Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-7900 / 2686-0198
Total articles ≅ 36
Filter:

Latest articles in this journal

Ibelala Gea
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 29-40; doi:10.36972/jvow.v3i2.52

Abstract:
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan kepemimpinan manusia dengan kepemimpinan Yesus dan mengapa kepemimpinan Yesus direkomendasikan sebagai teladan pemimpin masa kini. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menganalisis, membandingkan dan menyimpulkan pendapat dari sebanyak 31 referensi, yaitu 18 jurnal ilmiah, 11 buku, 1 prosiding dan 1 Alkitab LAI. Hasil penelitian menyimpulkan kepemimpinan manusia cenderung mengutamakan kemampuan lahiriah seperti: kompentensi sumber daya manusia, strategi marketing komunikasi, metoda, materi yang dikemas dalam kesalehan, kesantunan yang bersifat drama dengan motif self interest. Kepemimpinan manusia cenderung menjadi sumber masalah di mana para pemimpin kurang mengaklimatisasi diri, bersahabat dengan orang–orang tertentu. Sehingga terbentuk kelompok pro-kontra dalam satu institusi, angkuh, senang dilayani dari pada melayani. Sedangkan kepemimpinan Yesus tidak mengabaikan kemampuan lahiriah, tetapi lebih mengutamakan kepemimpinan dari hati berdasarkan kasih yang tulus ikhlas, tidak membedakan siapapun, musuh dikasihi dan dituntun-Nya kepada kebenaran. Yesus sebagai hamba, melayani dan bukan dilayani, bukan pencitraan. Dia bertindak sebagai gembala, tidak membiarkan seorang pun binasa, hadir di tengah-tengah mereka yang menderita dan termarjinalkan. Seluruh kepemimpinan-Nya dan keputusan-Nya berdasarkan kehendak Allah, tidak mengorbankan siapapun. Kepemimpinan manusia cenderung tidak berintegritas, sedangkan Yesus mengutamakan integritas, hidup dalam kejujuran yang sempurna. Yesus mengajarkan bahwa “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat.5:37). Kepemimpinan Yesus relevan sebagai teladan bagi pemimpin masa kini.
Alberth Darwono Sarimin
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 1-14; doi:10.36972/jvow.v3i2.47

Abstract:
The existensi of the church in this world because of mandate mission of Jesus Christ. To know how the church can serve community well, in this paper the Colossians become a focus of research and the reason to choose this letter was the collosians consist of plural community.The purpose of this paper is to look at how religion sociology influences social life and theology can drive social change system. While the research method that was used is library researchSocial structure that is formed in Colossian community provides an opportunity for the growth of false teaching and seeing this social structure strongly built in Colossian Paul raised a theology of fullness of God in Christ and belivers are fulfilled in Christ. In other words that the supremacy of Christ in everything and over everythingThe existence of the church has a role to drive social system and to apply that system Christ should be supremed, supremacy of Christ is above the mission and the church has a strategy to carry out its mission. In other words, to be able to serve community, the church should place Christ over everything and have a strategy in carrying out its mission so that the church which is a sub system in the community able to move a larger system Keywords: Fulllness, fulfilled, supremacy, Christ
Harun Y. Natonis
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 15-27; doi:10.36972/jvow.v3i2.48

Abstract:
Juan dari penelitian ini adalah untuk beberapa hal. Pertama, apa sesungguhnya kepemimpinan transformatif dari perspektif Pendidikan Agama Kristen. Kedua, bagaimana karakteristik kepemimpinan transformatif dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen. Ketiga, bagaimana strategi dalam mengimplementasikan kepemimpinan transformatif dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen?. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen, kepemimpinan transformatif dilihat dalam karakter kepemimpinan Yesus. Kepemimpinan transformatif Yesus menunjukkan bahwa dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus berwibawa. Dengan kewibawaan, maka pemimpin menjalankan kepemimpinan dengan perencanaan dan strategi yang matang. Strategi yang matang menolong pemimpin dan masyarakatnya menyelesaikan masalah. Pemimpin ini memiliki kompetensi mengetahui karakter setiap individu yang dipimpinnya. Pemimpin juga mampu memandang masa depan masyarakatnya dan menghendaki masyarakatnya dapat berkembang secara mandiri. Dan yang paling utama pemimpin ini adalah pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi masyarakatnya.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 41-53; doi:10.36972/jvow.v3i2.46

Abstract:
Banyak paham tentang keselamatan yang berkembang di kalangan kekristenan yang pada umumnya betumpu pada Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan. Namun, paham universalisme adalah menyimpang dari Alkitab dan menyesatkan banyak orang. Karena itu, penulis tergerak untuk menulis Keselamatan Universalisme Versus Soteriologi Kristen Dalam Persfektif Alkitab. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengkritisasi paham universalisme berdasarkan Alkitab sehingga dapat menemukan pemahaman yang sejati tentang keselamatan berdasarkan Alkitab. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa paham universlisme bertentangan dengan Alkitab karena meyakini bahwa pada akhirnya semua manusia akan selamat. Namun berdasarkan Alkitab dikethui bahwa ada manusia yang beroleh selamat dan ada juga yang binasa atau dihukum ; Paham univeraslisme juga meyakini bahwa karena kasih karunia Allah maka semua manusia akan diselamatkan. Namun berdasarkan Alkitab dapat diketahui bahwa kasih Allah akan manusia di dunia ini sehingga telah mangaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Begitu Tuhan Yesus mati di atas kayu salib, maka ada titik peralihan – hanya orang yang percaya yang beroleh selamat, sementara yang tidak percaya Tuhan Yesus akan binasa selama-lamanya ; Selain itu, paham universlisme juga meyakini bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya melalui perbuatan baik. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa manusia diselamatkan karena kasih karunia Allah dan karena iman kepad Tuhan Yesus. Perbuatan baik manusia tidak ampu untuik menyelamatkan manusia.
Bone Pandu Wiguna
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 54-64; doi:10.36972/jvow.v3i2.55

Abstract:
Beribadah sering hanya diartikan sebagai kegiatan umat untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Ibadah di gereja akan mengangkat kerohanian mereka dan memberi harapan yang lebih menyenangkan dalam kehidupan mereka.Ibadah yang berasal dari kata abodah, berarti melayani, memberikan sesuatu kepada Tuan (Tuhan) yang sudah lebih dulu bertindak. Jadi ibadah merupakan jawab manusia atas tindakan Allah yang terlebih dulu berfirman, bertindak, dan memberi kepada manusia.Ibadah harus peka terhadap perubahan yang terjadi tentang kenyataan hidup dan perubahan pandangan-pandangan manusia. Ibadah haruslah bersangkut-paut dengan keadaan nyata dalam hidup ini. Ibadah dapat menjadi sumber untuk pembaharuan gereja. Pengalaman beribadah dapat merupakan saat untuk mengkomunikasikan isi dari pengajaran Alkitab kepada kenyataan keseharian kita.Ibadah yang diperkenalkan Wesley mendukung dan merangsang pembaharuan.Ia tidak mencoba untuk mengubah secara besar-besaran ibadah Inggris, namun ia mendukung perubahan-perubahan yang timbul yang mengubah baik bentuk maupun maksud dari ibadah.John Wesley menghargai liturgi dan Ekaristi dalam tradisi gereja Anglikan. Tetapi dia, walaupun pada mulanya agak terpaksa, akhirnya mengakui nilai-nilai praktis kotbah spontan, doa bebas dan nyanyian pujian. Inilah sumbangasih Wesley yang terpenting dalam sejarah keKristenan di Inggris pada abad 18 tentang liturgy gereja.Kotbah spontan dilakukan dikarenakan John tidak punya cukup waktu untuk menuliskan semua kotbahnya, dimana dia harus berkotbah sehari kadang lebih dari satu kali.Kotbahnya bersifat doctrinal, etis, tetapi selalu bersemangat.Hampir semua “Pengajaran atau doktrin Wesleyan” itu terdapat dalam kotbah-kotbahnya.Doa bebas dilakukan sebagai tambahan dari doa2 yang sudah ada dalam liturgy Anglikan.Nyanyian2 digubah (olah Charles Wesley) untuk situasi/ibadah2 tertentu.Wesley menggunakan nyanyian pujian menjadi alat mengajar dan alat untuk mengubahkan seseorang. Nyanyian pujian merupakan suatu penyataan theologia dan sebagai suatu sarana dalam menjalankan pengajaran Alkitabnya.John Wesley bukan saja mempengaruhi isi dan cara dari ibadah-ibadah di Inggris, ia juga memperkenalkan bentuk-bentuk baru dalam beribadah. Kebaktian Larut Malam (Watch Night Service).Perjamuan Kasih (Love Feast Service) dan Kebaktian Perjanjian dan Kebaktian Perjanjian (Covenant Renewal Service).Wesley agak segan untuk menyimpang dari ibadah Anglikan, tapi ia bersedia untuk memberikan tambahan-tambahan bentuk baru dan beberapa penghapusan. Ada dua kriteria: (1)apakah mereka sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan dari gereja kuno? Dan (2)apakah ini memiliki kuasa untuk membawa keselamatan?Apakah tradisi ini masih penting untuk masa kini? Tradisi dapat dan harus digunakan. Tradisi harus digunakan secara cermat dengan mengambil daripadanya hal-hal yang dapat bermanfaat bagi Ibadah didalam suatu jemaat modern. Ibadah harusnya “diubah menurut keragaman dari Negara, waktu, tingkah laku orang-orangnya sehingga tidak ada yang ditetapkan yang melawan perintah Allah”.Fokus dalam Gereja Methodist adalah hasil dari ibadah itu sendiri dan bukan pada peristiwa atau tindakan ibadah itu saja. Itu sebabnya pada akhir khotbah hampir selalu dilakukan “Altar Calling” (“Panggilan Kemuridan”).Hubungan Ibadah dengan pengabaran Injil janganlah diabaikanIbadah harus terjadi diluar dinding-dinding bangunan Gereja. Karena pekabaran Injil tidak selalu harus berarti mengumpulkan orang kedalam Gereja. Situasi di Indonesia sekarang dengan wabah pandemi Covid-19 membuktikan, bahwa Gereja harus inovatif dalam beribadah. Tidak ada lagi ibadah dalam gedung gereja. Gereja melakukan inovasi dalam ibadah on line. Kotbah2 yang di up load di media massa, FB, twiter, instagram dll memungkinkan didengar oleh banyak orang. Dalam situasi Wabah korona ibadah bukan hanya pada kesaksian melalui kata, melainkan dengan tindakan nyata. Ibadah tradisionil harus ditinggalkan dan diganti dengan ibadah inovatif, sesuai dengan tehnologi yang dimiliki.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 54-72; doi:10.36972/jvow.v3i1.40

Abstract:
As God's people, the church needs to realize that diversity is an essential nature of the Unitary State of the Republic of Indonesia. Efforts to homogenize nations that are diverse in race, ethnicity, culture, and religion must be seen as efforts to divide the nation. Therefore religions in Indonesia, especially the Church of God must really be a motivator and encourage their citizens to be truly aware of the diversity of the nation and take part in fostering a lifeof life that respects diversity and tolerates life with fellow human beings with everything attached to himself, including his religion and culture. In connection with the above, the church leaders and theologians must really try to find an understanding of faith that encourages people to accept differences and be able to build a tolerant life together. Efforts in that direction can be built through the perspectives of all fields of theological studies. This paper contains efforts to build a tolerant shared life from a systematic perspective. Theology of Religions and the Biblical (Old Testament). The dogmaticperspective sees two basic needs, namely to nurture and increasingly take root in the faith of church members, and the need to determine attitudes towards the presence of other religious life together. Without forgetting the universal nature of religion as an expression of religious awareness. From an ethical perspective feel the need to develop global ethics that are universal. From the perspective of the science of religions, it is necessary to highlight the verses of the Scriptures possessed by each religion that is universal. While the Biblical perspective sees the importance of Christians understanding their holy books diachronically and holistically. Because improper ways of understanding the Bible make possible the birth of exclusive fundamentalists. Central themes, such as love, justice, truth, peace, redemption, goodness, and life are believed to be from God, all of which are universal. All biblical texts, if understood, diachronically, then the text messages are the central themes already mentioned.
Horbanus Josua Simanjuntak
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 43-53; doi:10.36972/jvow.v3i1.38

Abstract:
“Siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan seorang ahli Taurat ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahamannya tentang “sesamanya manusia” yang hanya terbatas pada orang Yahudi saja. Pemahaman seperti ini akan cenderung membatasi perilaku untuk mengasihi orang lain di luar satu ikatan hubungan tertentu. Bahkan praktek hidup primordial seperti ini dapat merusak kesKata kunci kurang atuan dan persatuan bangsa. Karena itu, diperlukan suatu kajian eksegetis tentang konsep “sesamaku manusia” dalam Lukas 10: 25-37, supaya mendapatkan konsep yang benar tentang sesama manusia. Penulis injil Lukas menunjukkan, konsep “sesama manusia” yang harus dikasihi tidak dibatasi oleh ikatan apapun, bahkan musuh atau yang memusuhipun harus dikasihi, seperti mengasihi diri sendiri. Dengan demikian, diharapkan setiap orang untuk mengasihi sesamanya manusia, seperti dirinya sendiri. Hal ini akan berdampak terhadap harmonisasi hubungan dengan siapa saja, sehingga dapat menjaga keutuhan, kesatuan dan persatuan, seperti satu bangsa.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 1-15; doi:10.36972/jvow.v3i1.30

Abstract:
Some Christian education experts have expressed their views on how the church should develop a curriculum to educate church members to achieve maturity in the Christian faith. This article purpose to develop a curriculum for Christian education in Church ministry. The method used is a literature study on the opinions of D. CampbellWyckoff and Maria Harris. The characteristics of Wyckoff and Harris's opinions and various responses in "imaginative dialogue", as well as modifications of the Christian education Foundations, Principles andPractices schemes of Robert W. Pazmino became a model to develop a Christian education curriculum in church life. The development of the Christian education curriculum begins with setting the goal of implementing Christian education for a group in the Christian community. Furthermore, curriculum development requires thecontribution of various development foundations, including biblical, theological, philosophical, educational, scientific and technological, historical, socio-cultural, ecclesiological and psychological.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 27-42; doi:10.36972/jvow.v3i1.35

Abstract:
Pemerintah Indonesia mencanangkan pembangunan SDM Unggul sebagai program kerja Kabinet Indonesia Maju. Human Capital 0,53 dan Global Competitiveness Index 50/141—yang rendah memberikan indikator kemampuan bertahan bangsa Indonesia di panggung dunia. Artikel ini memakai tiga faktor dalam memeta realita dan tantangan bagi Indonesia: Revolusi Industri Jilid 4 dan Globalisasi, Pergeseran Budaya Generasi, dan Bonus Demografi.Bagaimana gereja-gereja dapat turut berperan-serta dalam pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Tulisan ini menelusuri respon John Wesley terhadap kelesuan iman, kehidupan ekonomi dan sosial politik di Inggris pada abad 18 untuk dapat menjadi pembelajaran gereja di Indonesia dalam menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Misi dan spirit Wesleyan (kegerakan Methodist) memperhatikan seluruh aspek kehidupan—membangun iman dan kapasitas para anggota melalui pertemuan-pertemuan Methodist (Society, Class Meeting, Band) dan dalamseluruh aspek kehidupan bermasyarakat.
Nurasyah Dewi Napitupulu
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 16-26; doi:10.36972/jvow.v3i1.39

Abstract:
Many studies assume that the professionalism of teachers is influenced by his personality. Personality is a psychological characteristic that contributes to learning outcomes and academic achievement. However, research that proves this assumption is limited in the domain of Christian teachers as part of teachers inIndonesia. This study aims to analyze the correlation between teachers’ personality and professionalism obtained through questionnaires and interviews. The analysis was carried out on 16 Christian teachers participated who were attending the Postgraduate Program in "Educational Professional Development" instruction. The results of the correlation test using the SPSS Version 21 program showed that Sig. (2-tailed) = 0.042
Back to Top Top