Agro Bali : Agricultural Journal

Journal Information
EISSN : 2655-853X
Published by: Universitas Panji Sakti (10.37637)
Total articles ≅ 98
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Syamsuri Syamsuri, Hasria Alang
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 219-229; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.715

Abstract:
Telah dilakukan penelitian mengenai Zingiberaceae yang bernilai ekonomi di Kabupaten Kolaka Utara Sulawesi Tenggara. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa Zingiberaceae dapat digunakan sebagai bumbu masakan dan obat tradisional. Namun survey dan inventarisasi jenis Zingiberaceae sebagai salah satu kearifan lokal yang memiliki nilai ekonomi di daerah tersebut belum pernah dilakukan, sehingga diperlukan upaya guna mendokumentasikan pemanfaatan family Zingiberaceae yang bernilai ekonomi di kabupaten tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi family Zingiberaceae di Kabupaten Kolaka Utara yang memiliki nilai ekonomi. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan ditabulasi dalam tabel. Hasil penelitian ditemukan ada sembilan jenis dari family Zingiberaceae yang ditemukan di Kabupaten Kolaka Utara dan bernilai ekonomi diantaranya kecombrang, lengkuas, kencur, Jahe, bangle, lempuyang, temulawak, kunyit dan Kecombrang hutan (manis). Tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi sebagai bahan obat-obatan (medis), kecantikan (kosmetik) dan bahan pangan (makanan).
Sayu Kade Sintia Dewi, , Gede Mekse Korri Arisena
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 246-259; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.719

Abstract:
Produksi cengkeh dari tahun ke tahun tidak sama, pada satu waktu hasilnya cukup tinggi dan lain waktu hasilnya rendah. Penelitian ini mengungkapkan tiga temuan. Pertama, mengidentifikasi struktur pasar cengkeh. Kedua, menganalisis lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran cengkeh di Desa Penyaringan Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana. Terakhir, menganalisis keragaan pasar cengkeh di Desa Penyaringan Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana. Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Responden penelitian ini sebanyak 35 petani dan dua responden lembaga pemasaran. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui struktur pasar, lembaga pemasaran, dan saluran pemasaran menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan untuk mengetahui besar marjin dan distribusi marjin pemasaran, serta farmer’s share menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, struktur pasar cengkeh di Desa Penyaringan termasuk salah satu bentuk pasar persaingan tidak sempurna yaitu struktur pasar oligopsoni. Kedua, lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran cengkeh diantaranya satu pedagang pengumpul dan satu pedagang besar. Terakhir, terdapat satu saluran pemasaran yaitu, produsen (petani) – pedagang pengumpul – pedagang besar – konsumen akhir. Marjin pemasaran pada saluran pemasaran cengkeh di Desa Penyaringan adalah sebesar Rp 7.000/kg untuk cengkeh kering dengan nilai distribusi marjin pemasaran sebesar 5,37% sedangkan keuntungan sebesar 94,63%. Besar marjin pemasaran cengkeh Rp 4.342,86/kg untuk cengkeh basah dengan nilai distribusi marjin pemasaran sebesar 6,11% sedangkan keuntungan sebesar 93,89%. Adapun farmer’s share yang diterima pada saluran pemasaran cengkeh sebesar 88,33% untuk cengkeh kering dan 78,28% untuk cengkeh basah.
, Gita Mulyasari, Ketut Sukiyono
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 159-169; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.714

Abstract:
Bengkulu is said to be the center of the world's climate because of the influence of water conditions and the topography of the area where the rain cloud formation starts. The waters in Bengkulu Province become a meeting place for four ocean currents which eventually become an area where the evaporation process of forming rain clouds becomes the rainy or dry season and affects the world climate. Method to analyze descriptively, shows oldeman Classification and satellite rainfall estimation data is added. In relation to the Analysis of Potential Food Availability for the Coastal Areas of Bengkulu Province uses a quantifiable descriptive analysis method based. The results show that most are included in the Oldeman A1 climate zone, which means it is suitable for continuous rice but less production due to generally low radiation intensity throughout the year. In an effort to reduce or eliminate the impact of climate change on food crop production, it is necessary to suggest crop diversification, crop rotation, and the application of production enhancement technologies. Strategies in building food availability as a result of climate change are: First, develop food supplies originating from regional production and food reserves on a provincial scale. Second, Empowering small-scale food businesses which are the dominant characteristics of the agricultural economy, especially lowland rice and horticultural crops. Third, Increase technology dissemination and increase the capacity of farmers in adopting appropriate technology to increase crop productivity and business efficiency. Four, Promote the reduction of food loss through the use of food handling, processing and distribution technologies.
Barsha D.C., Monika Singh, Prakash Khanal, Madan Pandey, Rukmagat Pathak
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 136-144; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.695

Abstract:
Although Nepal produces a large amount of mandarin it faces huge postharvest losses due to improper postharvest practices. Treating fruits with different edible coatings can minimize postharvest losses. The experiment was carried out in the horticulture lab of Prithu Technical College, Dang, Nepal to evaluate the effects of different edible coating materials on the postharvest quality of mandarin. The experiment was laid in Complete Randomized Design (CRD) with three replications and seven treatments in each replication. Mandarins were coated with different edible coating materials i.e. paraffin wax (100%, 75% and 50%), mustard oil, Aloe vera, turmeric paste and control (non-coated). After coating with different edible materials, mandarins were kept at ambient room conditions (18±2℃ and 52.41±14.35%). The lowest physiological loss in weight at 7, 14and 21 days was recorded in mandarin coated with 75% paraffin wax which was 3.10%, 4.83% and 10.33%, respectively. The highest titratable acidity (0.68%), juice content (46.33%) and marketable fruit percentage (81.73%) were recorded in 75% paraffin wax. The highest total soluble solid (14.00 ˚Brix) was recorded in control. Based on the result obtained from our research, it is suggested to use 75% paraffin wax for the storage of mandarin at ambient room conditions (18±2℃ and 52.41±14.35% RH) as it gives a high percentage of marketable fruits and juice content and also minimizes the physiological loss in weight.
Zulkarnain Zulkarnain, Wan Abbas Zakaria, Dwi Haryono, Ktut Murniati
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 230-245; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.712

Abstract:
Ubi kayu merupakan tanaman multifungsi yang berperan sebagai bahan baku sumber energi alternatif, pangan serta pakan. Produksi ubi kayu harus ditingkatkan supaya berdaya saing tinggi. Tujuan penelitian yaitu menganalisis biaya transaksi usahatani ubi kayu; menganalisis komoditas unggulan; menganalisis daya saing ubi kayu; dan menganalisis dampak alternatif kebijakan dalam sistem komoditas di Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Lampung Tengah dengan menggunakan metode survei kepada 131 petani ubikayu yang diambil secara purposive. Analisis yang digunakan yaitu Transaction Cost (TrC); Location Quotient; PAM (Policy Analysis Matrix); dan Sensitivitas. Hasil penelitian (1) biaya transaksi ubi kayu sebesar Rp. 356.507,40/ha/petani/musim, (2) usahatani ubi kayu memiliki nilai LQ sebesar 1,06 artinya tanaman ubi kayu termasuk tanaman unggulan yang berdaya saing, (3) usahatani ubi kayu memiliki daya saing dalam produksi ubi kayu sehingga usahatani ubi kayu layak untuk terus dikembangkan, (4) analisis sensitivitas ubi kayu peka terhadap perubahan penurunan harga output dan peka terhadap perubahan kenaikan harga input dengan nilai persentase maksimal. Sarannya adalah pemerintah harus membuat kebijakan harga output untuk petani ubi kayu yang berupa Harga Minimum Regional (HMR) supaya daya saing ubi kayu lebih meningkat dan berkelanjutan.
Iskandar Umarie, Wiwit Widiarti, Oktarina Oktarina, Yoga Nurhadiansyah, Agus Budiawan
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 177-191; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.721

Abstract:
Salah satu Penyebab rendahnya produktivitas kedelai petani adalah penerapan teknologi yang masih rendah, serta teknik budidaya dan pengendalian organisme pengganggu tanaman yang tidak optimal. Cara untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui peningkatan produktivitas lahan yaitu dengan cara tumpangsari. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh frekuensi penyiangan dan pengendalian hama terhadap karakter fisiologi tanaman kedelai yang ditumpangsarikan dengan tebu. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember, dengan ketinggian tempat 89 meter di atas permukaan laut, mulai bulan Januari sampai Juni 2020. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor Pertama adalah Frekuensi Penyiangan Gulma, sebanyak 3 level, yaitu: P1: Penyiangan 1 kali,P2: Penyiangan 2 Kali, P3: Penyiangan 3 Kali, dan faktor kedua adalah Pengendalian Hama sebanyak 4 level yaitu: H0 = Insektisida Kimia yang berbahan aktif Deltametri 25 yang berbahan aktif Deltametri 25 yang berbahan aktif Deltametri 25 dengan konsentrasi 1 ml/l, H1 = Insektisida Nabati Ekstrak Daun Tembakau dan Daun jarak dengan konsentrasi 2 ml/l, H2 = Insektisida Nabati Ekstrak Daun Sirsak dengan konsentrasi 300 ml/l, H3 = Insektisida Nabati Ekstrak Daun Mimba dengan konsentrasi 100 ml/l. Hasil penelitian menunjukkan Interaksi antara frekuensi penyiangan dan pengendalian hama yang terbaik adalah frekuensi penyiangan dua kali (15 hst dan 30 hst) dengan pengendalian hama insektisida nabati ekstrak sirsak dengan konsentrasi 300 ml/l dan pengendalian hama satu kali (15 hst) insektisida nabati ekstrak daun Mimba dengan konsentrasi 100 ml/l merupakan kombinasi perlakuan terbaik.
Desta Andriani, Pebra Heriansyah
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 192-199; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.723

Abstract:
Perbanyakan tanaman anggrek secara generatif memiliki masalah karena biji anggrek tidak memiliki endosperm perlu diperbanyak menggunakan teknik kultur jaringan. Kontaminasi merupakan faktor pembatas dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis kontaminan yang terdapat pada kultur kalus Bromheadia finlaysoniana. Penelitian ini dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama dilakukan kultur dari berbagai eksplan Bromheadia finlaysoniana menggunakan media Murashige dan Skoog dengan pengayaan hormon 6-BAP (Benzylaminopurine) 1 mg/l; NAA (Naphthalene acetic acid) 0,5 mg/l; 100 mg myo inositol; pyridoxine-HCl 0,5 mg/l; thiamine-HCl 0,1 mg/l; nicotinic-acid 0,5 mg/l; glysine 2 mg/l. Tahap kedua menghitung jumlah dan persentase jamur kontaminan serta melakukan pengamatan makroskopik dan mikroskopik. Karakter makroskopis jamur kontaminan yang diamati meliputi warna koloni, arah pertumbuhan koloni dan bentuk permukaan koloni hifa, karakter mikroskopik yang diamati meliputi bentuk hifa (bersekat/tidak bersekat) dan produksi spora. Penentuan jenis kontaminan dibandingkan dengan morfologi dari Pustaka. Hasil yang diperoleh adalah persentase kontaminasi tertinggi pada eksplan tangkai bunga yaitu 81 % dan jumlah kontaminan tertinggi terjadi pada eksplan daun sebanyak 28 koloni. Jamur kontaminan yang tumbuh didominasi jamur dengan warna putih dan abu-abu dengan bentuk permukaan kasar. dari karakter mikroskopik sebagian besar memiliki hifa bersekat/bersepta dan tidak memproduksi spora. Hasil pengamatan karakter makroskopik mikroskopik jamur kontaminan pada kultur jaringan beberapa eksplan anggrek ditemukan dari jenis Rhizoctonia sp dan Mucor sp.
Ariel Sukma Mahendra Darmanto, Andree Wijaya Setiawan
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 208-218; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.725

Abstract:
Desa Tijayan merupakan salah satu desa di Kabupaten Klaten dengan tingkat penggunaan lahan untuk produksi biomassa yang tinggi. Penggunaan tanah secara terus menerus dapat mengakibatkan kerusakan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status, parameter pembatas, dan cara perbaikan kerusakan tanah. Penelitian dilakukan menggunakan metode desk study, wawancara, dan analisis laboratorium. Parameter kerusakan tanah berpedoman pada PP No 150 tahun 2000. Berdasarkan analisis data sekunder peta tematik diketahui Desa Tijayan berpotensi memiliki kerusakan tanah ringan (R II). Penetapan status kerusakan tanah menggunakan metode skoring frekuensi relatif setiap parameter terhadap seluruh titik sampel. Berdasarkan hasil analisa laboratorium diketahui Desa Tijayan memiliki tingkat kerusakan tanah rendah (R I) dengan luasan 99,56 Ha. Terdapat empat parameter pembatas kerusakan tanah yaitu; redoks, permeabilitas, bobot isi, dan tekstur. Perbaikan kerusakan tanah dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik pada musim kemarau, Bioclogging dan biocementation yang memanfaatkan limbah cair tahu sebagai media pertumbuhan Agrobacterium tumefaciens atau menambahkan bahan volkanorf S532.
Abere Haile, Negussie Siyum, Mekonnen Assefa, Mesfin Bahta
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 145-158; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.702

Abstract:
The study was basically focused on demonstration of bread wheat technologies for wider demand-driven technology diffusion in major wheat growing area in high land of eastern Amhara. The objectives were in order to evaluate and demonstrate improved bread wheat variety with their production package to the farming community and assess farmers and extension workers reaction towards improved bread wheat technology. The activity was conducted in main season 2019/2020 at Jama and Meket districts. The fact that wheat production and productivity in the region as well as in the particular study area low because farmers are using low yielding, disease and pest resistant local varieties. The improved bread wheat variety was demonstrated along with the local variety at 12 farmers' fields. Yield data, economic data, farmers’ perception and preferences were collected throughout the demonstration stages and data were analyzed by using ANOVA, partial budget analysis and preference ranking. The results of ANOVA showed that yield and yield related parameters statistically significant at the probability level of 0.01% and 0.05% among treatments. The highest mean yield was recorded from "Hibist" with improved management 2.49 ton/ha and 1.42 ton/ha at Jama and Meket districts respectively followed by local with improved management and the lowest was from local with farmers practices. Furthermore, the result of partial budget analysis show that the use of improved and local variety with recommended package more profitable with the MRR of 1.96 and 0.81 than farmer practices at Jama district and 74.26 and 9.26 at Meket district respectively. Farmer preference analysis improved & local variety with improved management ranks 1st and 2nd at Jama respectively while reverse at Meket and lastly ranks farmer practices at both districts. Generally, improved bread wheat with recommended package has higher yield advantage, financial feasibility and social acceptance than control and farmer practices, it is recommended to be scale out for further dissemination.
Marchel Putra Garfannsa, Sudiarso Sudiarso, Nur Edy Suminarti
Agro Bali : Agricultural Journal, Volume 4, pp 170-176; https://doi.org/10.37637/ab.v4i2.692

Abstract:
Indonesia, yang merupakan negara tropis, ubi jalar dapat tumbuh di hampir semua pulau di Indonesia. Ubi jalar memiliki berbagai varietas. Tanaman ubi jalar dikenal sangat responsif terhadap potasium. Diharapkan melalui penelitian ini akan diperoleh informasi tentang proporsi pupuk kalium yang tepat dalam setiap varietas yang diuji sehingga produktivitas tanaman ubi jalar dapat ditingkatkan. Eksperimen menggunakan Split Plot Design diulang tiga kali. Petak utama adalah Varietas (V), seperti Variasi Gunung Kawi dan Varietas Cilembu. Sub plot adalah Dosis KCl (K) yang terdiri dari 5 jenis seperti, K0 = 0 kg ha-1, K1 = 78 kg ha-1, K2 = 137 kg ha-1, K3 = 196 kg ha-1 dan K4 = 225 kg ha-1. Hasil observasi dianalisis dengan uji varians (uji F) pada level 5% dan 1%. Jika ada perbedaan yang signifikan, akan dilanjutkan dengan uji BNJ pada level 5% dengan korelasi dan uji regresi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pemberian pupuk kalium dapat mempengaruhi kualitas dari tanaman ubi jalar kedua varietas. Pemberian kalium 225 kg ha-1 mampu meningkatkan kadar serat umbi sebesar 35% namun berdampak pada pengurangan kandungan klorofil sebesar 14%.
Back to Top Top