KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran

Journal Information
EISSN : 27156419
Total articles ≅ 10
Filter:

Latest articles in this journal

Risma Ikawaty
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2869

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Sawitri Boengas
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2573

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Sajuni Widjaja
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2570

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ummy Maisarah Rasyidah
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2485

Abstract:
—Diarrhea becomes the second disease after ARI that causes morbidity and death in Indonesia. Riskesdas in 2007 shows diarrhea as an infectious disease with high morbidity and mortality rates. The morbidity survey by the Directorate General of Disease Control and Environmental Health of the Ministry of Health from 2000 - 2010 showed a tendency for the incidence of diarrheal disease to rise, namely the 2000 Incidence Rate of diarrheal disease 301/1000 population, in 2003 it rose to 374/1000 population, in 2006 it became 423 / 1000 residents and in 2010 became 411/1000 residents. This paper wants to find out the preventive actions taken by the government in controlling diarrheal diseases in terms of environmental sanitation. Literature searches are conducted online and manually on scientific publications in Indonesian or English, with keywords in the form of diarrheal disease, environmental sanitation, public health efforts, government and health offices. The results show that from 25 related publications, 17 publications discuss diarrhea and 8 publications discuss environmental sanitation. The conclusion obtained is the incidence of diarrhea fluctuates from year to year. An increase in diarrheal disease is associated with poor environmental sanitation, the root of which is the lack of awareness and knowledge in particular rural communities to maintain and preserve and carry out healthy living behaviors to break the cycle of diarrheal transmission in Indonesia. Abstrak—Diare menjadi penyakit kedua setelah ISPA yang menyebabkan kejadian kesakitan maupun kematian di Indonesia. Riskesdas tahun 2007 menunjukkan diare sebagai penyakit menular dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Tulisan ini ingin mengetahui tindakan preventif yang dilakukan pemerintah dalam usaha mengendalikan terjadinya penyakit diare ditinjau dari sanitasi lingkungan. Penelusuran literatur dilakukan secara online dan manual terhadap publikasi ilmiah berbahasa Indonesia atau Inggris, dengan kata kunci berupa penyakit diare, sanitasi lingkungan, usaha kesehatan masyarakat, pemerintah dan dinas kesehatan. Hasil amatan menunjukkan dari 25 publikasi yang berkaitan, 17 publikasi membahas tentang diare dan 8 publikasi membahas tentang sanitasi lingkungan. Kesimpulan yang didapatkan adalah angka insiden diare berfluktuasi dari tahun ke tahun. Peningkatan penyakit diare berhubungan dengan buruknya sanitasi lingkungan yang akar permasalahannya terdapat pada kurang kesadaran dan pengetahun pada khususnya masyarakat pedesaan untuk menjaga dan melestarikan serta melakukan perilaku hidup sehat untuk memutuskan siklus rantai penularan penyakit diare di Indonesia.
Baharuddin Baharuddin
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2484

Abstract:
Fructose is a natural ingredient that is widely used as a sweetener substitute for glucose. Effectiveness and efficiency are the main reason so many industries use fructose to be consumed. Dosage is based on the toxicity of fructose consumption is divided into: a low-dose, medium-dose and high dose. It said consumption of high doses when someone is 100g / day or more. Many products it does not include the type and quantity of sugar fructose in food and beverage packaging and lack of knowledge lead to uncontrolled fructose consumption in developed countries. Consequences of uncontrolled doses can lead to liver disorder and others tissue. The liver is the organ forming fatty compounds as a homeostatic mechanism. Fructose is based on theoretical and experimental likely responsible for the formation of steatosis. In the organoleptic inspection on the provision of high doses of fructose seen their fat droplets are large, which indicates steatosis. Nevertheless still needed histopathology for diagnosis. Additionally duration of fructose to animals try to be more prolonged (> 2 months) to see the response to the homeostasis of the body fat is formed. Abstrak.Fruktosa merupakan bahan alam yang digunakan secara luas sebagai pemanis pengganti glukosa. Efektivitas dan efisiensi menjadi alasan utama sehingga banyak industri menggunakan fruktosa untuk dikonsumsi. Dosis konsumsi fruktosa berdasarkan toksisitas dibagi menjadi: dosis rendah, dosis sedang dan dosis tinggi. Dikatakan dosis tinggi ketika konsumsi seseorang berada di 100gr/hari atau lebih. Tidak dicantumkannya jenis gula dan kuatitas fruktosa dalam bahan makanan dan minuman kemasan serta kurangnya pengetahuan mengakibatkan konsumsi fruktosa tidak terkontrol pada negara-negara maju. Konsekuensi dosis yang tidak terkontrol ini dapat mengakibatkan gangguan pada organ hati. Hati merupakan organ pembentuk senyawa lemak sebagai mekanisme homeostasis. Fruktosa berdasarkan teoritik dan eksperimental kemungkinan besar bertanggung jawab terhadap pembentukan steatosis. Pada pemeriksaan secara organoleptik pada pemberian fruktosa dosis tinggi terlihat adanya droplet lemak berukuran besar yang menandakan adanya steatosis. Walaupun demikian masih sangat dibutuhkan pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosa. Selain itu durasi pemberian fruktosa terhadap hewan coba harus lebih diperpanjang (>2 bulan) untuk melihat tanggapan homeostasis tubuh terhadap lemak yang terbentuk.
Lucia Pudyastuti Retnaningtyas
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2486

Abstract:
—Henoch-Schonlein purpura (HSP) is a systemic vasculitic disease (vascular inflammation) characterized by the deposition of immune complexes consisting of IgA in kidney skin. This disease is called Anaphylactoid purpura, rheumatic Purpura, Schonlein-Henoch purpura. In this case, the patient complained of the appearance of red spots on the legs to the buttocks within three days and did not feel itchy. Ankle pain and can not be moved, and do not feel nausea, fever, heartburn, and others. Examination of the extremities contained red lesions and was more prominent than other skin surfaces. Diagnosis of patients suspected of having Henoch-Schonlien purpura. Treatment of HSP patients with Prednisone at a dose of 2 mg/kg/day which is divided into three doses. On the third-day purpura decreases tend to thin out and enkle pain disappears on the fifth day. Red spots appear, after therapy is stopped for 1 month. HSP sufferers 94% recover in children and 89% in adults. HSP recuration is more common in children over the age of 10 years and a kidney biopsy must be performed to determine subsequent therapy. Abstrak—Henoch-Schonlein purpura (HSP) adalah penyakit vaskulitik sistematik (inflamasi vaskuler) ditandai dengan deposisi komplek imun yang terdiri dari IgA pada kulit ginjal. Penyakit ini disebut Anaphylactoid purpura, Purpura rheumatic, Schonlein-Henoch purpura. Pada kasus ini pasien mengeluh timbulnya bercak merah pada kaki sampai bagian pantat dalam waktu tiga hari dan tidak merasa gatal-gatal. Pergelangan kaki nyeri dan tidak bisa digerakkan, serta tidak merasa mual, demam, nyeri ulu hati dan lain-lain. Pemeriksaan ekstremitas terdapat lesi merah dan lebih menonjol dibandingkan premukaan kulit lain. Diagnosa pasien di duga menderita Henoch-Schonlien purpura. Pengobatan pasien HSP dengan Prednison dengan dosis 2mg/kgBB/hari yang terbagi dalam tiga dosis. Pada hari ketiga purpura berkurang cenderung menipis dan nyeri enkle menghilang pada hari kelima. Bercak merah timbul, setelah terapi dihentikan selama 1 bulan. Penderita HSP 94% sembuh pada anak-anak dan 89% pada dewasa. Rekurnasi HSP lebih sering terjadi pada anak usia diatas 10 tahun dan biopsi ginjal harus dilakukan untuk menentukan terapi selanjutnya.
Amelia Lorensia, Zullies Ikawati, Tri Murti Andayani, Daniel Maranatha, Rizki Amalia
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2487

Abstract:
—Asthma is a heterogeneous disease, which is characterized by inflammation of the respiratory tract with respiratory classification such as wheezing, shortness of breath, distress in the chest and coughing over time and intensity with variations in expiratory air flow. In Indonesia the prevalence of asthma is uncertain, it is not estimated that 2-5% of Indonesia's population has asthma. The main objective of this study is to study gastrointestinal-related cases of the use of aminophylline and salbutamol in asthma exacerbation patients in hospitals in Surabaya and also to discuss gastrointestinal problems related to ADRs (Bad Drug Reactions) using the use of aminophylline and salbutamol on Naranjo scale. In this study using the Quasi Experimental method. This research was conducted in October 2014 to February 2015. The results of the study of 7 samples obtained 14.29% using ADR from the use of aminophylline and from 13 patients in the use of salbutamol was not found ADR can be used in accordance with the existing salbutamol in patients with asthma exacerbations at hospitals in Surabaya. The general benefits of this study are useful in monitoring the treatment of acute asthma patients who need salbutamol and theophylline therapy so as to reduce the incidence of ADR. Abstrak—Asma merupakan penyakit heterogen, yang ditandai dengan peradangan saluran napas kronis dengan disertai riwayat gejala pernapasan seperti mengi, sesak napas, rasa tertekan di dada dan batuk dari waktu ke waktu dan intensitas dengan variasi keterbatasan aliran udara ekspirasi. Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan 2-5 % penduduk Indonesia menderita asma. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kejadian gangguan gastrointestinal pada penggunaan aminofilin dan salbutamol pada pasien eksaserbasi asma di Rumah Sakit di Surabaya serta mengetahui kejadian gangguan gastrointestinal terkait ADRs (Adverse Drug Reaction) akibat penggunaan aminofilin dan salbutamol berdasarkan penilaian Naranjo scale. Pada penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperimental. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2014 sampai Februari 2015. Hasil penelitian dari 7 sampel diperoleh 14,29% mengalami ADR dari penggunaan aminofilin dan dari 13 pasien pada pengguanaan salbutamol tidak ditemukan ADR sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kejadian gangguan gastrointestinal pada penggunaan aminofilin dan salbutamol pada pasien eksaserbasi asma di Rumah Sakit di Surabaya. Manfaat umum dari penelitian ini adalah berguna dalam monitoring pengobatan pasien asma akut terutama yang mendapat terapi salbutamol dan teofilin sehingga dapat mengurangi angka kejadian ADR.
Fransiska Fransiska
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2495

Abstract:
— Aminoglicoside are categorized as cochleotoxic and vestibulotoxic drugs that can cause patients to experience hearing loss or vertigo, depends on what type of aminoglicoside consumed. This paper discuss type, pharmaceutical preparation, pharmacokinetics, work mechanism and clinical use of aminoglycoside. How to diagnose, treatment, and also how to prevent aminoglicoside ototoxicity are also explained further in this paper. Abstrak— Golongan obat aminoglikosida mampu menyebabkan kokleotoksik, maupun vestibulotoksik sehingga penderita mengalami penurunan pendengaran atau vertigo. Hal tersebut tergantung dari jenis aminoglikosida yang dikonsumsi. Tulisan ini membahas berbagai jenis aminoglikosida, sediaan, farmakokinetik, mekanisme kerja, dan penggunaannya secara klinis. Diagnosis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, terapi, dan pencegahan ototoksisitas yang disebabkan oleh aminoglikosida turut dipaparkan lengkap.
Anita Dahliana
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2488

Abstract:
This research was conducted to determine the motivation of BPJS Health participants as independent participants. In this study, researchers used a motivational theory developed by Clayton Alderfer with three indicators namely Existence, Relatedness and Growth with a descriptive quantitative research approach with non-random sampling using a purposive method using conditions in selecting respondents ie respondents were outpatients in Specialist Poly Wiyung Hospital, Surabaya. The selected respondents were 43 people.The results of this study were the discovery of community motivation as independent health insurance participants. Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui motivasi peserta BPJS Kesehatan sebagai peserta mandiri. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori motivasi yang dikembangkan oleh Clayton Alderfer dengan tiga indikator yaitu Existence, Relatedness dan Growth dengan pendekatan penelitian kuantitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel non-random menggunakan cara purposive, yakni pemilihan responden menggunakan syarat tertentu (responden adalah pasien rawat jalan di Poli Spesialis RS Wiyung Surabaya). Responden yang dipilih berjumlah 43 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya motivasi masyarakat yang menjadi peserta mandiri jaminan kesehatan.
Dita Sukmaya Prawitasari
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2496

Abstract:
— Diabetes mellitus is widely known as one of the non-transmittable diseases which is a global problem because its incidence is increasing every year throughout the world. The condition of hyperglycemia in diabetes mellitus has a very influential effect on endothelial blood vessels due to the process of glucose auto-oxidation in forming free radicals which in turn will produce macro and microvascular dysfunction. Next, this condition will further increase morbidity and mortality rates in people with diabetes mellitus. The using of antioxidants in patients with diabetes mellitus was found to be effective in reducing the emergence of arising complications. This is supported by various the benefits of antioxidants related to pathological process of diabetes mellitus due to conditions of oxidative stress. In the future, the safety and effectiveness of supplements or food contain antioxidants in an effort to overcome the condition of diabetes must still be proven further. Abstrak— Diabetes melitus banyak dikenal sebagai salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah global karena insidensinya setiap tahun yang terus meningkat di seluruh dunia. Kondisi hiperglikemia pada diabetes melitus mempunyai efek yang sangat berpengaruh pada endotel pembuluh darah akibat adanya proses auto-oksidasi glukosa dalam membentuk radikal bebas yang pada akhirnya akan menghasilkan disfungsi makro dan mikrovaskular. Kondisi inilah yang selanjutnya akan menimbulkan komplikasi yang selanjutnya akan meningkatkan angka morbiditas maupun mortalitas pada penderita diabetes melitus. Penggunaan antioksidan pada penderita diabetes melitus ternyata diketahui efektif dalam mengurangi munculnya komplikasi yang timbul. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian yang membuktikan manfaat antioksidan terkait proses patologi dari diabetes mellitus akibat kondisi stres oksidatif. Pada masa yang akan datang, keamanan dan keefektifan suplemen atau makanan yang mengandung antioksidan dalam upaya mengatasi kondisi diabetes tetap harus dibuktikan lebih lanjut.
Back to Top Top