KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran

Journal Information
EISSN : 2715-6419
Total articles ≅ 14
Filter:

Latest articles in this journal

Risma Ikawaty
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 18-24; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2869

Abstract:
— Background: A human severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) is known to be responsible for coronavirus disease 2019 (COVID-19). Pulmonary complications has been considered as the classical clinical manifestations until symptoms on the extra-pulmonary organs may also occur recently, which might be linked to the presence of angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) receptor. Objective: This article evaluates clinical manifestation of COVID-19 and the presence of ACE2 receptor by looking at its interaction to SARS-CoV-2. Methods: 27 articles in English have been selected through search engine PubMed and Google Scholar by using specific keywords. These articles include research journals, case report, systematic review and meta-analysis, and textbooks. Result: Pathogenesis of COVID-19 begins with the binding of spike protein SARS-CoV-2 to ACE2 receptor of host cells. Clinical manifestation of COVID-19 is no longer limited to the pulmonary system but also extra-pulmonary systems since ACE2 receptor abundantly distributed on the other organs. Further, genetic variations of region binding protein of viral spike protein and ACE2 receptor may predispose clinical manifestation of COVID19. Conclusions: Dynamic interplay between SARS-CoV-2 and receptor ACE2 has great implication to the clinical symptoms. Genetic variation of spike protein SARS-CoV-2 play role not only for cross transmission but also its virulence, while genetic variation of human receptor ACE2 influences its susceptibility or resistance against the infection. Keywords: ACE2 receptor, Coronavirus Diseases-19, clinical manifestation, SARS-CoV-2, genetic variation. Abstrak— Virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan penyebab utama dari coronavirus disease 2019 (COVID-19). Komplikasi pernapasan diangap sebagai gejala klinis klasik hingga akhirnya timbul berbagai manifestasi klinis di organ lain sebagai gejala awal COVID19. Hal ini kemudian dihubungkan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Artikel ini mengevaluasi manifestasi klinis yang disebabkan interaksi antara reseptor ACE2 dan SARS-CoV-2. PubMed dan Google Scholar digunakan untuk mencari artikel dengan kata kunci yang spesifik untuk COVID-19, SARS-CoV-2, reseptor ACE2, variasi genetik, dan manifestasi klinisnya. Dua puluh tujuh artikel berbahasa Inggris yang digunakan termasuk jurnal penelitian, laporan kasus, systematic review, meta-analysis, dan buku teks. Patogenesis COVID19 dimulai dengan ikatan protein Spike SARS-CoV-2 dan reseptor ACE2. Studi memperlihatkan bahwa reseptor ACE2 ditemui di berbagai jaringan/organ selain organ sistem respirasi sehingga memperlihatkan gejala klinis yang berbeda. Selain itu variasi genetik yang terdapat pada protein spike dari virus dan reseptor ACE2 juga merupakan faktor penting pada terjadinya COVID19. Penulis menyimpulkanbahwa dinamika interaksi antara reseptor ACE2 dan protein spike SARS-CoV-2 termasuk variasi genetic, keduanya memegang peranan penting terhadap suseptibilitas/resistensi dan manifestasi klinis COVID19. Kata kunci: Coronavirus Diseases-19, manifestasi klinis, reseptor ACE2, SARS-CoV-2, variasi genetik.
Amelia Lorensia
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 10-17; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2855

Abstract:
Exacerbations asthma treatment can be done by giving medications therapy in the form of salbutamol and aminophyllin. This research conducted with a comparative study between two alternatives using a hospital perspective. Data were collected retrospectively based on the medical records of patients with mild-moderate exacerbations asthma who were admitted in emergency department Anwar Medika Sidoarjo Hospital during the period of January 2017 to Desember 2018. The data showing asthma exacerbations treatment effectiveness and costs were analyzed using ACER. Results of the data analysis using ACER based on total improvement of asthma sympthoms showed that in salbutamol group was Rp.2.403,75/%, and in aminophyllin group was Rp.1.688,31/%. Based on the result of study, cannot concluded which medications therapy were more cost-effective because total subject study of salbutamol and aminophyllin were different and too little. Results of the data analysis using ACER based on total improvement of asthma sympthoms showed that in salbutamol only group was Rp.2.073,18/%, and in salbutamol and corticosteroid group was Rp.1.688,31/%. Rp.2.573,40/%. Based on the result of ACER, salbutamol only group more cost-effective than salbutamol and corticosteroid group based on improvement of asthma sympthoms in mild-moderate exacerbations asthma patients in emergency department.
Agus Cahyono
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2703

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Winnie Nirmala Santosa, Baharuddin Baharuddin
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2566

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Sawitri Boengas
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 1-9; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2573

Abstract:
-Visual Rehabilitation optimization is the main goal of cataract management in children. To achieve the optimum vision development, cataract management in children does not come to an end by the time a cataract surgery is performed. In most cases, problems occurring in vision rehabilitations include posterior capsule opacifications in post-surgery children cataract patients. Objective To know the profile of posterior capsule opacification in developmental cataract surgeries of children (aged 5-18) at Cicendo National Eye Hospital in January-December 2016. Method: The design of this study is observational retrospective study using medical records of post-operative developmental cataracts patients with intra ocular lens implantations with inclusion and exclusion criteria. The procedures were performed on 74 eyes in 47 patients. Results: Posterior capsule opacification (OPC) occurred in 41 (55.4%) eyes, detected in week 1-36 post-op. In week 0-6 post-op, OPC occurred the most to the tune of 13 (31.7%) eyes with dominating age group of under 9 years old to the tune of 29 (68.3%) eyes. Conclusion: PCO shows a tendency of occurring more in younger patients. Factors which affect PCO include complications, e.g. eye abnormalities, the relating systemic abnormalities, surgery techniques, and inaccurate selection of intra-ocular lens. Keywords: developmental cataract, posterior capsul opacification Abstrak-Tujuan utama penanganan katarak anak adalah optimalisasi rehabilitasi penglihatan. Untuk mencapai perkembangan yang optimal, penalataksanaan katarak anak tidak berhenti pada operasi saja. Potensi hambatan optimalisasi rehabilitasi penglihatan adalah seringnya terjadi kekeruhan kapsul lensa posterior. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kekeruhan kapsul lensa posterior pasca-operasi katarak developmental anak usia 5-18 tahun di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo antara Januari-Desember 2016. Penelitian dilakukan secara retrospektif observasional melalui rekam medik pasien katarak developmental anak usia 5-18 tahun yang dilakukan operasi katarak dan implantasi LIO pada bulan Januari-Desember 2016 dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil menunjukkan terdapat 47 anak, 74 mata dengan diagnosis katarak developmental telah dilakukan operasi katarak dan penanaman LIO. Pasca-operasi didapatkan 41 (55.4%) mata mengalami PCO, terdeteksi pertama kali minggu ke-1-36 pasca-operasi, terbanyak pada minggu ke-0-6 pasca-operasi yaitu 13 (31.7%) mata. Kelompok usia terbanyak di bawah 9 tahun yaitu 29 (68.3%) mata. Simpulan penelitian ini adalah semakin muda usia saat dioperasi, semakin cepat timbul PCO. Faktor yang mempercepat timbulnya PCO lainnya adalah penyakit lain yang menyertai, seperti kelainan lain pada mata, kelainan sistemik yang menyertai, teknik operasi dan pemilihan LIO yang kurang tepat. Penatalaksanaan PCO adalah Nd:YAG Laser dan kapsulotomi posterior sekunder. Kata kunci: katarak developmental, PCO
Rachmad Poedyo Armanto
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 29-36; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2593

Abstract:
-Acute fatty liver of pregnancy (AFLP), is a very rare disease. This disease potentially make intra uterine fetal death for the fetus and post partum hemorrhage because of disseminated intravascular coagulation (DIC). But, if we learn the patophysiology of this disease, it could be prevented with early detection and dietary manipulation. Dietary manipulation is low fat diet and high carbohydrate. It will decrease morbidity and mortality of the mother and baby. Keywords: AFLP, low fat, high carbohydrate Abstrak-Penyakit perlemakan hati akut dalam kehamilan (Acute fatty liver of pregnancy (AFLP)), adalah gangguan yang jarang terjadi. Penyakit ini berpotensi menimbulkan kefatalan pada janin yaitu berupa kematian janin dalam rahim (IUFD) dan ibu hamil berupa perdarahan paska salin karena gangguan pembekuan darah (DIC). Jika ditelaah dari patofisiologinya, penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dengan cara deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat. Penatalaksanaan saat kehamilan adalah dengan melakukan diet rendah lemak, tinggi karbohidrat agar komplikasi pada ibu dan janin tidak terjadi. Sehingga nantinya morbiditas dan mortalitas dapat ditekan serendah mungkin. Kata kunci: AFLP, rendah lemak, tinggi karbohidrat
Sajuni Widjaja
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1, pp 25-28; doi:10.24123/kesdok.v1i2.2570

Abstract:
-COVID-19 is an infection caused by SARS-CoV-2 and has been declared a pandemic by WHO. At present there is no therapy or vaccine available for handling COVID-19. Data obtained in China, Italy and South Korea show fewer children under 10 years of age are infected with COVID-19, and even if they have an infection they generally experience mild symptoms even without symptoms. Children get routine vaccinations and various infections. This seems to train the immune system of children so that it is more immune to COVID-19. MMR vaccination demonstrates partial preventive protection against COVID-19. This is due to several previous studies that measles vaccine provides protection against pathogens other than measles and also because of the similarity between the protein S in SARS-CoV-2 with protein F in Measles virus (measles) and protein E in Rubella virus (German measles). Prophylaxis is a way to prevent disease. This review will discuss the possibility of giving MMR vaccination as a protection against COVID-19. Keywords: SARS-CoV-2, COVID-19, prophylaxis, MMR Abstrak–COVID-19 merupakan infeksi yang dikarenakan SARS-CoV-2 dan telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Saat ini belum didapatkan terapi maupun vaksin dalam menangani COVID-19. Data yang didapat di negara China, Itali dan Korea selatan menunjukkan anak-anak usia di bawah 10 tahun lebih sedikit yang terinfeksi COVID-19, dan kalaupun mengalami infeksi umumnya mengalami gejala ringan bahkan tanpa gejala. Anak-anak mendapatkan rutin vaksinasi dan berbagai infeksi. Hal ini nampaknya melatih sistem imun anak-anak sehingga lebih kebal terhadap COVID-19. Vaksinasi MMR menunjukkan perlindungan pencegahan parsial terhadap COVID-19. Hal ini dikarenakan beberapa penelitian sebelumnya bahwa vaksin campak memberikan perlindungan terhadap pathogen selain campak dan juga karena adanya kesamaan antara protein S SARS-CoV-2 dengan protein F pada virus Measles (campak) dan protein E pada virus Rubella (campak jerman). Profilaksis merupakan cara untuk mencegah penyakit. Review ini akan membahas mengenai kemungkinan pemberian vaksinasi MMR sebagai perlindungan terhadap COVID-19. Kata kunci: SARS-CoV-2, COVID-19, profilaksis, MMR
Baharuddin Baharuddin
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2484

Abstract:
Fructose is a natural ingredient that is widely used as a sweetener substitute for glucose. Effectiveness and efficiency are the main reason so many industries use fructose to be consumed. Dosage is based on the toxicity of fructose consumption is divided into: a low-dose, medium-dose and high dose. It said consumption of high doses when someone is 100g / day or more. Many products it does not include the type and quantity of sugar fructose in food and beverage packaging and lack of knowledge lead to uncontrolled fructose consumption in developed countries. Consequences of uncontrolled doses can lead to liver disorder and others tissue. The liver is the organ forming fatty compounds as a homeostatic mechanism. Fructose is based on theoretical and experimental likely responsible for the formation of steatosis. In the organoleptic inspection on the provision of high doses of fructose seen their fat droplets are large, which indicates steatosis. Nevertheless still needed histopathology for diagnosis. Additionally duration of fructose to animals try to be more prolonged (> 2 months) to see the response to the homeostasis of the body fat is formed. Abstrak.Fruktosa merupakan bahan alam yang digunakan secara luas sebagai pemanis pengganti glukosa. Efektivitas dan efisiensi menjadi alasan utama sehingga banyak industri menggunakan fruktosa untuk dikonsumsi. Dosis konsumsi fruktosa berdasarkan toksisitas dibagi menjadi: dosis rendah, dosis sedang dan dosis tinggi. Dikatakan dosis tinggi ketika konsumsi seseorang berada di 100gr/hari atau lebih. Tidak dicantumkannya jenis gula dan kuatitas fruktosa dalam bahan makanan dan minuman kemasan serta kurangnya pengetahuan mengakibatkan konsumsi fruktosa tidak terkontrol pada negara-negara maju. Konsekuensi dosis yang tidak terkontrol ini dapat mengakibatkan gangguan pada organ hati. Hati merupakan organ pembentuk senyawa lemak sebagai mekanisme homeostasis. Fruktosa berdasarkan teoritik dan eksperimental kemungkinan besar bertanggung jawab terhadap pembentukan steatosis. Pada pemeriksaan secara organoleptik pada pemberian fruktosa dosis tinggi terlihat adanya droplet lemak berukuran besar yang menandakan adanya steatosis. Walaupun demikian masih sangat dibutuhkan pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosa. Selain itu durasi pemberian fruktosa terhadap hewan coba harus lebih diperpanjang (>2 bulan) untuk melihat tanggapan homeostasis tubuh terhadap lemak yang terbentuk.
Dita Sukmaya Prawitasari
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2496

Abstract:
— Diabetes mellitus is widely known as one of the non-transmittable diseases which is a global problem because its incidence is increasing every year throughout the world. The condition of hyperglycemia in diabetes mellitus has a very influential effect on endothelial blood vessels due to the process of glucose auto-oxidation in forming free radicals which in turn will produce macro and microvascular dysfunction. Next, this condition will further increase morbidity and mortality rates in people with diabetes mellitus. The using of antioxidants in patients with diabetes mellitus was found to be effective in reducing the emergence of arising complications. This is supported by various the benefits of antioxidants related to pathological process of diabetes mellitus due to conditions of oxidative stress. In the future, the safety and effectiveness of supplements or food contain antioxidants in an effort to overcome the condition of diabetes must still be proven further. Abstrak— Diabetes melitus banyak dikenal sebagai salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah global karena insidensinya setiap tahun yang terus meningkat di seluruh dunia. Kondisi hiperglikemia pada diabetes melitus mempunyai efek yang sangat berpengaruh pada endotel pembuluh darah akibat adanya proses auto-oksidasi glukosa dalam membentuk radikal bebas yang pada akhirnya akan menghasilkan disfungsi makro dan mikrovaskular. Kondisi inilah yang selanjutnya akan menimbulkan komplikasi yang selanjutnya akan meningkatkan angka morbiditas maupun mortalitas pada penderita diabetes melitus. Penggunaan antioksidan pada penderita diabetes melitus ternyata diketahui efektif dalam mengurangi munculnya komplikasi yang timbul. Hal ini didukung dengan berbagai penelitian yang membuktikan manfaat antioksidan terkait proses patologi dari diabetes mellitus akibat kondisi stres oksidatif. Pada masa yang akan datang, keamanan dan keefektifan suplemen atau makanan yang mengandung antioksidan dalam upaya mengatasi kondisi diabetes tetap harus dibuktikan lebih lanjut.
Lucia Pudyastuti Retnaningtyas
KELUWIH: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, Volume 1; doi:10.24123/kesdok.v1i1.2486

Abstract:
—Henoch-Schonlein purpura (HSP) is a systemic vasculitic disease (vascular inflammation) characterized by the deposition of immune complexes consisting of IgA in kidney skin. This disease is called Anaphylactoid purpura, rheumatic Purpura, Schonlein-Henoch purpura. In this case, the patient complained of the appearance of red spots on the legs to the buttocks within three days and did not feel itchy. Ankle pain and can not be moved, and do not feel nausea, fever, heartburn, and others. Examination of the extremities contained red lesions and was more prominent than other skin surfaces. Diagnosis of patients suspected of having Henoch-Schonlien purpura. Treatment of HSP patients with Prednisone at a dose of 2 mg/kg/day which is divided into three doses. On the third-day purpura decreases tend to thin out and enkle pain disappears on the fifth day. Red spots appear, after therapy is stopped for 1 month. HSP sufferers 94% recover in children and 89% in adults. HSP recuration is more common in children over the age of 10 years and a kidney biopsy must be performed to determine subsequent therapy. Abstrak—Henoch-Schonlein purpura (HSP) adalah penyakit vaskulitik sistematik (inflamasi vaskuler) ditandai dengan deposisi komplek imun yang terdiri dari IgA pada kulit ginjal. Penyakit ini disebut Anaphylactoid purpura, Purpura rheumatic, Schonlein-Henoch purpura. Pada kasus ini pasien mengeluh timbulnya bercak merah pada kaki sampai bagian pantat dalam waktu tiga hari dan tidak merasa gatal-gatal. Pergelangan kaki nyeri dan tidak bisa digerakkan, serta tidak merasa mual, demam, nyeri ulu hati dan lain-lain. Pemeriksaan ekstremitas terdapat lesi merah dan lebih menonjol dibandingkan premukaan kulit lain. Diagnosa pasien di duga menderita Henoch-Schonlien purpura. Pengobatan pasien HSP dengan Prednison dengan dosis 2mg/kgBB/hari yang terbagi dalam tiga dosis. Pada hari ketiga purpura berkurang cenderung menipis dan nyeri enkle menghilang pada hari kelima. Bercak merah timbul, setelah terapi dihentikan selama 1 bulan. Penderita HSP 94% sembuh pada anak-anak dan 89% pada dewasa. Rekurnasi HSP lebih sering terjadi pada anak usia diatas 10 tahun dan biopsi ginjal harus dilakukan untuk menentukan terapi selanjutnya.
Back to Top Top