JAS (Jurnal Agri Sains)

Journal Information
EISSN : 2581-0227
Published by: Universitas Muara Bungo (10.36355)
Total articles ≅ 75
Filter:

Latest articles in this journal

Milawati Saranani
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 108-116; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.421

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk : (1) Untuk mengetahui berapa besar pendapatan petani yang menerapkan teknologi usahatani padi sawah di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe dan (2) Untuk menganalisis hubungan penerapan teknologi usahatani padi sawah dengan pendapatan petani di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Daerah ini dipilih karena Kelurahan Puusinauwi merupakan salah satu daerah penghasil padi sawah yang ada di Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Salah satu cara untuk menentukan besarnya sampel dalam penelitian ini tingkat presisi yang digunakan sebesar 10%, sehingga untuk menentukan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin sehingga diperoleh 23 jumlah responden. Berdasarkan dari hasil penilitian diketahui bahwa (1) pendapatan petani responden di Kelurahan Puusinauwi masih terkategori rendah dengan pendapatan sebesar rata-rata Rp. 7.806.595/Ha. Hal ini menunjukan bahwa penerapan teknologi usahatani signifikan terhadap tingkat pendapatan petani, (2) Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat penerapan teknologi penggunaan benih bermutu dan pemupukan terhadap tingkat pendapatan petani di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Sementara penerapan teknologi pengolahan tanah, sistem tanam, pengelolaan pengairan, pengendalian hama dan penyakit serta panenn tidak berhubungan signifikan dengan tingkat pendapatan petani di Kelurahan Puusinauwi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Kata Kunci : Usahatani, Padi Sawah, Hubungan Penerapan Teknologi ABSTRACT This study aims to: (1) To determine how much the income of farmers who apply paddy rice farming technology in Puusinauwi Village, Wawotobi District, Konawe Regency and (2) To analyze the relationship between the application of lowland rice farming technology and farmer income in Puusinauwi Village, Wawotobi District, Konawe Regency. This research was conducted in Puusinauwi Subdistrict, Wawotobi District, Konawe Regency. This area was chosen because Puusinauwi Village is one of the lowland rice producing areas in Wawotobi District, Konawe Regency. One way to determine the size of the sample in this study the level of precision used was 10%, so that to determine the sample in this study using the Slovin formula so that 23 respondents were obtained. Based on the results of the study, it is known that (1) the income of the respondent farmers in Puusinauwi Village is still in the low category with an average income of Rp. 7,806,595 / Ha. This shows that the application of farming technology is significant to the income level of farmers, (2) There is a significant relationship between the level of technology application of quality seed use and fertilization to the income level of farmers in Puusinauwi Village, Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Meanwhile, the application of soil processing technology, planting systems, irrigation management, pest and disease control and harvesting is not significantly related to the income level of farmers in Puusinauwi Village, Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe.Keywords : Farming, Rice Paddy, Relationship of Technology Application
Vigory Gloriman Manalu
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 84-91; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.415

Abstract:
ABSTRAKSaat ini indonesia mencatat luas pertanian organik setiap tahunya mengalami peningkatan namun tidak diiringi dengan operator yang terlibat dalam kegiatan pertanian organik yang sejalan dan cenderung fluktuatif. Di Indonesia, deptartemen pertanian telah mencanangkan program “Go Organik 2010” dimana program tersebut bertujuan agar para petani dan konsumen untuk hidup sehat. Dalam mempengaruhi minat beli produk organik tidaklah mudah dan cenderung rumit sehingga dibutuhkan determinasi pengetahuan (knowledge) produk organik yang harus diberikan kepada konsumen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara norma subjektif dan sikap pada minat pembelian produk organik dan efek mediasi dengan menggunakan variabel pengetahuan produk ramah lingkungan. Untuk menguji model yang diusulkan, maka pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner online dengan menggunakan pendekatan purposive sampling. Responden yang dipilih adalah mereka yang pernah membeli dan memiliki keininginan untuk membeli produk pangan organik. Dari kuesioner yang telah terkumpul ada 217 responden yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Knowledge of Green Product tidak dapat memediasi hubungan antara norma subjektif dan sikap pada minat pembelian produk organik pada konsumen di Indonesia.Kata kunci: NormaSubjektif, Sikap, Pengetahuan Produk Ramah Lingkungan, Minat Pembelian Produk Organik ABSTRACTCurrently, Indonesia records that the area of organic farming has increased every year, but it is not accompanied by operators involved in organic farming activities which are consistent and tend to fluctuate. In Indonesia, the Department of Agriculture has launched the "Go Organic 2010" program where the program aims to encourage farmers and consumers to live healthily. In influencing the buying interest of organic products is not easy and tends to be complicated, so it takes the determination of the knowledge (knowledge) of organic products that must be given to consumers.This study aims to determine the relationship between subjective norms and attitudes towards purchasing interest in organic products and the effect of mediation by using environmentally friendly product knowledge variables. To test the proposed model, data collection was carried out through an online questionnaire using a purposive sampling approach. Respondents selected are those who have purchased and have the desire to purcahse organic food products. From the questionnaire that has been collected there are 217 respondents who were collected. The results showed that the variable Knowledge of Green Product not mediate the relationship between subjective norms and attitudes towards buying interest in organic products in Indonesian consumers.Keywords: Subjective Norm, Attitude, Knowledeg of Green Product, Green Food Purchase Intention
Fatmawati Fatmawati, Bambang Hermanto, Moh. Kurdi
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 123-128; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.423

Abstract:
ABSTRAKPotensi perikanan yang dimiliki Kabupaten Sumenep sangatlah besar dan menjanjikan. Hal ini kemudian di Desa Ambunten Timur Kecamatan Ambunten sebagian masyarakat memanfaatkan potensi perikanan tersebut sebagai produk, diantaranya petis, ikan asin, ikan asap dan terutama terasi. Usaha terasi yang ada di Desa Ambunten Timur belum pernah dilakukan analisis, sehingga perlu adanya penelitian ini dilakukan. Metode dalam penelitian ini menggunakan analisis kelayakan dan analisis finansial. Hasil dari penelitian ini adalah: biaya produksi sebesar (TC) Rp. 37.771.568,- pendapatan agroindustri terasi (π) sebesar Rp. 18.489.543,- dan efisiensi (R/C Ratio) agroindustri terasi sebesar Rp. 1.49,-. Dari ketiga kriteria.Kata kunci:Finansial; Efisiensi; Agroindustri; Terasi ABSTRACTThe fishery potential of Sumenep Regency is huge and promising. In this case, in Ambunten Timur Village, Ambunten Subdistrict, some people use the fishery potential as a product, including petis, salted fish, smoked fish and especially shrimp paste. The shrimp paste business in Ambunten Timur Village has never been analyzed, so this research needs to be done. The method in this study uses a feasibility analysis and financial analysis. The results of this study are: production costs of (TC) Rp. 37,771,568, - shrimp paste agro-industry income (π) of Rp. 18,489,543, - and the efficiency (R / C Ratio) of the shrimp paste agro-industry of Rp. 1.49, -. Of the three criteria.Keywords: Financial; Efficiency; Agro industry; Shrimp paste
Mulyani Mulyani
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 117-122; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.422

Abstract:
ABSTRAKTujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis preferensi konsumen yakni masyarakat kota Jambi terhadap kopi lokal dan menganalisis hubungan usia terhadap preferensi masyarakat kota Jambi dalam mengkonsumsi kopi lokal. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara usia konsumen kopi dengan preferensi dalam mengkonsumsi kopi lokal Jambi.Penelitian ini dilakukan di Kota Jambi dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2020. Data yang digunakan adalah data cross section. Data konsumen dikumpulkan dari 3 kedai kopi yang terdapat di Kota Jambi yakni Hello Sapa, Camp Coffee, dan Kopi Juaro. Penarikan sample dilakukan dengan metode simpel random sampling. Penghitungan sampel dengan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mayoritas konsumen kopi memilih kopi lokal dibandingkan kopi non lokal dan Hubungan usia konsumen dengan preferensi konsumsi kopi adalah tidak signifikan. Kata kunci: Kopi Lokal, Preferensi, usia konsumen ABSTRACTThe aim of this researchis to analyze consumer preferences of Jambi city consuming local coffee and to analyze the relationship between age and preferences of the people of Jambi city in consuming local coffee. The hypothesis in this study is that there is a relationship between the age of consumers and preferences in consuming local Jambi coffee. This research was conducted in Jambi City by collecting primary and secondary data. This research conducted from February to June 2020. The data used is cross section data. Consumer data was collected from 3 coffee shops in Jambi City, namely Hello Sapa, Camp Coffee, and Juaro Coffee. The sampling method was simple random sampling. Sample calculation using the Slovin formula. The results showed that the majority of coffee consumers prefer local coffee than non-local coffee and the relationship between consumer age and coffee consumption preference is not significant. Keywords: Local Coffee, Preference, Age of Consumer
Indra Setiawan, Sri Hartini
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 129-139; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.424

Abstract:
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat produksi optimal usahatani jagung(Zea mays L.), besarnya penerimaan optimal, serta keuntungan optimal.Penelitian ini dilakukan di Kampung Tumbit Melayu Kecamatan Teluk Bayur Kabupaten Berau.Metode pengambilan responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Sensus. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi ke lokasi penelitian dan mengadakan wawancara dengan responden. Petani responden ditentukan secara Sensus sebanyak 31 (tiga puluh satu) orang yang sebelumnya dikelompokkan terlebih dahulu dalam strata berdasarkan luas lahan. Analisis data yang digunakan adalah regresi kuadratik untuk persamaan biaya dan regresi linier untuk persamaan penerimaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi yang dicapai responden sebanyak 2.992 kg/ha dengan keuntungan sebesar Rp 5.805.718,-/ha untuk satu kali panen. Dari hasil analisis diketahui persamaan biaya yaitu TC = dan persamaan penerimaan yaitu TR = . Jumlah produksi pada tingkat penerimaan optimal sebesar 4.057 kg. Besarnya penerimaan Rp 14.195.443,-/ha dan keuntungan optimal Rp 7.006.233,-/ha untuk satu kali musim tanam. Kata kunci : Tingkat Produksi; Penerimaan Optoimal; Keuntungan OptimalABSTRACTThis study aims to determine the optimal level of production of corn farming (Zea mays L.), the optimal amount of acceptance, and optimal profits. This research was conducted in Kampung Tumbit Melayu, Teluk Bayur District, Berau Regency.The sampling method used in this study is the Census method. Data is collected by observation to the research location and conducting interviews with respondents. Respondent farmers were determined by Census as many as 31 (thirty one) people who were previously grouped first in strata based on land area. Analysis of the data used is quadratic regression for the cost equation and linear regression for the revenue equation.The result of the research showed that the averange produc was 2.992 kg per hectare with profit as much Rp 5.805.718,- per hectare for one harvest. Than cost equition was TC = revenue equition TR = . The quantity of optimal production was 4.057 kg. The revenue was Rp 14.195.443,-and optimal profit was Rp 7.006.233,- per hectare for one harvest.Keywords: Production Level; Optimal Acceptance; Optimal Profit
Asminar Asminar, Ayu Alda Vera, Asnawati Is
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 92-107; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.420

Abstract:
ABSTRAK Jamur tiram putih merupakan salah satu jenis jamur yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan pada 10 Desember 2018 sampai 10 Januari 2019 dengan tujuan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal dalam mengembangkan usaha keripik jamur tiram putih serta mengetahui strategi pengembangan keripik jamur tiram putih di Desa Rimbo Mulyo Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, yaitu pada Home Industry Keripik Jamur Tiram Putih Fiisa Group di Desa Rimbo Mulyo Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo. Penelitian ini menggunakan Analisis SWOT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor internal (kekuatan dan kelemahan) yang dimiliki oleh Home Industry Keripik Jamur Tiram Putih Fiisa Group di Desa Rimbo Mulyo Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo adalah kekuatan berupa sumber modal sendiri, tenaga kerja sangat mudah ditemukan dan modal awal terjangkau dan kelemahannya berupa tidak adanya investasi dari pihak lain, produksi tidak menentu, dan oembukuan dilakukan setiap tahun. Sedangkan faktor eksternal adalah peluang berupa bahan baku yang tersedia, belum adanya pesaing dari produk yang sama, keiutsertaan dalam pameran dan ancamannya berupa pesaing dari produk lain, kurangnya kegiatan promosi/iklan, kurangnya mesin/alat yang digunakan, dan image jamur tiram putih yang masih asing. Strategi pengembangan pada Home Industry Keripik Jamur Tiram Putih Fiisa Group adalah Peningkatan modal dengan cara penambahan investasi atau pinjaman dari pihak lain, memperluas daerah pemasaran, pelatihan manajemen kepada pemilik usaha yang dilakukan secara berkelanjutan agar usaha berkembang, memanfaatkan modal yang ada untuk menambah produksi untuk menguasai pasar ketika belum adanya pesaing dari produk yang sama, menciptakan varian rasa baru keripik jamur tiram putih, memperluas pangsa pasar, mempertahankan kualitas produk, meningkatkan iklan/promosi, mengadakan kerjasama dengan pedagang lain dalam hingga luar wilayah, pengoptimalan penggunaan mesin/alat teknologi.Kata Kunci : Analisis SWOT, Home Industry, Keripik Jamur Tiram Putih. ABSTRACT White oyster mushroom is a type of mushroom that is widely consumed by the public. This research was conducted on December 10, 2018 to January 10, 2019 with the aim of knowing internal and external factors in developing white oyster mushroom chips business and knowing the development strategy of white oyster mushroom chips in Rimbo Mulyo Village, Rimbo Bujang District, Tebo Regency. The research method used is a survey method, namely the Home Industry Fiisa Group White Oyster Mushroom Chips in Rimbo Mulyo Village, Rimbo Bujang District, Tebo Regency. This study uses a SWOT analysis. The results showed that the internal factors (strengths and weaknesses) possessed by the Fiisa Group's White Oyster Mushroom Chips Home Industry in Rimbo Mulyo Village, Rimbo Bujang District, Tebo Regency are strengths in the form of their own source of capital, labor is very easy to find and affordable initial capital and weaknesses are there is no investment from other parties, production is uncertain, and bookkeeping is carried out annually. While external factors are opportunities in the form of available raw materials, the absence of competitors from the same product, participation in exhibitions and threats in the form of competitors from other products, lack of promotional / advertising activities, lack of machines / tools used, and the image of white oyster mushrooms that are still foreign. The development strategy for the Fiisa Group's White Oyster Mushroom Chips Home Industry is increasing capital by increasing investment or loans from other parties, expanding the marketing area, training management for business owners that are carried out in a sustainable manner so that businesses develop, utilizing existing capital to increase production to control market when there are no competitors of the same product, creating new flavors of white oyster mushroom chips, expanding market share, maintaining product quality, increasing advertising / promotion, establishing cooperation with other traders within and outside the region, optimizing the use of technology machines / tools. Keywords: SWOT analysis, Home Industry, White Oyster Mushroom Chips
Leni Saleh
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 140-148; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.425

Abstract:
ABSTRAK Tujuan dari penelitian yaitu untuk menganalisis saluran pemasaran gabah kering panen di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi dan untuk menganalisis margin, keuntungan dan efisiensi pemasaran gabah kering panen di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani padi sawah yang berjumlah 20 orang dan pedagang yang pemasaran gabah sebanyak 4 orang, penentuan sampel petani padi sawah dilakukan secara sensus. Pemasaran gabah terdapat satu jenis saluran pemasaran yaitu Produsen (Petani Padi) ke Pedagang Pengumpul Desa ke Penggilingan Padi, memiliki biaya pemasaran sebesar Rp 120/ Kg. Keuntungan pemasaran pedagang pengumpul desa sebesar Rp 280/Kg, dan memiliki marjin pemasaran sebesar Rp 400/Kg dan keuntungan pemasaran gabah yang sudah berbentuk beras yang dilakukan oleh penggilingan padi sebesar Rp 450.000/50Kg, dan memiliki marjin pemasaran sebesar Rp 90.000/Kg. Efisiensi pemasaran gabah mencapai 89%. Artinya besarnya persentase bagian harga yang diterima petani dan rendahnya biaya pemasaran yang terjadi pada lembaga pemasaran gabah di Kelurahan Kulahi Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Kata Kunci : Pemasaran, Padi Sawah. ABSTRACT The purpose of this research is to analyze the marketing channels of harvested dry unhulled rice in Kulahi Village, Wawotobi District and to analyze the margins, profits and marketing efficiency of harvested dry grain in Kulahi Village, Wawotobi District. The research was conducted in Kulahi Village, Wawotobi District, Konawe Regency. The population in this study were all lowland rice farmers, amounting to 20 people and traders who marketed grain as many as 4 people. The sample determination of lowland rice farmers was carried out by census. There is one type of marketing channel for unhulled rice, namely Producers (Rice Farmers) to Village Collecting Traders to Rice Mills, having a marketing cost of IDR 120 / Kg. The marketing profit of the village collector traders is Rp. 280 / Kg, and has a marketing margin of Rp. 400 / Kg and the marketing profit of unhulled rice in the form of rice carried out by the rice mill is Rp. 450,000 / 50 kg, and has a marketing margin of Rp. 90,000 / kg. Grain marketing efficiency reaches 89%. This means that the large percentage of the price received by farmers and the low marketing costs that occur in grain marketing institutions in Kulahi Village, Wawotobi District, Konawe Regency. Keywords: Marketing, Rice Paddy
Abyadul Fitriyah, Imam Mujiburrahman, Yuni Mariani, Isyaturriyadhah Isyaturriyadhah
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 162-167; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.427

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui besarnya biaya dalam menjalankan usaha ternak lebah madu (Trigona sp) di Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dan (2) Mengetahui besarnya pendapatan dan kelayakan usaha ternak lebah madu (Trigona sp) di Desa SukadanaKecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan teknik survey.Sampel dalam penelitian initiga puluh (30) orang respondenyang diambilsecarasimple random sampling dan pemilihan daerah penelitian dilakukan secara purposive. Untuk mengetahui besarnya biaya usaha ternak lebah madu di Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dilakukan dengan analisis biaya produksi, untuk mengetahui pendapatan usahaternak lebah madu dianalisis dengan menggunakan rumus analisis pendapatan dan untuk mengetahui kelayakan usaha ternaklebah madu dianalisisdengan menggunakan rumus B/C Rasio.Hasil penelitian menunjukan bahwa (1).Besarnya biaya dalam menjalankan usaha ternak lebah madu (Trigona sp) di Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utaraadalah Rp 2.673.308. (2). Pendapatan yang di peroleh dari usaha ternak lebah madu dalam satu tahun sebesarRp. 4.685.000,-. (3). Usaha ternak lebah madu (Trigona sp) di Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara secara ekonomi layak untuk diusahakan dan dikembangkan karenadiperoleh nilai B/C rasio sebesar 1,75. Kata kunci: Lebah madu; Biaya;Pendapatan; B/C rasio ABSTRACTThis study aims to: (1) Determine the running costof honey bee farming (Trigona sp) in Sukadana of Bayan of Lombok Utara, and (2) Determine income and feasibility of honey bee farming (Trigona sp) in Sukadana of Bayan of Lombok Utara.The method used in this study is descriptive analysis by survey. The total samples are thirty (30) respondents were taken in simple random sampling and selection of research location conducted by purposive.To find out the running cost of honey bee farming in Sukadana of Bayan of Lombok Utara is carried out by analysis of production costs,to find out the business income of honey bee farming was analyzed using an income analysis formula and to find out of the feasibility of honey bee farming was analyzed using the formula B/C Ratio.The results showed that: (1).The running cost of honey bee farming (Trigona sp) in Sukadana of Bayan of Lombok Utara is Rp 2.673.308. (2).The annual income from honey bee farming (Trigona sp) is Rp. 4.685.000, (3).Honey bee farming (Trigona sp) in Sukadana of Bayan of Lombok Utara feasible to be cultivated and developed becauseBenefit Cost Ratio (B/C) was obtained 1.75. Keywords: Honey Bee;Cos;Incom;, B/C ratio
Fikriman Fikriman, Febri Ari Budiman, Evo Afrianto
Published: 26 December 2020
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 149-161; https://doi.org/10.36355/jas.v4i2.426

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor Sosial Ekonomi terhadap pengeluaran pangan Rumah Tangga Miskin dan untuk mengetahui faktor sosial ekonomi yang paling dominan berpengaruh terhadap pengeluaran pangan Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan Kecamatan Bangko merupakan kecamatan dengan pusat perbelanjaan pangan di Kabupaten Merangin dan jumlah penduduk miskin terbesar ke-3 di Kabupaten Merangin. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Februari sampai dengan 10 Maret 2019.Sampel dalam penelitian diambil dari Desa Sungai Kapas yang merupakan jumlah keluarga miskin terbanyak dan Kelurahan Pasar Bangko yang merupakan pasar Kabupaten sebagai penyedia bahan pangan di Kecamatan Bangko, sehingga sampel di ambil dari dua desa/kelurahan tersebut dengan jumlah populasi 479 KK. Penarikan rumah tangga miskin sampel dilakukan secara proporsional sampling 10 % dari jumlah rumah tangga miskin yang ada di desa Sungai Kapas sehingga didapat 42 KK sedangkan sampel di Kelurahan Pasar Bangko diambil secara keseluruhan yaitu 62 KK rumah tangga miskin karena Populasi di Kelurahan Pasar Bangko kurang dari 100 KK. Sehingga diperoleh sampel sebanyak 104 rumah tangga miskin. Untuk menganalisis faktor sosial ekonomi yang mempenngaruhi pengeluaran pangan rumah tangga miskin digunakan metode analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program SPSS, sedangkan untuk menganalisis faktor sosial ekonomi yang paling berpengaruh dilakukan uji Parsial dengan menggunakan uji T.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama atau serempak pendapatan, pendidikan ibu rumah tangga, jumlah anggota keluarga dan bantuan sosial terhadap pangan berpengaruh terhadap pengeluaran pangan rumah tangga miskin sebesar 17,9 % dengan nilai F hitung (5,400) > nilai F tabel (2,463) dan secara parsial atau individu, faktor yang berpengaruh terhadap pengeluaran untuk konsumsi pangan rumah tangga miskin adalah jumlah anggota keluarga dan bantuan sosial terhadap pangan. Faktor jumlah anggota keluarga adalah faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap pengeluaran pangan rumah tangga miskin di Kecamatan Bangko dengan nilai t hitung 3,446 > dari nilai t tabel 1,984 Kata Kunci : Rumah Tangga Miskin, Pengeluaran Pangan dan Faktor Sosial EkonomiABSTRACT This study aims to determine the effect of socioeconomic factors on poor household food expenditure and to find out the most dominant socioeconomic factors affecting poor household food expenditure in Bangko District, Merangin District. This research was conducted in Bangko District, Merangin Regency. The choice of location is done deliberately with consideration that Bangko District is a district with a food shopping center in Merangin Regency and the 3rd largest number of poor people in Merangin Regency. The study was conducted from 10 February to 10 March 2019. The sample in this study was taken from Sungai Kapas Village which is the largest number of poor families and Pasar Bangko Village which is the Regency market as a food supplier in Bangko District, so the sample was taken from these two villages / kelurahan with a population of 479 households. The withdrawal of sample poor households was carried out by proportional sampling of 10% of the total number of poor households in Sungai Kapas village to get 42 households while the sample in Pasar Bangko Kelurahan was taken as a whole namely 62 households of poor households because the population in Pasar Bangko Kelurahan was less than 100 KK. So that a sample of 104 poor households was obtained. To analyze the socioeconomic factors that influence the expenditure of poor household food used multiple linear regression analysis method using the SPSS program, while to analyze the most influential socioeconomic factors a partial test using the T test was used. The results showed that together or simultaneously income, education of housewives, number of family members and social assistance to food affected the food expenditure of poor households by 17.9% with a calculated F value (5,400)> F table value (2,463 ) and partially or individually, the factors that influence spending on food consumption of poor households are the number of family members and social assistance for food. The factor of the number of family members is the most dominant factor influencing the food expenditure of poor households in Bangko District with a t value of 3.446> of the value of t table 1.984 Keywords: Poor Households, Food Expenditures and Socio-Economic Factors
Isyaturriyadhah Isyaturriyadhah, Sopia Anismar
JAS (Jurnal Agri Sains), Volume 4, pp 67-74; https://doi.org/10.36355/jas.v4i1.368

Abstract:
Kehadiran tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL) sangatlah penting artinya bagi petani karena petugas penyuluh pertanian lapangan merupakan ujung tombak dari keberhasilan kegiatan pembangunan pertanian. Dalam menjalankan tugasnya PPL dibatasi oleh suatu Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian (WKPP) yang terdapat di dalam Wilayah Kerja Balai Penyuluh Pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian kegiatan PPL di Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo. Dalam penelitian ini di gunakan pendekatan diskriptif kuantitatif. Responden dalam penelitian ini adalah 2 orang penyuluh dan 41 orang anggota kelompok tani. Untuk mengetahui kegiatan penyuluhan dan kesesuaian kegiatan penyuluh dihitung dengan menggunakan skala likert. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa skor kesesuaian pelaksanaan tugas PPL secara keseluruhan adalah 2570 dan dikatakan berada pada kategori sesuai dengan rencana kegiatan yang telah dibuat sebelumnya. Keywords : Kegiatan; PPL; Kesesuaian
Back to Top Top