Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya

Journal Information
ISSN / EISSN : 2087-0086 / 2655-5433
Published by: Universitas Bina Sarana Informatika (10.31294)
Total articles ≅ 68
Filter:

Latest articles in this journal

Fitri Abdillah Adie, Santi Palupi Arianti
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 81-92; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.12667

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisir peluang pengembangan atraksi wisata budaya Pulau Komodo dan Suku Manggarai Barat di Flores serta menyusun pola perjalanan berdasarkan potensi budaya dan potensi lainnya. Kerangka analisis yang digunakan adalah invetarisasi terhadap potensi atraksi budaya tak benda dan potensi atraksi budaya benda. Metode yang digunakan adalah kualitatif, dengan wawancara dan studi pustaka sebagai alat pengumpul data untuk memaparkan potensi atraksi yang ada.  Data diperoleh sebagian besar merupakan data sekunder dengan beberapa data primer berdasarkan informasi dari informan penelitian. Informan ditentukan berdasarkan tingkat pengetahuan mereka tentang potensi atraksi budaya sehingga hanya digunakan dua narasumber yaitu dinas pariwisata dan tokoh masyarakat.  Potensi atraksi wisata budaya yang teridentifikasi dari penelitian ini; (1) Atraksi wisata budaya benda yaitu bangunan (Mbaru), situs (Situs Warloka), landscape (Sawah Lingko), dan desa wisata (Liang Ndara); (2) Atraksi wisata tak benda yaitu desa adat (Desa Adat Todo), tarian adat (Tari Caci), festival (Komodo), dan kuliner (Se’i). Keseluruhan potensi atraksi tersebut dapat dipadukan dengan jenis atraksi alam dan buatan untuk dikemas menjadi pola perjalanan wisata. Perpaduan atraksi dalam pola perjalanan akan menjadikan Labuan Bajo mampu memberikan pengalaman mengesankan bagi wisatawan sehingga benar-benar tercapai destinasi wisata super prioritas berkelanjutan. Perhatian pemerintah sangat diperlukan dengan rangkaian regulasi untuk melindungi, mengembangkan, dan melestarikan potensi atraksi budaya yang luar biasa ini.
Erlangga Brahmanto
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 74-80; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.12427

Abstract:
Wisata gastronomi memang terdengar asing di Indonesia. Istilah wisata gastronomi memang lebih bergaung di luar negeri dibanding dalam negeri. Perbedaan wisata gastronomi dibandingkan dengan wisata yang lain adalah lebih menekankan pada budaya lokal dan makanannya. Wisatawan lebih mempelajari sejarah dan budaya dari makanan itu sendiri. Penyedia wisata gastronomi mengaitkan antara budaya lokal setempat serta makanan yang disajikan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengambilan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, dokumentasi, studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui bahwa lawang sewu dan lumpia adalah icon dari kota semarang. Selain itu adanya perkawinan budaya antara budaya tionghoa dengan budaya jawa dari asal usul lumpia. Dari sini kita bisa mempelajari bagaimana kentalnya budaya tionghoa pada jaman dahulu di kota semarang. Peran penting Dinas pariwisata Jawa tengah sangat diperlukan agar lawang sewu dan lumpia semakin terkenal dan bagi penjual Lumpia diharapkan untuk menciptakan kreasi rasa ataupun bahan isian yang lebih bervariatif lagi agar lumpia banyak rasa pilihan nya. Wisata gastronomi memang terdengar asing di Indonesia. Istilah wisata gastronomi memang lebih bergaung di luar negeri dibanding dalam negeri. Perbedaan wisata gastronomi dibandingkan dengan wisata yang lain adalah lebih menekankan pada budaya lokal dan makanannya. Wisatawan lebih mempelajari sejarah dan budaya dari makanan itu sendiri. Penyedia wisata gastronomi mengaitkan antara budaya lokal setempat serta makanan yang disajikan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengambilan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, dokumentasi, studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui bahwa lawang sewu dan lumpia adalah icon dari kota semarang. Selain itu adanya perkawinan budaya antara budaya tionghoa dengan budaya jawa dari asal usul lumpia. Dari sini kita bisa mempelajari bagaimana kentalnya budaya tionghoa pada jaman dahulu di kota semarang. Peran penting Dinas pariwisata Jawa tengah sangat diperlukan agar lawang sewu dan lumpia semakin terkenal dan bagi penjual Lumpia diharapkan untuk menciptakan kreasi rasa ataupun bahan isian yang lebih bervariatif lagi agar lumpia banyak rasa pilihan nya.
Joko Mijiarto, Wahyuni Wahyuni, Praja Firdaus Nuryananda, W.K. Faizin Ahzani
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 18-25; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.11405

Abstract:
Desa Tegaren yang terletak di Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, memiliki potensi tinggi untuk menjadi destinasi pariwisata baru di Jawa Timur. Sebagai salah satu kawasan penyangga wisata daerah kabupaten, Desa Tagaren memiliki kawasan embung yang terletak di dataran tinggi. Kekayaan alam ini semakin memberikan nuansa pariwisata di Tegaren. Potensi lainnya adalah kekayaan budaya masyarakat Tegaren yang mana hampir 95% dari penduduk di Tegaren memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengrajin besek bambu. Kebudayaan kerajinan besek bambu ini merupakan warisan dari para sepuh di desa tersebut. Penelitian yang kami lakukan menggunakan pendekatan community based tourism (CBT) dan asset-based community development (ABCD). Penelitian yang kami lakukan di Desa Tegaren berusaha menelaah peran perempuan di Desa Tegaren yang meningkatkan keberdayaannya melalui usaha kerajinan besek bambu. Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipatif yang kami lakukan selama kurang lebih dua tahun berjalan. Hasil kajian yang kami kembangkan dari penelitian ini mendapati bahwa keinginan untuk membentuk sebuah konsep desa wisata di Desa Tegaren juga mendapat dukungan dan partisipasi besar dari para penduduk perempuan di desa. Tiga temuan dari penelitian ini adalah terdapat tiga tantangan dalam pembentukan identitas kampung besek berdasarkan peran perempuan di Tegaren, yakni posisi sosio-kultural perempuan yang masih belum memiliki rekognisi sosial di masyarakat, ketimpangan harga beli dan harga jual, serta adanya potensi penurunan minat terhadap kerajinan besek oleh generasi muda.
Juliana Juliana, Nova Bernedeta Sitorus
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 26-37; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.11688

Abstract:
Salah satu kawasan wisata bahari unggulan di Indonesia yaitu Taman Laut Nasional Bunaken yang terletak di Sulawesi Utara. Kawasan Taman Laut Nasional Bunaken memiliki cakupan luas dengan beberapa pulau di sekitar Pulau Bunaken. Pulau Siladen merupakan salah satu pulau yang berada di kawasan tersebut dan terletak di bagian timur Pulau Bunaken. Dalam penelitian ini penulis ingin secara spesifik membahas mengenai indikator produk wisata yang ada di Pulau Siladen yang berkaitan dan mendukung wisata bahari di Pulau Siladen. Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah 1) bagaimana kondisi kelengkapan produk wisata tangible di Pulau Siladen dan 2) bagaimana kondisi kelengkapan produk wisata intangible di Pulau Siladen. Metode kualitatif menjadi metode yang digunakan dalam penelitian ini. Penggunaan metode ini tepat dengan penelitian yang akan dilakukan karena bisa menggali lebih dalam mengenai fakta yang ada di lapangan. Objek dalam penelitian ini yaitu Pulau Siladen di Sulawesi Utara. Dalam mengumpulan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan data primer dari wawancara dan observasi langsung.Produk wisata tangible di Pulau Siladen yang menjadi pendukung dalam kegiatan wisata masih kurang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, dari aspek atraksi wisata, fasilitas, dan aksesibilitas masih terdapat banyak kekurangan yang menurunkan nilai jual dari wisata di Pulau Siladen. Ada beberapa hal penting pendukung wisata bahari yang masih kurang terpenuhi seperti penyewaan alat snorkeling dan diving serta ketersediaan restoran dan toilet umum. Dari sisi produk wisata intangible di Pulau Siladen, masyarakat lokal di Pulau Siladen sudah memiliki tourism minded dan sangat menerima wisatawan yang datang ke Pulau Siladen, namun dari fasilitas masih sangat perlu ditingkatkan pengelolaannya.Salah satu kawasan wisata bahari unggulan di Indonesia yaitu Taman Laut Nasional Bunaken yang terletak di Sulawesi Utara. Kawasan Taman Laut Nasional Bunaken memiliki cakupan luas dengan beberapa pulau di sekitar Pulau Bunaken. Pulau Siladen merupakan salah satu pulau yang berada di kawasan tersebut dan terletak di bagian timur Pulau Bunaken. Dalam penelitian ini penulis ingin secara spesifik membahas mengenai indikator produk wisata yang ada di Pulau Siladen yang berkaitan dan mendukung wisata bahari di Pulau Siladen. Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah 1) bagaimana kondisi kelengkapan produk wisata tangible di Pulau Siladen dan 2) bagaimana kondisi kelengkapan produk wisata intangible di Pulau Siladen. Metode kualitatif menjadi metode yang digunakan dalam penelitian ini. Penggunaan metode ini tepat dengan penelitian yang akan dilakukan karena bisa menggali lebih dalam mengenai fakta yang ada di lapangan. Objek dalam penelitian ini yaitu Pulau Siladen di Sulawesi Utara. Dalam mengumpulan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan data primer dari wawancara dan observasi langsung.Produk wisata tangible di Pulau Siladen yang menjadi pendukung dalam kegiatan wisata masih kurang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, dari aspek atraksi wisata, fasilitas, dan aksesibilitas masih terdapat banyak kekurangan yang menurunkan nilai jual dari wisata di Pulau Siladen. Ada beberapa hal penting pendukung wisata bahari yang masih kurang terpenuhi seperti penyewaan alat snorkeling dan diving serta ketersediaan restoran dan toilet umum. Dari sisi produk wisata intangible di Pulau Siladen, masyarakat lokal di Pulau Siladen sudah memiliki tourism minded dan sangat menerima wisatawan yang datang ke Pulau Siladen, namun dari fasilitas masih sangat perlu ditingkatkan pengelolaannya.
Helda Chylia Sianturi, Salman Paludi
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 38-46; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.11103

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh Produk Pariwisata, Persepsi Harga dan Lokasi atas Keputusan Mengunjungi Snowbay Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dalam penelitian ini populasinya adalah pengunjung Snowbay TMII. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah nonprobability sampling, dengan metode accidental sampling sebanyak 100 responden yang merupakan pengunjung Snowbay TMII pada bulan Maret 2019, yang berusia 17 tahun ke atas serta bersedia mengisi kuesioner penelitian ini. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner penelitian yang diukur dengan 5 pilihan skala Liker yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Metode analitik menggunakan asumsi klasik, sebelum menggunakan analisis regresi linier berganda dengan software statistik SPSS, diikuti dengan korelasi dan analisis koefisien determinasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa produk pariwisata berpengaruh positif dan signifikan pada keputusan berkunjung, persepsi harga berpengaruh positif dan signifikan pada keputusan berkunjung, dan lokasi berpengaruh positif dan signifikan pada keputusan berkunjung. Secara bersamaan variabel produk wisata, harga dan lokasi berpengaruh positif dan signifikan pada keputusan berkunjung ke Snowbay waterpark TMII.
R.Jati - Nurcahyo, Yulianto Yulianto
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 47-54; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.12352

Abstract:
Kadipaten Pakualaman Yogyakarta merupakan salah satu penyelenggara upacara adat dari lingkungan Istana. Upacara adat yang diselenggarakan di Pura Pakualaman Yogyakarta adalah salah satu kegiatan yang dianggap penting dan sudah dilaksanakan secara turun-temurun, sampai saat ini tetap dilestarikan. Adapun rangkaian upacara adat perkawinan di Kadipaten Pakualaman meliputi : pinangan, pasang bleketepe dan tarub, bucalan, siraman, ngerik, midodareni-nyantri dan peningsetan, ijab kobul, panggih, krobongan, colokan dan ngundhuh mantu. Metode penelitian deskriptif dengan Analisa kualitatif secara triangulasi agar mendapatkan informasi yang valid. Hasil penelitian berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Aturan Perkawinan di Indonesia yang sudah mengalami berbagai perubahan secara signifikan, namun demikian prinsip upaya melestarikan perkawinan tradisional yaitu perkawinan adat di Kadipaten Pakualaman Yogyakarta menjadi acuan utama sebagai kekayaan daerah. Hal ini diperkuat dengan Peraturan Gubernur DIY Nomor 36 Tahun 2014 tentang Upaya pelestarian Budaya Lokal yang meliputi Adat dan Tradisi, Peraturan Daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Alam serta Peraturan Daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta.
Shofyan Hadi Ramadhan, Ida Bagus Suryawan, Made Sukana
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 1-7; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.11037

Abstract:
Virus Covid-19 secara resmi diumumkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemi pada Maret 2020. Virus ini sangat mempengaruhi berbagai sektor salah satunya adalah sektor pariwisata. Adanya virus Covid-19 ini membuat pariwisata tidak dapat berjalan dengan seharusnya karena wisatawan tidak dapat bepergian dan beberapa destinasi wisata juga harus terpaksa tutup. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya penyebaran virus Covid-19. Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Adanya virus Covid-19 ini sangat mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Bali berkurang sebanyak 74,18%. Berkurangnya wisatawan yang datang ke Bali sangat berpengaruh terhadap destinasi wisata yang ada di Bali. Salah satu destinasi wisata di Bali yang terkena dampak dari adanya virus Covid-19 adalah Bali Bird Park. Adanya virus Covid-19 ini membuat Bali Bird Park harus memiliki strategi pemasaran yang berbeda dari sebelumnya untuk menarik wisatawan. Maka dari itu, penelitian ini hendak mengidentifikasi pemasaran yang dilakukan oleh Bali Bird Park pada masa pandemi Covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, dalam penanganan virus Covid-19 ini Bali Bird Park menerapkan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and EnvironmentalSustainability). Hal ini diterapkan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan yang datang ke Bali Bird Park. Selain itu, Bali Bird Park juga menyusun strategi pemasaran baru untuk menangani situasi pariwisata ditengah pandemi. Strategi pemasaran yang baru ini dilakukan dengan segmenting untuk generasi z, targeting ke wisatawan domestik Bali, dan menurunkan positioning harga.
Haritsah Kusumaningrum, Dyah Wahyuning Tyas, Pipin Kusumawati
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 8-17; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.11317

Abstract:
Salah satu budaya kuliner yang lekat dengan mahasiswa dan Yogyakarta adalah warung angkringan. Angkringan berasal dari bahasa jawa "angkring" yang berarti duduk santai dengan kaki di angkat di kursi (nangkring). Salah satu minuman yang khas di angkringan Kota Yogyakarta ini adalah Kopi Joss. Penyajian kopi hitam dengan memasukkan bara arang ke dalamnya dan menimbulkan bunyi “jooosss”, sehingga kopi ini terkenal dengan nama kopi joss. Munculnya wabah Covid-19 telah memberikan dampak buruk bagi usaha angkringan di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi daya tarik wisata gastronomi angkringan kopi joss di Kota Yogyakarta dan untuk mengetahui mitos terkait manfaat kopi joss. Survey lapangan dilakukan selama masa new normal. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan pengolahan data primer dan sekunder. Data diperoleh melalui survey, wawancara, dan observasi. Alat analisis statistik yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah adalah analisis regresi yang didukung dengan uji validitas dan reliabilitas. Hasil temuan dari penelitian ini terdapat lima faktor yang mempengaruhi minat wisata gastronomi angkringan kopi joss yaitu daya tarik, minuman, saran, julukan, dan Covid-19. Temuan kedua membuktikan bahwa mitos khasiat penambahan arang tidak hanya bermanfaat bagi tubuh tetapi wisatawan juga menyadari akan bahaya serta adanya kandungan senyawa karsinogenik pada arang yang dimasukkan dalam kopi joss. Hal itu tidak mengurangi minat wisatawan untuk menikmati kopi joss.
Susilo Budi Winarno, Endang Widayati, Endro Isnugroho
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 63-73; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.12194

Abstract:
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menyebabkan merosotnya kegiatan sektor perhotelan di DIY. Hotel-hotel yang sempat ditutup karena tidak mampu menutup biaya operasional dapat kembali beroperasi kembali dengan persyaratan mampu menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan dan pengendalian Covid-19 sesuai standar ketetapan pemerintah. Oleh sebab itu, pelaku industri hotel khususnya pemilik & karyawan perlu mendapatkan pelatihan pelaksanaan protokol kesehatan lingkungan hotel. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tamu terhadap produk, pelayanan prima dan fasilitas yang bersih, sehat, aman dan sesuai dengan protokol kesehatan. Sanksi Administrasi akan diberikan kepada pelanggar protokol kesehatan baik itu pengunjung maupun karyawan di The Cube Hotel DIY baik secara lisan maupun pemulangan ketempat asal hal ini sesuai dengan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 24 Tahun 2021 Tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019.
Wisnu Hadi
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, Volume 13, pp 55-62; https://doi.org/10.31294/khi.v13i1.12372

Abstract:
Setiap aktivitas perjalanan wisatawan pasti ada yang memberi pengaruh pada orang lain dan pengaruh tersebut akan memberi keuntungan bagi wisatawan dan orang lain. Salah satunya adalah wisata Kesehatan dimana banyak yang mencari para wisatawan seperti mendatangi tempat tempat wisata yang dapat memberikan kekebalan tubuh disaa pandemi Covid-19 ini. Para wisatawan banyak tertarik dengan mengkonsumsi minuman herbal salah satunya dengan minum jamu tradisional. Banyak sentra-sentra jamu tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Gesikan, Kiringan dan Argomulyo yang menghasilkan produk jamu tradisional yang bisa menjadi andalan untuk dijual sebagai wisata Kesehatan dan pendidikan. Dengan metode penelitian deskriptif kualitatif peneliti melakukan kajian studi eksploratif tentang sentra jamu tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daya tarik wisata kesehatan dengan mencari data primer berupa pustaka dan observasi sehingga hasil penelitian dianalisis bahwa aktivitas pengolahaan jamu tradisional di desa Kiringan dan Argomulyo di Kabupaten Bantul serta desa Gesikan di Kabupaten sudah dikembangkan menjadi wisata Kesehatan selama ini. Hal ini temuan di desa Kiringan di Bantul sudah dibuat paket wisata yang berhubungan dengan jamu tradisional dari membuat, mengolah serta mengemas kemudian ikut menikmati jamu tersebut. Kemudian di Argomulyo Bantul juga sudah dikemas dengan mendirikan Omah Jamu dimana wisatawan bisa ikut menikmati olahan jamu yang sudah dikemas lebih modern. Serta data di desa Gesikan olahan jamu juga dikembangkan menjadi minuman untuk jamuan di hotel sebagai minuman welcome drink saat wisatawan masuk ke hotel.
Back to Top Top