KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran

Journal Information
EISSN : 2715-6419
Current Publisher: University of Surabaya (10.24123)
Total articles ≅ 21
Filter:

Latest articles in this journal

Muhammad Luthfi Adnan
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 2, pp 56-63; doi:10.24123/kesdok.v2i1.2970

Abstract:
— Dengue fever (DF), dengue hemorrhagic fever (DHF), and dengue shock syndrome (DSS) caused by the DENV virus are among the global problems regarding mosquito-borne viral infections. The DENV virus is transmitted through Aedes aegypti causing clinical manifestations that can cause critical illness for patients. The need for effective antiviral therapy is needed to treat DENV virus infections. 1-Deoxynojirimycin (DNJ), one of the many imino sugars found in mulberry leaves and several strains of bacteria, has potential as an antiviral against DENV virus infection. The antiviral activity of DNJ works as an inhibitor of the α-glucosidase enzyme which is important in virus secretion so that it affects the infection rate. DNJ also has the effect of boosting the immune system to initiate an immune response to a viral infection. Further research is needed to develop DNJ as an effective antiviral DENV in the future. Keywords: antiviral, dengue, iminosugar, therapy Abstrak— Dengue fever (DF), dengue hemorraghic fever (DHF), dan dengue shock syndrome (DSS) yang disebabkan oleh virus DENV merupakan salah satu permasalahan global mengenai infeksi virus. Virus DENV ditularkan melalui Aedes aegypti menyebabkan manifestasi klinis yang dapat menimbulkan kesakiatn kritis bagi pasien. kebutuhan terapi antiviral yang efektif diperlukan untuk mengobati infeksi virus DENV. 1-Deoxynojirimycin (DNJ), salah satu iminosugar yang banyak terdapat pada daun mulberry dan beberapa strain bakteri, memiliki potensi sebagai antiviral terhadap infeksi virus DENV. Aktivitas antiviral DNJ bekerja sebagai penghambat enzim α-glukosidase yang penting dalam sekresi virus sehingga mempengaruhi tingkat infeksi. DNJ juga memiliki efek meningkatkan sistem imun untuk menginisiasi respon imun terhadap infeksi virus. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan DNJ sebagai antiviral DENV yang efektif di masa depan. Kata kunci: antiviral, dengue, iminosugar, therapy
Mariana Wahjudi
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 2, pp 32-42; doi:10.24123/kesdok.v2i1.2994

Abstract:
—The governance of COVID-19 cases in Indonesia is carried out in accordance with the WHO directions. Serological tests, often mentioned as rapid antibody tests, are used for mass screening testing while the polymerase-chain-reaction (PCR)-based tests are performed for routine confirmation of COVID-19 infection cases. PCR test is one of nucleic acid amplification tests (NAAT) for detection of viral RNA. The management of the COVID-19 detection caused controversies at the beginning of pandemic period. It seems that the controversies occurred due to misperception regarding the tests, as well as misunderstanding caused by differences in individual immune responses, viral dynamics in human bodies and clinical outcomes. In response to community opinion controversies, this paper discuss the following topics, i.e. a glimpse about COVID-19, the characteristics of SARS-CoV-2, viral dynamics in human body, the dynamics of human immune response to SARS-CoV-2, basic explanation about COVID-19 and SARS-CoV-2 testing, and the last part explained the occurred controversies. Keywords: Indonesia, polymerase chain reaction, rapid test, SARS-CoV-2, serology Abstrak— Penetapan pelaksanaan deteksi kasus COVID-19 di Indonesia dilaksanakan sesuai arahan WHO. Uji serologis atau rapid test antibodi digunakan untuk test atau skrining massal sedangkan untuk uji berbasis polymerase-chain-reaction (PCR) digunakan untuk konfirmasi rutin kasus infeksi COVID-19. Uji molekuler secara PCR merupakan salah satu metode nucleic acid amplification tests (NAAT), untuk mendeteksi RNA virus. Penatalaksanaan deteksi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) ini di awal masa pandemik menimbulkan berbagai kontroversi di masyarakat. Kontroversi terjadi terutama karena pemahaman yang berbeda dari masyarakat mengenai prinsip pengujian dan adanya salah pengertian akibat adanya perbedaan respon immun antar individu, dinamika virus COVID-19 dalam tubuh orang terinfeksi, dan luaran klinis pasien. Menanggapi kontroversi pendapat di masyarakat maka pada tulisan ini dibahas tentang sekilas COVID-19, karakteristik SARS-CoV-2, dinamika virus dan pembentukan antibodi dalam tubuh manusia, penjelasan prinsip pengujian COVID-19 dan SAR-CoV-2 serta ulasan tentang kontroversi yang terjadi. Kata kunci: Indonesia, polymerase chain reaction, rapid test, SARS-CoV-2, serology
Putu Srinata Dampati, Elvina Veronica
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 2, pp 23-31; doi:10.24123/kesdok.v2i1.3020

Abstract:
—Skin cancer is in the third rank in Indonesia. One of the causes of skin cancer is excessive exposure to ultraviolet rays from the sun. Ultraviolet radiation forms Reactive Oxygen Species that disrupts the regulation of the cell-matrix and causes photoaging and the burden of gene mutations that cause carcinogenesis. Black garlic is fermented garlic with a certain duration, temperature, and humidity. Black garlic has higher levels of antioxidants than garlic. Aimsresearch to determine the potential of black garlic extract as a sunscreen against ultraviolet rays. Literature study using literature review articles and research articles from international and national journals within the last ten years. Result research show black garlic extract protects the skin from ultraviolet radiation, acts as a photoprotector, prevents photoaging by stimulating fibroblast orders and prevents collagen I degradation, and prevents carcinogenesis. Black Garlic extract has a potency become sunscreen against ultraviolet exposure due to its antioxidant content. Further research is needed on the dosage and side effects. Keywords: antioxidants, black garlic, reactive oxgyen species, ultraviolet Abstrak— Kanker kulit menduduki peringkat tiga kanker terbanyak di Indonesia. Salah satu penyebab kanker kulit adalah paparan sinar ultraviolet matahari yang berlebih. Radiasi sinar ultraviolet membentuk reactive oxygen species yang mengganggu regulasi matriks sel dan menimbulkan photoaging serta memicu mutasi gen yang menyebabkan karsinogenesis. Bawang hitam merupakan bawang putih yang difermentasi dengan waktu, suhu, dan kelembapan tertentu. Bawang hitam mengandung antioksidan yang lebih tinggi dari bawang putih. Tujuan penelitian mengetahui potensi ekstrak bawang hitam sebagai tabir surya terhadap paparan sinar ultraviolet.Studi pustaka menggunakan artikel literature review dan artikel penelitian di jurnal internasional dan nasional dalam 10 tahun terakhir. Hasil: Ekstrak bawang hitam kaya akan antioksidan yang dapat melindungi kulit dari radiasi sinar ultraviolet, berperan sebagai fotoprotektor, mencegah photoaging dengan menstimulasi pembentukan fibroblas dan mencegah degradasi kolagen I, dan mencegah karsinogenesis. Ekstrak bawang putih berpotensi sebagai tabir surya terhadap paparan sinar ultraviolet karena kandungan antioksidannya. Perlu penelitian lebih lanjut tentang dosis dan efek samping yang ditimbulkan. Kata kunci: antioksidan, bawang hitam, reactive oxgyen species, ultraviolet
Dwi Martha Nur Aditya
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 2, pp 50-55; doi:10.24123/kesdok.v2i1.3098

Abstract:
— A few months ago there was Covid-19 virus outbreak by SARS-CoV-19 virus which has clinical manifestations, one of which is Anosmia. Anosmia cause patient was experienced smell’s decreasing which causes psychological problems that loss of comfort and appetite. This condition may also cause imunity’s decreasing in patient. Anosmia in Covid-19 patients could be temporary, if the body's immune system is maintained in good condition, one of the factors is continuing provide healthy and nutritious food intake, even though in tasteless conditions. Therefore, this article can be used as an educational material for the public, how to understand the neurobiological conditions of anosmia in Covid-19, further to avoid depressed due to loss of taste which could be lead to loss appetite. Keywords: Covid-19, Anosmia, Neurobiology Abstrak— Beberapa bulan lalu telah terjadi penyebaran wabah virus Covid-19 oleh SARS-CoV-19 virus yang memiliki manifestasi klinis salah satunya adalah Anosmia. Kondisi anosmia menyebabkan kondisi pasien mengalami penurunan daya penciuman yang menyebabkan gangguan psikologis berupa kehilangan rasa nyaman dan kehilangan napsu makan. Kondisi ini sudah barang tentu akan menyebabkan penurunan daya imunitas pasien. Anosmia pada pasien Covid-19 bersifat sementara, apabila daya imunitas tubuh tetap dijaga dalam keadaan baik, salah satu faktornya adalah tetap memberikan asupan makan sehat dan bergizi, meskipun dalam kondisi tasteless. Oleh karena itu, dengan adanya artikel ini dapat digunakan sebagai bahan edukasi kepada khalayak, bagaimana memahami kondisi anosmia pada Covid-19 secara neurobiologi, sehingga dapat menghindarkan rasa depresi karena kehilangan rasa akan makaman yang dapat menyebabkan turunnya napsu makan. Kata kunci: Covid-19, Anosmia, Neurobiologi
Heru Wijono
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 2, pp 43-49; doi:10.24123/kesdok.v2i1.2810

Abstract:
— Covid -19, a virus strain and a member of family with known member as Severe Acute Respiratory Disease (SARS) or Middle East Respiratory Syndrome (MERS), but having a potentially lethal differences in not readily recognized by our immunity. Classified as betacoronavirus, with incubation period up to 14 days, the sign and symptoms can be highly variable, from asymptomatic to mild to criticalin the form of severe pneumonia. Almost half the persons infected did not show any symptoms, but in cases of people with comorbidities such as advanced age, pregnancy, obesity or other certain diseases, could increase the likelihood of morbidity and even potentially fatal. Covid-19 has spread globally, including Indonesia, with a potentially increased number of cases, prevention in covid-19 protocol is a necessity. Keywords: Covid-19, SARS, symptoms, variable, prevention Abstrak— Covid-19, yang sebelumnya dikenal sebagai virus strain dari kelompok family yang sama dengan Severe Acute Respiratory Disease (SARS) atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS), tapi memiliki fatalitas yang secara potensial lebih tinggi, karena bersiafat novel bagi sistem imunitas kita. Termasuk betacoronavirus, dengan masa inkubasi sampai dengan 14 hari, tanda dan gejala penyakit bisa sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, ringan sampai berat, dalam bentuk pneumonia berat. Hamper separuh penderita yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali, tapi pada penderita dengan komorbiditas seperti usia lanjut, kehamilan, obesitas atau penyakit kronis tertentu, resiko moribiditas dan mortalitas dapat meningkat. Covid-19 saat ini sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, dengan adanya potensi kenaikan kasus lebih banyak, pencegahan dalam bentuk protocol covid-19 bersifat mutlak diperlukan. Kata kunci: Covid-19, SARS, gejala, bervariasi, pencegahan
Wirda Anggraini, Tifany Maulida Candra, Siti Maimunah, Hajar Sugihantoro
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 2, pp 1-8; doi:10.24123/kesdok.v2i1.2876

Abstract:
—Urinary Tract Infection (UTI) was the presence of the large number of microorganisms in the urine that can cause urinary tract infections. UTIs were infection whose incidence is still high in Indonesia. The main therapy of UTIs was using antibiotics. The immense of antibiotic use can cause irrationality. This irrationality would give some negative effects such as allergic reaction, physiological changes, and antibiotic resistance. The purpose of this study was to know the quality of antibiotic use in UTI patients in Kanjuruhan Region General Hospital. The type of research was observational by the cross-sectional design. The data were taken retrospectively during September-November 2019 and used the medical records of 27 UTI inpatients. The results of this study determined 20% including category 0 (approriate use of antibiotic), 2,86% category I (antibiotic use not correct timing); 28,57% category II A (antibiotic use not correct dose); 34,29% category II B (antibiotic use not correct interval); 11,42% category III B (antibiotic use is too short) and 2,86% category IV A (there is more effective alternative). Keywords: antibiotic, gyssens, urinary tract Abstrak—Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan suatu keadaan dimana terdapat mikroorganisme dalam urin yang jumlahnya sangat banyak dan mampu mengakibatkan infeksi pada saluran kemih. ISK tergolong penyakit infeksi yang angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Terapi utama ISK adalah terapi dengan menggunakan antibiotik. Meluasnya penggunaan antibiotik dapat menyebabkan tidak rasionalnya penggunaan antibiotik. Penatalaksanaan terapi antibiotik yang tidak rasional dapat menimbulkan risiko antara lain adalah reaksi alergi, toksisitas, perubahan fisiologi, dan resistensi antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas penggunaan antibiotik pada pasien ISK di RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang. Jenis penelitian adalah observasional dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif selama bulan September-November 2019 dan menggunakan 27 data rekam medik pasien ISK Rawat Inap. Hasil evaluasi kualitatif menunjukkan, sebesar 20% termasuk kategori 0 (penggunaan antibiotik tepat/bijak); 2,86% kategori I (penggunaan antibiotik tidak tepat waktu); 28,57% kategori II A (penggunaan antibiotik tidak tepat dosis); 34,29% kategori II B (penggunaan antibiotik tidak tepat interval pemberian); 11,42% kategori III B (penggunaan antibiotik terlalu singkat); dan 2,86% kategori IV A (ada antibiotik lain yang lebih efektif). Kata kunci : antibiotik, gyssens, infeksi saluran kemih
Ervin Colyn, Fauna Herawati, Rika Yulia
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 2, pp 9-22; doi:10.24123/kesdok.v2i1.2975

Abstract:
— Antibiotic resistance is one of the healthcare problems associated with higher medical costs, prolonged hospital stays, and increased mortality rate. Monitoring antibiotic usage purposed to control the incidence of antibiotic resistance. Past research reported that there was an irrational use of surgical prophylaxis in Asia. The objective of this research is to review surgical prophylaxis utilization using DDD method with DDD/100 Bed Days as outcome. The study design used is systematic review. The articles included in this study were cross-sectional study design, in Indonesian or English language, and published between the years 2010-2020. The defined daily dose, antibiotic prophylaxis, surgery were the search term. This study assesses the quality of journals by The Joanna Briggs Institute (JBI) checklist and the journal's reputation. There were eleven articles, five articles had a good quality according to JBI checklist and published at journal indexed Scopus or accredited by National Journal Accreditation (ARJUNA) SINTA 1-3. The most used surgical prophylaxis antibiotic in 6 locations was ceftriaxone. Meanwhile, Cefazolin, the first choice surgical prophylaxis antibiotic recommended by the guideline, only reported being used the most at 2 locations. In Asia, there are irrational surgical prophylaxis antibiotic utilizations. The monitoring of surgical prophylaxis antibiotic use needs to be improved to increase the appropriateness.Keywords: Defined Daily Dose, antibiotic prophylaxis, surgery, Asia Abstrak—Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah kesehatan karena meningkatkan biaya perawatan, memperpanjang lama rawat di rumah sakit, dan meningkatkan angka kematian. Pemantauan penggunaan antibiotik bertujuan untuk mengendalikan kejadian resistensi antibiotik. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa masih banyak terjadi pemakaian antibiotik secara irasional di bangsal bedah di Asia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola pemakaian antibiotik di bangsal bedah dalam satuan DDD/100 bed days. Penelitian ini merupakan kajian sistematik. Artikel terpilih dalam penelitian ini adalah artikel penelitian potong lintkang, berbahasa Indonesia atau Inggris, dan dipublikasi antara tahun 2010 sampai 2020. Kata kunci yang dipakai adalah defined daily dose, antibiotic prophylaxis, surgery. Kualitas jurnal dinilai dengan checklist Joanna Briggs Institute (JBI) dan reputasi jurnal. Hasil: Didapatkan sebelas artikel, lima jurnal memiliki kualitas baik menurut checklist JBI dan dipublikasi oleh jurnal terindeks Scopus atau terakreditasi Sinta 1-3. Berdasarkan hasil sintesis, antibiotik golongan sefalosporin merupakan antibiotik yang paling sering dipakai. Seftriakson dilaporkan pada 6 lokasi sebagai antibiotik yang paling sering dipakai sebagai profilaksis pembedahan, sedangkan sefazolin, antibiotik pilihan utama yang direkomendasikan oleh pedoman terapi, hanya dilaporkan paling banyak digunakan di 2 lokasi. Di Asia, penggunaan antibiotik profilaksis di bangsal bedah masih ada yang irasional. Pemantauan penggunaan antibiotik profilaksis di bangsal bedah perlu ditingkatkan.Kata kunci: Defined Daily Dose, antibiotik profilaksis, bangsal bedah, Asia
Sawitri Boengas
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 53-61; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2573

Abstract:
-Visual Rehabilitation optimization is the main goal of cataract management in children. To achieve the optimum vision development, cataract management in children does not come to an end by the time a cataract surgery is performed. In most cases, problems occurring in vision rehabilitations include posterior capsule opacifications in post-surgery children cataract patients. Objective To know the profile of posterior capsule opacification in developmental cataract surgeries of children (aged 5-18) at Cicendo National Eye Hospital in January-December 2016. Method: The design of this study is observational retrospective study using medical records of post-operative developmental cataracts patients with intra ocular lens implantations with inclusion and exclusion criteria. The procedures were performed on 74 eyes in 47 patients. Results: Posterior capsule opacification (OPC) occurred in 41 (55.4%) eyes, detected in week 1-36 post-op. In week 0-6 post-op, OPC occurred the most to the tune of 13 (31.7%) eyes with dominating age group of under 9 years old to the tune of 29 (68.3%) eyes. Conclusion: PCO shows a tendency of occurring more in younger patients. Factors which affect PCO include complications, e.g. eye abnormalities, the relating systemic abnormalities, surgery techniques, and inaccurate selection of intra-ocular lens. Keywords: developmental cataract, posterior capsul opacification Abstrak-Tujuan utama penanganan katarak anak adalah optimalisasi rehabilitasi penglihatan. Untuk mencapai perkembangan yang optimal, penalataksanaan katarak anak tidak berhenti pada operasi saja. Potensi hambatan optimalisasi rehabilitasi penglihatan adalah seringnya terjadi kekeruhan kapsul lensa posterior. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kekeruhan kapsul lensa posterior pasca-operasi katarak developmental anak usia 5-18 tahun di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo antara Januari-Desember 2016. Penelitian dilakukan secara retrospektif observasional melalui rekam medik pasien katarak developmental anak usia 5-18 tahun yang dilakukan operasi katarak dan implantasi LIO pada bulan Januari-Desember 2016 dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil menunjukkan terdapat 47 anak, 74 mata dengan diagnosis katarak developmental telah dilakukan operasi katarak dan penanaman LIO. Pasca-operasi didapatkan 41 (55.4%) mata mengalami PCO, terdeteksi pertama kali minggu ke-1-36 pasca-operasi, terbanyak pada minggu ke-0-6 pasca-operasi yaitu 13 (31.7%) mata. Kelompok usia terbanyak di bawah 9 tahun yaitu 29 (68.3%) mata. Simpulan penelitian ini adalah semakin muda usia saat dioperasi, semakin cepat timbul PCO. Faktor yang mempercepat timbulnya PCO lainnya adalah penyakit lain yang menyertai, seperti kelainan lain pada mata, kelainan sistemik yang menyertai, teknik operasi dan pemilihan LIO yang kurang tepat. Penatalaksanaan PCO adalah Nd:YAG Laser dan kapsulotomi posterior sekunder. Kata kunci: katarak developmental, PCO
Risma Ikawaty
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 70-76; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2869

Abstract:
— Background: A human severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) is known to be responsible for coronavirus disease 2019 (COVID-19). Pulmonary complications has been considered as the classical clinical manifestations until symptoms on the extra-pulmonary organs may also occur recently, which might be linked to the presence of angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) receptor. Objective: This article evaluates clinical manifestation of COVID-19 and the presence of ACE2 receptor by looking at its interaction to SARS-CoV-2. Methods: 27 articles in English have been selected through search engine PubMed and Google Scholar by using specific keywords. These articles include research journals, case report, systematic review and meta-analysis, and textbooks. Result: Pathogenesis of COVID-19 begins with the binding of spike protein SARS-CoV-2 to ACE2 receptor of host cells. Clinical manifestation of COVID-19 is no longer limited to the pulmonary system but also extra-pulmonary systems since ACE2 receptor abundantly distributed on the other organs. Further, genetic variations of region binding protein of viral spike protein and ACE2 receptor may predispose clinical manifestation of COVID19. Conclusions: Dynamic interplay between SARS-CoV-2 and receptor ACE2 has great implication to the clinical symptoms. Genetic variation of spike protein SARS-CoV-2 play role not only for cross transmission but also its virulence, while genetic variation of human receptor ACE2 influences its susceptibility or resistance against the infection. Keywords: ACE2 receptor, Coronavirus Diseases-19, clinical manifestation, SARS-CoV-2, genetic variation. Abstrak— Virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan penyebab utama dari coronavirus disease 2019 (COVID-19). Komplikasi pernapasan diangap sebagai gejala klinis klasik hingga akhirnya timbul berbagai manifestasi klinis di organ lain sebagai gejala awal COVID19. Hal ini kemudian dihubungkan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Artikel ini mengevaluasi manifestasi klinis yang disebabkan interaksi antara reseptor ACE2 dan SARS-CoV-2. PubMed dan Google Scholar digunakan untuk mencari artikel dengan kata kunci yang spesifik untuk COVID-19, SARS-CoV-2, reseptor ACE2, variasi genetik, dan manifestasi klinisnya. Dua puluh tujuh artikel berbahasa Inggris yang digunakan termasuk jurnal penelitian, laporan kasus, systematic review, meta-analysis, dan buku teks. Patogenesis COVID19 dimulai dengan ikatan protein Spike SARS-CoV-2 dan reseptor ACE2. Studi memperlihatkan bahwa reseptor ACE2 ditemui di berbagai jaringan/organ selain organ sistem respirasi sehingga memperlihatkan gejala klinis yang berbeda. Selain itu variasi genetik yang terdapat pada protein spike dari virus dan reseptor ACE2 juga merupakan faktor penting pada terjadinya COVID19. Penulis menyimpulkanbahwa dinamika interaksi antara reseptor ACE2 dan protein spike SARS-CoV-2 termasuk variasi genetic, keduanya memegang peranan penting terhadap suseptibilitas/resistensi dan manifestasi klinis COVID19. Kata kunci: Coronavirus Diseases-19, manifestasi klinis, reseptor ACE2, SARS-CoV-2, variasi genetik.
Amelia Lorensia
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 62-69; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2855

Abstract:
— Exacerbations asthma treatment can be done by giving medications therapy in the form of salbutamol and aminophyllin. This research conducted with a comparative study between two alternatives using a hospital perspective. Data were collected retrospectively based on the medical records of patients with mild-moderate exacerbations asthma who were admitted in emergency department Anwar Medika Sidoarjo Hospital during the period of January 2017 to Desember 2018. The data showing asthma exacerbations treatment effectiveness and costs were analyzed using ACER. Results of the data analysis using ACER based on total improvement of asthma sympthoms showed that in salbutamol group was Rp.2.403,75/%, and in aminophyllin group was Rp.1.688,31/%. Based on the result of study, cannot concluded which medications therapy were more cost-effective because total subject study of salbutamol and aminophyllin were different and too little. Results of the data analysis using ACER based on total improvement of asthma sympthoms showed that in salbutamol only group was Rp.2.073,18/%, and in salbutamol and corticosteroid group was Rp.1.688,31/%. Rp.2.573,40/%. Based on the result of ACER, salbutamol only group more cost-effective than salbutamol and corticosteroid group based on improvement of asthma sympthoms in mild-moderate exacerbations asthma patients in emergency department. Keywords: cost-effectiveness analysis, asthma exacerbations, salbutamol, aminophylline Abstrak— Pengobatan serangan asma dapat dilakukan dengan cara pemberian terapi pengobatan, yaitu salbutamol dan aminofilin. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan dengan studi perbandingan antara dua alternatif yang ada dengan menggunakan perspektif rumah sakit. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan basis data rekam medik pasien serangan asma mild moderate yang di IGD di Rumah Sakit Umum Anwar Medika Sidoarjo periode Januari 2017 sampai dengan Desember 2018. Data efektivitas dan biaya pengobatan serangan asma dianalisis dengan ACER. Dari hasil analisis data diperoleh nilai ACER berdasarkan total perbaikan gejala pada kelompok salbutamol sebesar Rp.2.403,75/%, dan kelompok aminofilin sebesar Rp.1.688,31/%. Berdasarkan hasil penelitian, tidak dapat disimpulkan terapi pengobatan yang lebih cost-effective karena jumlah subjek kelompok salbutamol dan kelompok aminofilin yang berbeda dan terlalu sedikit. Dari hasil analisis data diperoleh nilai ACER berdasarkan total perbaikan gejala pada penggunaan salbutamol tunggal sebesar Rp.2.073,18/%, pada kelompok salbutamol dan kortikosteroid sebesar Rp.2.573,40/%. Berdasarkan hasil nilai ACER tersebut, kelompok salbutamol tunggal lebih cost-effective dibandingkan kelompok salbutamol dan kortikosteroid berdasarkan perbaikan gejala pada pasien serangan asma mild moderate di IGD. Kata kunci: analisis efektivitas biaya, serangan asma, salbutamol, aminofilin
Back to Top Top