SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1979-3588 / 2715-8969
Published by: STT BNKP Sundermann (10.36588)
Total articles ≅ 27
Filter:

Latest articles in this journal

Natal Pasrah Lase, Devy Leonardo Richard Souisa
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 87-96; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i2.76

Abstract:
Artikel ini berdiskusi tentang pergumulan para lansia dan dukungan keluarga bagi mereka Selain menjelaskan peran dan dukungan keluarga, penulis juga memaparkan bagaimana gereja dalam mengambil peran mendampingi para lansia. Penelitian dilaksanakan pada salah satu jemaat di wilayah pelayanan BNKP, yakni Jemaat Saewahili Resort 7. Menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan dengan teknik wawancara dan observasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lansia masih terabaikan oleh kerabat atau anggota keluarga. Keluarga belum sepenuhnya memberi bantuan dan dukungan bagi usia lanjut. Karena itu, keluarga perlu menjadi lingkungan terbaik untuk memenuhi kebutuhan setiap lansia. Bagi lansia, keluarga adalah kelompok sosial yang paling penting di mana mereka biasanya terikat oleh ikatan emosional yang kuat dan saling bertukar manfaat. Hal yang utama dan penting adalah keluarga diharapkan untuk mendukung usia lanjut ketika mereka berada dalam situasi kehidupan yang buruk sekaligus menjadi penyedia perawatan bagi mereka. Di samping dukungan keluarga, gereja juga dapat mengambil peran dalam melayani para lansia. Ini dapat diwujudkan melalui ibadah khusus yang memberi kesempatan bagi mereka untuk berbagi pengalaman secara publik, saling mengunjungi di antara anggota lansia, melakukan kunjungan resmi, serta relokasi ibadah khusus.
Feniati Zebua, Juliman Harefa
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 97-104; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i2.67

Abstract:
Artikel ini membahas tentang warisan, yaitu harta yang dimiliki oleh ayah, yang kemudian akan diwariskan kepada anak-anaknya secara turun temurun. Masyarakat Nias menganut budaya patriarkat dimana anak laki-laki dominan terhadap anak perempuan, baik dalam masyarakat maupun dalam keluarga. Hal ini mempengaruhi pembagian harta warisan. Alkitab menunjukkan bahwa sistem budaya juga patriarkat tetapi masih memberikan kesempatan bagi anak perempuan untuk mewarisi, seperti dalam Bilangan 27:1-11 tentang kisah anak-anak Zelafehad. Penelitian ini dilakukan di Sifalago Gomo, Kecamatan Boronadu, Kabupaten Nias Selatan, dengan menggunakan metode kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa warisan juga diberikan kepada anak perempuan di beberapa daerah penelitian karena alasan tertentu. Dalam hal ini gereja berperan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang warisan melalui pemberitaan firman Tuhan dan ikut memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang warisan pada zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang sehingga tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan karena semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan.
Intan Tri Kristiani Gulo, Tuhony Telaumbanua
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 78-86; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i2.64

Abstract:
Böwö (maskawin) dalam adat istiadat Nias sangat penting dalam melangsungkan pesta pernikahan. Böwö memiliki arti yang sangat dalam yaitu cinta kasih (masi-masi). Seringkali makna böwö luruh menjadi böli gana’a (merujuk kepada pengantin perempuan). Akibat dari pergeseran makna ini, maka terjadi persoalan yang dapat bermuara pada kemiskinan, keluarga tidak harmonis, dan keengganan menikah dengan perempuan Nias. Dari masalah yang terjadi ini, maka tujuan penelitian ialah mencari tahu sejauh mana pemahaman teologis, praktek, dan juga dampak dari tingginya nilai nominal böwö. Selain itu, penulis juga meneliti peran orang tua dalam membangun prespektif yang benar terhadap böwö. Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian yaitu wawancara dan observasi. Masyarakat Nias mengatakan bahwa makna dari pada böwö telah mengalami pergeseran; hal utama bagi orang tua dalam menentukan böwö bukanlah kasih (masi-masi) tetapi ukuran tingkat pendidikan perempuan. Oleh karena itu, demi kehidupan yang harmoni, sejahtera, maka dibutuhkan transformasi pada pemahaman, sistem, dan tata cara böwö di Nias. Untuk mewujudkan transformasi ini, dibutuhkan keterlibatan banyak pihak, terutama keluarga, penatua adat, gereja dan pemerintah, sehingga adat Nias sebagai identitas tetap lestari, dan mendatangkan berkat dalam kehidupan masyarakat.
Masa Yubelium Gea
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 55-66; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i2.71

Abstract:
Membangun konsep dasar yang benar tentang panggilan memberitakan Injil pada hakikatnya sangat menentukan keberhasilan pelayanan yang diemban. Jika pemberitaan Injil dilihat sebagai anugerah, maka tugas itu merupakan berkat dan kesukaan, tetapi jika dilihat sebagai pilihan maka tugas pemberitaan akan ditentukan oleh situasi dan kondisi. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pendeta di BNKP yang diurapi untuk melayani dapat melakukan pelayanannya dalam segala situasi dan kondisi yang mungkin terjadi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan dan biblika (eksegesis). Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa situasi dan kondisi jemaat terkini turut memengaruhi pelayanan yang dilakukan oleh pendeta. Kesungguhan dan komitmen pendeta mengalami pasang surut ketika kondisi jemaat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ini bertolak belakang dengan pelayanan Paulus yang mengalami banyak suka-duka dalam memberitakan Injil. Situasi dan kondisi jemaat yang ia layani sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk memberitakan Injil. Hal itu disebabkan oleh pemahamannya terhadap pemberitaan Injil adalah anugerah dan Tuhan sendiri yang memilih dan memberikan tugas itu untuk dilaksanakan. Karena itu, para pendeta perlu menanamkan konsep yang benar tentang dasar panggilan dalam memberitakan Injil; memberitakan Injil merupakan anugerah, bukan pilihan.
Sukarata Madani Nazara
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 67-77; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i2.60

Abstract:
Injil adalah kemenangan Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya sehingga membawa keselamatan bagi setiap orang percaya. Namun realitas, masih ada orang Kristen tidak menjadikan Injil sebagai keselamatan. Ada banyak konsep keselamatan yang muncul di tengah kehidupan orang Kristen. Konsep-konsep ini penulis sebut sebagai kepelbagaian pemahaman akan keselamatan. Penyebabnya adalah kesalahpahaman jemaat terhadap ajaran yang berbeda, serta pengaruh yang menekankan pentingnya usaha untuk mencapai segala sesuatu. Kurangnya pemahaman jemaat akan makna Injil sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan, mendorong orang Kristen mendasarkan keselamatannya pada logika pembenaran menurut pemahaman masing-masing. Keselamatan tidak dipahami sebagai anugerah (sola gracia) dan dianggap tidak logis jika tanpa usaha manusia. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Injil sebagai keselamatan dapat dipahami secara logis, sehingga orang Kristen tidak lagi mendasarkan keselamatannya pada pemahamannya sendiri. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan dan biblika. Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus (Injil) menjadi kekuatan Allah yang memberi keselamatan. Melalui Injil setiap manusia dapat memperoleh keselamatan. Injil adalah suatu bentuk anugerah yang direspons dengan Iman. Serta melalui Injil Allah dipermuliakan dalam ciptaan-Nya. Karena itu, penting untuk menjelaskan Injil sebagai keselamatan melalui konsep hilasterion agar Injil sebagai keselamatan dapat dipahami secara logis.
, Vinna Isya Merti Manao
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 29-38; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i1.66

Abstract:
Pada masa sekarang ini kaum perempuan yang menjadi pemimpin sudah semakin meningkat di hampir semua aspek kehidupan manusia. Berdasarkan data yang ada di Kantor Sinode BNKP, pendeta perempuan di BNKP mengalami pertumbuhan dan perkembangan jumlah yang cukup signifikan, bahkan menduduki posisi sebagai pemimpin dalam beberapa lembaga di BNKP. Pada sisi lain masyarakat Nias menganut sistem Patriarkat dimana peran laki-laki selalu menjadi prioritas. Dalam sistem budaya patriarkat tentu pendeta perempuan mengalami berbagai tantangan baik dari dalam dirinya secara internal menyangkut kesiapan intelektual, emosional, dan mental maupun masalah di sekitar dirinya (eksternal), yaitu keberadaan majelis jemaat dan Satua Niha Keriso (Penatua) yang didominasi oleh kaum laki-laki. Di beberapa tempat masih ada jemaat yang menolak kepemimpinan perempuan karena masalah adat istiadat di masyarakat yang membatasi ruang gerak perempuan akibat sistem patriarkat yang dianut. Sehubungan dengan keadaan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana pendeta perempuan BNKP mengembangkan potensi kepemimpinannya dalam budaya patriarkat dengan melihat tantangan dan peluang yang ada baik dari budaya dan dari hakikat diri perempuan itu sendiri. Selain itu, akan dipaparkan juga tentang gaya kepemimpinan perempuan untuk menjawab tantangan BNKP saat ini. Dalam tulisan ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dan data-data yang di rekam di lapangan akan diolah sedemikian rupa untuk kemudian dideskripsikan.
Tuhoni Telaumbanua
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 1-17; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i1.49

Abstract:
This article discusses the struggle of Nias people (Ono Niha), who are one of the oldest tribes inhabiting Nias Island, about the world of the dead. On the one hand, Ono Niha has a high culture and a belief system that has been lived thousands of years from generation to generation. But on the other hand, since 1865, through the Gospel Message by RMG and NLG, Ono Niha gradually became a follower of Christ. However, despite more than 150 years of Christianity in Nias, Ono Niha struggles with the Christian faith. One of the struggles of the faith of the church's people is related to the world of the dead. What is death? Right, do spirits enter the world community of the dead? In reality, Ono Niha, who is still faithful in carrying out his customs, still believes that the spirits of ancestors are blessings or can be angry and bring curses if his descendants do not meet the demands of the ancestors when they live. Another problem is the occurrence of possession or possessiveness experienced by the citizens of the congregation, both adults and teenagers. Here there is a conflict in Ono Niha because the church understands that all elements of the old belief are elements of disbelief and classified as occult. But on the other hand, Ono Niha still believes and lives it. To know Ono Niha's belief system about the world of the dead, this article will be presented an understanding of the human self according to Ono Niha and Ono Niha's belief in death and the world of the dead. At the end of the paper, we explain the interaction and impact of Ono Niha’s old cultural and religious encounters with Christianity.
Libertina Hulu, Delipiter Lase, Amurisi Ndraha
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 18-28; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i1.50

Abstract:
Mengajarkan Alkitab secara kreatif kepada anak-anak sejak usia dini akan menolong mereka untuk memahami hal yang utama tentang kehidupan, menguatkan mereka menghadapi dan mengatasi tantangan serta mengajari anak untuk menjalani kehidupan yang tidak didominasi oleh dosa. Karena itu, orang tua berkewajiban untuk menumbuhkan minat baca anak terhadap Alkitab sejak dini, karena orang tua adalah orang yang terdekat pertama bagi anak. Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana minat baca anak terhadap Alkitab, mencari tahu faktor penyebab serta pada bagian akhir pembahasan, penulis memaparkan upaya dan strategi orang tua menumbuhkan minat baca anak terhadap Alkitab. Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode kualitatif. Sumber data dan informan berjumlah 14 orang terdiri dari orang tua dan anak usia 6-12 tahun; ditentukan dengan teknik purposive sampling. Data diambil berdasarkan observasi dan wawancara, serta data yang telah diperoleh dianalisis dengan teknik analisis tematik. Temuan penelitian menujukkan bahwa minat baca anak terhadap Alkitab masih sangat rendah; setiap sepuluh orang anak usia sekolah dasar terdapat tidak lebih dari tiga orang yang gemar (memiliki minat) membaca Alkitab. Penyebab rendahnya minat baca anak terhadap Alkitab diklasifikasi ke dalam empat faktor, yakni lingkungan keluarga, sarana dan fasilitas bacaan, perkembangan teknologi, literasi baca tulis dan pola asuh orang tua. Pada bagian akhir artikel, penulis menyarankan beberapa upaya yang dapat diterapkan oleh orang tua untuk menumbuhkan minat baca anak terhadap Alkitab, di antaranya menyediakan bahan bacaan Alkitab yang beragam, mengatur waktu ibadah dalam keluarga, membatasi kegiatan anak untuk menonton dan bermain secara berlebihan, serta menjadikan waktu renungan sebagai kebiasaan.
Fefi Warnifami Zega
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 48-54; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i1.68

Abstract:
Salah satu tugas pendeta sesuai dengan Peraturan BNKP ialah melakukan kunjungan rumah serta pelayanan pribadi bagi warga jemaat yang memiliki pergumulan, khususnya warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. Warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan mengalami tekanan-tekanan seperti tekanan fisik, mental, sosial dan spiritual. Mereka membutuhkan pendampingan khusus dari pelayan gereja. Namun realitas, para pendeta belum melaksanakan tugas ini yakni perkunjungan serta pelayanan pribadi bagi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pergumulan warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan, dan bagaimana gereja melakukan pendampingan bagi mereka. Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat BNKP Kota Gunungsitoli dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan memiliki pergumulan-pergumulan dalam hal fisik, mental, sosial dan spiritual. Kedua, gereja belum mendampingi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan secara optimal. Untuk merespon pergumulan warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan ini, pelayan utamanya pendeta di jemaat harus mendampingi mereka dengan melakukan perkunjungan dan pelayanan pribadi.
Jul Imantris Harefa, Yunelis Ndraha
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan, Volume 14, pp 39-47; https://doi.org/10.36588/sundermann.v14i1.62

Abstract:
Artikel ini membahas tentang membangun jemaat yang kontekstual menurut teori pembangunan jemaat dengan pendekatan lima faktor. Pendekatan ini dapat dipertimbangkan dalam mengembangkan jemaat, oleh karena konsep ini menawarkan upaya menghadirkan jemaat yang kontekstual dari perspektif sosiologis-empiris. Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat BNKP Hilisoromi Resort 6; menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data (partisipan) penelitian terdiri dari para pelayan dan warga jemaat; ditentukan dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan angket; dianalisis dengan thematic analysis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hampir dalam semua aspek: iklim, kepemimpinan, struktur, tujuan dan tugas, serta identitas jemaat berada dalam kondisi yang kurang baik dan kondusif. Membangun jemaat dengan pendekatan lima faktor menjadikan jemaat sebagai gereja yang hidup dan berdaya karena berangkat dari persoalan-persoalan konkret jemaat; serta memiliki sasaran yang cukup jelas, yakni membangun jemaat yang kontekstual dengan pelayanan yang berkualitas. Mewujudnyatakan pelayanan yang berkualitas menurut teori pembangunan jemaat ialah dengan (1) suasana kehidupan yang baik antar jemaat, (2) kepemimpinan yang melayani dan menggairahkan, (3) struktur yang baik – keseluruhan relasi diatur sedemikian rupa baik relasi formal maupun informal, individu maupun kelompok, (4) tujuan dan tugas yang jelas, serta (5) identitas/jati diri yang baik.
Back to Top Top