Kebudayaan

Journal Information
ISSN / EISSN : 1907-5561 / 2685-8088
Current Publisher: Balai Arkeologi Yogyakarta (10.24832)
Total articles ≅ 54
Filter:

Latest articles in this journal

Herman Hendrik
Published: 21 September 2020
Kebudayaan, Volume 15, pp 27-40; doi:10.24832/jk.v15i1.272

Abstract:
Tulisan ini menganalisis alasan-alasan sejumlah orang yang tidak pernah mengunjungi museum. Kajian mengenai hal tersebut dianggap vital mengingat kunjungan ke museum merupakan hal penting. Pentingnya kunjungan ke museum berhubungan dengan besarnya peran museum dalam masyarakat. Peran tersebut mencakup peran pendidikan dan peran ekonomi, yang berkaitan dengan fungsi museum yaitu pendidikan, penelitian, dan kesenangan. Dalam bidang pendidikan, museum dapat menjadi wahana belajar dan penelitian. Sementara itu, dalam bidang ekonomi, museum berperan sebagai daya tarik wisata. Data untuk tulisan ini didapat dari sebuah survei terhadap 50 orang responden, yang terdiri dari orang-orang yang tidak pernah mengunjungi museum seumur hidupnya. Survei dilakukan di sebuah taman yang berlokasi di depan sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Timur. Berdasarkan data tersebut, tulisan ini berargumen bahwa alasan utama responden tidak mengunjungi museum yaitu terkait waktu, alternatif kegiatan, dan jarak. Sebagian besar responden menganggap bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk berkunjung ke museum, lebih memilih melakukan hal lain, dan jarak dari tempat tinggalnya ke museum cukup jauh.
Bambang H. Suta Purwana
Published: 21 September 2020
Kebudayaan, Volume 15, pp 53-66; doi:10.24832/jk.v15i1.341

Abstract:
The name Kampung Pitu was created in 2015 with the aim of promoting Kampung Pitu to become one of the leading tourist destinations in Gunung Kidul. The Tourism Awareness Group Nglanggeran Tourism Village and the Gunung Kidul District Culture Office are encouraging the commoditization process of Kampung Pitu's traditional culture to attract as many tourists as possible to visit Kampung Pitu. This paper aims (1) To know the context of the political economy of branding the name of Kampung Pitu in the development of Nglanggeran Village. (2) Analyzing the tendency of the commodification of the tradition of Kampung Pitu to become a tourist destination to bring economic prosperity to the residents of Kampung Pitu. Data collection and analysis methods in this study are field observations, interviews and literature studies. All data collected was analyzed using qualitative descriptive techniques. The findings of this study, the process of commoditification of traditional culture in Kampung Pitu has been going well and promoted online and gave birth to more than 30 videos on YouTube Channel about Kampung Pitu that have been watched thousands of times, but tourist visits to Kampung Pitu are still very few, less than 0 , 7 percent, compared to hundreds of thousands of tourists visiting Nglanggeran Tourism Village. The failure of traditional cultural commoditification in attracting tourists to Kampung Pitu is caused by the access road to Kampung Pitu, which is relatively narrow, rocky and steep.
Defri Elias Simatupang
Published: 21 September 2020
Kebudayaan, Volume 15, pp 1-12; doi:10.24832/jk.v15i1.306

Abstract:
Tulisan ini mengkaji pengembangan media partisipasi publik elektronik (E-Consultation) dalam membantu pemerintah merumuskan kebijakan pengelolaan Situs Bukit Kerang Kawal Darat (BKKD). Media ini sangat dibutuhkan agar efektif dan optimal menjaring masukan semua pemangku kepentingan (stageholder). Tujuan penelitian menjelaskan bagaimana strategi pengembangan E-Consultation Situs BKKD demi optimalisasi Fungsi Institusi Pemerintah yang baik (good governance). Hasil-hasil penelitian arkeologi di Situs BKKD di analisis secara deskriptif. Data-data tersebut dimasukkan kedalam kerangka E-Consultation yang sudah dirancang sebelumnya (berdasarkan acuan berbagai teori dan perbandingan yang sudah ada). Hasil kajian berupa model pengembangan E-Consultation yang dianggap lebih optimal dijalankan apabila ada kesepakatan mengikat antara stageholder terutama dalam internal institusi pemerintahan sebelum melibatkan publik yang beragam. Kesimpulan kajian menegaskan bahwa strategi pengembangan E-Consultation Situs BKKD dapat dilakukan demi optimalisasi Fungsi Institusi Pemerintah di bidang kebudayaan. Publik tidak hanya dilibatkan konsultasi secara online, tetapi harus terukur hingga menghasilkan kebijakan pengelolaan situs yang dapat langsung dirasakan pelaksanaannya.
Budiana Setiawan
Published: 21 September 2020
Kebudayaan, Volume 15, pp 13-26; doi:10.24832/jk.v15i1.282

Abstract:
Di antara empat kesultanan di Maluku Utara yang disebut dengan Moloku Kie Raha, hanya Ternate dan Tidore yang berkembang menjadi kesultanan besar. Kedua kesultanan tersebut berpusat di pulau-pulau kecil, tetapi justru mempunyai pelabuhan laut yang ramai disinggahi para pedagang asing dengan komoditas utama rempah-rempah. Hal ini menimbulkan pertanyaan bahwa mengapa Ternate dan Tidore dapat berkembang menjadi pelabuhan yang lebih ramai dikunjungi pedagang asing daripada pelabuhan-pelabuhan lain yang terletak di Halmahera, Bacan, dan pulau-pulau besar lainnya? Apakah karakteristik bentang alam pada pulau-pulau di kawasan Maluku Utara turut memengaruhi pedagang asing untuk menentukan pelabuhan mana yang akan mereka singgahi? Tujuan dari tulisan ini adalah memperoleh penjelasan mengenai peran bentang alam dari pelabuhan laut dalam menentukan ramai atau tidaknya dikunjungi oleh pedagang asing. Metode yang digunakan adalah desk research (kajian pustaka). Data sekunder yang digunakan, yakni: sejarah kesultanan-kesultanan di Maluku Utara, teknik pelayaran pada masa lampau, peta kuno, dan lukisan pelabuhan kuno. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pelabuhan tersebut mempunyai bentang alam dengan karakteristik yang khas, serta secara geografis mudah disinggahi kapal-kapal besar, sehingga lebih mempunyai kecenderungan untuk disinggahi pedagang-pedagang asing. Karakteristik khas bentang alam pada kedua pelabuhan tersebut adalah Gunung Gamalama di Pelabuhan Ternate dan Gunung Kie Matubu di Pelabuhan Tidore.
Jurnal Kebudayaan
Published: 21 September 2020
Kebudayaan, Volume 15; doi:10.24832/jk.v15i1.380

Abstract:
Sebagai informasi, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia, Nomor 85/M/KPT/2020 tentang Peringkat Akreditasi Jurnal Ilmiah Periode I tahun 2020, tanggal 1 April 2020, Jurnal Kebudayaan saat ini ditetapkan sebagai Jurnal Ilmiah Terakreditasi Peringkat 4. Capaian akreditasi ini menjadi titik awal untuk meningkatkan kualitas Jurnal Kebudayaan pada periode yang akan datang, baik dari segi konten artikel maupun tampilan. Sebagaimana terbitan sebelumnya, Jurnal Kebudayaan Volume 15, Nomor 1, tahun 2020 ini menampilkan topik-topik yang bervariasi, mulai dari permuseuman, sejarah, benda budaya sebagai media pembelajaran, pengembangan media digital, filsafat, hingga pariwisata budaya. Herman Hendrik menyoroti tentang rendahnya minat sebagian masyarakat untuk berkunjung ke museum dengan alasan tidak memiliki waktu dan jarak ke museum yang jauh. Adapun Budiana Setiawan menyampaikan pendapat bahwa karakteristik bentang alam yang melatarbelakangi pelabuhan-pelabuhan kuno turut memengaruhi ramai tidaknya pelabuhan kuno tersebut disinggahi pedagang-pedagang asing pada masa lampau. Sementara itu, Exsaris Januar mengkaji bagaimana carano (semacam wadah tradisional yang digunakan untuk upacara adat pada masyarakat Minang) dapat digunakan sebagai media pembelajaran atau literasi budaya terhadap peserta didik. Selanjutnya, Defri Elias Simatupang menunjukkan bahwa pengembangan media partispasi publik elektronik atau E-Consultation dapat digunakan untuk membantu pemerintah daerah dalam membuat kebijakan yang terkait dengan pengelolaan Situs Bukit Karang Kawal Darat di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Pada artikel lainnya, Fellyanus Habaora dan kawan-kawan menyampaikan bahwa cara pandang falsafah sains dari Fritjof Capra dapat digunakan untuk melihat dan menganalisis realitas ekologis secara ontologis dan holistik. Terakhir, Bambang H. Suta Purwana menyoroti tentang ketidakberhasilan komodifikasi budaya tradisional di Kampung Pitu, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua artikel tersebut diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan daya kritis para pembaca terhadap khazanah kebudayaan Indonesia. Akhir kata, Dewan Redaksi Jurnal Kebudayaan mengucapkan selamat membaca dan semoga mendapatkan manfaat dari artikel-artikel yang disajikan.
Fellyanus Habaora
Published: 21 September 2020
Kebudayaan, Volume 15, pp 41-52; doi:10.24832/jk.v15i1.327

Abstract:
Fritjof Capra memperkenalkan visi baru dalam melihat realitas (new version of reality) melalui penemuan kebenaran holistik ekologi yang linier in nature dengan landasan ontologi holistik pluralis-spiritualistik-organism dan landasan epistemologis sintesis, dialog interaktif, dan kesetaraan subjek. Berdasarkan hal tersebut, Capra menjelaskan bahwa keseimbangan antara sains dan teknologi yang dibatasi oleh nilai moral dan agama akan menciptakan keberlanjutan ekologi dengan sendirinya sebagai akibat cara pandang manusia yang kapitalis, materialistik, dan hedonisme mengesampingkan spiritualisme hanya sebagai pseudo sains. Hal ini menyebabkan world view Capra muncul di berbagai bidang sebagai kebijaksanaan alam (wisdom of nature) yang digambarkan sebagai kemampuan ekosistem-ekosistem ekologis planet bumi mengorganisir dirinya sendiri melalui cara-cara yang kompleks. Hal tersebut tampak dalam cara pandang Capra, a science for sustainbale living yang menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan untuk keberlanjutan kehidupan tidak perlu menciptakan masyarakat manusia berkelanjutan dari nol, tetapi bisa meniru ekosistem-ekosistem alam yang merupakan komunitas tumbuhan, hewan dan mikroorganisme yang berkelanjutan. Kondisi ini menjelaskan bahwa ketika ada keseimbangan diantara pemanfaatan sains dan teknologi yang dibatasi aspek nurani dan agama (Yang) maka dengan sendirinya keberlanjutan terjadi. Tetapi disebabkan adanya cara pandang berbeda yang semakin meningkatkan kerusakan lingkungan seperti climate change, maka Capra menawarkan konsep ecoliteracy yang menjamin secara kokoh keberlanjutan kehidupan bersama di planet bumi, yaitu: jaringan-jaringan, siklus-siklus, energi matahari, kemitraan, keanekaragaman, dan keseimbangan dinamis. Oleh karena itu, Capra menawarkan solusi untuk penyelesaian climate change adalah ekoliteracy yang ia sebut merebak ke berbagai bidang ilmu karena akan berkembang menjadi ekodesain. Kelompok yang diharapkan untuk mengerti ekoliterasi dalam menghadapi perubahan lingkungan (climate change) adalah kaum politikus, pimpinan bisnis, para profesional di semua lapisan, dan lembaga-lembaga pendidikan. Kelompok ini menurut Capra adalah kelompok-kelompok pengambil kebijakan publik atau kelembagaan dan pemberi masukan terpercaya yang memiliki kemampuan riil dalam menciptakan dampak-dampak kemasyarakatan jauh ke depan.
Exsaris Januar
Published: 21 September 2020
Kebudayaan, Volume 15, pp 67-76; doi:10.24832/jk.v15i1.305

Abstract:
Latar belakang penelitian ini adalah kurangnya media pembelajaran yang menggunakan literasi budaya sebagai media pembelajaran di sekolah dasar dalam menanamkan nilai – nilai pancasila. Tujuan dari peneltian ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran Carano berbasis literasi budaya yang valid, praktis dan efektif dalam pembelajaran. Metode penelitian ini menggunakan model best practices. Untuk nilai Praktkalitas media pembelajaran Komik dilihat dari aspek respon guru berada pada angka 3,77 dan respon peserta didik 97,75% menyatakan suka terhadap media pembelajaran Komik Carano. Untuk efektifitas dilihat dari aktifitas belajar peserta didik sangat efektif dalam pembelajaran sedangkan hasil belajar dari aspek sikap berada pada angka 4,04 pada sila 1, 3,96 pada sila ke 2 dan 3,89 pada sila ke 3. Berdasarkan data in maka penggunaan media pembelajaran Komik Carano efektif dalam proses pembelajaran.
Indah Pratiwi
Published: 4 February 2020
Kebudayaan, Volume 14, pp 79-90; doi:10.24832/jk.v14i2.236

Abstract:
Sejak 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaaraan dan Kesetaraan menyelenggarakan Program bertajuk Program Pendidikan Keaksaraan Dasar Komunitas Adat Terpencil. Tujuan program ini adalah menjadikan warga komunitas adat di wilayah terpencil berusia 15-59 tahun melek aksara sehingga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tulisan ini berupaya untuk melihat implementasi program tersebut khususnya pada masyarakat Suku Anak Dalam di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Data dalam tulisan ini bersumber dari penelusuran pustaka, observasi, serta wawancara baik dengan pengelola program di tingkat pusat (Kemendikbud) maupun pelaksana di tingkat daerah (Dinas Pendidikan dan PKBM). Dengan menganalisis data yang tersedia tampak bahwa meskipun target program untuk menjadikan 80% warga belajar melek aksara telah terpenuhi namun terdapat beberapa permasalahan dalam implementasi program yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan capaian program. Beberapa permasalahan tersebut antara lain terkait dengan keterbatasan daya jangkau program, relatif lemahnya kapasitas SDM pelaksana program, dan rendahnya peluang keberlanjutan program.
Wa Ode Sifatu
Published: 4 February 2020
Kebudayaan, Volume 14, pp 103-114; doi:10.24832/jk.v14i2.276

Abstract:
Tujuan artikel ini adalah memberitahu pembaca mengenai cara masyarakat Wawonii berinteraksi sosial yang berdampak pada lingkungan sosial dan fisik  menjadi pelajaran terhadap sikap kebangsaan. Teori untuk membaca data adalah pemikiran Bourdieu tentang “form of capital”  dengan metode etnografi. Hasil, penggunaan modal sosial, modal simbolik, modal budaya orang Wawonii dalam berinteraksi dengan suku bangsa lain dari bekas Kesultanan Buton, berlaku seperti bunglon yaitu  menginternalisasinya dan mengekternalisasi sebagai bagian suku bangsa lawan interaksinya. Tujuannya adalah menghilangkan image tentang orang Wawonii memiliki kekuatan magis. Saat berinteraksi dengan pengusaha tambang yang akan masuk ke wilayahnya, mereka berlaku sopan dan baik. Namun, setelah merasakan dampak negatif dari tambang, mereka bukan menginternalisasinya melainkan mengeksternalisasinya dengan berlaku frontal. Kesimpulan, artikel ini memperkaya pemikiran Bourdieu  tentang  interaksi sosial, selain mengiternalisasi juga mengeksternalisasi dan berlaku frontal kepada pemerintah yang merugikan. Rekomendasi, sebaiknya pemerintah harus bersikap netral dalam menghadapi rakyat dan pengusaha agar orang Wawonii dalam berinteraksi   berlaku baik kepada  semua pihak.
Muhammad Nur Ichsan Azis
Published: 4 February 2020
Kebudayaan, Volume 14, pp 131-140; doi:10.24832/jk.v14i2.298

Abstract:
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh kepercayaan dan kebudayaan di Nusantara yang memunculkan kepercayaan lokal di kawasan tertentu. Proses panjang dari hubungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran para pendatang dan penduduk pribumi. Di Kepulauan Sangihe, pengaruh ini masih terasa sampai sekarang ini. Bahkan dikatakan bahwa pengaruh tersebut bersamaan dengan adanya proses Islamisasi yang dibawa melalui jalur niaga dan politik. Kuatnya pengaruh animisme dan dinamisme berdampak pada penerimaan terhadap ajaran baru, sehingga dilakukan penyesuaian inilah memunculkan aliran kepercayaan lokal, tidak terkecuali di Kepulauan Sangihe, yang dikenal dengan ajaran Masade’. Tulisan ini merupakan tulisan sejarah yang menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kebudayaan. Asimilasi dan akulturasi kebudayaan berdampak langsung pada pembentukan pola pikir, praktek, hingga kepercayaan khususnya di masyarakat Kepulauan Sangihe. Tulisan ini menemukan bahwa pengaruh animis dan dinamis di Nusantara berlangsung cukup lama, sehingga agama-agama “samawi” belum dapat diterima “menyeluruh” oleh penduduk setempat, sehingga memunculkan kepercayaan lokal yang terpengaruh dengan ajaran Islam.
Back to Top Top