Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam

Journal Information
ISSN / EISSN : 2088-3102 / 2548-415X
Current Publisher: Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (10.34001)
Total articles ≅ 7
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Ach Rofiq
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 16; doi:10.34001/tarbawi.v16i1.997

Abstract:
Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang fokus pada studi doktrin Islam. Namun, oleh sebagian pihak, pesantren dituduh sebagai pusat pendidikan Islam radikal yang mempelajari doktrin Islam secara eksklusif dan kaku. Tetapi Pesantren mengklaim diri bahwa dia adalah lembaga yang melarang radikalisme dan menghindari terorisme dan kekerasan. Pesantren mengajarkan doktrin Ahlussunnah wa al -Jama'ah sebagai sarjana teologi Islam moderat yang mengacu pada al -Qur'an, hadits, dan buku-buku sarjana Islam tradisional dan meneruskan tradisi mereka sampai sekarang. Artikel ini akan menjelaskan model pendidikan deradikalisasi di pondok pesantren annuqayah dengan living Aswaja dengan fokus masalah, menjelaskan kontribusi Living Aswaja sebagai model pendidikan Islam moderat untuk menghindari radikalisme di Annuqayah Boarding School. Artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mendapatkan deskripsi Living Aswaja sebagai model pendidikan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa Living Aswaja adalah salah satu pendidikan Islam moderat yang dianut dalam gaya hidup sehari-hari Kiai dan Santri sebagai manifestasi pengajaran kitab-kitab karya sarjana Islam tradisional. Kiai dan para santri menerapkan ajaran Ahlussunnah wa al-Jama'ah dalam pemikiran dan tindakan seperti moderat (tawassut), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan keadilan (ta'adul). Model pendidikan deradikalisme mulai menganut budaya kehidupan sehari-hari baik secara lisan maupun praktis.
Muhammad Iqbal Faelani Al Amin, Ema Nur Fadlilah Utami
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 16; doi:10.34001/tarbawi.v16i1.1001

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh mempelajari Ilmu Perbandingan Agama (IPA) terhadap keimanan seorang muslim. Penelitian berangkat dengan penggunaan metoe kuantitatif. Penelitian memualai dari pendekatan penelitian, melihat populasi dan mengambil sampel secara langsung dari masyarakat. Teknik pengumpulan data, analisis data, analisis lanjut, dan kesimpulan. Penelitian menuju langsung pada masyarakat dikarenakan masih banyak kaum awam yang kurang memahami ilmu perbandingan agama. Sehingga mereka masih kerap mengartikan IPA dengan ilmu yang sesat hingga mendangkalkan keimanan. Berdasarkan penelitian diatas, peneliti akhirnya dapat menyimpulkan bahwa IPA adalah ilmu yang pada dasarnya mempelajari tentang detailnya suatu agama, yang meliputi asal usus agama yang dipelajari, ciri-ciri agama, hingga struktur agama, dengan tujuan mendapat informasi persamaan hingga perbedaan antar agama. Serta hubungan agama satu dengan agama yang lain. Sehingga IPA sangat penting bagi seorang muslim, karena dengan mempelajarinya seorang muslim dapat memahami agama-agama lain selain islam, dapat menghormati agama lain sebab telah mengetahui perbedaan agama secara mendalam. Selanjutnya dapat mengetahui kelebihan agama Islam setelah dibandingkan dengan agama lain, yang dapat dijadikan sebuah wawasan untuk berdakwah.
Mufid Mufid, Alex Yusron Al-Mufti
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 16; doi:10.34001/tarbawi.v16i1.1002

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kebiasaan sholat fardlu berjamaah di masjid kampus Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara berpengaruh terhadap kecerdasan emosional mahasiswa fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan instrumen kuisioner, deep interview, dan observasi dengan menggunakan teknik purpose sampling dalam pengambilan sampel penelitian. Di dalam penelitian ini terbukti bahwa kebiasaan sholat berjamaah ternyata berpengaruh positif terhadap kecerdasan emosional. Dengan masing-masing item pertanyaan bobot 100%, diperoleh data sebagai berikut: Mampu mengendalikan dorongan nafsu duniawi 66%, memotivasi diri sendiri 86,6 %, mampu bertahan dalam menghadapi cobaan 80 %, tidak melebih-lebihkan kesenangan 86,6 %, mampu mengatur suasana hati 83,3 %, menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir 86,67 %, berempati dan berdoa 76,6 %. Penelitian ini membuktikan bahwa kecerdasan emosional seseorang dapat ditingkatkan dengan salah satunya mewajibkan anak-anak di lingkungan pendidikan baik madrasah, sekolah, perguruan tinggi, serta berbagai lembaga pendidikan untuk mewajibkan kepada peserta didiknya melaksanakan sholat berjamaah sebagai salah satu upaya menambah kecerdasan emosional anak.
Hayatul Khairul Rahmat
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 16; doi:10.34001/tarbawi.v16i1.999

Abstract:
Media pada masa Nabi Muhammad SAW dikenal dan diterapkan dalam dakwahnya untuk menyampaikan pesan dakwah dalam bentuk ajaran agama. Penggunaan teknologi pada masa itu dengan masa sekarang tentu saja berbeda bentuk. Karena kenyataannya dapat diketahui bahwa teknologi informasi dan komunikasi saat ini berkembang dengan sangat pesat. Hal ini yang mendorong penggunaan teknologi dalam pembelajaran dan juga mendorong dalam pergeseran metode pembelajaran dari teacher centered kepada metode pembeajaran student centered dengan bantuan teknologi. Hal ini disebabkan generasi pembelajar saat ini adalah generesi digital. Digital natives generation adalah suatu generasi yang lahir pada era digital dan generasi yang tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Oleh karena itu, perlu dikembangkan media pembelajaran berbasis mobile learning. Perangkat yang dapat digunakan dalam membuat media pembelajaran berbasis mobile learning tersebut salah satunya adalah Appypie. Dalam artikel ini akan mendiskusikan konsep mobile learning berbasis mobile learning sebagai suatu inovasi media pendidikan untuk digital natives generation dalam perspektif Islam.
Haidir Ali, Ibrahim Aji, Muhammad Hilmy Ghazali
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 16; doi:10.34001/tarbawi.v16i1.998

Abstract:
Pada arus modernisasi, pesantren menghadapi beberapa penghambat terkait segi kepemimpinan pesantren yang masih bersifat yang sentralistik dan hierarkis yang berpusat pada satu orang Kiai; kedua, terdapat kelemahan pada bidang metodologi. Tujuan penelitian ini untuk memperkenalkan desain pendidikan islam di Pondok Pesantren Sindangsari Al-Jawami Cileunyi Bandung dalam menghadapi generasi milenial. Hadirnya sistem pendidikan pada pondok pesantren modern, merupakan keniscayaan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Sistem ini dianggap tepat bagi dunia pesantren masa kini untuk mempersiapkan anak didiknya menjadi pribadi yang siap menghadapi tuntutan zaman. Di sisi lain, beberapa pesantren masih mempertahankan gaya tradisional, atau yang dikenal dengan istilah pesantren salaf. Pesantren salaf masih eksis hingga kini karena pertama, peran kiai sebagai penentu kebijakan di pesantren. pondok pesantren Sindangsari Al-Jawami Cileunyi Bandung telah dibuat sedemikian rupa agar dapat menjawab tantangan era milenial. Kehawatiran akan dekadensi moral generasi ini ditawarkan solusinya dengan mempertahankan gaya pembelajaran salafi yang menekankan pada sikap penghormatan kepada guru, sehingga internalisasi nilai-nilai akhlak menjadi tersampaikan dengan baik. Terdapat program khusus di pesantren ini yaitu Corp Dakwah Santri Al-Jawami (CDSA), karya nyata santri, peringatan hari besar, Islam, musyawarah santri, dan Ekstrakurikuler. Maka dari itu untuk peserta didik generasi net ini harus memiliki kemampuan khusus agar tidak tertinggal dari orang-orang lain.
Nur Khoiri
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 16; doi:10.34001/tarbawi.v16i1.1004

Abstract:
Tulisan ini merupakan refleksi pemberdayaan bagi pengelola pendidikan dalam menerapkan kebijakan kurikulum pendidikan bagi anak inklusi. Tantangan dan hambatan dalam implementasi pendidikan inklusi menjadi tanggung jawab bersama yaitu pemerintah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Karena itu diperlukan pengelolaan yang komprehensif mulai dari kurikulum, pendidik, tenaga kependidikan, dan sarana prasarana sekolah. Kurikulum di sekolah inklusi harus memperhatikan kebutuhan dasar anak yang beraneka ragam, tidak bisa disamakan kemampuan anak regular dengan anak berkebutuhan khusus sehingga perencanaan pembelajaran yang disusun oleh guru harus dapat mengakomodir hal tersebut.
Noorrela Ariyunita
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 16; doi:10.34001/tarbawi.v16i1.1003

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil latar MAN Yogyakarta II sebagai tempat penelitian. Subyek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru PAI, dan siswa MAN Yogyakarta II. Sedangkan obyek penelitiannya adalah penerapan nilai kepedulian lingkungan dalam pembelajaran PAI di MAN Yogyakarta II. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis. Metode berfikir dalam analisis data penelitian bersifat induktif dengan menghimpun dan menggabugkan kata-kata khusus menjadi kesatuan informasi serta digabungkan dengan teknik triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan:(1) Nilai kepedulian lingkungan akan masuk pada diri peserta didik dan akan menjadi nilai karakter apabila diajarkan secara terus menerus dan dikerjakan bersama-sama secara serentak dengan semua warga sekolah dan keluarga. Peran PAI dalam penerapan nilai peduli lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap cara berfikir dan cara bersikap siswa di kehidupan sehari-hari diluar maupun didalam lingkungan sekolah. (2) faktor penghambat implementasi nilai kepedulian lingkungan adalah (a) waktuyang relativ singkat, (b) Perbedaan karakter siswa, (c) kurangnya pengawasan diluar sekolah. Sedangkan faktor pendukungnya adalah: (a)visi dan misi madrasah, (b) APeL (Agen Peduli Lingkungan), (c) Reward and Punishment, dan (e) kegiatan ekstrakurikuler.
Riza Zahriyal Falah
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 15; doi:10.34001/tarbawi.v15i2.853

Abstract:
Pondok pesantren Al-Mawaddah merupakan salah satu pondok pesantren di kabupaten Kudus yang salah satu tujuan utamanya adalah membentuk karakter santri yang mandiri dalam berwirausaha. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui sistem pendidikan pondok pesantren Al Mawaddah Kudus dalam membangun membangun karakter kemandirian wirausaha santri yang melingkupi tujuan, kegiatan pembelajaran, dan kegiatan santri. Penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data didapatkan dari proses observasi, wawancara langsung, dan dokumentasi. Dari penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil yang pertama, pondok pesantren Al-Mawaddah mempunyai tujuan membentuk santri berkarakter mandiri untuk berwirausaha yang melingkupi mempunyai keberanian mental dalam berwirausaha, mampu mengatur waktu antara menjalankan kegiatan usaha dan kegiatan belajar, dan mampu mengatur keuangan tanpa bergantung kepada orang lain. kedua kegiatan pembelajaran santri dalam masalah ilmu agama hampir sama dengan pesantren pada umumnya yang menggunakan metode sorogan dan bandongan. Dalam pembelajaran wirausaha, selain mendapatkan pembinaan dan pelatihan secara langsung, santri juga mendapatkan motivasi dari pengasuh baik secara langsung (bertemu) mapun tidak langsung (lewat media sosial whastapp). Ketiga kegiatan santri dilingkungan pondok pesantren selain memperdalam ilmu agama dengan mengikuti kajian kitab, khitobah dan kuliah tujuh menit (kultum), dan ceramah kepada masyarakat, juga diisi dengan mengelola usaha-usaha mandiri milik pondok pesantren.
Muhammad Natsir
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 15; doi:10.34001/tarbawi.v15i2.848

Abstract:
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk menjadikan manusia sebagai insan yang berbudaya, segala aktifitas yang ditempuh melalui pembelajaran yang bertujuan untuk menggali, mengembangkan dan mengarahkan segala potensi yang dimiliki oleh manusia agar mencapai pada tingkat maksimal. Materi pembelajaran adalah bagian yang terintegrasi dengan proses dan tujuan pembelajaran. Al-Mahfuzat (kata-kata Mutiara) adalah bagian dari materi bahasa Arab yang jarang menjadi fokus utama bagi pembelajar dalam proses pembelajaran bahasa arab, karena pada lazimnya pembelajaran bahasa arab fokus pada penguasaan empat kompetensi; Istima’ (mendengarkan), kalam (berbicara), Qiro’ah (membaca) dan Kitabah (menulis). Penelitian ini dilakukan dengan ancangan studi kasus, penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik Al-Mahfuzat dan proses pembelajarannya serta faktor-faktor yang dapat membentuk tingkat spiritualitas siswa atau santri di Pesantren Modern Al-Buruj Jepara. Kata-kata mutiara yang dihapal oleh santri peserta didik merupakan bagian dari upaya pesantren dalam mengembangkan keterampilan berbahasa Arab dan membentuk spiritualitas santri peserta didik untuk menjadi santri yang unggul, memiliki spiritualis yang mendalam dan berwawasan global.
Lian G Otaya
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam, Volume 15; doi:10.34001/tarbawi.v15i2.847

Abstract:
Studi ini bertujuan mengungkap realitas penilaian pelaksanaan PPL Mahasiswa pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebagai bagian dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Islam (LPTKI) dengan kesiapan mahasiswa menjadi guru di Era Millenial. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatitif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui focus group discussion (FGD) , observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil penilaian pelaksanaan PPL yang diperoleh mahasiswa selama ini belum mampu menggambarkan kompetensi yang dipersyaratkan menjadi guru yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Hal ini dipengaruhi model penilaian yang digunakan dalam buku panduan untuk mengukur kompetensi mahasiswa PPL belum terdeskripsi lengkap dan detail, masih banyak indikator-indikator yang belum dapat ternilai oleh instrumen yang sudah ada dengan rubrik penskoran yang jelas dan ini menjadi realitas yang dihadapi di berbagai PTKI Indonesia.Perlu dilakukan pengembangan model penilaian PPL yang didesain secara sederhana dan mudah diaplikasikan oleh dosen pembimbing dan guru pamong dalam melakukan penilaian.Konstruk dan indikator dari item-item instrumen penilaian PPL dikembangkan mengacu pada standar kompetensi PPL yang dirumuskan berdasarkan tuntutan kompetensi guru.
Back to Top Top