai demokrasi, keadilan sosial berasaskan humanisme yang harus diberikan kepada setiap manusia tanpa memandang label agamanya, maka negara ideal yang dimaksud Ali Abdul Raziq relevan dengan filosofi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Indonesia bukan negara sekuler dan juga bukan negara agama, tetapi berada di tengah-tengah, yaitu nilai-nilai agama diintegrasikan ke dalam hukum negara.
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, Volume 1, pp 79-94; doi:10.24042/ijitp.v1i1.4095

Abstract:
Kebahagiaan merupakan impian bagi setiap manusia, akan tetapi masih banyak manusia yang tidak berhasil mencapai kebahagiaan, hal ini disebabkan karena belum memahami arti dan cara mencapai kebahagiaan. Tulisan ini akan membahas bagaimana mencapai kebahagiaan dalam bimbingan rasionalitas menurut pemikiran al-Kindi. Kajian ini menggunakan metode verstehen. Hasil kajian menunjukkan bahwa bagi al-Kindi, berfikir rasional adalah keutamaan, yang berarti meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan. sehingga kebahagiaan dapat dicapai dengan cara mengetahui keutamaan dan bertingkah laku sesuai dengan tuntutan keutamaan tersebut.
Back to Top Top