Pontianak Nutrition Journal (PNJ)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2622-1691 / 2622-1705
Published by: Poltekkes Kemenkes Pontianak (10.30602)
Total articles ≅ 44
Filter:

Latest articles in this journal

Endah Mayang Sari, Ayu Rafiony
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i1.623

Abstract:
Pedoman Gizi Seimbang adalah bagian dari acuan masyarakat terhadap gizi termasuk pada remaja, sehingga hal ini merupakan suatu upaya dalam peningkatan pengetahuan remaja dengan harapan untuk mengubah perilaku gizi tidak seimbang. Pengetahuan tersebut akan menimbulkan kesadaran, dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan tentang pedoman gizi seimbang dengan pola makan siswa SMAN 1 Pontianak. Jenis penelitian analitik dengan metode cross sectional dilakukan terhadap sampel sebanyak 87 orang pada bulan Desember 2018 di SMAN 1 Pontianak. Data pengetahuan diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner dan data pola makan diperoleh menggunakan food recall 1x24 jam. Hasil Penelitian diperoleh sebanyak 78,2% sampel memiliki pengetahuan tidak baik mengenai Pedoman Gizi Seimbang dan sebanyak 79,3% sampel memiliki pola makan tidak baik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan pola makan pada sampel dibuktikan dengan p value sebesar 0,185. Perlu dilakukan edukasi tentang Pedoman Gizi Seimbang bagi anak sekolah.
Syf Erika Yulsimaulina, Suaebah Suaebah, Agustiansyah Agustiansyah
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3, pp 61-65; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i2.701

Abstract:
Konsumsi sayur dan buah yang cukup merupakan salah satu dari indikator yang terdapat dalam pedoman gizi seimbang. Tahun 2015 penduduk Indonesia yang kurang konsumsi sayur dan buah sebanyak 78,6%, sedangkan pada tahun 2016 sebesar 92,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi dengan metode bernyanyi terhadap asupan konsumsi sayur dan buah pada anak taman kanak-kanak (TK). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April tahun 2019. Penelitian ini merupakan pre-eksperimen, pre-post test with one group desaign. Analisis data pada penelitian menggunakan uji Wilcoxon. Responden penelitian anak taman kanak-kanak Islamiyah Pontianak berjumlah 35 orang sesuai dengan total sampel yang dihitung. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu rata-rata asupan sayur sebelum edukasi 42,98 gram sesudah edukasi 45,24 gram. Menyatakan bahwa ada perbedaan konsumsi sayur sesudah edukasi gizi dengan metode bernyanyi (p=0,03). Rata-rata asupan buah pada anak taman kanak-kanak sebelum edukasi 67,12 gr dan sesudah edukasi 75,7 gr. Menyatakan bahwa ada perbedaan konsumsi buah sesudah edukasi gizi dengan metode bernyanyi (p=0,00). Edukasi gizi dengan metode bernyanyi mampu meningkatkan asupan konsumsi sayur dan buah pada anak taman kanak-kanak.
Dewi Ima Fatmawati, Arindra Nirbaya, Yahmi Ira Setyaningrum
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3, pp 50-55; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i2.699

Abstract:
Hipertensi sering diderita oleh orang Indonesia. Prevalensi hipertensi harus diatas, karena menimbulkan komplikasi yang membahayakan jiwa. Alternatif solusi melalui konseling gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konseling gizi terhadap pengetahuan, kepuasan dan sisa makanan pasien hipertensi di RSU Mitra Delima Bululawang Malang. Desain penelitian one group pre-post-test yang mengukur tingkat pengetahuan, tingkat kepuasan dan sisa makanan pasien sebelum konseling gizi dan setelah konseling gizi. Sampel berjumlah 16 pasien yang diukur tingkat pengetahuan dan kepuasan dengan menggunakan kuesioner. Sisa makanan diukur dengan metode comstock, Analisis bivariat yang digunakan untuk variabel tingkat pengetahuan dan kepuasan yaitu uji paired t-test, sedangkan sisa makanan adalah uji Willcoxon signed rank test. Konseling gizi mampu meningkatkan pengetahuan sebesar 37,5%, dengan nilai pre tes 48,7% dan post tes 86,2%. Tingkat kepuasan aroma, bumbu, tekstur dan kematangan juga meningkat setelah konseling gizi. Sisa makanan lauk hewani, lauk nabati, sayuran meningkat setelah konseling gizi. Persentase sisa makanan sayuran rata – rata sebelum konseling gizi sebesar 53,8% dan setelah konseling gizi sebesar 19,3%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konseling gizi mampu meningkatkan pengetahuan, kepuasan, dan menurunkan makanan sisa di piring pasien RSU Mitra Delima.
Dinda Alsayla, Raden Edi Fitriyanto, Erlina Marfianti
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3, pp 56-60; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i2.700

Abstract:
Yoga merupakan salah satu aktivitas fisik yang menggunakan berbagai postur untuk mengembangkan kekuatan fisik, kelenturan dan ketahanan dimana dapat digunakan sebagai latihan berintensitas sedang untuk pasien dengan kapasitas latihan terbatas sehingga lebih mudah bagi orang-orang yang inaktif secara fisik. Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh yoga terhadap waist hip ratio (WHR) pada wanita di Desa Lodadi Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian pre–eksperimental dengan One Group Pretest - Postest Design. Subyek penelitian diperoleh dengan teknik purposive sampling di Desa Lodadi. Subyek berjumlah 30 orang. Yoga dilakukan sejak November 2018 hingga Januari 2019 setiap 2x seminggu selama 90 menit. WHR diukur dengan menggunakan meter ukur. Setelah itu data akan dianalisis dengan paired sample t-test. Hasil Penelitian menunjukkan dari 30 subyek penelitian 17 peserta termasuk dalam kriteria eksklusi. Hasil analisis statistik paired sample t-test didapatkan p
Alfi Syahrina, Jurianto Gambir, Yanuarti Petrika
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3, pp 45-49; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i2.698

Abstract:
Teknologi yang semakin canggih di era modern saat ini membuat manusia sangat tergantung pada handphone berbasis smartphone, hingga seluruh kegiatan banyak diselesaikan melalui smartphone. Memanfaatkan hal itu, Aplikasi Edu-Anemia memberikan pesan otomatis meliputi hal hal yang berkaitan dengan anemia. Informasi tersebut akan muncul setiap pagi hari dengan isi pesan yang berbeda selama 14 hari, dan akan berulang sebanyak 6 kali terhitung sejak penelitian dimulai. Selain itu dilengkapi juga dengan kolom kepatuhan minum tablet tambah darah, pesan pengingat minum tablet Fe pada malam hari, serta soal-soal pendeteksi anemia. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental, dengan melihat efek dari penggunaan aplikasi Edu-Anemia dan leaflet serta kartu kontrol konsumsi tablet Fe yang disediakan oleh Puskesmas Telaga Biru dalam kelompok yang berbeda terhadap peningkatan pengetahuan serta kepatuhan dalam mengonsumsi tablet Fe pada remaja putri, yang diuji menggunakan metode uji sebelum dan sesudah mendapat perlakuan. Penelitian dilakukan selama 90 hari dengan sampel sebanyak 30 sampel dalam setiap kelompok. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan dari penggunaan aplikasi Edu-Anemia terhadap pengetahuan dan kepatuhan remaja dalam mengonsumsi tablet Fe (p = 0.00). Perlu penelitian lebih lanjut mengenai inovasi pencatatan minum tablet Fe, dan adanya ide kreatif meningkatkan kedisiplinan remaja dalam mengonsumsi tablet Fe.
Yanita Listianasari, Irma Nuraeni, Naning Hadiningsih
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3, pp 39-44; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i2.697

Abstract:
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit metabolik sindrom yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus rawat inap di RSUD Dr. Soekarjo Kota Tasikmalaya. Jenis penelitian yang digunakan observasional dengan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Sampel penelitian ini adalah 35 pasien rawat inap penderita diabetes melitus yang telah diberikan diet dari rumah sakit dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Penelitian menunjukkan rata-rata sebagian besar responden memiliki persepsi yang positif (54,3%), motivasi diri yang baik (68,6%), kepercayaan diri yang baik (57,1%), dukungan keluarga yang positif (54,3%), dukungan petugas kesehatan yang baik (65,7%). Diperoleh bahwa sebagian besar responden mengonsumsi makanan dengan jenis yang tepat (62,9%), jumlah kalori tidak tepat (94,3%), dan mengonsumsi makanan dari luar rumah sakit (51,4%).
Indah Pravitasari, Didik Hariyadi, Mulyanita Mulyanita
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3, pp 34-38; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i2.696

Abstract:
Keju merupakan makanan yang dihasilkan melalui proses koagulasi dengan bantuan bakteri ataupun enzim. Mahalnya bakteri dan enzim sebagai koagulan dapat digantikan dengan penggunaan sari jeruk lemon yang mengandung pektin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima keju terhadap warna, rasa, aroma, dan tekstur keju subtitusi sari kacang hijau dan sari jeruk lemon sebagai koagulasi dengan konsentrasi yang berbeda.Jenis penelitian ini adalah eksperimen yaitu pembuatan keju subtitusi sari kacang hijau untuk mengetahui daya terima panelis dengan uji friedman. Hasil penelitian uji organoleptik keju dengan subtitusi sari kacang hijau menyatakan bahwa ada pengaruh terhadap warna, rasa, aroma. Dari hasil penelitian uji organoleptik diketahui bahwa produk terpilih adalah keju subtitusi sari kacang hijau formulasi 37,5 % : 45 %. Dalam pembuatan keju subtitusi kacang hijau perlu penurunan komposisi dari sari lemon agar rasa tidak terlalu asam, serta perlu adanya peningkatan subtitusi sari kacang hijau agar kadar protein dapat tercapai dan perlu adanya pengujian zat gizi melalui uji laboratorium.
Dahliansyah Dahliansyah, Diffah Hanim, Harsono Halimo
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i1.628

Abstract:
Gangguan dalam proses pembentukan otak dapat memiliki konsekuensi jangka panjang pada kapasitas struktural dan fungsional otak yang berperan dalam perkembangan beberapa domain termasuk kapasitas kognitif, bahasa dan motorik sensorik seorang balita. Menurut Masten dalam Kattula (2014), faktor dominan yang mempengaruhi kognitif dan pertumbuhan fisik yaitu faktor biologis, yang terdiri dari gizi ibu selama kehamilan, usia kehamilan, berat badan lahir, lamanya menyusui, kekurangan gizi pada anak, adanya infeksi pada masa kanak-kanak. Gangguan perkembangan motorik pada balita dapat diperparah jika bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), serta saat lahir tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) yang dimulai dengan kegiatan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Menurut UNICEF dalam Damanik (2016) lebih dari 20 juta bayi (sekitar 15% secara global) lahir dengan BBLR. Adanya interaksi antara ibu, dan anak serta kandungan nilai gizi ASI paling diperlukan dalam proses perkembangan sistem syaraf di otak. Menurut Tasnim (2014), menyusui dapat memberikan dampak positif pada perkembangan kognitif bayi, memiliki Intelligence Quotient (IQ) tinggi dibandingkan bayi yang tidak memperoleh ASI. Investasi dalam pencegahan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Stunting, dan meningkatkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif berkontribusi dalam menurunkan risiko gangguan penyakit. Pasokan nutrisi yang memadai, pencegahan infeksi, dan kesempatan untuk interaksi sosial, bermain dan stimulasi merupakan beberapa faktor yang berkontribusi positif terhadap pencapaian potensi penuh balita untuk tumbuh dan berkembang . Berdasarkan hal itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai ada tidaknya hubungan antara hubungan Berat Badan Lahir (BBLR) dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan perkembangan motorik pada 1000 hari pertama kehidupan
Emilia Emilia, Risya Cilmiyati
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i1.624

Abstract:
Hasil RISKESDAS (2013) menunjukkan prevalensi obesitas pada remaja usia 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10,8%. Bangka Belitung merupakan salah satu dari 13 provinsi dengan prevalensi obesitas tertinggi yang prevalensinya di atas prevalensi nasional yaitu: 12%. Sebagai upaya untuk mengintervensi remaja obesitas melalui perubahan perilaku dengan tidak memperhatikan kebutuhan makannya dengan melakukan penyuluhan gizi. Penelitian ini merupakan analitik dan eksperimental semu dengan pre-post test control group design. Penentuan sampel menggunakan teknik stratified purposive sampling dan dihitung dengan menggunakan uji beda dua mean dengan 46 sempel dengan 3 kelompok yaitu (P1) eksperimen dengan penyuluhan sebulan sekali (P2) eksperimen dengan penyuluhan dua kali sebulan, dan (P3) kelompok kontrol. Pengumpulan data aktivitas fisik melalui kuesioner IPAQ, asupan makanan dikumpulkan melalui kuesioner FFsQ, serta berat badan dan tinggi badan dikumpulkan menggunakan alat uji antropometri. Hasil uji multivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara penyuluhan, aktivitas fisik, dan asupan makanan dengan penurunan berat badan pada siswa SMA obesitas yang ditunjukkan dengan p-value> 0,05 dengan determinasi. koefisien (R2) = 0,3%, dan Dari ketiga variabel tersebut penyuluhan gizi memiliki pengaruh terbesar terhadap penurunan berat badan (r = 0,56). Penyuluhan gizi, aktivitas fisik, dan asupan makanan tidak berpengaruh terhadap penurunan berat badan siswa SMA yang mengalami obesitas.
Jihan Rizla Megadianti, Jonny Syah R Purba, Shelly Festilia Agusanty
Pontianak Nutrition Journal (PNJ), Volume 3; https://doi.org/10.30602/pnj.v3i1.627

Abstract:
Anak sekolah umumnya berada dalam masa pertumbuhan yang sangat cepat dan aktif, gizi menjadi bagian penting dalam pertumbuhan dan kecerdasan anak, ini dikarenakan dapat berpengaruh serta menghambat pertumbuhan fisik,mental maupun kemampuan berfikir pada anak. Asupan yang diperlukan oleh tubuh dapat melalui makanan yang dikonsumsi seperti makanan selingan, makanan selingan merupakan makanan yang disukai oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak hingga dewasa. Pemberian makanan selingan umumnya dalam porsi kecil dengan kandungan zat gizi berkisar 10%- 20% dari kebutuhan energi sehari. Salah satu produk yang mudah dibuat dan disukai anak-anak ialah cookies. Penelitian ini bertujuan mengetahui analisis zat gizi serta daya terima cookies. Metode yang digunakan yaitu eksperimen, dengan perlakuan tepung talas pontianak dan tepung pisang kepok pontianak adalah F1 (75% : 25%), F2 (50% : 50%), F3 (25% : 75%). Uji yang dilakukan yaitu uji organoleptik untuk melihat tingkat kesukaan dan uji kimia untuk menganalisa zat gizi. Berdasarkan uji organoleptik, dari 3 perlakuan dilihat dari tingkat kesukaannya paling tertinggi adalah F3 (25% : 75%) dengan kandungan protein (5.535%), lemak (28.214%), karbohidrat (10.635%), kadar abu (1.451%), kadar air (4.470%).
Back to Top Top