Manuskripta

Journal Information
ISSN / EISSN : 2252-5343 / 2355-7605
Current Publisher: Masyarakat Pernaskahan Nusantara (10.33656)
Total articles ≅ 25
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Clara Shinta Anindita Apriyadi
Published: 31 December 2020
Manuskripta, Volume 10; doi:10.33656/manuskripta.v10i2.161

Abstract:
Women leaders as one form of emancipation, apparently already existed from the past. It can be found in ancient manuscripts. Ancient manuscripts can be our bridge in communicating with the past. Through the ancient manuscript we can know how life in the past happened. Therefore, ancient manuscripts should be kept and cared for, and preserved their contents in order to be a contribution of insight today. The values contained in the ancient manuscript are varied, one of which is the value of leadership. The value of female leadership is found in Hikayat Pandu and the manuscript of Dewi Maleka that will be the corpus of this study. The value of leadership or the image of leadership that serves as the basis of classification is Astabrata teaching. The aim of this research is to compare the leadership image of the female leaders from the Hikayat Pandu, the goddess Lara Amis and the female leaders of the goddess Malacca script. The method of research used is the comparative literary method. This research resulted in a comparison of leadership imagery between female leader figures derived from the Malay version (Hikayat Pandu) and Javanese version (Dewi Maleka) script. It can therefore be concluded that there are similarities and differences in the image of female leadership between Dewi Lara Amis and Dewi Melaka. Research into the comparison of leadership imagery, especially on female leaders has not been done in Hikayat Pandu and the manuscript goddess Maleka. Thus, this study presents a new discussion that can be an additional knowledge for readers. --- Pemimpin wanita sebagai salah satu bentuk emansipasi, ternyata sudah ada dari masa lalu. Hal tersebut dapat ditemukan dalam naskah kuno. Naskah kuno dapat menjadi jembatan kita dalam berkomunikasi dengan masa lalu. Melalui naskah kuno tersebut kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan di masa lalu itu terjadi. Oleh karena itu, naskah kuno sudah seharusnya dijaga dan dirawat, serta dilestarikan isinya supaya dapat menjadi sumbangan wawasan di zaman sekarang. Nilai-nilai yang terkandung dalam naskah kuno beraneka ragam, salah satunya ialah nilai kepemimpinan. Nilai kepemimpinan wanita ditemukan pada naskah Hikayat Pandu dan naskah Dewi Maleka yang akan menjadi korpus pada penelitian ini. Nilai kepemimpinan atau citra kepemimpinan yang dijadikan landasan sebagai dasar klasifikasi yaitu ajaran astabrata. Tujuan penelitian ini adalah melakukan perbandingan citra kepemimpinan dari tokoh pemimpin wanita dari naskah Hikayat Pandu yaitu tokoh Dewi Rara Amis dan pemimpin wanita dari naskah Dewi Maleka yaitu tokoh Dewi Maleka. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif analisis dan teori yang digunakan ialah teori sastra bandingan. Penelitian ini menghasilkan perbandingan citra kepemimpinan antara tokoh pemimpin wanita yang berasal dari naskah versi Melayu (Hikayat Pandu) dan naskah versi Jawa (Dewi Maleka). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan citra kepemimpinan wanita antara Dewi Rara Amis dan Dewi Maleka. Persamaan dan perbedaannya, yaitu Dewi Maleka memiliki delapan klasifikasi dalam astabrata, sedangkan Dewi Rara Amis hanya memiliki lima klasifikasi dalam astabrata antara lain ambeging surya, ambeging rembulan, ambeging angin, ambeging banyu, dan ambeging bumi.
Trie Utari Dewi, Syarif Hidayatullah, Nur Aini Puspitasari
Published: 31 December 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 283-283; doi:10.33656/manuskripta.v10i2.165

Abstract:
Manuscripts are a national cultural heritage that must be cared for and preserved. One of the ways to maintain the text of the manuscript is by revealing the contents contained in it. One of the manuscripts that needs to be disclosed is the Wawacan Samun (WS) script. This is because the character values ​​in Samun's wawacan script can be used as an example for the community, especially students as potential national leaders. The Wawacan Samun manuscript tells about the journey of the Gnadasari character in trying to be able to meet his brother again, Gandawerdaya. On that journey there were obstacles that he faced. however, he managed to face all these obstacles thanks to the good qualities he had and the kindness of other characters. Therefore, the character and attitude of the characters in the WS text need to be emulated by the wider community. For this reason, the purpose of this study is to reveal the character values ​​contained in the Wawacan Samun manuscript so that it can be used as a guide for life for the nation's future generations. The method used in this research is descriptive analysis, using data sources from the Wawacan samun manuscript that has been edited and transliterated. The analysis technique used is the observation and note technique. The character values ​​contained in the Wawacan Samun manuscript include 1) Responsible; 2) Trustworthy and Honest; 3) Respect and Courtesy; 4) Compassion, Caring, and Cooperation; 5) Confident, Creative, Hard Work, and Never Give Up; 6) Fairness and Leadership; 7) Kind and Humble; and 8) Tolerant. --- Abstrak Naskah merupakan warisan budaya bangsa yang harus dirawat dan dipelihara. Salah satu cara untuk memelihara teks naskah yaitu dengan mengungkap isi kandungan yang terdapat di dalamnya. Salah satu naskah yang perlu diungkap isi kandungan di dalamnya adalah naskah Wawacan Samun (WS). Hal ini dikarenakan adanya nilai karakter pada naskah wawacan Samun dapat dijadikan contoh bagi masyarakat, khususnya para pelajar sebagai calon pemimpin bangsa. Naskah Wawacan Samun menceritakan tentang perjalanan tokoh Gnadasari dalam berupaya untuk dapat bertemu dengan kakaknya kembali, Gandawerdaya. Dalam perjalanan tersebut terdapat halang rintangan yang ia hadapi. Akan tetapi, semua rintangan tersebut berhasil ia hadapi berkat sifat baik yang ia miliki serta kebaikan dari tokoh-tokoh lainnya. Oleh karena itu, sifat dan sikap baik yang terdapat pada para tokoh dalam naskah WS perlu untuk diteladani oleh masyarakat luas. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap nilai karakter yang terdapat di dalam naskah Wawacan Samun agar dapat dijadikan pedoman kehidupan bagi generasi penerus bangsa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif analisis, dengan menggunakan sumber data dari naskah Wawacan samun yang telah disunting dan ditransliterasikan. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah dengan teknik simak dan catat. Nilai karakter yang terdapat dalam naskah Wawacan Samun antara lain adalah 1) Bertanggung Jawab; 2) Amanah dan Jujur; 3) Hormat dan Santun; 4) Kasih Sayang, Peduli, dan Kerjasama; 5) Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah; 6) Adil dan Kepemimpinan; 7) Baik dan Rendah Hati; serta 8) Toleran.
Ahmad Alfan Rizka Alhamami
Published: 24 December 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 249-249; doi:10.33656/manuskripta.v10i2.167

Abstract:
Since its establishment on October 28, 1890, Paheman Radyapustaka has only been known for its function as a museum. The main activity of Paheman Radyapustaka is as a place for writing, copying, and collecting Surakarta manuscripts, so that Paheman Radyapustaka deserves to be called a Scriptorium. This paper aims to reveal the production activities of the Paheman Radyapustaka scriptorium which includes the writers / copyists, the writing results, and the genre. The method in this paper is a method of codicological studies that includes history, writers / copyists, and scriptorium collections. The results of the search through the archives and manuscript colophon of the Paheman Radyapustaka scriptorium were that of the 400 manuscripts in his collection, there were 82 manuscripts written by the Scripts of the Scriptures. The scribes of the Paheman Radyapustaka Scriptorium were Wirapustaka, Sastrasayana, Dayapangreka, Karyarujita and the residents. The genres written by the scribes of the Paheman Radyapustaka scriptorium are macapat and gancaran.
Adilah Nurul Hidayah
Published: 21 December 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 225-225; doi:10.33656/manuskripta.v10i2.154

Abstract:
Hikayat Sultan Taburat written by Muhammad Bakir. Hikayat Sultan Taburat is one of adventure stories which is also included in the type of solace tale. This research used transliteration of Hikayat Sultan Taburat ML 259 version from Rias Anto Suharjo in 2019. Hikayat Sultan Taburat has a dominant aesthetic elements and function in it. Malay aesthetic theory by Bragunsky used to be able to reveal those purpose. The various elements of external aesthetic in Hikayat Sultan Taburat could be identified through the description of the beauty of clothing, the charm of the princess, garden, music, reception, warfare, ship, and the crowds of the country. The function of external aesthetic in Hikayat Sultan Taburat is to entertain the reader.
Kholifatu Nurlaili Mahardhika, Dewaki Kramadibrata
Published: 21 December 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 193-193; doi:10.33656/manuskripta.v10i2.163

Abstract:
This article explains how to apply criminal sanctions in the text of the Undang-Undang Hukum Laut (UUHL). This study aims to explain the form of regulations contained in the UUHL by looking at the criminal sanctions applied. In addition, this research is expected to provide benefits to overcome marine problems faced today. The research was conducted by means of philology. The analysis is carried out with a legal law approach to see the criminal sanctions contained in the UUHL. Based on the analysis that has been done, it can be seen that in the UUHL that the criminal sanctions imposed on people on board vary not only depending on the type of crime, but also on the subject of criminal law. The application of the UUHL law has certain stratifications. For the same crime, criminal offenders of different positions can receive different sentences. This shows that when the UUHL was implemented, there was no principle of equality of rights in effect. Abstrak Artikel ini menjelaskan bagaimana penerapan sanksi pidana dalam naskah Undang-Undang Hukum Laut (UUHL). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk peraturan yang terkandung dalam UUHL dengan melihat sanksi pidana yang diterapkan. penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk mengatasi masalah kelautan yang dihadapi pada masa kini. Penelitian dilakukan dengan cara kerja filologi. Analisis dilakukan dengan pendekatan hukum untuk melihat sanksi pidana Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terlihat bahwa dalam UUHL, sanksi pidana yang dijatuhkan untuk orang-orang di atas kapal berbeda-beda tidak hanya bergantung kepada jenis pidana, tetapi juga kepada subjek hukum pidana. Penerapan hukum UUHL memiliki stratifikasi tertentu. Atas tindak pidana yang sama, pelaku pidana yang berbeda jabatannya dapat menerima hukuman yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat UUHL diterapkan, tidak ada azas kesamaan atas hak yang berlaku.
Bernard Arps
Published: 20 December 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 177-191; doi:10.33656/manuskripta.v10i2.170

Abstract:
The author argues for the importance of a scholarly attitude and competence he terms philological sensitivity. Philology is usually associated with the study of manuscripts, where it is a sophisticated approach for making sense of texts. It entails a specific focus and mode of understanding. But the significance and utility of philology are not restricted to texts or manuscripts. Its scope is wider. Its approach is grounded in a cultural tendency that lives in society, namely the tendency to experience and try to understand five aspects of a cultural process or object: its artefactuality, apprehensibility, compositionality, contextuality, and historicity. If cultivated to meet the requirements of academic scholarship, this philological sensibility may form a perspective for understanding other kinds of artefacts too – especially if selectively enriched with elements from philological traditions worldwide. The author discusses examples from his own research: a manuscript with the narrative of Amir Hamza in Javanese, religious sermons in Osing on Youtube, and oral critique regarding shadow puppetry. --- Penulis mengemukakan pentingnya sebuah sikap dan keterampilan ilmiah yang disebutnya kepekaan filologis. Filologi lazim dihubungkan dengan studi naskah tulisan tangan, di mana filologi merupakan pendekatan canggih untuk mengapresiasi teks. Pendekatan tersebut membawa fokus dan cara pemahaman yang khas. Tetapi makna dan guna filologi tidak terbatas pada teks, apalagi naskah. Jangkauannya lebih luas. Pendekatan yang telah dikembangkan dalam rangka filologi teks itu berdasarkan kecenderungan kultural yang hidup di masyarakat, yaitu kecenderungan untuk menghayati dan memahami lima aspek dari sebuah proses atau benda budaya: keterbuatan, ketercerapan, ketersusunan, kontekstualitas dan kesejarahannya. Jika dipupuk sehingga memenuhi syarat ilmu pengetahuan, sensibilitas filologis tersebut bisa menjadi wawasan yang andal untuk pemahaman artefak budaya lain pula – apalagi kalau wawasan tersebut diperkaya dengan menyerap unsur-unsur terpilih dari tradisi filologi seantero dunia. Penulis mengutip contoh dari penelitiannya sendiri: naskah berisi ceritera Amir Hamzah berbahasa Jawa, ceramah agama Islam berbahasa Osing di Youtube, dan kritik lisan atas pertunjukan wayang.
Novarina Novarina
Published: 25 August 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 67-93; doi:10.33656/manuskripta.v10i1.142

Abstract:
This research is a comparative literary study that uses Malay and Javanese versions of Mahabarata text sources. The research objects used were the text edition of Pandhawa Gubah (PG) by Sudibjo Z. Hadisutjipto and the text of Cheritera Pandawa Lima (CPL) by Khalid Hussain. The research method used is descriptive-analysis method. In the comparative study used a comparative literary theory proposed by Endraswara (2011). The results of the text comparison reveal the similarities and differences in the image of Bima figures in the Javanese and Malay versions. The equation as a whole is that both texts contain the same heroic storyline and heroic character, Bima. In addition, Indian influence is still evident in the two texts seen from the nuances of Hinduism that exist in both texts. While the difference is seen in the events that accompany Bima's struggle in achieving his victory. Based on these similarities and differences, it can be seen that the authors attempt to represent the concept of metaphysical interactions vertically and horizontally expressed through PG text. --- Abstrak: Penelitian ini adalah satu kajian sastra bandingan yang menggunakan sumber teks Mahabarata versi Melayu dan Jawa. Objek penelitian yang digunakan adalah edisi teks Pandhawa Gubah (PG) karya Sudibjo Z. Hadisutjipto dan teks Cheritera Pandawa Lima (CPL) karya Khalid Hussain. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis. Dalam telaah perbandingan digunakan teori sastra bandingan yang dikemukakan Endraswara (2011). Hasil perbandingan teks mengungkapkan adanya persamaan dan perbedaan citra tokoh Bima dalam versi Jawa maupun versi Melayu. Persamaan secara keseluruhan adalah kedua teks tersebut mengandung alur cerita kepahlawanan dan tokoh pahlawan yang sama yaitu Bima. Selain itu, pengaruh India masih tampak dalam kedua teks tersebut dilihat dari nuansa Hinduisme yang ada dalam kedua teks. Sementara perbedaannya tampak pada peristiwa-peristiwa yang menyertai perjuangan Bima dalam mencapai kemenangannya. Berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut tampak adanya upaya penulis untuk merepresentasikan konsep interaksi metafisik secara vertikal dan horizontal yang diungkapkan melalui teks PG.
Rizqi Handayani Handayani
Published: 25 August 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 29-65; doi:10.33656/manuskripta.v10i1.152

Abstract:
This article explains the views of the Malay community regarding the concept of a king in one of the magical adventure stories, entitled Hikayat Kemala Bahrain ML 443 (HKB). HKB is one of the classic Malay magical adventures stored in the National Library of the Republic of Indonesia. HKB tells about the adventures of a king in finding his identity as the heir to the kingdom. The results of this study indicate that HKB carries the idea of ​​the Malay king as the caliph on earth (Ḍillullah fī al-‘ālam). However, in formulating the concept of king's leadership, the Malay community was still trapped in the idea of ​​god-king spiritualism (devarāja spiritualism) which became one of the criteria attached to the Malay king. Based on the king's conception presented by HKB, it is clear that the Malay worldview aspires to a leader or king who upholds political and state ethics based on noble moral values ​​that are relevant to various situations and conditions. --- Abstrak: Artikel ini menjelaskan pandangan masyarakat Melayu mengenai konsep raja dalam salah satu hikayat petualangan ajaib, yang berjudul Hikayat Kemala Bahrain ML 443 (HKB). HKB merupakan salah satu hikayat petualangan ajaib melayu klasik yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. HKB bercerita tentang petualangan seorang raja dalam menemukan identitas dirinya sebagai pewaris kerajaan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa HKB mengusung gagasan tentang raja Melayu sebagai khalifah di muka bumi (Ḍillullah fī al-‘ālam). Namun, dalam merumuskan konsep kepemimpinan raja, masyarakat Melayu masih terjebak pada gagasan tentang spiritualisme dewa-raja (devarāja spiritualism) yang menjadi salah satu kriteria yang melekat pada raja Melayu. Berdasarkan pada konsepsi raja yang ditampilkan HKB maka terlihat jelas bahwa pandangan dunia Melayu mencita-citakan pemimpin atau raja yang menjunjung tinggi etika politik dan kenegaraan yang berbasis pada nilai-nilai moral yang luhur yang relevan dengan berbagai situasi dan kondisi. Keywords: Magical Adventure Stories, Malay King Concept, Leader Ethics, Hikayat Kemala Bahrain. Kata Kunci: Hikayat Petualangan Ajaib, Konsepsi Raja Melayu, Etika Kepemimpinan, Hikayat Kemala Bahrain.
Ilham Nurwansah
Published: 25 August 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 95-146; doi:10.33656/manuskripta.v10i1.141

Abstract:
Until the early 20th century, the Sundanese region was considered to have no musical history, even though such information contained, among others, the Old Sundanese script. Not many researches on the history of Sundanese music have used Old Sundanese textual sources. This paper discusses aspects of instrumental music found in Old Sundanese texts including terms used to refer to music and the types of musical instruments used. The sources used are Old Sundanese texts from the pre-Islamic period between the 15th and 17th centuries AD. Several Old Sundanese musical instruments are still known and used today with or without changes. Others are no longer known. Old Sundanese musical instruments are played alone or in groups, either on a stage or a parade. Its function is to accompany entertainment and also to accompany the ritual process. The basic material for the body of the musical instrument used is generally bronze metal and wood, including bamboo. --- Abstrak: Hingga awal abad ke-20 wilayah Sunda dianggap tidak memiliki sejarah musik, padahal informasi demikian antara lain terdapat dalam naskah Sunda Kuna. Penelitian sejarah musik Sunda pun tampaknya belum banyak yang menggunakan sumber tekstual Sunda Kuna. Tulisan ini membahas aspek-aspek musik instrumental yang terdapat pada teks-teks Sunda Kuna mencakup istilah yang digunakan untuk menyebut musik dan jenis-jenis alat musik yang digunakan. Sumber-sumber yang digunakan yaitu teks Sunda Kuna dari masa pra-Islam antara abad ke-15 sampai abad ke-17 M. Beberapa instrumen musik Sunda Kuna masih dikenal dan digunakan hingga sekarang dengan atau tanpa perubahan. Sebagian lainnya sudah tidak dikenal. Instrumen musik Sunda kuna ada yang dimainkan sendiri maupun berkelompok, baik pada sebuah panggung maupun parade. Fungsinya untuk mengiringi hiburan dan juga mengiringi proses ritual. Bahan dasar badan alat musik yang digunakan umumnya berupa logam perunggu dan kayu-kayuan, termasuk bambu. Keywords: Old Sundanese, music, instrumental. Kata Kunci: Sunda Kuna, musik, instrumental.
Muhammad Masrofiqi Maulana
Published: 25 August 2020
Manuskripta, Volume 10, pp 147-167; doi:10.33656/manuskripta.v10i1.160

Abstract:
Some interpreters in Java tend to use the mystical style of tasawwuf-kejawen to interpretate the Quran. One of the interpreters is Kiai Mustojo, Campurejo, Sambit, Ponorogo. This article presents the theory of tasawwuf and sufi interpretation, the manungguling kawula-Gusti concept, Kiai Mustojo manuscript identification, and the analysis of manunggaling kawula-Gusti concept in the Kiai Mustojo’s interpretation on al-Fatiha. This interpretation is once of historical evidence that there is an intense contact between Islamic teaching and Javanese mysticism in the inland of Java and it’s as legitimation of his mystical-Kejawen teachings. His interpretation will always reveal the meaning behind the literal meaning of a word in al-Fatiha. Even though, it has a meaning more than connotative meaning, it doesn’t mean the denotative meaning that exist in the Quran is not so important. It causes the connotative meaning becomes a gateway for the entrance to understand of other meanings. --- Abstrak: Beberapa mufassir di Jawa cenderung menggunakan corak tasawuf mistik kejawen dalam menafsiri Alquran. Salah satu penafsir yang menggunakan sufistik-kejawen dalam melakukan pembacaan atas Alquran adalah Kiai Mustojo, Campurejo, Sambit, Ponorogo. Artikel ini menampilkan teori tasawwuf dan penafsiran sufi, konsep manunggaling kawula-Gusti, identifikasi naskah Manuskrip Kiai Mustojo dan analisa konsep manunggaling kawula-Gusti dalam penafsiran Kiai Mustojo atas surah al-Fatihah. Penafsiran Kiai Mustojo ini menjadi salah satu bukti historis bahwa adanya hubungan yang begitu intens antara ajaran Islam dan ajaran mistik Jawa di Pedalaman Jawa serta merupakan legitimasi akan ajaran-ajaran mistik Kejawennya. Penafsirannya akan selalu mengungkap makna di balik makna literal sebuah kata dalam al-Fatihah. Meski memiliki makna yang lebih dari makna konotatif, bukan berarti makna denotatif yang ada dalam Alquran tidak begitu penting. Sebab makna literal dari sebuah kata yang ada dalam Alquran menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna lain.
Back to Top Top